SANTRI MI QUDSIYYAH GELAR UPACARA DAN NOBAR “SANG KYAI”

QUDSIYYAH, KUDUS – Pada hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017, ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menggelar upacara Hari Kesaktian pancasila, di lapangan MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Ratusan santri berseragam batik “kangkung”, seragam khas Qudsiyyah, berjajar rapi dalam barisan.

Dalam amanat upacara, kepala MI, M. Afthoni, menyerukan kepada seluruh santri untuk tidak melupakan sejarah. Sejarah perjanalan panjang kemerdekaan bangsa ini seyogyanya dijadikan acuan bagi generasi muda sekarang untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat kesatuan dan persatuan serta kedamaian negeri ini.

Lebih lanjut, kepala MI yang bertempat tinggal di Karangampel Kaliwungu Kudus ini berharap para santri dapat meneladani keberanian serta perjuangan para pahlawan bangsa. “Di hari kesaktian Pancasila ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, bersamaan dengan momentum Asyuro di bulan Muharram, juga dilaksanakan santunan Yatim bagi santri Qudsiyyah yang Yatim. Selain upacara dan santunan yatim, kegiatan yang dilaksankan tepat sesuai Tes Mid semester ini adalah berbagai macam kegiatan hiburan, seperti lomba anak-anak, seperti lomba mewarnai, lomba gelang sarung dan lomba pindah botol.

Juga, tak ketinggalan, acara juga dimeriahkan dengan nonton bareng film perjuangan. Film yang dipilih adalah film “Sang Kiai” yang mengangkat profil dan perjuangan ulama terkemuka KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Film yang diproduksi tahun 2013 ini dipilih karena sebentar lagi juga berbarengan dengan momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober, dimana film tersebut menceritakan tentang resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, terjadi tepat pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya. Resolusi ini dikeluarkan untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang tewas saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. (Kharis)

PERINGATAN RAJABIYYAH MI QUDSIYYAH MENGAJAK GIAT SHOLAT

QUDSIYYAH, KUDUS – Setelah sukses dengan Peringatan Rajabiyyah dan MBSR di gedung YM3SK pada Sabtu, 13 Mei 2017, hari ini (Ahad, 14/05/2017) PPQ menggelar acara yang sama dengan peserta santri pada tingkatan Ibtidaiyyah. Acara ini berlangsung mulai pukul 08.00 – 10.30 yang bertempat di Aula Tanah Mas MA Qudsiyyah.

Acara ini berlangsung cukup meriah. Selain diisi mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz, acara ini juga dihadiri oleh pihak kepolisian Polsek Kota Kudus.

Kepada seluruh santri yang hadir, pihak kepolisian menyampaikan pesan tentang ajakan untuk menjauhi narkoba. Selain itu juga menyampaikan pentingnya disiplin lalu lintas. Gemuruh suara santri-santri Ibtidaiyyah pun pecah seketika saat para polisi berinteraksi dengan santri-santri Qudsiyyah.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz antara lain menggemakan ajakan bagi para santri untuk lebih giat melaksanakan sholat. Ini karena sebagai buah manis dari perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Acara ini berlangsung dengan lancar. Alunan nada terbang dari Al-Mubarok Kids pun menutup acara ini dengan wajah bahagia dari santri-santri Ibtidaiyyah yang beranjak pulang. Rangkaian acara yang berlangsung antara lain, pembukaan, pembacaan ayat suci al Qur’an dan Sholawat Asnawiyah, tahlil, sambutan ketua panitia, sambutan kepala MI, sosialisasi dari kepolisian, mauidhoh hasanah dan terakhir penampilan Renana dari santri-santri MI Qudsiyyah yang tergabung dalam Al-Mubarok Kids. (M Iqbal Marzuqi/Kharis)

Puluhan Santri Khataman Alfiyyah di Makam KH Ma’ruf Asnawi

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada pemandangan yang berbeda di pagi ini. Pada Kamis 14 Sya’ban 1438 H bertepatan tanggal 11 Mei 2017 TU sekitar pukul 10.00 di bawah pohon kamboja di area pemakaman Sedio Luhur Bakalan krapyak sejumlah santri sedang berkumpul di dekat makam shohibul fadlilah simbah KH Ma’ruf Asnawi.

Mereka adalah para santri kelas 12 MA Qudsiyyah. Dengan mengenakan baju batik “Kangkung” dan bersarung santri-santri itu berkumpul membentuk setengah lingkaran menghadap ke timur. Mereka melantunkan bait demi bait Nadham Alfiyyah Ibnu Malik, dan ditashih hafalannya. Mereka “sema’an” Nadham Alfiyah bersama para santri yang telah hafal 1002 bait utuh. Sebanyak 17 santri kelas 12 Aliyah berani unjuk gigi disimak dan disaksikan teman-temannya. Santri yang dinyatakan lolos akan mendapatkan syahadah yang akan dibagikan saat Muwadda’ah. Adapun tim pentashih khataman tersebut salah satunya H. Ashfal Maula.

Dipilihnya lokasi di makam simbah KH Ma’ruf Asnawi selain tempatnya yang adem juga untuk mengenalkan sosok Mbah Ji (sebutan akrab untuk simbah KH Ma’ruf Asnawi) kepada para santri. Semasa hidupnya, mbah Ji adalah pribadi yang sangat cinta terhadap Alfiyyah. “Saat masih sugeng mbah ji suka wiridan dan mendengarkan alfiyyah, jadi kita baca menurut apa yang disenangi beliau” ujar gus Apank menjelaskan.

Adapun santri yang ikut hafalan Alfiyyah tersebut adalah Ahmad Multazam, Achmad Aan Nahruddin, Atsnan Naja, Auva Nashan Mushoffa, Eko Nuristianto, Khusnil Mubarok, M. Haqul Muttaqin, M. Irfan Maulana, M. Bahrul ‘Ulum, M. Zuhal Fahmi, M. Shofiyullah, M. Agil Mubarok, Sani M Asnawi, M. Faiz Muzakki, M. Noor Halim, Agung Sulistyo, M. Nouris Sakhok, Lukman Nur Romadlon, Zusrul Hana, dan M. Wahyu Waliyyur Rohman.

Setiap tahun Madrasah Qudsiyyah memberikan apresiasi khusus bagi mereka yang dengan suka hati telah menghafal Alfiyyah utuh 1000 bait. Apresiasi itu berbentuk Syahadah yang ditandatangani oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah dan dibagikan saat Muwada’ah umum yang dihadiri wali santri kelas 6 MI, 9 MTs dan 12 MA.

Diharapkan para santri Qudsiyyah bisa meneladani para seniornya yang mampu menjaga hafalan Alfiyyah hingga lulus sebagai modal menghadapi tantangan zaman. Nadham Alfiyyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab terkenal di kalangan pesantren yang berisi tentang struktur bahasa Arab sebagai salah alat untuk membaca dan memahami kitab kuning. (Yasfin/Kharis)

Haul Ke 59 KHR Asnawi Kudus

QUDSIYYAH, KUDUS – Rangkain kegiatan Haul ke 59 Pendiri Qudsiyyah dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KHR Asnawi Kudus, berlangsung dengan beberapa acara. Oleh Santri madrasah Qudsiyyah, kegiatan ziarah di makam KHR Asnawi dilaksanakan pada Rabu dan Kamis 22-23 Maret 2017.

Dilanjutkan dengan kegiatan Tahlil Umum yang dilaksanakan pada Jumu’ah Pon, 24 Maret 2017 di komplek makam Menara Kudus. Tahlil umum ini terbuka untuk seluruh masyarakat dan dilaksanakan mulai pukul 15.30 WIB.
Puncaknya akan diadakan pengajian umum yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok pesantren Raudlatut Tholibin, peninggalan KHR Asnawi , pada Jumu’ah malam Sabtu, bertepatan dengan tanggal 26 Jumadal Akhirah 1438 H/24 Maret 2017 TU di halaman pondok pesantren Raudlatut Tholibin Kerjasan Kota Kudus. Pengajian ini insyallah akan menghadirkan Habib Musthofa Alaydrus dari Tuban dan Kh Haris Shodaqah dari semarang.

KHR Asnawi merupakan seorang ulama kharismatik di Kudus. Ia merupakan salah satu penggerak dan pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Lahir di Damaran Kudus dari pasangan dari H. Abdullah dan Raden Sarninah pada tahun 1861, beliau menyendang nama kecil sebagai Ahmad Syamsyi.

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pendidikan agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Semenjak usia 15 tahun, orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang dan juga mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.

Pada tahun 1886, Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, kemudian berganti nama menjadi KHR. Asnawi dan mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun dan kemudian kembali ke tanah air untuk berdakwan dan berdomisili di Kudus.

Beliau meninggal dunia pada usia 98 tahun tepat seminggu setelah pelaksanaan Muktamar NU XII di Jakarta yang beliau ikuti. Beliau meninggal pada subuh hari Sabtu Kliwon, 25 Jumadal Akhirah 1378 H, bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M pada pukul 03.00 WIB dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Semasa hidupnya beliau banyak berkiprah untuk kemajuan Islam ahlussunnah wal jama’ah. Selain aktif di organisasi NU beliau juga mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada tahun 1919 dan mendirikan pondok pesantren Raudlatut Tholibin pada tahun 1927. Beliau juga memelopori berdirinya Darusan Pitulasan di Masjid Menara Kudus yang terus eksis hingga sekarang. (Kharis)

MTS – MA Qudsiyyah Siap Jalankan UNBK

QUDSIYYAH, KUDUS – Madrasah Tsanawiyah Qudsiyyah dan Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus siap melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2017 ini. Berbagai langkah dan persiapan sarana prasarana telah rampung dilakukan.

Persiapan yang telah dilaksanakan adalah dengan menyiapkan dua ruang lab komputer yang terintegrasi dengan server. Masing-masing lab terdiri atas 36 unit komputer dan satu unit server yang telah rampung dilakukan singkronisasi. Dari jumlah siswa yang ikut UNBK di MTs dan MA, dua lab komputer sudah cukup dengan asumsi pelaksanaan tiga sesi, yakni sesi pagi, siang dan sore.

Untuk tahun ini, jumlah siswa Aliyah Qudsiyyah yang ikut UNBK sebanyak 184, sedang untuk MTs jumlah siswa kelas IX yang ikut UNBK sebanyak 183 orang.

Sebagaimana dirilis oleh website resmi Kemdikbud, UNBK disebut juga Computer Based Test (CBT), yakni sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK.

Penyelenggaraan UNBK tahun 2017 ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online. (Kharis)

Empat Piala Diraih MI Qudsiyyah pada Bangau Ruyung Cup

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebanyak Empat piala diraih oleh altet-atlet pencak silat dari MI Qudsiyyah dalam Bangau Ruyung Cup VII antarpelajar tingkat SD/MI, SMP-SMA sederajat tingkat kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak 2017. Kejuaraan ini rutin digelar setiap tahun secara berkala dan pada tahun ini dilaksanakan di GOR Kudus, pada Ahad-Senin, 28-29 Januari 2017.

Empat santri yang meraih juara tersebut adalah Panca Akbar, Luthfi Hakim, Mirza Royyani dan Ahmad Rezal Efendi.keempatnya merupakan siswa kelas VI MI Qudsiyyah Kudus yang mengikuti ekstra kulikuler pencak silat dan ikut lomba dalam event Bangau Ruyung Cup.

Panca Akbar sukses meraih juara I putra dalam kategori tanding kelas D tingkat SD/MI. Luthfi Hakim meraih juara dua dalam kategori tanding kelas bebas, Mirza Royyani meraih juara III kategori tanding kelas bebas dan Ahmad Rezal Efendi sukses menyabet juara tiga Putra dalam kategori tanding kelas C.

Kesuksesan tersebut merupakan salah satu prestasi yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Padepokan Bangau Ruyung adalah salah satu kelompok pencak silat besar di kabupaten Kudus. Dalam hal ini, selama kurang lebih tiga tahun terakhir, ektra kulikuler pencak silat yang diadakan di Madrasah Qudsiyyah adalah hasil kerjasama dengan pedepokan Bangau Ruyung. Ekstra Kulikuler Pencak silat di Qudsiyyah sendiri digelar setiap dua kali dalam sepekan yang dilaksanakan di lapangan Qudsiyyah dan diikuti oleh santri MI, MTs dan santri Aliyah. (Kharis)

Jelajah Sekolah Menoro

SELAMA ini kota Kudus dikenal sebagai kota kretek dan kota santri. Sebutan kota kretek mengacu karena di tempat inilah lahir dan berkembang industri rokok kretek, rokok khas negeri ini. Dikenal sebagai kota santri karena masyarakatnya religius, berdiri banyak pondok pesantren dan madrasah sebagai institusi pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam.

Salah satu madrasah tua, pondasi pengkaderan keilmuan yang hingga ini tetap eksis adalah madrasah Qudsiyyah. Madrasah ini dikenal luas dengan sebutan Sekolah Menoro. Madrasah yang dimulai di emperen masjid Menara Kudus kini terus tumbuh dan telah berusia 100 tahun. Untuk menjelajah sejarah panjang berdirinya madrasah ini, buku berjudul KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah; Jejak Kiprah Santri Menara, ini sangat cocok menjadi referensi.

Dijelaskan, penggunaan nama madrasah di awal tahun 1900-an merupakan kisah yang tidak sederhana. Di tengah kebijakan pemerintah kolonial yang mengharuskan memakai nama school, penggunaan kata madrasah harus dilihat sebagai bentuk lain dari perjuangan masyarakat muslim merespon keberadaan penjajah dalam bidang pendidikan. Di saat beberapa institusi pendidikan madrasah membuat keputusan untuk bersikap moderat kepada pihak kolonial dengan melabeli kata school, maka Kiai Asnawi, sebagai pendiri Madrasah Qudsiyyah, tetap berteguh hati untuk tidak mengganti madrasah dengan memakai kata school. (hlm xvii)

Dengan panjang lebar, buku ini mengurai latar belakang kondisi Kudus pada saat awal abad ke-20. Masyarakat negeri ini sebenarnya sudah begitu tinggi gereget untuk belajar dan meningkatkan keilmuan. Terbukti banyak pemuda yang pergi belajar ke luar negeri. Begitu pula Kiai Asnawi menunaikan ibadah Haji ke Mekkah dibarengi dengan semangat belajar dan semangat mengajar di sana selama 22 tahun. Sekembalinya ke tanah air, kiai Asnawi disambut dengan kondisi ekonomi, sosial keagamaan yang penuh dengan dinamika. Dalam aspek keagamaan, muncul persaingan antara kubu yang hendak memurnikan ajaran Islam dengan kubu yang memadukan antara tradisi-tradisi Jawa bahkan Hindu dengan ajaran Islam. Dalam konteks ekonomi, terjadi persaingan dagang antara saudagar santri dengan orang-orang Cina yang akhirnya memicu berdirinya Sarekat Islam, sebuah organisasi Islam pertama yang berkembang di Kudus. Pada puncak perseteruan ekonomi ini, terjadi huru-hara besar anti Cina di Kudus pada Oktober 1918. Dalam catatan Castles, kiai Asnawi adalah salah satu tokoh yang terlibat dalam huru-hara tersebut.

Namun harus dicatat, untuk mengatasi dinamika yang terjadi di Kudus, kiai Asnawi tidak larut dalam suasana konfrontasi yang sedang berkecamuk di Kota Kudus. Strategi yang ditempuh adalah dengan menyiapkan sebuah pelembagaan keilmuan yang diawali dengan forum pembelajaran di Masjid Menara. Karena yang terpenting bagi kiai Asnawi justru tetap memikirkan bagaimana menyiapkan generasi terdidik di masa mendatang dalam balutan ahlussunnah wal jama’ah. Maka, tercatat sejak tahun 1917 kegiatan belajar mengajar telah dimulai walau belum ada nama maupun tempat yang pasti. Baru pada tahun 1919 M bertepatan dengan 1347 H, madrasah Qudsiyyah berdiri di samping Masjid Menara Kudus. (hlm 42-43)

Pendirian Madrasah Qudsiyyah tak bisa dilepaskan dari ketokohan KHR Asnawi. Melalui jejaring Haramain, kiai Asnawi terlibat dalam jaringan ulama Nusantara. Selama di Mekkah, beliau berguru kepada Ulama Jawa yang menetap di sana, diantaranya KH Sholeh Darat, KH Mahfudz Termas, Sayid Umar Satha. Tidak hanya itu, kiai Asnawi juga terhubung dengan HOS Cokroaminoto, tokoh kharismatik Sarekat Islam. Sehingga gelora kebangsaan anti penjajah, tentu tertanam untuk bergerak bersama membebaskan diri dari cengkeraman kolonial. Pemilihan lokasi dan nama madrasah merupakan hal yang menarik. Lokasi Menara dipilih sebagai gedung baru karena berada tepat di jantung peradaban Islam Kudus kuno dimana ajaran-ajaran Sunan Kudus secara kontinyu diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara pemilihan nama Qudsiyyah, dinisbatkan pada quds, atau Kudus. Sehingga secara arti bisa dimaknai madrasah Qudsiyyah adalah tempat orang-orang Kudus belajar mencari ilmu. Hal ini menjadi relevan mengingat sampai sejauh ini madrasah Qudsiyyah adalah pioner dalam Pendidikan Islam di Kudus. Di sisi lain, Qudsiyyah juga bisa dinisbatkan pada quds (suci), maka bisa diartikan Qudsiyyah sebagai tempat pembelajaran antara yang haq dan batil agar mampu menjadi pedoman berperilaku suci. (hlm 96-97)

Keberadaan madrasah yang terletak persis di dekat masjid Menara inilah yang kemudian masyarakat luas mengenal madrasah ini sebagai Sekolah Menoro. Karena, mulai dari gedung di sisi selatan masjid, berdampingan dengan tempat wudlu inilah, kelas-kelas madrasah Qudsiyyah bersumber. Kini, setelah 100 tahun berdiri, Madrasah Qudsiyyah telah mengembangkan tanah-tanah dan bangunan di kelurahan Kerjasan dan Damaran Kota Kudus. Bahkan, kini sekolah yang masih eksis dengan sekolah khusus laki-laki ini, telah merintis pendirian madrasah putri di desa Singocandi kecamatan Kota Kudus.

Selain membedah sisi historis madrasah, buku yang ditulis oleh tujuh orang yang sama-sama alumni Qudsiyyah ini, juga membedah kiprah madrasah dan kiprah alumni. Kiprah alumni selama ini bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme, saling mendukung satu dengan yang lain. Keberadaan Qudsiyyah dan perkembangannya selama ini mendapat suport yang positif dari alumni. Alumni yang tergabung dalam wadah IKAQ (Ikatan Alumni Qudsiyyah) juga telah berkembang begitu rupa. Organisasi ini berkembang di berbagai wilayah di tanah air, seperti di Jakarta dengan IKAQ Jabodetabek, di Semarang dengan nama Maqdis, di Yogyakarta dengan AlQY dan Demak dan Jepara yang menggunakan nama IKAQ Jepara dan IKAQ Demak.

Secara apik di akhir buku ini terdapat satu bab khusus yang mengurai tentang profil-profil alumni Qudsiyyah yang telah sukses di berbagai bidang. Baik itu di bidang pemerintahan, bidang hukum, bidang motivator dan pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Buku ini cocok dibaca oleh masyarakat umum maupun kaum pendidik. Bagi kaum pendidik, bisa diambil hikmah metode dan cara yang digunakan untuk mengembangkan dunia pendidikan. Bagi masyarakat umum, buku ini cocok sebagai ibrah dan menggali bagaimana peran dan pengorbanan para tokoh terdahulu dalam mengembangkan Islam ala ahlussunnah wal jama’ah. Semangat itulah yang harus kita ambil pada diri kita sebagai generasi sekarang untuk melanjutkan dan mengembangkan apa yang telah dilakukan para tokoh terdahulu. (*)

Identitas Buku:
Judul : KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah; Jejak Kiprah Santri Menara
Penulis : H. M. Ihsan dkk.
Tebal : xxvii + 246 halaman
Penerbit : Pustaka Compass
Cetakan : Desember 2016
Peresensi : M. Kharis

TEATER QUDSIYYAH RAIH JUARA III FTP 2016

QUDSIYYAH, KUDUS – Kerja keras tim teater Jangkar Bumi MA Qudsiyyah Kudus memberikan hasil yang cukup apik. Setelah beberapa kali ikut serta dan tidak bisa masuk di babak final, kini Teater yang dibimibing oleh alumni Qudsiyyah, Miftah Ali dan Nor Kholis ini, mampu masuk di babak final dan merebut juara III dalam Festival Teater Pelajar tahun 2016.

Dalam pengumuman yang dibacakan oleh tiga dewan juri, yakni seorang pemain film, aktor panggung dan juga sutradara, Sha Ine Febriyanti, Agus “Kriwil” Syarofuddin, Aktor Teater Kudus dan Gunawan “Cindhil” Maryanto, awak teater Garasi Yogyakarta, teater Qudsiyyah dengan lakon berjudul “Ngaluamah” mampu mengungguli tiga kelompok terater SMA/MA lain yang juga tampil di babak final. Adapun kelompok terater yang meraih juara 2 adalah Teater Studio One, SMA 1 Kudus, dengan lakon “Calon Arang”, dan juara pertama diarih Teater Apotek, SMK Duta Karya dengan menampilkan naskah berjudul “Selat Pemisah”.

Festival Teater Pelajar 2016 dibagi ke dalam dua tahap, yakni babak seleksi dan final. Babak seleksi sudah diadakan di sekolah masing-masing, dari 31 Oktober hingga 9 November. Ada 37 pertunjukan teater pelajar peserta FTP. Sebanyak 11 teater pelajar tingkat SMP dan 26 teater pelajar tingkat SMA.

Kemudian, ada 9 teater pelajar teater terbaik yang lanjut ke babak final yag digelar pada Sabtu dan Ahad, 19 – 20 November 2016 mulai pukul 13.00 di GOR Djarum Kaliputu Kudus. Dengan mengadaptasi dongeng khas Indonesia, inilah para finalis Festival Teater Pelajar 2016 yang maju ke babak
final. Untuk tingkat SMP, antara lain: Teater Ukur – MTs NU Maslakul Falah dengan naskah Baru Klinting, Teater NSA – SMP 3 Satu Atap Gebog dengan The Legend of Malin Kundang, Teater Espero – SMP 2 Kudus dengan Jaka Tarub.

Sementara di tingkat SMA, finalisnya adalah Teater Studio One – SMA 1 Kudus dengan Calon Arang, Teater Ganesha – SMA 2 Kudus menampilkan Timun Mas, Teater Sate Madu – MAN 2 Kudus dengan Mbako Melayang, Teater Jangkar Bumi – MA NU Qudsiyyah dengan naskah Ngaluamah, Teater X-Miffa – SMK NU Miftahul Falah yang menampilkan Ande Ande Lumut dan Teater Apotek – SMK Duta Karya dengan naskah Selat Pemisah.

Adapun juara Kelompok tingkat SMP adalah terbaik 3, diraih oleh Teater Mts NU Maslakul Falah, terbaik 2, diraih oleh Teater Espero SMP 2 Kudus, dan terbaik 1, diraih oleh Teater SMP 3 Satu Atap. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Qudsiyyah Masuk Final FTP

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Ngaluamah” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk babak final Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2016. Dari 26 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi sembilan finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada Sabtu dan Ahad, 19 – 20 November 2016 mulai pukul 13.00 di GOR Djarum Kaliputu Kudus.

Dari sembilan finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA swasta yang berhasil lolos di babak final. Delapan lainnya adalah Teater Studi One, SMA 1 Kudus, teater X-Miffa, SMK Nu Miftahul Falah, teater Apotek, SMK Duta Karya, teater Ganesha, SMA 2 Kudus, dan teater Sate Madu, MAN 2 Kudus.

Adapun jadwal pementasan dari Jangkar Bumi Qudsiyyah, dilaksanakan pada Sabtu Malam Ahad, pukul 18.50 WIB. “Jangan lupa nonton ya, gratis kok!” Untuk menghadapi pementasan di babak final, seluruh pemain dan tim pendukung terus berusaha untuk berlatih dan menerapkan saran-saran yang diberikan dewan juri saat seleksi beberapa waktu lalu. Selain itu, seluruh tim juga menggali berbagai masukan dari para seniman-seniman Kudus. (*)

Merawat Warisan Harmoni Sosial Walisongo

KETIKA bangsa Indonesia—khususnya umat Islam dalam kondisi terbelah pendapatnya—maka perlu merenung sejenak sejarah Nusantara di masa lampau. Apa yang perlu direnungkan? Sejarah Walisongo sebagai pembawa Islam di bumi Nusantara. Kenapa harus direnungkan kembali saat ini? Sebab Walisongo menjadi figur penginspirasi harmoni sosial.

Terlalu cepat nampaknya Indonesia dibuat gaduh (versi media sosial) akibat hajatan politik. Muslim satu dan lainnya berbeda pandangan soal tafsir “penistaan agama”. Belum lagi soal argumentasi agama yang dibenturkan dengan kecondongan pilihan kandidat Kepala Daerah. Seakan restu politik menjadi tunggal dan sudah kelewat batas dari titik harmoni.

Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq memberikan contoh dalam kondisi suasana politik Kesultanan Demak menghangat. Ia sebagai salah satu Panglima Perang Demak memilih untukbabad alas (membuka wilayah politik baru) di Kudus, daerah utara Demak. Konflik yang terjadi di Demak pun bukan sebagai lahan berebut kekuasaan semata. Tetapi menjadi pendewasaan berpolitik—yang sudah terintervensi gengsi kekuasaan Majapahit.

Akibat dari suasana yang demikian, Sunan Kudus mengambil jalan untuk memperkuat basis keilmuan dengantafaqquh fiddin (menguasai ilmu agama). Selain itu, keturunan Raja Demak bernama Ario Penangsang juga menjadi murid kesayangan Sunan Kudus. Itu dilakukan karena kecintaan Sunan Kudus pada keturunan Raja agar tidak lari mencari perlindungan Raja Majapahit.

Kisah Sunan Kalijaga dalam membangun pondasi Islam Nusantara yang penuh harmoni juga sudah nyata. Bangunan Islam yang ramah dengan masyarakat awam ia tancapkan mendarah daging hingga saat ini. Kesan Kesultanan Demak yang sangat terbuka untuk menjadi tempat curhat kawulo alit didorong oleh Sunan Kalijaga sebagai Penasehat Raja. Sunan Kalijaga juga membangun zona-zona politik berbasis harmoni dengan seni.

Seni semacam Wayang dan Gendhing Jawa (lagu Jawa) ia ciptakan sebagai pemersatu masyarakat Jawa yang saat itu sudah multiagama. Orang non muslim begitu mesra dengan Islam saat Sunan Kalijaga tampil dengan kesenian Jawa yang telah diislamkan. Dalam suasana yang demikian, masyarakat menyatu dalam seni untuk membangun harmoni sosial. Agama saat itu sudah menjadi perekat, bukan menjadi sumber konflik.

Kehadiran Maulana Malik Ibrahim di Gresik dalam membangun harmoni sosial juga nampak nyata. Di tengah kondisi masyarakat memiliki keyakinan terhadap Dewa, Islam tampil dengan ramah. Agama yang diyakini sebelum Maulana Malik Ibrahim hadir di Jawa tidak diusik. Keyakinan itu tetap dibiarkan berjalan. Itulah cikal bakal bangunan toleransi beragama sudah ada sejak abad 14 dan 15.

Ketika masyarakat meyakini bahwa meminta kepada Dewa harus dengan tumbal menyembelih perawan cantik, oleh Maulana Malik Ibrahim diganti dengan menyembelih ayam. Dan permintaan hujan dan berhentinya paceklik itu terkabulkan. Akhirnya masyarakat mulai mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim tanpa harus mengusik umat agama sebelumnya. Wajah Islam yang demikian harus kita lihat.

Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati juga demikian. Ia lahir dari keturunan Raja Siliwangi bernama Dewi Rara Santang. Praktis, bahwa perjuangan membuat Bumi Jawa Pasundan Betawi sebagai medan juang Islam didakwahkan dengan penuh damai dan toleran. Sunan Gunung Jati sadar bahwa Islam harus didakwahkan, tapi dakwah yang santun, bukan dengan dakwah yang berapi-api. Soal hadangan kelompok yang tidak sepakat, ia lakukan dengan penuh kasih sayang.

Ada hal yang perlu dipertegas soal kisah-kisah Walisongo. Maulana Habib Luthfi Pekalongan selalu menegaskan tentang kisah-kisah para Walisongo ini. Bahwa konflik Walisongo jangan dipahami dengan berdasar cerita lisan Ketoprak. Dimana dikesankan bahwa Walisongo dan Kesultanan Demak mudah pathen-pinathen(bunuh membunuh). Sungguh naif, jika kemuliaan Walisongo dalam membangun harmoni sosial itu tidak ditonjolkan.

Atas dasar itu, maka sudah waktunya masyarakat Indonesia kembali mengkaji nilai harmoni sosial yang telah diletakkan oleh Walisongo. Wajah Islam Nusantara yang penuh dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ini jelas nyata dibawa oleh Walisongo. Cara berdakwah yang dilakukan juga sangat tegas dengan memaknai wilayah agama, sosial, politik dan budaya.

Maka jika hari ini kita diperlihatkan dengan kondisi wajah Islam yang beragam, itulah Indonesia. Namun wajah Islam yang ramah dengan penuh kekeluargaan, itulah Islam yang ditinggalkan oleh Walisongo. Walisongo tidak mengajari dengan Islam yang menodai persatuan dan kesatuan.

Garis agama tegas bahwa Islam itu berdasar syariat yang telah ditentukan. Dan wilayah harmoni sosial dengan hidup berinteraksi dengan lintas agama, lintas negara dan lintas budaya itu juga dibangun secara baik. Walisongo terbukti mampu menyatukan interaksi agama Islam, Kapitayan, Hindu dan Budha. Walisongo juga berhasil membangun diplomasi Timur Tengah, India, China dan Nusantara. Semua warisan Walisongo tentang harmoni sosial itu patut dijaga dengan baik.*)

M Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Dosen UIN Walisongo, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan