Maulid Nabi Pertama di Qudsiyyah Putri

QUDSIYYAH, SINGOCANDI – Qudsiyyah Putri yang baru berumur sekitar 6 bulan terus berupaya melahirkan generasi yang handal. Selain melalui kegiatan pembelajaran formal melalui kelas MTs dan nonformal melalui pondok pesantren, kegiatan ekstra kulikuler dan kegiatan peringatan hari besar juga rutin dilaksanakan.

Pada bulan kelahiran Nabi ini, Qudsiyyah putri melaksanakan peringatan Maulid pada, Sabtu pagi 27 Rabiul Awwal 1439/ 16 Desember 2017. Ini merupakan peringatan Maulid Nabi pertama yang diadakan oleh MTs Qudsiyyah Putri. Dalam kesempatan ini, grup Rebana Putri dari santri juga tampil dengan melantunkan beberapa lagu, diantaranya adalah lagu andalan peringatan maulid nabi yaitu “Keluarga Nabi” dengan lirik ‘kanjeng nabi Muhammad din lahirno ono ing Makkah” karya beliau Almaghfurlah KH Ma’ruf Irsyad.

Dalam peringatan kali ini MC menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan susunan acara pembukaan,pembacaan ayat suci Al Quran dan sholawat asnawiyyah,pembacaan maulid Al Barzanji, sambutan dewan guru, Mauidloh hasanah serta doa penutup.

Dalam sambutan dewan guru, ibu Lailatus Sa’diyyah, S.Pd memberikan wejangan kepada santri putri agar senantiasa rajin belajar dan meniru akhlaq mulia Rasulullah SAW. Adapun mauidloh hasanah pertama diisi oleh kyai muda Qudsiyyah ust. Miftakhur Rohman,M.Pd pengarang lagu ‘ya saikhona’ yang sangat populer tersebut. Dalam mauidlohnya beliau banyak berpesan agar selalu meneladani Rosulullah saw dalam berbagai hal. Rosulullah merupakan uswatun hasanah yang harus diidolakan oleh umat islam. Sedangkan mauidloh hasanah kedua disampaikan olehsesepuh Qudsiyyah KH Fathur Rahman. Dalam penyampaiannya beliau menceritakan tentang sejarah nabi mulai beliau lahir sampai perkembangan Islam di tanah Jawa.

Di akhir acara diadakan pengumuman juara class meting yang dalam kesempatan kali ini juara umumnya adalah kelas 7 H. (Isbah/Kharis)

Teater Qudsiyyah Sukses Raih Terbaik Dua

QUDSIYYAH, KUDUS – Teater MA Qudsiyyah, Jangkar Bumi, sukses menempatkan diri meraih juara Terbaik Kedua pada Festival Teater Pelajar (FTP) Djarum Kudus tahun 2017. Torehan ini merupakan progres yang baik dalam capaian tiga tahun terakhir. Tahun 2015 kali pertama mengikuti FTP, teater ini kandas pada babak kualifikasi. Tahun berikutnya, 2016, teater Qudsiyyah, sukses masuk babak final dan meraih jura Terbaik ketiga, dan tahun 2017 ini, progresnya naik meraih juara Terbaik Kedua.

Pada babak final FTP yang digelar digelar di GOR Djarum Kaliputu, 24-26 November 2017, selaian meraih juara Terbaik Dua, juga meraih kelompok teater terfavorit dan meraih aktor utama terbaik (Afif Khairudin/peran Petruk) dan aktor pembantu terbaik (Muhammad Adnan Naufala Zhafir/Gareng).

Dengan disutradai oleh Nur Kholis dan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu: Petruk Gugat” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, sukses masuk lima besar dan meraih juara di babak final. Adapun terbaik pertama dimenangkan oleh juara bertahan, teater Apotik dari SM Duta Karya dan terbaik ketiga diraih oleh Teater Saka (SMK 2 Kudus). Pada tahun ini juga ada jura harapan yang masing-masing diraih oleh Teater Oscar (SMKNU 2 Hasyim Asy’ari 2 Karangamalang) dan harapan 2 Teater Studio One (SMA 1 Kudus).

Selain juara tingkat SLTA, FTP yang kali ini dengan dewan juri yang terdiri dari Inayah Wulandari (pegiat Teater), Sita Nursanti (pemain opera) dan Waryoto Giyok (Sutradara Teater) juga melakukan penilaian pada teater tingkat SLTP. Para pemenang dalam FTP kali ini adalah Teater Terbaik 1 tingkat SMP Teater Ukur (MTs NU Maslakul Huda Glagah Undaan), terbaik 2 Teater Bobot (SMP 1 Kudus), terbaik 3 Teater Essaka ((SMP 1 Kaliwungu) Harapan 1 Teater PR (MTs NU Nahdlatul Athfal). (Ilma/Kharis)

Dua Alumni Qudsiyyah Dakwah di TV One

QUDSIYYAH, KUDUS – Program dakwah akhir pekan oleh salah satu stasiun televisi Nasional tayang live dari Kudus. Acara berjuluk Damai Indonesiaku oleh TV One itu memilih lokasi di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu (11/11/2017) siang. Uniknya acara yang memilih tema “Uswatun Hasanah” tersebut menampilkan dua alumni Qudsiyyah yang ditayangkan live ke seluruh penjuru tanah air.

Ya, H. Abdullah Rosyad, alumni Qudsiyyah tahun 1991 ini bertindak membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Sesuai tema yang diangkat, alumni yang berasal dari Mindahan Jepara yang kini juga mengajar di MI Qudsiyyah Kudus tersebut membacakan surat al- Ahzab ayat 21. Dengan suara yang yang lantang dan merdu, pria yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren al-Istiqomah, Demaan Kudus ini membaca ayat suci dengan apik dan menyentuh kalbu.

Lihat Video lengkapnya di sini

Berikutnya, alumni yang dakwah dan tayang di Tv One adalah KH. Idham Kholid. Lulusan MA Qudsiyyah tahun 1990 ini berceramah dihadapan Bupati Kudus, H. Mustofa, Jam’iyyah Yasin Fadhilah Kudus serta seluruh pemirsa televisi dengan mengakat tema Uswatun Hasanah.

Pria yang berasal dari Kedungwaru Lor Karang Anyar Demak tersebut menjabarkan suri tauldan dari Kanjeng Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyatakan, rahmat diutusnya Rasulullah jauh lebih banyak dirasakan oleh kaum ibu dibandingkan dengan kaum bapak-bapak. Sebelum Rasul lahir, disebut zaman jahilillah, begitu rusaknya akhlak, begitu hinanya kaum wanita. “Kelahiran Rasulullah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita,” ungkapnya.

Kyai Idham mengatakan, Al Qur’an yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, salah satu suratnya ada yang bernama An-Nisak yang artinya Wanita. Juga, surat pembuka al- Qur’an, surat Al-Fatihah, disebut juga dengan istilah Ummul Kitab yang berarti induk atau ibu kitab. “Ini adalah bukti Rasulullah hadir untuk memulyakan kaum wanita,” jelasnya.

Dalam pemberian ceramah tersebut juga dilakukan tanya jawab dengan hadirin yang kompak berbaju putih di dalam pendopo kabupaten Kudus tersebut. Selain itu KH Idham Kholid, acara Damai Indonesiaku Tv One tersebut juga diisi oleh penceramah Kh. Soemarno Syafi’I, dengan mengangkat tema yang sama yakni Uswatun Hasanah. (Kharis)

Lihat Video lengkapnya di sini

Meriahkan Mlaku-Mlaku Bareng Santri dengan Sholawat dan Rebana

QUDSIYYAH, KUDUS – Qudsiyyah Kudus turut andil dalam event besar Mlaku-Mlaku Bareng Santri (MMBS) yang digagas PCNU dan Pemkab Kudus pada Ahad pagi, 29 Oktober 2017. Seluruh santri, mulai dari MI, MTs, MA dan Pesantren tumplek blek meramaikan acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu santri Kudus ini.

Bersarung batik dan memakai koko serta sebagian memakai baju batik “kangkung” khas seragam Qudsiyyah, sekitar dua ribu santri Qudsiyyah meramaikan acara mlaku-mlaku yang digelar dalam rangka puncak acara Hari Santri Nasional 22 Oktober kabupaten Kudus ini. Mereka membawa tulisan dan sepanduk yang berisikan jargon santri Kudus, seperti “Kudus Kota Santri”, “Santri Menolak Paham Khilafah”, “NKRI harga Mati”, “Santri No Drug” dan sebagainya.


Selain itu, sebagai bagian dalam kemeriahkan acara ini, peserta dari Qudsiyyah juga membawa lengkap Rebana lengkap dengan microphone dan sound kecil yang dicangking. Sepanjang jalan mulai dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga finish kembali di tempat yang sama, mereka bersholawat dengan lagu-lgu khas Qudsiyyah, seperti Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Qudsiyyah, Madrasati Aman-Aman, dan Sholawat Nabi lainnya. Praktis, dengan sholawat dan tabuhan rebana ini, menjadikan jalan santai santri ini semakin meriah.

Usai mlaku bareng, di panggung utama, sebagian santri Qudsiyyah ada juga yang ketiban hadiah. Diantaranya ada yang mendapatkan lemari es dan hadiah doorprize lain yang disiapkan panitia.

 

Dalam MMBS ini juga dimeriahkan adanya atraksi pagar Nusa. Sebelum start MMBS, puluhan pesilat dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menampilkan senam jurus khas Pagar Nusa. Kemudian, para pesilat Pagar Nusa dari pondok pesantren Qudsiyah Kudus dan pondok pesantren Sabilul Rosyad Pringsewu Bakalan Krapyak menunjukkan kemampuannya memecah genteng dengan kepala, mematahkan besi pakai tangan kosong, menarik mobil dan tubuh dilindas motor trail.

Pesilat Adi Purnomo menarik mobil sedan dengan 10 penumpang memukau ribuan pasang mata peserta MMBS. Mobil diikat pakai tali kemudian ditarik dengan mulut Andri berjalan hingga sejauh 10 meter lebih. Atraksi berlanjut, tujuh orang pesilat tidur di aspal kemudian dilindas dua motor trail secara bergiliran yang dikendarai Hari Sudrajat dan Yuni Agustin pesilat perempuan. Mereka yang dilindaspun tidak mengalami cedera apapun. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Masuk Lima Besar FTP 2017

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk lima besar Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2017. Dengan hasil ini, praktis teater Qudsiyyah menembus babak final dalam pagelaran kesenian tahunan tersebut.

Dari 13 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi lima finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada awal November mendatang di GOR Djarum Kaliputu Kudus.
Dari lima finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA yang berhasil lolos di babak final. Empat lainnya adalah teater Oscar, SMK NU Hasyim Asy’ari 2, Teater Saka, SMK 2 Kudus, teater Apotik, SMK Duta Karya, dan teater Studi One, SMA 1 Kudus.

Seleksi yang dilaksanakan oleh teater MA Qudsiyyah dilaksanakan pada Rabu, 25 Oktober 2017 di Gedung Muslimat Glantengan Kota Kudus sekitar pukul 09.00 pagi.

Adapun tingkat SLTP, empat kelompok teater masuk ke babak final. Keempat terater tersebut adalah tetar Bobot, SMP 1 Kudus, teater Essaka, SMP 1 Kaliwungu, teater Ukur, MTs NU Maslakul Falah, dan teater PR, MTs Nahdlatul Athfal. (Kharis)

Menyandingkan Mondok dan Kuliah

PADA tahun 2028-2030, Indonesia diperkirakan akan berada pada puncak bonus demografi (BPS, 2015). Kondisi ini membuat komposisi penduduk Indonesia dihuni lebih banyak penduduk usia produktif yakni pada usia 15-64 tahun. Disebut bonus atau keuntungan tentu saja jika kita mampu memaksimalkan kesempatan dan potensi tersebut. Sebaliknya, jika kita gagal mengantisipasi kondisi demografi tersebut, maka bukan bonus namanya tetapi bencana demografi yang akan terjadi.

Salah satu persiapan untuk mengoptimalkan kondisi demografi tersebut adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan berkarakter. Aspek pendidikan adalah salah satu kunci untuk memaksimalkan agar kondisi demografi di atas menjadi sebuah keuntungan bagi pembangunan bangsa. Tanpa pendidikan yang memadai dan handal, maka bonus demografi bisa berbalik menjadi bencana demografi karena penduduk usia produktif tidak memiliki bekal pengetahuan dan keilmuan yang memadai serta lemah karakter kebangsaannya.

Salah satu ikhtiar untuk membuat demografi bisa berguna untuk bangsa adalah dengan menyiapkan sebaik mungkin sumber daya manusia. Kesiapan pemanfaatan ini merupakan hal yang mutlak dilakukan jika kita ingin menikmati bonus demografi. Tidak bisa dipungkiri, institusi penting yang bisa membantu menyiapkan SDM yang handal dan berkualitas adalah perguruan tinggi dan pondok pesantren.

Sejak lama keduanya adalah tempat terbaik untuk menyiapkan warga negara yang handal, berkualitas dan mampu bersaing dengan SDM yang lain. Sama-sama memiliki tugas pokok pengajaran dan tranformasi keilmuan, keduanya juga memiliki karakter unik. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang teruji dalam membentuk karakter santri sebagai seorang pembelajar. Sedangkan perguruan tinggi merupakan arena pendidikan tingkat lanjut pasca menempuh pendidikan jenjang aliyah atau SMA guna memperdalam suatu keilmuan yang ingin didalami.

Pentingnya Sinergi

Sebagai sesama lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, perguruan tinggi dan pondok pesantren memiliki niat dan tujuan sebangun yakni memajukan peradaban bangsa melalui transformasi pendidikan. Dalam menyiapkan diri menghadapi keuntungan demografi, menjadi penting bagi perguruan tinggi dan pondok pesantren untuk bergandengan tangan dan memperkokoh antara satu dengan lainnya.

Kombinasi keduanya diyakini akan menjadi amunisi yang dahsyat bagi tercapainya revolusi karakter bangsa yang merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK sebagaimana tersebut dalam Nawa Cita. Pondok pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan transformasi keilmuan tetapi dalam sejarahnya juga menanamkan karakter cinta tanah air dan bela bangsa. Dua aspek penting dalam pembentukan karakter bangsa sekaligus ciri utama pondok pesantren di Indonesia. Jika ada lembaga mendaku pondok pesantren tetapi menjadi tempat untuk “melawan” ideologi negara, maka perlu dipertanyakan kembali ruh ke-pesantren-annya.

Sementara perguruan tinggi di Indonesia merupakan arena dimana pendidikan, pengabdian dan penelitian saling beririsan. Perguruan tinggi tidak hanya tempat menyemai benih keilmuan dan pengajaran untuk menghasilkan suatu produk budaya dan sosial yang unggul tetapi sekaligus mendorong adanya transformasi keilmuan ke masyarakat melalui tugas pengabdian. Sebagai tempat pendidikan lanjutan pasca aliyah-SMA, maka perguruan tinggi menjadi salah satu tempat penting dalam mematangkan keilmuan seseorang.

Sementara dari sisi SDM, perguruan tinggi dan pondok pesantren adalah agen sosial yang sangat penting dalam memantik perubahan sosial di Indonesia dengan kekayaan tenaga pengajar dan santri atau mahasiswa yang jumlahnya bisa mencapai jutaan. Ilmu yang mumpuni dengan landasan karakter yang cinta tanah air dan bela bangsa diharapkan menjadi potret demografi di masa mendatang.

Dwitunggal Era Milienial

Untuk memperoleh potret semacam ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Penulis menyebut pondok pesantren dan perguruan tinggi adalah dwi tunggal yang memegang peranan penting di era milenial. Menghadapi generasi milenial, podok pesantren dan perguruan tinggi tidak bisa berpuas diri tetapi harus terus berinovasi dalam pengajaran, memanfaatkan teknologi dan aktif berkomunikasi.

Tiga hal ini penting dicermati agar generasi saat ini mau melirik pondok pesantren dan perguruan tinggi. Inovasi dalam pembelajaran diperlukan agar peserta didik tidak cepat bosan dan selalu diajak mengkontekstualisasikan apa yang dipelajari dalam dunia sehari-hari. Teknologi merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini. Adapun komunikasi yang aktif merupakan ciri utama masyarakat saat ini dimana orang bisa saling terhubung tanpa ada batas.

Dengan sinergi antara pondok pesantren dan perguruan tinggi, maka diharapkan di masa mendatang akan dihasilkan potret warga Indonesia yang memiliki ilmu yang memadai dengan pondasi cinta tanah air dan bela bangsa. Warga berilmu tinggi tetapi tidak memiliki karakter cinta bangsa akan menindas bangsanya sendiri dan mengeksploitasi SDA tanpa batas. Begitu juga warga yang hanya bermodal cinta tanah air dan membela bangsa yang tinggi tetapi tidak berilmu hanya akan melahirkan potret bangsa yang bermental pemalak.

Salah satu upaya untuk mensinergikan pondok pesantren dengan perguruan tinggi akan bisa dilihat dalam acara sosialisasi sekaligus sosialisasi ayo mondok wilayah Jawa Tengah di kampus IAIN Surakarta pada pekan lalu. Kegiatan ini harus ditempatkan sebagai langkah strategis untuk memulai kerja bareng antara pondok pesantren dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan potret warga negara yang memiliki keilmuan yang memadai dan berkarakter bela bangsa.

Pertemuan antara para pengelola pondok pesantren dengan perguruan tinggi diharapkan menjadi silaturahmi keilmuan sehingga menjadi jalan baru untuk meneguhkan duet pondok pesantren dan perguruan tinggi. Kokohnya duet ini diharapkan menjadi dasar yang kuat bagi pelaksanaan revolusi karakter bangsa sebagaimana dicita-citakan pemerintahan Jokowi-JK. Sudah saatnya pula gerakan #ayomondok berjalan beriringan dengan gerakan #ayokuliah agar potret demografi di masa mendatang menjadi bonus dan bukan bencana. (*)

M Zainal Anwar
Alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus dan Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Tulisan ini pertama kali dimuat pada Rubrik GAGASAN – SOLO POS, 23 Oktober 2017

Qudsiyyah Putri Peringati HSN dengan Pembacaan Sholawat Nariyyah dan Nobar

QUDSIYYAH, KUDUS – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 kali ini sangat meriah. Banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan baik oleh pemerintahan maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta banomnya. Untuk pertama kalinya, Qudsiyyah Putri tak mau kehilangan momentum dalam HSN tahun ini. Berbagai kegiatan diadakan untuk mengisi HSN sekaligus mengurangi kepenatan dalam kegiatan belajar mengajar santri. Diantaranya adalah pembacaan Sholawat Nariyah, upacara dan nonton bareng (nobar) film pesantren.

Qudsiyyah putri turut serta menjadi bagian dari program PBNU dalam “Pembacaan 1 milyar sholawat” yang bertepatan dengan HSN ini. Santri Qudsiyyah putri membaca Sholawat Nariyyah sebanyak 4444 sholawat yang telah terlaksana pada Sabtu malam (21/10/2017) ba’dal Maghrib. Pembacaan sholawat yang dalam riwayat lain bernama sholawat “Taziyyah” ini diharapkan menjadikan negara Indonesia aman dan terhindar dari marabahaya.

Tepat pada Ahad 22 Oktober 2017, pagi Qudsiyyah putri ikut berpartisipasi dalam apel bersama di alun-alun simpang tujuh Kudus, lengkap dengan seragam khas Qudsiyyah putri, yakni batik “kangkung” dengan bawahan putih dan kerudung putih.

Usai upacara, santri-santri mengikuti nobar film “Cahaya Cinta Pesantren” yang bertempat di Aula MTs Qudsiyyah Putri. Dalam pemutaran film tersebut santri-santri diberi tugas untuk menulis kesimpulan dan cerita singkatnya. Film yang berlatar pondok pesantren tersebut berhasil mengaduk emosi santri putri. Banyak dari mereka yang menangis dan histeris dengan cerita film yang disutradarai oleh Raymond Handaya ini.

Diharapkan, dengan adanya nobar ini, santri Qudsiyyah putri bisa termotivasi serta betah mondok, dan menjadi santri yang salaf, sholihah, dan mandiri. (Isbah/Kharis)

HSN di MTs Qudsiyyah, Mulai Upacara hingga Penanaman

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasinal yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017 dimanfaatkan oleh MTs Qudsiyyah Kudus untuk menanamkan karakter yang kuat kepada para siswanya. Selain menyelenggarakan upacara yang di dalamnya dilantunkan lagu Ya Lal Wathan dan Sholawat Asnawiyyah, Juga diselenggarakan Istighatsah dan kegiatan menanam bersama sebagai wujud kepedulian santri terhadap lingkungan.

Sholawat Asnawiyyah dipilih dan selalu terdengar di setiap acara yang diselenggarakan MTs Qudsiyyah karena diciptakan oleh KHR Asnawi yang merupakan pendiri madrsah tersebut. Dalam syairnya juga mengandung doa untuk keamanan bangsa Indonesia.

Pada pelaksanaan upacara hari santri ini, upacara yang dilaksanakan di Lapangan Qudsiyyah di JL. KHR Asnawi dan diikuti sekitar 1.300 siswa MTS dan MA ini. Para siswa memakai sarung yang merupakan pakaian khas ala santri dan baju koko putih. Diharapkan nilai karakter santri akan terus melekat pada diri siswa bahkan pada saat bermasyarakat nanti. Dalam sambutannya, sesepuh Qudsiyyah, KH. Ahmad Sudardi, megingatkan kepada para Santri untuk bangkit dan mengingat jasa mbah Hasyim Asy’ari dan para santri zaman dulu saat mempertahankan kemerdekaan. Sehingga para santri di era kini, dapat meneladani sekaligus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini.

Dalam upacara tersebut juga dibagikan dana santunan kepada sejumlah 40 siswa. Dan juga pemberian penghargaan bagi siswa yang telah berhasil mengharumkan nama madrasah di berbagai perlombaan yang telah diikuti. MTs Qudsiyyah telah menyabet Juara 1 Tilawah, Juara 1 Tartil, dan juara 1 Tahfidz pada ajang MTQ Pelajar dan MTQ Umum tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017 yang telah diselenggarakan pada september bulan lalu. Berbagai piala di perlombaan kepramukaan juga turut menambah deretan daftar prestasi MTs Qudsiyyah tahun ini. Diharapkan prestasi yang telah diraih ini terus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

Setelah upacara selesai, para siswa dipimpin oleh guru kelas melanjutkan dengan istighatsah dan doa untuk keamanan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Siswa juga tidak lupa untuk mendoakan para pahlawan muslim yang telah berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Santri Menanam

Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama untuk meresponnya, tak terkecuali para santri. Peran aktif santri dapat diwujudkan dengan kepedulian pada lingkungan. Hal ini disadari MTs Qudsiyyah dengan mengajak para siswa untuk menanam bunga di lingkungan sekolah. Lebih dari seratus bunga yang dibawa para siwa untuk ditanam di taman milik madrasah.


Selain untuk menambah keindahan dan mengurangi pemanasan global, kegiatan ini juga dimaksud untuk menanam karakter santri agar peduli dan mencintai lingkungan. Memang untuk menanam karakter tidak bisa instan. Dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan butuh waktu sampai santri mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungannya. (Yasfin/kharis)

KEPUNGAN SEGO KEPEL DI HARI SANTRI NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Kepungan sego kepel yang diikuti oleh ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menjadi puncak acara kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 di MI Qudsiyyah Kudus, pada Ahad, 22 Oktober 2017 di halaman MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Beralaskan daun pisang, berisi nasi putih satu kepel, sambal goreng, telur dan kerupuk, ratusan santri berjajar dan mengepung nasi kepel tersebut secara serentak. Usai dikomando, semua santri langsung memakan nasi kepel tersebut hingga tuntas tak tersisa.

Kegiatan kepungan nasi santri ini merupakan salah sati dari berbagai kegiatan peringatan HSN, 22 Oktober di MI Qudsiyyah tahun 2017. Acara ini dipandegani oleh pihak madrasah beserta paguyuban wali santri MI Qudsiyyah. Beberapa acara lainnya antara lain, upacara Hari Santri Nasional, Ziarah dan Khatmil Qur’an di makam pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi, lampah laku bareng santri, Badum sego bungkus untuk fakir miskin, nyumbang buku, dan tali asih.

Kepungan nasi oleh santri ini sebagai salah satu wahana untuk bahwa meningkatkan kebersamanaan dan kerjasama sebagai ciri khas dan kekuatan masyarakat bangsa ini. Di samping itu, kepungan nasi ini sangat tepat untuk mengingatkan kembali tradisi santri makan kepungan bersama-sama yang kini mulai jarang adanya dan tergeser dengan nasi kotak maupun nasi bungkus.

Kepala MI Qudsiyyah, M. Aftoni mengatakan, Kegiatan ini mengangkat tema “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Diharapkan melalui kegiatan dan tema ini semua santri madrasah untuk senantiana selalu belajar yang rajin untuk menjadi generasi penerus bangsa Indonesia yang akan datang. “Lebih dari itu, para santri diharapkan siap sedia untuk membela tanah air Indonesia dan menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, sehingga negeri Indonesia ini menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” jelasnya. (Kharis)

SANTRI MI QUDSIYYAH GELAR UPACARA DAN NOBAR “SANG KYAI”

QUDSIYYAH, KUDUS – Pada hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017, ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menggelar upacara Hari Kesaktian pancasila, di lapangan MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Ratusan santri berseragam batik “kangkung”, seragam khas Qudsiyyah, berjajar rapi dalam barisan.

Dalam amanat upacara, kepala MI, M. Afthoni, menyerukan kepada seluruh santri untuk tidak melupakan sejarah. Sejarah perjanalan panjang kemerdekaan bangsa ini seyogyanya dijadikan acuan bagi generasi muda sekarang untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat kesatuan dan persatuan serta kedamaian negeri ini.

Lebih lanjut, kepala MI yang bertempat tinggal di Karangampel Kaliwungu Kudus ini berharap para santri dapat meneladani keberanian serta perjuangan para pahlawan bangsa. “Di hari kesaktian Pancasila ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, bersamaan dengan momentum Asyuro di bulan Muharram, juga dilaksanakan santunan Yatim bagi santri Qudsiyyah yang Yatim. Selain upacara dan santunan yatim, kegiatan yang dilaksankan tepat sesuai Tes Mid semester ini adalah berbagai macam kegiatan hiburan, seperti lomba anak-anak, seperti lomba mewarnai, lomba gelang sarung dan lomba pindah botol.

Juga, tak ketinggalan, acara juga dimeriahkan dengan nonton bareng film perjuangan. Film yang dipilih adalah film “Sang Kiai” yang mengangkat profil dan perjuangan ulama terkemuka KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Film yang diproduksi tahun 2013 ini dipilih karena sebentar lagi juga berbarengan dengan momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober, dimana film tersebut menceritakan tentang resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, terjadi tepat pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya. Resolusi ini dikeluarkan untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang tewas saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. (Kharis)