Halalbihalal IKAQ, Bakal Diskusikan Gusjigang

QUDSIYYAH, KUDUS – Event tahunan Halalbihalal Ikatan Alumni Qudsiyah (IKAQ) Kudus tahun ini bakal digelar dengan berbeda. Biasanya acara yang mengundang seluruh alumni lintas angkatan ini dilakukan pada siang hari, tapi tahun ini dicoba dengan mengadakan Halalbihalal pada malam hari, yakni bakal digelar pada Malam Rabu (19/6/2018) di Lapangan KHR. Asnawi  Damaran Kota Kudus.

Acara akan mulai pukul 19.30 WIB dan dimulai dengan mengundangn Nadhir Qudsiyah KH. M. Sya’roni Ahmadi yang bakal menyampaikan Mauidhah hasanah. Usai mauidhah hasanah, acara dilanjutkan diskusi panel bertema “Majelis Gusjigang”. Narasumber dari alumni Qudsiyah yang menjadi tokoh aktif bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi dan sosial di kancah regional, nasional dan internasional.

Beberapa tokoh yang bakal dihadirkan antara lain H.M. Zuhal Abdul Lathif (Direktur Al-Amanah sekaligus Dosen institute al Zuhri, Singapura), Dr. H. Akhmad Shonhaji (Ketua STAI Fatahillah Serpong – Tangerang Selatan),Dr.H. Nuruddin (pengajar Universitas Negeri Jakarta), Noor Ali SE (Percetakan Nora), HM. Mujtahidil Fatah (owner Konv.el-Nifa Kudus).

Ketua Panitia, Hasan Mafiq, menyatakan, kehadiran narasumber yang merupakan alumni senior yang sudah sukses di bidangnya masing-masing diharapkan mampu memberikan semangat bagi para alumni dalam mewujudkan cita-cita. “Dari pakar pendidikan, dakwah dan ekonomi kami undang untuk meotiovasi seluruh alumni, untuk terus bersemangat berpartisipasi dan aktif bergerak di masyarakat menyebarkan ajaran Aswaja sebagaimana cita-cita Qudsiyyah,” ungkapnya. (Kharis)

BERJUANG FI SABILILLAH DAN MEMBELA KAUM TERTINDAS

BERJUANG FI SABILILLAH DAN MEMBELA KAUM TERTINDAS
(NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI MENARA PADA JUMU’AH, 9 RAMADLAN 1439)
By: MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
25/5/2018

QS. An-Nisa’ [4]: 75-76
بسم الله الرحمن الرحيم

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا (75) الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا (76)

Artinya : (75) Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (76) Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah

Ayat 75-76

Selanjutnya, pembicaraan beralih kepada kaum muslimin. Peralihan pembicaraan dari metode narasi dan deskripsi yang menceritakan keadaan orang-orang yang berlambat-lambat, beralih kepada metode persuasif terhadap seluruh muslimin dengan menggelitik harga diri dan sensivitas hati terhadap orang-orang yang lemah yang tertindas dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak yang diperlakukan secara keras di bawah kekuasaan kaum musyrikin. Sedangkan mereka ingin melepaskan diri dan selalu doa kepada Allah supaya diberikan jalan keluar dari negeri yang penuh kezaliman dan penganiayaan.

Peralihan metode penyampaian ini adalah untuk memberikan kesan kepada mereka betapa tingginya maksud, betapa mulianya tujuan dan betapa bagusnya sasaran yang hendak dicapai dalam perang ini, yang memotivasi mereka untuk berangkat ke medan laga tanpa merasa keberatan tanpa ditunda (berlama-lama)

Tafsiran Ayat

يحرض تعالى عباده المؤمنين على الجهاد في سبيله وعلى السعي في استنقاذ المستضعفين بمكة من الرجال والنساء والصبيان المتبرمين بالمقام بها؛ ولهذا قال تعالى: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ} يعني: مكة، كقوله تعالى: {وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ} [محمد: 13] ثم وصفها بقوله: {الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا} أي: سخر لنا من عندك وليا وناصرا. قال البخاري: حدثنا عبد الله بن محمد، حدثنا سفيان، عن عبيد الله قال: سمعت ابن عباس قال: كنت أنا وأمي من المستضعفين. ثم قال تعالى: { الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ } أي: المؤمنون يقاتلون في طاعة الله ورضوانه، والكافرون يقاتلون في طاعة الشيطان. ثم هَيَّجَ تعالى المؤمنين على قتال أعدائه بقوله: { فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا }

Allah memberikan dorongan kepada hambanya yang beriman untuk berjihat di jalan-Nya, serta berupaya menyelamatkan orang-orang yang tertindas di kota Makkah, baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang sudah sangat jenuh untuk tinggal disana. Untuk itu Allah berfirman, (الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ) “yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini” yaitu Makkah, seperti firman Allah (وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ) “dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu” (Q.S Muhammad: 13)

Kemudian disifati dengan firman-Nya, (الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا) “yang dhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami pertolongan dari sisi Engkau” yaitu, jadikanlah untuk kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubaidillah, ia berkata : “Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: “ Dahulu aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas”

Kemudian Allah berfirman: (الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ) “Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan Thaghut.” Yaitu orang-orang yang beriman, mereka berperang dalam rangka taat kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya. Sedangkan orang-orang kafir berperang dalam rangka taat kepada syaitan. Kemudian Allah mendorong kaum mukminin untuk memerangi musuh dengan firmanya (فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا) “sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”

Dikatakan tipu daya syaitan lebih lemah dari pada tipu daya wanitam seperti disebutkan di atas :

· Tipudaya syaitan lemah = إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا “sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”(Q.S. An-Nisa’: 76)

· Tipu daya wanita kuat = إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ “sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar” (Q.S Yusuf: 28)

Oleh karena tipu daya wanita lebih besar maka sebaiknya lebih berhati-hati kepada wanita. Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ» وَفِى رِوَايَةٍ: «فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا»

“Sesungguhnya wanita menghadap dalam rupa setan dan membelakangi dalam rupa setan pula. Jika salah seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi (menyetubuhi) istrinya karena hal tersebut bisa menolak apa (yang bergejolak) di dalam jiwanya.” [HR. Muslim (no. 1403)]

Pada situasi ini sisksaan kafir Mekkah luar biasa sadis, banyak sahabat-sahabat Nabi yang dibunuh, disiksa bahkan ada yang diputuskan kaki dan tanganya seperti siksaan yang dilakukan pada keluarga Yasir bin Amir (Ammar bin Yasir dan ibunya Sumayyah) sebagai berikut:

KISAH AMMAR BIN YASIR

Yasir bin Amir berangkat meninggalkan negerinya di Yaman untuk mencari dan menemui salah seorang saudaranya di Makkah. Rupanya dia berkenan dan cocok tinggal di Makkah. Maka bermukimlah dia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah. Abu Hudzaifah kemudian mengawinkan Yasir dengan salah seorang sahayanya yang bernama Sumayah binti Khayyath. Dari perkawinan yang penuh berkah ini, pasangan itu dikarunia seorang putra bernama Ammar. Keislaman Yasir dan isterinya termasuk dalam golongan yang pertama, sebagaimana halnya dengan mereka yang pertama masuk Islam. Dan mereka pun cukup menderita dengan tindakan biadab dan kekejaman kaum Quraisy Makkah. Orang-orang musyrikin Quraisy menjalankan dua siasat terhadap kaum Muslimin sesuai tingkat hidupnya. Jika Muslimin termasuk golongan bangsawan dan berpengaruh, maka kaum Quraisy dihadapi dengan ancaman dan gertakan. Contohnya Abu Jahal, dia menggertak dengan ucapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu, dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Setelah itu, mereka lancarkan perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Makkah yang rendah martabatnya dan miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka akan dicambuk dan disulut dengan api menyala. Adapun Keluarga Yasir, mereka ditakdirkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala termasuk dalam golongan yang kedua ini. Maka, masuklah keluarga Yasir ke dalam kelompok yang mendapat perlakuan yang zalim dari kaum Quraisy. Setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan Ammar radhiyallahu ‘anhum dibawa ke padang pasir Makkah yang demikian panas, lalu dicambuk dengan berbagai siksaan. Dalam masa-masa inilah, Sumayyah menunjukan kepada manusia sikap ketabahan, suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur, suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang mukmin di setiap zaman, dan bagi para budiman sepanjang masa. Siksaan dan penderitaan yang dahsyat itu merupakan pengorbanan mulia yang menjadi jaminan bagi agama dan akidah yang teguh dan tak akan lapuk. Dia juga menjadi teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggan dan kasih sayang, dia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya. Untuk meletakkan dasar, memancangkan tiang-tiang, dan memperkokoh agama-Nya, Allah memperlihatkan model contoh melalui para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya dengan sikap pengorbanan harta dan jiwanya agar menjadi teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang datang kemudian. Yassir, Sumayyah dan Ammar adalah termasuk teladan istimewa, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setiap hari menghampiri tempat di mana mereka mendapat siksaan dari orang-orang zalim. Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengunjungi mereka, Ammar memanggilnya, “Wahai Rasulullah! Azab yang kami derita telah sampai ke puncak!” Namun, dengan penuh kesedihan, tanpa bisa menolong, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya berkata, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan! Sabarlah, wahai keluarga Yasir! Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga!” Betapa beratnya siksaan yang dialami Ammar dari kaum yang zalim, dilukiskan oleh para sahabat dalam beberapa riwayat:

Ammar bin Hakam berkata, “Ammar itu disiksa, sampai-sampai dia tidak menyadari apa yang diucapkannya.” Ammar bin Maimun berkata, “Orang-orang musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang lewat di tempatnya, beliau memegang kepala Ammar dengan tangan beliau, sambil bersabda: ‘Hai api, jadilah kamu sejuk dan dingin di tubuh Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim!’.” Ketika Abu Jahal ikut melakukan penyiksaan, dia begitu jengkel dan putus asa terhadap keteguhan Sumayyah. Seorang budak wanita yang dipandangnya hina, berdiri tegar seakan menantang kesombongan tokoh besar Quraisy tersebut. Karena tidak tertahankan lagi kejengkelannya, Abu Jahal mengambil tombak dan menusuk Sumayyah dari selangkangan hingga tembus ke punggungnya. Jadilah Sumayyah syuhadah pertama dalam Islam. Tidak berapa lama, suaminya, Yasir bin Amir juga meninggal dalam penyiksaan orang-orang kafir Quraisy. Kematian orang tuanya akibat siksaan tersebut tidak menyebabkan Ammar berubah pikiran, bahkan makin meneguhkan pendiriannya. Orang-orang musyrik menghabiskan segala daya dan upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya terhadap Ammar, sampai-sampai dia merasa dirinya benar-benar celaka, ketika siksaan itu mencapai puncaknya: didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Ketika dia sampai tidak sadarkan diri karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya, “Pujalah olehmu Tuhan-Tuhan kami!” Mereka ajarkan kepadanya pujaan itu, sementara Ammar mengikuti kalimat pujaan itu tanpa menyadari apa yang diucapkannya. Ketika dia siuman sebentar karena siksaannya berhenti, tiba-tiba dia sadar akan apa yang telah diucapkannya. Maka, hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya, betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi. Tetapi, iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur.

Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga para penyiksanya merasa lelah, lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kokoh. Memang, demikianlah Al-Qur’an mendidik para pemeluknya dalam menghadapi kekejaman dan kekerasan dengan kesabaran, keteguhan dan pantang menyerah, yang merupakan esensi dari keimanan.

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjumpai Ammar, didapatinya dia sedang menangis, maka disapulah isak tangis itu dengan tangan beliau seraya sabdanya, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu kedalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?” “Benar, wahai Rasulullah,” ucap Ammar sambil meratap. Maka Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sambil tersenyum, “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!” Kemudian, Rasulullah membacakan kepadanya sebuah ayat:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-nahl [16] ayat 106). Setelah mendengar firman Allah itu, kembalilah Ammar dengan hati yang diliputi rasa haru, tenang, dan bahagia, seolah telah hilang semua penderitaan yang selama ini ia rasakan.

Demikianlah kisah duka keluarga Ammar bin Yasir

Bertolak dari banyaknya siksaan yang diperoleh para sahabat merajalela, mereka tak segan-segan menghabisi nyawa para umat Islam, sampai-sampai keselamatan Rasulullah SAW dan para sahabatnya pun juga ikut terancam. Dari sinilah Rasulullah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah.

KISAH HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW

Tatkala keputusan keji untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diambil, turunlah malaikat Jibril ‘alaihis salam membawa wahyu Rabbnya lalu memberitahukan kepada beliau perihal persekongkolan kaum Quraisy tersebut dan izin Allah kepada beliau untuk pergi berhijrah meninggalkan Mekkah. Kemudian Jibril menentukan momen tersebut seraya berkata, “Malam ini, kamu jangan berbaring di tempat tidur yang biasanya.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertolak belakang ke kediaman Abu Bakr di tengah terik matahari untuk bersama-sama menyepakati tahapan hijrah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di kediaman Abu Bakr pada siang hari nan terik, tiba-tiba ada seseorang berkata kepadanya, “Ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan menutup wajahnya dengan kain di waktu yang tidak biasa beliau mendatangi kita.” Abu Bakr berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan untuknya. Demi Allah, beliau tidak datang di waktu-waktu seperti ini kecuali karena ada hal penting.” Aisyah melanjutkan, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan meminta izin masuk, lantas diizinkan dan beliau pun masuk. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakr, “Keluarkan orang-orang yang berada di sisimu.” Abu Bakr menjawab, “Mereka tidak lain adalah keluargamu, wahai Rasulullah. Beliau berkata lagi, “Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk berhijrah.” Abu Bakr berkata, “Engkau minta aku menemanimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.” Dan setelah disepakati rencana hijrah tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumahnya menunggu datangnya malam. Dari hadits ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jibril, مَنْ يُهَاجِرُ مَعِي ؟ قَالَ : أَبُوْ بَكْر الصِّدِّيْق‍“Siapa yang hijrah bersamaku?” Jibril menjawab, “Abu Bakr Ash Shiddiq.” (HR. Al Hakim dalam Mustadrok 3: 5. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, begitu pula matannya. Hal ini disepakati pula oleh Imam Adz Dzahabi, ia mengatakan bahwa hadits ini shahih gharib). Selesai nukilan dari kitab karya Shafiyurrahman Al Mubarakfuri.

Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Demikianlah, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Saw, mereka melihat sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mengira bahwa Nabi Saw masih tidur. Selang beberapa waktu karena orang-orang kafir tidak kunjung tidur, Rasulullah mengambil tanah lalu dibacakan Q.S Yasin ayat 9 yang berbunyi “فأغشيناهم فهم لا يبصرون” lalu tanah tersebut dilempar keluar dan tidak lama kemudian orang-orang kafir tersebut tertidur. Kemudian setelah itu, orang-orang kafir amat sangat marah karena ternyata adalah Ali (RA) yang berada di tempat tidur Nabi Muhammad (SAW), maka pencarian dan pengejaran secara besar-besaran terhadap Rasulullah (SAW) pun mereka lakukan. Mereka mengumumkan sayembara berhadiah 100 ekor onta bagi siapa saja yang dapat menyerahkan kepala Nabi (SAW). Pada saat itu Nabi dan Sahabat Abu Bakar tengah pengejaran para kaum musyrikin quraisy. Mereka hendak membunuh Nabi sebagai upaya memadamkan cahaya islam. Namun, upaya pengejaran belum berhasil karena banyak pertolongan Allah diberikan kepada Nabi dan Abu Bakar.

Terlihat dari adanya sarang laba-laba dan sarang telur merpati di pintu gua tsur. Sehingga mengindikasikan tidak ada orang di dalamnya. Di gua Tsur wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar. “Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”. Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki mulia yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut… mereka membunuh Muhammad. Berdua mereka berhadapan, dan sepakat untuk bergantian berjaga. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya, cinta… Sejeda kemudian, Muhammad tertidur di pangkuan Abu Bakar. Dalam senyapnya malam, wajah Abu Bakar muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun menganggumu”. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih yang sangat kelelahan itu. Abu Bakar meringis ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua. “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” “Seekor ular baru saja menggigit saya wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat” Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibirnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?” “Saya khawatir membangunkanmu dari lelap” jawab Abu Bakar. Ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah. Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Rasulullah berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah. “Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”. Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. “Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian. Lalu Nabi Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu ” Wahai ular Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?” Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau. “Ya hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,” kata sang ular. “Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lan jut sang ular. Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam? “Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT. “Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur. “Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari gua Tsurpun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu. Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

Rasullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) tinggal di dalam goa Tsur pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Selama itu, berlangsung pertolongan bagi mereka berdua.

1 Abdullah bin Abu Bakar (RA) mendatangi goa pada malam hari dan menyampaikan berita perihal berbagai rencana dan kegiatan orang-orang kafir kepada mereka berdua. Sebelum fajar ia sudah kembali ke Makkah sehingga seolah-olah ia selalu berada di Makkah.

2 Amar bin Fuhairah menggiring domba-domba gembalaannya ke dalam goa pada malam hari sehingga Rasulullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) bisa minum susu domba hingga cukup kenyang. Amar menggiring kembali domba-dombanya ke Makkah sebelum fajar selang beberapa waktu setelah Abdullah bin Abu Bakar kembali ke Makkah, dengan demikian jejak kaki Abdullah terhapus oleh jejak domba-domba itu.

3 Abdullah bin Ariqat Laitsi, seorang kafir yang dapat dipercaya dan bekerja sebagai pemandu yang diupah oleh Abu Bakar (RA) datang ke goa ini, setelah hari ke-tiga, membawa dua ekor onta.

4 Pada waktu itu Abu Bakar (RA) menawarkan satu dari onta itu kepada Nabi (SAW) sebagai hadiah. Namun beliau (SAW) memaksa membeli onta itu. Abu Bakar (RA) pun akhirnya bersedia menerima pembayaran sebesar empat ratus dirham untuk onta itu. Onta inilah yang kemudian dikenal sebagai onta Rasulullah (SAW) yang dinamai Quswa.

5 Dengan dipandu oleh Abdullah bin Ariqat, mereka berdua memulai perjalanan menuju Madinah. Amar juga menyertai perjalanan mereka.

Diriwayatkan bahwa Nabi dan Abu bakar melakukan perjalanan bersama dua orang penunjuk jalan yaitu Abdullah bin Uraiqith dan Amir Bin Fuhairah dengan berkendaraan unta. Kaum musyrikin quraisy setelah kehilangan Nabi dan Abu Bakar, mereka sibuk menyiarkan ke sekeliling kota Mekah dan kepada Suku-suku dan kabilah, kepala-kepalanya dimintai pertolongan untuk mencari Nabi Muhammad. Siapapun yang berhasil menangkap nabi akan diberikan 100 ekor unta. Di tengah perjalanan di sebuah dusun bernama qudaidin. Salah seorang penduduknya mengenali Nabi dan sahabat Abu bakar. Kemudian diceritakan kepada pemimpin kabilahnya bernama Suraqah bin Malik Al Mudlij. Namun Suraqah menyangkalnya karena ia ingin menangkapnya sendirian. Secepatnya Suraqah mengejar perjalanan Nabi dan Sahabat Abu Bakar. Abu bakar yang mengetahui ada seseorang mengejarnya merasa khawatir sampai menangis kalau orang tersebut menangkap Nabi. Nabi pun berdoa’a kepada Allah dan dengan kehendak Allah berulang kali kuda yang ditunggangi Suraqah tergelincir dan Suraqah jatuh terpelanting ke tanah. Keluarlah rasa bahwa kemenangan akan di dapat oleh Nabi Muhammad. Kemudian Suraqah memanggil nama Nabi dan meminta perlindungan dari bahaya dan juga mengucapkan beribu maaf. Akhirnya mengadakan perjanjian tertulis. Dari Suraqahlah Nabi mulai mengetahui tentang imbalan 100 ekor unta jika berhasil menangkapnya. Nabi tersenyum dan memerintahkan untuk merahasiakan tentang kepergian dirinya. Selanjutnya Nabi dan sahabat Abu Bakar singgah di sebuah perkemahan milik seorang perempuan bernama Ummu Ma’bad. Mereka hendak membeli kurma, daging, dan air susu. Pada saat itu nabi melihat seekor kambing yang kurus menderita payah dan sakit. Beliau hendak memerah susunya dengan ijin Allah memancarlah begitu banyak air susu, padahal kambing itu sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air susu. Peristiwa menakjubkan ini diceritakan kembali oleh Ummu Ma’bad kepada suaminya Abu Ma’bad. Sampai-sampai ia pun bercita-cita jika bertemu Nabi ingin menjadi pengikut dan sahabatnya. Sesudah itu, bertemu pula dengan rombonganm kafilah dari Qabilah Banu Sahmin yang dikepalai oleh Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslamy. Buraidah yang berhasrat mendapatkan hadiah 100 ekor unta ingin pula menangkap Nabi. Beserta 70 orang kaumnya hendak menangkap Nabi namun dengan kehendak Allah seketika itu mereka semua membaca Syahadat dan berislam. Sebelum sampai di Madinah beliau telah mendapat pengikut baru yang dijumpai selama perjalanan. Mereka mengiringi Nabi hingga ke Madinah. Saat masuk ke Madinah dikibarkanlah bendera.

AMANAT DAN DALIL-DALIL SYAR’IYYAH (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 22-5-2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 57-59
بسم الله الرحمن الرحيم
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا (57) إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Artinya : (57) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman (58) Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (59) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Ayat 57

Tafsiran Ayat

وقوله: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} هذا إخبار عن مآل السعداء في جنات عدن، التي تجري فيها الأنهار في جميع فجاجها ومحالها وأرجائها حيث شاؤوا وأين أرادوا، وهم خالدون فيها أبدا، لا يحولون ولا يزولون ولا يبغون عنها حولا. وقوله: {لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ} أي: من الحيض والنفاس والأذى. والأخلاق الرذيلة، والصفات الناقصة، كما قال ابن عباس: مطهرة من الأقذار والأذى. وكذا قال عطاء، والحسن، والضحاك، والنخعي، وأبو صالح، وعطية، والسدي. وقال مجاهد: مطهرة من البول والحيض والنخام والبزاق والمني والولد. وقال قتادة : مطهرة من الأذى والمآثم ولا حيض ولا كلف. وقوله: {وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا} أي: ظلا عميقا كثيرا غزيرا طيبا أنيقا..

Allah berfirman (وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا) “Sedangkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya selama-lamanya” Ini adalah informasi tentang tempat kembalinya su’ada (orang-orang yang beruntung) di dalam surga ‘Adn , yang mengalir sungai-sungai di seluruh lembahnya, diseluruh tempatnya dan di seluruh penjuru dimanapun dan ke mana pun mereka kehendaki. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarga Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Di balik pemanangan yang menyedihkan dan memilukan, kita dapati “ orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh” berada di dalam taman-taman surge yang teduh yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Sungai-sungai tersebut untuk setiap orang bukan kelompok orang atau masyarakat yang mana didalamnya terdiri dari:
1) Sungai yang berisi air yang jernih (kinclong)
2) Sungai yang berisi air susu
3) Sungai yang berisi arak
4) Sungai yang berisi madu

Kita jumpai pula dalam pemanangan itu kemantapan, keabadian, ketenangan, dan ketentraman yang berisi kenikmatan, tidak pernah merasakan mulas, kepingin buang air kecil/besar, dan tidak merasakan sakit. Oleh karenanya di surga tidak ada WC atau rumah sakit (RS).

Firman Allah (لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ) “Di dalamnya mereka memiliki istri-istri yang suci” yaitu dari haid, nifas, kotoran, akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat hina, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Sedangkan Qatadah berkata: yaitu suci dari kotoran, dosa, haid, dan beban tanggung jawab (tidak beranak). Dan firmanNya (وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا) “Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. Yaitu naungan yang luas, lebat, rindang, indah dan bagus. Sehingga setiap orang tidak perlu repot memilih tempat yang teduh untuk mendapatkan kenyamanan seperti keadaan saat di dunia.

Ayat 58

Asbabun Nuzul

قال ابن جرير: حدثني القاسم حدثنا الحسين، عن حجاج، عن ابن جريج [قوله: { إِنّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا } ] قال: نزلت في عثمان بن طلحة قبض منه النبي صلى الله عليه وسلم مفتاح الكعبة، فدخل به البيت يوم الفتح، فخرج وهو يتلو هذه فدعا عثمان إليه، فدفع إليه المفتاح، قال: وقال عمر بن الخطاب لما خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من الكعبة، وهو يتلو هذه الآية: فداه أبي وأمي، ما سمعته يتلوها قبل ذلك..

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ustman bin Thalhah di saat Rasulullah mengambil kunci Ka’bah darinya, lalu beliau masuk ke dalam Baitullah pada Fathu Makkah. Di saat beliau keluar beliau mambaca ayat ini. Lalu Beliau memanggil Utsman dan menyerahkan kunci itu kambali.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang meminta kunci adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib namun ia meminta kunci kepada juru kunci Makkah (Ustman bin Thalhah bin Abdullah bin Abdul Uzza bin Ustman bin Abdud Daar bin Qushoi bin Kilab Al-Quraisy) dengan keras dan sedikit memaksa. Setelah itu Nabi Muhammad dating dan menegur Ali untuk mengembalikan dengan membacakan ayat ini seusai menggunakanya dengan nada yang lemah lembut. Dan berangkat dari kelembutan itu yang menjadikan sabab Ustman bin Thalhah masuk islam. Subhanallah…

Ayat ini turun baik berkenaan dengan peristiwa tersebut atau tidak, yang pasti hukumnya tetap berlaku umum dengan indikasi penggunaan bentuk plural atau jamak (yang memiliki makna lebih dari satu) pada lafadl الأمانات. Untuk itu Ibnu Abbas dan Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata:

هي للبر والفاجر، أي: هي أمر لكل أحد
“Hukumnya untuk orang yang baik dan yang zhalim, yaitu perintah untuk setiap orang (bukan golongan atau kelompok)”

Dalam ayat ini Allah mengabarkan, bahwa Dia memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada ahlinya. Di dalam hadis al-Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah bersabda:

أد الأمانة إلى من ائتمنك، ولا تخن من خانك

“Tunaikanlah amanah kepada yang memberikan amanah dan jangan khianati orang yang berkhianat kepadamu” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan)

Hal itu mencakup seluruh amanah yang wajib bagi manusia, berupa hak-hak Allah terhadap para hamban-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, kafarat, nadzar dan lain sebagainya, yang kesemuanya adalah amanah yang diberikan tanpa pengawasan hambaNya yang lain. Serta amanah yang berupa hak-hak adami (hamba dengan hamba yang lainnya) seperti titipan yang hal tersebut dilakukan tanpa pengawasan saksi. Itulah yang diperintahkan oleh Allah untuk ditunaikan. Barangsiapa yang tidak melakukanya di dunia ini, maka akan dimintai pertanggungjawabannya di hari Kiamat, sebagaimana yang terdapat di dalam hadis shahih bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

لتؤدن الحقوق إلى أهلها، حتى يقتص للشاة الجماء من القرناء
“Sungguh kamu akan tunaikan hak kepada ahlinya, hingga akan diqishah untuk (pembelasan)seekor kambing yang tidak bertanduk terhadap kambing yang bertanduk”

Diantara amanat-amanat ini –yang masuk ditengah-tengah amanat yang disebutkan di muka- adalah amanat dalam bermuamalah sesame manusia dan menunaikan amanat kepada mereka. Amanat dalam bermuamalah seperti amanat yang berupa titipan materi, amanat berupa kesetiaaan rakyat kepada pemimpin dan kesetiaan pemimpin kepada rakyat, amanat untuk memelihara anak-anak kecil, amanat menjaga kehormatan jamaah-harta benda dan wilayahnya serta semua kewajiban dan tugas dalam kedua lapangan kehidupan itu secara garis besar. Inilah amanat-amanat yang diperintahkan Allah untuk ditunaikan.

Tafsiran Ayat selanjutnya

وقوله: { وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ } أمر منه تعالى بالحكم بالعدل بين الناس؛ ولهذا قال محمد بن كعب وزيد بن أسلم وشهر بن حوشب: إنما نزلت في الأمراء، يعني الحكام بين الناس.

Firman Allah (وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ) “Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil”adalah perintah dari-Nya untuk menetapkan hukum di antara manusia dengan adil. Untuk itu Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Syahr bin Hausyab berkata:

إنما نزلت في الأمراء، يعني الحكام بين الناس
“Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk para umara, yaitu pemutus hukum di antara manusia”

Keadilah merupakan hak setiap manusia hanya karena dia diindentifikasi sebagai manusia. Maka identitas sebagai manusia inilah yang menjadikanya berhak mendapat keadilan menurut manhaj rabbani. Identitas ini dikenakan untuk semua manusia, muknin ataupun kafir, teman ataupun lawan, orang berkulit putih atau berkulit hitam, orang Arab ataupun orang Ajam (non Arab) dan lain sebagainya.

وقوله: { إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ } أي: يأمركم به من أداء الأمانات، والحكم بالعدل بين الناس، وغير ذلك من أوامره وشرائعه الكاملة العظيمة الشاملة. وقوله: { إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا } أي: سميعا لأقوالكم، بصيرا بأفعالكم، كما قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زُرْعَة، حدثنا يحيى بن عبد الله بن بكير، حدثني عبد الله بن لهيعة، عن يزيد بن أبي حبيب، عن أبي الخير، عن عقبة بن عامر قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يقرئ هذه الآية { سَمِيعًا بَصِيرًا } يقول: بكل شيء بصير

Firman Allah (إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ) “Sesungguhnya Allah member pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu” Artinya, Allah perintahkan kalian untuk menunaikan amanah, menetapkan hukum di antara manusia dengan adil dan hal lainya yang mencakup perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya yang sempurna, agung dan lengkap. Kemudian firman-Nya (إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا) “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat”. Yaitu mendengar seluruh perkataan kalian dan melihat seluruh perbuatan kalian. Sebagaimana Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW membaca ayat ini (سَمِيعًا بَصِيرًا) “Maha mendengar lagi Maha melihat, beliau bersabda:

بكل شيء بصير
“Allah Maha melihat segala sesuatu”

Kita berhenti sebentar di sini untuk melihat ungkapan ini dari sudut metode penyampaianya. Susunan kalimat aslinya semestinya, “Innahuu ni’ma maa ya’izhukumullah bih (إنه نعم ما يعضكم الله به) , tetapi diubah menjadi kalimat tranformatif dengan mendahulukan lafadz Jalalah (Allah) dan dijadikanya sebagai “isim inna”, sedangkan perkataan “nikma maa / نعم ما” diidzghomkan menjadi “ni’imma / نعمّا” beserta semua mutaalliqat (pergantunganya) dalam posisi sebagai “khabar inna” sesudah membuang khabarnya. Hal ini untuk memberikan kesan betapa eratnya hubungan antara Allah dan pengajaran yang diberikan kepada mereka itu.

Sebenarnya itu bukanlah ‘izhah ‘pengajaran atau nasehat’, melainkan ‘perintah’. Hanya saja dalam kalimat ini diungkapkan dengan ‘izhah ‘pengajaran atau nasehat’, karena ‘izhah itu lebih berkesan dalam hati, lebih cepat masuk perasaan dan lebih dekat untuk menunaikanya, yang didorong oleh perasaan suka rela, keingginan dan rasa malu.

Kemudian pada ujung ayat diakhiri dengan kalimat yang menghubungkan perintah itu dengan Allah, menimbulkan rasa muraqabah, takut, dan berharap kepada-Nya.

“Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat”

Keserasian antara tugas-tugas yang diperintahkan yaitu menunaikan amanat-amanat dan memutuskan hukum dengan adil di antara manusia dengan Allah sebagai Zat Yang Maha Menderngan lagi Maha Melihat, memiliki relevansi yang jelas dan halus. Maka Allah senantiasa mendengar dan melihat masalah-masalah keadilah dan amanat. Keadilan itu juga memerlukan pendengaran dan penglihatan serta pengaturan yang baik. Juga memerlukan pemeliharaan semua hal yang melingkupi dan semua gejala, dan perlu memperhatikan dan memikirkan secara mendalam apa yang ada di balik fenomena-fenomena luar yang melingkupinya. Dan terakhir, perintah terhadap kedua hal ini bersumber dari Zat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat segala urusan

Ayat 59

Wa Ba’du, apakah gerangan yang menjadi ukuran amanat dan keadilan itu? Bagaimana kriterianya? Bagaimana gambaran, batasan dan pelaksanaanya dalam semua lapangan kehidupan dan semua aktifitas kehidupan?

Apakah akan kita serahkan madlul ‘materi / apa yang ditunjuki’ amanat dan keadilah dengan segala sarana pelaksanaan dan realisasinya kepada tradisi dan istilah masyarakat? Atau, kepada keputusan akal dan hawa nafsu mereka?

Sesungguhnya akal manusia memiliki pertimbangan dan penilaian karena ia adalah ia adalah salah satu alat untuk mengetahui dan alat petunjuk pada manusia. Hal ini adalah benar. Akan tetapi akal manusia adalah akal perseorangan dan masyarakat yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu, yang terpengaruh oleh berbagai macam pengaruh. Disana tidak ada yang disebut “akal manusia” secara muthlak, tetapi yang ada adalah akalku dan akalmu, pikiran si fulan dan si anu, atau pemikian sejumlah orang di suatu tempat dan pada suatu masa. Semua ini tidak lepas dari berbagai pengaruh yang bermacam-macam, yang menyebabkanya cenderung ke sini dan ke sana.

Oleh karena itu, harus ada timbangan yang mantap yang menjadi rujukan semua akal pikiran yang beraneka ragam. Sehingga, akal dan pikiran itu akan mengetahui sejauh mana kesalahan dan kebenaran-Nya dalam memutuskan hukum-hukum dan pola pikirnya, sejauh mana kebohongan dan kelebihanya, atau sejauh mana kekurangan dan keterbatasan hukum-hukum dan persepsinya. Penilaian akal manusia di sini juga sebagai alat bagi manusia untuk mengetahui bobot keputusannya dengan menggunakan timbangan yang mantap dan tidak akan pernah cenderung kepada keinginan hawa nafsu serta tidak akan terpengaruh oleh aneka macam pengaruh.

Tidak ada gunanya timbangan-timbangan yang dibuat oleh manusia. Karena dalam timbangan itu sendiri terdapat kerusakan yang akan marusak semua tata nilai, kalau manusia tidak mau kembali kepada timbangan yang mantap dan lurus itu.

Maka Allahlah yang membuat timbangan yang mantap dan lurus bagi manusia, amanat, keadilan, semua nilai, semua norma, semua hukum dan keputusan dalam semua lapangan kehidupan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Artinya : (59) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Asbabun Nuzul

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (59) } قال البخاري: حدثنا صدقة بن الفضل، حدثنا حجاج بن محمد الأعور، عن ابن جريج، عن يعلى بن مسلم، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس: { أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ } قال: نزلت في عبد الله بن حذافة بن قيس بن عدي؛ إذ بعثه رسول النبي صلى الله عليه وسلم في سرية. وهكذا أخرجه بقية الجماعة إلا ابن ماجه من حديث حجاج بن محمد الأعور، به. وقال الترمذي: حديث حسن غريب، ولا نعرفه إلا من حديث ابن جريج . وقال الإمام أحمد بن حنبل: حدثنا أبو معاوية، حدثنا الأعمش، عن سعيد بن عبيدة، عن أبي عبد الرحمن السلمي، عن علي قال: بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم سرية، واستعمل عليهم رجلا من الأنصار، فلما خرجوا وَجَد عليهم في شيء. قال: فقال لهم: أليس قد أمركم رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تطيعوني؟ قالوا: بلى، قال: اجمعوا لي حطبا. ثم دعا بنار فأضرمها فيه، ثم قال: عزمت عليكم لتدخلنها. [قال: فهم القوم أن يدخلوها] قال: فقال لهم شاب منهم: إنما فررتم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من النار، فلا تعجلوا حتى تلقوا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإن أمركم أن تدخلوها فادخلوها. قال: فرجعوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال لهم: “لو دخلتموها ما خرجتم منها أبدا؛ إنما الطاعة في المعروف”. أخرجاه في الصحيحين من حديث الأعمش.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang firman-Nya, (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ) “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu”. Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi, ketika diutus oleh Rasulullah di dalam satu pasukan khusus. Demikianlah yang dikeluarkan oleh seluruh jama’ah kecuali Ibnu Majah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Rasulullah mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata: “Bukanlah Rasulullah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?” Mereka menjawab: “Betul”. Dia berkata lagi: “Himpunlah untukku kayu bakar ileh kalian”, Kemudian ia meminta api, lalu membakarnya, dan ia berkata: ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya’, maka seorang pemuda di antara mereka berkata: ‘sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah dari api ini’. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasulullah. Jika beliau perintah kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah. Lalu mereka kembali kepada Rasulullah dan mengabarkan tentang hal itu. Maka Rasulullah pun bersabda kepada mereka:

لو دخلتموها ما خرجتم منها أبدا؛ إنما الطاعة في المعروف
“Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf (Dikeluarkan dalam kitab Ash-Shahihain dari hadis al-A’masy)”

Dalam nash yang pendek ini, Allah SWT menjelaskan syarat iman dan batasan Islam. Dalam waktu yang sama dijelaskan pulalah kaidah nizam asasi (peraturan pokok) bagi kaum muslimin, kaida hukum dan sumber kekuasaan. Semuanya dimulai dan diakhiri dengan menerimanya dari Allah saja dan kembali kepada-Nya saja mengenai hal-hal yang tidak ada nashnya, seperti urusan-urusan parsial yang terjadi dalam kehidupan manusia sepanjang perjalanannya dan dalam generasi-generasi berbeda yang notabene berbeda-beda pula pemikiran dan pemahaman dalam menanggapinya. Untuk itu semua, diperlukan timbangan yang mantap, agar menjadi tempat kembalinya akal, pikiran dan pemahaman mereka.

Sesungguhnya kedaulatan hukum itu hanya milik Allah, bagi kehidupan manusia dalam urusan yang besar maupun yang kecil. Untuk semua itu, Allah telah membuat syariat yang dituangkan-Nya dalam Al-Qur’an dan diutus-Nya Rasul yang tidak pernah berbicata dengen memperturutkan hawa nafsunya untuk menjelaskan kepada manusia. Oleh karena itu, Syariat Rasulullah termasuk syariat Allah (Al-Hadis)

Allah wajib ditaati. Diantara hak preogatif uluhiyyah ialah membuat syariat. Maka syariat-Nya wajib dilaksanakan. Orang-orang yang beriman wajib taat kepada Allah dan wajib taan pula kepada Rasulullah karena mentaati Rasul berarti mentaati Allah yang telah mengutusnya untuk membawa syatiat dan menjelaskanya kepada manusia di dalam Sunnahnya.

Kemutlakan mentaati Allah dan Rasulnya ini terindikasi dengan gaya uslub yang menggunakan kata أطيعوا yang berarti “Taatilah” berbeda dengan teks selanjutnya yang menafikan term أطيعوا. Sehingga tidak dibaca أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأطيعوا أولى الأمر منكم ‘taatilah Allah, taatilah Rasulullah dan taatillah ulil amri’ akan tetapi sengaja dihilangkan oleh syari’ yakni Allah. Hal ini membuat isyarat bahwa kemutlakan mentaati hanya kepada Allah dan Rasulullah semata walaupun dalam hal yang kelihatanya jelek contoh Allah pernah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih putranya Ismail. Meskipun demikian Nabi Ibrahim wajib mentaatinya untuk melaksanakan perintahnya. Lain halnya ketaatan ulil amri yang tidak disertai kata أطيعوا , maka kewajiban melaksanakan ketaatan dalam batas-batas yang makruf dan sesuai dengan syariat Allah, dan dalam hal yang tidak terdapat nash yang mengharamkanya. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Al-A’masy, sabda Nabi SAW:

إنما الطاعة في المعروف
“Ketaaan itu hanya pada yang ma’ruf”

Diriwayatkan dalam Shahihain juga dari Yahya al-Qaththan, sabda Nabi SAW:

السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة
“Wajib atas orang muslim untuk mendengar dan taat terhadap apa yang ia sukai atau tidak sukai, asalkan tidak diperintah berbuat maksiat, apabila diperintah kepada maksiat, maka tidak boleh mendengar dan mentaatinya sama sekali”

Ini mengenai masalah yang terdapat nashnya yang sharih. Sedangkan mengenai masalah-masalah yang tidak terdapat nashnya dan persoalan-persoalan yang berkembang seiring dengan perkembangan waktu dan kebutuhan manusia serta perbedaan lingkungan yang dalam hal ini tidak terdapat nash qath’I yang mengaturnya, maka hal itu tidak dibiarkan terombang-ambing, tidak dibiarkan tanpa ada metode yang digunakan untuk memecahkan hukum dan pengembanganya. Nash yang pendek ini telah meletakkan manhaj ijtihad dalam menghadapi semua itu dengan ijma’ dan qiyas.

oleh:

Muhammad Bahauddin

Ngaji di Menara, 6 Ramadlan 1439 H

102 KHATAMAN, NGALAP BERKAH KHR. ASNAWI

Selepas maghrib, kawasan menara dipadati alumni Qudsiyyah yang akan melaksanakan 102 khataman dihadiahkan untuk muassis dan masyayikh Qudsiyyah. Kegiatan ini akan mengkhatamkan al-qur’an seb

anyak 102 mengenang 102 tahun lalu pendirian Madrasah Qudsiyyah oleh KHR. Asnawi. Acara yg pada Jumat malam (4/5) berlangsung dari pukul 19.20 WIB (bakda Isya’) diawali dengan daftar ulang 510 khatimin.

510 khatimin dibagi menjadi 102 grup yang bertugas menyelesaikan 1 khataman al-qur’an. Hasan, salah satu khotimin menuturkan rata-rata perpeserta membaca 6 juz. Menurut Amin Ikhwani, koordinator kegiatan menuturkan bahwa setiap kelompok diusahakan ada yang hafidz sehingga dapat membantu peserta lain yang belum menyelesaikan porsinya.

Ihsan, Ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah pemaknaan “ngaji” dari konsep Gusjigang. Ahmad Nadjib, selaku Ketua YAPIQ menuturkan khataman seperti ini akan dilaksanakan tiap tahun sebagai bukti bakti kita kepada pendiri dan guru Qudsiyyah.

Peserta kompak memakai pakaian ala kudusan berupa baju putih, bersarung batik dan mem

akai iket sebagai penutup kepala. Menurut Abdul Jalil, panitia menggagas konsep ini untuk lebih menyerukan islam nusantara dan mengaplikasikan pakaian rakyat kauman dulu kala.

Acara berlangsung khidmah dan setelah genap 102 khataman acara berakhir pukul 21.30 WIB. Kemeriahan dilanjutkan di Halaman depan Makam Sunan Kudus, tepat di Selatan Bangunan Menara, 120 ingkung telah ditata rapi untuk disuguhkan kepada para peserta. Ingkung merupakan makanan khas yang disajikan ketika prosesi bancaan, manaqiban maupun tirakatan.

Ingkung dinikmati secara kepungan merupakan tradisi santri yang tak kenal gengsi, mau berbagi dengan yang lain dan tidak memandang tinggi-rendah derajat lainnya. Perbedaan menyatu, luber dalam kebersamaan dan keharmonisan, begitu tutur salah panitia. Ingkung yang disediakan adalah nasi dengan lauk Opor Ayam yang masih utuh dan Sambel Goreng, kuliner khas Kudus.

“Ngalap berkah”, begitulah kesan dari peserta khatmil Quran terutama dalam memeriahkan program Festival Alquran yang digagas oleh Qudsiyyah. Mereka percaya bahwa berkah para salafus sholihin akan berimbas dalam kehidupan mereka, itulah alasan mengapa tanpa pamrih ratusan peserta mengikuti kegiatan tersebut. Wahyu, salah seorang percaya bahwa tepat kegiatan ini diisi dengan khataman Al-Qur’an karena Al Qur’an adalah sumber berkah.

Berbondong-bondong Ziarah Masyayikh Muassis dan Muqri’

Menjelang datangnya bulan nuzulul Quran, Madrasah Qudsiyyah mengadakan Festival Alquran yang akan menyajikan koleksi Alquran dari Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (Jakarta). Kegiatan pameran ini akan dilaksanakan selama satu pekan penuhdari Jumat hingga Kamis tanggal 4-10 Mei 2018 / 18 – 24 Sya’ban 1438 H di Tanah KHR. Asnawi, Jalan KHR. Asnawi, Kecamatan Kota, Kab. Kudus
Pameran yang bertajuk “Menguduskan Alquran, Menebar Kedamaian” ini dikemas dengan event pameran khazanah Islam Nusantara yang menampilkan turats (kitab) karya ulama Indonesia dan Kaligrafi dari berbagai seniman serta Parade Benteng Pancasila.
Adapun Kegiatan utama dan pendukung diantaranya, Zaiarah masyayikh, Khotmil Quran 102 Kolosal, Lomba-lomba, seminar dan Ngontel Bareng, Halalqoh serta Pengajian.
Baca juga Rangkaian Kegiatan Festival Alquran

Ziarah Masyayikh
Santri dan Asatidz berbondong-bondong menuju makam KHR. Asnawi pada pagi pukul 08.00 WIB , kemudian menuju ke makam Krapyak Sedio Loehoer dan makam KH. M. Arwani Amin
Kegiatan Ziarah kepada Guru dan maestro al-Qur’an dilaksanakan sebelum pelaksanaan Festival al-Qur’an dan Pameran Khazanah Islam Nusantara. Rangkaian ziarah dimulai dari makam Pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi Kudus di kompleks makam al-Qur’an, dilanjutkan ke makam masyayikh Qudsiyyah seperti alm KH. Yahya Arif, KH Ma’ruf Asnawi, KH Ma’ruf Irsyad, KH. Jasin Djalil, KH Mahfudz Noor di Makam Krapyak Kudus. Ziarah kemudian berlanjut ke makam guru besar al-Qur’an (Muqri’) KH. M. Arwani Amin di Jl. KH. M. Arwani Amin, Kajeksan Kudus.
Ziarah dipimpin oleh KH. Ahmad Hanafi, KH. Abdur Rosyad, KH. J. Abdurrahman, KH. Nurul adlha, KH. Ali Abbas. Sholawat karangan mbah Asnawi juga dilagukan bersama dipimpin H. Hilal Haidar. Kejutan justru di akhir acara sebelum para santri meninggalkan majlis sholawat asnawiyyah.
Selesai jam 08.30 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan ke pemakaman sedio luhur, krapyak. Disinilah beberapa makam masyayikh dan asatidz qudsiyyah. Ziarah berlangsung dengan khidmat hingga pukul 10.00 WIB

MENGUDUSKAN QUR’AN, MENEBAR KEDAMAIAN

Memulai dari titik koordinat Menara dengan mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan dalam peringatan satu abad Qudsiyyah dua tahun silam, ternyata memberi spirit tersendiri untuk bangkit menata barisan. Shalawat asnawiyyah semakin menggema di bumi Nusantara, MTs dan Pesantren Putri Qudsiyyah lahir, tokoh-tokoh muda mulai bermunculan di berbagai sektor, organisasi santri dan alumni (PPQ-IKAQ) mulai menampakkan signifikansinya, dan masih banyak lagi kiprah ‘Generasi Gusjigang’ di bawah panji-panji Menara Kudus sebagai simbol toleransi (Ukhuwwah Qudusiyyah) yang multi etnis-multi religi.

Kini, semangat itu akan kita gelorakan kembali agar semakin bersemi. Generasi Gusjigang siap menggelar acara Festival Al-Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara Dan Parade Benteng Pancasila pada 18-24 Sya’ban 1439 H/4-10 Mei 2018 TU di Bumi bersejarah Qudsiyyah. Tujuh hari tujuh malam Bumi Kudus akan berhias hikmah, sains dan seni untuk menurunkan kebijakan langit menjadi kedamaian bumi.

Cara yang kami tempuh adalah dengan membentuk “Majlis Gusjigang” yang menyatukan berbagai unsur perilaku secara sinergis, sehingga di dalamnya ada keterlibatan teologis (theological involvement), keterlibatan intelektual (intellectual involvement), keterlibatan ritual (ritual involvement), dan keterlibatan pengalaman (experiential involvement). Kohesi masing-masing unsur ini akan selalu bertransformasi dan memunculkan energi positif kemandirian yang tercerahkan (spiritual independence).

Serangkaian acara telah siap digelar. Sebagai penerus tradisi salaf, acara akan dimulai dengan mohon doa restu kepada Masyayikh di Kudus (Ziarah Masyayikh). Selanjutnya kita akan mengeksplorasi kebijakan langit dengan khataman Kolosal 102 Khataman, Nyerat al-Qur’an Kolosal (Khotmil Qur’an bil Kitabah bersama 666 santri putra dan 333 santri putri) serta Festival Tilawah. Dalam rangka menurunkan kedamaian bumi, telah disiapkan agenda Halaqah “Rasm Utsmany di Nusantara”, Olimpiade Sains Qur’ani, Lomba Mewarnai Ornamen Mushaf, Pameran “Sejarah al-Qur’an”, Pameran Khazanah Islam Nusantara, Napak Tilas Islam Nusantara Benteng Pancasila, Seminar “Jateng Benteng Pancasila Melawan Narkoba”, Sarasehan “Gusjigang dan Ketahanan Ekonomi Jawa Tengah”, Sinau Seni dan Sains Qur’an bersama Sabrang “Noe” Letto, Festival Seribu Terbang al-Mubarok all Generation, Malam Sastra Qur’ani, Pertunjukan Teater “Jangkar Bumi”, Gambusan “alladzifih”, Pertunjukan “Tari Gusjigang” dan Gusjigang Expo sebagai artikulasi kongkrit karakter Gusjigang.

Kami yakin, dengan merapatkan barisan untuk bergandengan tangan secara jama’i, tangan-tangan suci para mu’assis akan menuntun kita untuk mampu menguduskan Qur’an menebar kedamaian. Secara teknis kita akan bermetamorfosa ke peradaban baru yang lebih damai dan ber tepo seliro. Kita akan mendayung bersama dari pusat pengkaderan ulama (center of exellence) ke pencetakan bibit unggul (human resources) di berbagai bidang menuju pulau pemberdayaan sosial (agent of development).

Akhirnya, selamat menguduskan Qur’an, selamat menebar kedamaian, dan selamat menemukan kembali Jadi diri yang terlupakan. [dj]

oleh:
ABDUL JALIL
Sekretaris Umum IKAQ

Festival Al Qur’an Bakal Dibuka Menteri Agama

QUDSIYYAH, KUDUS – Festival Al Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara dan Parade Benteng Pancasila yang digagas Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, bakal dilaksanakan lebih awal dari Jadwal semula. Yang semula dijadwalkan pada 10 – 17 Mei, diajukan lebih menjadi 4 – 10 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 34 ini bakal dibuka langsung oleh Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua panitia sekaligus Ketua Umum IKAQ, H. Ihsan, menyatakan, pengajuan jadwal pameran dari waktu semula merupakan arahan dan penyesuaian jadwal Menteri Agama. “Kita sesuaikan dengan jadwal pak Menteri,” katanya.

Ia menandaskan pameran ini bakal dibuka secara resmi oleh Meneteri Agama pada Jumu’ah (4/5/2018) Pagi. Dengan kehadiran Menteri Agama, diharapkan kegiatan festival ini akan semakin ramai dan mengena ke masyarakat. Melalui kegiatan ini, ia berharap akan semakin tersampaikannya nilai-nilai al Qur’an kepad masyarakat. “Juga mudah-mudahan akan tersosialisasi mushaf standar Indoneisa kepada asyarakaty Kudus dan sekitarnya,” kata pria yang juga sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus ini.

Kegiatan seminggu ini baklal menampilkan pameran sejarah Al Qur;an, pameran khazanah Islam Nusantara, khataman Kosolsal 102 khataman, Festival Tilawah, Khaotmul Qur’an bil Kitabah, seminar Saintifikasi dan Faktualisasi al Qur’an, dan Olimpiade Sain. Selain itu, juga bakal dihibur dengan festival terbang klasik, malam seribu terbang, seni dan pertunjukan teater, Konser 21 tahun Al Mubarok, Konser “Noe” Letto, Gambusan, Tari Gusjigang, dan Ngontel Bareng dengan tema “Islam Nusantara Benteng Pancasila”. (Kharis)

Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah Dibuka Hingga 7 Juni 2018

QUDSIYYAH, KUDUS  –  Pendaftaran santri baru Qudsiyyah Kudus baik putra dan putri tahun 2018/2019 telah dibuka.  Secara resmi pendaftaran dan sekaligus tes seleksi bakal dilaksanakan pada 2 – 7 Juni 2018. Pada saat tanggal 2-7 Juni tersebut, pendaftaran santri baru dapat dilaksanakan dengan one day services, pendaftaran tes seleksi serta hasil seleksi dilakukan dalam satu hari . Sementara,  sebelum tanggal 2-7 Juni itu, pendaftaran bisa dilayani di kantor MTs Qudsiyyah, tetapi untuk tes seleksi serta hasil seleksi dapat dilakukan pada tanggal 2 – 7 Juni 2018.

 

Pada tahun 2018/2019 ini Qudsiyyah membuka 4 pendidikan formal dan 2 pendidikan non-formal. Keempat pendidikan formal tersebut masing-masing MI Qudsiyyah (khusus putra), MTs Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putri) dan MA Qudsiyyah (khusus putra). Sedangkan dua pendidikan non formal adalah Ponpes Qudsiyyah Putra dan Ponpes Qudsiyyah putri yang masing-masing membuka jurusan Tahfid Qur’an dan jurusabn Fiqih (kitab).

 

Baca: Dua Jurusan Ponpes Qudsiyyah Putri Mulai Menerima Santri Baru

 

Adapun Persyaratan administrasi pendaftaran santri MI Qudsiyyah, M Ts Qudsiyyah (Putra) dan MA Qudsiyyah meliputi:

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah)
  • Menyerahkan uang infaq pengembangan madrasah sebesar Rp 1.800.000,- (Satu juta delapan ratus ribu rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga (KK) sebanyak 1 lembar
  • Foto copy KIP/PKH/KPS (bagi yang memiliki)
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna merah.

 

Adapun tes seleksi akan dilaksanakan pada saat pendaftaran tanggal 2-7 Juni 2018. Sedangkan materi tes yang diujikan meliputi Baca Al Qur’an, Nahwu Shorof dan membaca kitab kuning Taqrib (khusus tes masuk MA).

 

Sementara persyaratan pendaftaran santri Pondok Pesantren Qudsiyyah Putra adalah:

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran/Surat kenal lahir sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga /KK sebanyak 1 lembar
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna hijau.

 

Adapun tempat pendaftaran di Qudsiyyah disentralkan dalam satu tempat. Artinya, pendaftaran MI Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putra), MTs Qudsiyyah (putri), MA Qudsiyyah (Putra), Pondok Pesantren Qudsiyyah putra dan Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri dalam satu tempat yang sama, yakni di Kantor MTs Qudsiyyah (Putra), Jl KHR Asnawi gang Kerjasan Kota Kudus (0291) 435938. Panitia pendaftaran yang yang bisa dihubungi antara lain H. Nurul Adlha (081325701326), Nailal Muna (08157735137).  Untuk brosur Pendaftran santri Baru Putra Qudsiyyah dapat diunduh di sini. (*)

 

 

HAUL KE 60 KHR ASNAWI BAKAL MENGUNDANG RAIS AAM SYURIAH PBNU

QUDSIYYAH, KUDUS – Bulan Jumadal Akhirah merupakan bulan peringatan Haul Pendiri NU, KHR Asnawi. Salah satu acara yang bakal digelar adalah pengajian umum dengan mengundang Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin.  Pengajian yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Radlatuth Tholibin, pada Selasa malam (13/3/2018) ini juga mengundang Habib Umar Al Muthohhar dari Semarang.

 

Sebelum pengajian umum dilaksanakan, pada sore harinya dilaksanakan Tahlil umum di komplek makam Sunan Kudus, tempat dimana tokoh Nasionalis dari Kudus ini dimakamkan. Tahlil umum diselenggarakan pada Selasa sore, 25 Jumadal Akhirah 1439 H (13/3/2018) sekitar pukul 15.30 WIB.

 

Kyai Haji Raden Asnawi merupakan ulama kharismatik dari Kudus yang begitu besar jasanya. Salah satu peninggalan beliau dalam bidang pendidikan adalah pondok pesantren Raudlatul Tholibin (berdiri tahun 1927) dan Madrasah Qudsiyyah (berdiri tahun 1919). Hingga kini, dua lembaga pendidikan tersebut terus eksis mengembangkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.

 

Lahir di Damaran Kudus pada tahun 1861, KHR Asnawi kecil diberi nama Raden Ahmad Syamsyi, putra pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah. Raden Asnawi merupakan keturunan ke-14 dari Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq) dan keturunan ke-5 dari Kyai Haji Mutamakin, seorang wali di desa Kajen Margoyoso Pati, yang hidup pada zaman Sultan Agung Mataram. Beliau meninggal pada usia 98 tahun, tepatnya pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadal Akhirah 1379 H/ 26 Desember 1959 M. (Kharis)

 

Tiga Piala diraih MI Qudsiyyah dalam Bangau Ruyung Cup VIII

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebanyak tiga piala diraih oleh altet-atlet pencak silat dari MI Qudsiyyah dalam kejuaraan Bangau Ruyung Cup VIII antarpelajar tingkat SD/MI, SMP-SMA sederajat tingkat kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak tahun 2018. Kejuaraan ini rutin digelar setiap tahun secara berkala dan pada tahun ini dilaksanakan di GOR Kudus, pada Sabtu – Ahad, 6-7 Januari 2018.

Ketiga santri yang meraih juara tersebut adalah Sailul Wafi, Tiar, dan Abdul Latif. Ketiganya merupakan siswa kelas VI MI Qudsiyyah Kudus yang mengikuti ekstra kulikuler pencak silat dan ikut lomba dalam event Bangau Ruyung Cup tersebut.

Sailul Wafi sukses meraih juara I putra dalam kategori tanding kelas bebas tingkat SD/MI. Tiar meraih juara tiga dalam kategori tanding kelas B, dan Abdul Latif meraih juara tiga kategori tanding kelas D.

Kesuksesan tersebut merupakan salah satu prestasi yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Padepokan Bangau Ruyung adalah salah satu kelompok pencak silat besar di kabupaten Kudus. Dalam hal ini, selama kurang lebih lima tahun terakhir, ektra kulikuler pencak silat yang diadakan di Madrasah Qudsiyyah adalah hasil kerjasama dengan pedepokan Bangau Ruyung. Ekstra Kulikuler Pencak silat di Qudsiyyah sendiri digelar setiap dua kali dalam sepekan yang dilaksanakan di lapangan Qudsiyyah dan diikuti oleh santri MI, MTs dan santri Aliyah. (Kharis)