Arsip Posting Admin

PROFIL MA’HAD QUDSIYYAH KUDUS

I. DASAR

Ma’had Qudsiyyah berdasarkan Islam dan Pancasila. Dengan dasar Islam dimaksudkan bahwa Ma’had Qudsiyyah diadakan, diselenggrakan dan dikembangkan berangkat (point of depture) dari ajaran Islam, proses pengelolaannya secara islami dan menuju apa yang diidealkan oleh pendidikan yang islami. Dengan dasar pancasila dimaksudkan bahwa Ma’had Qudsiyyah diselenggarakan, dikembangkan dan diamalkan dalam wacana Pancasila sebagai landasan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga Indonesia.

II. VISI

Pesantren Fiqh Yang Mampu Berbuat Pada Peradaban Masa Kini

III. MISI

  • Menyelenggarakan studi fiqh secara mendalam dan menyeluruh melalui perpaduan pendidikan sekolah dan pesantren;
  • Melakukan kaderisasi ahli fiqh yang dapat mewarisi dan mengembangkan tradisi ilmiyah dan amaliyah ‘alaSalafina ash-Shalih sesuai tuntutan zaman.

IV. ORIENTASI DAN TUJUAN

  • Terwujudnya pesantren sebagai pusat studi ilmu fiqh salaf dan kontemporer;
  • Tumbuh dan berkembangnya generasi fiqh yang mempunyai pemahaman utuh terhadap khazanah klasik yang mempunyai kesalehan ritual dan sosial;
  • Terbentuknya peradaban Islam yang komprehensif, universal, egaliter, kontekstualis, dinamis dan organis.

V. LATAR BELAKANG PENDIRIAN

Sampai saat ini, pesantren tetap menjadi warisan sekaligus kekayaaan budaya dan intelektual Nusantara. Bahkan, dalam beberapa aspek tertentu, pesantren dapat dipahami sebagai benteng pertahanan terhadap kebudayaan itu sendiri, karena peran sejarah yang dibuktikannya. Harapan dimaksud, tentunya sangat mendorong pada penguatan dan konstruk budaya yang telah digariskan oleh para pendirinya. Hal pokok yang menjadi konsen pesantren adalah sebagai pusat pengembangan ilmu dan kebudayaan yang berdimensi relijius dan motor penggerak transformasi bagi masyarakat dan bangsanya. 

Sejarah telah membuktikan bahwa konsistensi pesantren terhadap manhaj al-fikr al-salafy (metode berfikir sesuai nilai-nilai salaf) telah menjadikannya mampu bertahan dari segala deraan dan tantangan zaman. Pesantren dapat bertahan dengan tegar ketika sistem pendidikan yang lain hanya sibuk mengurusi politik dan birokrasi. Demikian pula, pesantren juga tetap hidup dengan moderasi dan toleransinya ketika muncul lembaga Islam lain yang justru mengarahkan peserta didiknya untuk tidak toleran terhadap ummat lain.

Di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan segala efek positif dan negatifnya, keniscayaan manusia masa depan yang tetap beriman dan bertaqwa di satu sisi dan menjadi manusia yang cerdas, terampil, mandiri serta sanggup berkompetisi dengan yang lain pada sisi lainnya merupakan obsesi dan cita-cita yang tidak bisa ditawar lagi. Oleh karena itu, generasi masa depan harus dipersiapkan untuk mampu bertahan, bersaing dan memiliki kualitas serta mumpuni dalam bidang tertentu. Jika tidak, mereka akan terkooptasi oleh arus globalisasi dan modernisasi. 

Untuk mewujudkan idealitas tersebut perlu dibangun kekuatan pribadi-pribadi yang menjadi cikal bakal keluarga dan masyarakat. Mengingat pembangunan bangsa memerlukan individu dalam keluarga dan masyarakat yang shalih, yang layak memikul amanah yang dibebankan kepadanya, maka pembangunan pribadi menjadi sesuatu yang niscaya. Dan untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya upaya serius dan bertanggung jawab karena ia adalah alat masyarakat yang terpenting dalam melaksanakan tugas sosial demi kepentingan dan tujuan bersama, memperkuat peradaban insani dan menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Keshalihan pribadi lahir dari ketaqwaan yang bersifat individual sedangkan keshalihan masyarakat lahir dari ketaqwaan yang bersifat kolektif. Mereka secara bersama-sama memiliki kesadaran sejarah, kesadaran tentang fakta sosial dan kesadaran tentang keharusan melakukan perubahan sebagai perwujudan kewajibannya sebagai makhluk moral dalam melaksanakan misi otentiknya, yaitu membangun peradaban.

Kudus, sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang menggunakan kata Arab “quds”, pernah tercatat mampu menanamkan nilai-nilai salafi, bahkan melahirkan  tokoh-tokoh intelektual yang diakui secara regional dan internasional. KH. Raden Asnawi, Ulama’ besar kota Kudus yang pernah mukim di Makkah, telah menggagas berdirinya madrasah Qudsiyyah pada tahun 1917 M. Bersama para kiai di Kudus, seperti KH. Abdullah Faqih, KH. Shofwan Duri, KH. Kamal Hambali, RH. Dahlan, RH. Abdul Hamid, R. Sujono, KH. Jazri Tanggulangin, HM. Zuhri Asnawi dan lain-lain.

Mereka menjadi ulama besar yang benar-benar produktif dalam berkarya serta tetap tidak kehilangan orientasi praksis mereka. Mereka mampu memadukan antara iman dan amal soleh, serta antara rasionalitas dan spiritualitas. Lebih dari itu, mereka  tetap tidak kehilangan kesederhanaan dan kerendahatian mereka.

Bertolak dari pemikiran itu kami berupaya untuk membangun suatu institusi yang diharapkan akan mampu menjawab kebutuhan umat dalam menyongsong masa depan, sehingga apa yang kita citakan bersama untuk merealisasikan kembali predikat Khairu Ummah yang Rahmatan lil ‘alamin dapat terlaksana.

Sebagai ikhtiar untuk mempertahankan visi tersebut melawan gerusan peradaban, maka didirikanlah  Ma’had Qudsiyyah Menara Kudus yang berkonsentrasi pada aspek ulumul fiqh. Konsentrasi ini menjadi signifikan karena dari waktu ke waktu masyarakat terus dihadapkan pada problem hukum Islam seiring dengan percepatan peradaban, sehingga ummat dapat melakukan pembacaan kreatif terhadap khazanahnya, mampu melakukan kontekstualisasi dalam peradaban modern yang terus mengepung, tidak terjebak pada pengentalan normatif dan romantisme masa lalu sehingga menyeretnya ke dalam perubahan yang tidak antisipatif.

Akhirnya, pada Senin Pon, 24 Dzul Qo’dah 1431 H yang bertepatan dengan 1 November 2010 Ma’had Qudsiyyah diresmikan oleh Nadhir Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ), KH. Sya’roni Ahmadi. Pada angkatan pertama ini santri yang direkrut berjumlah 40 santri.

VI. PESERTA DIDIK

a. Standar Input

Peserta didik Ma’had Qudsiyyah harus memiliki kemampuan umum yang tergolong di   atas rata-rata (above average ability); mempunyai kreativitas (creativity); dan berkomitmen terhadap tugas (task commitment) dengan kualifikasi hafal alfiyyah Ibn Malik (100 bait) dan mampu membaca Fathul Qarib.

b.  Standar Output

Standart output Ma’had Qudsiyyah adalah hafal Alfiyyah dan menguasai Fiqh Fathul Mu’in. Dengan setandar ini, alumni Ma’had Qudsiyyah akan memiliki validitas bacaan dengan perspektif yang khas terhadap peradaban yang ada di sekitarnya.

c.  Rekrutmen

Pendaftaran peserta didik (santri) Ma’had Qudsiyyah dilakukan setiap tahun ajaran sesuai kalender Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ). Penerimaan santri baru Ma’had Qudsiyyah melalui dua tahapan, yaitu pendaftaran minat-bakat dan seleksi.

VII. PROSES PENYELENGGARA PENDIDIKAN 

1.  Kurikulum

Kurikulum Ma’had Qudsiyyah adalah seperangkat rencana pendidikan yang berisi cita-cita pendidikan yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar. Kurikulum Ma’had Qudsiyyah mencerminkan integrasi agama dan umum yang diperkaya dengan kekhasan yang efektif dan fungsional dengan visi dan misi Yayasan Islam Qudsiyyah. Komponennya mencakup empat ranah, yaitu: kognitif, afektif, psikomotorik, dan intuitif.

2.  Jenis, Aktifitas Pembelajaran, dan Metode Pengajaran

Untuk mencapai misi dan tujuan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan perkuliahan di Ma’had Qudsiyyah, di-manage dengan memadukan antara metode tradisional pesantren dan metode perkuliahan akademik dengan mengintegralkan aspek-aspek proses pendidikan.

a.   Jenis Pendidikan Ma’had Qudsiyyah

Jenis Pendidikan Ma’had Qudsiyyah adalah pendidikan non-formal.

b. Aktifitas Pembelajaran

Sebagai lembaga kaderisasi, aktifitas pembelajaran berlangsung 24 jam, mulai pagi, sore hingga malam hari. Aktifitas pendidikan pada pagi hari berbentuk sekolah, aktifitas sore dan malam berbentuk sorogan dan musyawaroh. Sistem yang dipakai adalah sistem ceramah, diskusi dan penugasan. 

c.  Metode Pengajaran

Metode pembelajaran Ma’had Qudsiyyah diarahkan pada terwujudnya proses belajar tuntas (mastery learning) yang memacu peserta didik dapat belajar secara aktif dan kreatif dengan memperhatikan keselarasan dan keseimbangan.

Dalam usaha pencapaian tujuan ideal tersebut, maka metode belajar mengajar yang ditempuh menggunakan tiga pendekatan:

  1. Pendekatan tekstual,  yaitu memahami nushush secara lughawiyah, harfiyah dan  tarkibiyah. Hal ini ditempuh dengan dua cara, yaitu al-tadris (bimbingan seorang dosen) dan mudarosah (diskusi);
  2. Pendekatan kontekstual, yaitu memahami nushsuh secara cermat yang dikaitkan dengan ruang-waktu tertentu. Kajian ini dilakukan dengan kuliah umum, penyusunan karya tulis, studi naskah dan lain-lain;
  3. Pendekatan naqdiyah (kritis), yaitu muqobalatu al-kutub. 

3.   Materi Pengajaran

Materi pengajaran di Ma’had Qudsiyyah dikategorikan sesuai tingkat signifikansinya. Secara umum materi pengajaran dikategorisasi menjadi 3 kelompok, yakni:

  1. materi pokok (al-Asasiyah)
  2. materi penunjang (al-Idhafiyah)
  3. materi pendukung (al-Musaidah)

PROFIL IKAQ

Seiring dengan begulirnya waktu dan berkembangnya peradaban dunia, membuat segmentasi keilmuan dan keahlian mutakhorrijin Madrasah Qudsiyyah menjadi semakin kompleks dan beragam. Dari situlah akhirnya timbul semacam separasi tersendiri di antara sesama mutakhorijin Madrasah Qudsiyyah, khususnya dalam segmentasi kerja dan pola komunikasinya.

Pada posisi ini, tentunya dibutuhkan wadah organisasi alumni yang mampu melebur segala perbedaan yang ada dan berkembang di antara para alumni, yang dengan organisasi tersebut mampu kembali memperkuat spirit ke”Qudsiyyah”an yang kaffah dalam sanubari setiap alumni. Untuk mengakomodasi hal tersebut, maka dibentuklah Ikatan Alumni Qudsiyyah yang kemudian disingkat IKAQ sebagai media untuk merekatkan kembali antar mutakhorrijin dan madrasah Qudsiyyah.

Tak bisa dipungkiri Kelahiran IKAQ karena melihat perkembangan alumni Madrasah Qudsiyyah di mana tambah tahun semakin bertambah banyak jumlah alumninya.

Madrasah Qudsiyyah mulai eksis sejak 1917 dan menggunakan nama resmi “Qudsiyyah” sejak tahun 1919.  Saat itu madrasah Qudsiyyah hanya memiliki jenjang hingga Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Kemudian pada 25 Mei 1952, Qudsiyyah mendirikan sekolah lanjutan pertama yang kemudian dikenal dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian Madrasah Aliyah Qudsiyyah berdiri pada 1 Oktober 1973.

Sejak itu alumni akan semakin banyak dan sulit untuk dipertemukan kembali. Berdasarkan hal tersebut, maka para alumni pun mempunyai inisiatif untuk membentuk organisasi yang menaungi para alumni. Organisasi ini dimaksudkan sebagai alat untuk mempersatukan kembali para alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Periode pertama kepengurusan IKAQ dipimpin oleh Mukhlisin sebagai ketua umum dan H Em Nadjib Hassan sebagai sekretaris. Salah satu kegiatan besar adalah peringatan wolu windu Madrasah Qudsiyyah pada Rabi’ul Awwal 1420 H bertepatan dengan Januari 1982, hasil kerja bareng IKAQ dengan Madrasah Qudsiyyah. Dalam peringatan kegiatan tersebut salah satunya menerbitkan majalah El Wijhah untuk pertama kalinya, yakni pada Januari 1982.

Pada tahun tahun 1994, IKAQ kemudian kembali bangkit setelah sebelumnya pernah beberapa tahun tidak aktif dan dibentuk kepengurusan baru yang dipimpin oleh H Durrun Nafis, SE sebagai ketua umum dan Ali Faiz, S. Ag sebagai sekretaris umum.

Dalam kepemimpinan H. Durrun Nafis, SE, berbagai kegiatan dilakukan. Salah satu kegiatan yang menjadi andalan kegiatan IKAQ adalah pertemuan besar tahunan yang berjuluk Halal bihalal alumni Madrasah Qudsiyyah. Kegiatan ini selalu dilaksanakan pada bulan Syawwal dengan mengudang seluruh alumni Madrasah Qudsiyyah dengan menghadirkan nara sumber para tokoh besar, baik sekaliber regional maupun nasional. Selain kegiatan halal bihalal, kegiatan IKAQ lainnya antara lain adalah mubahasah Diniyyah, halaqah alumni yang dilaksakan secara kondisional.

Perkembangan IKAQ kemudian ingin semakin berbenah dan ada penyegaran di tubuh kepengurusan. Hingga pada akhirnya dalam pertemuan halaqah II tahun 2009 pada malam Ahad Wage 30 Rabiul Awwal 1430 H dan bertepatan dengan 26 April 2009 M dibentuklah kepengurusan IKAQ yang baru, juga menentukan periodeisasi kepengurusaan IKAQ selama 5 tahun. Sebelumnya, kepengurusan IKAQ belum ada pembatasan periode.

Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, dalam Halaqah II yang bertempat di Aula Rumah KH Sayroni Ahmadi, serta dengan pemikiran yang mendalam dari peserta halaqah dari alumni madrasah Qudsiyyah, akhirnya terpilih H. Ihsan, M.Ag sebagai ketua umum IKAQ untuk periode 2009-2014.

Proses pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat di antara para alumni dengan dihadiri langsung oleh Nadhir Madrasah Qudsiyyah KH Sya’roni Ahmadi. Bahkan, KH Sya’roni Ahmadi menjadi penentu kemenangan H.M Ihsan, M.Ag setelah sebelumnya terjadi perdebatan yang cukup alot. Apakah pemilihan ketua IKAQ tersebut dilakukan secara voting atau secara musyawarah. Dan akhirnya pemilihan diserahkan kepada KH Sya’roni Ahmadi yang akhirnya memilih H Ihsan, M. Ag memangku jabatan ketua umum IKAQ hingga saat ini.

Pada pertengahan 2009 hingga tahun 2010, kepengurusan IKAQ berusaha melebarkan sayap. Ini dibuktikan dengan pembentukan kepengurusan IKAQ tingkat wilayah di masing-masing kecamatan serta koordinator di masing-masing desa, bahkan juga yang berada di luar Kudus. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mengorganisir seluruh alumni yang berpencar di berbagai daerah. Beberapa kepengurusan di tingkat wilayah yang sudah terbentuk antara lain, wilayah KOTA, wilayah BAE & DAWE, wilayah JATI, wilayah MEJOBO, wilayah KALIWUNGU, dan wilayah GEBOG. Sedangkan yang di luar Kudus antara lain wilayah KARANGANYAR DEMAK, wilayah MIJEN DEMAK, wilayah NALUMSARI JEPARA, wilayah MAYONG JEPARA, wilayah KOTA JEPARA, wilayah BATEALIT JEPARA, serta wilayah JAKARTA.

Selain IKAQ sebagai organisasi induk untuk mutakhoriijin Qudsiyyah, di beberapa daerah juga ada organisasi yang merupakan cabang dari IKAQ pada daerah tersebut. Organisasi tersebut antara lain :

  • Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS – Semarang)
  • At Tasywiq lil Qudsiyyah (ALQY – Jogja)
  • Forum Santri Qudsiyyah (FORSAQ – Jakarta)

Petualangan Jam’iyyah Ad- Dufuf Al- Mubarok

Rebana, yang di kota Kudus dikenal dengan nama “Terbangan” merupakan instrumen non-melodis yang dimainkan dengan alat musik tradisional yang terbuat dari kulit hewan (kambing/kerbau). Dari kumpulan nadanya tercipta suatu suara yang enak didengar, bahkan kadang menggetarkan hati, bahkan kadang. Pada dasarnya instrumen terbang adalah sebagai ritmit (pengiring) dari beberapa shalawat dan lagu qosidah. Dalam Islam sebagaimana dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ” Ad-Dufuf ” (terbang) merupakan sebuah seni yang dianjurkan untuk dilaksanakan saat dilangsungkan acara pernikahan.

Madrasah Qudsiyyah, dalam rangka mengaktualisasikan sunnah Nabi, serta menjadi mendia penyalur bakat santri dalam kesenian, tak mau ketinggalan dalam menciptakan satu group Rebana. Tepatnya pada tanggal 26 Rajab 1418 H./ 27 Nopember 1997 TU. oleh Guru Besar Madrasah Qudsiyyah, KH. M. Sya’roni Achmadi meresmikan “Jam’iyyah Ad-Dufuf Al Muabarok” (group rebana Al Mubarok) di Madrasah Qudsiyyah.

Saat itu, sebelum didirikannya Al-Mubarok ini, diperkirakan sudah ada group rebana yang berdiri di Madrasah Qudsiyyah yakni ditandai dengan adanya seperangkat alat rebana klasik ketipung atau terbang. Alat itu sampai sekarang masih terawat dengan baik. Hingga kini Al Mubarok Qudsiyyah ini adalah group shalawat yang sampai detik ini  masih terus eksis, mempertahankan seni tradisional islami untuk melantunkan qosidah-qosidah arab.

Dalam catatan sejarah, awal mula lahirnya Group ini dimotori oleh beberapa santri pendatang dari luar kota kudus, yakni Kota Pasuruan Jawa Timur, Bangil Pekalongan dan Kota Wali Demak. Mereka terinspirasi untuk membangun group Rebana di madrasah yang telah ada sejak tahun 1919 ini. Selain sebagai wadah kesenian santri, Kemunculan Al-Mubarok, juga tak lepas dari kondisi masyarakat yang saat itu sedang gandrung akan Rebana islami.

Jam’iyyah Ad-Dufuf Al mubarok Qudsiyyah sendiri awal mula adalah group yang mendalami terbang ala Pekalongan (Habsyi), setelah beberapa bulan kemudian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Al Mubarok memprakarsai pendirian terbang ala Kota Demak atau lebih masyhur di Kudus dengan sebutan “Jipin”.

Keberadaan Al Mubarok sangat mendapat kepercayaan dari masyarakat luas. Hal ini terbukti dengan seringnya diundang dalam acara pentas seni, pengajian, tasyakuran, walimahan, dan lain-lain, baik di dalam kota maupun di luar kota Kudus.

Peningkatan kreatifitas siswa yang terakomodir dalam Al Mubarok tampak jelas, dengan banyaknya deretan prestasi yang pernah digaetnya. Dan tak tanggung-tanggung, ketika tahun 1998-an berhasil merilis album perdana yang bertajuk “Album Kenangan”, dan penyajian album itu diteruskan dengan album-album selanjutnya yaitu: Sholawat Asnawiyyah I, Sholawat Asnawiyyah II, Yaa Robba Makkah, Tersenyum, serta Kerinduan. Dari kesemua album didalamnya terkandung untaian solawat Asnawiyyah yang dikemas secara intonasi dan instrumental yang berbeda-beda sedangkan sang pencipta solawat Asnawiyyah adalah Pendiri dari Madrasah Qudsiyyah yaitu beliau KHR. ASNAWI.

Alhamdulillah sampai saat ini Jam’iyyah Ad-Dufuf Al Mubarok Qudsiyyah  masih dapat menyuguhkan lantuna salawat, yaitu dengan beredarnya album yang ke-7 yang diberi lebel “Kasih Sayang” dengan single hitsnya “Sholatun”.

Pada tahun 2008 Al Mubarok juga berhasil mengeluarkan albumya yang ke VIII dengan tajuk “Satu Hati”, akhir-akhir ini Al mubarok baru merilis album ke IX dengan penampilan baru, mengikuti perkembangan zaman yaitu dalam bentuk CD dan ada video klipnya.

Profil Persatuan Pelajar Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada di Kabupaten Kudus, dalam upaya mencapai visi dan misinya untuk mengadakan pendidikan yang mampu menelorkan alumni-alumni yang siap membaur dalam kehidupan masyarakat. Semua bekal yang dibutuhkan oleh siswa, diajarkan oleh Madrasah Qudsiyyah, baik agama, umum termasuk didalamnya life skill yang dikembangkan oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ).

PPQ mulai berkiprah sekitar tahun 1970an ditandai dengan terbentuknya kepengurusan PPQ, sebagai Ketua Umum PPQ yang pertama adalah Drs. H. Nadjib Hassan, yang sekarang menjadi ketua pengurus YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah).

PPQ adalah sama seperti OSIS di sekolah-sekolah pada umumnya, menjadi mercusuar kegiatan-kegiatan seluruh siswa. Namun yang menjadi ciri khas PPQ, bahwa PPQ tidak hanya mengurusi satu tingkatan saja (Aliyah, atau Tsanawiyyah saja) tetapi anggota PPQ adalah semua siswa Madrasah Qudsiyyah mulai dari tingkat MI, MTs dan MA. Dengan demikian diharapkan PPQ dapat menjadi suri tauladan bagi siswa-siswa yang lain.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan PPQ merupakan cerminan dari minat, bakat, kreatifitas dan intelegensitas dari semua anggota PPQ. Banyak kegiatan yang telah dilaksanakan, baik ketegori keagamaan, kepramukaan, jurnalistik maupun seminar-seminar dengan mendatangkan tokoh-tokoh yang kompeten sesuai bidangnya.

Profil & Sejarah Madrasah Qudsiyyah

1. Masa Formulasi (1917 M-1943) M.

Madrasah Qudsiyyah, sebagai salah satu madrasah tertua di Kudus, mempunyai sejarah yang cukup panjang. Madrasah Qudsiyyah tidak serta merta hadir dan menjadi besar, melainkan mengalami proses jatuh bangun yang cukup melelahkan.

Sebelum Budi Utomo menggelorakan Kebangkitan Nasional pada 1920 M, Madrasah Qudsiyyah telah berdiri tegak mengembangkan sayap-sayap pendidikan agama yang anti penjajah. Tercatat sejak 1917 M, kegiatan belajar mengajar telah dimulai, walaupun saat itu belum memiliki nama dan tempat belajar yang pasti. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1919 M, yang bertepatan dengan tahun 1337 H, Madrasah Qudsiyyah resmi didirikan oleh KHR. Asnawi.

KHR. Asnawi adalah keturunan dari Sunan Kudus yang ke XIV dan keturunan kelima dari KH.A Mutamakin. Wali di zaman Sultan Agung Mataram di Kajen Margoyoso Pati. Wajar saja apabila yang dilaksanakan beliau tidak jauh beda dari para pendahulunya. Baik dari pola pendidikan dan dimensi penegakan reputasi agama Islam.

Nama asli KHR. Asnawi adalah Ahmad Syamsi, kemudian berganti nama lagi menjadi Ilyas. Gelar raden yang juga disebut sebelum nama Asnawi mempunyai arti sendiri. Raden sebagaimana ditentukan oleh keluarga adalah sebutan dari anak turun (dzurriyah) Nabi Muhammad yang sudah terpotong oleh nasab puteri. Berbeda dengan sayyid, kalau sayyid semuanya sambung dari nabi hingga yang bersangkutan dari anak laki-laki.

Sedangkan panggilan kiai yang disematkan kepada beliau lebih karena partisipasi beliau dalam masyarakat. Ini setidaknya tampak dari 2 sisi. Pertama, KHR. Asnawi memang seorang yang faqih dan benar-benar ahli dalam bidang agama. Kedua, KHR. Asnawi adalah pemangku dan pengasuh pondok pesantren sebagai pemimpin agama. KHR. Asnawi tidak mau menjauh dari kebutuhan umat. Bahkan beliau terkenal sangat memiliki sifat marhamah. Wibawanya besar, galak, keras dalam menetukan hukum, lebih-lebih terhadap anak-anak seusia 4-6 tahun.

Dalam konteks mendidik ini pula Qudsiyyah didirikan. Gedung Madrasah Qudsiyyah yang didirikan KHR. Asnawi saat itu berada di Kompleks Masjid al-Aqsha, tepatnya di depan gapura masuk Menara Kudus.

Nama Qudsiyyah diambil dari kata Quds yang berarti suci dan sekaligus nama kota tempat kelahiran madrasah tersebut. Nama tersebut digunakan dengan maksud agar apa yang diajarkan serta diamalkan dalam madrasah menjadi benar-benar suci dan murni tidak dicampur-adukkan dengan yang kurang baik.

Dalam perjalanan panjang tentang sejarah madrasah, kondisi madrasah pada masa penjajahan Belanda diurus oleh Departemen voor Inlandsche Zaken, sebuah departemen pengajaran agama di lembaga pendidikan Islam (pesantren dan madrasah). Namun, Madrasah Qudsiyyah tetap bertahan dan tidak terpengaruh dengan lembaga pemerintah Belanda tersebut. Justru KHR. Asnawi sering melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan Belanda.

Hal ini terjadi lantaran pada praktiknya fungsi lembaga Belanda tersebut tidak menangani masalah pendidikan Islam dalam arti memfasilitasi, melainkan lebih merupakan sarana untuk mengontrol dan mengawasi lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Oleh karenanya, pesan-pesan perjuangan melawan kolonialisme pada setiap kali beliau mengajar di madrasah senantiasa disampaikan kepada santri-santrinya.

Boleh dibilang, KHR. Asnawi adalah benteng anti penjajah di semenanjung utara Jawa. Ketika beliau melihat presure penjajah semakin kuat dalam membelenggu umat Islam, KHR. Asnawi tampil dengan jiwa kritisnya menyatakan amar ma’ruf nahi munkar. Segala hal yang dianggap menyimpang dari pemerintah Belanda beliau berani mengkritik.

Untuk menyatukan visi keiIslamannya, KHR. Asnawi bergabung kembali dengan Serikat Islam Cabang Kudus. Jabatan komisaris bagi Asanawi sudah disandangnya ketika berdiri Serikat Islam Cabang Makkah tahun 1912 M. Aktifitasnya di Serikat Islam ini menjadikan beliau akrab dengan Samaun dan H. Agus Salaim serta HOS Cokroaminoto.

Hingga tahun 1929 M, Madrasah Qudsiyyah dipimpin langsung oleh K.H.R. Asnawi sebagai kepala sekolah dan didampingi oleh KH. Shafwan Duri. Pada tahun 1929 M-1935 M Madrasah Qudsiyyah dipimpin oleh K. Tamyiz sebagai kepala sekolah. K.H.R. Asnawi sendiri, memimpin pondok pesantren Raudlatuth Thalibin yang didirikan pada tahun 1927 M di Bendan, Kerjasan Kudus. Pada tahun 1935 M, K. R. Sujono memimpin Qudsiyyah sampai dengan tahun 1939 M. Setelah K.R. Sujono wafat, Madrasah Qudsiyyah kemudian dipimpin oleh K.H. abu amar mulai tahun 1939 M sampai tahun 1943 M.

2. Masa Kemunduran (1943-1950)

Buntut dari pemerintahan Dai Nippon Jepang yang menguasai Indonesia pada tahun 1943 M, ternyata berpengaruh terhadap pendidikan di Madrasah Qudsiyyah Kudus. Madrasah mengalami kemunduran drastis, bahkan hingga dilakukan penutupan.

Awalnya ketika Jepang berkuasa, pemerintah Dai Nippon rupanya mencurigai kepada umat Islam. Tidak hanya sekadar curiga, bahkan pemerintah dengan tegas melarang mengajarkan semua pelajaran agama di madrasah-madrasah dengan tulisan arab. Jadi, saat itu semua pelajaran agama harus ditulis dengan huruf latin.

Kebijakan tersebut membuat Madrasah Qudsiyyah menjadi salah satu korban. Pasalnya, berbagai pelajaran agama yang dahulunya menggunakan Bahasa Arab serta tulisan arab, kini dalam pengajarannya harus dijalankan dengan menggunakan tulisan latin.

Hal tersebut menyebabkan ketidaknyamanan di Madrasah Qudsiyyah. Alasannya, akan sangat berbeda tulisan dengan menggunakan tulisan arab diganti dengan tulisan latin. Selain itu, dalam pelaksanaannya madrasah-madrasah yang ada juga sering didatangi serdadu Dai Nippon. Sehingga berakibat jalannya pendidikan di madrasah-madrasah sangat terganggu.

Hal ini kemudian membuat Madrasah Qudsiyyah merasa sangat terganggu. Dengan pertimbangan yang masak-masak oleh para Guru Madrasah Qudsiyyah, akhirnya keputusan pahit pun diambil, dan untuk sementara waktu Madrasah Qudsiyyah ditutup. Salah satu penyebab dari penutupan Madrasah Qudsiyyah Kudus adalah kekejaman tentara jepang yang terus mencurigai serta tidak diperkenankannya mengajar dengan menggunakan Bahasa Arab.

Namun, pendidikan yang dilakukan madrasah tidak berhenti begitu saja. Pendidikan di madrasah dialihkan dengan pengajian al-qur’an pada setiap ba’dal maghrib yang diatur dengan kelas-kelas. Namun hal ini tidak bertahan lama, dan pada akhirnya berhenti juga. Praktis dalam masa ini pendidikan di madrasah lumpuh total.

3. Masa kebangkitan (1950-sekarang)

Masa penjajahan Jepang pun segera berakhir. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia telah didengungkan ke dunia pada 17 Agustus tahun 1945. Namun, di awal kemerdekaan tersebut Madrasah Qudsiyyyah belum juga bangkit dari tidur panjangnya. Dan ternyata, cukup lama juga Madrasah Qudsiyyah tertidur dan kosong dari segala aktifitas. Barulah sekitar tahun 1950 M, Madrasah Qudsiyyah kembali menemukan ruhnya untuk bangkit kembali.

Perkembangan pendidikan di Madrasah Qudsiyyah semakin hari semakin meningkat hingga pada tanggal 25 Mei 1952 terwujudlah tingkat lanjutan pertama yang dinamakan Sekolah Menengah Pertama Islam Qudsiyyah (SMPIQ) dan mendapat perhatian penuh dari masyarakat.

Semakin hari, sambutan dari masyarakat Kudus begitu besar terhadap pendidikan di Madrasah Qudsiyyah ini. Sehingga jumlah murid dari hari ke hari terus bertambah dan menyebabkan tingkat lanjutan dibagi menjadi dua, yaitu SMPI Qudsiyyah dan Pendidikan Guru Agama (PGA) Qudsiyyah. Pada tahun 1957, PGA Qudsiyyah dihapuskan dan SMPI Qudsiyyah dirubah namanya menjadi Madrasah Tsanawiyyah Qudsiyyah.

Pada tahun 1970-an, Madrasah Qudsiyyah juga pernah membuka Madrasah Diniyyah sore hari. Keberadaan diniyyah ini berlangsung selama lima tahunan.
Pada akhir tahun 1973 M, Madrasah Qudsiyyah mendirikan jenjang Aliyah untuk menampng alumni Tsanawiyahnya. Sejak itu, Madrasah Qudsiyyah semakin berkembang hingga sekarang.

Class Meeting 2011

Kegiatan Belajar Mengajar

Halaqoh Mutakhorijin

Identitas Madrasah

Gedung dan Fasilitas