JURNALIS ALUMNI QUDSIYYAH RAIH DIVERSITY AWARD 2016

QUDSIYYAH, JAKARTA – Salah satu kado indah diberikan alumni Qudsiyyah pada momentum ulang tahun ke 100 Madrasah Qudsiyyah Kudus. Furqon Ulya Himawan, alumni Qudsiyyah yang berkarir di dunia jurnalistik, meraih penghargaan Diversity Award 2016, akhir Agustus ini.

Karya jurnalistik yang dibuat oleh alumni Qudsiyyah tahun 2003 ini, terpilih menjadi berita media cetak terbaik versi Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (disingkat; Sejuk). Diversity Award 2016 adalah penghargaan karya jurnalistik tentang toleransi beragama. Program ini merupakan inisiatif Sejuk untuk memberikan apresiasi atas kerja-kerja jurnalistik yang mengimani bahwa keberagaman mesti dihargai dan dirayakan.

Karya Furqon Ulya Himawan yang bernaung di jurnalis Media Indonesia ini berjudul “Toleransi Memudar di Kota Pelajar”. Dalam berita itu, Yaya, sapaan akrabnya, mencoba memotret kejadian intoleransi yang ada di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Ia bercerita, ide bermula ketika dirinya melihat banyak tindakan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Padahal, kota pelajar itu terkenal sebagai ‘City of Tolerant’ sejak 2010-an.

“Kemudian dicoreng sendiri oleh orang-orang yang mengaku sebagai warga Jogja. Orang-orang yang mengaku beragama, tapi melakukan tindakan intoleran,” ungkap Yaya, sebagaimana dikutip dalam Metrotvnews.com usai menerima penghargaan di Goethe-Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Pada 2015 misalnya, banyak tindakan intoleransi terjadi di Yogyakarta. Mulai dari pembubaran acara diskusi, acara nonton film, dan acara-acara seni lainnya yang dinilai bertentangan dengan pemahaman keagamaan sejumlah warga. Pernah juga terjadi pembubaran terhadap pondok waria, bahkan sempat ada pula rencana penggusuran.

“Itu kan sebenarnya merupakan tindakan intoleran. Mereka membenarkan melakukan tindakan tersebut berdasarkan doktrin agama yang mereka miliki. Intinya, selain kelompok dia, salah semua,” terang Yaya.

Kebetulan, jelas Yaya, The Wahid Institute dan Setara Institute menobatkan Yogyakarta sebagai kota intoleran. Kota yang khas dengan makanan gudeg itu ada di deretan lima kota terbesar di Indonesia yang melakukan tindakan intoleran.

“Ini jadi dipertanyakan, karena Jogja sebagai City of Tolerant, tapi melakukan tindakan intoleran. Ini kan menarik jadi pertanyaan,” kata dia.

Alumni Qudsiyyah yang masih Jomblo ini berhasil menyisihkan dua jurnalis lainnya dalam daftar nominasi peraih Diversity Award 2016 kategori media cetak. Mereka adalah Kodrat Setiawan dari Koran Tempo, dan jurnalis Media Indonesia lainnya, Ardhy Winata Sitepu. Berita hasil karya Kodrat berjudul Pembongkaran Gereja Diwarnai Isak Tangis Jemaat, sementara berita hasil karya Ardhy yang masuk daftar nominasi berjudul Polemik Pendidikan Agama di Aceh Singkil.

Selain kategori media cetak, penghargaan Diversity Award 2016 juga diberikan untuk kategori radio. Jurnalis radio yang masuk nominasi antara lain Rio Tuasikal dari Radio KBR68H dan Margi Ernawati dari Radio Elshinta Semarang. Pemenang Diversity Award 2016 kategori Radio dimenangkan oleh Margi Enawati.

Sejuk juga memberikan penghargaan Diversity Award 2016 untuk kategori media foto. Ada tiga fotografer yang masuk daftar nominasi, yakni dua fotografer AFP Aman Rohman dan Hotli Simanjuntak (AFP), juga fotografer Antara Jessica H Wyusang. Penghargaan untuk kategori media foto diraih Jessica H Wuysang.

Sedangkan, dalam kategori media online, ada dua jurnalis yang masuk nominasi, yakni Abraham Utama dari CNN Indonesia dengan judul berita Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia. Satu lagi Heyder Affan dari BBC Indonesia dengan judul berita Aliran Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia. Penghargaan dimenangkan oleh Heyder Affan. (*)

Mempopulerkan Shalawat Kebangsaan Karya KHR Asnawi

DALAM rangkaian satu abad Qudsiyyah digelar acara “Mendaulat Shalawat Asnawiyyah sebagai Shalawat Kebangsaan” oleh Cak Nun bersama Kyai Kandjeng (3/8/2016). Pada hakikatnya acara itu adalah penegasan kembali tentang keberadaan shalawat Asnawiyyah yang sangat memiliki nilai cinta bangsa dan do’a abadi kedamaian Indonesia. Sebelum Cak Nun, Habib Syekh sudah membawa shalawat Aswiyyah dikumandangkan setiap majelis shalawat, baik di dalam negeri atau luar negeri.

Dan jauh sebelum itu, para kyai dan santri KHR Asnawi juga sudah mengenalkan dan mempopulerkan shalawat karya Mbah Asnawi ini. Buktinya nyata, bahwa di pesantren berbasis NU sangat mengenal bait-bait shalawat Asnawiyyah tersebut. Lagu dan nada pelantunannya memang berbeda-beda sesuai dengan selera dimana shalawat itu dikumandangkang.

Bagi generasi masa sekarang, memang sangat perlu penegasan kembali eksistensi shalawat ini. Tepat jika momentum satu abad menjadi pijakan untuk mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Dan pasca mendaulat, masih banyak PR yang harus dilakukan. Sebab jika hanya didaulat saja, maka akan sepi dari makna aslinya. Sebab shalawat itu adalah kalimat yang perlu dilafadzkan, bukan hanya didaulat.

Maka yang paling penting hari ini adalah mencetak generasi shalawat, kader yang cinta shalawat dengan membaca shalawat Asnawiyyah. Akan lebih mulia jika pembacaan shalawat Asnawiyyah dijam’iyyahkan dan dirutinkan. Maka jam’iyyah seperti Rebana Al Mubarok Qudsiyyah menjadi salah satu garda depan penjaga eksistensi shalawat Asnawiyyah. Sudah 11 album yang dikeluarkan oleh Al Mubarok selalu mengumandangkan shalawat Asnawiyyah.

Bagaimana isi dari shalawat Asnawiyyah sehingga layak disebut shalawat kebangsaan? Pertanyaan ini selalu saya terima dari banyak kawan yang masih belum paham secara detail isi dari shalawat itu. Maka ada tanggung jawab akademik yang harus dijelaskan. Penulis dengan segala kekurangan berikhtiyar membaca hermeneutika shalawat Asnawiyyah.

Sang pencipta shalawat Asnawiyyah bernama KHR Asnawi yang hidup di abad 19. Sosok Kyai Asnawi dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan penjaga garis Islam ahlussunnah wal jama’ah. Kiprahnya tidak hanya di lingkup lokal Kota Kudus, tetapi kiprah di level nasional dan internasional. Dalam bidang karya tulis, Mbah Asnawi juga melahirkan banyak karya: Fashalatan, Mu’taqad Seket, Fiqhun Nisa’ dan Syi’ir-Syi’ran Nasehat. Yang paling khas dikenal dari karya Mbah Asnawi adalah shalawat Asnawiyyah.

Dalam hal karya tulis, Mbah Asnawi memiliki karakter seperti gurunya KH Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat). Dua tokoh ini meninggalkan karya-karya yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf pegon al-Marikiyyah. Dalam hal ketegasan menolak penjajah, pengaruh Mbah Sholeh Darat dalam pribadi Mbah Asnawi sangat kuat. Terbukti Mbah Asnawi sangat menolak dasi, celana dan pakaian yang menyerupai Belanda.

Sikap itu juga dimiliki oleh Mbah Sholeh Darat yang ditulis dalam Kitab Majmu’atus Syari’ah halaman 25: “Sopo wonge nganggo penganggone liyani ahli Islam kaya klambi jas, topi utowo dasi, moko dadi murtad rusak Islame senadyan atine ora demen” (barang siapa yang memakai pakaian yang bukan milik Islam seperti jas, topi dan dasi, maka ia menjadi murtad dan Islamnya rusak. Walaupun hatinya tidak suka).

Dari profil singkat itu dapat diketahui, bahwa rasa kebangsaan yang dimiliki oleh Mbah Asnawi memang didasarkan ajaran-ajaran gurunya, termasuk meniru Rasulullah dalam memperjuangkan agama Islam. KHR Asnawi paham betul bahwa Indonesia saat itu sangat membutuhkan kekuatan Islam dengan model damai. Shalawat Asnawiyyah yang diciptakan itu menandakan bahwa pribadi Mbah Asnawi adalah pribadi ulama yang sangat kuat cinta bangsanya.

Isi dari shalawat ini adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْ *  لِ مُـحَمَّدٍ سِرِّ العُلَا

وَالأَنْبِيَا وَالـمُرْسَلِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ           * نَ الغُرِّ خَتْمًا أَوَّلَا

يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَـــــــــــــــــــــــــــــــــا            * بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا

وَافْتَحْ لَــنَــــــــــــــــــا بِدَرْسِ أَوْ            * قِرَاءَةٍ تُرَتـَّـــــــــــــــــــــــلَا

وَارْزُقْ بِفَهْمِ الأَنْبِيَـــــــــــــــا   * لَنَا وَأَيَّ مَنْ تَلَا

ثَبِّتْ بِهِ إِيْـــمَانَـــنـَـــــــــــــــــــــــا  * دُنْيَا وَأُخْرَى كَامِلَا

أمان أمان أمان أمان   * بِانْدُنْسِيَا رَايَا أَمَانْ

أمين أمين أمين أمين   * يَا رَبِّ رَبَّ العَالـَمِيْن

أمين أمين أمين أمين   * وَيَا مُـجِيْبَ السَّائِلِيْن

Shalawat Asnawiyyah diterjemahkan oleh Ustadz Nur Amin (guru Qudsiyyah) sebagai berikut:

Wahai tuhanku berilah * sholawat kepada rasul

Baginda Nabi Muhammad * yang punya rahasia unggul

Dan para nabi dan rasul * awal akhir mulya betul

Wahai tuhanku berilah * sinar pada hati kami

Dengan cahaya al-Qur’an * yang agung serta nan suci

Dan bukalah kami sebab * baca Qur’an yang teliti

Dan berilah rizqi dengan * kefahaman para nabi

Untuk kami orang-orang * yang membaca dan mengaji

Iman tetap sebab Nabi * dunia akhirat terpuji

Aman  aman  aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * Indonesia raya aman

Amin amin amin amin * Amin amin amin amin

Amin amin amin amin * ya perumat alam semesta

Amin amin amin amins * ya pengkabul para peminta

Dari sebelas bait shalawat Asnawiyyah ini meman terkandung makna yang sangat luar biasa. Ruh yang paling inti adalah pujian kepada Rasulullah Saw. Sebab esensi dari shalawat adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw yang memiliki rahasia kehidupan. Do’a untuk penyinar hati juga disanjungkan dengan tuntunan al-Qur’an. Rasa cinta kepada al-Qur’an juga diaktualisasikan dengan mahirnya dalam membaca dan mengaji secara tartil. Dan itulah rizki yang sangat dinanti. Penguatan keimanan dan keselamatan dunia sangat dinanti. Do’a yang dipanjatkan setelah itu adalah keamanan bagi bangsa Indonesia. Kalimat qabul disandarkan pada Allah Swt.

Itulah hebatnya shalawat Asnawiyyah yang jika dibedah memiliki lima dimensi yang tidak bisa dipisahkan: Pertama, dimensi ketuhanan. Bahwa semua orang yang hidup selalu bergantung pada kekuasaan Allah. Kedua, dimensi kenabian. Bahwa Rasulullah Saw adalah figur idola yang sangat dinantikan syafa’atnya. Ketiga, dimensi Qur’ani. Untuk memahami Islam yang perlu dipegang adalah al-Qur’an dengan membaca isinya (paham bahasa Arab dan tafsir) dan ahli tarlil (paham tajwid dan ilmu al-Qur’an). Keempat, dimensi teologi. Penegasan keimanan dalam agama Islam itu menjadi sangat penting sebagai bekal selamat di akhirat. Dan kelima, dimensi kebangsaan. Mbah Asnawi memberi pesan bahwa empat dimensi yang terkandung dalam isi shalawat itu tidak akan mudah diwujudkan jika negara dalam kondisi tidak aman. Maka do’a untuk Indonesia aman, damai, gemah ripah loh jinawe itu yang dimaksudkan dari isi shalawat ini.

Jadi sangat mulia sekali isi shalawat ini. Dan perlu ditegaskan bahwa karya Mbah Asnawi yang berisi tentang nilai kebangsaan tidak hanya berupa shalawat Asnawiyyah ini. Hampir semua sya’ir-sya’ir yang dikaryakan selalu menyinggung tentang pentingnya cinta agama dan cinta bangsa Indonesia. Maka tepat jika, KH Musthofa Bisri menyebut bahwa KHR Asnawi adalah orang ‘alim yang sangat Indonesia, bukan kearab-araban walaupun lama di Arab. Maka sudah saatnya kita mempopulerkan shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Wallahu a’lam. (*)

M. Rikza Chamami

Alumni Qudsiyyah 2000, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

QUDSIYYAH DAN ISLAM NUSANTARA

SEBAGAI madrasah salaf, Qudsiyyah sebenarnya memiliki potensi dan peran signifikan di dalam penebaran Islam yang kultural, moderat dan progresif. Mengapa? Karena ia merupakan “pewaris sah” dari pola keislaman Menara Kudus.

Bukan hanya karena letaknya yang dekat dengan Menara, karya Sunan Kudus, Qudsiyyah memang memiliki karakter keislaman Sunan Kudus yang fiqhiyyah atau syar’i di satu sisi, dan kultural pada saat bersamaan. Sisi kultural inilah yang kini dieksplorasi oleh perkumpulan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ) dalam rangka perayaan 1 Abad Qudsiyyah. Misalnya dengan memakai dan menampakkan kembali cara pakaian tradisional Muslim Kudus di era Sunan Kudus.

Dengan demikian, ketika kini Muslim moderat Indonesia tengah mengembangkan wacana dan kultur keislaman, Islam Nusantara, Qudsiyyah sebenarnya bisa menjadi gerbong sosial-pendidikan yang menggerakkan ini di Kota Kudus dan Jawa Tengah pada umumnya.

Hal ini terjadi karena sebagai lembaga pendidikan, Qudsiyyah sebenarnya merupakan pesantren berbaju madrasah, apalagi sekarang telah berdiri Ma’had Qudsiyyah tersendiri. Saya sendiri merasakan betapa ketat pendidikan kepesantrenan dalam bentuk pembelajaran ilmu ‘alat, -terutama nahwu, shorof-, sehingga saya harus mengulang masuk kelas 4 MI, padahal saat itu saya sudah lulusan SD. Keketatan ini yang membuat murid dan alumni Qudsiyyah -yang rajin- bisa merasakan apa makna tafaqquh fi al-din.

Kepesantrenan dalam arti pembelajaran dan penguasaan tradisi Islam salaf inilah yang menjadi salah satu karakter utama Islam Nusantara. Sebagaimana dijelaskan oleh KH Abdurrahman Wahid, Islam di Nusantara memuncak pada pembentukan kultur Islam fikih-sufistik, yang merupakan kultur pesantren. Kultur ini merujuk pada ketaatan atas syariah, didasari oleh pembelajaran dan penguasaan ilmu-ilmu fikih yang kompleks, serta penghayatan terhadap tasawuf. Jika diibaratkan tubuh, fikih menjadi tubuh, berisi “kebatinan” sufistik. Tentu sufisme dalam tradisi Islam Sunni yang mengarah pada pembersihan hati (tazkiyah al-nafs) serta pemuliaan akhlak.

Qudsiyyah memiliki ini, karena para murid tidak hanya dididik menguasai ilmu tapi juga mempraktikkan agama secara benar, demi pengabdian masyarakat. Poin terakhir ini juga penting: pengabdian masyarakat. Sebab, murid Qudsiyyah digodog tidak hanya untuk jadi guru agama, modin, atau nanti sarjana, melainkan terlebih menjadi kiai. Peran kekiaian di sini merujuk pada peran pembimbingan masyarakat demi hidup keagamaan yang lebih baik.

Di samping kultur pesantren salaf yang dididikkan di Qudsiyyah, madrasah ini juga dekat dengan kultur kesunanan Kudus yang memusat di dalam aktivitas religius di Menara Kudus. Ini terlihat tidak hanya dalam tradisi ziarah yang dilakukan para murid di makam Sunan Kudus, tetapi juga posisi pengasuh Qudsiyyah yang mengelola Yayasan Menara Kudus. Inilah mengapa momen 1 Abad Qudsiyyah dipusatkan di area Menara Kudus berbasis latar kultural Kudus era Sunan Kudus.

Langkah Strategis
Dengan potensi dan posisi strategis ini, Qudsiyyah bisa menjadi penggerak Islam Nusantara dengan beberapa catatan. Pertama, para murid senior, guru dan alumninya mengembangkan wacana Islam Nusantara dalam rangka pengembangan pemikiran Islam. Hal ini belum terjadi karena warga Qudsiyyah seperti layaknya kebanyakan umat Islam: terlelap di lumbung sendiri. Artinya, peradaban Islam itu begitu kaya, namun tak digali karena lebih nyaman melampahinya sebagai budaya (kebiasaan), daripada objek studi yang diteliti.

Akan tetapi hal ini tak mustahil, sebab para guru dan alumni merupakan aktivis Islam progresif yang bergerak mengembangkan keislaman moderat. Aktivisme ini pula yang menjadi nilai plus Qudsiyyah -yang tak dimiliki sekolah lain- karena sejak awal, para guru dan kiai mendorong kreativitas murid untuk mengembangkan agenda-agenda pergerakan Islam, salah satunya melalui penerbitan majalah sekolah yang kualitas temanya mendekati majalah kampus.

Kedua, Qudsiyyah perlu memelopori program riset besar-besar mengenai akar Islam Nusantara di Kudus, berpijak dari riset tentang sejarah dan kebudayaan Islam Sunan Kudus. Riset ini kemudian bisa diperluas ke area budaya Kudus lain, misalnya pola keislaman yang dibentuk Sunan Muria, kesinambungan pesantren dengan pendidikan Islam para Sunan, dll. Intinya mempraksiskan Islam Nusantara sebagai kerja akademik. Tentu kerja intelektual ini tak bisa dilakukan para murid. Ia harus digerakkan para guru dan ikatan alumni.

Ketiga, mengangkat geliat Islam Nusantara dari Kudus Ke kancah nasional, karena wacana Islam Nusantara itu sendiri merupakan wacana nasional.
Dengan cara ini, segenap potensi dan aktivisme Islam Qudsiyyah akan menemukan perannya dalam pergerakan Islam di Indonesia. Sebab Islam Nusantara itu sendiri memang berakar di lokalitas keislaman seluruh Nusantara. Selamat 1 Abad Qudsiyyah! (*)

Oleh: Syaiful Arif
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah angkatan tahun 2000. Kini dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta. Penulis buku Falsafah Kebudayaan Pancasila, Nilai dan Kontradiksi Sosialnya (Gramedia Pustaka Utama, 2016)

EXPO RAMAIKAN PUNCAK SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Puncak satu abad Qudsiyyah, bakal digelar selama satu pekan pada Senin-Ahad (1-7 Agustus 2016). Selama puncak kegiatan tersebt, berbagai kegiatan dan perlombaan mewarnai dan memeriahkan ulang tahun ke-100 Qudsiyyah.

Kegiatan Santri & UMKM Expo selama seminggu penuh (1-7/8), memberikan wadah bagi para alumni dan masyarakat umum yang bergerak dalam bisnis dan semakin memperluas jaringan pasar. “Diharapkan melalui Expo ini semangat berwirausaha dari santri Qudsiyyah tumbuh subur,” kata ketua panitia, DR. H Ihsan,M,Ag.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan puncak satu abad ini, ada 29 Expo yang disiapkan panitia. “Stand ini terbuka untuk umum dengan harga Rp 3 juta,” lanjutnya.

Adapun secara rinci, proposal Expo SATU ABAD QUDSIYYAH dapat diunduh dalam tautan di bawah.

PROPOSAL EXPO SATU ABAD QUDSIYYAH

KONGRES IKAQ MEMAKAI SISTEM AHLUL HALLI WAL AQDI

QUDSIYYAH, KUDUS – Model demokrasi ala santri tercermin kuat dalam pemilihan ketua umum Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) dalam Kongres IKAQ yang dilaksanakan pada Senin malam (11/7) lalu. Mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (disingkat; Alhaq) dari Masyayikh (sesepuh) Qudsiyyah menjadi kunci utama dan keputusan terpilihnya calon yang diajukan peserta kongres.

Mekanisme Alhaq ini mirip dengan mekanisme Ahwa, Ahlul Halli wal Aqdi dalam Muktamar Nahdlatul Ulama. Kongres yang dilaksanakan di Gedung Yayasan Masjid, dan Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) di Jalan Sunan Kudus dan dihadiri sekitar 1500 alumni ini pada akhirnya menetapkan H. Ihsan sebagai ketua umum IKAQ terplilih periode 2016-2021. Ia merupakan ketua Umum IKAQ periode sebelumnya dan mendapatkan suara terbanyak dalam calon ketua pilihan peserta yang kemudian dalam sidang Alhaq juga menyepakati pilihan peserta kongres.

Pemilihan model Alhaq ini berbeda dengan proses pemilihan ketua pada periode sebelumnya. Jika sebelumnya melalui musyawarah mufakat perwakilan wilayah IKAQ yang langsung dihadiri Sesepuh, maka pada kongres kali ini semua alumni diundang dan memiliki hak suara. Ketua SC panitia kongres, Nor Aflah, menjelaskan mekanisme pemilihan dilakukan secara demokratis dan dan oleh peserta kongres, tetapi keputusan final berada di tangan Alhaq yang terdiri dari masyayikh Qudsiyyah dan perwakilan 16 wilayah. “Peserta memilih calon ketua. Sepuluh besar terbanyak diajukan ke Alhaq untuk dimusyawarahkan dalam sidang Alhaq,” jelas Aflah.

Aflah menambahkan, sebagai santri, peran kyai dan sesepuh Masyayikh Qudsiyyah menjadi hal yang diutamakan. “Kita sami’na wa atho’na, sendiko dawuh pada kyai, tetapi kita juga memberi kesempatan demokrasi pada peserta kongres,” katanya.

Secara teknis, peserta Kongres secara demokratis memilih secara bebas calon ketua IKAQ. Hasilnya sebanyak sepuluh besar kemudian diajukan ke dalam sidang Alhaq. Perwakilan dari 16 wilayah juga dimasukkan dalam tim Alhaq, yakni dari 9 kecamatan di Kudus, dua perwakilan dari Jepara, dua perwakilan dari Demak, satu dari Semarang, satu dari Yogyakarta dan satu perwakilan dari Jabodetabek.

Dalam pemilihan yang berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari tersebut, 10 nama yang unggul dalam pemilihan calon ketua Ikaq adalah H Ihsan (154 suara), Abdul Jalil (69 suara), M Rikza Chamami (42 suara), Saiful Anas (17 suara), H Tubagus Mansur (16 suara), Nor Aflah (14 suara), Chasan Albab (12 suara), H. Idham Kholid (10 suara), Zainal Anwar (10 suara) dan M. Isbah Kholili (9 suara). Pada akhirnya sidang Alhaq yang dipimpin oleh sesepuh Qudsiyyah, KH Ahmad Sudardi beserta 16 perwakilan wilayah memutuskan H. Ihsan sebagai ketua umum IKAQ periode 2016-2021.

Dalam sambutan pembukaannya, ketua yayasan Pendidikan Qudsiyyah (YAPIQ) KH. Em Nadjib Hassan mengatakan, event kongres ini hendaknya dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan kualitas dan penataan internal organisasi IKAQ. “Kita harus menata orientasi tujuan IKAQ ini sekaligus memperbaiki kinerja jalannya IKAQ ini,” kata kyai Nadjib yang juga pengurus LBM PBNU ini. (*)

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam Sarekat Islam: Refleksi Historis Gerakan Sarekat Islam Cabang Kudus (1912-1918)

DEKADE awal abad XX situasi politik di Indonesia mengalami dinamika yang signifikan. Kesadaran nasionalisme dikalangan pribumi semakin tumbuh seiring munculnya berbagai organisasi dan perkumpulan politik. Menariknya banyak dari perkumpulan politik tersebut diinisiasi langsung oleh kelompok pribumi. Sebut saja Budi Utomo dan Sarekat Islam yang menonjol dalam periode awal pergerakan nasional. Sarekat Islam berdiri di Solo pada tahun 1911 dengan nama Sarekat Dagang Islam. Peran SDI, yang kemudian dirubah tahun 1912 menjadi Sarekat Islam (SI) di Solo signifikan, bahkan cenderung radikal. Diantaranya adalah melindungi pengusaha pribumi dari pentrasi pengusaha Tionghoa dalam industri batik. Pada tahun-tahun berikutnya SI membuka cabang dibeberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, dan tidak ketinggalan cabang Kudus.

Riwayat Sarekat Islam Cabang Kudus

Sarekat Islam Kudus berdiri pada tahun 1912 di bawah pimpinan Haji Djoepri yang merupakan pengusaha kretek.[1] Kepengurusan SI Kudus banyak didominasi oleh para haji dan ulama. Salah satu ulama yang berpengaruh waktu itu adalah KHR Asnawi yang menjabat sebagai penasehat SI Kudus. Beliau dilahirkan pada tahun 1861 dengan nama Raden Ahmad Syamsi, nama Asnawi disandangnya selepas pulang haji.[2] Selain aktif dalam Sarekat Islam Cabang Kudus, KHR Asnawi juga tokoh penting Nahdhatul Ulama’ Cabang Kudus.[3] Keterlibatan KHR Asnawi dalam Sarekat Islam dimulai dari keterlibatan beliau dalam jaringan ulama nusantara di Haramain. Pergaulan yang kosmopolit menghantarkan pertemuan KHR Asnawi dengan HOS Tjokroaminoto yang saat itu menjadi tokoh sentral Sarekat Islam. Maka sekembalinya ke tanah air, KHR Asnawi diminta secara khusus untuk mendirikan SI cabang Kudus. Ketokohan KHR Asnawi cukup diperhitungkan dalam peta politik nasional, sehingga beliau sering mendapat kepercaaan untuk menempati posisi strategis dalam beberapa organisasi.[4]

Awal kemunculannya, SI Kudus menonjolkan penguatan agama Islam dalam masyarakat Kudus. Hal ini dibuktikan dengn didirikannya dua madrasah, Muawanatul Muslimin pada tahun 1915, dan satu lagi madrasah yang berlokasi di Menara pada sekitar tahun 1918. Madrasah Muawanatul Muslimin Kenepan (M3K) berdiri tepatnya pada tanggal 7 Juli 1915 sebagai bentuk gerakan pendidikan yang dikampanyekan SI Kudus. Madrasah setingkat ibtidaiyah ini memiliki jenjang pendidikan 8 tahun yang terbagi dalam 8 kelas yang dimulai dari kelas 0.[5] Sementara itu Madrasah kedua yang berlokasi di Menara kemungkinan besar merupakan cikal bakal madrasah Qudsiyyah.[6] Karakteristik SI Kudus mungkin agak berbeda dengan SI kebanyakan waktu itu. Visi kemandirian ekonomi pribumi dan gerakan progresif kaum buruh menjadi trademark SI sehingga mendapat perhatian khusus pemerintah kolonial. Terlebih gerakan revolusioner yang mengancam rust en order sangat ditakuti pemerintah kolonial. Di Semarang misalnya SI menjadi creator gerakan pemogokan buruh kereta api pada tahun 1920.

Karakteristik SI Kudus yang cenderung bersifat keagamaan mungkin disebabkan dua hal. Pertama tidak bisa dipungkiri bahwa dominasi Haji dan ulama menjadi faktor penentu arah gerak maupun visi misi organisasi. Kedua adalah iklim perburuhan di Kudus tidak terlalu progresif sebagaimana Surabaya dan Semarang yang notabenenya memiliki pelabuhan dan menjadi kota industri dan perdagangan masa kolonial. Namun demikian dinamika SI Kudus selanjutnya mengalami pengaruh dan gejolak yang sama dengan SI Semarang. Friksi dalam SI seiring kehadiran kelompok yang terpengaruh paham sosialisme-komunisme yang dibawa oleh Sneevlit. Ketidak cocokan kelompok SI Kudus yang cenderung sosialis berujung pada pemisahan diri dari organisasi. Mereka yang keluar SI mendirikan organisasi sempalan PKBT (Perkumpulan Kaum Buruh dan Tani) yang dipimpin oleh Soerorejo dan Zaid Moehammad.[7] Pada tanggal 29 Oktober 1918 organisasi baru ini mengadakan rapat akbar di alun-alun Kudus. Isu-isu yang dibicarakan cukup progresif, diantaranya penghapusan lumbung desa dan sistem kesehatan berkeadilan.[8]

Huru Hara Kudus 1918

Momentum yang perlu dicatat dari eksistensi SI Kudus adalah peristiwa huru hara Kudus tahun 1918. Kronologi peristiwa ini diawali dengan pawai Toa Pek Kong yang diselenggarakan orang-orang Tionghoa dalam rangka menolak datangnya bala’ berupa penyakit influenza. Saat itu penyakit ini cukup menakutkan karena bisa berujung pada kematian. Sebenarnya perayaan ini mengantongi ijin pemerintah Belanda. Namun pawai terakhir yang diselenggarakan tanggal 30 Oktober 1918 berakhir denga chaos. Dalam arak-arakan Tionghoa terdapat orang Tionghoa yang berpakain layaknya haji yang ditemani sejumlah perempuan. Padahal rombongan arak-arakan ini melewati kawasan Menara Kudus yang pada saat itu berkumpul orang-orang         muslim pribumi yang sedang merenovasi masjid Menara. Tindakan ini dinilai oleh pribumi muslim sebagai aksi provokatif yang menyakiti hati mereka sebagai muslim.[9] Sebanarnya keributan yang berlangsung di kawasan Mesjid Menara ini bisa diakhiri dengan perdamaian di kantor Sarekat Islam Kudus pada tanggal 31 Oktober 1918 dengan sejumlah kesepakatan.[10] Sayangnya disaat yang sama sebagian kelompok juga telah merencanakan penyerangan terhadap orang-orang Tionghoa, bisa dikatakan sebagai aksi lanjutan yang berkonotasi balas dendam.[11] Dalam penyerbuan melibatkan massa antara 2000-3000 pribumi yang berdatangan tidak hanya dari Kudus menyebabkan 50 rumah orang Tionghoa terbakar.[12]

Pasca kerusuhan banyak dari tokoh SI ditangkap dan dipenjarakan. Setidaknya 68 orang diadili dengan hukuman yang bervariasai, termasuk KHR Asnawi yang menerima vonis 3 tahun penjara.[13] Benny G Setiono berpendapat peristiwa kerusuhan rasial Kudus tahun 1918 merupakan bagian dari politik adu domba Belanda dalam merespon gerekan militant SI yang semakin massif, termasuk di Kudus. Persaingan antara pedagang batik dan rokok kretek Arab dengan pengusaha Tionghoa sengaja dihembuskan. Kerusuhan diwarnai dengan aksi pembakaran rumah dan toko orang-orang Tionghoa yang disertai dengan penjarahan dan perampokan tidak lain merupakan ekses dari politik segresi pemerintahan kolonial yang memisahkan orang-orang Tionghoa dan pribumi dalam bidang politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan. Peristiwa Kudus menjadi puncak dari rangkain kerusuhan rasial yang melibatkan kelompok Tionghoa dan Pribumi yang terjadi pada awal abad XX, setelah sebelumnya kerusuhan serupa berlangsung di Solo dan Surabaya pada tahun 1912.[14]           Pasca meletusnya huru-hara Bakar Pecinan, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kemunduran SI Kudus menjadi gejala umum SI pada waktu itu. Perpecahan SI antara kelompok Tjokroaminoto (SI Putih) dan Semaun-Sneevlit (SI Merah) berdampak pada keberlangsungan SI diberbagai daerah. Kekuatan SI Putih terkooptasi oleh SI Merah yang membuat mereka semakin lama menjadi lemah. Sementara itu bagi SI Kudus penangkapan sejumlah tokoh penting pasca huru-hara Kudus 1918 merupakan sebab khusus kemunduran SI Kudus.

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam SI Kudus

Kehadiran SI Kudus sejak pendirian sampai dengan masa kemundurannya merefleksikan beberapa hal. Pertama, kelompok haji memiliki posisi dalam diskursus pergerakan nasional. Kelompok haji yang tergabung dalam SI Kudus merupakan para pedagang sekaligus haji di Kudus Kulon.[15] Kalangan pedagang haji ini merupakan penggerak utama SI Kudus sehingga ketika tokoh-tokoh utamanya tertangkap pemerintah kolonial, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kedua, SI Kudus berperan dalam kemajuan pendidikan dan pengajaran Islam. Hal ini terbukti dari dua madrasah yang berdiri atas inisiatif langsung maupun tidak langsung dari SI Kudus. Sehingga SI Kudus memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda dengan SI pada umumnya. Bidang keagamaan yang dilipih SI Kudus juga terlihat dalam Anggaran Dasar organisasinya.

Ketiga, huru-hara Kudus tahun 1918 yang melibatkan tokoh-tokoh SI Kudus menguatkan identitas keislaman kelompok pedagang haji. Seperti dijelaskan diatas pemicu huru-hara Kudus 1918 didorong oleh ketersinggungan atas tindakan kelompok Tionghoa yang dinilai menyinggung kelompok muslim Kudus Kulon. Keempat, pedagang yang sekaligus santri (baca:haji) ini berpusat di wilayah Kudus Kulon semakin membuktikan bahwa Gusjigang merupakan spirit keberagamaan yang memiliki akar historis. Secara elaboratif hal-hal tersebut diatas menunjukan bahwa Sarekat Islam cabang Kudus saat itu telah mewarisi spiritialitas dan mentalitas Gusjigang yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kudus Kulon. Secara sederhana Gusjigang adalah mereka yang memilki perangai bagus, memiliki pemahaman agama yang baik -secara mencolok mereka adalah haj-, dan pandai berdagang.[16]

Lebih jauh secara substantif penulis melihat Gusjigang sebagai dua hal utama yang relevan dalam melihat masyarakat Indonesia kontemporer. Dua hal tersebut adalah Gusjigang sebagai mentalitas ekonomi maysarakat dan Gusjigang sebagai spirit kegamaan. Secara holistik Gusjigang dapat diinterpretasikan dalam konteks masa kini sebagai enterpreuner yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat dan pribadi yang berintegritas tinggi. Jika melihat wajah perekonomian nasional saat ini, sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi andalan baru dalam menopang perekonomian nasional. Kontribusi UMKM menentukan PDB Nasional (Produk Bruto Nasional) menjadi agenda utama pembangunan ekonomi nasional.[17] Keseriusan pemerintah juga terlihat dari upaya pemerintah mendorong lahirnya enterpreneur-enterpreneur baru. Gusjigang sebagai bagian dari masyarakat Kudus Kulon juga dapat interpretasikan sebagai masyarakat yang memarisi tradisi keislaman Sunan Kudus. Tokoh-tokoh SI masa lampau membuktikan bahwa mereka adalah haji dan ulama yang memiliki pemahaman Islam yang kuat namun juga moderat. Jika melihat wajah Islam Indonesia saat ini yang diwarnai dengan kemunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan intoleran. Dalam beberapa tahun terakhir gejala ini dilihat oleh Martin van Bruinessen sebagai conservative turn. Pasca kejatuhan Soeharto, Martin melihat wajah Islam di Indonesia mengalami pergeseran, dari Islam kultural ke islam politis. Contoh konkrit dari kelompok Islam politis adalah munculnya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang memiliki tujun mendirikan negara Islam di Indonesia. Islam politik juga melakukan infiltrasi pada level politik praktis dimana munculnya perda-perda syariat dibeberapa daerah. Sementara kelompok Islam intoleran termanifestasi lewat sejumlah aksi kekerasan dan konflik berbasis agama mulai dari aksi jihad, pemboman gereja hingga perusakan temoat ibadah.[18] Kondisi ini jelas mengkhawatirkan kondisi keberagamaan sekaligus ancaman NKRI. Maka Gusjigang sebagai spirit kegamaaan yang ramah merupakan agen-agen Islam moderat dan toleran yang bisa diandalkan dalam menangkal islam fundamentalis dan intoleran. Dua hal diatas menunjukan bahwa Gusjigang sebagai sebuah mentalitas ekonomi masyarakat dan spirit keagamaan yang bersumber pada kearifan lokal yang orisinil masih relevan dan memiliki kontribusi dalam menjawab tantangan Indonesia kontemporer.

            [1] Castle, Lance, Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus, Jakarta: Sinar Harapan, 1982. hlm., 103.

            [2] KHR Asnawi masih memiliki garis genealogis dengan Sunan Kudus. Dalam Abdurrahman Masud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Arsitek Pesantren (Yogyakarta: Kencana, 2006), hlm., 210-212.

            [3] KHR Asnawi disebut terlibat dalam tragedi Bakar Pecinan tahun 1918 yang melibatkan komunitas muslim dan komunitas Tionghoa. Dalam laporan KHR Asnawi tertulis posisinya sebagai Penasehat SI Cabang Kudus. Beliau termasuk dari orang SI yang dipenjarakan terkait huru-hara anti Cina Kudus 1918. Lihat dalam Masyhuri, Bakar Pecinan, Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918 (Kudus: Yayasan Cermin, 2006).

            [4] Dalam buku Modern Muslim Movement, Deliar Noer menyebutkan pada 31 Oktober-2 Nopember 1922 bersama KH Abdul Wahab mewakili Tasywirul Afkar, KHR Asnawi menghadiri Konggres Al Islam di Cirebon. Kongres ini sendiri dihadiri beberapa organisai dan gerakan Islam yang penting saat itu, antara lain SI, Muhamadiyah, dan Al Irsyad. KHR Asnawi juga sempat terlobat dalam komite Hijaz (cikal bakal NU) sebelum digantikan tokoh lain. Hal ini menunjukan posisi KHR Asnawi dalam skala politik nasional.

            [5] Dalam tulisan ini, penulis menyebutkan KH. M Arwani sebagai lulusan pertamanya yang kemudian mendirikan Madrasah TBS tahun 1928        di Kudus. Mansur, Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 156

            [6] Argumentasi ini penulis ajukan dengan melihat fakta historis bahwa KHR Asnawi merupakan tokoh penting dalam SI Kudus. Sementara KHR Asnawi adalah pendiri Madrasah Qudsiyyah yang berlokasi di kompleks Menara Kudus.

            [7] Masyhuri, Bakar Pecinan Konflik Pribumi vs Cina di Kudus tahun 1918, (Jakarta: Grafika, 2006), hlm., 40.

            [8] Rapat yang diadakan di gedung Johannes Bioscoop dihadiri 900 orang disaksikan oleh ketuanya M. Soeroredjo, dan Sekteraris N. Soerjowinoto. Djawa Tengah, Verslag pendek openbare Vergadering PKBT di Koedes, 31 Oktober 1918, hlm. 1.

            [9] Ketika sampai di depan Masjid Menara terjadi saling mennghina antara orang-orang pribumi dan orang-orang Tionghoa. Orang-orang muslim merasa terhina dengan arak-arakan yang mempertontonkan haji dan perempuan. Sebaliknya orang-orang Tionghoa tersinggung karena upacara Tao Pek Kong juga sakral bagi mereka. Lihat dalam Tan Boen Kim, Peroesohan di Koedoes: Soeatoe Tjerita Jang Betoel Telah Terdjadi di Djawa Tengah Pada Waktoe Jang Belon Sabarapa Lama, (Batavia: Tjiong Kon Lion, 1920), hlm., 86-88.

            [10] Sarekat Islam mewakili kelompok pribumi karena dianggap sebagai organisasi islam terbesar waktu itu. Selain iitu juga diduga beberapa oknum yang terlibat merupakan anggota SI. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri Patih Martosoedirja mewakili Bupati Kudus, Polisi JW Snabilie, dan Letnan Tionghoa. op.cit. Masyhuri, hlm., 67-68.

            [11]Penyerbuan warga pribumi terhadap perkampungan Tionghoa di Kudus Kulon berlangsung sejak kira-kira pukul 20.00-02.00 dini hari. Ibid, hlm., 70

            [12] Kariboetan di Koedoes , Sin Po 6 Nopember 1918, hlm. 1.

[13] Lewat sejumlah tradisi lisan yang penulis terima selama menjadi santri Madrasah Qudsiyyah, meskipun KHR Asnawi dipenjara oleh pemerintah kolonial beliau masih tetap bisa mengajar santri-santrinya. Salah satu bukti ma’unah –kelebihan- dari KHR Asnawi.

            [14] Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, (Jakarta: Elkasa, 2003), hlm. 375-379

            [15] Tipologi Kudus Wetan dan Kudus Kulon merujuk pada pembagian masyarakat Kudus yang digunakan Lance Castle dalam memisahkan karakteristik masyarakat Kudus yang dipisahkan oleh garis kali gelis. Menurut Lance Castle masyarakat Kudus Kulon memiliki karakteristik religiusitas yang kuat daripada Kudus Wetan. Lihat dalam Castle, Lance. 1982. Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus. Jakarta: Sinar Harapan.

[16] Hasyim Asy’ari, Bersikap Satitahe Bergaya Milite, Suara Merdeka 4 September 200

[17] http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peran-penting-ukm-dorong-perekonomian-indonesia

            [18] Lihat dalam Martin van Bruinessen, dkk, Conservative Turn: Indonesia dalam Ancaman Islam Fundamentalis, 2014, Bandung: Mizan Utama, hlm. 26-52.

PAPER SANTRI QUDSIYYAH TEMBUS 5 BESAR DI FILIPINA

QUDSIYYAH, FILIPINA – Hal yang tidak disangka dialami oleh Mirza Muchammad Iqbala, lulusan Qudsiyyah yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa S1 UII Yogyakarta. Paper yang ia teliti bersama timnya diterima dalam  3rd International Conference on Education, Psychology and Social Science (ICEPSS). ICEPSS sendiri merupakan konferansi tentang psikologi, pendidikan dan pengetahuan sosial yang diselenggarakan oleh the International Research Enthusiast Society Inc. (IRES inc.), sebuah organisasi non-profit yang dibentuk sebagai penyelenggara beberapa riset internasional dalam berbagai disiplin ilmu dan menjembatani pertukaran keilmuan dan ide. ICEPSS 2016 diselenggarakan di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Mirza adalah putra asli Kudus yang berdomisili di Wergu Wetan, putra dari Mbah No. Saat ini ia merupakan mahasiswa semster 4, FBSB, UII Yogyakarta. Ia tak megira bahwa sering presentasi ketika masih studi di Qudsiyyah. Pribadi aktif yang juga menggeluti jurnalistik ketika tingkat tsanawiyyah dan aliyah ini juga sering presentasi dalam lomba-lomba karya tulis ilmiah.

Berkat kerja keras, Mirza yang merupakan ketua tim patut berbangga pasalnya paper yang mereka alihbahasakan ke bahasa Inggris diterima, mengingat paper yang diterima hanya 130 dari 230 paper yang masuk. Mirza pun berhak mengikuti konferensi di Filipina pada tanggal 19-21 Mei 2016 setelah diumumkan termasuk 47 yang lolos presentasi dan akan diterbitkan dalam jurnal. Bersama timnya, Dinu Hafidh Muvarizb, Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggustic, Syafira Putri Ekayanid, Nyda Afsarie, ia berangkat menuju Filipina dan terus menyempurnakan paper selama di perjalanan.

Minder & Bangkit di antara Tokoh Pendidikan Dunia

Agenda hari pertama di Filipina adalah hari yang tak terlupakan, bukan hanya karena bertemu dengan pakar pendidikan, melainkan didaulat sebagai best five papers (5 paper terbaik) dalam ajang tersebut. “Saya pun berdiri dan kaget, paper kami disebut”, ungkapnya. “just go there, children”, sahut doktor disebelah mereka dan Mirza beserta tim turun untuk menerima penghargaan tersebut dengan sorakan riuh dari peserta yang mayoritas Dosen, Mahasiswa S2 dan Doktor. “Tangis banggapun tak terbendung,” lanjutnya “hanya kami presenter dari Indonesia dan mungkin yang termuda karena masih semester 4 program S1,” jelasnya.

MIRZA

Sedikit rasa gugup pada saat presentasi di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Paper berjudul The Effect of PTC (Parent Teacher Communication) on Student Engagement of Elementary School Students: The Role of Communication Technology merupakan penelitian yang telah dijalankan selama setengah tahun bersama timnya. Di Filipina, Mirza pun harus presentasi dengan Bahasa Inggris didepan para akademisi. Meski mengaku minder namun ia mendapatkan semangat kembali setelah beberapa peserta berpangkat Profesor memberikan apresiasi. “Profesor Choi (Filipina) berkenalan dengan kami dan bertukar kartu nama, Prof. James (Korea Selatan) menawarkan beasiswa S2 untuk kelanjutan studi kami,” ungkapnya, “Saya didampingi Akmal presentasi lepas tanpa catatan dan terbawa suasana saja.” Mirza pun sukses membawakan paper hingga tanya jawab dan justru dibawakan dengan gaya lucu dan santai.

Kesan di Filipina

Filipina adalah negeri yang minoritas islam. Berbeda dengan Indonesia, dimana masjid dan makanan halal adalah hal yang wajar, tidak mudah mendapatkan semua itu di Filipina. Sebelum mengikuti acara Mirza dan tim mengunjungi kedai yang halal, meskipun mahal mereka memaklumi karena makanan pokok disana adalah nasi dan daging babi. Namun dalam acara tersebut, panitia menyediakan 2 pilihan makanan berbahan dasar babi atau bahan ayam. “Padahal peserta yang Islam hanya kami, namun panitia sangat menghargai kami,” jelasnya, “tidak hanya makanan, tempat sholat juga disediakan 5 waktu”.

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Hari ketiga adalah waktu luang bagi Mirza beserta tim, tidak disia-siakan menyusuri jalanan Kota Malolos yang ramai. Keramaian khas hari Minggu tak berbeda dengan di Indonesia. Gereja dan gereja berjajar meneguhkan hati Mirza, ‘Terkadang aku bersyukur di Indonesia, makanan halal dan masjid masih banyak.

Sebagai negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua nasional, penggunaan Bahasa Inggris sangatlah wajar untuk masyarakat Filipina. Berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia, kesan Mirza dalam perjalanan wisatanya. “Pesanku buat anak Qudsiyyah, jangan remehkan Bahasa Inggris”, pungkasnya, “terbukti, dengan bahasa inggris lah kami berada disini”.

Setelah ini, Mirza fokus ke penelitian selanjutnya yang telah diterima di Malaysia dan Singapura. “Malaysia presentasi Juli, dan Singapura pada Agustus 2016,” jelasnya.

Reporter: Ahmad Arinal Haq

 

Kampus UIN Walisongo Jadi Tempat Berlabuh Dakwah Qudsiyyah di Semarang

QUDSIYYAH, SEMARANG – Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, bakal menjadi tempat diselenggarakannya “Roadshow; Meneladani Dakwah KHR Asnawi” Satu Abad Qudsiyyah di kota Semarang. Kegiatan yang berbentuk pengajian umum dan terbuka untuk semua kalangan tersebut bakal digelar di  auditorium I Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, pada Selasa malam Rabu (24/5/2016).

Kegiatan yang dikomandoi oleh panitia Satu Abad Qudsiyyah kerja bareng Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS), Ponpes Life Skill Daarun Najaah Semarang, JQH Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, dan Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang (KMKS) ini bakal menghadirkan beberapa pembicara. KH Nur Halim Ma’ruf (Kudus), Prof H Abdurrahman Mas’ud MA PhD (Jakarta), KH Abu Hapsin MA PhD (Semarang), KH Nadjib Hassan (Kudus) dan KH Ahmad Asnawi (Kudus) dijadwalkan bakal mengisi pengajian “Meneladani Dakwah KHR Asnawi” tersebut.
Kegiatan dalam rangka Peringatan Satu Abad Qudsiyyah tersebut juga bakal dimeriahkan oleh Rebana Al Mubarok Qudsiyyah Kudus. Rebana ini telah Sukses Menembus Dapur Rekaman hingga sepuluh album, dan bakalan meluncurkan album baru pada puncak peringatan Satu Abad Agustus mendatang. Kemeriahan Rebana Al Mubarok nanti dijadwalkan bakal mengundang Vokalis utama Gus Apang, Gus Ilham, Shofa, Ghofur. Juga, pengajian nanti bakal dibuka dengan Maulid & Do’a oleh Habib Rizqi Baharun.

Selain di Semarang, agenda dakwah ini juga bakal digelar di Karanganyar Demak pada Malam Kamis, 12 Mei 2016, di Masjid Baiturrahim, Karanganyar dan juga di Lengkong Mulyorejo Demak pada malam Jumu’ah, 26 Mei 2016 mendatang. (*)

Konfirmasi kehadiran ketik SMS/WA:
HADIR <spasi> NAMA <spasi> KAMPUS/ALAMAT ASAL
Kirim ke nomor 085641551875

Klumpit, Kompakkan Alumni Sukseskan Pengajian

Peringatan Isro’ Mi’roj di Masjid Baitul Adhim akan semakin ramai bersamaan digelarnya Pengajian Umum dalam Rangka 1 abad Qudsiyyah‬. Bersama Ikatan Pemuda Masjid Baitul Adhim (IKAMABA) yang telah berusia 30 tahun, Panitia 1 abad Qudsiyyah‬ menggelar pengajian keliling tersebut pada Rabu malam (27/4). Kegiatan ini bertemakan “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi” dan merefleksikan perjuangan mbah Asnawi yang memulai dakwah di desa-desa di wilayah Kudus.

Pengajian ini adalah yang keempat kalinya setelah di Kaliwungu, Jekulo, dan Bae. Seperti yang telah dikonfirmasi oleh panitia, pengajian juga dihadiri oleh al-Habib Hasan al-Jufry untuk memimpin pembacaan maulidurrasul. Selain itu, H. Ashfal Maula dkk bersama para penerbang dari Jam’iyyah ad-Dufuf se-Kecamatan Gebog akan hadir mengisi maulidurrasul.

Bahruddin, salah satu panitia, mengklaim telah mengkordinir gerakan massif sampai ke tingkat desa-desa di Kec. Gebog untuk memeriahkan pengajian ini. “Alumni-alumni di Kec. Gebog sudah merapatkan barisan, ” imbuhnya.

Seperti pada roadshow pengajian sebelumnya, dakwah akan disampaikan dalam acara malam itu. Adapun dakwah akan disampaikan oleh:

  1. KH. Sutrisno, S.H.I
  2. KH. Fathur Rahman
  3. KH. M. Sugiarto

Roadshow pengajian terus berlanjut sampai akhir Mei 2016, adapun pengajian selanjutnya digelar di wilayah Jati, tepatnya di Musholla Nurul Imam, Desa Jepang Pakis, Kec. Jati Kudus pada Malam Ahad Legi, 23 Rajab 1437/ 30 April 2016.

Alumni Semarang Galakan Ziarah Mbah Sholeh Darat

Banyak cara dalam memperingati Haul ke 58 KHR. Asnawi dan 1 Abad Qudsiyyah. Seperti yang digagas oleh teman-teman dari MAQDIS (Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang) yang akan melaksanakan ziarah ke salah satu guru dari Mbah Asnawi, yakni Mbah Sholeh Darat yang dipusarakan di Semarang.  Renacanya, kegiatan yang akan dipusatkan di Pemakaman Bergota, dilaksanakan pada Ahad (10/4) pukul 19.00 WIB. Menurut M. Rikza, Dosen UIN Walisongo yang juga anggota MAQDIS menyatakan bahwa kegiatan ziarah ini untuk memperingati Qudsiyyah yang  telah berusia 1 abad.

Rikza yang juga wakil ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat) Menuturkan bahwa muassis Qudsiyyah, KHR. Asnawi pernah mengaji kepada mbah Sholeh Darat. KH. Sholeh bin Umar bin Tasmin Assamarany atau yang lebih dikenal dengan Mbah Sholeh Darat.  Beliau lahir di Desa Kedung Jumpleng Mayong, Kabupaten Jepara sekitar tahun 1820 M/ 1235 H.

Mbah Sholeh tidak asing dengan Kudus, karena beliau pernah nyantri di Kota Kudus. Berguru kepada Mbah Sholeh Kudus bin Mbah Asnawi Sepuh dari Kudus, beliau mengaji Tafsir Jalalain. Adapun sanad Tafsir Jalalain dari mbah Sholeh Darat teridentifikasi dari Mbah Sholeh Kudus, dari sang ayah Mbah Asnawi Sepuh dan KH. Nur Sepaton Semarang. Keterangan ini dikutip dari kitab karya Mbah Sholeh Darat Al Mursyid Al Wajiz fi Ilmil Quran Al ‘Aziz. Selain nyantri ke Mbah Sholeh Kudus, beliau juga berguru Nahwu, Shorof dan Fathul Wahhab dari Mbah Ishaq Damaran.

Masjid Mbah Sholeh Darat di Semarang

Masjid Mbah Sholeh Darat di Semarang

Kegiatan ini akan diikuti anggota MAQDIS dan dipimpin oleh Abdul Ghofur (Guru SD Nasima Semarang). Anggota MAQDIS merupakan alumni dari Qudsiyyah baik yang muqim ataupun dalam masa studi di Semarang. MAQDIS merupakan perkumpulan alumni yang dahulu dibentuk oleh Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D yang kala itu melanjutkan pendidikan tinggi di Semarang.

Saat ini Qudsiyyah telah melaksanakan pelacakan dan identifikasi guru-guru dari KHR. Asnawi baik sanad maupun kitab, baik dalam ataupun luar negeri karena KHR. Asnawi lama menetap di Makkah. Diharapkan bahwa ajaran ahlus sunnah wal jamaah yang bersumber dari Mbah Asnawi terbukti valid  dan ittishol sanadnya. Bukan bermaksud meragukan, kajian ini akan bermanfaat secara historis dan akademis.