Isra’ Mi’raj dalam Kajian Kitab Ulama Nusantara

Peristiwa isra’ mi’raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Saat Nabi sendirian tidur di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali) datanglah Jibril untuk memintanya berjumpa Allah. Ada yang menyebutkan Nabi berada di sekitar Masjidil Haram sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya Hamzah dan Ja’far bin Abi Thalib).

Peristiwa inj begitu cepat dimana dalam waktu semalam menyelesaikan perjalanan jalur darat dan jalur udara. Zona destinasi isra’ dan mi’raj adalah titik-titik sejarah Nabi sebelum Muhammad. Ini menunjukkan bahwa peristiwa itu adalah bagian dari mu’jizat.

Menguji keimanan orang Islam dapat dilakukan dengan bertanya percaya atau tidak terhadap isra’ mi’raj. Saya sangat setuju ini peristiwa luar biasa yang hanya bisa didekati dengan keimanan dan bisa dilakukan dengan saintifikasi isra’ mi’raj. Dan jasad Nabi yang bergerak dalam peristiwa ini bersama dan ruhnya yang telah menyatu.

Merenung Sejenak

Tidak terasa bahwa bulan Rajab 1437 H sudah memasuki tanggal 27. Tanggal yang indah dan bersejarah bagi umat Islam karena Rasulullah Muhammad mendapat bonus rihlah ilahiyyah yang diabadikan dengan nama isra’ mi’raj.

Syaikh Bisri Musthofa Rembang dalam Kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam isra’ itu sangat singkat dan mi’raj itu seperti qaba qausaini.

Syi’ir yang diterjemah dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon oleh Mbah Bisri ini adalah:

سريت من حرم ليلا الى حرم ٭ كما سرى البدر في داج من الظلم

وبتّ ترقى الى ان نلت منزلة ٭ من قاب قوسين لم تدرك ولم ترم

Dalam catatan terjemahan ini, Mbah Bisri menyampaikan indahnya kata qaba qausaini yang secara lahiriyah bermakna “ujungnya dua pucuk”. Padahal ibrah ini adalah terbalik, yang harusnya qaba qausi, jadi artinya dua pucuk.

Ada empat kitab yang secara spesifik menjelaskan isra’ mi’raj: 1) Qishshah mi’rajin nabi karya Syaikh Najmudin Al Ghoidzi: 2)Tashilul Ghiba min Qissatil Isra’ wa Mi’rajin Nabi karya Syaikh Sahli bin Salim Assamarani: 3) I’anatul Muhtaj fi Qishshatil Isra’ wal Mi’raj karya Syaikh Ahmad Abdul Hamid Al Qandali: 4) Nurus Siraj fi Bayanil Isra’ wal Mi’raj karya Syaikh Ahmad Fauzan bin Zain Muhammad bin Muhamma Zain Arrambani.

Dalam kitab itu dijelaskan secara rinci bagaimana proses isra’ dan mi’raj itu terjadi. Sehingga etnografi isra’ mi’raj terasakan dengan baik dan umat Islam di masa kini masih menikmati kemukjizatan Nabi Muhammad.

Syaikh Ahmad Abdul Hamid Kendal mengurai terlebih dahulu keutamaan bulan Rajab sebagai bulan mulia diantara dua belas bulan lainnya. Sebab di bulan Rajab itu banyak peristiwa sejarah, termasuk selamatnya kapal Nabi Nuh.

Lokasi dimana Nabi singgah saat isra’ secara detail disebutkan oleh Mbah Ahmad Abdul Hamid. Termasuk saat mi’raj juga secara rinci dijelaskan. Dimana alasan mi’raj oleh Mbah Ahmad disebut adanya kecemburuan antara langit dan bumi yang saling “poyok-pinoyok” (Jawa: mengejek satu dan lainnnya).

Sebab bumi merasa paling mulia karena dihuni oleh Nabi Muhammad. Langitpun akhirnya minta pada Allah agar Nabi Muhammad diperkenankan singgah kesana. Dan itulah yang dikabulkan Allah dalam peristiwa mi’raj.

Syaikh Sahli Semarang juga menjelaskan kisah yang sama. Bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj berjalan sangat cepat dengan segudang kisah yang diceritakan. Kepergian Nabi tengah malam dan selesai menjelang subuh sudah berada kembali ke Kota Makkah.

Bahkan proses kehadiran Nabi di rumah Ummi Hani hingga Nabi langsung menuju Masjidil Haram untuk mengisahkan apa yang dialaminya juga disinggung dalam Kitab Tashilul Ghiba.

Syaikh Ahmad Fauzan Rembang menyinggung bahwa peringatan isra’ mi’raj itu diperingati dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasan masyarakat. Termasuk cara mengkaji isra’ mi’raj disebutkan ada tiga model: modern, sederhana dan kolot.

Ini menunjukkan bahwa kisah isra’ mi’raj itu akan tetap menarik dikaji dari sisi apapun. Sebab itu adalah peristiwa langka yang diabadikan dalam surat Al Isra ayat 1 dan surat Annajm ayat 1-17.

Maka wajar bagi mereka yang tidak mengikuti jejak Nabi tidak akan percaya dengan kisah ini. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Najmuddin Al Ghoizi bahwa orang yang tidak beriman, tidak akan percaya sebagaimana Abu Jahal dan orang kafir Quraisy yang menyebut Nabi sebagai tukang sihir (faramauhu bis sihr).

Jika zaman dahulu sudah ada kelompok yang kufur terhadap isra’ mi’raj, maka peristiwa yang sudah hampir 14 abad berlalu itu masih ada yang tidak percaya itu wajar. Dan pasti, mereka yang tidak percaya adalah bukan orang yang beriman. Sedangkan bagi muslim yang beriman, wajib percaya adanya isra’ mi’raj.

Dari kisah isra’ mi’raj ini ada dua pesan yang sangat filosofis. Pertama, bahwa isra’ dan mi’raj ini menjawab kecemburuan bumi dan langit. Maka semua umat akan menyaksikan betapa kompaknya bumi-langit yang ramah kepada manusia yang berima.

Kedua, peristiwa isra’ mi’raj adalah napak tilas Nabi kepada Senior Nabi dengan ziarah plus visualisasi umat dahulu dan masa mendatang. Oleh sebab itu, zaman sekarang yang terpenting bagi generasi muda adalah sowan kepada ulama dan tokoh agama dan berziarah ke makam auliya’. Sebab kisah isra’ dan mi’raj mencontohkan itu.

Dan yang paling mulia adalah, para Senior Nabi sangat sayang kepada Muhammad dan umatnya dalam memberikan ilmu negosiasi ketuhanan, dimana shalat yang asalanya 50 menjadi 5 waktu. Itulah hikmah dari berziarah atau sowan serta tawadlu’ kepada Senior Nabi. Wallahu a’lam.*)

  • Penulis merupakan Mahasiswa Program Doktor & Dosen UIN Walisongo

Ini Cerita KH Sya’roni Ahmadi Tentang Sosok KHR Asnawi

KUDUS– Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengatakan, pendiri NU KHR Asnawi adalah sosok alim yang memiliki banyak kelebihan ilmu. Di masa hayatnya, Mbah KHR Asnawi mengajarkan berbagai ilmu agama serta mengarang kitab dan karya syi’iran.

“Beliau itu alim, istilah zaman sekarang ya sosok serba bisa ilmunya atau biasa disebut raden mas Ngabehi,” tuturnya dalam acara tahlil umum rangkaian peringatan Haul ke 57 KHR Asnawi di Komplek makam Masjid Menara Kudus, Rabu (15/4).

KH Sya’roni menceritakan, Mbah Asnawi merupakan santri KH Nawawi Banten yang rajin mengajarkan ilmu agama. Bahkan, Mbah Asnawi mengaji ilmu tafsir Al-Qur’an dalam bulan puasa mampu mengkhatamkan dalam waktu 16 hari.

“Beliau ini selalu mengajar ngaji kitab kecil seperti Fathul Qorib. Kalau sore kitab bidayah dan Hikam, Subuh hadits Bukhori. Termasuk saat mengaji dengan ibu-ibu selalu melantunkan syi’iran dengan suara bagus,” imbuhnya.

KH Sya’roni menambahkan, pendiri NU yang wafat 24 Jumadil Akhir 57 tahun silam itu mempunyai peninggalan berupa madrasah Qudsiyah dan pesantren Raudlatut Tholibin Bendan yang masih bisa dirasakan manfaatnya hingga sekarang. Sementara Sholawat Asnawiyah sampai kini masih diamalkan para santri di Kudus dan sekitarnya.

“Kanjeng Nabi bersabda, gambarannya orang mukmin itu seperti tawon (lebah), tidak mau makan kecuali yang baik-baik dan tidak meninggalkan sesuatu kecuali yang baik. Ini sama halnya Mbah Asnawi dengan bukti madrasah Qudsiyah dan pesantren,” tandas pengasuh pengajian rutin Masjid menara Kudus ini.

Saat mendirikan NU pertama kali, tutur KH Sya’roni, Mbah Asnawi menjabat sebagai mustasyar PBNU sedangkan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar. “Beliau ini orang alim yang besar, semoga kita memperoleh keberkahan dari Mbah Asnawi. Menjadi murid yang baik, sholeh dan penuh mabruk,” katanya seraya mengakhiri dengan do’a. (Qomarul Adib/Fathoni)

sumber: NUonline

KH Sya’roni Buktikan Fadhilah “Yaa Syakuur”

Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafal “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”.  KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya murid yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. (Istahiyyah)

*) Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon/12 Muharrom 1436 H.

SUMBER: NUONLINE

Mustasyar PBNU Terangkan Makna Barokah

KUDUS – Pengajian rutin Tafsir Al-Qur’an yang diasuh Mustasyar PBNU KH Sya’roni di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jumat (30/5) pagi, mengkaji  surat Al-Mulk ayat 1. Dalam pengajian yang dimulai waktu fajar ini, KH Sya’roni menerangkan tentang makna barokah.

Diterangkan, tabarukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah (ziyadatul khair). Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik.

“Nabi Muhammad, sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhari, pada waktu  mendoakan bayi selalu dengan barokah . Bunyi doanya ‘barakallahu haadzal walad‘ (Ya Allah semoga bayi ini diberi barokah). Ini artinya supaya semakin besar akan semakin bertambah baik,” jelas KH Sya’roni seraya mencontohkan acara walimatut tasmiyah (pemberian nama) bayi yang menjadi tradisi masyarakat Muslim.

Lebih lanjut Ulama Kharismatik Kudus ini menjelaskan, meminta (doa) barokah juga merupakan tindakan (sunnah) yang dilakukan Nabi Muhammad. Pada waktu  disowani sahabat Umar yang pamitan hendak menunaikan umrah,  Nabi meminta supaya didoakan di tanah suci Makkah.

“Padahal Nabi itu sosok yang paling mulia di dunia, kok masih minta didoakan sahabat Umar,ini pelajaran yang luar biasa bagi kita ummat. Makanya orang tua setiap ada yang menunaikan ibadah haji selalu datang mengikuti untuk didoakan di Makkah,” tuturnya.

Barokah , kata mbah Sya’roni melanjutkan keterangan ayat Al-Mulk, terkadang ada yang memaknai Maha Suci. Artinya, semua alam ini adalah kekuasaannya Allah karena selaku sang pencipta. “Allah mau membuat apapun pasti kuasa termasuk kematian makhluknya,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, KH Sya’roni juga menerangkan tentang wasilah. Dijelaskan, wasilah itu mempunyai arti tiga yakni tempat terhormat di surga, suatu amal untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan meminta kepada Allah dengan perantara melalui Nabi atau orang shalih.

“Sahabat Bilal sering ke makam Rasulullah berdoa meminta hujan karena kondisi bangsa yang kekeringan. Hal ini meminta kepada Allah melalui perantara (wasilah) Nabi atau orang-orang baik,” tuturnya.

Mbah Sya’roni juga mengingatkan jamaah supaya pandai menggunakan kesempatan waktu untuk berbuat kebaikan seperti shalat, i’tikaf di masjid, membaca Al-Qur’an, mendengarkan pengajian, bersedekah, dan amalan baik lainnya.

“Setiap saat jangan sampai mengosongkan amal . Paling tidak ketika diam membaca istighfar, berdzikir dan bertasbih,” ajaknya.

Pengajian rutin berlangsung setiap Jumat fajar dan diikuti ribuan jamaah dari Kudus dan daerah sekitarnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

SUMBER: NUONLINE/Sabtu, 31/05/2014 10:03

HATI-HATI PENYADAPAN!

Akhir-akhir ini, penyadapan menjadi salah satu kunci keberhasilan membongkar sebuah kasus, terutama kasus korupsi. Bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  penyadapan dalam hal tindak pidana korupsi, khususnya dengan delik suap, merupakan front-gate untuk membuka tabir bentuk perbuatan korupsi, seperti halnya penyalahgunaan wewenang dari aparatur negara atau pejabat publik. Kasus penyadapan telepon terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana memang beberapa kali diungkap ke publik. Sebut saja kasus yang menyeret Artalyta Suryani yang menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan atas dikeluarkannya surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus BLBI oleh Kejaksaan Agung (Kejakgung). Belum lagi bagaimana dari hasil penyadapan telepon yang dilakukan, KPK berhasil membongkar kasus suap yang dilakukan beberapa angota DPR, seperti Al Amin Nasution, Bulyan Royan, dan sebagainya.

Berpijak dari deskripsi persoalan di atas, Bagaimana tanggapan fiqh menyikapi tentang penyadapan telepon tersebut? Bagimana pula jika hasil penyadapan itu disebarluaskan ke publik?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sadap diartikan sebagai mendengarkan, merekam informasi (rahasia, pembicaraan) orang lain dengan sengaja tanpa sepengetahuan orangnya. Dalam istilah fiqih ada istilah yang mirip dengan penyadapan yaitu istima’ yang artinya mencuri dengar perkataan orang lain. Istima’ hukum asalnya adalah haram. Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda:

من استمع الى حديث قوم وهم له كارهون صبّ في اذنيه الانك

Barang siapa mencuri dengar pembicaraan sekelompok orang, sementara mereka tidak suka pembicaraannya didengar, niscaya dua telinga orang (yang mencuri dengar) tadi akan dituangi dengan timah yang meleleh”.(Faidhul Qodir, VI, 59).

Dalam hadist ini, secara umum Rasulullah melarang perbuatan istima’, terlepas dari motif yang melatar belakanginya. Oleh karena itu, sangat cocok dengan pernyataan di atas bahwa hukum asal istima’ adalah haram.

Kemudian, hukum istima’ terperinci lagi tergantung pada motif yang melatarinya.Ada beberapa penjelasan. Pertama, penyadapan telepon dengan motif amar ma’ruf nahi munkar dan untuk mendidik. Penyadapan telepon dengan motif seperti ini, akan berpengaruh kepada hukum istima’ yang diharamkan. Istima’ di sini menjadi boleh karena motif tersebut. Dasarnya adalah saddud dzari’ah, menutup jalan yang mengakibatkan pada kerusakan.

Kedua, motif jahat. istima’ dengan motif kejahatan adalah haram hukumnya. Oleh karena itu, penyadapan telepon oleh orang dengan maksud busuk adalah haram.

Dua motif di atas didasarkan pada pertimbangan tujuan. Jika tujuannya baik dan membawa maslahah, istima’ diperbolehkan bahkan bisa menjadi sunnah atau wajib. Sebaliknya, jika maksud dan tujuan istima’ jelek dan selalu mengakibatkan mafsadah, maka istima’ hukumnya haram. (Sirojul Munir, III, 329; Azzawajir ‘an Iqtirafi al-Kabair, III, 164).

Ini sesuai dengan firman Allah yang telah difirmankan dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu ber-tajassus (mencari cari kesalahan orang lain”. (QS. Al-Hujarat, 12).

Dalam ayat di atas, dapat kita tarik pengertian bahwa tajassus yang menurut sebagian ulama’ disamakan dengan tahassus berarti mencari-cari aib orang lain sekaligus membeberkan rahasia aib tersebut. (Is’adur Rafiq, 96; Al-Bahrul Muhit, VIII, 113).

Dari penjelasan di atas, bahwa motif tajassus selalu jelek. Padahal istima’ termasuk bagian dari tajassus, mencari cari aib orang lain. Karena itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang diharamkan adalah istima’ yang bermotif mafsadah (termasuk mencari aib orang lain). Bukan istima’ yang membawa maslahah.

Kembali pada topik permasalahan, kemudian bagaimana dengan penyadapan oleh KPK sekaligus kemudian meng-ekspose (menyebarluaskan pada khalayak umum lewat media massa)?

Kita perlu melihat dulu, motif di balik penyadapan oleh KPK tersebut. Bahwa motif KPK menyadap perbincangan sesorang adalah untuk kepentingan pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar disertai adanya gholabatuzh zhan (dugaan kuat) atas terjadinya tindakan korupsi disertai dengan sudah ada beberapa kejadian yang patut dicurigai. Melihat motif dan tujuan yang dilakukan KPK, penyadapan tersebut lebih mendekati bahkan termasuk ke dalam motif maslahah. Maka hukum menyadap (tajassus) dapat diperbolehkan. Bahkan ada yang berpendapat dengan tegas bahwa tajassus dalam kasus seperti al-lusus (korupsi) hukumnya diperbolehkan, bahkan bisa menjadi wajib jika tidak ada cara yang lain. (Asnal Mathalib Sharkhu Raudlatu ath-Thalib, XX, 313; at-Tahrir wa at-Tanwir, XIV, 27)

Dalam kacamata fiqh, ekspose, adalah sama dengan ghibah. Dipandang sama karena kedua hal ini karena masing-masing mengandung unsur memberitakan sesuatu hal. Tetapi sejatinya ada perbedaan karena memandang bahwa isi atau muatan ekspos lebih bersifat obyektif. Lain halnya dengan ghibah yang identik bernada negatif.

Ekspos sebagaimana ghibah pada dasarnya juga dilarang.  namun, tidak semua ghibah dilarang. Ada beberapa pengecualian dimana ghibah menjadi boleh. Diantaranya; Pertama, al-tadzallum, al-madzlum (orang yang didzalimi) yang menuturkan kejelekan orang yang mendzaliminya untuk menghilangkan kedzaliman itu. Kedua, al-isti’anah ‘ala taghyir al-munkar, menuturkan suatu kemungkaran dengan tujuan agar kemungkaran itu ditinggalkan. Ketiga, al-istifta, menuturkan aib seseorang kepada ahli hukum (mufti) untuk mengerti hukumannya. Keempat, menuturkan seseorang yang dengan terang terangan berbuat munkar. Kelima, untuk mewaspadakan umat agar tidak turut melakukan aib yang dighibahi. (Ihya’ Ulumuddin, III, 161-162; Iqna’, II, 127).

Kalau alur berfikir kita teruskan dan diperkuat dengan konteks pers di Indonesia yang menyatakan bahwa yang termasuk dalam kategori pertama (yang boleh diekspos) adalah pemberitaan tentang korupsi, kolusi, manipulasi, perampokan, pencurian, tindakan sewenang-wenang penguasa, monopoli dan berita seputar persoalan rakyat banyak, dan seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa korupsi juga merupakan suatu perbuatan yang munkar dan secara otomatis termasuk ke dalam ghibah yang diperbolehkan. Maka dari itu, hukum mengekspos tindakan korupsi ke dalam media massa hukumnya boleh. (Hawasyi as-Syarwani, IX, 219).

Dengan kata lain, menindak dan mengungkap kasus korupsi diperbolehkan bahkan diharuskan untuk dilaksanakan meskipun itu menyangkut privasi terhadap oknum-oknum tertentu. Karena tujuan (gharad) yang dimaksud adalah menegakkan keadilan dan memberikan contoh kepada masyarakat untuk selalu bersikap tegas terhadap segala bentuk penyelewengan. [eLFa]

BULETIN EL-FAJR MA’HAD QUDSIYYAH KUDUS, Edisi 36/15 Februari 2013

Mauludan, Jangan Campur dengan yang Haram!

Di bulan Rabiul Awwal ini, suasana maulid terasa hangat di benak kita. Di mana-mana terdengung shalawat-shalawat keagungan atas Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sudah menjadi tradisi kaum muslim di seluruh belahan dunia, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan, kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap pekan, seperti setiap malam Senin atau malam Jumu’ah. Bentuk peringatan ini diadakan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia di lingkungan masyarakat dari kota besar hingga ke pelosok-pelosok desa.  Masyarakat muslim di Indonesia pada umumnya menyambut maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair al-Barzanji, Simtud Duror, dan sebagainya. Tidak jarang, acara-acara tersebut juga diselingi juga dengan keramaian-keramaian untuk memeriahkan acara mauled Nabi seperti adanya perlombaan agama anak-anak, pengajian umum dan sebagainya.

Peringatan maulid nabi merupakan hal yang disunnahkan. Dalam Hadits Nabi disebutkan:

 

من عظم مولدى كنت شفيعا له يوم القيامة ومن انفق درهما فى مولدى فكأنما انفق جبلا من ذهب فى سبيل الله

 

Barang siapa memuliakan hari kelahiranku, maka aku akan memberikan syafa’at kepadanya di hari kiamat, dan barang siapa infaq sebanyak satu dirham untuk memuliakan hari kelahiranku, maka akan seakan-akan dia infaq sebesar gunung emas di jalan Allah.(Fatawa as-Subkah al-Islamiyyah, V, 5079).

Masyarakat sangat ekspresif dalam merayakan maulid Nabi.  Tidak hanya acara yang sederhana, acara yang megah dan meriah dilaksanakan dalam momentum peringatan maulid Nabi. Ada yang diiringi musik, rebana, bahkan ada juga yang berjoget.

Bagaimana sebenarnya bentuk perayaan yang demikian, masihkan disunnahkan, atau justru dilarang?

Mengenai musik, menurut Imam al-Ghazali hukum menyanyi diiringi dengan alat musik itu diperbolehkan dengan syarat: pertama, tidak dinyanyikan oleh perempuan yang haram dilihat dan lantunannya tidak menimbulkan fitnah. Kedua, tidak menggunakan alat-alat yang diharamkan oleh syara’ seperti seruling, gitar, dan kendang. Ketiga, tidak mengandung kata-kata kotor, bahkan pengingkaran terhadap Allah dan Rasulullah. Keempat, pendengar lagu lantas tidak langsung dikuasai nafsu kala mendengarnya. Kelima, lirik lagu memungkinkan mengaspirasi diri untuk menambah kedekatan kepada Allah. Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka, menurut Imam al-Ghazali, menyanyikan lagu dengan diiringi musik hukumnya haram. (Ihya’ Ulumiddin, II, 306-308)

Kriteria yang dipatok Imam Ghazali ini bukan tanpa dasar. Ada hadits Nabi yang mengungkapkan:

إن الله حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام

Sesungguhnya Allah mengharamkan arak, judi, gendang. Dan setiap barang yang memabukkan adalah haram.

Juga hadits Nabi:

بعثت بكسر المزامر

Aku (Nabi) diutus untuk menghancurkan seruling.

 

Begitu juga dalam perayaan Maulid Nabi. Bila dalam perayaan tersebut diiringi alat malahi, maka diharamkan. Alat malahi tersebut, seperti segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak yang tidak dimaksudkan untuk dipergunakan hiburan atau dalam pelaksanaannya terdapat bentuk istikhfaf (meremehkan). (Kifayatul Akhyar, II, 201-202; Syarhu Sullamit Taufiq, 13; Faidu al-Qodir, VI, 433).

Sementara alat musik yang dihalalkan adalah seperti rebana. Karena ada hadits dari Rubayyi’ binti Muawwidz:

 

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم غداة بُنِيَ عَلَيَّ فجلس على فراشي كمجلسك مني وجويريات يضربن بالدف

 

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan/memukul rebana. (HR. Bukhari, 987)

 

Sedangkan ihwal berjoget, lagi-lagi ada setidaknya dua pendapat. Kubu pertama mengatakan kalau goyangan tubuh dan gemulai badan yang merangsang birahi hukumnya haram. Karena bagi yang mengatakan halal, orang tersebut termasuk fasik. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, IV, 2665)

Pendapat kedua menghalalkan. nampaknya dari ikhtilaf tersebut, pendapat yang menghalalkanlah yang lebih kuat. Karena ada hadits:

 

قدم وفد الحبشة فجعلوا يزفنون ويلعبون

 

Serombongan utusan raja Habasyah (Etiopia) datang kepada Nabi, lalu mereka menari dan menyanyi (di hadapan beliau).

Bahkan di riwayat lain, Rasul pernah memberi izin kepada ‘Aisyah untuk menyaksikan tarian orang-orang Zanuj (ras kulit hitam) di hari raya.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali ternyata berpendapat kalau sebenarnya tarian itu tidak dilarang. Yang menjadikannya haram adalah faktor eksternal (luar). Maka ketika faktor itu hilang, maka tarian tidak menjadi masalah. Diambil dari hadits di atas, Nabi pernah melihat tarian orang dari delegasi Habasyah. Beliau tidak membenci gerak tubuh gemulai tersebut. Lagi pula, Allah tidak memberi hukuman bagi orang yang melakukan hal yang sia-sia. Andai saja ada seseorang bermain dengan meletakkan tangannya seratus kali di kepalanya selama seratus hari, tuhan tidak akan menghardiknya meskipun hal itu sia-sia. (Ihya’ Ulumiddin, II, 309)

Jadi, peringatan maulid Nabi hendaknya tidak menggunakan alat-alat malahi yang diharamkan. Sebab ketika hal yang halal dan haram berkumpul, maka akan menjadi haram. Sebagaimana dalam kaidah fiqhiyyah:

 

إذا اجتمع الحلال والحرام غلب الحرام

Apabila berkumpul antara yang halal dengan yang haram maka dimenangkan oleh yang haram.

 

Yang lebih penting lagi, perlu digarisbawahi, bahwa banyak hal yang dapat dilakukan untuk menunjukkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekadar membaca sejarah beliau, bukan hanya bershalawat atas beliau, tapi harus dilakukan dengan melakukan perintah dan sunnahnya dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan syara’ yang sudah ada. [eLFa]

BULETIN EL-FAJR MA’HAD QUDSIYYAH KUDUS, Edisi 35/8 Februari 2013

mari memotret

Setiap jam, menit, detik, dunia ini selalu mengalami perubahan. Tekhnologi pun mengalami kemajuan yang pesat dalam segala bidang, sehingga pekerjaan manusia semakin hari semakin ‘instan’. Begitu juga dalam dunia menggambar. Mungkin dahulu manusia menggambar masih menggunakan bebatuan, seperti relief. Alat tulis pun tak lupa mengalami perkembangan. Dunia teknologi juga unjuk gigi dalam bidang ini dan malah lebih mudah. Tinggal ‘jepret’ langsung jadi sebuah gambar. Tehnik gambar yang “instan” ini disebut dengan “fotografi”.

Dunia fotografi adalah dunia penuh warna. Semua yang nyata dengan mudah mampu tergambar dalam selembar kertas. Objeknya pun bervariasi, mulai dari yang serius, yang lucu, bahkan sampai yang aneh pun ada. Menjadi tak heran jika warta penuh dengan foto, karena foto sejatinya mampu bercerita dan memberita. Foto juga dapat dijadikan sebagai bukti sejarah atau pun menjadi kenangan-kenangan indah yang pernah kita alami.

Bicara soal objek foto, banyak objek yang bisa dijadikan sebagai bahan pemotretan, seperti pemandangan indah, laut luas, dan tak jarang pula para pemotret mengambil objek manusia, ataupun binatang sebagai bahan pemotretan. keduanya adalah makhluk hidup.

Inilah yang akan menjadi pembahasan kita kali ini. Apakah benar ada dalam fiqh tentang anggapan bahwa menggambar makhluk hidup itu disamakan dengan pembuatan makhluk hidup yang dilakukan oleh Tuhan?
Ada sebagian ulama yang berpendapat mengharamkan menggambar manusia, binatang, ataupun hewan, yang mana termasuk makhluk Allah yang mempunyai ruh. Sedangkan benda-benda yang tidak mempunyai ruh, diperbolehkan menggambarnya. Mereka mendasarkan pendapat mereka dari hadits:

مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُونَ هذِهِ الصُّوَرَ

Sesungguhnya termasuk dari manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah yang menggambar gambaran ini. (Fiqhus Sunnah, III, 498)

Tambah lagi riwayat dari Abdullah bin Abbas tentang adanya ancaman bahwa besok di hari kiamat orang-orang yang menggambar objek itu akan disuruh memberikan nyawa pada gambarannya. Sedangkan orang-orang itu tak akan bisa meniupkan nyawa selamanya. (Fiqhus Sunnah, III, 498)

Ada juga hadits Nabi yang mengatakan:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar. (Shahih Bukhari, III, 1206)
Hadits ini menerangkan malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang dihuni oleh anjing dikarenakan banyaknya najis, dan juga karena anjing itu adalah syetan, seperti yang ada dalam salah satu teks hadits. Sedangkan malaikat itu adalah lawan dari syetan. Karena itu, malaikat tidak berkenan untuk masuk ke rumah tersebut. Untuk yang gambar, malaikat tidak mau masuk rumah yang ada gambarannya dikarenakan gambaran adalah dosa yang keji karena di dalamnya terdapat unsur menyerupai buatan Allah, gambaran adalah sesembahan selain Allah. Maka dari itu malaikat tidak sudi untuk masuk ke dalam rumah itu.

Namun, bukan mutlak semua malaikat tidak mau masuk ke rumah yang ada gambarannya, tetapi yang dimaksud adalah malaikat yang yang tugasnya berkeliling membagi rahmat, berkah, dan ampunan. Adapun malaikat selain itu, tentu masih berkenan masuk karena bertugas sebagai pencatat amal, penjaga diri manusia, atau pencabut nyawa. Ketidakmauan malaikat tadi bukan karena malaikat rahmat itu takut pada gambar, syetan, atau pada anjing, tapi memang telah di-setting oleh Sang Pencipta seperti itu, sehingga pemilik rumah tidak mendapat jatah rahmat dan ampunan yang sedang dibagi-bagi. (Syarhun Nawawi Ala Muslim, VII, 207)

Makhluk hidup yang dimaksud di sini bukan hanya makhluk hidup yang sering kita lihat saja, tetapi juga mencakup makhluk-makhluk hidup fantastis yang bahkan mungkin kita belum pernah memikirkannya. Seperti kuda bersayap, burung berwajah manusia. Semuanya termasuk diharamkan untuk menggambarnya, karena semua itu juga menyerupai berhala. (Fathul Mu’in, III, 411; Ibanatul Ahkam, II, 335)

Menurut Imam al-Adzra’i, pendapat yang telah masyhur mengatakan kebolehan menggambar hewan yang tidak berkepala. Dipandang dari dhohir hadits, hewan yang tak berkepala, berarti tak bisa hidup. Sedangkan yang diharamkan adalah yang dimungkinkan hidup. (Mughnil Muhjat Ila Ma’rifati Alfadhil Minhaj, XIII, 104)
Berbeda lagi dengan pendapat yang dikemukakan oleh Imam Nawawi. Beliau berpendapat bahwa boleh membuat gambar begitu jika gambar itu tidak ada bayangannya. Jadi yang haram adalah semacam patung yang berbentuk tiga dimensi. (Ibanatul Ahkam, II, 336)

Selain itu, pembuatan gambar/patung berupa boneka, robot, dan mainan anak-anak lainnya diperbolehkan. Dengan alasan mainan anak adalah kebutuhan bagi anak-anak, sampai mereka bisa berpikir dewasa. Siti ‘Aisyah pun pernah bermain menggunakan boneka di samping Rasulullah. Selain bentuk boneka, bentuk-bentuk binatang yang biasa ditemui pada permen, botol minuman, juga diperbolehkan. Karena juga termasuk kebutuhan bagi anak-anak. Gunanya adalah untuk melatih mereka dalam urusan pendidikan dan sebagai sarana edukatif. (Fathul Mu’in, III, 413)

Alasan (‘illat) kenapa menggambar ataupun membuat patung itu diharamkan adalah karena termasuk tasyabbuh. Yaitu menyerupai buatan Allah dan menyerupakan dirinya (orang yang membuat) dengan Allah. Segi persamaannya adalah sama-sama membuat bentuk makhluk.

Setiap perkara yang diharamkan pastilah mengandung hikmah tersendiri. Begitupun juga tentang pengharaman gambar dan patung ini. Hikmahnya adalah jauh dari berhala-berhala, melindungi diri dari perbuatan syirik, dan menyembah berhala. Pernah diriwayatkan bahwa nama-nama berhala seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, adalah nama orang-orang shaleh kaum Nabi Nuh. Ketika orang-orang shaleh itu meninggal, mereka membuat gambarnya untuk mengingat orang-orang shaleh itu. Dan pada akhirnya mereka malah menyembah orang-orang yang digambar tadi. Karena itu, menggambar jadi diharamkan karena nantinya akan berakhir pada penghambaan. (Tafsir al-Qurthubi, XVIII, 308)

Bicara tentang ‘illat, hukum itu berputar sesuai ‘illat-nya. Dalam kondisi sekarang, beda dengan kondisi dahulu, ketika masyarakat Arab masih belum sempurna lepas dari sesembahan nenek moyangnya yaitu patung. Sampai-sampai dalam sejarah mengatakan pada zaman itu ka’bah dikelilingi oleh 360 patung. Dalam sosio-kultur masa itu, memang dimungkinkan pembuatan gambar untuk disembah. Namun dalam kondisi masyarakat sekarang ini, malah jarang-jarang ada pembuatan patung untuk keperluan sesembahan, apalagi gambar. Maka, patung-patung seperti untuk mengingat jasa pahlawan, monumen, ataupun untuk keperluan seni boleh saja. Asalkan bukan untuk disembah.

Lalu bagaimana tentang fotografi?

Dalam KBBI, pegertian dari fotografi adalah seni dalam keterampilan membuat gambar dengan menggunakan film peka cahaya dalam kamera. (KBBI, 435)

Para ulama ahli fiqh mutaakhirin berpendapat bahwa fotografi (at-tashwir as-syamsi) bukan termasuk dalam area haram seperti halnya menggambar dengan tangan. Karena fotografi merupakan pengambilan gambar selayaknya bercermin. Kemudian bayangan itu dihentikan sehingga menjadi sedemikian rupa. Lagi pula, dalam fotogari ini tidak ada unsur tasyabbuh seperti yang disebut di depan tadi. Maka, boleh-boleh saja memotret objek apapun. Asalkan bukan yang dilarang. (Ibanatul Ahkam, II, 337)

Fotografi pun, jika pengambilan objeknya adalah barang-barang yang banyak dhoror-nya, tentu haram. Seperti foto syur, foto yang menghina orang lain, menghina Tuhan, dan lain sebagainya. Bukan karena fotografinya, tapi karena objeknya adalah sesuatu yang haram.

Akhirnya, fotografi bukanlah merupakan tashwir, tetapi fotografi adalah menghentikan bayangan. Jadi bukan termasuk tashwir yang diharamkan yang dibuat dengan tangan. Juga sama sekali tidak menimbulkan dhoror. Dan lebih baik lagi jika di dalamnya bisa menggugah semangat untuk beribadah, dan berisi maslahat bagi umat. Lebih-lebih digunakan sebagai batu loncatan untuk berdakwah menyebarkan Islam. So, ekspresikanlah senimu! [eLFa]

TANDASKAN ISLAM PENUH KASIH SAYANG

QUDSIYYAH, KUDUS -Tuduhan sementara orang yang menyebut bahwa Islam sebagai agama yang keras jelas-jelas keliru dan menyesatkan. Sebab dalam penelusuran sejarah ajaran yang tumbuh pada abad ke-7 tersebut menujukkan adanya ajaran yang penuh kasih sayang. Tidak hanya terhadap sesama muslim, tetapi juga kepada orang-orang kafir, dan bahkan kepada seluruh alam. Inilah yang terkenal dengan sebutan Islam rahmatan lil’alamin.

https://picasaweb.google.com/100663593801352753954/ProfilePhotos#5635382950033853298

Demikian salah satu poin yang diungkapkapkan salah satu kyai kharismatik Kudus, KH Sya’roni Ahmadi dalam acara Peringatan Isra’ Mi’raj dan Menyongsong Bulan Suci Ramadan (MBSR) Madrasah Qudsiyyah, Kamis (28/7).

Di hadapan lebih dari seribu santri madrasah Qudsiyyah, kyai Sya’roni menandaskan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad adalah ajaran yang penuh kasih terhadap seluruh alam. “Tidak hanya rahmatan lil muslimin (kasih sayang terhadap sesama muslim-Red), tetapi rahmatan lil’alamin (kasih sayang terhadap seluruh alam-Red),” jelas beliau di acara tahunan yang dilaksanakan di halaman madrasah Qudsiyyah, Kerjasan, Kota Kudus.

Salah satu bukti yang dipaparkan antara lain, Nabi dan para sahabat ketika masih berjuang di Makkah selama 13 tahun, selalu mengalah dan bersabar atas sikap permusuhan dan tindakan sewenang-wenang yang dilancarkan kaum kafir Makkah. “Nabi tetap sabar dan berpesan kepada sahabat untuk tidak membalas segala hal menyakitkan yang dilancarkan kaum kafir terhadap Islam,” tandasnya.

Bahkan, ketika putri Nabi meminta kepada Nabi untuk mendoakan orang-orang yang selalu memusuhi, menggangu, serta mengancam keselamatan Nabi untuk segera didoakan agar segera diberi adzab dan dimusnahkan oleh Allah, maka dengan santun Nabi memberikan jawaban bahwa ketika nanti para orang-orang kafir didoakan untuk dibumihanguskan, maka orang-orang yang akan beriman akan sedikit jumlahnya. Selanjutnya pun Nabi terus berjuang dan berusaha keras berdakwah serta terus bersabar dengan kejahatan yang dilakukan orang-orang kafir.

Bukti lain yang diungkap sesepuh sekaligus Nadhir madrasah Qudsiyyah tersebut adalah tatkala umat Islam sudah diijinkan berperang adalah terkait pidato Nabi saat akan memberangkatkan pasukan perang. Dalam pesan Nabi, tentara Islam tidak boleh memerangi orang yang sedang beribadah dalam Gereja, dalam Klenteng, maupun tempat ibadah lainnya. Juga, tidak boleh membunuh anak-anak, membunuh wanita, bahkan dilarang menebang pohon-pohon di jalanan secara sembarangan. “Ini menunjukkan bahwa Islam penuh kasih sayang, tidak hanya kepada sesama Islam tetapi juga orang-orang non-muslim dan juga terhadap lingkungan sekitar,” tambah beliau.

Maka, beliau mengingatkan bagi orang-orang garis keras hendaknya mengkaji lebih dalam lagi tentang Islam dan nantinya akan memahami bahwa Islam adalah sejuk dan penuh kasih sayang.

Terakhir beliau berpesan, dalam berdakwah, hendaknya dengan cara yang baik serta sopan, sehingga dakwah tersebut akan berhasil. Dalam kesempatan tersebut beliau menceritakan, dakwah yang telah dilakukan selama ini telah menarik hati 81 orang non muslim dan telah masuk Islam di hadapan beliau. Tidak hanya dari dalam negeri ini, tetapi banyak juga yang dari luar negeri, antara lain dari Inggris, Australia, dan Jerman. (*)

Umat Islam Harus Waspadai Gerakan Wahabi

Kudus – Gerakan Wahabi semakin mengancam akidah umat Islam di Indonesia. Faham-fahamnya yang keras dan tidak bertoleransi dengan lokalitas umat Islam di Indonesia mulai dilancarkan. Salah satu strateginya adalah menyusun kitab kuning, kemudian dihadiahkan kepada kiai-kiai di Indonesia.

Demikian disampaikan ulama Kharismatik asal Kudus KH Sya’roni Ahmadi dalam acara haul Masyayikh Madrasah Qudsiyah dan KH Ma’ruf Asnawi, Jumat (4/9), di gedung Yayasan Masjid Menara dan Makan Sunan Kudus.