JURNALIS ALUMNI QUDSIYYAH RAIH DIVERSITY AWARD 2016

QUDSIYYAH, JAKARTA – Salah satu kado indah diberikan alumni Qudsiyyah pada momentum ulang tahun ke 100 Madrasah Qudsiyyah Kudus. Furqon Ulya Himawan, alumni Qudsiyyah yang berkarir di dunia jurnalistik, meraih penghargaan Diversity Award 2016, akhir Agustus ini.

Karya jurnalistik yang dibuat oleh alumni Qudsiyyah tahun 2003 ini, terpilih menjadi berita media cetak terbaik versi Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (disingkat; Sejuk). Diversity Award 2016 adalah penghargaan karya jurnalistik tentang toleransi beragama. Program ini merupakan inisiatif Sejuk untuk memberikan apresiasi atas kerja-kerja jurnalistik yang mengimani bahwa keberagaman mesti dihargai dan dirayakan.

Karya Furqon Ulya Himawan yang bernaung di jurnalis Media Indonesia ini berjudul “Toleransi Memudar di Kota Pelajar”. Dalam berita itu, Yaya, sapaan akrabnya, mencoba memotret kejadian intoleransi yang ada di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Ia bercerita, ide bermula ketika dirinya melihat banyak tindakan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Padahal, kota pelajar itu terkenal sebagai ‘City of Tolerant’ sejak 2010-an.

“Kemudian dicoreng sendiri oleh orang-orang yang mengaku sebagai warga Jogja. Orang-orang yang mengaku beragama, tapi melakukan tindakan intoleran,” ungkap Yaya, sebagaimana dikutip dalam Metrotvnews.com usai menerima penghargaan di Goethe-Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Pada 2015 misalnya, banyak tindakan intoleransi terjadi di Yogyakarta. Mulai dari pembubaran acara diskusi, acara nonton film, dan acara-acara seni lainnya yang dinilai bertentangan dengan pemahaman keagamaan sejumlah warga. Pernah juga terjadi pembubaran terhadap pondok waria, bahkan sempat ada pula rencana penggusuran.

“Itu kan sebenarnya merupakan tindakan intoleran. Mereka membenarkan melakukan tindakan tersebut berdasarkan doktrin agama yang mereka miliki. Intinya, selain kelompok dia, salah semua,” terang Yaya.

Kebetulan, jelas Yaya, The Wahid Institute dan Setara Institute menobatkan Yogyakarta sebagai kota intoleran. Kota yang khas dengan makanan gudeg itu ada di deretan lima kota terbesar di Indonesia yang melakukan tindakan intoleran.

“Ini jadi dipertanyakan, karena Jogja sebagai City of Tolerant, tapi melakukan tindakan intoleran. Ini kan menarik jadi pertanyaan,” kata dia.

Alumni Qudsiyyah yang masih Jomblo ini berhasil menyisihkan dua jurnalis lainnya dalam daftar nominasi peraih Diversity Award 2016 kategori media cetak. Mereka adalah Kodrat Setiawan dari Koran Tempo, dan jurnalis Media Indonesia lainnya, Ardhy Winata Sitepu. Berita hasil karya Kodrat berjudul Pembongkaran Gereja Diwarnai Isak Tangis Jemaat, sementara berita hasil karya Ardhy yang masuk daftar nominasi berjudul Polemik Pendidikan Agama di Aceh Singkil.

Selain kategori media cetak, penghargaan Diversity Award 2016 juga diberikan untuk kategori radio. Jurnalis radio yang masuk nominasi antara lain Rio Tuasikal dari Radio KBR68H dan Margi Ernawati dari Radio Elshinta Semarang. Pemenang Diversity Award 2016 kategori Radio dimenangkan oleh Margi Enawati.

Sejuk juga memberikan penghargaan Diversity Award 2016 untuk kategori media foto. Ada tiga fotografer yang masuk daftar nominasi, yakni dua fotografer AFP Aman Rohman dan Hotli Simanjuntak (AFP), juga fotografer Antara Jessica H Wyusang. Penghargaan untuk kategori media foto diraih Jessica H Wuysang.

Sedangkan, dalam kategori media online, ada dua jurnalis yang masuk nominasi, yakni Abraham Utama dari CNN Indonesia dengan judul berita Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia. Satu lagi Heyder Affan dari BBC Indonesia dengan judul berita Aliran Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia. Penghargaan dimenangkan oleh Heyder Affan. (*)

Mempopulerkan Shalawat Kebangsaan Karya KHR Asnawi

DALAM rangkaian satu abad Qudsiyyah digelar acara “Mendaulat Shalawat Asnawiyyah sebagai Shalawat Kebangsaan” oleh Cak Nun bersama Kyai Kandjeng (3/8/2016). Pada hakikatnya acara itu adalah penegasan kembali tentang keberadaan shalawat Asnawiyyah yang sangat memiliki nilai cinta bangsa dan do’a abadi kedamaian Indonesia. Sebelum Cak Nun, Habib Syekh sudah membawa shalawat Aswiyyah dikumandangkan setiap majelis shalawat, baik di dalam negeri atau luar negeri.

Dan jauh sebelum itu, para kyai dan santri KHR Asnawi juga sudah mengenalkan dan mempopulerkan shalawat karya Mbah Asnawi ini. Buktinya nyata, bahwa di pesantren berbasis NU sangat mengenal bait-bait shalawat Asnawiyyah tersebut. Lagu dan nada pelantunannya memang berbeda-beda sesuai dengan selera dimana shalawat itu dikumandangkang.

Bagi generasi masa sekarang, memang sangat perlu penegasan kembali eksistensi shalawat ini. Tepat jika momentum satu abad menjadi pijakan untuk mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Dan pasca mendaulat, masih banyak PR yang harus dilakukan. Sebab jika hanya didaulat saja, maka akan sepi dari makna aslinya. Sebab shalawat itu adalah kalimat yang perlu dilafadzkan, bukan hanya didaulat.

Maka yang paling penting hari ini adalah mencetak generasi shalawat, kader yang cinta shalawat dengan membaca shalawat Asnawiyyah. Akan lebih mulia jika pembacaan shalawat Asnawiyyah dijam’iyyahkan dan dirutinkan. Maka jam’iyyah seperti Rebana Al Mubarok Qudsiyyah menjadi salah satu garda depan penjaga eksistensi shalawat Asnawiyyah. Sudah 11 album yang dikeluarkan oleh Al Mubarok selalu mengumandangkan shalawat Asnawiyyah.

Bagaimana isi dari shalawat Asnawiyyah sehingga layak disebut shalawat kebangsaan? Pertanyaan ini selalu saya terima dari banyak kawan yang masih belum paham secara detail isi dari shalawat itu. Maka ada tanggung jawab akademik yang harus dijelaskan. Penulis dengan segala kekurangan berikhtiyar membaca hermeneutika shalawat Asnawiyyah.

Sang pencipta shalawat Asnawiyyah bernama KHR Asnawi yang hidup di abad 19. Sosok Kyai Asnawi dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan penjaga garis Islam ahlussunnah wal jama’ah. Kiprahnya tidak hanya di lingkup lokal Kota Kudus, tetapi kiprah di level nasional dan internasional. Dalam bidang karya tulis, Mbah Asnawi juga melahirkan banyak karya: Fashalatan, Mu’taqad Seket, Fiqhun Nisa’ dan Syi’ir-Syi’ran Nasehat. Yang paling khas dikenal dari karya Mbah Asnawi adalah shalawat Asnawiyyah.

Dalam hal karya tulis, Mbah Asnawi memiliki karakter seperti gurunya KH Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat). Dua tokoh ini meninggalkan karya-karya yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf pegon al-Marikiyyah. Dalam hal ketegasan menolak penjajah, pengaruh Mbah Sholeh Darat dalam pribadi Mbah Asnawi sangat kuat. Terbukti Mbah Asnawi sangat menolak dasi, celana dan pakaian yang menyerupai Belanda.

Sikap itu juga dimiliki oleh Mbah Sholeh Darat yang ditulis dalam Kitab Majmu’atus Syari’ah halaman 25: “Sopo wonge nganggo penganggone liyani ahli Islam kaya klambi jas, topi utowo dasi, moko dadi murtad rusak Islame senadyan atine ora demen” (barang siapa yang memakai pakaian yang bukan milik Islam seperti jas, topi dan dasi, maka ia menjadi murtad dan Islamnya rusak. Walaupun hatinya tidak suka).

Dari profil singkat itu dapat diketahui, bahwa rasa kebangsaan yang dimiliki oleh Mbah Asnawi memang didasarkan ajaran-ajaran gurunya, termasuk meniru Rasulullah dalam memperjuangkan agama Islam. KHR Asnawi paham betul bahwa Indonesia saat itu sangat membutuhkan kekuatan Islam dengan model damai. Shalawat Asnawiyyah yang diciptakan itu menandakan bahwa pribadi Mbah Asnawi adalah pribadi ulama yang sangat kuat cinta bangsanya.

Isi dari shalawat ini adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْ *  لِ مُـحَمَّدٍ سِرِّ العُلَا

وَالأَنْبِيَا وَالـمُرْسَلِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ           * نَ الغُرِّ خَتْمًا أَوَّلَا

يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَـــــــــــــــــــــــــــــــــا            * بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا

وَافْتَحْ لَــنَــــــــــــــــــا بِدَرْسِ أَوْ            * قِرَاءَةٍ تُرَتـَّـــــــــــــــــــــــلَا

وَارْزُقْ بِفَهْمِ الأَنْبِيَـــــــــــــــا   * لَنَا وَأَيَّ مَنْ تَلَا

ثَبِّتْ بِهِ إِيْـــمَانَـــنـَـــــــــــــــــــــــا  * دُنْيَا وَأُخْرَى كَامِلَا

أمان أمان أمان أمان   * بِانْدُنْسِيَا رَايَا أَمَانْ

أمين أمين أمين أمين   * يَا رَبِّ رَبَّ العَالـَمِيْن

أمين أمين أمين أمين   * وَيَا مُـجِيْبَ السَّائِلِيْن

Shalawat Asnawiyyah diterjemahkan oleh Ustadz Nur Amin (guru Qudsiyyah) sebagai berikut:

Wahai tuhanku berilah * sholawat kepada rasul

Baginda Nabi Muhammad * yang punya rahasia unggul

Dan para nabi dan rasul * awal akhir mulya betul

Wahai tuhanku berilah * sinar pada hati kami

Dengan cahaya al-Qur’an * yang agung serta nan suci

Dan bukalah kami sebab * baca Qur’an yang teliti

Dan berilah rizqi dengan * kefahaman para nabi

Untuk kami orang-orang * yang membaca dan mengaji

Iman tetap sebab Nabi * dunia akhirat terpuji

Aman  aman  aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * Indonesia raya aman

Amin amin amin amin * Amin amin amin amin

Amin amin amin amin * ya perumat alam semesta

Amin amin amin amins * ya pengkabul para peminta

Dari sebelas bait shalawat Asnawiyyah ini meman terkandung makna yang sangat luar biasa. Ruh yang paling inti adalah pujian kepada Rasulullah Saw. Sebab esensi dari shalawat adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw yang memiliki rahasia kehidupan. Do’a untuk penyinar hati juga disanjungkan dengan tuntunan al-Qur’an. Rasa cinta kepada al-Qur’an juga diaktualisasikan dengan mahirnya dalam membaca dan mengaji secara tartil. Dan itulah rizki yang sangat dinanti. Penguatan keimanan dan keselamatan dunia sangat dinanti. Do’a yang dipanjatkan setelah itu adalah keamanan bagi bangsa Indonesia. Kalimat qabul disandarkan pada Allah Swt.

Itulah hebatnya shalawat Asnawiyyah yang jika dibedah memiliki lima dimensi yang tidak bisa dipisahkan: Pertama, dimensi ketuhanan. Bahwa semua orang yang hidup selalu bergantung pada kekuasaan Allah. Kedua, dimensi kenabian. Bahwa Rasulullah Saw adalah figur idola yang sangat dinantikan syafa’atnya. Ketiga, dimensi Qur’ani. Untuk memahami Islam yang perlu dipegang adalah al-Qur’an dengan membaca isinya (paham bahasa Arab dan tafsir) dan ahli tarlil (paham tajwid dan ilmu al-Qur’an). Keempat, dimensi teologi. Penegasan keimanan dalam agama Islam itu menjadi sangat penting sebagai bekal selamat di akhirat. Dan kelima, dimensi kebangsaan. Mbah Asnawi memberi pesan bahwa empat dimensi yang terkandung dalam isi shalawat itu tidak akan mudah diwujudkan jika negara dalam kondisi tidak aman. Maka do’a untuk Indonesia aman, damai, gemah ripah loh jinawe itu yang dimaksudkan dari isi shalawat ini.

Jadi sangat mulia sekali isi shalawat ini. Dan perlu ditegaskan bahwa karya Mbah Asnawi yang berisi tentang nilai kebangsaan tidak hanya berupa shalawat Asnawiyyah ini. Hampir semua sya’ir-sya’ir yang dikaryakan selalu menyinggung tentang pentingnya cinta agama dan cinta bangsa Indonesia. Maka tepat jika, KH Musthofa Bisri menyebut bahwa KHR Asnawi adalah orang ‘alim yang sangat Indonesia, bukan kearab-araban walaupun lama di Arab. Maka sudah saatnya kita mempopulerkan shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Wallahu a’lam. (*)

M. Rikza Chamami

Alumni Qudsiyyah 2000, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

QUDSIYYAH DAN ISLAM NUSANTARA

SEBAGAI madrasah salaf, Qudsiyyah sebenarnya memiliki potensi dan peran signifikan di dalam penebaran Islam yang kultural, moderat dan progresif. Mengapa? Karena ia merupakan “pewaris sah” dari pola keislaman Menara Kudus.

Bukan hanya karena letaknya yang dekat dengan Menara, karya Sunan Kudus, Qudsiyyah memang memiliki karakter keislaman Sunan Kudus yang fiqhiyyah atau syar’i di satu sisi, dan kultural pada saat bersamaan. Sisi kultural inilah yang kini dieksplorasi oleh perkumpulan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ) dalam rangka perayaan 1 Abad Qudsiyyah. Misalnya dengan memakai dan menampakkan kembali cara pakaian tradisional Muslim Kudus di era Sunan Kudus.

Dengan demikian, ketika kini Muslim moderat Indonesia tengah mengembangkan wacana dan kultur keislaman, Islam Nusantara, Qudsiyyah sebenarnya bisa menjadi gerbong sosial-pendidikan yang menggerakkan ini di Kota Kudus dan Jawa Tengah pada umumnya.

Hal ini terjadi karena sebagai lembaga pendidikan, Qudsiyyah sebenarnya merupakan pesantren berbaju madrasah, apalagi sekarang telah berdiri Ma’had Qudsiyyah tersendiri. Saya sendiri merasakan betapa ketat pendidikan kepesantrenan dalam bentuk pembelajaran ilmu ‘alat, -terutama nahwu, shorof-, sehingga saya harus mengulang masuk kelas 4 MI, padahal saat itu saya sudah lulusan SD. Keketatan ini yang membuat murid dan alumni Qudsiyyah -yang rajin- bisa merasakan apa makna tafaqquh fi al-din.

Kepesantrenan dalam arti pembelajaran dan penguasaan tradisi Islam salaf inilah yang menjadi salah satu karakter utama Islam Nusantara. Sebagaimana dijelaskan oleh KH Abdurrahman Wahid, Islam di Nusantara memuncak pada pembentukan kultur Islam fikih-sufistik, yang merupakan kultur pesantren. Kultur ini merujuk pada ketaatan atas syariah, didasari oleh pembelajaran dan penguasaan ilmu-ilmu fikih yang kompleks, serta penghayatan terhadap tasawuf. Jika diibaratkan tubuh, fikih menjadi tubuh, berisi “kebatinan” sufistik. Tentu sufisme dalam tradisi Islam Sunni yang mengarah pada pembersihan hati (tazkiyah al-nafs) serta pemuliaan akhlak.

Qudsiyyah memiliki ini, karena para murid tidak hanya dididik menguasai ilmu tapi juga mempraktikkan agama secara benar, demi pengabdian masyarakat. Poin terakhir ini juga penting: pengabdian masyarakat. Sebab, murid Qudsiyyah digodog tidak hanya untuk jadi guru agama, modin, atau nanti sarjana, melainkan terlebih menjadi kiai. Peran kekiaian di sini merujuk pada peran pembimbingan masyarakat demi hidup keagamaan yang lebih baik.

Di samping kultur pesantren salaf yang dididikkan di Qudsiyyah, madrasah ini juga dekat dengan kultur kesunanan Kudus yang memusat di dalam aktivitas religius di Menara Kudus. Ini terlihat tidak hanya dalam tradisi ziarah yang dilakukan para murid di makam Sunan Kudus, tetapi juga posisi pengasuh Qudsiyyah yang mengelola Yayasan Menara Kudus. Inilah mengapa momen 1 Abad Qudsiyyah dipusatkan di area Menara Kudus berbasis latar kultural Kudus era Sunan Kudus.

Langkah Strategis
Dengan potensi dan posisi strategis ini, Qudsiyyah bisa menjadi penggerak Islam Nusantara dengan beberapa catatan. Pertama, para murid senior, guru dan alumninya mengembangkan wacana Islam Nusantara dalam rangka pengembangan pemikiran Islam. Hal ini belum terjadi karena warga Qudsiyyah seperti layaknya kebanyakan umat Islam: terlelap di lumbung sendiri. Artinya, peradaban Islam itu begitu kaya, namun tak digali karena lebih nyaman melampahinya sebagai budaya (kebiasaan), daripada objek studi yang diteliti.

Akan tetapi hal ini tak mustahil, sebab para guru dan alumni merupakan aktivis Islam progresif yang bergerak mengembangkan keislaman moderat. Aktivisme ini pula yang menjadi nilai plus Qudsiyyah -yang tak dimiliki sekolah lain- karena sejak awal, para guru dan kiai mendorong kreativitas murid untuk mengembangkan agenda-agenda pergerakan Islam, salah satunya melalui penerbitan majalah sekolah yang kualitas temanya mendekati majalah kampus.

Kedua, Qudsiyyah perlu memelopori program riset besar-besar mengenai akar Islam Nusantara di Kudus, berpijak dari riset tentang sejarah dan kebudayaan Islam Sunan Kudus. Riset ini kemudian bisa diperluas ke area budaya Kudus lain, misalnya pola keislaman yang dibentuk Sunan Muria, kesinambungan pesantren dengan pendidikan Islam para Sunan, dll. Intinya mempraksiskan Islam Nusantara sebagai kerja akademik. Tentu kerja intelektual ini tak bisa dilakukan para murid. Ia harus digerakkan para guru dan ikatan alumni.

Ketiga, mengangkat geliat Islam Nusantara dari Kudus Ke kancah nasional, karena wacana Islam Nusantara itu sendiri merupakan wacana nasional.
Dengan cara ini, segenap potensi dan aktivisme Islam Qudsiyyah akan menemukan perannya dalam pergerakan Islam di Indonesia. Sebab Islam Nusantara itu sendiri memang berakar di lokalitas keislaman seluruh Nusantara. Selamat 1 Abad Qudsiyyah! (*)

Oleh: Syaiful Arif
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah angkatan tahun 2000. Kini dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta. Penulis buku Falsafah Kebudayaan Pancasila, Nilai dan Kontradiksi Sosialnya (Gramedia Pustaka Utama, 2016)

EXPO RAMAIKAN PUNCAK SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Puncak satu abad Qudsiyyah, bakal digelar selama satu pekan pada Senin-Ahad (1-7 Agustus 2016). Selama puncak kegiatan tersebt, berbagai kegiatan dan perlombaan mewarnai dan memeriahkan ulang tahun ke-100 Qudsiyyah.

Kegiatan Santri & UMKM Expo selama seminggu penuh (1-7/8), memberikan wadah bagi para alumni dan masyarakat umum yang bergerak dalam bisnis dan semakin memperluas jaringan pasar. “Diharapkan melalui Expo ini semangat berwirausaha dari santri Qudsiyyah tumbuh subur,” kata ketua panitia, DR. H Ihsan,M,Ag.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan puncak satu abad ini, ada 29 Expo yang disiapkan panitia. “Stand ini terbuka untuk umum dengan harga Rp 3 juta,” lanjutnya.

Adapun secara rinci, proposal Expo SATU ABAD QUDSIYYAH dapat diunduh dalam tautan di bawah.

PROPOSAL EXPO SATU ABAD QUDSIYYAH

KONGRES IKAQ MEMAKAI SISTEM AHLUL HALLI WAL AQDI

QUDSIYYAH, KUDUS – Model demokrasi ala santri tercermin kuat dalam pemilihan ketua umum Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) dalam Kongres IKAQ yang dilaksanakan pada Senin malam (11/7) lalu. Mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (disingkat; Alhaq) dari Masyayikh (sesepuh) Qudsiyyah menjadi kunci utama dan keputusan terpilihnya calon yang diajukan peserta kongres.

Mekanisme Alhaq ini mirip dengan mekanisme Ahwa, Ahlul Halli wal Aqdi dalam Muktamar Nahdlatul Ulama. Kongres yang dilaksanakan di Gedung Yayasan Masjid, dan Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) di Jalan Sunan Kudus dan dihadiri sekitar 1500 alumni ini pada akhirnya menetapkan H. Ihsan sebagai ketua umum IKAQ terplilih periode 2016-2021. Ia merupakan ketua Umum IKAQ periode sebelumnya dan mendapatkan suara terbanyak dalam calon ketua pilihan peserta yang kemudian dalam sidang Alhaq juga menyepakati pilihan peserta kongres.

Pemilihan model Alhaq ini berbeda dengan proses pemilihan ketua pada periode sebelumnya. Jika sebelumnya melalui musyawarah mufakat perwakilan wilayah IKAQ yang langsung dihadiri Sesepuh, maka pada kongres kali ini semua alumni diundang dan memiliki hak suara. Ketua SC panitia kongres, Nor Aflah, menjelaskan mekanisme pemilihan dilakukan secara demokratis dan dan oleh peserta kongres, tetapi keputusan final berada di tangan Alhaq yang terdiri dari masyayikh Qudsiyyah dan perwakilan 16 wilayah. “Peserta memilih calon ketua. Sepuluh besar terbanyak diajukan ke Alhaq untuk dimusyawarahkan dalam sidang Alhaq,” jelas Aflah.

Aflah menambahkan, sebagai santri, peran kyai dan sesepuh Masyayikh Qudsiyyah menjadi hal yang diutamakan. “Kita sami’na wa atho’na, sendiko dawuh pada kyai, tetapi kita juga memberi kesempatan demokrasi pada peserta kongres,” katanya.

Secara teknis, peserta Kongres secara demokratis memilih secara bebas calon ketua IKAQ. Hasilnya sebanyak sepuluh besar kemudian diajukan ke dalam sidang Alhaq. Perwakilan dari 16 wilayah juga dimasukkan dalam tim Alhaq, yakni dari 9 kecamatan di Kudus, dua perwakilan dari Jepara, dua perwakilan dari Demak, satu dari Semarang, satu dari Yogyakarta dan satu perwakilan dari Jabodetabek.

Dalam pemilihan yang berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari tersebut, 10 nama yang unggul dalam pemilihan calon ketua Ikaq adalah H Ihsan (154 suara), Abdul Jalil (69 suara), M Rikza Chamami (42 suara), Saiful Anas (17 suara), H Tubagus Mansur (16 suara), Nor Aflah (14 suara), Chasan Albab (12 suara), H. Idham Kholid (10 suara), Zainal Anwar (10 suara) dan M. Isbah Kholili (9 suara). Pada akhirnya sidang Alhaq yang dipimpin oleh sesepuh Qudsiyyah, KH Ahmad Sudardi beserta 16 perwakilan wilayah memutuskan H. Ihsan sebagai ketua umum IKAQ periode 2016-2021.

Dalam sambutan pembukaannya, ketua yayasan Pendidikan Qudsiyyah (YAPIQ) KH. Em Nadjib Hassan mengatakan, event kongres ini hendaknya dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan kualitas dan penataan internal organisasi IKAQ. “Kita harus menata orientasi tujuan IKAQ ini sekaligus memperbaiki kinerja jalannya IKAQ ini,” kata kyai Nadjib yang juga pengurus LBM PBNU ini. (*)

PAPER SANTRI QUDSIYYAH TEMBUS 5 BESAR DI FILIPINA

QUDSIYYAH, FILIPINA – Hal yang tidak disangka dialami oleh Mirza Muchammad Iqbala, lulusan Qudsiyyah yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa S1 UII Yogyakarta. Paper yang ia teliti bersama timnya diterima dalam  3rd International Conference on Education, Psychology and Social Science (ICEPSS). ICEPSS sendiri merupakan konferansi tentang psikologi, pendidikan dan pengetahuan sosial yang diselenggarakan oleh the International Research Enthusiast Society Inc. (IRES inc.), sebuah organisasi non-profit yang dibentuk sebagai penyelenggara beberapa riset internasional dalam berbagai disiplin ilmu dan menjembatani pertukaran keilmuan dan ide. ICEPSS 2016 diselenggarakan di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Mirza adalah putra asli Kudus yang berdomisili di Wergu Wetan, putra dari Mbah No. Saat ini ia merupakan mahasiswa semster 4, FBSB, UII Yogyakarta. Ia tak megira bahwa sering presentasi ketika masih studi di Qudsiyyah. Pribadi aktif yang juga menggeluti jurnalistik ketika tingkat tsanawiyyah dan aliyah ini juga sering presentasi dalam lomba-lomba karya tulis ilmiah.

Berkat kerja keras, Mirza yang merupakan ketua tim patut berbangga pasalnya paper yang mereka alihbahasakan ke bahasa Inggris diterima, mengingat paper yang diterima hanya 130 dari 230 paper yang masuk. Mirza pun berhak mengikuti konferensi di Filipina pada tanggal 19-21 Mei 2016 setelah diumumkan termasuk 47 yang lolos presentasi dan akan diterbitkan dalam jurnal. Bersama timnya, Dinu Hafidh Muvarizb, Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggustic, Syafira Putri Ekayanid, Nyda Afsarie, ia berangkat menuju Filipina dan terus menyempurnakan paper selama di perjalanan.

Minder & Bangkit di antara Tokoh Pendidikan Dunia

Agenda hari pertama di Filipina adalah hari yang tak terlupakan, bukan hanya karena bertemu dengan pakar pendidikan, melainkan didaulat sebagai best five papers (5 paper terbaik) dalam ajang tersebut. “Saya pun berdiri dan kaget, paper kami disebut”, ungkapnya. “just go there, children”, sahut doktor disebelah mereka dan Mirza beserta tim turun untuk menerima penghargaan tersebut dengan sorakan riuh dari peserta yang mayoritas Dosen, Mahasiswa S2 dan Doktor. “Tangis banggapun tak terbendung,” lanjutnya “hanya kami presenter dari Indonesia dan mungkin yang termuda karena masih semester 4 program S1,” jelasnya.

MIRZA

Sedikit rasa gugup pada saat presentasi di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Paper berjudul The Effect of PTC (Parent Teacher Communication) on Student Engagement of Elementary School Students: The Role of Communication Technology merupakan penelitian yang telah dijalankan selama setengah tahun bersama timnya. Di Filipina, Mirza pun harus presentasi dengan Bahasa Inggris didepan para akademisi. Meski mengaku minder namun ia mendapatkan semangat kembali setelah beberapa peserta berpangkat Profesor memberikan apresiasi. “Profesor Choi (Filipina) berkenalan dengan kami dan bertukar kartu nama, Prof. James (Korea Selatan) menawarkan beasiswa S2 untuk kelanjutan studi kami,” ungkapnya, “Saya didampingi Akmal presentasi lepas tanpa catatan dan terbawa suasana saja.” Mirza pun sukses membawakan paper hingga tanya jawab dan justru dibawakan dengan gaya lucu dan santai.

Kesan di Filipina

Filipina adalah negeri yang minoritas islam. Berbeda dengan Indonesia, dimana masjid dan makanan halal adalah hal yang wajar, tidak mudah mendapatkan semua itu di Filipina. Sebelum mengikuti acara Mirza dan tim mengunjungi kedai yang halal, meskipun mahal mereka memaklumi karena makanan pokok disana adalah nasi dan daging babi. Namun dalam acara tersebut, panitia menyediakan 2 pilihan makanan berbahan dasar babi atau bahan ayam. “Padahal peserta yang Islam hanya kami, namun panitia sangat menghargai kami,” jelasnya, “tidak hanya makanan, tempat sholat juga disediakan 5 waktu”.

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Hari ketiga adalah waktu luang bagi Mirza beserta tim, tidak disia-siakan menyusuri jalanan Kota Malolos yang ramai. Keramaian khas hari Minggu tak berbeda dengan di Indonesia. Gereja dan gereja berjajar meneguhkan hati Mirza, ‘Terkadang aku bersyukur di Indonesia, makanan halal dan masjid masih banyak.

Sebagai negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua nasional, penggunaan Bahasa Inggris sangatlah wajar untuk masyarakat Filipina. Berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia, kesan Mirza dalam perjalanan wisatanya. “Pesanku buat anak Qudsiyyah, jangan remehkan Bahasa Inggris”, pungkasnya, “terbukti, dengan bahasa inggris lah kami berada disini”.

Setelah ini, Mirza fokus ke penelitian selanjutnya yang telah diterima di Malaysia dan Singapura. “Malaysia presentasi Juli, dan Singapura pada Agustus 2016,” jelasnya.

Reporter: Ahmad Arinal Haq

 

Kampus UIN Walisongo Jadi Tempat Berlabuh Dakwah Qudsiyyah di Semarang

QUDSIYYAH, SEMARANG – Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, bakal menjadi tempat diselenggarakannya “Roadshow; Meneladani Dakwah KHR Asnawi” Satu Abad Qudsiyyah di kota Semarang. Kegiatan yang berbentuk pengajian umum dan terbuka untuk semua kalangan tersebut bakal digelar di  auditorium I Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, pada Selasa malam Rabu (24/5/2016).

Kegiatan yang dikomandoi oleh panitia Satu Abad Qudsiyyah kerja bareng Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS), Ponpes Life Skill Daarun Najaah Semarang, JQH Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, dan Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang (KMKS) ini bakal menghadirkan beberapa pembicara. KH Nur Halim Ma’ruf (Kudus), Prof H Abdurrahman Mas’ud MA PhD (Jakarta), KH Abu Hapsin MA PhD (Semarang), KH Nadjib Hassan (Kudus) dan KH Ahmad Asnawi (Kudus) dijadwalkan bakal mengisi pengajian “Meneladani Dakwah KHR Asnawi” tersebut.
Kegiatan dalam rangka Peringatan Satu Abad Qudsiyyah tersebut juga bakal dimeriahkan oleh Rebana Al Mubarok Qudsiyyah Kudus. Rebana ini telah Sukses Menembus Dapur Rekaman hingga sepuluh album, dan bakalan meluncurkan album baru pada puncak peringatan Satu Abad Agustus mendatang. Kemeriahan Rebana Al Mubarok nanti dijadwalkan bakal mengundang Vokalis utama Gus Apang, Gus Ilham, Shofa, Ghofur. Juga, pengajian nanti bakal dibuka dengan Maulid & Do’a oleh Habib Rizqi Baharun.

Selain di Semarang, agenda dakwah ini juga bakal digelar di Karanganyar Demak pada Malam Kamis, 12 Mei 2016, di Masjid Baiturrahim, Karanganyar dan juga di Lengkong Mulyorejo Demak pada malam Jumu’ah, 26 Mei 2016 mendatang. (*)

Konfirmasi kehadiran ketik SMS/WA:
HADIR <spasi> NAMA <spasi> KAMPUS/ALAMAT ASAL
Kirim ke nomor 085641551875

Konferensi Pers Jelang Rangkaian Kegiatan 1 Abad

QUDSIYYAH, KUDUS – Tiga hari sebelum  dimulainya rangkaian event 1 Abad Qudsiyyah, panitia dan YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah) mengadakan Konferensi Pers yang bertempat di MA Qudsiyyah. Konferens

i pers dihadiri puluhan media baik cetak, siar maupun online. Dipimpin langsung oleh Ketua panitia, DR. Ihsan, M.Ag didampingi Sekretaris panitia, DR. Abdul Jalil, M.E.I. dan dihadiri oleh Drs. Em. Nadjib Hassan selaku Ketua YAPIQ.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperjelas informasi perihal kegiatan 1 abad yang akan berlangsung bulan April sampai Agustus 2016.  Mengankat tema “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”, rangkaian kegiatan 1 Abad Qudsiyyah melaksanakan 23 kegiatan yang dibalut kearifan lokal khas Kudus. Gusjigang sendiri merupakan term jawa yang berarti Bagus, Ngaji dan Dagang. Menurut Ihsan, di Kota Kudus, Gusjigang sendiri merupakan patron dan perlu dibumikan secara nasional.

Abdul Jalil menjelaskan situs “Menara Kudus” sebagai latar belakang event 100 abad ini. Merupakan bangunan yang dibangun dengan semangat pluralism dan mengenyampingkan fundamentalisme dan egoisme etnis dan agama. Karenanya, sudah seharusnya dengan semangat kebersamaan ini, Qudsiyyah menghadirkan kegiatan demi kegiatan berbasis local wisdom. Jalil menambahkan kegiatan 1 abad tidak hanya mencerminkan bagus saja, kegiatan akademis juga ditonjolkan memaknai term “ngaji”, sedangkan dagang direalisasikan dengan kegiatan expo.

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Menara diangkat oleh panitia sebagai logo 1 abad qudsiyyah, menanggapi hal itu, Abdul Jalil memaparkan eksistensi Menara Kudus sebagai simbol pluralism. Secara arsitekstur, tubuh Menara bercorak Hindu dengan atap khas Islam dan tempat wudlu ala budha yang disatukan di satu tempat peribadatan. Ia menambahkan bahwa sejarah mengungkapkan bahwa Kudus didirikan atas 3 etnis yakni Jawa, Cina dan Arab. Nadjib Hassan menambahkan bahwa kawasan Menara adalah pusat penyebaran islam di Kudus, dan Qudsiyyah mengakar disana. Bukannya tidak sengaja, Qudsiyyah didirikan oleh Mbah Asnawi yang juga cucu Sunan Kudus dalam rangka melestarikan dan melanjutkan dakwah dalam bentuk klasikal (berdasarkan kelas).

Lewat rangkaian kegiatan yang direncanakan, Qudsiyyah hendak memperkenalkan sholawat asnawiyyah dari Mbah Asnawi sebagai sholawat kebangsaan. Ihsan menyinggung usaha Qudsiyyah agar sholawat asnawiyyah tidak hanya milik orang Kudus, akan tetapi lebih luas di lingkungan nahdliyyin. Jalil mengklaim bahwa syair sholawat asnawiyyah adalah satu-satunya yang menyebutkan dan mendoakan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara jelas. Sehingga sudah sepatutnya sholawat Asnawiyyah menjadi sholawat kebangsaan dan dikenal secara nasional. Untuk itu, panitia juga telah menyiapkan seminar nasional yang didedikasikan untuk mendaulat sholawat asnawiyyah yang akan dihadiri oleh Cak Nun. Selain itu secara simbolis, Qudsiyyah akan menyerahkan sholawat Asnawiyyah ke Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai kampanye sholawat kebangsaan.

Rencananya, puncak acara akan dilaksanakan Agustus 2016 dengan kegiatan “Jagong Kamulyan”. Even ini merupakan pertemuan yang akan melepas semua atribut agama dan ego etnis yang menjadi sekat di dalam kultur masyarakat. Mbangun Kudus sebagai agenda utama dengan meneladani mbah Asnawi dan mengembalikan lagi pluralisme yang kian luntur di masyarakat. Jalil menambahkan sudah saatnya masyarakat duduk bersama dan Qudsiyyah sebagai civic menjadi yang terdepan melaksanakannya.

Di akhir, konferensi pers, Nadjib Hassan berharap 1 abad usia Qudsiyyah menjadi momentum revitalisasi madrasah dimana peran madrasah dituntut untuk tetap eksis mencerdaskan bangsa. Qudsiyyah akan terus mencoba menangkap dan mewujudkan visi misi pendirinya, Mbah Asnawi secara presisi dan meneruskan dakwah beliau.

QURBAN DAN BAKSOS DIMERIAHKAN TARI SUFI

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada yang berbeda dalam kegiatan Qurban dan Baksos tahun ini. Kegiatan yang rutin digelar setiap Idul Adha oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) ini digebyar dengan nuansa satu abad Qudsiyyah.
Acara yang dihelat selama tiga hari pada Kamis-Sabtu (23-25/09/2015) di lapangan Peganjaran Kudus ini memang menjadi bagian dari rangkaian gebyar satu abad Qudsiyyah Kudus yang puncaknya akan digelar pada Juli 2016 mendatang.

Berbagai acara turut memeriahkan acara utama Qurban dan Baksos ini, antara lain kegiatan bazar dan pameran oleh alumni dan Madrasah Qudsiyyah Kudus. Serta acara puncak pada peringatan ini adalah pengajian umum yang dimeriahkan dengan grup rebana Al Mubarok, Tari sufi serta dengan pembicara utama KH. Ahmad Asnawi Kudus.

IMG_7040Sebanyak empat penari sufi turut memeriahkan pembacaan maulid nabi Simtudduror dalam pengajian tersebut. Selain tari sufi yang menjadi banyak perhatian masyarakat adalah adanya pameran dan bazar dari produk dari alumni Qudsiyyah. Sebanyak 20 stan disiapkan untuk menampung pameran dan produk-produk dari alumni dan pemaran andalan dari Qudsiyyah sendiri.

Salah satu stand yang banyak menjadi tujuan adalah stand kaligrafi. Di sini di stand madrasah Qudsiyyah ini diberikan kaligrafi gratis penulisan nama dengan kaligrafi arab. Setiap pengunjung mendapatkan tulisan kaligrafi arab yang diberikan secara cuma-cuma dari karya para siswa dan santri Qudsiyyah yang menjadi andalan.

Ratusan masyarakat berbondong-bondong menyerbu stand ini. Selain stand kaligrafi juga yang menjadi andalan adalah stand falak. Di sini dipamerkan berbagai macam alat falak yang menjadi rujukan dan pameran, diantara theodolit untuk meneropong hilal dan sebagainya. Secara umum kegiatan ini sangat meriah dengan peserta kemah juga berasal dari sekitar 15 ambalan dari tamu undangan di sekolah MA/SMA sekitar.(*)

KOMPAQ Gelar Seminar Kebudayaan

QUDSIYYAH, KUDUS – Dalam rangka menyongsong satu abad Qudsiyyah Kudus, berbagai kegiatan digelar. Salah satunya orasi budaya dan seminar kebudayan yang diselenggarakan oleh Komunitas Pelajar Alumni Qudsiyyah (Kompaq) Kudus bekerjasama dengan dan Lembaga Swadaya Masyarakat Pusat Kajian Multikultural (LSM Pusaka).

Acara bertajuk “Menjadi Manusia Indonesia yang Berbudaya” ini dilaksanakan di Rumah Makan Gentong Sehat Getas Pejaten Kudus, Jawa Tengah, Jumuah sore (18/9/2015). Hadir dalam kesempatan tersebut puluhan pelajar, santri, seniman, budayawan, ormas, dan sebagainya.

Acara tersebut diisi oleh beberapa penampilan, di antaranya pembacaan puisi oleh Seniman asal Jepara, penampilan teater dari Kibaru Kudus, Stand Up Comedy dari Sleman, Monolog dari Yogyakarta, dan diakhiri dengan Seminar Kebudayaan oleh dua Budayawan dari Kudus dan Yogyakarta, yaitu Miftah Ali dan Yazid Al-Bustomi.

Chasan Albab selaku panitia mengatakan, kegiatan ini dilakukan dalam rangka memeriahkan satu abad Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus. “Acara ini termasuk dalam serangkaian acara ‘Menyongsong Satu Abad Qudsiyyah’ yang mana puncaknya insya’allah bulan Syawal tahun depan,” ujar santri Pondok Pesantren Raudlatul Mardiyyah Kudus ini.

Lebih lanjut Chasan menjelaskan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan para pelajar maupun masyarakat pada umumnya bisa sadar akan budaya Indonesia dan bisa menjadi manusia Indonesia yang berbudaya baik.

“Agar masyarakat lebih sadar akan budaya dan menjadi orang Indonesia yang berbudaya baik” kata Mahasiswa STAIN Kudus ini.

Di samping kegiatan tersebut, besok tanggal 23-25 September juga akan diadakan Perkemahan Bhakti Sosial ‘Satu Abad Qudsiyyah’ di lapangan Desa Peganjaran, Bae Kudus. yang melibatkan sekolah setingkat SMP-SMA se-Kabupaten Kudus.

Dalam perkemahan tersebut sekolahan se-kabupaten Kudus akan untuk mengikuti lomba kaligrafi, fotografi, kreasi musik, melukis, dan sebagainya.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR. Asnawi Kudus yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1919 M. namun sejak tahun 1917 M kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. (*)