Halalbihalal IKAQ, Bakal Diskusikan Gusjigang

QUDSIYYAH, KUDUS – Event tahunan Halalbihalal Ikatan Alumni Qudsiyah (IKAQ) Kudus tahun ini bakal digelar dengan berbeda. Biasanya acara yang mengundang seluruh alumni lintas angkatan ini dilakukan pada siang hari, tapi tahun ini dicoba dengan mengadakan Halalbihalal pada malam hari, yakni bakal digelar pada Malam Rabu (19/6/2018) di Lapangan KHR. Asnawi  Damaran Kota Kudus.

Acara akan mulai pukul 19.30 WIB dan dimulai dengan mengundangn Nadhir Qudsiyah KH. M. Sya’roni Ahmadi yang bakal menyampaikan Mauidhah hasanah. Usai mauidhah hasanah, acara dilanjutkan diskusi panel bertema “Majelis Gusjigang”. Narasumber dari alumni Qudsiyah yang menjadi tokoh aktif bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi dan sosial di kancah regional, nasional dan internasional.

Beberapa tokoh yang bakal dihadirkan antara lain H.M. Zuhal Abdul Lathif (Direktur Al-Amanah sekaligus Dosen institute al Zuhri, Singapura), Dr. H. Akhmad Shonhaji (Ketua STAI Fatahillah Serpong – Tangerang Selatan),Dr.H. Nuruddin (pengajar Universitas Negeri Jakarta), Noor Ali SE (Percetakan Nora), HM. Mujtahidil Fatah (owner Konv.el-Nifa Kudus).

Ketua Panitia, Hasan Mafiq, menyatakan, kehadiran narasumber yang merupakan alumni senior yang sudah sukses di bidangnya masing-masing diharapkan mampu memberikan semangat bagi para alumni dalam mewujudkan cita-cita. “Dari pakar pendidikan, dakwah dan ekonomi kami undang untuk meotiovasi seluruh alumni, untuk terus bersemangat berpartisipasi dan aktif bergerak di masyarakat menyebarkan ajaran Aswaja sebagaimana cita-cita Qudsiyyah,” ungkapnya. (Kharis)

BERJUANG FI SABILILLAH DAN MEMBELA KAUM TERTINDAS

BERJUANG FI SABILILLAH DAN MEMBELA KAUM TERTINDAS
(NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI MENARA PADA JUMU’AH, 9 RAMADLAN 1439)
By: MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
25/5/2018

QS. An-Nisa’ [4]: 75-76
بسم الله الرحمن الرحيم

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا (75) الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا (76)

Artinya : (75) Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (76) Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah

Ayat 75-76

Selanjutnya, pembicaraan beralih kepada kaum muslimin. Peralihan pembicaraan dari metode narasi dan deskripsi yang menceritakan keadaan orang-orang yang berlambat-lambat, beralih kepada metode persuasif terhadap seluruh muslimin dengan menggelitik harga diri dan sensivitas hati terhadap orang-orang yang lemah yang tertindas dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak yang diperlakukan secara keras di bawah kekuasaan kaum musyrikin. Sedangkan mereka ingin melepaskan diri dan selalu doa kepada Allah supaya diberikan jalan keluar dari negeri yang penuh kezaliman dan penganiayaan.

Peralihan metode penyampaian ini adalah untuk memberikan kesan kepada mereka betapa tingginya maksud, betapa mulianya tujuan dan betapa bagusnya sasaran yang hendak dicapai dalam perang ini, yang memotivasi mereka untuk berangkat ke medan laga tanpa merasa keberatan tanpa ditunda (berlama-lama)

Tafsiran Ayat

يحرض تعالى عباده المؤمنين على الجهاد في سبيله وعلى السعي في استنقاذ المستضعفين بمكة من الرجال والنساء والصبيان المتبرمين بالمقام بها؛ ولهذا قال تعالى: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ} يعني: مكة، كقوله تعالى: {وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ} [محمد: 13] ثم وصفها بقوله: {الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا} أي: سخر لنا من عندك وليا وناصرا. قال البخاري: حدثنا عبد الله بن محمد، حدثنا سفيان، عن عبيد الله قال: سمعت ابن عباس قال: كنت أنا وأمي من المستضعفين. ثم قال تعالى: { الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ } أي: المؤمنون يقاتلون في طاعة الله ورضوانه، والكافرون يقاتلون في طاعة الشيطان. ثم هَيَّجَ تعالى المؤمنين على قتال أعدائه بقوله: { فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا }

Allah memberikan dorongan kepada hambanya yang beriman untuk berjihat di jalan-Nya, serta berupaya menyelamatkan orang-orang yang tertindas di kota Makkah, baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang sudah sangat jenuh untuk tinggal disana. Untuk itu Allah berfirman, (الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ) “yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini” yaitu Makkah, seperti firman Allah (وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ) “dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu” (Q.S Muhammad: 13)

Kemudian disifati dengan firman-Nya, (الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا) “yang dhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami pertolongan dari sisi Engkau” yaitu, jadikanlah untuk kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubaidillah, ia berkata : “Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: “ Dahulu aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas”

Kemudian Allah berfirman: (الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ) “Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan Thaghut.” Yaitu orang-orang yang beriman, mereka berperang dalam rangka taat kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya. Sedangkan orang-orang kafir berperang dalam rangka taat kepada syaitan. Kemudian Allah mendorong kaum mukminin untuk memerangi musuh dengan firmanya (فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا) “sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”

Dikatakan tipu daya syaitan lebih lemah dari pada tipu daya wanitam seperti disebutkan di atas :

· Tipudaya syaitan lemah = إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا “sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”(Q.S. An-Nisa’: 76)

· Tipu daya wanita kuat = إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ “sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar” (Q.S Yusuf: 28)

Oleh karena tipu daya wanita lebih besar maka sebaiknya lebih berhati-hati kepada wanita. Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ» وَفِى رِوَايَةٍ: «فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا»

“Sesungguhnya wanita menghadap dalam rupa setan dan membelakangi dalam rupa setan pula. Jika salah seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi (menyetubuhi) istrinya karena hal tersebut bisa menolak apa (yang bergejolak) di dalam jiwanya.” [HR. Muslim (no. 1403)]

Pada situasi ini sisksaan kafir Mekkah luar biasa sadis, banyak sahabat-sahabat Nabi yang dibunuh, disiksa bahkan ada yang diputuskan kaki dan tanganya seperti siksaan yang dilakukan pada keluarga Yasir bin Amir (Ammar bin Yasir dan ibunya Sumayyah) sebagai berikut:

KISAH AMMAR BIN YASIR

Yasir bin Amir berangkat meninggalkan negerinya di Yaman untuk mencari dan menemui salah seorang saudaranya di Makkah. Rupanya dia berkenan dan cocok tinggal di Makkah. Maka bermukimlah dia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah. Abu Hudzaifah kemudian mengawinkan Yasir dengan salah seorang sahayanya yang bernama Sumayah binti Khayyath. Dari perkawinan yang penuh berkah ini, pasangan itu dikarunia seorang putra bernama Ammar. Keislaman Yasir dan isterinya termasuk dalam golongan yang pertama, sebagaimana halnya dengan mereka yang pertama masuk Islam. Dan mereka pun cukup menderita dengan tindakan biadab dan kekejaman kaum Quraisy Makkah. Orang-orang musyrikin Quraisy menjalankan dua siasat terhadap kaum Muslimin sesuai tingkat hidupnya. Jika Muslimin termasuk golongan bangsawan dan berpengaruh, maka kaum Quraisy dihadapi dengan ancaman dan gertakan. Contohnya Abu Jahal, dia menggertak dengan ucapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu, dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Setelah itu, mereka lancarkan perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Makkah yang rendah martabatnya dan miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka akan dicambuk dan disulut dengan api menyala. Adapun Keluarga Yasir, mereka ditakdirkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala termasuk dalam golongan yang kedua ini. Maka, masuklah keluarga Yasir ke dalam kelompok yang mendapat perlakuan yang zalim dari kaum Quraisy. Setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan Ammar radhiyallahu ‘anhum dibawa ke padang pasir Makkah yang demikian panas, lalu dicambuk dengan berbagai siksaan. Dalam masa-masa inilah, Sumayyah menunjukan kepada manusia sikap ketabahan, suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur, suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang mukmin di setiap zaman, dan bagi para budiman sepanjang masa. Siksaan dan penderitaan yang dahsyat itu merupakan pengorbanan mulia yang menjadi jaminan bagi agama dan akidah yang teguh dan tak akan lapuk. Dia juga menjadi teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggan dan kasih sayang, dia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya. Untuk meletakkan dasar, memancangkan tiang-tiang, dan memperkokoh agama-Nya, Allah memperlihatkan model contoh melalui para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya dengan sikap pengorbanan harta dan jiwanya agar menjadi teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang datang kemudian. Yassir, Sumayyah dan Ammar adalah termasuk teladan istimewa, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setiap hari menghampiri tempat di mana mereka mendapat siksaan dari orang-orang zalim. Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengunjungi mereka, Ammar memanggilnya, “Wahai Rasulullah! Azab yang kami derita telah sampai ke puncak!” Namun, dengan penuh kesedihan, tanpa bisa menolong, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya berkata, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan! Sabarlah, wahai keluarga Yasir! Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga!” Betapa beratnya siksaan yang dialami Ammar dari kaum yang zalim, dilukiskan oleh para sahabat dalam beberapa riwayat:

Ammar bin Hakam berkata, “Ammar itu disiksa, sampai-sampai dia tidak menyadari apa yang diucapkannya.” Ammar bin Maimun berkata, “Orang-orang musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang lewat di tempatnya, beliau memegang kepala Ammar dengan tangan beliau, sambil bersabda: ‘Hai api, jadilah kamu sejuk dan dingin di tubuh Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim!’.” Ketika Abu Jahal ikut melakukan penyiksaan, dia begitu jengkel dan putus asa terhadap keteguhan Sumayyah. Seorang budak wanita yang dipandangnya hina, berdiri tegar seakan menantang kesombongan tokoh besar Quraisy tersebut. Karena tidak tertahankan lagi kejengkelannya, Abu Jahal mengambil tombak dan menusuk Sumayyah dari selangkangan hingga tembus ke punggungnya. Jadilah Sumayyah syuhadah pertama dalam Islam. Tidak berapa lama, suaminya, Yasir bin Amir juga meninggal dalam penyiksaan orang-orang kafir Quraisy. Kematian orang tuanya akibat siksaan tersebut tidak menyebabkan Ammar berubah pikiran, bahkan makin meneguhkan pendiriannya. Orang-orang musyrik menghabiskan segala daya dan upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya terhadap Ammar, sampai-sampai dia merasa dirinya benar-benar celaka, ketika siksaan itu mencapai puncaknya: didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Ketika dia sampai tidak sadarkan diri karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya, “Pujalah olehmu Tuhan-Tuhan kami!” Mereka ajarkan kepadanya pujaan itu, sementara Ammar mengikuti kalimat pujaan itu tanpa menyadari apa yang diucapkannya. Ketika dia siuman sebentar karena siksaannya berhenti, tiba-tiba dia sadar akan apa yang telah diucapkannya. Maka, hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya, betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi. Tetapi, iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur.

Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga para penyiksanya merasa lelah, lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kokoh. Memang, demikianlah Al-Qur’an mendidik para pemeluknya dalam menghadapi kekejaman dan kekerasan dengan kesabaran, keteguhan dan pantang menyerah, yang merupakan esensi dari keimanan.

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjumpai Ammar, didapatinya dia sedang menangis, maka disapulah isak tangis itu dengan tangan beliau seraya sabdanya, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu kedalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?” “Benar, wahai Rasulullah,” ucap Ammar sambil meratap. Maka Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sambil tersenyum, “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!” Kemudian, Rasulullah membacakan kepadanya sebuah ayat:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-nahl [16] ayat 106). Setelah mendengar firman Allah itu, kembalilah Ammar dengan hati yang diliputi rasa haru, tenang, dan bahagia, seolah telah hilang semua penderitaan yang selama ini ia rasakan.

Demikianlah kisah duka keluarga Ammar bin Yasir

Bertolak dari banyaknya siksaan yang diperoleh para sahabat merajalela, mereka tak segan-segan menghabisi nyawa para umat Islam, sampai-sampai keselamatan Rasulullah SAW dan para sahabatnya pun juga ikut terancam. Dari sinilah Rasulullah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah.

KISAH HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW

Tatkala keputusan keji untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diambil, turunlah malaikat Jibril ‘alaihis salam membawa wahyu Rabbnya lalu memberitahukan kepada beliau perihal persekongkolan kaum Quraisy tersebut dan izin Allah kepada beliau untuk pergi berhijrah meninggalkan Mekkah. Kemudian Jibril menentukan momen tersebut seraya berkata, “Malam ini, kamu jangan berbaring di tempat tidur yang biasanya.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertolak belakang ke kediaman Abu Bakr di tengah terik matahari untuk bersama-sama menyepakati tahapan hijrah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di kediaman Abu Bakr pada siang hari nan terik, tiba-tiba ada seseorang berkata kepadanya, “Ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan menutup wajahnya dengan kain di waktu yang tidak biasa beliau mendatangi kita.” Abu Bakr berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan untuknya. Demi Allah, beliau tidak datang di waktu-waktu seperti ini kecuali karena ada hal penting.” Aisyah melanjutkan, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan meminta izin masuk, lantas diizinkan dan beliau pun masuk. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakr, “Keluarkan orang-orang yang berada di sisimu.” Abu Bakr menjawab, “Mereka tidak lain adalah keluargamu, wahai Rasulullah. Beliau berkata lagi, “Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk berhijrah.” Abu Bakr berkata, “Engkau minta aku menemanimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.” Dan setelah disepakati rencana hijrah tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumahnya menunggu datangnya malam. Dari hadits ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jibril, مَنْ يُهَاجِرُ مَعِي ؟ قَالَ : أَبُوْ بَكْر الصِّدِّيْق‍“Siapa yang hijrah bersamaku?” Jibril menjawab, “Abu Bakr Ash Shiddiq.” (HR. Al Hakim dalam Mustadrok 3: 5. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, begitu pula matannya. Hal ini disepakati pula oleh Imam Adz Dzahabi, ia mengatakan bahwa hadits ini shahih gharib). Selesai nukilan dari kitab karya Shafiyurrahman Al Mubarakfuri.

Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Demikianlah, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Saw, mereka melihat sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mengira bahwa Nabi Saw masih tidur. Selang beberapa waktu karena orang-orang kafir tidak kunjung tidur, Rasulullah mengambil tanah lalu dibacakan Q.S Yasin ayat 9 yang berbunyi “فأغشيناهم فهم لا يبصرون” lalu tanah tersebut dilempar keluar dan tidak lama kemudian orang-orang kafir tersebut tertidur. Kemudian setelah itu, orang-orang kafir amat sangat marah karena ternyata adalah Ali (RA) yang berada di tempat tidur Nabi Muhammad (SAW), maka pencarian dan pengejaran secara besar-besaran terhadap Rasulullah (SAW) pun mereka lakukan. Mereka mengumumkan sayembara berhadiah 100 ekor onta bagi siapa saja yang dapat menyerahkan kepala Nabi (SAW). Pada saat itu Nabi dan Sahabat Abu Bakar tengah pengejaran para kaum musyrikin quraisy. Mereka hendak membunuh Nabi sebagai upaya memadamkan cahaya islam. Namun, upaya pengejaran belum berhasil karena banyak pertolongan Allah diberikan kepada Nabi dan Abu Bakar.

Terlihat dari adanya sarang laba-laba dan sarang telur merpati di pintu gua tsur. Sehingga mengindikasikan tidak ada orang di dalamnya. Di gua Tsur wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar. “Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”. Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki mulia yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut… mereka membunuh Muhammad. Berdua mereka berhadapan, dan sepakat untuk bergantian berjaga. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya, cinta… Sejeda kemudian, Muhammad tertidur di pangkuan Abu Bakar. Dalam senyapnya malam, wajah Abu Bakar muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun menganggumu”. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih yang sangat kelelahan itu. Abu Bakar meringis ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua. “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” “Seekor ular baru saja menggigit saya wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat” Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibirnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?” “Saya khawatir membangunkanmu dari lelap” jawab Abu Bakar. Ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah. Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Rasulullah berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah. “Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”. Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. “Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian. Lalu Nabi Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu ” Wahai ular Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?” Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau. “Ya hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,” kata sang ular. “Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lan jut sang ular. Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam? “Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT. “Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur. “Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari gua Tsurpun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu. Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

Rasullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) tinggal di dalam goa Tsur pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Selama itu, berlangsung pertolongan bagi mereka berdua.

1 Abdullah bin Abu Bakar (RA) mendatangi goa pada malam hari dan menyampaikan berita perihal berbagai rencana dan kegiatan orang-orang kafir kepada mereka berdua. Sebelum fajar ia sudah kembali ke Makkah sehingga seolah-olah ia selalu berada di Makkah.

2 Amar bin Fuhairah menggiring domba-domba gembalaannya ke dalam goa pada malam hari sehingga Rasulullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) bisa minum susu domba hingga cukup kenyang. Amar menggiring kembali domba-dombanya ke Makkah sebelum fajar selang beberapa waktu setelah Abdullah bin Abu Bakar kembali ke Makkah, dengan demikian jejak kaki Abdullah terhapus oleh jejak domba-domba itu.

3 Abdullah bin Ariqat Laitsi, seorang kafir yang dapat dipercaya dan bekerja sebagai pemandu yang diupah oleh Abu Bakar (RA) datang ke goa ini, setelah hari ke-tiga, membawa dua ekor onta.

4 Pada waktu itu Abu Bakar (RA) menawarkan satu dari onta itu kepada Nabi (SAW) sebagai hadiah. Namun beliau (SAW) memaksa membeli onta itu. Abu Bakar (RA) pun akhirnya bersedia menerima pembayaran sebesar empat ratus dirham untuk onta itu. Onta inilah yang kemudian dikenal sebagai onta Rasulullah (SAW) yang dinamai Quswa.

5 Dengan dipandu oleh Abdullah bin Ariqat, mereka berdua memulai perjalanan menuju Madinah. Amar juga menyertai perjalanan mereka.

Diriwayatkan bahwa Nabi dan Abu bakar melakukan perjalanan bersama dua orang penunjuk jalan yaitu Abdullah bin Uraiqith dan Amir Bin Fuhairah dengan berkendaraan unta. Kaum musyrikin quraisy setelah kehilangan Nabi dan Abu Bakar, mereka sibuk menyiarkan ke sekeliling kota Mekah dan kepada Suku-suku dan kabilah, kepala-kepalanya dimintai pertolongan untuk mencari Nabi Muhammad. Siapapun yang berhasil menangkap nabi akan diberikan 100 ekor unta. Di tengah perjalanan di sebuah dusun bernama qudaidin. Salah seorang penduduknya mengenali Nabi dan sahabat Abu bakar. Kemudian diceritakan kepada pemimpin kabilahnya bernama Suraqah bin Malik Al Mudlij. Namun Suraqah menyangkalnya karena ia ingin menangkapnya sendirian. Secepatnya Suraqah mengejar perjalanan Nabi dan Sahabat Abu Bakar. Abu bakar yang mengetahui ada seseorang mengejarnya merasa khawatir sampai menangis kalau orang tersebut menangkap Nabi. Nabi pun berdoa’a kepada Allah dan dengan kehendak Allah berulang kali kuda yang ditunggangi Suraqah tergelincir dan Suraqah jatuh terpelanting ke tanah. Keluarlah rasa bahwa kemenangan akan di dapat oleh Nabi Muhammad. Kemudian Suraqah memanggil nama Nabi dan meminta perlindungan dari bahaya dan juga mengucapkan beribu maaf. Akhirnya mengadakan perjanjian tertulis. Dari Suraqahlah Nabi mulai mengetahui tentang imbalan 100 ekor unta jika berhasil menangkapnya. Nabi tersenyum dan memerintahkan untuk merahasiakan tentang kepergian dirinya. Selanjutnya Nabi dan sahabat Abu Bakar singgah di sebuah perkemahan milik seorang perempuan bernama Ummu Ma’bad. Mereka hendak membeli kurma, daging, dan air susu. Pada saat itu nabi melihat seekor kambing yang kurus menderita payah dan sakit. Beliau hendak memerah susunya dengan ijin Allah memancarlah begitu banyak air susu, padahal kambing itu sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air susu. Peristiwa menakjubkan ini diceritakan kembali oleh Ummu Ma’bad kepada suaminya Abu Ma’bad. Sampai-sampai ia pun bercita-cita jika bertemu Nabi ingin menjadi pengikut dan sahabatnya. Sesudah itu, bertemu pula dengan rombonganm kafilah dari Qabilah Banu Sahmin yang dikepalai oleh Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslamy. Buraidah yang berhasrat mendapatkan hadiah 100 ekor unta ingin pula menangkap Nabi. Beserta 70 orang kaumnya hendak menangkap Nabi namun dengan kehendak Allah seketika itu mereka semua membaca Syahadat dan berislam. Sebelum sampai di Madinah beliau telah mendapat pengikut baru yang dijumpai selama perjalanan. Mereka mengiringi Nabi hingga ke Madinah. Saat masuk ke Madinah dikibarkanlah bendera.

JALAN UNTUK BERTEMAN DENGAN PARA NABI, SHIDDIQIN, SYUHADA & SHALIHIN DI AKHIRAT

JALAN UNTUK BERTEMAN DENGAN PARA NABI, SHIDDIQIN, SYUHADA & SHALIHIN DI AKHIRAT
(NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI DI MENARA KUDUS)
By: MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
24/5/2018

QS. An-Nisa’ [4]: 66-71
بسم الله الرحمن الرحيم
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66) وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69) ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (70) ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا (71)

Artinya : (66) Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (67) dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami (68) dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus (69) Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (70) Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui (71) Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama

Ayat 66-68

Setelah menetapkan bahwa tidak ada iman sebelum bertahkim kepada Rasulullah, maka Allah mengatakan kembali bahwa manhaj yang mereka seru kembali kepadanya dan syariat yang mereka perintahkan marupakan manhaj yang mudah, lapang dan penuh kasih kasah. Dia tidak membebani tugas sesuatu pun melebihi kemampuan mereka, menyulitkan atau dengan perngorbanan yang berat.

Islam memberikan kemudahan kepada mereka semua untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan yang harus mereka tunaikan dan menghindari kemaksiatan-kemaksiatan yang dilarang.

Berikut contoh tuntutan yang mengindikasikan betapa mudahnya menjalankan manhaj pentaubatan umat dahulu dan umat Nabi Muhammad:

1 Umat bani Israil diberi tuntutan untuk melakukan bunuh diri atau keluar dari kampung dari kampung halamannya jikalau mau diterima taubatnya.

2 Umat Nabi Muhammad cukup dengan membaca istighfar atau sayyidul istighfar maka Allah sudah menerima taubatnya.

Membunuh diri sendiri dan keluar dari kampung halaman merupakan dua buah contoh tuntutan yang amat berat, yang seandainya diwajibkan kepada mereka niscaya tidak akan ada yang mau melaksanakanya kecuali sebagian kecil saja. Taklif itu dimaksudkan untuk mengatur masyarakat muslim dengan segala tingkat spiritualitas, himmah dan kodratnya , oleh karenya hal itu tidak dituntut atas mereka. Persoalanya hanyalah kemauan manusia dan keikhlasan niat untuk melaksanakanya.

Seandainya mereka mau menunaikan tugas-tugas mudah yang diwajibkan Allah atas mereka serta mau menderngarkan nasihat dan pengajaran yang diberikan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan kebaikan yang besar di dunia dan di akhirat.

Ayat 69-70

Asbabun Nuzul

ذكر سبب نزول هذه الآية الكريمة:
قال ابن جرير: حدثنا ابن حميد، حدثنا يعقوب القُمي، عن جعفر بن أبي المغيرة، عن سعيد بن جُبير قال: جاء رجل من الأنصار إلى النبي صلى الله عليه وسلم وهو محزون، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: “يا فلان، ما لي أراك محزونًا؟” قال: يا نبي الله شيء فكرت فيه؟ قال: “ما هو؟” قال: نحن نغدو عليك ونروح، ننظر إلى وجهك ونجالسك، وغدا ترفع مع النبيين فلا نصل إليك. فلم يرد النبي صلى الله عليه وسلم عليه شيئا، فأتاه جبريل بهذه الآية: { وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَم اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ [وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا] } فبعث النبي صلى الله عليه وسلم فبشره.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diinformasikan kepadanya oleh Ibnu Humaid, dari Ya’qub as-Saqami, dari Ja’far bin Abil Mughirah, dari Said bin Jubair bahwa ia berkata, “Seorang laki-laki Anshar datang kepada Rasulullah dalam keadaan sedih hati. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, mengapa saya lihat kamu bersedih hati? Dia menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, ada sesuatu yang ku pikirkan’, Beliau bertanya, ‘Apa itu? Dia menjawab ‘Kami biasa bersamamu pagi dan petang, kami lihat wajahmu, dan duduk bersamamu. Akan tetapi besok, Engkau akan berada ditampat yang tinggi bersama para nabi, sehingga kami tidak akan dapat menggapaimu’. Maka Nabi tidak menjawabnya sama sekali, kemudian Malaikat Jibril datang menbawa ayat ini. Maka bangkitlah Nabi dan memberikan kabar gembira kepada orang itu.

Tafsiran Ayat

ثم قال تعالى: { وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا } أي: من عمل بما أمره الله ورسوله، وترك ما نهاه الله عنه ورسوله، فإن الله عز وجل يسكنه دار كرامته، ويجعله مرافقًا للأنبياء ثم لمن بعدهم في الرتبة، وهم الصديقون، ثم الشهداء، ثم عموم المؤمنين وهم الصالحون الذين صلحت سرائرهم وعلانيتهم. ثم أثنى عليهم تعالى فقال: { وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا }

‎Allah berfirman (وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا) “(69) Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (70) Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui” Artinya, barangsiapa melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah akan menempatkanya di tempat kehormatan-Nya (Surga) dan menjadikanya pendamping para Nabi, kemudian orang-orang yang derajatnta dibawah mereka. Yaitu para Shiddiq, para suhada’ (orang yang mati syahid), lalu mukminin secara umum, yaitu orang-orang shalih yang baik (benar) pada sesuatu yang tersembunyi dan tampak. Kemudian Allah memuji mereka dengan firman-Nya (وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا) “Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”

NB: As-Shiddiqin (الصديقين) disini yang dimaksud adalah أفاضل أصحاب النبي yang artinya “Sahabat-sahabat nabi yang luhur”

Bagaimana mentaati Allah dan Rasul?
1. Memperbanyak baca Al-Qur’an
قال الإمام أحمد أيضا: حدثنا أبو سعيد مولى أبي هاشم، حدثنا ابن لهيعة، عن زَبَّان بن فائد، عن سهل بن معاذ بن أنس، عن أبيه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من قرأ ألف آية في سبيل الله كتب يوم القيامة مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، وحسن أولئك رفيقا، إن شاء الله”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Muadz bin Anas dari Ayahnya , bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca seribu ayat di jalan Allah, niscaya Allah akan mencatatnya pada hari Kiamat bersama Nabi, Siddiqin, Syuhada’, dan Shalihin. Itulah sebaik-baik teman, insyaAllah”

2. Menjadi Pedagang yang Jujur lagi amanah
وروى الترمذي من طريق سفيان الثوري، عن أبي حمزة، عن الحسن البصري، عن أبي سعيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء”.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Said, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Pedaganng yang jujur lagi amanah akan bersama para Nabi, Siddiqin, dan Syuhada”. (Kemudian dia berkata: “Hadis ini hasan yang kami tidak ketahui kecuali dari jalan ini)

3. Mencintai dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
المرء مع من أحب
Nabi Bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”

KONTRADIKSI ORANG MUNAFIK; PENGAKUAN BERIMAN TAPI BERTAHKIM KEPADA THAGHUT (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI/23-5-2018) 

QS. An-Nisa’ [4]: 60-65
بسم الله الرحمن الرحيم
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63) وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (64) فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

Artinya : (60) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya (61) Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu (62) Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna” (63) Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka (64) Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (65) Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Setelah selesai menetapkan kaidah kulliyah ‘kaidah umum’ tentang syaray uman dan batasan Islam, juga tentang peraturan pokok bagi umat Islam, serta mengenai manhaj penetapan hukum dan prinsip-prinsipnya, maka nash berikutnya menoleh kepada orang-orang yang menyimpang dari kaidah ini tetapi kemudian mengaku sebagai orang-orang mukmin. Padahal mereka merusak syaray iman dan batasan Islam karena mereka ingin bertahkim kepada selain syariat Allah.

Nash ini menoleh kepada mareka karena merasa heran dan menganggap mungkar sikap mereka itu, serta untuk mengingatkan mereka terhadap keinginan setan untuk menyesatkan mereka. Ayat ini juga menjelaskan keadaan dan sikap mereka ketika diajak mengikuti apa yang diturunkan Allah dan untuk mengikuti Rasul, tetapi kemudian mereka tidak mau bahkan menghalang-halangi orang lain untuk mengikutinya. Ayat ini menganggap sikap menghalang-halangi ini sebagai tanda kemunafikan sebagaimana ia menganggap bahwa keinginan untuk bertahkim kepada thaghut ini berarti sudah keluar dari iman. Selain itu ayat ini juga menjelaskan alasan-alasan mereka yang lemah dan dusta ketika mereka mengikuti jalan yang mungkar itu, pada waktu mereka ditimpa bahaya dan bencana. Disamping itu, ayat ini juga memberikan arahan kepada Rasulullah untuk berlaku tulus dan senantiasa menasihati mereka.

Kemudian segmen ini ditutup dengan menjelaskan apa yang dikehendaki Allah dalam mengutus para rasul itu yaitu untuk ditaati. Selanjutnya melalui nash yang jelas dan tegas, Dia menegaskan kembali syarat iman dan batasan Islam.

Ayat 60-63

Tafsiran Ayat
هذا إنكار من الله، عز وجل، على من يدعي الإيمان بما أنزل الله على رسوله وعلى الأنبياء الأقدمين، وهو مع ذلك يريد التحاكم في فصل الخصومات إلى غير كتاب الله وسنة رسوله، كما ذكر في سبب نزول هذه الآية: أنها في رجل من الأنصار ورجل من اليهود تخاصما، فجعل اليهودي يقول: بيني وبينك محمد. وذاك يقول: بيني وبينك كعب بن الأشرف. وقيل: في جماعة من المنافقين، ممن أظهروا الإسلام، أرادوا أن يتحاكموا إلى حكام الجاهلية. وقيل غير ذلك، والآية أعم من ذلك كله، فإنها ذامة لمن عدل عن الكتاب والسنة، وتحاكموا إلى ما سواهما من الباطل، وهو المراد بالطاغوت هاهنا؛ ولهذا قال: {يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ [وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا . وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنزلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا] وقوله: {يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا} أي: يعرضون عنك إعراضا كالمستكبرين عن ذلك، كما قال تعالى عن المشركين: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا } [لقمان:21]هؤلاء وهؤلاء بخلاف المؤمنين، الذين قال الله فيهم: { إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا [وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ]} [النور: 51] فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا . ثم قال تعالى في ذم المنافقين: { فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ } أي: فكيف بهم إذا ساقتهم المقادير إليك في مصائب تطرقهم بسبب ذنوبهم واحتاجوا إليك في ذلك،. { ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا } أي: يعتذرون إليك ويحلفون: ما أردنا بذهابنا إلى غيرك، وتحاكمنا إلى عداك إلا الإحسان والتوفيق، أي: المداراة والمصانعة، لا اعتقادا منا صحة تلك الحكومة، ثم قال تعالى: { أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ } [أي] هذا الضرب من الناس هم المنافقون، والله يعلم ما في قلوبهم وسيجزيهم على ذلك، فإنه لا تخفى عليه خافية، فاكتف به يا محمد فيهم، فإن الله عالم بظواهرهم وبواطنهم؛ ولهذا قال له: { فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ } أي: لا تعنفهم على ما في قلوبهم { وَعِظْهُمْ } أي: وانههم على ما في قلوبهم من النفاق وسرائر الشر { وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا } أي: وانصحهم فيما بينك وبينهم بكلام بليغ رادع لهم.

ِAyat ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang mengaku beriman dengan apa yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, dan Nabi-nabinya yang terdahulu, tetapi bersamaan dengan itu, dalam memutuskan berbagai persengketaan, mereka berhukum bukan kepada Kitabullah dan Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam sebab turunya ayat ini, bahwa ada seorang laki-laki Anshar dan seorang laki-laki Yahudi sedang bersengketa, lalu orang Yahudi itu berkata : “Antara aku dan engkau ada Muhammad”. Sedangkan orang Anshar itu berkata: “Antara aku dan engkau ada Ka’ab bin Al-Asyraf”.

Sejumlah gambaran yang disebutkan dalam nash-nash ini member kesan bahwa semua itu terjadi pada masa-masa awal hijrah, masa ketika kaum munafik masih begitu gencar melakukan serangan, dan kaum Yahudi –yang bekerja sama dengan kaum munafik itu- masih kuat.

Mereka yang hendak berhakim kepada selain syariat Allah yakni kepada thaghut, itu mungkin golongan munafik sebagaimana secara eksplisit disebutkan dalam ayat kedua dari segmen ini. Mungkin juga mereka adalah golongan Yahudi yang diserukan untuk bertahkim kepada kitab Allah (Taurat) dan kepada hukum Rasulullah SAW dalam menyelesaikan kasus yang terjadi di antara mereka atau antara mereka dan penduduk Madinah, tetapi mereka menolak seruan itu dan bertahkim kepada tradisi jahiliyyah yang berlaku.

Kami menguatkan pendapat yang pertama, mengingat firman Allah mengenai mereka yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Sedangkan orang-orang Yahudi tidak pernah menyatakan masuk Islam atau mengaku telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasulullah , hanya kaum munafiklah yang mengaku dirinya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan kitab yang diturunkan sebelumnya.

Peristiwa ini tidak pernah terjadi melainkan pada tahun-tahun pertama hijrah, sebelum dicabutnya duri-duti Yahudi di kalangan Bani Quraidhah dan di Khaibar. Juga sebelum lumpuhnya kaum munafik dengan berakhirnya peran kaum Yahudi di Madinah.

Dan dikatakan, bahwa sebab turunya ayat ini bukan itu, akan tetapi ayat tersebut mencakup lebih umum dari hal itu semua. Karena ia mengandung celaan terhadap orang yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunah. Sedangkan berhukum kepada selain kedunaya merupakan kebathilan dan itulah yang dimaksud dengan thaghut dalam ayat ini. Untuk itu Allah berfirman (يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ) “Mereka hendak berhakim kepada thaghut” hingga akhir ayat.

Firman Allah (يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا) “Mereka menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu”, yaitu mereka berpaling darimu seperti orang-orang yang sombong hal itu. Kemudian Allah berfirman mencela orang-orang munafiq (فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ) “Maka bagaimanakah halnya apabila mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri”. Artinya, bagaimana keadaan mereka jika takdir menggiring mereka kepadamu dan mereka pun butuh kepadamu di saat berbagai musibah dating silih berganti menerpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka.

(ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا) “Kemudian mereka dating kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selaian penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Yaitu, mereka mohon maaf kepadamu dan bersumpah: “Kepergian kami kepada orang lain dan berhukumnya kami kepada musuh-musuhmu itu tidak lain kecuali kami menhendaki kebaikan dan perdamain, yaitu hanya berpura-pura bukan karena keyakinan kami tengang sahnya (benarnya) tahkim tersebut.

Kemudian Allah berfirman (أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ) “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka”. Manusia kelompok ini adalah kaum munafik. Dimana Allah Maha Mengetahui apa yang terdapat di dalam hati mereka dan mereka pun akan dibalas oleh Allah atas perbuatanya itu. Kerena tidak ada suatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Maka merasa cukuplah dengan-Nya tentang mereka, ya Muhammad! Karena Allah Maha mengetahui zhahir dan batin mereka. Untuk itu Allah berfirman kepada beliau (فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ) “Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka. Yaitu, jangan engkau bersikap kasar terhadap apa yang ada di dalam hati mereka (وَعِظْهُمْ) “dan berilah mereka pelajaran”, Yaitu laranglah mereka dari kemunafikan dan rahasis-rahasia jahat yang tertanam dalam hati mereka. (وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا) “Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang dapat membekas jiwa mereka” Yaitu, berilah nasehat kepada mereka dalam semua perkara yang terjadi antara engkau dan mereka, dengan kata-kata yang berbekas yang dapat mencegah mereka.

Sebuah ungkapa deskriptif. Seakan-akan perkataan itu memberikan bekas secara langsung pada jiwa, dan menetap secara langsung di dalam hati.

Itu adalah perkataan yang mempersuasi mereka untuk sadar kembali, bertobat, bersikap istiqomah dan merasa tenang dibawah lindungan Allah dan jaminan Rasulullah, setelah tampak jelas dari mereka kecenderungan untuk bertahkim kepada thagut dan tidak mau mengikuti Rasulullah ketika mereka diseur untuk bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ayat 64-65

يقول تعالى: { وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ } أي: فرضت طاعته على من أرسله إليهم وقوله: { بِإِذْنِ اللَّهِ } قال مجاهد: أي لا يطيع أحد إلا بإذني. يعني: لا يطيعهم إلا من وفقته لذلك، كقوله: { وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ } [آل عمران:52] أي: عن أمره وقدره ومشيئته، وتسليطه إياكم عليهم. وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا} يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيم}. وقوله: { فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } يقسم تعالى بنفسه الكريمة المقدسة: أنه لا يؤمن أحد حتى يُحَكم الرسول صلى الله عليه وسلم في جميع الأمور، فما حكم به فهو الحق الذي يجب الانقياد له باطنا وظاهرا؛ ولهذا قال: { ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } أي: إذا حكموك يطيعونك في بواطنهم فلا يجدون في أنفسهم حرجا مما حكمت به، وينقادون له في الظاهر والباطن فيسلمون لذلك تسليما كليا من غير ممانعة ولا مدافعة ولا منازعة، كما ورد في الحديث: “والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به”. وقال البخاري: حدثنا علي بن عبد الله حدثنا محمد بن جعفر، أخبرنا مَعْمَر، عن الزهري، عن عُرْوَة قال: خاصم الزبير رجلا في شُرَيج من الحَرَّة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “اسق يا زُبير ثم أرْسل الماء إلى جارك” فقال الأنصاري: يا رسول الله، أنْ كان ابن عمتك ؟ فَتَلَوَّن وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال: “اسق يا زبير، ثم احبس الماء حتى يرجع إلى الجدْر، ثم أرسل الماء إلى جارك” واستوعى النبي صلى الله عليه وسلم للزبير حَقّه في صريح الحكم، حين أحفظه الأنصاري، وكان أشار عليهما بأمر لهما فيه سعة. قال الزبير: فما أحسب هذه الآية إلا نزلت في ذلك: { فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } الآية. وهكذا رواه البخاري هاهنا أعني في كتاب: “التفسير” من صحيحه من حديث معمر: وفي كتاب: “الشرب” من حديث ابن جُرَيْج ومعمر أيضا، وفي كتاب: “الصلح” من حديث شعيب بن أبي حمزة، ثلاثتهم عن الزهري عن عروة، فذكره وصورته صورة الإرسال، وهو متصل في المعنى.

Allah berfirman (وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ) “Dan tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati”.Artinya aku wajibkan utnuk mentaati orang yang diutus kepada mereka. Dan Firman-Nya (بِإِذْنِ اللَّهِ) “Dengan izizn Allah” Mujahid berkata: “Yaitu, tidak ada seseorang pun yang taat kecuali dengan izin-Ku; yakni, tidak ada seorang pun yang mentaatinya, kecuali orang yang Aku beri taufik, seperti firman-Nya (وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ) “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya (Q.S Ali Imran : 152) Yaitu dari perintah, qadar, kehendak, dan kekuasan-Nya dan penguasaan-Nya untuk kalian terhadap mereka.

Sedangkan firman-Nya (وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ) “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya” Allah mengarahkan para pelaku maksiat dan para pelaku dosa, jika terjatuh dalam kekeliruan dan kemaksiatan untuk dating kepada Rasulullah dalam rangka meminta ampun kepada Allah di sisinya serta meminta kepada beliau untuk memohonkan ampunan bagi mereka. Jika mereka melakukan demikian, niscaya Allah akan menerima taubat mereka, mengasihi dan mengampuni mereka. Untuk itu, Allah berfirman, (لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيم) “Tentulah mereka mendapati Allah Maha penerima taubat Maha Penyayang”.

Firman-Nya, (فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ) “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. Allah bersumpah dengan diri-Nya yang Mahamulia, bahwa seseorang tidak beriman hingga ia berhukum kepada Rasulullah dalam seluruh perkara. Hukum apa saja yang diputuskannya, itulah yang wajib dipatuhi secara total, lahir dan batin. Untuk itu Allah berfirman (ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) “Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. Yaitu apabila mereka berhukum kepadamu, mereka mentaatimu dalam hati mereka dan tidak didapati dalam jiwa mereka rasa keberatan terhadap apa yang telah engkau putuskan, mereka pun mematuhinya secara dhahir dan bathin, serta menerimanya dengan penuh tanpa keengganan, penolakan dan pembangkangan. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis:

والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
“Demi Rabb yang jiwaku ada dikekuasaan-Nya. Salah seorang kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa”

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Urwah ia berkata : “Az-Zubair bersengketa dengan seorang laki-laki tentang saluran air. Lalu Nabi bersabda: “Siramlah hai Zubair, lalu salurkanlah kepada tetanggamu” kemuadian orang Anshar itu berkata: “Ya Rasulallah, apakah karena ia anak pamanmu?” Maka wajah Nabi pun berubah, lalu bersabda: “Ya Zubair! Siramlah, kemudian tahanlah air hingga memenuhi parit. Kemudian, alirkanlah air itu ke tetanggamu”. Maka Nabi mengambilkan Zubair semua haknya dalam keputusan yang jelas, ketika orang Anshar membikin marah. Dan adalah Nabi memberikan jalan keluar kepada keduanya terhadap urusan kedunya yang mengandung keluasan”. Az-Zubair berkata: “Saya kira ayat ini tidak turun, kecuali berkenaan dengan masalah tersebut (فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ) “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. Demikian yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab at-Tafsir, bentuknya adalah mursal dan secara makna adalah muttasil.

Umat Nabi Muhammad SAW memang beragam. Dikisahkan dari Abu Hurairah bahwa ada seorang sahabat menemui Rasulullah SAW:

فَقَالَ هَلَكْتُ فَقَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَاقَعْتُ امْرَأَتِي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ فَأَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ لَيْسَ عِنْدِي قَالَ فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ تَصَدَّقْ بِهَذَا فَقَالَ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنْ أَهْلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرَ مِنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْتُمْ إِذًا وَضَحِكَ

Kemudian ia berkata, “Aku telah celaka! “ Beliau bertanya: “Apa yang membuatmu celaka?” Ia menjawab, “Aku telah menggauli isteriku pada bulan Ramadan.” Beliau bersabda: “Bebaskanlah seorang budak.” Ia berkata, “Aku tidak memiliki budak.” Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia berkata, “Aku tidak mampu.” Beliau bersabda: “Berilah makan enam puluh orang miskin.” Ia berkata, “Aku tidak mendapatkan makanan.” Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi keranjang yang berisi kurma“, kemudian beliau berkata: “Dimanakah orang yang bertanya? Bersedekahlah dengan ini.” Orang itu lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus bersedekah kepada orang yang lebih fakir dari keluargaku? Demi Allah, tidak ada di antara dua daerah yang berbatu hitam (yaitu Madinah) yang lebih fakir daripada kami.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu untuk kalian saja.” Beliau berikan kurma tersebut sambil tertawa hingga nampak gigi-gigi taringnya.”

Kafarat bagi orang batal puasa karena menggauli istri pada waktu berpuasa adalah tertib sesuai urutan berikut:
1. Memerdekakan budak, jika tidak mampu maka
2. Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa putus, jika tidak mampu maka
3. Memberi makan 60 orang miskin tiap satu orang 1 mud
Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat dermawan. Dalam Syarh Bukhari karya Abi Jamrah disebutkan dari Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا مَدِيْنَةُ السَّخَاءِ وَأَبُوْ بَكْرٍ بَابُهَا

Saya adalah kota kedermawanan dan Abu Bakar adalah pintunya.

Penyataan Rasulullah SAW adalah nyata, sehingga tidak ada yang bisa menandingi kedermawanan Abu Bakar setelah kedermawanan beliau. Dikisahkan bahwa ketika menghadapi perang Tabuk Rasulullah mengajak umat Islam untuk mengumpulkan amal untuk biaya perang. Umar bin Khathab berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku.” Rasulullah bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini (separuh harta).’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?‘ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Allah dan Rasulullah bagi mereka.’ Umar berkata, “Demi Allah, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.’

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
Ngaji Tafsir Al Qur’an di Masjid Menara pada  Rabu, 7 Ramadlan 1439

AMANAT DAN DALIL-DALIL SYAR’IYYAH (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 22-5-2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 57-59
بسم الله الرحمن الرحيم
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا (57) إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Artinya : (57) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman (58) Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (59) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Ayat 57

Tafsiran Ayat

وقوله: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} هذا إخبار عن مآل السعداء في جنات عدن، التي تجري فيها الأنهار في جميع فجاجها ومحالها وأرجائها حيث شاؤوا وأين أرادوا، وهم خالدون فيها أبدا، لا يحولون ولا يزولون ولا يبغون عنها حولا. وقوله: {لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ} أي: من الحيض والنفاس والأذى. والأخلاق الرذيلة، والصفات الناقصة، كما قال ابن عباس: مطهرة من الأقذار والأذى. وكذا قال عطاء، والحسن، والضحاك، والنخعي، وأبو صالح، وعطية، والسدي. وقال مجاهد: مطهرة من البول والحيض والنخام والبزاق والمني والولد. وقال قتادة : مطهرة من الأذى والمآثم ولا حيض ولا كلف. وقوله: {وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا} أي: ظلا عميقا كثيرا غزيرا طيبا أنيقا..

Allah berfirman (وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا) “Sedangkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya selama-lamanya” Ini adalah informasi tentang tempat kembalinya su’ada (orang-orang yang beruntung) di dalam surga ‘Adn , yang mengalir sungai-sungai di seluruh lembahnya, diseluruh tempatnya dan di seluruh penjuru dimanapun dan ke mana pun mereka kehendaki. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarga Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Di balik pemanangan yang menyedihkan dan memilukan, kita dapati “ orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh” berada di dalam taman-taman surge yang teduh yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Sungai-sungai tersebut untuk setiap orang bukan kelompok orang atau masyarakat yang mana didalamnya terdiri dari:
1) Sungai yang berisi air yang jernih (kinclong)
2) Sungai yang berisi air susu
3) Sungai yang berisi arak
4) Sungai yang berisi madu

Kita jumpai pula dalam pemanangan itu kemantapan, keabadian, ketenangan, dan ketentraman yang berisi kenikmatan, tidak pernah merasakan mulas, kepingin buang air kecil/besar, dan tidak merasakan sakit. Oleh karenanya di surga tidak ada WC atau rumah sakit (RS).

Firman Allah (لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ) “Di dalamnya mereka memiliki istri-istri yang suci” yaitu dari haid, nifas, kotoran, akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat hina, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Sedangkan Qatadah berkata: yaitu suci dari kotoran, dosa, haid, dan beban tanggung jawab (tidak beranak). Dan firmanNya (وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا) “Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. Yaitu naungan yang luas, lebat, rindang, indah dan bagus. Sehingga setiap orang tidak perlu repot memilih tempat yang teduh untuk mendapatkan kenyamanan seperti keadaan saat di dunia.

Ayat 58

Asbabun Nuzul

قال ابن جرير: حدثني القاسم حدثنا الحسين، عن حجاج، عن ابن جريج [قوله: { إِنّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا } ] قال: نزلت في عثمان بن طلحة قبض منه النبي صلى الله عليه وسلم مفتاح الكعبة، فدخل به البيت يوم الفتح، فخرج وهو يتلو هذه فدعا عثمان إليه، فدفع إليه المفتاح، قال: وقال عمر بن الخطاب لما خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من الكعبة، وهو يتلو هذه الآية: فداه أبي وأمي، ما سمعته يتلوها قبل ذلك..

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ustman bin Thalhah di saat Rasulullah mengambil kunci Ka’bah darinya, lalu beliau masuk ke dalam Baitullah pada Fathu Makkah. Di saat beliau keluar beliau mambaca ayat ini. Lalu Beliau memanggil Utsman dan menyerahkan kunci itu kambali.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang meminta kunci adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib namun ia meminta kunci kepada juru kunci Makkah (Ustman bin Thalhah bin Abdullah bin Abdul Uzza bin Ustman bin Abdud Daar bin Qushoi bin Kilab Al-Quraisy) dengan keras dan sedikit memaksa. Setelah itu Nabi Muhammad dating dan menegur Ali untuk mengembalikan dengan membacakan ayat ini seusai menggunakanya dengan nada yang lemah lembut. Dan berangkat dari kelembutan itu yang menjadikan sabab Ustman bin Thalhah masuk islam. Subhanallah…

Ayat ini turun baik berkenaan dengan peristiwa tersebut atau tidak, yang pasti hukumnya tetap berlaku umum dengan indikasi penggunaan bentuk plural atau jamak (yang memiliki makna lebih dari satu) pada lafadl الأمانات. Untuk itu Ibnu Abbas dan Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata:

هي للبر والفاجر، أي: هي أمر لكل أحد
“Hukumnya untuk orang yang baik dan yang zhalim, yaitu perintah untuk setiap orang (bukan golongan atau kelompok)”

Dalam ayat ini Allah mengabarkan, bahwa Dia memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada ahlinya. Di dalam hadis al-Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah bersabda:

أد الأمانة إلى من ائتمنك، ولا تخن من خانك

“Tunaikanlah amanah kepada yang memberikan amanah dan jangan khianati orang yang berkhianat kepadamu” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan)

Hal itu mencakup seluruh amanah yang wajib bagi manusia, berupa hak-hak Allah terhadap para hamban-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, kafarat, nadzar dan lain sebagainya, yang kesemuanya adalah amanah yang diberikan tanpa pengawasan hambaNya yang lain. Serta amanah yang berupa hak-hak adami (hamba dengan hamba yang lainnya) seperti titipan yang hal tersebut dilakukan tanpa pengawasan saksi. Itulah yang diperintahkan oleh Allah untuk ditunaikan. Barangsiapa yang tidak melakukanya di dunia ini, maka akan dimintai pertanggungjawabannya di hari Kiamat, sebagaimana yang terdapat di dalam hadis shahih bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

لتؤدن الحقوق إلى أهلها، حتى يقتص للشاة الجماء من القرناء
“Sungguh kamu akan tunaikan hak kepada ahlinya, hingga akan diqishah untuk (pembelasan)seekor kambing yang tidak bertanduk terhadap kambing yang bertanduk”

Diantara amanat-amanat ini –yang masuk ditengah-tengah amanat yang disebutkan di muka- adalah amanat dalam bermuamalah sesame manusia dan menunaikan amanat kepada mereka. Amanat dalam bermuamalah seperti amanat yang berupa titipan materi, amanat berupa kesetiaaan rakyat kepada pemimpin dan kesetiaan pemimpin kepada rakyat, amanat untuk memelihara anak-anak kecil, amanat menjaga kehormatan jamaah-harta benda dan wilayahnya serta semua kewajiban dan tugas dalam kedua lapangan kehidupan itu secara garis besar. Inilah amanat-amanat yang diperintahkan Allah untuk ditunaikan.

Tafsiran Ayat selanjutnya

وقوله: { وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ } أمر منه تعالى بالحكم بالعدل بين الناس؛ ولهذا قال محمد بن كعب وزيد بن أسلم وشهر بن حوشب: إنما نزلت في الأمراء، يعني الحكام بين الناس.

Firman Allah (وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ) “Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil”adalah perintah dari-Nya untuk menetapkan hukum di antara manusia dengan adil. Untuk itu Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Syahr bin Hausyab berkata:

إنما نزلت في الأمراء، يعني الحكام بين الناس
“Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk para umara, yaitu pemutus hukum di antara manusia”

Keadilah merupakan hak setiap manusia hanya karena dia diindentifikasi sebagai manusia. Maka identitas sebagai manusia inilah yang menjadikanya berhak mendapat keadilan menurut manhaj rabbani. Identitas ini dikenakan untuk semua manusia, muknin ataupun kafir, teman ataupun lawan, orang berkulit putih atau berkulit hitam, orang Arab ataupun orang Ajam (non Arab) dan lain sebagainya.

وقوله: { إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ } أي: يأمركم به من أداء الأمانات، والحكم بالعدل بين الناس، وغير ذلك من أوامره وشرائعه الكاملة العظيمة الشاملة. وقوله: { إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا } أي: سميعا لأقوالكم، بصيرا بأفعالكم، كما قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زُرْعَة، حدثنا يحيى بن عبد الله بن بكير، حدثني عبد الله بن لهيعة، عن يزيد بن أبي حبيب، عن أبي الخير، عن عقبة بن عامر قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يقرئ هذه الآية { سَمِيعًا بَصِيرًا } يقول: بكل شيء بصير

Firman Allah (إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ) “Sesungguhnya Allah member pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu” Artinya, Allah perintahkan kalian untuk menunaikan amanah, menetapkan hukum di antara manusia dengan adil dan hal lainya yang mencakup perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya yang sempurna, agung dan lengkap. Kemudian firman-Nya (إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا) “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat”. Yaitu mendengar seluruh perkataan kalian dan melihat seluruh perbuatan kalian. Sebagaimana Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW membaca ayat ini (سَمِيعًا بَصِيرًا) “Maha mendengar lagi Maha melihat, beliau bersabda:

بكل شيء بصير
“Allah Maha melihat segala sesuatu”

Kita berhenti sebentar di sini untuk melihat ungkapan ini dari sudut metode penyampaianya. Susunan kalimat aslinya semestinya, “Innahuu ni’ma maa ya’izhukumullah bih (إنه نعم ما يعضكم الله به) , tetapi diubah menjadi kalimat tranformatif dengan mendahulukan lafadz Jalalah (Allah) dan dijadikanya sebagai “isim inna”, sedangkan perkataan “nikma maa / نعم ما” diidzghomkan menjadi “ni’imma / نعمّا” beserta semua mutaalliqat (pergantunganya) dalam posisi sebagai “khabar inna” sesudah membuang khabarnya. Hal ini untuk memberikan kesan betapa eratnya hubungan antara Allah dan pengajaran yang diberikan kepada mereka itu.

Sebenarnya itu bukanlah ‘izhah ‘pengajaran atau nasehat’, melainkan ‘perintah’. Hanya saja dalam kalimat ini diungkapkan dengan ‘izhah ‘pengajaran atau nasehat’, karena ‘izhah itu lebih berkesan dalam hati, lebih cepat masuk perasaan dan lebih dekat untuk menunaikanya, yang didorong oleh perasaan suka rela, keingginan dan rasa malu.

Kemudian pada ujung ayat diakhiri dengan kalimat yang menghubungkan perintah itu dengan Allah, menimbulkan rasa muraqabah, takut, dan berharap kepada-Nya.

“Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat”

Keserasian antara tugas-tugas yang diperintahkan yaitu menunaikan amanat-amanat dan memutuskan hukum dengan adil di antara manusia dengan Allah sebagai Zat Yang Maha Menderngan lagi Maha Melihat, memiliki relevansi yang jelas dan halus. Maka Allah senantiasa mendengar dan melihat masalah-masalah keadilah dan amanat. Keadilan itu juga memerlukan pendengaran dan penglihatan serta pengaturan yang baik. Juga memerlukan pemeliharaan semua hal yang melingkupi dan semua gejala, dan perlu memperhatikan dan memikirkan secara mendalam apa yang ada di balik fenomena-fenomena luar yang melingkupinya. Dan terakhir, perintah terhadap kedua hal ini bersumber dari Zat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat segala urusan

Ayat 59

Wa Ba’du, apakah gerangan yang menjadi ukuran amanat dan keadilan itu? Bagaimana kriterianya? Bagaimana gambaran, batasan dan pelaksanaanya dalam semua lapangan kehidupan dan semua aktifitas kehidupan?

Apakah akan kita serahkan madlul ‘materi / apa yang ditunjuki’ amanat dan keadilah dengan segala sarana pelaksanaan dan realisasinya kepada tradisi dan istilah masyarakat? Atau, kepada keputusan akal dan hawa nafsu mereka?

Sesungguhnya akal manusia memiliki pertimbangan dan penilaian karena ia adalah ia adalah salah satu alat untuk mengetahui dan alat petunjuk pada manusia. Hal ini adalah benar. Akan tetapi akal manusia adalah akal perseorangan dan masyarakat yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu, yang terpengaruh oleh berbagai macam pengaruh. Disana tidak ada yang disebut “akal manusia” secara muthlak, tetapi yang ada adalah akalku dan akalmu, pikiran si fulan dan si anu, atau pemikian sejumlah orang di suatu tempat dan pada suatu masa. Semua ini tidak lepas dari berbagai pengaruh yang bermacam-macam, yang menyebabkanya cenderung ke sini dan ke sana.

Oleh karena itu, harus ada timbangan yang mantap yang menjadi rujukan semua akal pikiran yang beraneka ragam. Sehingga, akal dan pikiran itu akan mengetahui sejauh mana kesalahan dan kebenaran-Nya dalam memutuskan hukum-hukum dan pola pikirnya, sejauh mana kebohongan dan kelebihanya, atau sejauh mana kekurangan dan keterbatasan hukum-hukum dan persepsinya. Penilaian akal manusia di sini juga sebagai alat bagi manusia untuk mengetahui bobot keputusannya dengan menggunakan timbangan yang mantap dan tidak akan pernah cenderung kepada keinginan hawa nafsu serta tidak akan terpengaruh oleh aneka macam pengaruh.

Tidak ada gunanya timbangan-timbangan yang dibuat oleh manusia. Karena dalam timbangan itu sendiri terdapat kerusakan yang akan marusak semua tata nilai, kalau manusia tidak mau kembali kepada timbangan yang mantap dan lurus itu.

Maka Allahlah yang membuat timbangan yang mantap dan lurus bagi manusia, amanat, keadilan, semua nilai, semua norma, semua hukum dan keputusan dalam semua lapangan kehidupan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Artinya : (59) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Asbabun Nuzul

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (59) } قال البخاري: حدثنا صدقة بن الفضل، حدثنا حجاج بن محمد الأعور، عن ابن جريج، عن يعلى بن مسلم، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس: { أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ } قال: نزلت في عبد الله بن حذافة بن قيس بن عدي؛ إذ بعثه رسول النبي صلى الله عليه وسلم في سرية. وهكذا أخرجه بقية الجماعة إلا ابن ماجه من حديث حجاج بن محمد الأعور، به. وقال الترمذي: حديث حسن غريب، ولا نعرفه إلا من حديث ابن جريج . وقال الإمام أحمد بن حنبل: حدثنا أبو معاوية، حدثنا الأعمش، عن سعيد بن عبيدة، عن أبي عبد الرحمن السلمي، عن علي قال: بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم سرية، واستعمل عليهم رجلا من الأنصار، فلما خرجوا وَجَد عليهم في شيء. قال: فقال لهم: أليس قد أمركم رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تطيعوني؟ قالوا: بلى، قال: اجمعوا لي حطبا. ثم دعا بنار فأضرمها فيه، ثم قال: عزمت عليكم لتدخلنها. [قال: فهم القوم أن يدخلوها] قال: فقال لهم شاب منهم: إنما فررتم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من النار، فلا تعجلوا حتى تلقوا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإن أمركم أن تدخلوها فادخلوها. قال: فرجعوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال لهم: “لو دخلتموها ما خرجتم منها أبدا؛ إنما الطاعة في المعروف”. أخرجاه في الصحيحين من حديث الأعمش.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang firman-Nya, (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ) “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu”. Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi, ketika diutus oleh Rasulullah di dalam satu pasukan khusus. Demikianlah yang dikeluarkan oleh seluruh jama’ah kecuali Ibnu Majah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Rasulullah mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata: “Bukanlah Rasulullah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?” Mereka menjawab: “Betul”. Dia berkata lagi: “Himpunlah untukku kayu bakar ileh kalian”, Kemudian ia meminta api, lalu membakarnya, dan ia berkata: ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya’, maka seorang pemuda di antara mereka berkata: ‘sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah dari api ini’. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasulullah. Jika beliau perintah kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah. Lalu mereka kembali kepada Rasulullah dan mengabarkan tentang hal itu. Maka Rasulullah pun bersabda kepada mereka:

لو دخلتموها ما خرجتم منها أبدا؛ إنما الطاعة في المعروف
“Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf (Dikeluarkan dalam kitab Ash-Shahihain dari hadis al-A’masy)”

Dalam nash yang pendek ini, Allah SWT menjelaskan syarat iman dan batasan Islam. Dalam waktu yang sama dijelaskan pulalah kaidah nizam asasi (peraturan pokok) bagi kaum muslimin, kaida hukum dan sumber kekuasaan. Semuanya dimulai dan diakhiri dengan menerimanya dari Allah saja dan kembali kepada-Nya saja mengenai hal-hal yang tidak ada nashnya, seperti urusan-urusan parsial yang terjadi dalam kehidupan manusia sepanjang perjalanannya dan dalam generasi-generasi berbeda yang notabene berbeda-beda pula pemikiran dan pemahaman dalam menanggapinya. Untuk itu semua, diperlukan timbangan yang mantap, agar menjadi tempat kembalinya akal, pikiran dan pemahaman mereka.

Sesungguhnya kedaulatan hukum itu hanya milik Allah, bagi kehidupan manusia dalam urusan yang besar maupun yang kecil. Untuk semua itu, Allah telah membuat syariat yang dituangkan-Nya dalam Al-Qur’an dan diutus-Nya Rasul yang tidak pernah berbicata dengen memperturutkan hawa nafsunya untuk menjelaskan kepada manusia. Oleh karena itu, Syariat Rasulullah termasuk syariat Allah (Al-Hadis)

Allah wajib ditaati. Diantara hak preogatif uluhiyyah ialah membuat syariat. Maka syariat-Nya wajib dilaksanakan. Orang-orang yang beriman wajib taat kepada Allah dan wajib taan pula kepada Rasulullah karena mentaati Rasul berarti mentaati Allah yang telah mengutusnya untuk membawa syatiat dan menjelaskanya kepada manusia di dalam Sunnahnya.

Kemutlakan mentaati Allah dan Rasulnya ini terindikasi dengan gaya uslub yang menggunakan kata أطيعوا yang berarti “Taatilah” berbeda dengan teks selanjutnya yang menafikan term أطيعوا. Sehingga tidak dibaca أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأطيعوا أولى الأمر منكم ‘taatilah Allah, taatilah Rasulullah dan taatillah ulil amri’ akan tetapi sengaja dihilangkan oleh syari’ yakni Allah. Hal ini membuat isyarat bahwa kemutlakan mentaati hanya kepada Allah dan Rasulullah semata walaupun dalam hal yang kelihatanya jelek contoh Allah pernah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih putranya Ismail. Meskipun demikian Nabi Ibrahim wajib mentaatinya untuk melaksanakan perintahnya. Lain halnya ketaatan ulil amri yang tidak disertai kata أطيعوا , maka kewajiban melaksanakan ketaatan dalam batas-batas yang makruf dan sesuai dengan syariat Allah, dan dalam hal yang tidak terdapat nash yang mengharamkanya. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Al-A’masy, sabda Nabi SAW:

إنما الطاعة في المعروف
“Ketaaan itu hanya pada yang ma’ruf”

Diriwayatkan dalam Shahihain juga dari Yahya al-Qaththan, sabda Nabi SAW:

السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة
“Wajib atas orang muslim untuk mendengar dan taat terhadap apa yang ia sukai atau tidak sukai, asalkan tidak diperintah berbuat maksiat, apabila diperintah kepada maksiat, maka tidak boleh mendengar dan mentaatinya sama sekali”

Ini mengenai masalah yang terdapat nashnya yang sharih. Sedangkan mengenai masalah-masalah yang tidak terdapat nashnya dan persoalan-persoalan yang berkembang seiring dengan perkembangan waktu dan kebutuhan manusia serta perbedaan lingkungan yang dalam hal ini tidak terdapat nash qath’I yang mengaturnya, maka hal itu tidak dibiarkan terombang-ambing, tidak dibiarkan tanpa ada metode yang digunakan untuk memecahkan hukum dan pengembanganya. Nash yang pendek ini telah meletakkan manhaj ijtihad dalam menghadapi semua itu dengan ijma’ dan qiyas.

oleh:

Muhammad Bahauddin

Ngaji di Menara, 6 Ramadlan 1439 H

SIFAT DENGKI ORANG-ORANG YAHUDI (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 21 Mei 2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 53-56
بسم الله الرحمن الرحيم
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52) أأَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا (53) أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (54) فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا (55) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56)

Artinya : (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya (53) Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia (54) ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar (55) Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya (56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Ayat 52
Asbabun Nuzul

وقال الإمام أحمد: حدثنا محمد بن أبي عدي، عن داود، عن عكرمة، عن ابن عباس قال: لما قدم كعب بن الأشرف مكة قالت قريش: ألا ترى هذا الصنبور المنبتر من قومه؟ يزعم أنه خير منا، ونحن أهل الحجيج، وأهل السدانة، وأهل السقاية! قال: أنتم خير. قال فنزلت { إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ } [الكوثر:3] ونزل: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ } إلى { نَصِيرًا } .

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Ketika Ka’ab bin Al-Asyraf mendatangi kota Makkah, maka orang-orang Quraisy berkata: “Cobalah engkau perhatikan, laki-laki hina yang terputus keturunanya (Nabi Muhammad) dari kaumnya ini, ia menyangka bahwa ia lebih baik dari kami. Padahal kami ini adalah pembesar haji dan pelayan Ka’bah, serta penyedia air minum”. Maka Ka’ab berkata: “ Kalian Lebih Baik”. Karena hal tersebut lalu Abu Sufyan mengutuk Ka’ab dan turunlah ayat:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا (51) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52)

Artinya: (51) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya

Berangkat dari sinilah, Allah mengutuk mereka (Orang Yahudi) dan menempatkannya di neraka level 3 yang diberi nama neraka Khutomah.

Tambahan: Macam-macam Neraka berdasarkan Levelnya:

1. Jahannam: adalah tingkat yang atas sekali, yaitu tempat mukminin-mukminat, muslimin-muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar.

2. Neraka Ladhoh: adalah tingkat kedua orang yang mendustakan agama dan Iblis Laknatullah dan orang majusi beserta orang-orang yang mengikuti Iblis dan Majusi.

3. Neraka Khutamah: adalah tingkat ketiga tempat bagi orang-orang yahudi dan para pengikutnya

4. Neraka Sair: adalah tingkat keempat tempat bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dan orang nasrani.

5. Neraka Saqar: adalah tingkat kelima untuk orang-orang yang menyembah berhala.

6. Neraka Jahim: adalah tingkat ke enam untuk orang yang menyekutukan Allah

7. Neraka Hawiyah: adalah tingkat ke tujuh yang terletak paling bawah (dasar) dan paling dahsyat siksaanya yakni untuk orang-orang munafiq, orang kafir, termasuk keluarga Fir’aun.

Ayat 53-55
Tafsiran Ayat

يقول تعالى: { أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ } ؟! وهذا استفهام إنكار، أي: ليس لهم نصيب من الملك ثم وصفهم بالبخل فقال: { فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا } أي: لأنهم لو كان لهم نصيب في الملك والتصرف لما أعطوا أحدا من الناس -ولا سيما محمدا صلى الله عليه وسلم-شيئًا، ولا ما يملأ “النقير”، وهو النقطة التي في النواة، في قول ابن عباس والأكثرين. وهذه الآية كقوله تعالى { قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ } [الإسراء:100]أي: خوف أن يذهب ما بأيديكم، مع أنه لا يتصور نفاده، وإنما هو من بخلكم وشحكم؛ ولهذا قال: { وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا } [الإسراء:100]أي: بخيلا. ثم قال: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ } يعني بذلك: حسدهم النبي صلى الله عليه وسلم على ما رزقه الله من النبوة العظيمة، ومنعهم من تصديقهم إياه حسدهم له؛ لكونه من العرب وليس من بني إسرائيل. قال الطبراني: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، حدثنا يحيى الحماني، حدثنا قيس بن الربيع، عن السدي، عن عطاء، عن ابن عباس قوله: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ [عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِه] } الآية، قال ابن عباس: نحن الناس دون الناس، قال الله تعالى: { فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا } أي: فقد جعلنا في أسباط بني إسرائيل -الذين هم من ذرية إبراهيم-النبوة، وأنزلنا عليهم الكتب، وحكموا فيهم بالسنن -وهي الحكمة-وجعلنا فيهم الملوك، ومع هذا { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بهذا الإيتاء وهذا الإنعام { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } أي: كفر به وأعرض عنه، وسعى في صد الناس عنه، وهو منهم ومن جنسهم، أي من بني إسرائيل، فقد اختلفوا عليهم، فكيف بك يا محمد ولست من بني إسرائيل؟. وقال مجاهد: { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بمحمد صلى الله عليه وسلم { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } فالكفرة منهم أشد تكذيبا لك، وأبعد عما جئتهم به من الهدى، والحق المبين. ولهذا قال متوعدا لهم: {وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا} أي: وكفى بالنار عقوبة لهم على كفرهم وعنادهم ومخالفتهم كتب الله ورسله..

Allah berfirman (أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ) “Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?” Kalimat ini adalah istifham inkari (sebuah pertanyaan yang menunjukkan penyangkalan), artinya mereka tidak memiliki bagian kekuasaan. Kemudian Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dalam firman-Nya ( فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا) “Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia”. Karena, seadainya mereke memiliki bagian kekuasaan atau kerajaan pun, niscaya mereka tidak akan memberikan apapun kepada manusia, apalagi kepada Muhammad. Dan mereka tidak akan member sesuatu seberat naqir pun, yaitu satu titik pada biji, menurut pendapat Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama, disebabkan kebakhilan dan kekikiran mereka

Setelah memeparkan keheranan terhadap urusan, sikap dan perkataan kaum Yahudi, serta mengumumkaan kutukan dan kehinaan atas mereka, maka ayat berikutnya menyatakan keingkaran terhadap sikap mereka kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Juga terdapat kebencian mereka karena Allah memberi karunia kepada Rasulullah dan kaum muslimin, yaitu karunia berupa agama Islam, kemenangan dan kekuasaan.Ayat selanjutnya mengingkari sikap mereka (kaum Yahudi) yang iri hati dan dengki terhadap karunia Allah yang diberikanNYa kepada kaum muslimin, padahal mereka tidak dapat memberi karunia sedikit pun. Pada waktu yang sama diungkapkanlah tabiat mereka yang keras dan kering, dan menganggap banyak setiap pemberian yang diperoleh orang lain. Padahal, Allah sudah melimpahkan karunia atas mereka dan nenek moyang mereka. Akan tetapi limpahan karunia ini tidak juga menjadikan mereka berlapang dada dan tidak mencegah dari dengki dan iri hati.

Sungguh mengherankan! Mereka sama sekali tidak dapat memberikan nikmat sedikitpun kepada seseorang sebagaimana yang dilakukan Allah. Apakah memang mereka itu sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah! Apakah mereka memiliki andil di dalam kekuasaan-Nya, untuk memberi dan melimpahkan karunia? Kalau mereka punya andil, niscaya mereka -sesuai dengan sifat yang keras kepala dan kikir- tidak akan memberikan sedikitpun kebajikan kepada manusia. Kaum Yahudi yang amat kikir dan pendendam itu –seandainya mereka memiliki andil dalam kekuasaan- tidak akan memberikan kebajikan dan kenikmatan kepada orang lain, walaupun hanya setebal kulit luar biji tumbuhan. Alhamdulillah, kaum Yahudi tidak mempunyai andil dalam kekuasaan. Sebab, seandainya mereke memiliki andil dalam kekuasaan ini, niscaya akan binasa seluruh manusia. Karena, mereka tidak akan mau memberi, walau hanya setebal kulit ari.

Allah berfirman (أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ) “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” Yaitu kedengkian mereka kepada Nabi atas rizqi kenabian yang Agung, yang diberikan Allah kepadanya dan keengganan mereka membenarkan nubuwwah. Kedengkian mereke itu dikarenakan Beliau dari keturunan Arab dan bukan dari keturunan Bani Israil.

Kedengkian orang Yahudi kepada Nabi atas rizqi kenabian ini berupa khususiyyat beristri berjumlah 12 istri:

1. Khadijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah s.a.w. di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun ( Janda 2 kali ). Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah s.a.w memiliki 2 anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki- laki beliau ( Qasim & Abdullah ) meninggal saat berumur 2 tahun. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Khodijah meninggal usia 65 tahun (saat itu usia Nabi 50 Tahun). Rasulullah s.a.w. tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Hikmah Nabi menikahi Siti Khadijah karena dia adalah wanita pertama yang AKAN memeluk Islam dan mendukung dakwah Nabi.

2. Saudah binti Zam’ah RA (70 tahun ), wanita kulit hitam dari Sudan dinikahi oleh Rasulullah pada saat beliau berumur 52 tahun pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khadijah. Ia adalah seorang janda (2 kali) yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amral yang menjadi perisai Nabi di medan perang. Memiliki 12 anak dari pernikahan dengan suami pertama. Hikmah Nabi menikahinya adalah menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin

3. Aisyah binti Abu Bakar RA, seorang gadis yang cantik dan cerdas, dinikahi oleh Rasulullah bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah dan Rasulullah mengajarkan tentang kewanitaan agar disampaikan kepada umatnya kelak.

4. Hafsah binti Umar bin Al-Khattab RA (35 tahun), janda yang ditinggal mati oleh suaminya dalam perang Uhud, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah pada tahun ketiga Hijriyah ketika beliau berumur 55 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah untuk menjaga keotentikan Al Qur’an karena Hafsah akan menjadi wanita pertama yang HAFAL 30 Juz Al Qur’an.

5. Zainab binti Khuzaimah RA (50 tahun), dari Bani Hilal dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi fakir miskin. Sebelumnya ia bersuamikan Abdullah bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah pada saat beliau berumur 56 tahun. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW.. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah, untuk menjadi teladan bersama-sama Rasulullah dalam menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

6. Ummu Salamah binti Abu Umayyah RA (62 tahun), Wanita yang pandai berbicara, berpidato dan mengajar ini sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya meninggal di bulan Jumadil Tsani tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki- laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah pada bulan Syawwal di tahun yang sama pada saat beliau berumur 56 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah dan mengajar kaum wanita.

7. Zainab binti Jahsyi RA (45 tahun), dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah . Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah di bulan Dzulqo’dah tahun kelima Hijriyah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghapus kebiasaan jahiliyah perihal nasab anak angkat yg harus mengikuti ayah aslinya (tidak mengikuti nasab ayah angkat) sekaligus menegaskan tuntunan syariat perihal konsekuensi pengangkatan anak.

8. Juwairiyah binti Al-Harits RA (65 tahun), putri pemimpin kabilah Bani Mustholiq dari Khuza’ah yang mempunyai 17 anak dari pernikahan pertamanya. Ia merupakan tawanan perang yang dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk syariat memerdekakan budak dan pembebasan tawanan perang dan meraih simpati dari kabilahnya untuk memasuki ajaran Islam.

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA (47 tahun), sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharram tahun 7 Hijriyaah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah ketika Nabi berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghibur dan menjaga keimanan Habibah agar tidak ikut murtad dengan mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik.

10. Shafiyyah binti Huyay RA (53 tahun), wanita dari bani israil yang menjadi muslimah janda 2 kali dari Salam bin Misykam dan Kinanah bin Abil Huqoiq, memiliki 10 anak dari perkawinan sebelumnya, ia merupakan tawan perang Khaibar lalu Rasulullah memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khaibar tahun 7 Hijriyah ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menjaga keimanan Shafiyyah dari boikot orang yahudi dan menjaga kedudukannya sebagai putri dari pemuka kabilah.

11. Maimunah binti Al-Harits RA (63 tahun), wanita dari suku yahudi bani kinanah janda Abu Ruham bin Abdul Uzza dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijriyah pada saat melaksanakan Umrah Qadha’ ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk menjaga dan mengembangkan dakwah di kalangan Bani Nadhir.

12. Mariyah Qibtiyyah RA (25 tahun) , seorang gadis budak yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis dari Iskandaria Mesir kepada Rasulullah kemudian dinikahinya pada tahun 8 hijriyah ketika Nabi berumur 59 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk membebaskan perbudakan dan menjaga keimanan Mariyah Qibtiyyah.

Beliau Nabi Muhammad meninggal dunia meninggalkan 9 istrinya selain khadijah (karena sudah meninggal sebelum Nabi Muhammad), Hafsah (wanita yang dicerai Rasulullah karena sifat cemburunnya yang menguasai dirinya lupa daratan) dan wanita yang diceraikan Rasulullah lantaran punya penyakit baros.

Allah berfirman, (فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا) “Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepadanya keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar”. Yaitu sesungguhnya Kami telah menjadikan kenabian pada keturunan Bani Israil yang merupakan anak cucu Nabi Ibrahim, kami turunkan kitab-kitab kepada mereka dan mereka (para Nabi) menghukumi Bani Israil dengan sunah-sunah yaitu berupa hikmah serta kami jadikan diantara mereka (Bani Israil) raja-raja

Maksud ayat ini adalah bantahan atas apa yang dihasuti oleh orang-orang yahudi? Jikalau yang dihasud atau iri dari Nabi Muhammad adalah jumlah istri, maka nabi-nabi mereka dari kalangan bani israil malah melebihi jumlah istri Rasulullah, contoh:
· Nabi Daud istrinya 99 dan tambah 1 (istrinya Jendral Area)
· Nabi Ismail istrinya 1000 bahkan memiliki kerajaan yang meliputi seluruh dunia dari kalangan manusia, jin dan syaitan
· Dan Nabi-nabi lainya dari bani israil

Di antara dengki yang lebih tercela ialah dengkinya orang-orang yang telah diberi nikmat seperti itu. Kalau orang yang tidak mendapatkan nikmat yang seperti itu bersikap dengki, itu pun sudah tercela. Apalagi kalau yang dengki itu justru mereka yang sudah mendapatkan nikmat yang banyak, maka kedengkian semacam ini amat buruk, mendasar dan mendalam, seperti kedengkian orang Yahudi yang memang aneh dan unik.

Tetapi dalam waktu yang sama, diantara mereka ada yang beriman dengan pemberian dan kenikmatan itu dan ada pula yang mengingkarinya, yaitu mengkufurinya, berpaling dari petunjuknya dan berupaya menghalangi manusia darinya. Padahal dia (Nabi lain) itu adalah bagian dari mereka dan merupakan jenis (golongan) mereka, yaitu Bani Israil, itu pun membuat mereka berselisisih. Maka bagaimana pula denganmu ya Muhammad sedang engkau bukan dari Bani Israil?

Nabi Muhammad adalah keturunan kaum ummi (keturunan Nabi Ismail) bukan merupakan ahlul kitab (bani Israil / bani ishaq). Jadi sebenarnya dari Nabi Ibrahim lahirlah dua kelompok: kelompok bani israil dan kelompok bani ismail. Sejarah kenabian yang berasal dari keturunan bani israil cukup jelas sementara kenabian yang berasal dari dari bani ismail tidak banyak disebut dalam sejarah. Kenabian dari kalangan bani israil jelas dengan silih bergantinya kelahiran (para) nabi sedangkan kenabian dari keturunan bani ismail hanya dapat disaksikan dalam praktek ibadah dan adat istiadat yang berkembang dalam masyarakat. Adapun kiblat kelompok bani israil adalah baitul maqdis sedangkan kiblat kelompok bani ismail adalah baitullah yang terletak di kota makkah. Yang menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Syariat kelompok pertama adalah hukum-hukum dan syariat kelompok kedua hanya memelihara tradisi menjaga kesucian Masjidil Haram. Musuh kelompok pertama adalah orang-orang kafir seperti Firaun dan Hamman, dan musuh kelompok kedua adalah orang-orang musyrik seperti penyembah berhala.

Mujahid berkata: “Di antara mereka ada yang beriman kepadanya yaitu kepada Nabi Muhammad dan ada pula yang berpaling darinya” untuk itu, Allah mengancam mereka, (وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا) “Cukuplah Jahannam sebagai tempat kembali mereka”. Artinya cukup api Neraka sebagai hukuman atas kekufuran, pembangkangan dan penentangan mereka terhadap kitab-kitab dan Rasul-rasul Nya.

Ayat 56

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarha Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Ditampilkan balasan ini dalam pemandangan hari sebagai berikut:

(56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S An-Nisa’: 56)

“Setiap kali mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab”. Sungguh ini merupakan pemandangan yang hamper tidak berujung dan tak berkesudahan. Pemandangan yang tampak berulang-ulang. Tampak wujudnya dalam khayalan dan tak dapat dipalingkan. Ia sangat menakutkan dan mengerikan. Kengerianya memiliki daya tarik yang menekan. Kalimat ini menggambarkan pemandangan itu secara berulang-ulang dengan menggunakan kata “kullama / كلما” yang artinya ‘setiap kali’. Di samping itu, juga dilukiskan dengan sangat mengerikan dan menakutkan.

Itulah balasan kekefiran, padahal sebab-sebab untuk beriman sudah disediakan. Balasan inilah yang dimaksudkan, dan ia merupakan balasan yang sangat tepat.

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum

 

NGAJI TAFSIR MBAH K.H SYA’RONI AHMADI (Jumu’ah Fajar di Masjid Menara Kudus/5 Ramadlan 1439 H-21 Mei 2018)

102 KHATAMAN, NGALAP BERKAH KHR. ASNAWI

Selepas maghrib, kawasan menara dipadati alumni Qudsiyyah yang akan melaksanakan 102 khataman dihadiahkan untuk muassis dan masyayikh Qudsiyyah. Kegiatan ini akan mengkhatamkan al-qur’an seb

anyak 102 mengenang 102 tahun lalu pendirian Madrasah Qudsiyyah oleh KHR. Asnawi. Acara yg pada Jumat malam (4/5) berlangsung dari pukul 19.20 WIB (bakda Isya’) diawali dengan daftar ulang 510 khatimin.

510 khatimin dibagi menjadi 102 grup yang bertugas menyelesaikan 1 khataman al-qur’an. Hasan, salah satu khotimin menuturkan rata-rata perpeserta membaca 6 juz. Menurut Amin Ikhwani, koordinator kegiatan menuturkan bahwa setiap kelompok diusahakan ada yang hafidz sehingga dapat membantu peserta lain yang belum menyelesaikan porsinya.

Ihsan, Ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah pemaknaan “ngaji” dari konsep Gusjigang. Ahmad Nadjib, selaku Ketua YAPIQ menuturkan khataman seperti ini akan dilaksanakan tiap tahun sebagai bukti bakti kita kepada pendiri dan guru Qudsiyyah.

Peserta kompak memakai pakaian ala kudusan berupa baju putih, bersarung batik dan mem

akai iket sebagai penutup kepala. Menurut Abdul Jalil, panitia menggagas konsep ini untuk lebih menyerukan islam nusantara dan mengaplikasikan pakaian rakyat kauman dulu kala.

Acara berlangsung khidmah dan setelah genap 102 khataman acara berakhir pukul 21.30 WIB. Kemeriahan dilanjutkan di Halaman depan Makam Sunan Kudus, tepat di Selatan Bangunan Menara, 120 ingkung telah ditata rapi untuk disuguhkan kepada para peserta. Ingkung merupakan makanan khas yang disajikan ketika prosesi bancaan, manaqiban maupun tirakatan.

Ingkung dinikmati secara kepungan merupakan tradisi santri yang tak kenal gengsi, mau berbagi dengan yang lain dan tidak memandang tinggi-rendah derajat lainnya. Perbedaan menyatu, luber dalam kebersamaan dan keharmonisan, begitu tutur salah panitia. Ingkung yang disediakan adalah nasi dengan lauk Opor Ayam yang masih utuh dan Sambel Goreng, kuliner khas Kudus.

“Ngalap berkah”, begitulah kesan dari peserta khatmil Quran terutama dalam memeriahkan program Festival Alquran yang digagas oleh Qudsiyyah. Mereka percaya bahwa berkah para salafus sholihin akan berimbas dalam kehidupan mereka, itulah alasan mengapa tanpa pamrih ratusan peserta mengikuti kegiatan tersebut. Wahyu, salah seorang percaya bahwa tepat kegiatan ini diisi dengan khataman Al-Qur’an karena Al Qur’an adalah sumber berkah.

Berbondong-bondong Ziarah Masyayikh Muassis dan Muqri’

Menjelang datangnya bulan nuzulul Quran, Madrasah Qudsiyyah mengadakan Festival Alquran yang akan menyajikan koleksi Alquran dari Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (Jakarta). Kegiatan pameran ini akan dilaksanakan selama satu pekan penuhdari Jumat hingga Kamis tanggal 4-10 Mei 2018 / 18 – 24 Sya’ban 1438 H di Tanah KHR. Asnawi, Jalan KHR. Asnawi, Kecamatan Kota, Kab. Kudus
Pameran yang bertajuk “Menguduskan Alquran, Menebar Kedamaian” ini dikemas dengan event pameran khazanah Islam Nusantara yang menampilkan turats (kitab) karya ulama Indonesia dan Kaligrafi dari berbagai seniman serta Parade Benteng Pancasila.
Adapun Kegiatan utama dan pendukung diantaranya, Zaiarah masyayikh, Khotmil Quran 102 Kolosal, Lomba-lomba, seminar dan Ngontel Bareng, Halalqoh serta Pengajian.
Baca juga Rangkaian Kegiatan Festival Alquran

Ziarah Masyayikh
Santri dan Asatidz berbondong-bondong menuju makam KHR. Asnawi pada pagi pukul 08.00 WIB , kemudian menuju ke makam Krapyak Sedio Loehoer dan makam KH. M. Arwani Amin
Kegiatan Ziarah kepada Guru dan maestro al-Qur’an dilaksanakan sebelum pelaksanaan Festival al-Qur’an dan Pameran Khazanah Islam Nusantara. Rangkaian ziarah dimulai dari makam Pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi Kudus di kompleks makam al-Qur’an, dilanjutkan ke makam masyayikh Qudsiyyah seperti alm KH. Yahya Arif, KH Ma’ruf Asnawi, KH Ma’ruf Irsyad, KH. Jasin Djalil, KH Mahfudz Noor di Makam Krapyak Kudus. Ziarah kemudian berlanjut ke makam guru besar al-Qur’an (Muqri’) KH. M. Arwani Amin di Jl. KH. M. Arwani Amin, Kajeksan Kudus.
Ziarah dipimpin oleh KH. Ahmad Hanafi, KH. Abdur Rosyad, KH. J. Abdurrahman, KH. Nurul adlha, KH. Ali Abbas. Sholawat karangan mbah Asnawi juga dilagukan bersama dipimpin H. Hilal Haidar. Kejutan justru di akhir acara sebelum para santri meninggalkan majlis sholawat asnawiyyah.
Selesai jam 08.30 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan ke pemakaman sedio luhur, krapyak. Disinilah beberapa makam masyayikh dan asatidz qudsiyyah. Ziarah berlangsung dengan khidmat hingga pukul 10.00 WIB

MENGUDUSKAN QUR’AN, MENEBAR KEDAMAIAN

Memulai dari titik koordinat Menara dengan mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan dalam peringatan satu abad Qudsiyyah dua tahun silam, ternyata memberi spirit tersendiri untuk bangkit menata barisan. Shalawat asnawiyyah semakin menggema di bumi Nusantara, MTs dan Pesantren Putri Qudsiyyah lahir, tokoh-tokoh muda mulai bermunculan di berbagai sektor, organisasi santri dan alumni (PPQ-IKAQ) mulai menampakkan signifikansinya, dan masih banyak lagi kiprah ‘Generasi Gusjigang’ di bawah panji-panji Menara Kudus sebagai simbol toleransi (Ukhuwwah Qudusiyyah) yang multi etnis-multi religi.

Kini, semangat itu akan kita gelorakan kembali agar semakin bersemi. Generasi Gusjigang siap menggelar acara Festival Al-Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara Dan Parade Benteng Pancasila pada 18-24 Sya’ban 1439 H/4-10 Mei 2018 TU di Bumi bersejarah Qudsiyyah. Tujuh hari tujuh malam Bumi Kudus akan berhias hikmah, sains dan seni untuk menurunkan kebijakan langit menjadi kedamaian bumi.

Cara yang kami tempuh adalah dengan membentuk “Majlis Gusjigang” yang menyatukan berbagai unsur perilaku secara sinergis, sehingga di dalamnya ada keterlibatan teologis (theological involvement), keterlibatan intelektual (intellectual involvement), keterlibatan ritual (ritual involvement), dan keterlibatan pengalaman (experiential involvement). Kohesi masing-masing unsur ini akan selalu bertransformasi dan memunculkan energi positif kemandirian yang tercerahkan (spiritual independence).

Serangkaian acara telah siap digelar. Sebagai penerus tradisi salaf, acara akan dimulai dengan mohon doa restu kepada Masyayikh di Kudus (Ziarah Masyayikh). Selanjutnya kita akan mengeksplorasi kebijakan langit dengan khataman Kolosal 102 Khataman, Nyerat al-Qur’an Kolosal (Khotmil Qur’an bil Kitabah bersama 666 santri putra dan 333 santri putri) serta Festival Tilawah. Dalam rangka menurunkan kedamaian bumi, telah disiapkan agenda Halaqah “Rasm Utsmany di Nusantara”, Olimpiade Sains Qur’ani, Lomba Mewarnai Ornamen Mushaf, Pameran “Sejarah al-Qur’an”, Pameran Khazanah Islam Nusantara, Napak Tilas Islam Nusantara Benteng Pancasila, Seminar “Jateng Benteng Pancasila Melawan Narkoba”, Sarasehan “Gusjigang dan Ketahanan Ekonomi Jawa Tengah”, Sinau Seni dan Sains Qur’an bersama Sabrang “Noe” Letto, Festival Seribu Terbang al-Mubarok all Generation, Malam Sastra Qur’ani, Pertunjukan Teater “Jangkar Bumi”, Gambusan “alladzifih”, Pertunjukan “Tari Gusjigang” dan Gusjigang Expo sebagai artikulasi kongkrit karakter Gusjigang.

Kami yakin, dengan merapatkan barisan untuk bergandengan tangan secara jama’i, tangan-tangan suci para mu’assis akan menuntun kita untuk mampu menguduskan Qur’an menebar kedamaian. Secara teknis kita akan bermetamorfosa ke peradaban baru yang lebih damai dan ber tepo seliro. Kita akan mendayung bersama dari pusat pengkaderan ulama (center of exellence) ke pencetakan bibit unggul (human resources) di berbagai bidang menuju pulau pemberdayaan sosial (agent of development).

Akhirnya, selamat menguduskan Qur’an, selamat menebar kedamaian, dan selamat menemukan kembali Jadi diri yang terlupakan. [dj]

oleh:
ABDUL JALIL
Sekretaris Umum IKAQ

Festival Al Qur’an Bakal Dibuka Menteri Agama

QUDSIYYAH, KUDUS – Festival Al Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara dan Parade Benteng Pancasila yang digagas Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, bakal dilaksanakan lebih awal dari Jadwal semula. Yang semula dijadwalkan pada 10 – 17 Mei, diajukan lebih menjadi 4 – 10 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 34 ini bakal dibuka langsung oleh Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua panitia sekaligus Ketua Umum IKAQ, H. Ihsan, menyatakan, pengajuan jadwal pameran dari waktu semula merupakan arahan dan penyesuaian jadwal Menteri Agama. “Kita sesuaikan dengan jadwal pak Menteri,” katanya.

Ia menandaskan pameran ini bakal dibuka secara resmi oleh Meneteri Agama pada Jumu’ah (4/5/2018) Pagi. Dengan kehadiran Menteri Agama, diharapkan kegiatan festival ini akan semakin ramai dan mengena ke masyarakat. Melalui kegiatan ini, ia berharap akan semakin tersampaikannya nilai-nilai al Qur’an kepad masyarakat. “Juga mudah-mudahan akan tersosialisasi mushaf standar Indoneisa kepada asyarakaty Kudus dan sekitarnya,” kata pria yang juga sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus ini.

Kegiatan seminggu ini baklal menampilkan pameran sejarah Al Qur;an, pameran khazanah Islam Nusantara, khataman Kosolsal 102 khataman, Festival Tilawah, Khaotmul Qur’an bil Kitabah, seminar Saintifikasi dan Faktualisasi al Qur’an, dan Olimpiade Sain. Selain itu, juga bakal dihibur dengan festival terbang klasik, malam seribu terbang, seni dan pertunjukan teater, Konser 21 tahun Al Mubarok, Konser “Noe” Letto, Gambusan, Tari Gusjigang, dan Ngontel Bareng dengan tema “Islam Nusantara Benteng Pancasila”. (Kharis)