MENGUDUSKAN QUR’AN, MENEBAR KEDAMAIAN

Memulai dari titik koordinat Menara dengan mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan dalam peringatan satu abad Qudsiyyah dua tahun silam, ternyata memberi spirit tersendiri untuk bangkit menata barisan. Shalawat asnawiyyah semakin menggema di bumi Nusantara, MTs dan Pesantren Putri Qudsiyyah lahir, tokoh-tokoh muda mulai bermunculan di berbagai sektor, organisasi santri dan alumni (PPQ-IKAQ) mulai menampakkan signifikansinya, dan masih banyak lagi kiprah ‘Generasi Gusjigang’ di bawah panji-panji Menara Kudus sebagai simbol toleransi (Ukhuwwah Qudusiyyah) yang multi etnis-multi religi.

Kini, semangat itu akan kita gelorakan kembali agar semakin bersemi. Generasi Gusjigang siap menggelar acara Festival Al-Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara Dan Parade Benteng Pancasila pada 18-24 Sya’ban 1439 H/4-10 Mei 2018 TU di Bumi bersejarah Qudsiyyah. Tujuh hari tujuh malam Bumi Kudus akan berhias hikmah, sains dan seni untuk menurunkan kebijakan langit menjadi kedamaian bumi.

Cara yang kami tempuh adalah dengan membentuk “Majlis Gusjigang” yang menyatukan berbagai unsur perilaku secara sinergis, sehingga di dalamnya ada keterlibatan teologis (theological involvement), keterlibatan intelektual (intellectual involvement), keterlibatan ritual (ritual involvement), dan keterlibatan pengalaman (experiential involvement). Kohesi masing-masing unsur ini akan selalu bertransformasi dan memunculkan energi positif kemandirian yang tercerahkan (spiritual independence).

Serangkaian acara telah siap digelar. Sebagai penerus tradisi salaf, acara akan dimulai dengan mohon doa restu kepada Masyayikh di Kudus (Ziarah Masyayikh). Selanjutnya kita akan mengeksplorasi kebijakan langit dengan khataman Kolosal 102 Khataman, Nyerat al-Qur’an Kolosal (Khotmil Qur’an bil Kitabah bersama 666 santri putra dan 333 santri putri) serta Festival Tilawah. Dalam rangka menurunkan kedamaian bumi, telah disiapkan agenda Halaqah “Rasm Utsmany di Nusantara”, Olimpiade Sains Qur’ani, Lomba Mewarnai Ornamen Mushaf, Pameran “Sejarah al-Qur’an”, Pameran Khazanah Islam Nusantara, Napak Tilas Islam Nusantara Benteng Pancasila, Seminar “Jateng Benteng Pancasila Melawan Narkoba”, Sarasehan “Gusjigang dan Ketahanan Ekonomi Jawa Tengah”, Sinau Seni dan Sains Qur’an bersama Sabrang “Noe” Letto, Festival Seribu Terbang al-Mubarok all Generation, Malam Sastra Qur’ani, Pertunjukan Teater “Jangkar Bumi”, Gambusan “alladzifih”, Pertunjukan “Tari Gusjigang” dan Gusjigang Expo sebagai artikulasi kongkrit karakter Gusjigang.

Kami yakin, dengan merapatkan barisan untuk bergandengan tangan secara jama’i, tangan-tangan suci para mu’assis akan menuntun kita untuk mampu menguduskan Qur’an menebar kedamaian. Secara teknis kita akan bermetamorfosa ke peradaban baru yang lebih damai dan ber tepo seliro. Kita akan mendayung bersama dari pusat pengkaderan ulama (center of exellence) ke pencetakan bibit unggul (human resources) di berbagai bidang menuju pulau pemberdayaan sosial (agent of development).

Akhirnya, selamat menguduskan Qur’an, selamat menebar kedamaian, dan selamat menemukan kembali Jadi diri yang terlupakan. [dj]

oleh:
ABDUL JALIL
Sekretaris Umum IKAQ

SERBA-SERBI BULAN RAJAB

ALHAMDULILLAH umat Islam saat ini akan memasuki di salah satu bulan yang mulia dan memiliki kedudukan yang agung, yaitu Rajab yang jatuh pada hari Senin Pon, 19 Maret 2018 M/ 1 Rajab 1439 H. Bulan ini dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah [95]: 2).

Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qa’dah, dzul hijjah, rajab, dan muharam.

A. Pengertian Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dari tahun hijriyyah dan merupakan salah satu bulan haram (أحد الأشهر الحرم) seperti yang telah difirmankan Allah Ta’ala Azza Wa Jalla dalam Q.S Al-Taubah: 36 sebagai berikut:

يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

Ibnu Rajab mengatakan, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab

Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya bahwasanya Allah mengkhususkan bulan-bulan haram untuk berdzikir dan mencegah perbuatan dholim. Bentuk larangan dibulan-bulan ini ditakwili dengan larangan untuk tidak berbuat aniaya pada diri sendiri sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Dari hadist Abu Bakar R.A yang terdapat dalam Shohih bukhori-muslim dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika berkutbah berkata:

إن الزمان قد استدار كهيئة يوم خلق الله السموات والأرض، السنة إثنا عشر شهرا منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان.

Artinya: Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

B. Makna Rajab

Rojab itu dari kata رجب الرجل رجبا ‘menghormati seseorang dengan suatu kehormatan’. Dengan demikian kata رجبه –يرجبه-رجبا-رجوبا atau رجّبه- ترجّبه dan أرجبه semuanya semakna dengan kata هابه atau عظمه’memuliakan atau menghormati’. Sehingga kata مرجوب sama halnya dengan kata مهاب dan معظم yakni orang yang dihurmati atau dimuliakan.

Disebutkan bahwa bulan rajab memiliki 14 nama: syahrullah, rajab, rajab mudhir, munsholul asnah, ashom, munaffis, muthohhar, muqim, harm, muqosyqisy, mabri’, fard, al-ashob, dan mu’alla. Dan sebagian ulama’ menambahi lagi dengan nama rojam, munsholul aal (yang berarti perang) dan munajja’ul asnah.

Sebagian Ulama’ memaknai nama-nama bulan rajab di atas sebagai berikut:

1. Rajab (رجب) artinya kemuliaan karena bulan yang dimuliakan atau dihormati oleh orang-orang jahiliyyah.

2. Ashom (الأصم) artinya tuli karena dibulan mereka ini meninggalkan peperangan, tidak terdengar (tuli) gemerincingnya pedang dan suara minta tolong.

3. Ashob (الأصب) artinya turun/ curahan karena kafir makkah selalu mengatakan bahwasanya rahmat tercurah dan turun di bulan ini.

4. Rajm (رجم) artinya didalamnya Allah telah merajam musuh-musuhNya dan para syaiton.

5. Harm (هرم) artinya tua karena kemuliaan bulan ini abadi/kuno dari zaman mudhar bin nizar bin mu’ad bin adnan.

6. Muqim (المقيم) artinya tetap karena kemuliaan bulan ini tetap tidak berubah hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan salah satu bulan haram.

7. Mu’alla (المعلى) artinya yang tinggi karena tingginya kedudukan bulan rajab diantara bulan-bulan lainya.

8. Munsholul asnah (منصل الأسنة) disebutkan oleh Al-Bukhary dari Abi Raja’ al-Athordi.

9. Munshollul aall (منصل الآل) yang artinya perang.

10. Al-Mabri’ (المبريء) artinya terbebas karena dalam bulan ini terbebas dari peperangan dan terbebas dari kedholiman dan kemunafikan.

11. Muqosyqisy (المقشقش) artinya penyembuh karena bulan ini menyembuhkan penyakit kejahiliyyahan berupa peperangan.

12. Syahrul atiirah (شهر العتيرة) artinya bulan penyembelihan karena mereka menyembelih sesembelihan mereka yang dinamai dengan rajabiyyah yang dinisbatkan kepada bulan rajab.

13. Rajab mudhir (رجب مضر) artinya nama qobilah arab yang di masa jahiliyyah tidak mengutak-atik bulan-bulan haram tersebut. Mudhir sendiri berarti pekak atau cacat. Allah Swt. berfirman : “Hai bulan-Ku, apakah mereka mencintai dan memuliakanmu? Maka diamlah Rajab, hingga ditanya dua tiga kali, kemudian jawabnya : “Ya Tuhan, Engkaulah yang pandai merahasiakan segala cacad dan cela, dan Engkau pula yang menyuruh makhluk-Mu supaya merahasiakannya pada orang lain. Itulah sebabnya Rasul-Mu menyebutku “pekak”, aku semata hanya mendengar kebaktian mereka, ketaatan, dan kebaikan mereka, lain tidak”. Selanjutnya Allah berfirman : “Engkau bulan-Ku yang pandai menyimpan cacad dan pekak, hamba-hambaKu yang ber’aib, Aku terima mereka berikut aib/cacadnya berkat kehormatanmu seperti halnya aku terima kamu berikut aib/cacadmu. Aku mengampuni mereka sebab menyesali dosa mereka satu kali dalam bulan Rajab, dan dalam bulan itu pula, Aku tiada mencatat kemaksiatan mereka”

Kata Rajab terdiri dari 3 huruf, Ra’, Jim dan Ba’, masing-masing berarti : Rahmatullah, Jirmil abdi dan Birullah Ta’aalaa, yang seolah-olah dikatakan : “Hai hamba-Ku, Kujadilan dosa-dosa dan kebaikanmu diliput dengan rahmat-Ku, maka tiada tetap dosa-dosamu berkat kemulian bulan Rajab”.

C. Keutamaan Bulan Rajab

Telah dijelaskan dimuka bahwa Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Adapun keutamaan-keutamaan bulan ini sebagai berikut:

1. Bulan Penuh Berkah

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله إذا دخل رجب قال: “اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: ketika memasuki bulan Rajab Rosulullah berdoa “Ya Robb berkahilah kita di dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikankah kita ke bulan Ramadhan.

2. Bulan Dimuliakannya Kebaikan

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قيل : يارسول الله لم سمي رجب؟ قال لأنه يترجب فيه خير كثير لشعبان ورمضان

Dari Anas bin Malik R.A berkata: disebutkan bahwa salah satu sahabat bertanya ‘Ya Rasulallah kenapa dinamakan rajab?’, Rasulullah SAW menjawab: ia dinamakan rajab karena didalamya seluruh amal kebaikan dimuliakan untuk menyambut bulan Sya’ban dan Romandhon.

3. Kenikmatan Meninggal Dengan Husnul Khotimah Tanpa Gangguan Syaitan

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن أردتم الراحة وقت الموت من العطش والخروج مع الإيمان والنجاة من الشيطان فاحترموا هذه الشهور كلها بكثرة الصيام والندم على ما سلف من الأثام واذكروا خالق الأنام تدخلوا جنة ربكم بسلام.

Nabi bersabda: jika kamu sekalian ingin mendapatkan kenikmatan saat waktu kematian menjemput, membawa iman saat nyawa keluar dan terhindar dari godaan syaitan, maka sebaiknya muliakanlah bulan-bulan haram dengan banyak berpuasa, melakukan taubat dari dosa yang pernah dilakukan dan berdzikirlah kepada penyiptamu. Lalu masukkah surge dengan aman dan selamat.

4. Perumpaan Rajab seperti Al-Qur’an dari kalam-kalam Allah yang lain

عن النبي صلى الله عليه وسلم: فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الكلام.

Nabi Muhammad SAW bersabda: keutamaan bulan Rajab dari bulan-bulan yang lain seperti keutamaan Al-Qur’an dari kalam-kalam Allah yang lain.

5. Bulan Istighfar dan Bulannya Allah

وقال علي رضي الله عنه قال النبي عليه الصلاة والسلام: أكثروا من الإستغفار في شهر رجب فإن لله تعالى في كل سعة منه عتقا من النار وإن لله مدائن لا يدخلها إلا من صام رجب.

Ali RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda: perbanyaklah beristighfar di bulan Rajab karena Allah dibulan ini lapang untuk pembebasan dari neraka dan Allah memiliki beberapa kota di surga, tidak ada seseorang yang bisa masuk ke dalamnya malainkan orang yang mau puasa rajab.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم لآاله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يمسك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته.

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: siapa saja yang antara waktu dhuhur dan ashar di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan berdoa : أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْمْ لآاِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيّ القيّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا, maka Allah akan mengutus dua malaikan untuk membakar buku catatan amal buruknya.

قال العلماء: رجب شهر الاستغفار وشعبان شهر الصلاة على النبي المختار صلى الله عليه وسلم ورمضان شهر القرآن.

Ulama’ berkata: bulan Rajab itu bulan istighfar, sya’ban bulan sholawat kepada Nabi Muhammad dan Romadlan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an.

قال رسول الله صلى عليه وسلم رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي.

Rasulullah SAW bersabda: bulan Rajab itu bulannya Allah, bulan Sya’ban bulanku dan bulan Romadlon adalah bulan untuk ummatku

6. Ganjaran air rajab

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: رأيت ليلة المعراج نهرا ماءوه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك، فقلت لجبراءيل لمن هذا؟ قال لمن صلى عليك في رجب.

Artinya: Nabi Muhammad Bersabda: Aku melihat ketika malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya manis melebihi manisnya madu, dinginnya melebihi dinginnya salju, wanginya melebihi wanginya minyak misik. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril: untuk siapa sungai itu wahai Jibril. Malaikat Jibril menjawab: sungai itu diperuntukkan orang yang bersholawat kepadamu di bulan Rajab.

قال عليه الصلاة والسلام “إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر.

Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamai dengan sungai rajab yang sangat putih melebihi susu dan lebih manid daripada madu. Barang siapa puasa di hari itu sekali saja maka Allah akan memberi minuman orang tadi dari air sungai tadi.

7. Nilai puasa di bulan ini dibawah nilai puasa Ramadhan

عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يتم صوم شهر بعد شهر رمضان إلا رجب وشعبان

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasanya 1 bulan penuh setelah Ramadlan melainkan kacuali bulan Rajan dan Sya’ban.

8. Puasa 1 hari sebanding puasa 1 bulan

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام يوما من شهر حرام، كتب الله له بكل يوم شهرا، ومن صام أيام العشر، كان له بكل يوم حسنة.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: jika Rasulullah pernah berkata: barang siapa puasa sehari dibulan haram, Allah mencatatnya sama seperti puasa 1 bulan dan barang siapa puasa 10 hari maka tiap hari baginya suatu kebaikan.

9. Pahala Menghidupkan Malam Pertama, seperti menghidupkan hati yang mati, kembali ke fitrah, dapat menolong 70 ribu ahli dosa dan dapat nikmat surga.

روي عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من أحيا أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ويشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد استوجبوا النار”

Diriwayatkan dari Nabi orang yang menghidupkan malam pertama bulan Rajab, tidak akan mati hatinya tatkala banyak hati yang telah mati, Allah akan melimpahkan kebaikan kepadanya, dikeluarkan dosa-dosanya seperti layaknya dia dilahirkan oleh ibunya (kembali suci) dan dapat member syafaat (pertolongan kepada 70.000 ahli dosa.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من أحيا ليلة رجب، وصام يومها، أطعمه الله من ثمار الجنة، وكساه من خضر الجنة، وسقاه من الرحيق المختوم.

Nabi Muhammad SAW bersabda: barang siapa menghidupkan malam rajab dan paginya ia berpuasa, maka Allah kelak akan memberikan makan ia berupa buah-buahan dari surga, memakaikan pakaian dari pakaian surga dan memberi minuman nectar yang tiada bandinganya nikmatnya.

10. Bulan haram yang telah tercatat namanya di langit ke tujuh

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رجب من شهور الحرم، وأيامه مكتوبة على أبواب السماء السادسة، فإذا صام الرجل منه يوما وجرد صومه لتقوى الله، نطق الباب ونطق اليوم، قالا: يارب، اغفر له، وإذا لم يتم صومه بتقوى الله، لم يستغفر، قال أو قيل خدعتك نفسك.

Dari Abi Sa’id al-Khudry R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW telah berkata: bulan Rajab itu merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, dan hari-harinya telah tercatat di pintu-pintu langit ke tujuh. Maka tatkala seseorang berpuasa sehari murni karena takwanya kepada Allah, maka pintu dan hari itu akan berdoa kepada Allah: Ya Tuhanku, ampunilah dia. Dan tatkala ia tidak bisa menyempurnakan puasanya maka jangan ampuni.

11. Keutamaan berpuasa separuh awal bulan Rajab

عن النبي ص م أنه قال: ألا إن رجب شهر الله الأصم فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر. ومن صام يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة. ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الأخرة والجنون والجذام والبرص ومن فتنة الدجال. ومن صام سبعة أيام غلقة عنه سبعة أبواب جهنم. ومن صام ثمانية أيام فتحة له ثمانية أبواب الجنة. ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيءا إلا أعطاه إياه. ومن صام خمسة عشرة يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيءاته حسنات. ومن زاد زاد الله أجره.

Nabi SAW bersabda: Ingatkah sesungguhnya bukan Rajab adalah bulan Allah yang Mulia. Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Ikhkas 1 hari di bulan Rajab, maka dia berhak mendaoat Ridlo Allah yng Maha Besar. Barang siapa berpuasa 2 hari di bulan Rajab, tiada sifat yang diberikan oleh penduduk langit dan bumi, kecuali baginya diberi Karomah oleh Allah.

Barang siapa puasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia di jaga dari setiap balak dunia, suksa akhirat, penyakit gila, ayan, lepra, koreng, dan dari finah dajjal. Barang siapa berpuasa 7 hari di bulan Rajab, ditutuplah baginya 7 pintu Neraka Jahannam. Barang siapa berpuasa 8 hari di bulan Rajab, maka dibukalah baginyab 8 pintu Surga. Barang siapa berpuasa 10 hari di bulan Rajab, maka dia tidak usah minta sudah langsung diberi oleh Allah semua yang ia inginkan. Barang siapa berpuasa 15 hari di bulan Rajab, seluruh dosanya yang sudah kewat diampuni oleh Allah, dan kejelekannya diganti dengan kebaikan. Dan yang puasanya ditambah lebih dari 15 hari, maka Allah akan menambah juga ganjarannya.

12. Adanya Kaffarat

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوم يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، والثالث كفارة سنة، ثم كل يوم شهر.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa hari pertama di bulan Rajab merupakan kaffarat 3 tahun, puasa hari ke dua sama seperti kaffarat 2 tahun, dan puasa ke 3 hari merupakan kaffarat 1 tahun. Kemudian hari-hari berikutnya kaffaratnya adalah 1 bulan.

13. Rahasia malam ke 10 di bulan Rajab

عن قيس بن عباد، في قوله تعالى: (إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ) هذه الأربعة أشهر الحرم، كلها في يوم عاشر منها أمر: أما المحرم فاليوم العاشر من عاشوراء، وأما ذو الحجة فاليوم العاشر منه يوم النحر، وأما رجب فاليوم العاشر منه يمحو الله ما يشاء ويثبت، وعنده أم الكتاب، ونسيت ما في ذي القعدة.

Dari Qoisy bin Ibad, dalam firman Allah SWT ayat 36 surat al-Taubah: (Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu dia menciptakan langit dan bumi, diantara empat bulan haram) empat bulan yang disebutkan dalam ayat ini saat hari yang ke-10 punya perkara masing-masing. Hari ke 10 bulan Muharram merupakan hari asyuro. Hari ke-10 bulan dzul hijjah merupakan hari Qurban. Adapun hari ke-10 bulan Rajab, Allah menghapus apapun yang Ia hendaki dan Ia tetapkan.

14. Penamaan bulan karena kemuliaanya

عن ابن عباس – رضي الله عنهما- أن يهوديا أتاه، فقال: يا ابن عباس إني أريد أن أسألك عن أشياء، إن أنت أخبرتني بتأويلها فأنت ابن عباس، قال: وما هي؟ قال : عن رجب لم سمي رجب؟ وعن شعبان لم سمي شعبان؟

قال : أما رجب، فإنه يترجب فيه خير كثير لشعبان وسمي أصم لأن الملائكة تصم أذانها لشدة ارتفاع أصواتها بالتسبيح والتقديس.

Dari Ibnu Abbas R.A Sesungguhnya ssorang yahudi mendatanginyad dan berkata: wahai Ibnu Abbas sesungguhnya aku ingin bertanya padamu, beritahu aku tentang takwilan sesuatu. Lalu Ibnu Abbas bertanya: apa itu? Tentang bulan Rajab kenapa dinamakan demikian? Tanya kembali orang yahudi tersebut.

Lalu dijawab oleh Ibnu Abbas: Rajab di namakan Rajab untuk memuliakan kemuliaan di dalamnya dan dinamakan Ashom karena malaikat tuli kupingnya lantaran kerasnya tasbih dan pentasbihan di bulan tersebut.

15. Pahala puasa hari kamis, jumu’ah dan sabtu di bulan haram

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام ثلاثة أيام من كل شهر حرام –الخميس والجمعة والسبت- كتب له عبادة سبع مئة سنة”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: jika Rosulullah telah bersabda: siapa saja yang berpuasa 3 hari dibulan haram –kamis, jumuah dan sabtu- maka Allah akan mencatat baginya seperti beribadah 700 tahun.

16. Penamaan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

عن عروة، قال : قال عبد الله بن عمر –رضي الله عنهما- إنما سمي شهر رمضان لأنه يرض فيه الذنوب رضا، وإنما سمي شوال لأنه يشول الذنوب كما تشول الناقة ذنبها، وإنما سمي شعبان لأن الأرزاق تشعب فيه، وإنما سمي رجب، لأن الملائكة ترجب فيه بالتسبيح والتحميد والتمجيد للجبار عز وجل، وكان ابن عباس رضي الله عنهما يقول: يوم الفطر يوم الجوائز.

Dari Urwah berkata bahwa Abdullah bin Umar berkat: Sesungguhnya Romadhon dinamakan Romadhon karena di bulan ini penuh dengan tumbukan (peleburan) dosa. Dinamakan Syawal karena dosa-dosa pada bulan ini terangkat seperi terangkatnya sebuah bisul. Dinamakan Sya’ban karena rizqi dibulan ini tersebar. Dan dinamai Rajab karena malaikat pada bulan ini memuliakan (Sang Maha Perkasa) Allah dengan tasbih, tahmid, dan tajmid.

17. Salah satu dari 5 malam mustajab

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

18. Puasa 1 hari di tanggal 27 rajab : puasa 60 bulan

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- قال: من صام يوم سبعة وعشرين من رجب كتب الله له صيام ستين شهرا، وهو اليوم الذي هبط فيه جبريل –عليه السلام- على النبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة.

Dari Abu Hurairah R.A berkata: bahwa Nabi pernah bersabda: barang siapa yang puasa di hari ke 27 dari bulan Rajab Allah akan mencatat baginya seperti puasa 60 bulan, karena hari itu merupakan hari dimana malaikat Jibril turun dengan membawa sebuah risalah melakukan isra’-mi’raj.

19. Orang yang mencari keutamaan di dalamnya akan terkabul apapun dihajatkan

عن جابر بن عبد الله –رضي الله عنه- قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بلغه عن الله شيء فيه فضيلة، فأخذ به إيمانا بالله ورجاء ثوابه، أعطاه الله ذلك، وإن لم يكن كذلك”

Dari Jabir bin Abdillah R.A berkata: Nabi bersabda: barang siapa yang menyapaikan fadhilah tentang bulan Rajab dan ia iman kepada Allah serta mengharapkan pahala, maka Allah akan memberikanya apa yang ia hendaki, jika tidak Allah akan mengganti hal yang sama dengan apa yang ia hendaki.

D. Amalan-amalan di Bulan Rajab

Bertolak dari keutamaan-keutamaan bulan Rajab yang disebutkan di beberapa hadist di atas mengindikasikan betapa mulianya dan utamanya bulan ini. Bulan yang merupakan kunci dari munculnya beberapa keberkahan dan keutamaan. Dikatakan oleh Abu Bakar al-Warroq dengan qoul sebagai berikut:

شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع.

Artinya: bulan Rajab merupakan bulan untuk menanam, bulan Sya;ban bulan untuk pengairan dan bulan Ramadlan merupakan bulan untuk menuai hasil tanaman.

Senada dengan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar al-Warroq perumpaan ketiga bulan ini diumpamanakan dengan proses pembentukan hujan seperti qoul ulama’:

مثل شهر رجب مثل الريح ومثل شعبان مثل الغيم ومثل رمضان مثل القطر

Artinya: perumpaan bulan Rajab seperti angina; perumpaan bulan Sya’ban seperti mendung dan perumpaan Romadhon seperti hujan.

Oleh karena banyaknya kemuliaan di bulan ini, mari kita sebagai umat Muhammad, memaksimalkan sunah-sunah yang ada dengan semaksimal mungkin. Adapun Amaliyah yang penulis (Mohammad Bahauddin) anjurkan untuk diamalkan sebagai berikut:

1. Puasa

a. Puasa sekali di bulan rajab

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام يوما من شهر حرام، كتب الله له بكل يوم شهرا، ومن صام أيام العشر، كان له بكل يوم حسنة.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: jika Rasulullah pernah berkata: barang siapa puasa sehari dibulan haram, Allah mencatatnya sama seperti puasa 1 bulan dan barang siapa puasa 10 hari maka tiap hari baginya suatu kebaikan.

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رجب من شهور الحرم، وأيامه مكتوبة على أبواب السماء السادسة، فإذا صام الرجل منه يوما وجرد صومه لتقوى الله، نطق الباب ونطق اليوم، قالا: يارب، اغفر له، وإذا لم يتم صومه بتقوى الله، لم يستغفر، قال أو قيل خدعتك نفسك.

Dari Abi Sa’id al-Khudry R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW telah berkata: bulan Rajab itu merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, dan hari-harinya telah tercatat di pintu-pintu langit ke tujuh. Maka tatkala seseorang berpuasa sehari murni karena takwanya kepada Allah, maka pintu dan hari itu akan berdoa kepada Allah: Ya Tuhanku, ampunilah dia. Dan tatkala ia tidak bisa menyempurnakan puasanya maka jangan ampuni.

b. Puasa di hari-hari pertama bulan Rajab

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوم يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، والثالث كفارة سنة، ثم كل يوم شهر.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa hari pertama di bulan Rajab merupakan kaffarat 3 tahun, puasa hari ke dua sama seperti kaffarat 2 tahun, dan puasa ke 3 hari merupakan kaffarat 1 tahun. Kemudian hari-hari berikutnya kaffaratnya adalah 1 bulan.

c. Puasa 15 awal di bulan Rajab

عن النبي ص م أنه قال: ألا إن رجب شهر الله الأصم فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر. ومن صام يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة. ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الأخرة والجنون والجذام والبرص ومن فتنة الدجال. ومن صام سبعة أيام غلقة عنه سبعة أبواب جهنم. ومن صام ثمانية أيام فتحة له ثمانية أبواب الجنة. ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيءا إلا أعطاه إياه. ومن صام خمسة عشرة يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيءاته حسنات. ومن زاد زاد الله أجره.

Nabi SAW bersabda: Ingatkah sesungguhnya bukan Rajab adalah bulan Allah yang Mulia. Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Ikhkas 1 hari di bulan Rajab, maka dia berhak mendaoat Ridlo Allah yng Maha Besar. Barang siapa berpuasa 2 hari di bulan Rajab, tiada sifat yang diberikan oleh penduduk langit dan bumi, kecuali baginya diberi Karomah oleh Allah. Barang siapa puasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia di jaga dari setiap balak dunia, suksa akhirat, penyakit gila, ayan, lepra, koreng, dan dari finah dajjal. Barang siapa berpuasa 7 hari di bulan Rajab, ditutuplah baginya 7 pintu Neraka Jahannam. Barang siapa berpuasa 8 hari di bulan Rajab, maka dibukalah baginyab 8 pintu Surga. Barang siapa berpuasa 10 hari di bulan Rajab, maka dia tidak usah minta sudah langsung diberi oleh Allah semua yang ia inginkan. Barang siapa berpuasa 15 hari di bulan Rajab, seluruh dosanya yang sudah kewat diampuni oleh Allah, dan kejelekannya diganti dengan kebaikan. Dan yang puasanya ditambah lebih dari 15 hari, maka Allah akan menambah juga ganjarannya.

d. Puasa di hari 27 bulan Rajab

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- قال: من صام يوم سبعة وعشرين من رجب كتب الله له صيام ستين شهرا، وهو اليوم الذي هبط فيه جبريل –عليه السلام- على النبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة.

Dari Abu Hurairah R.A berkata: bahwa Nabi pernah bersabda: barang siapa yang puasa di hari ke 27 dari bulan Rajab Allah akan mencatat baginya seperti puasa 60 tahun, karena hari itu merupakan hari dimana malaikat Jibril turun dengan membawa sebuah risalah melakukan isra’-mi’raj.

e. Puasa Hari Kamis, Jumuah dan Sabtu di bulan Rajab

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام ثلاثة أيام من كل شهر حرام –الخميس والجمعة والسبت- كتب له عبادة سبع مئة سنة”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: jika Rosulullah telah bersabda: siapa saja yang berpuasa 3 hari dibulan haram –kamis, jumuah dan sabtu- maka Allah akan mencatat baginya seperti beribadah 700 tahun.

f. Puasa penuh (banyak berpuasa) di bulan Rajab

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن أردتم الراحة وقت الموت من العطش والخروج مع الإيمان والنجاة من الشيطان فاحترموا هذه الشهور كلها بكثرة الصيام والندم على ما سلف من الأثام واذكروا خالق الأنام تدخلوا جنة ربكم بسلام.

Nabi bersabda: jika kamu sekalian ingin mendapatkan kenikmatan saat waktu kematian menjemput, membawa iman saat nyawa keluar dan terhindar dari godaan syaitan, maka sebaiknya muliakanlah bulan-bulan haram dengan banyak berpuasa, melakukan taubat dari dosa yang pernah dilakukan dan berdzikirlah kepada penyiptamu. Lalu masukkah surga dengan aman dan selamat.

عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يتم صوم شهر بعد شهر رمضان إلا رجب وشعبان

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasanya 1 bulan penuh setelah Ramadlan melainkan kacuali bulan Rajan dan Sya’ban.

2. Beristighfar

وقال علي رضي الله عنه قال النبي عليه الصلاة والسلام: أكثروا من الإستغفار في شهر رجب فإن لله تعالى في كل سعة منه عتقا من النار وإن لله مدائن لا يدخلها إلا من صام رجب.
Ali RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda: perbanyaklah beristighfar di bulan Rajab karena Allah dibulan ini lapang untuk pembebasan dari neraka dan Allah memiliki beberapa kota di surga, tidak ada seseorang yang bisa masuk ke dalamnya malainkan orang yang mau puasa rajab.

قال العلماء: رجب شهر الاستغفار وشعبان شهر الصلاة على النبي المختار صلى الله عليه وسلم ورمضان شهر القرآن.

Ulama’ berkata: bulan Rajab itu bulan istighfar, sya’ban bulan sholawat kepada Nabi Muhammad dan Romadlan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم لآاله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يمسك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته.

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: siapa saja yang antara waktu dhuhur dan ashar di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan berdoa : أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْمْ لآاِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيّ القيّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا, maka Allah akan mengutus dua malaikan untuk membakar buku catatan amal buruknya.

Dan orang yang membaca “اللهم اغفر لي وارحمني وتوب علي” sebanyak 70 kali diwaktu subuh dan menjelang sore di Bulan Rajab, maka kelak orang itu tak akan dikenai api neraka. Berikut hujjahnya:

ان من استغفر الله في رجب بالغداة والعشي يرفع يديه ويقول اللهم اغفر لي وارحمني وتوب علي سبعين مرة لم تمس النار جلدا.

Selain dua istighfar di atas penulis juga menambahkan 2 istighfar. Pertama istighfar ijazah dari habib Hasan bin Abdillah al-Haddad, berikut teks istighfarnya:

بسم الله الرحمن الرحيم، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، أستغفر الله (ثلاثا)، وأتوب إلى الله مما يكره الله قولا وفعلا، وخاطرًا، وباطنا وظاهرا، أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحيَّ القيومَ وأتوب إليه، اللهم إني أستغفرك لما قدّمتُ وما أخرت، وما أسررت وما أعلنت، وما أنت أعلم به مني، أنت المقدِّم وأنت المؤَخّر، وأنت على كل شيء قديرٌ. أستغفر الله ذا الجلال والإكرام من جميع الذنوب والآثام. أستغفر الله لذنوبي كلها، سرِّها وجهرها، وصغيرها وكبيرها، وقديمها وجديدها، وأوَّلها وآخرها، وظاهرها وباطنها، وأتوب إليه. اللهم إني أستغفرك من ذنب تبتُ إليك منه ثم عدت فيه، وأستغفرك لما أردت به وجهك الكريم فخالطه ما ليس لك فيه رضًا، وأستغفرك لما وعدتُك به من نفسي ثم أخلفتك فيه، وأستغفرك لما دعاني إليه الهوي من قِبل الرُّخص مما اشتبه عليّ وهو عندك حرامٌ، وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت، يا عالِم الغيب والشهادة من كل سيئة عملتها، في بياض النهار وسواد الليل، في ملاءٍ وخلاءٍ، وسرّ وعلانية وأنت ناظرٌ إليّ إذا ارتكبتها، وأتيتُ بها من العصيان، فأتوب إليك يا حليمُ يا كريمُ يا رحيمُ. وأستغفرك من النعم التي أنعمتَ بها عليّ فتقوَّيتُ بها على معصيتك وأستغفرك من الذنوب التي لا يعرفها أحدٌ غيرك، ولا يطلع عليها أحدٌ سواك ولا سيعها إلا حلمك، ولا ينجيني منها إلا عفوك، وأستغفرك لكل يمين سلفتْ مني فحنِثْتُ فيها وأنا عندك مؤَاخَذٌ بها. وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت سبحانك إني كنتُ من الظالمين، فاستجبنا له ونجيناه من الغمّ وكذلك ننجي المؤمنين. وزكريا إذ نادى ربه ربِّ لا تذرني فردًا وأنت خير الوارثين. رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين. وأستغفرك من كل فريضة أوجبتها عليّ في آناء الليل وأطراف النهار فتركتها خطأ أو عمدًا أو نسيانًا أو تهاوُنًا أو جهلا وأنا معاقبٌ بها. وأستغفرك من كل سنة من سنن سيد المرسلين، وخاتم النبيين نبيك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم فتركتُها غفلةً أو سهوًا أو نسيانا أو تهاوُنا أو جهلا أو قلةَ مبالاةٍ بها. وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك، وأن محمدًا عبدك ورسولك، سبحانك يا رب العالمين، لك الملك ولك الحمد، وأنت حسبنا ونعم الوكيل، ونعم المولى ونعم النصير، ولا حول ولا قوة إلا بالله العليّ العظيم. يا جابر كل كسير، ويا مؤنس كل وحيدٍ، ويا صاحب كل غريب، ويا ميسّر كل عسير، يا من لا يحتاجُ إلى البيان والتفسير، وأنت على ما تشاء قديرٌ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد بعدد من صلى عليه، وبعدد من لم يصل عليه. اللهم صل على روح سيدنا محمد في الأرواح. اللهم صل على تربة سيدنا محمد في التراب. اللهم صل على قبر سيدنا محمد في القبور. اللهم صل على صورة سيدنا محمد في الصور اللهم صل على اسم سيدنا محمد في الأسماء، ﴿لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريصٌ عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم، فإن تولَّوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم﴾، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

*Fadhilah*

o Nabi SAW bersabda : Barang siapa yang membaca Istighfar Rajab, maka akan dibangunkan 80 negeri di surga, setiap negeri mempunyai 80 mahligai, setiap mahligai mempunyai 80 rumah, setiap rumah mempunyai 80 kamar, setiap kamar ada 80 bantal dan setiap bantal 80 bidadari..

o Nabi SAW, juga bersabda kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. : “wahai Ali, tulislah Raja Istighfar ini, karena siapa yang membacanya, atau menyimpan tulisannya didalam rumah, atau pada harta bendanya, atau tulisan itu dibawa kemana saja ia pergi, maka Allah SWT memberi kepadanya pahala 80000 nabi, 80000 shiddiqin, 80000 Malaikat, 80000 orang mati syahid, 80000 orang beribadah Haji Dan pahala membangun 80000 masjid.

Kedua, istighfar ijazah dari Almaghfurlah KH. Muhammad Anwar Basya Bin Abu Bakar Asnawi yang disebut dengan ‘Sayyidul Istighfar’, berikut teks istighfarnya:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Dan barang siapa yang membaca sayyidul istighfar di waktu sore 3 kali lalu ia wafat dimalam itu, maka ia masuk surga. Dan bila di baca 3 kali di pagi hari lalu ia wafat di hari itu maka ia masuk surga

3. Menghidupkan Malam Pertama di Bulan Rajab

Diriwayatkan dari Nabi orang yang menghidupkan malam pertama bulan Rajab, tidak akan mati hatinya tatkala banyak hati yang telah mati, Allah akan melimpahkan kebaikan kepadanya, dikelruarkan dosa-dosanya seperti layaknya dia dilahirkan oleh ibunya (kembali suci) dan dapat member syafaat (pertolongan kepada 70.000 ahli dosa, seperti yang dijelaskan di dalam kitab Mahalisul Anwar:

روي عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من أحيا أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ويشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد استوجبوا النار” (محالس الأنوار)

Lalu yang dilakukan untuk menghidupkan malam pertama dibulan Rajab, sebagai berikut:

a. Perbanyak Istighfar seperti yang sudah dijelaskan dimuka.

b. Sholat sunnah 20 rekaat dengan bacaan tiap2 rekaat berupa surat fatehah lalu disusul surat ikhlas dan salam sebanyak 10 kali, maka siapa orang yang menjalankan Allah akan menjaganya dari bala’ dunia dan siksa akhirat. Berikut dalilnya:

عن أنس بن مالك عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من صلى بعد المغرب في ليلة من رجب عشرين ركعة بقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب والإخلاص وسلم عشر تسليمات حفظه الله تعالى وأهل بيته وعيانه من بلاء الدنيا وعذاب الآخرة”.

c. Membaca doa

Telah disebutkan dimukan bahwa siapa yang berdoa di 5 malam (Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha) maka Allah tidak akan menolak doanya.

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

Dan Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani menuturkan dalam kitabnya yang berjudul الغنية bahwa salah satu doa yang dibaca di malam pertama dibulan Rojab:

إلهي تعرض لك في هذه الليلة المتعرضون. وقصدك القاصدون. وأمل فضلك ومعروفك الطالبون. ولك في في هذه الليلة تفحات وجوائز وعطايا ومواهب تمن بها على من تشاء من عبادك. وتمنعها ممن لم تسبق له العناية منك وها أنا منك الفقير إليك. المؤمل فضلك ومعروفك فإن كنت يامولاي تفضلت في هذه الليلة علي أحد من خلقك وجد عليه بعائدة من عطفك. وصل على سيدنا محمد وآله وصحبه وجد على بطولك معروفك يارب العالمين.

Adapun Sayyidina Ali R.A menghabiskannya untuk beribadah dengan membaca doa sebagai berikut:

اللهم صل على محمد وآله مصابيح الحكمة وموالي النعمة ومعادن العصمة وأعصمنى بهم من كل سوء ولا تأخذني على غرة ولا على غفلة ولا تحعل عواقب أمري حسرة وندامة وارض عني فإن مغفرتك للظالمين وأنا من الظالمين. اللهم اغفر لي ما لا يضرك وأعطني ما لا ينفعك فإنك الواسعة رحمته البديعة حكمته فأعطني السعة والدعة والامن والصحة والشكر والمعافاة والتقوى وافرغ الصبر والصدق علي وعلى أوليائك واعطني اليسر ولا تجعل معه العسر واعمم بذلك اهلي وولدي وإخواني فيك ومن ولدني من المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات.

4. Banyak Bersholawat

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: رأيت ليلة المعراج نهرا ماءوه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك، فقلت لجبراءيل لمن هذا؟ قال لمن صلى عليك في رجب.

Artinya: Nabi Muhammad Bersabda: Aku melihat ketika malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya manis melebihi manisnya madu, dinginnya melebihi dinginnya salju, wanginya melebihi wanginya minyak misik. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril: untuk siapa sungai itu wahai Jibril. Malaikat Jibril menjawab: sungai itu diperuntukkan orang yang bersholawat kepadamu di bulan Rajab.

5. Dzikir Kepada Allah

· Tanggal 1-10: سُبْحَانَ الْحَيِّ القَيُّوْمْ Sebanyak 100 kali sehari semalam.

· Tanggal 11-20: سُبْحَانَ اللّٰهِ الْأَحَدِ الصَّمَدْ Sebanyak 100 kali sehari semalam.

· Tanggal 21-30: سُبْحَانَ اللّٰهِ الرَّؤُوفْ Sebanyak 100 kali sehari semalam

Fadhilah : Barang siapa yang mau mengamalkanya maka akan diberi pahala yang tidak bisa disifati karena sangat banyaknya.

6. Perbanyak Doa

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

Adapun doa yang dianjurkan untuk dibaca terus menerus dari awal rajab sampai akhir romadlon sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ

Barang siapa yang mau membaca Doa tersebut, maka akan diberi Barokah Rizkinya, Umurnya, Anak keturunannya dan Diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya serta mendapat Rahmat keridhoan Allah SWT

7. Banyak Taubat

Dikatakan sebelumnya bahwasanya Rajab merupakan bulan istighfar, dari indikasi tersebut dapat dikatakan bulan rajab merupakan bulan yang tepat untuk melakukan taubat. Selain itu bulan Rajab merupakan bulan Allah yang dimana bulan khusus mencari rahmat Allah. Seperti tertulis dalam hadist sebagai berikut:

قال رسول الله صلى عليه وسلم رجب شهر الله وشعبان شهر أمتي ورمضان شهر أمتي.

dikatakan bahwa رجب memiliki tiga huruf: huruf ra’ (الراء) menunjukkan atas Rahmatnya Allah , huruf jim mengindikasikan جرم العبد dan huruf ba’ (الباء) menunjukkan kebaikan Allah (بر الله). Seolah-olah Allah mengatakan : “Wahai hambaku, aku jadikan kehajatanmu (جرمك) diantara rahmat dan kebaikanku agar kejaahatanmu tidak tetap dan berlanjut dengan menghormati bulan Rajab.

8. Amaliyyah Akhir Jumuah dari bulan Rajab

أن من قرأ آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر “أحمد رسول الله ، محمد رسول الله” خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدراهم من يده تلك السنة.

Artinya : Siapa orang yang membaca ini di akhir jumu’ah sedang khotib di atas mimbar

“أحمد رسول الله . محمد رسول الله” (35 x)

Maka orang itu kelak tidak akan diputus rizqinya selama setahun.

E Referensi:

(1) ابـن حجـر العسـقلاني، تبيين العجـب بـما ورد في رجـب.

(2) ابـن رجب الحنبلي، لطائف المعارف فـيما لمواسـم العـام مـن الوظـائف.

(3) أبو سعيد محمد بن علي الأصبهاني ، فضل الصيام.

(4) أبو محمد الحسن بن محمد بن الحسن الخلال، فضائل شهر رجب، (بيروت: دار إبن حزم، 1996).

(5) أحمد بن حجازي بن بدير الفشني، تحفة الإخوان في قراءة الميعاد في رجب وشعبان ورمضان، (مصر: مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، 1953).

(6) أحمد بن حجر العسقلاني، تبيين العجب بما ورد في شهر رجب

(7) الإمام الحافظ عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي، الجامع الكبير، (مصر: طبعة الهيئة المصرية العامة للكتاب عن مخطوطة نفيسة، 1987).

(8) الإمام العلامة عبد القادر الجيلاني، الغنية لطالبي طريق الحق، (سورية: دار الجيل، 1999).

(9) الإمام محمـد بـن إسـماعيل البخـاري رحمه االله، صحيح البخاري.

(10) الإمام مسـلم بـن الحجـاج النيسـابوري، صحيح مسلم.

(11) د.عبد االله بن عبد العزيز التويجري، البدع الحولية.

(12) سليمان بن جاسر بن عبد الكريم الجاسر، شهر رجب، (الرياض: حقوق الطبع محفوظة للمؤلف، 1433).

(13) شيرويه بن شهردار الديلمي، الفردوس بمأثور الخطاب، (لبنان: تحقيق السعيد بن بسيوني زغلول، 1986)

(14) عبد الحميد بن محمد علي بن عبد القادر قدس المكي الشافعي، كنز النجاح والسرور في الأدعية المأثورة التي تشرح الصدور، الطبعة الأولى، (دار السنابل-دار الحاوي، 2009).

(15) عبد العزيز بن أحمد الكتاني، فضائل شهر رجب.

(16) عثمان بن حسن بن أحمد الشاكر الخويري، درة الناصحين في الوعظ والإرشاد، (سورابايا: توكو كتاب الهداية).

(17) العلامة المؤرخ محمد أمين بن فضل بن محب الله المحبي، خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر، (لبنان: طبعة مصورة عن نشرة المطبعة الوهبية لدى دار صادر، 1284).

(18) محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح القرطبي أبو عبد الله، الجامع لأحكام القرآن.

(19) ملا على القاري الهروي، الأدب في رجب.

 

Oleh:

Mohammad Bahauddin

Alumni Qudsiyyah Kudus sekaligus Dosen STAIN Kudus 

GUSJIGANG: PRINSIP BISNIS RASULULLAH

Keberhasilan suatu bisnis bagi  seorang muslim tidak diukur dari besarnya laba atau keuntungan yang diperoleh, misalnya mempunyai rumah megah, deposito disetiap bank, mobil yang mewah, istri yang banyak, dibangunnya gedung bisnis bertingkat nan megah. Keberhasilan bisnis seorang muslim tidak diukut dengan itu, namun diukur dengan niali bagaimana bisnisnya itu bermanfaat untuk kepentingan umat dan mendapat ridlo oleh Allah dengan perilaku penuh kejujuran. Untuk melakukan bisnis memang sulit, namun bila kita menggunakan ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Agama, insya Allah perjalanan bisnis akan mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Fenomena yang ada dalam dunia perdagangan atau bisnis di Negara kita Indonesia  ini, banyak sekali pelanggaran atau penyimpangan dalam berbisnis. Banyak dari mereka yang masih berusaha melanggar perjanjian, manipulasi dalam segala tindakan. Mereka kurang memahami etika bisnis, atau mungkin saja mereka faham tapi memang tidak mau melaksanakan.

Selain ditanamkan akhlak atau etika, sebuah bisnis dapat berkembang dan sukses   harus dimulai usaha dengan membuat rencana bisnis yang memiliki fleksibilitas dan inovasi. Dengan kata lain orang yang melakukan usaha bisnis harus banyak belajar agar memiliki kreatifitas dalam memasarkan (mempromosikan) usahanya.

Pada hakekatnya Islam sebagai suatu agama besar telah mengajarkan konsep-konsep unggul lebih dulu dari Protestan, akan tetapi para pengikutnya kurang memperhatikan dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam sebagaimana mestinya. Nabi Muhammad SAW telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen, dan etos kerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika kerja dan manajemen bisnis tersebut telah mendapat legitimasi keagamaan setelah Beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau awal 21. Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, tranparan, persaingan yang sehat dan kompetitif, semua telah menjadi gambaran pribadi Nabi Muhammad ketika masih muda. (Prof. K.H Ali Yafie, dkk, 2003: 11-12)

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh dua hal pokok, yaitu kepridadian yang amanah dan terpercaya, serta pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Kedua hal tadi merupakan pesan moral yang bersifat universal yang uraianya antara lain sebagai berikut:

1. Shiddiq,yaitu benar dan jujur, tidak pernah berduata dalam melakukan berbagai macam transaksi bisnis. Hal tersebut juga dijelaskan dalam firman Allah

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)

Artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”(QS. Al-Muthaffifin:1-3)

2. Kreatif, Berani, dan Percaya diri. Ketiga hal ini mencerminkan kemauan berusaha untuk mencari dan menemukan peluang-peluang bisnis yang baru, prospektif, dan berwawasan masa depan, namun tidak mengabaikan prinsip kekinian.

3. Tabligh, yaitu mampu berkomunikasi dengan baik. Yaitu: supel, cerdar, cepat tanggap, koordinasi dan supervisi.

4. Istiqamah, yaitu secara konsisten menampilkan dan mengimplementasikan nilai-nilai di atas walaupun mendapatkan godaan dan tantangan. Hanya dengan istiqamah dan mujahadah, peluang-peluang bisnis yang prospektif dan menguntungkan akan selalu terbuka lebar. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”(QS. Al-Ahqaaf: 13)

Dari beberapa dasar tersebut di atas menunjukkan bahwa menghadirkan dan mengimplementasikan strategi bisnis Rasulullah SAW pada saat sekarang akan tetap relevan dan actual, karena prisip-prinsip yang telah dibangun Rasulullah SAW merupakan prinsisp yang universal dan tidak terbatas oleh ruan dan waktu. Hanya saja diperlukan kesungguhan, kedisiplinan dan keyakinan untuk terus mengaplikasikanya. (Dr. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc, 2003: 57)

Orang-orang yang sukses pada umumnya memiliki dan menampilkan sifat-sifat pribadi atau ciri-ciri watak, sebagaimana pendapat “The Liang Gie”, diantaranya (The Liang Gie, 1996: 20-21):

1. Kreatifitas: adalah pikiran lincah yang senantiasa bergerak menghasilkan ide-ide baru.

2. Integritas: adalah akhlak yang luhur dan hati yang bersih sehingga mempunyai berbagai kebajikan hidup (misalnya kejujuran, kesetiaan, semangat pengabdian, rasa tanggungjawab).

3. Kapabilitas: adalah keterampilan kerja, kemahiran memutuskan dan pengetahuan efisiensi yang diperoleh dari pendidikan formal, pengalaman hidup maupun terutama pengembangan diri.

Konsep perdagangan (bisnis) yang diajarkan oleh nabi Muhammad ialah apa yang disebut value drive, artinya menjaga, mempertahankan, menarik nilai-nilai dari pelanggan. Value drive juga erat hubunganya dengan apa yang disebut relationsip marketing, yaitu berusaha menjalin hubungan erat antara pedagang, produsen dengan para pelanggan. (Prof. Dr. H. Buchari Alma, 2003:21)

Sifat Rasulullah dalam berbisnis, seperti yang diungkapkan oleh Syafi’I Antono (Harian Republika, Juni, 2002) yang ditulis oleh Buchari Alma, sebagai berikut:

1. Siddiq,benar, nilai dasarnya ialah integirtas, nilai-nilai dalam bisnisnya berupa jujur, ikhlas, terjamin, dan keseimbangan emosional.

2. Amanah, nilai dasarnya terpercaya, dan  nilai-nilai dalam berbisnisnya ialah adanya kepercayaan, bertanggung jawab, transparan, dan tepat waktu

3. Fathonah, nilai dasarnya ialah memiliki pengetahuan yang luas, nilai-nilai dalam berbisnis ialah memiliki visi, pemimpin yang cerdas, sadar produk, dan jasa, serta belajar berkelanjutan.

4. Tabligh, nilai dasarnya ialah komunikatif, dan nilai bisnisnya ialah supel, penjual yang cerdas, deskripsi tugas, delegasi wewenang, kerja tim, koordinasi, ada kendali dan supervisi.

5. Syaja’ah, artinya berani, nilai bisnisnya adalam mau dan mampu menambil keputusan, menganalisa data, keputusan yang tepat dan cepat tanggap.

Sifat-sifat dasar ini merupakan pesan universal dari akhlak atau etika dan keterampilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis sehingga dapat membawa sukses dalam berbisnis.

Orang beretika atau berakhlak adalah orang yang memiliki perilaku yang bagus karena seseorang yang buruk lakunya, tentu akan berakibat panjang, paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain terhadap dirinya, dan pada gilirannya akan merugikan usaha dagangnya. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan atau keterampilah adalah orang senantiasa belajar dan mengaji dari lingkungan sekitar untuk mendapatkan ide-ide kratif yang nantinya digunakan untuk mengembangkan usahanya. Konsep-konsep dalam berdagang atau berbisnis di atas secara tutur tinular dikenal dengan istilah GUSJIGANG (Bagus, Mengaji/Mengkaji, Dagang).

Kata ‘gusjigang’ mengandung arti ‘ bagus – mengaji – berdagang’ adalah filosofi dari Sunan Kudus. Filosofi ‘gusjigang’ merupakan personifikasi Sunan Kudus agar masyarakat Kudus mempunyai budipekerti yang baik (masalah moralitas, ahklak), pandai mengaji yang berarti menuntut ilmu, rajin beribadah, dan pandai berdagang. Ada yang mengartikan mengaji adalah rajin beribadah, dan ‘ji’ ada  yang  mengartikan  kaji. Dalam telaah makna ‘gusjigang’ dalam kehidupan orang Kudus, dengan memperhatikan pandangan ‘dari dalam’, yaitu dari sudut pandang tineliti (orang Kudus-pedagang)  yaitu world view  orang  Kudus  atas  etos  dalam  ‘gusjigang’.  Dalam kerangka ini pemaknaan ‘gus- ji – gang’ pada pedagang Kudus mengandung tiga unsur nilai yang berbeda. Pengungkapan makna ‘gus’ (bagus ahklaknya) akan berbeda analisisnya dengan pengungkapan makna ‘ji’ (belajar, menuntut ilmu), dengan pemaknaan ‘gang’ (pandai berdagang). Namun ketiga unsur ini adalah satu kesatuan. Artinya,   seseorang (pedagang) yang menjalankan ‘ji’ dan ‘gang’ sebagai pedagang yang menjalankan praktik berdagang dengan baik, maka dalam konteks ini seseorang pedagang tersebut dapat disebut memiliki ‘gus’.

Nilai-nilai seperti ini, setelah melalui proses waktu yang cukup, melembaga dan yang pada akhirnya terlembagakan dalam tata nilai masyarakat Kudus, bersifat evaluatif, dan sekaligus merupakan bagian dari tradisi atau budaya masyarakat secara  keseluruhan. Hal ini karena secara psikis seseorang cenderung memasukkan segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya seperti simbol-simbol yang mencerminkan dunia di sekitarnya, norma, budaya, kehidupan sosial, serta perilaku orang yang akrab dengannya ke dalam sistem gejala kejiwaannya. Proses internalisasi pengalaman ini kemudian mempengaruhinya dengan cara tertentu ketika memahami, merasa, berpikir dan berbuat. ( Vinacke, 1992: 285)

 Tradisi lokal masyarakat Kudus yang merujuk kembali kepada figur  Sunan Kudus merupakan modal dasar dalam berusaha sehingga bisa dikatakan pengusaha-pengusaha Kudus berhasil dalam usahanya. Sebagai ilustrasi, industri milik pribumi di Indonesia sampai tahun 1930-an belum banyak berarti. Berbeda dengan ini, Kudus tahun 1910-an telah terkenal sebagai pusat industri  rokok kretek, dan pengusaha pribumi pada  waktu itu sangat dominant. (The Kian Wee, 1994: 16) Dan sampai sekarang Gusjigang mampu dipertahankan  dengan baik, sehingga bisnis industrialiasasi di Kabupaten Kudus bisa dijadikan model yang relevan sesuai dengan potensi dan karakter masyarakatnya.

Dengan demikian, sifat-sifat atau prinsip-prinsip dasar perilaku Nabi Muhammad SAW yang tercermin atau merupakan refleksi dari konsep gusjigang dalam berbisnis dapat membawa sukses dalam berbisnis. Karena hal ini merupakan suri tauladan yang baik diikuti agar bisnis yang digeluti dapat berkembang dengan baik dan akan membawa hasil yang sangat maksimal, khususnya bagi umat Islam dan umumnya bagi semua umat manusia.

Daftar Pustaka :
– Alma, Buchari, 2003, Dasar-dasar Etika Bisnis Islami, Bandung: Alfabeta.
– Gie, The Liang, 1996, Strategi Hidup Sukses, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Liberty.
– Hafidhuddin, Didin, M.Sc. dan Hendri Tanjung, 2003, Manajemen Syariah dalam Praktik, Jakarta: Gema Insani Press.
– Pareno, Sam Abede, 2002, Etika Bisnis: Wirausaha Muslim Suatu Arah Pandang,Surabaya: Papyrus.
– Soenarjo, 1991, Al-Qur’an dan Terjemahanya,Bandung: Gema Risalah Press.
– Vinacke, 1992, The Psycholgy of Thinking, Toronto: Mc Graw Hill Book Company Inc.
– Wee, The Kian, 1994, Industrialisasi di Indonesia; Beberapa Kajian, Jakarta: LP3ES.
– Yafie, Ali, dkk, 2003, Fiqih Perdagangan Bebas, Bandung: Teraju kelompok Mizan.

Oleh:
H. Ihsan
Ketua Umum Ikatan Alumni Qudsiyyah

Meniru Semangat BerNU KHR Asnawi

Salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari adalah KHR Asnawi Kudus (1861-1959). Kyai keturunan KH Mutamakkin dan Sunan Kudus ini sangat loyal dalam beraktivitas di NU.

Kyai Asnawi selama hidup tidak pernah meninggalkan prinsip-prinsip baku ahlussunnah wal jama’ah. Terbukti dalam hal berjama’ah ditunjukkan dengan aktivitas keagamaan yang sangat lekat dengan tradisi ulama khas Timur Tengah dan Jawa.

Bekal kombinasi ilmu Arab-Jawa yang didapatinya selama mencari ilmu diterapkan agar mudah dijalani oleh orang awam. Maka karya-karya yang ia lahirkan adalah berbahasa Jawa dengan tulisan pegon. Sedangkan karya berupa syi’ir dikarang dengan dua model: bahasa Jawa dan bahasa Arab.

Sedangkan dalam hal jam’iyyah, Kyai Asnawi tercatat dalam berbagai organisasi pra kemerdekaan semisal Sarekat Islam, Jam’iyyatun Nasihin dan Nahdlatul Ulama. Prakarsa mendirikan Nahdlatul Ulama selalu aktif dijalani hingga resmi berdiri tahun 1926.

Selama NU berdiri dan melaksanakan Muktamar, ia tidak pernah udzur mengikutinya hingga akhir hayat. Inilah yang patut dicatat oleh generasi muda saat ini. Kyai Asnawi wafat beberapa hari setelah pulang dari Muktamar NU ke-12 di Jakarta.

Ada empat pola semangat berNU yang dapat diambil dari kisah KHR Asnawi.

Pertama, tidak pernah berhenti dakwah ahlussunnah wal jama’ah walau dalam tekanan penjajah. Semangat beraswaja diteguhkan dengan mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada 1919 dan mendirikan Pondok Pesantren Raudlatul Tholibin Bendan Kudus tahun 1927. Termasuk Kyai Asnawi memprakarsai majelis pengajian aswaja di berbagai daerah Kudus, Pati, Demak hingga Pekalongan.

Kedua, mengorganasisikan aswaja dalam wadah Nahdlatul Ulama. Bahwa jama’ah yang sudah ada tidak dianggap sempurna tanpa organisasi. Maka berdirinya NU bagi KHR Asnawi adalah mutlak adanya dan harus berjuang memberantas paham wahabi yang merusak aqidah Islam.

Perihal perjuangan melawan gerakan wahabi, Kyai Asnawi berada di barisan depan. Ini terbukti prasasti berdirinya NU tertulis di Masjid Aqsha Menara Kudus–atas prakarsa Kyai Asnawi dan KHR Kamal Chambali. Gerakan wahabi di Kota Kudus ia berantas dengan cara damai dan perdebatan hujjah agama versi aswaja.

Ketiga, penyempurnaan jama’ah dan jam’iyyah dibingkai dalam cinta tanah air. Kyai Asnawi sangat peduli terhadap cinta tanah air dan kedamaian bumi Indonesia. Syair yang dikarangnya banyak mengarah pada bukti nyata kemerdekaan Indonesia adalah dengan rasa aman.

Dalam syair shalawat Asnawiyyah yang dikarang sebelum kemerdekaan tertulis: Indonesia Raya Aman. Ini menjadi bukti nyata bahwa rasa aman bernegara itu sangat penting untuk dijaga.

Salah satu bukti keamanan Indonesia bagi Kyai Asnawi perlu diperkuat rasa beislam dan bersejarah. Apa artinya? Islamnya harus benar patuh pada aswaja dan mengerti sejarah bangsa. Bahkan Kyai Asnawi memuji prinsip demokrasi yang diusung oleh bangsa Indonesia.

Keempat, rasa saling sayang dan menghormati perlu ditanamkan dalam berNU. Boleh kita bayangkan saat awal pendirian NU, sarana transportasi dan komunikasi masih sangat manual. Tapi semangat para ulama terbangun baik karena saling sayang dan hormat.

Inilah hal-hal pokok yang dapat diambil dari pengalaman KHR Asnawi dalam berNU. Usia NU yang memasuki 92 tahun patut disambut dengan rasa sayang dan hormat.

NU akan tetap jaya dan besar jika kita mau meniru cara-cara ulama dalam meneguhkan jama’ah dan jam’iyyah.

M. Rikza Chamami
PW GP Ansor Jawa Tengah

Memantapkan Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Bulan Rabi’ul Awwal dalam kalender hijriyyah selalu memberikan makna yang istimewa. Kenapa? Karena di tanggal 12 diperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Walaupun kelahiran Nabi sudah 1445 tahun berlalu, hingga kini (2017) masih dimeriahkan.

Sebagian muslim masih ragu akan peringatan Maulid Nabi, bahkan ada yang menganggap itu bid’ah. Untuk itu perlu sekali dijelaskan dalil-dalil yang berdasar dari hadits Nabi Muhammad tentang peringatan maulid Nabi itu.

Dalam kitab Al Faraidus Saniyyah wad Durarul Bahiyyah karya KH M Sya’roni Ahmadi dijelaskan secara khusus mengenai dalil-dalil menghormati perayaan maulid Nabi Muhammad. Di halaman 4 tertulis bab empat dengan judul Al Adillatu fi Sunniyyati Ta’dzimi Maulidin Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ada sembilan hujjah yang diambil dalam menjelaskan sunnahnya perayaan maulid Nabi. Ada satu hadits, empat pendapat khulafaurrasyidin dan empat pendapat ulama salaf.

Salah satu hadits Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan sunnahnya perayaan maulid Nabi secara jelas disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من عظم مولدي كنت شفيعا له يوم القيامة ومن انفق درهما في مولدي فكانما انفق جبلا من ذهب في سبيل الله

Artinya:
Rasulullah Saw telah bersabda: “Barangsiapa memuliakan hari kelahiranku maka kelak akan mendapatkan syafaatku di hari kiamat. Dan barangsiapa berinfaq dirham dalam peringatan maulid Nabi, maka sama dengan pahala infaq gunung emas di jalan Allah Swt”.

Dengan hadits Nabi itu jelas sekali bahwa peringatan maulid Nabi adalah sunnah. Bahkan sunnah yang demikian bukan sunnah biasa, tapi sunnah yang sangat luar biasa.

Kenapa? Karena peringatan maulid Nabi merupakan amalan dunia tapi menjadi pahala di akhirat. Bahkan pahala di akhirat dobel: syafaat (pertolongan) Nabi di hari kiamat dan senilai pahala infaq gunung emas.

Hadits ini cukup menjadi hujjah dalam pelaksanaan maulid Nabi. Di Indonesia, pelaksanaan maulid Nabi sudah diselenggarakan sejak zaman Walisongo. Saat jaman kerajaan, semua Keraton Islam selalu menggelar maulid Nabi. Dan saat Indonesia merdeka hingga sekarang, maulid Nabi selalu menjadi acara resmi negara.

Sebagai penguat hadits Nabi, empat khulafaurrasyidin yang merasakan hidup bersama dengan Nabi Muhammad juga menjelaskan secara eksplisit manfaat perayaan maulid.

Sahabat Abu Bakar Assiddiq menyebutkan:
من انفق درهما في مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة
Shabat Umar bin Khattab berkata:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد احيا الاسلام

Sahabat Utsman bin Affan menjelaskan:
من انفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكانما شهد يوم وقعة بدر وحنين

Sayyidina Ali bin Abu Tholib berkata:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لا يخرج من الدنيا إلا بالايمان

Lengkap sudah kiranya dalil penjelas mengenai perayaan maulid Nabi yang telah ditegaskan oleh empat shahabat penerus perjuangan Nabi yang jelas-jelas hidup bersama-sama Nabi saat masih hidup.

Sayyidina Abu Bakar berjanji akan menjadi teman setia di surga bagi para umat Islam yang mau berinfaq untuk perayaan maulid Nabi.

Sayyidina Umar menegaskan bahwa salah satu cara menghidupkan Islam adalah dengan merayakan maulid Nabi. Ini menjadi anti tesa bahwa jika maulid Nabi dilarang, sama dengan membunuh Islam.

Sayyida Utsman juga telah memberikan penguatan bahwa pahala infaq untuk maulid Nabi setara dengan berjuang saat perang di jaman Rasulullah.

Sedangkan Sayyidina Ali menandaskan betapa iman itu penting untuk tetap dipertahankan hingga akhir hayat. Dan salah satu jaminan keimanan itu adalah dengan perayaan maulid Nabi–dimana dengan perayaan maulid Nabi manusia tidak akan meninggalkan dunia kecuali dalam kondisi beriman.

Semoga tulisan singkat ini menjadi ibroh bagi setiap muslim dalam rangka memantapkan perayaan maulid dalam yang berdasar pada syariat Islam. Merayakan maulid Nabi sama dengan menghidupkan Islam. Jangan pernah padamkan maulid Nabi kalau Islam ingin hidup selamanya. (*)

M. Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Mahasiswa Program Doktor Studi Islam & Dosen UIN Walisongo

Tulisan ini pertama kali ditayangkan di NU.ONLINE pada Senin, 4 Desember 2017

Menyandingkan Mondok dan Kuliah

PADA tahun 2028-2030, Indonesia diperkirakan akan berada pada puncak bonus demografi (BPS, 2015). Kondisi ini membuat komposisi penduduk Indonesia dihuni lebih banyak penduduk usia produktif yakni pada usia 15-64 tahun. Disebut bonus atau keuntungan tentu saja jika kita mampu memaksimalkan kesempatan dan potensi tersebut. Sebaliknya, jika kita gagal mengantisipasi kondisi demografi tersebut, maka bukan bonus namanya tetapi bencana demografi yang akan terjadi.

Salah satu persiapan untuk mengoptimalkan kondisi demografi tersebut adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan berkarakter. Aspek pendidikan adalah salah satu kunci untuk memaksimalkan agar kondisi demografi di atas menjadi sebuah keuntungan bagi pembangunan bangsa. Tanpa pendidikan yang memadai dan handal, maka bonus demografi bisa berbalik menjadi bencana demografi karena penduduk usia produktif tidak memiliki bekal pengetahuan dan keilmuan yang memadai serta lemah karakter kebangsaannya.

Salah satu ikhtiar untuk membuat demografi bisa berguna untuk bangsa adalah dengan menyiapkan sebaik mungkin sumber daya manusia. Kesiapan pemanfaatan ini merupakan hal yang mutlak dilakukan jika kita ingin menikmati bonus demografi. Tidak bisa dipungkiri, institusi penting yang bisa membantu menyiapkan SDM yang handal dan berkualitas adalah perguruan tinggi dan pondok pesantren.

Sejak lama keduanya adalah tempat terbaik untuk menyiapkan warga negara yang handal, berkualitas dan mampu bersaing dengan SDM yang lain. Sama-sama memiliki tugas pokok pengajaran dan tranformasi keilmuan, keduanya juga memiliki karakter unik. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang teruji dalam membentuk karakter santri sebagai seorang pembelajar. Sedangkan perguruan tinggi merupakan arena pendidikan tingkat lanjut pasca menempuh pendidikan jenjang aliyah atau SMA guna memperdalam suatu keilmuan yang ingin didalami.

Pentingnya Sinergi

Sebagai sesama lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, perguruan tinggi dan pondok pesantren memiliki niat dan tujuan sebangun yakni memajukan peradaban bangsa melalui transformasi pendidikan. Dalam menyiapkan diri menghadapi keuntungan demografi, menjadi penting bagi perguruan tinggi dan pondok pesantren untuk bergandengan tangan dan memperkokoh antara satu dengan lainnya.

Kombinasi keduanya diyakini akan menjadi amunisi yang dahsyat bagi tercapainya revolusi karakter bangsa yang merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK sebagaimana tersebut dalam Nawa Cita. Pondok pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan transformasi keilmuan tetapi dalam sejarahnya juga menanamkan karakter cinta tanah air dan bela bangsa. Dua aspek penting dalam pembentukan karakter bangsa sekaligus ciri utama pondok pesantren di Indonesia. Jika ada lembaga mendaku pondok pesantren tetapi menjadi tempat untuk “melawan” ideologi negara, maka perlu dipertanyakan kembali ruh ke-pesantren-annya.

Sementara perguruan tinggi di Indonesia merupakan arena dimana pendidikan, pengabdian dan penelitian saling beririsan. Perguruan tinggi tidak hanya tempat menyemai benih keilmuan dan pengajaran untuk menghasilkan suatu produk budaya dan sosial yang unggul tetapi sekaligus mendorong adanya transformasi keilmuan ke masyarakat melalui tugas pengabdian. Sebagai tempat pendidikan lanjutan pasca aliyah-SMA, maka perguruan tinggi menjadi salah satu tempat penting dalam mematangkan keilmuan seseorang.

Sementara dari sisi SDM, perguruan tinggi dan pondok pesantren adalah agen sosial yang sangat penting dalam memantik perubahan sosial di Indonesia dengan kekayaan tenaga pengajar dan santri atau mahasiswa yang jumlahnya bisa mencapai jutaan. Ilmu yang mumpuni dengan landasan karakter yang cinta tanah air dan bela bangsa diharapkan menjadi potret demografi di masa mendatang.

Dwitunggal Era Milienial

Untuk memperoleh potret semacam ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Penulis menyebut pondok pesantren dan perguruan tinggi adalah dwi tunggal yang memegang peranan penting di era milenial. Menghadapi generasi milenial, podok pesantren dan perguruan tinggi tidak bisa berpuas diri tetapi harus terus berinovasi dalam pengajaran, memanfaatkan teknologi dan aktif berkomunikasi.

Tiga hal ini penting dicermati agar generasi saat ini mau melirik pondok pesantren dan perguruan tinggi. Inovasi dalam pembelajaran diperlukan agar peserta didik tidak cepat bosan dan selalu diajak mengkontekstualisasikan apa yang dipelajari dalam dunia sehari-hari. Teknologi merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini. Adapun komunikasi yang aktif merupakan ciri utama masyarakat saat ini dimana orang bisa saling terhubung tanpa ada batas.

Dengan sinergi antara pondok pesantren dan perguruan tinggi, maka diharapkan di masa mendatang akan dihasilkan potret warga Indonesia yang memiliki ilmu yang memadai dengan pondasi cinta tanah air dan bela bangsa. Warga berilmu tinggi tetapi tidak memiliki karakter cinta bangsa akan menindas bangsanya sendiri dan mengeksploitasi SDA tanpa batas. Begitu juga warga yang hanya bermodal cinta tanah air dan membela bangsa yang tinggi tetapi tidak berilmu hanya akan melahirkan potret bangsa yang bermental pemalak.

Salah satu upaya untuk mensinergikan pondok pesantren dengan perguruan tinggi akan bisa dilihat dalam acara sosialisasi sekaligus sosialisasi ayo mondok wilayah Jawa Tengah di kampus IAIN Surakarta pada pekan lalu. Kegiatan ini harus ditempatkan sebagai langkah strategis untuk memulai kerja bareng antara pondok pesantren dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan potret warga negara yang memiliki keilmuan yang memadai dan berkarakter bela bangsa.

Pertemuan antara para pengelola pondok pesantren dengan perguruan tinggi diharapkan menjadi silaturahmi keilmuan sehingga menjadi jalan baru untuk meneguhkan duet pondok pesantren dan perguruan tinggi. Kokohnya duet ini diharapkan menjadi dasar yang kuat bagi pelaksanaan revolusi karakter bangsa sebagaimana dicita-citakan pemerintahan Jokowi-JK. Sudah saatnya pula gerakan #ayomondok berjalan beriringan dengan gerakan #ayokuliah agar potret demografi di masa mendatang menjadi bonus dan bukan bencana. (*)

M Zainal Anwar
Alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus dan Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Tulisan ini pertama kali dimuat pada Rubrik GAGASAN – SOLO POS, 23 Oktober 2017

Merawat Warisan Harmoni Sosial Walisongo

KETIKA bangsa Indonesia—khususnya umat Islam dalam kondisi terbelah pendapatnya—maka perlu merenung sejenak sejarah Nusantara di masa lampau. Apa yang perlu direnungkan? Sejarah Walisongo sebagai pembawa Islam di bumi Nusantara. Kenapa harus direnungkan kembali saat ini? Sebab Walisongo menjadi figur penginspirasi harmoni sosial.

Terlalu cepat nampaknya Indonesia dibuat gaduh (versi media sosial) akibat hajatan politik. Muslim satu dan lainnya berbeda pandangan soal tafsir “penistaan agama”. Belum lagi soal argumentasi agama yang dibenturkan dengan kecondongan pilihan kandidat Kepala Daerah. Seakan restu politik menjadi tunggal dan sudah kelewat batas dari titik harmoni.

Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq memberikan contoh dalam kondisi suasana politik Kesultanan Demak menghangat. Ia sebagai salah satu Panglima Perang Demak memilih untukbabad alas (membuka wilayah politik baru) di Kudus, daerah utara Demak. Konflik yang terjadi di Demak pun bukan sebagai lahan berebut kekuasaan semata. Tetapi menjadi pendewasaan berpolitik—yang sudah terintervensi gengsi kekuasaan Majapahit.

Akibat dari suasana yang demikian, Sunan Kudus mengambil jalan untuk memperkuat basis keilmuan dengantafaqquh fiddin (menguasai ilmu agama). Selain itu, keturunan Raja Demak bernama Ario Penangsang juga menjadi murid kesayangan Sunan Kudus. Itu dilakukan karena kecintaan Sunan Kudus pada keturunan Raja agar tidak lari mencari perlindungan Raja Majapahit.

Kisah Sunan Kalijaga dalam membangun pondasi Islam Nusantara yang penuh harmoni juga sudah nyata. Bangunan Islam yang ramah dengan masyarakat awam ia tancapkan mendarah daging hingga saat ini. Kesan Kesultanan Demak yang sangat terbuka untuk menjadi tempat curhat kawulo alit didorong oleh Sunan Kalijaga sebagai Penasehat Raja. Sunan Kalijaga juga membangun zona-zona politik berbasis harmoni dengan seni.

Seni semacam Wayang dan Gendhing Jawa (lagu Jawa) ia ciptakan sebagai pemersatu masyarakat Jawa yang saat itu sudah multiagama. Orang non muslim begitu mesra dengan Islam saat Sunan Kalijaga tampil dengan kesenian Jawa yang telah diislamkan. Dalam suasana yang demikian, masyarakat menyatu dalam seni untuk membangun harmoni sosial. Agama saat itu sudah menjadi perekat, bukan menjadi sumber konflik.

Kehadiran Maulana Malik Ibrahim di Gresik dalam membangun harmoni sosial juga nampak nyata. Di tengah kondisi masyarakat memiliki keyakinan terhadap Dewa, Islam tampil dengan ramah. Agama yang diyakini sebelum Maulana Malik Ibrahim hadir di Jawa tidak diusik. Keyakinan itu tetap dibiarkan berjalan. Itulah cikal bakal bangunan toleransi beragama sudah ada sejak abad 14 dan 15.

Ketika masyarakat meyakini bahwa meminta kepada Dewa harus dengan tumbal menyembelih perawan cantik, oleh Maulana Malik Ibrahim diganti dengan menyembelih ayam. Dan permintaan hujan dan berhentinya paceklik itu terkabulkan. Akhirnya masyarakat mulai mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim tanpa harus mengusik umat agama sebelumnya. Wajah Islam yang demikian harus kita lihat.

Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati juga demikian. Ia lahir dari keturunan Raja Siliwangi bernama Dewi Rara Santang. Praktis, bahwa perjuangan membuat Bumi Jawa Pasundan Betawi sebagai medan juang Islam didakwahkan dengan penuh damai dan toleran. Sunan Gunung Jati sadar bahwa Islam harus didakwahkan, tapi dakwah yang santun, bukan dengan dakwah yang berapi-api. Soal hadangan kelompok yang tidak sepakat, ia lakukan dengan penuh kasih sayang.

Ada hal yang perlu dipertegas soal kisah-kisah Walisongo. Maulana Habib Luthfi Pekalongan selalu menegaskan tentang kisah-kisah para Walisongo ini. Bahwa konflik Walisongo jangan dipahami dengan berdasar cerita lisan Ketoprak. Dimana dikesankan bahwa Walisongo dan Kesultanan Demak mudah pathen-pinathen(bunuh membunuh). Sungguh naif, jika kemuliaan Walisongo dalam membangun harmoni sosial itu tidak ditonjolkan.

Atas dasar itu, maka sudah waktunya masyarakat Indonesia kembali mengkaji nilai harmoni sosial yang telah diletakkan oleh Walisongo. Wajah Islam Nusantara yang penuh dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ini jelas nyata dibawa oleh Walisongo. Cara berdakwah yang dilakukan juga sangat tegas dengan memaknai wilayah agama, sosial, politik dan budaya.

Maka jika hari ini kita diperlihatkan dengan kondisi wajah Islam yang beragam, itulah Indonesia. Namun wajah Islam yang ramah dengan penuh kekeluargaan, itulah Islam yang ditinggalkan oleh Walisongo. Walisongo tidak mengajari dengan Islam yang menodai persatuan dan kesatuan.

Garis agama tegas bahwa Islam itu berdasar syariat yang telah ditentukan. Dan wilayah harmoni sosial dengan hidup berinteraksi dengan lintas agama, lintas negara dan lintas budaya itu juga dibangun secara baik. Walisongo terbukti mampu menyatukan interaksi agama Islam, Kapitayan, Hindu dan Budha. Walisongo juga berhasil membangun diplomasi Timur Tengah, India, China dan Nusantara. Semua warisan Walisongo tentang harmoni sosial itu patut dijaga dengan baik.*)

M Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Dosen UIN Walisongo, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

SANAD ALFIYYAH DI QUDSIYYAH BERSAMBUNG PADA MBAH KHOLIL BANGKALAN

DI kalangan pesantren, nama Syaikhona Kholil Bangkalan sangat popular sebagai ulama pertama yang membawa nadzom Alfiyyah ke tanah Jawa. Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah KH. Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim. Kiai Abdul Karim adalah putra Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sedang Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sewaktu menjadi Santri, Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan kitab, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran dan bahkan beliau juga mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Selama nyantri di Makkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Adapun gurunya yang lain ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sanad Alfiyyah di Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah, salah satu madrasah tua di Kudus masih mempertahankan kurikulum salaf yang diantaranya adalah mapel Nahwu dan Shorof. Dalam fan ini, Qudsiyyah masih konsisten menggunakan nadzam Alfiyyah sebagai rujukan materinya. Adapun ketika di MTs Qudsiyyah maka menggunakan kitab tarjamah Alfiyyah hasil karya guru Madrasah Qudsiyyah sendiri. Sedang di MA Qudsiyyah menggunakan kitab syarah Ibnu Aqil.

Sanad nadzam Alfiyyah di Qudsiyyah sendiri bersambung pada saikhona Kholil Bangkalan, salah satu ulama’ yang terkenal dengan kewaliannya. Adapun jalur sanad tersebut adalah :
1. KH. Nur Halim Ma’ruf (beliau mendapatkan sanad Alfiyyah dari ayah beliau sendiri, KH. Ma’ruf Asnawi)
2. KH. Ma’ruf Asnawi mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Ahmad Tarwadi Solo
3. Syekh Ahmad Tarwadi Solo mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Kholil Rembang
4. Syekh Kholil Rembang mendapat sanad dari guru beliau, Saikhona Kholil Bangkalan

Di madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1919 ini, hafalan nadzom Alfiyyah merupakan materi wajib yang harus dihafalkan oleh santri sebagai syarat kenaikan kelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga tradisi ulama terdahulu dalam menghafal nadzom yang berjumlah 1002 bait tersebut. Dan bagi santri yang telah hafal 1002 bait akan diberi syahadah/piagam sebagai apresiasi terhadap santri ketika Muwada’ah kelulusan kelas 12 MA Qudsiyyah.

Alfiyyah memang menarik dan menjadi materi wajib untuk setiap santri di berbagai pondok pesantren Nusantara ini tak terkecuali Qudsiyyah. Menghafal Alfiyyah memang membutuhkan usaha keras, namun ketika kita sudah menghafalnya maka janji dari Syekh Ibnu Malik pasti akan terwujud.
تقرب الاقصى بلفظ موجز * وتبسط البذل بوعد منجز
Semoga dengan masih mempertahankan ajaran salafuna al sholih kita selalu mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Amiin.

CINTA PAHLAWAN VERSI KH BISRI MUSTOFA

INDONESIA memiliki banyak pahlawan yang berjuang gigih meraih kemerdekaan. Tentunya perjuangan itu bukan hal sederhana. Mereka rela mengorbankan nyawa, jiwa, raga dan harta demi untuk bangsanya. Maka, mencintai para pahlawan merupakan satu hal yang penting ditanamkan. Salah satu pemikiran yang disampaikan oleh KH Bisri Mustofa adalah tentang cinta kepada para pahlawan.

KH Bisri Mustofa (selanjutnya disebut Mbah Bisri) merupakan salah satu ulama Nusantara yang lahir di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915. Ayahnya adalah pedagang kaya bernama H Zainal Mustofa (Djojo Mustopo) bin H Yahya (Podjojo) yang dikenal tekun dalam beragama dan sangat mencintai Kiai. Ibunya bernama Hj. Chodijah binti E. Zajjadi bin E. Sjamsuddin yang berdarah Makassar.

Nama Bisri Mustofa dipakai sejak pulang dari ibadah haji. Sebelumnya ia bernama Mashadi. Pernikahan H Zainal Mustofa dengan Hj. Chodijah melahirkan empat anak: Mashadi (Bisri), Salamah (Aminah), Misbach dan Ma’shum.Pendidikan Mbah Bisri dimulai dengan mengaji kepada KH Cholil Kasingan dan H. Zuhdi (kakak tiri). Mbah Bisri juga menjalankan Sekolah Jawa (Sekolah Ongko 2) selama tiga tahun dan dinyatakan lulus dengan mendapat sertifikat.

Mbah Bisri sempat mondok di Pesantren KH Chasbullah Kajen Pati. Waktu belajar banyak dihabiskan di Pondok Kasingan Rembang belajar dengan Kiai Suja’i (Kitab Alfiyyah) dan dan KH Cholil (Kitab Alfiyyah, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Iqna’, Jam’ul Jawami’, Uqudun Juman dan lain lain). Mbah Bisri sempat berniat mengaji di Pondok Pesantren Termas dibawah asuhan KH Dimyati, tapi niat itu gagal karena tidak mendapat restu KH Cholil.

Mbah Bisri juga pernah mengikuti khataman Kitab Bukhori Muslim yang dimulai pada 21 Sya’ban 1354 H bersama KH Hasyim Asya’ri di Tebuireng Jombang. Di tengah pengajian itu, tepatnya 10 Ramadan 1354 H, KH Hasyim Asy’ari jatuh sakit dan digantikan oleh KH Ilyas (Kitab Muslim) dan KH Baidlawi (Kitab Tajrid Bukhari).

Mbah Bisri juga memiliki dua guru dari sistem mengaji candak kulak(musyawarah kitab dan hasilnya dipakai mengajar) dengan Kyai Kamil dan Kyai Fadlali di Karanggeneng Rembang. Proses belajar tetap ia jalankan karena merasa haus ilmu, Mbah Bisri memilih mukim di Makkah setelah menunaikan ibadah haji tahun 1936. Di Makkah, Mbah Bisri berguru dengan: Syaikh Bakir, Syaikh Umar Chamdan Al Maghrabi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawie dan Syaikh Abdul Muhaimin.

Berbekal keilmuan itulah, Mbah Bisri kemudian berkembang menjadi figur ulama Nusantara yang dikenal sangat ‘alim. Rasa sayangnya KH Cholil seorang guru dari Mbah Bisri ditunjukkan dengan menjadikannya sebagai menantu. Mbah Bisri dinikahkan dengan putri KH Cholil bernama Ma’rufah pada 17 Rajab 1354 H/Juni 1935 M. Dari pernikahannya ini, Mbah Bisri memiliki anak: Cholil (lahir 1941), Mustofa (dikenal dengan sebutan Gus Mus, lahir 1943), Adieb (lahir 1950), Faridah (lahir 1952), Najichah (lahir 1955), Labib (1956), Nihayah (lahir 1958) dan Atikah (lahir 1964). Pada tahun 1967, Mbah Bisri menikah dengan Hj Umi Atiyah yang berasal dari Tegal dan melahirkan satu anak bernama Maemun (Ahmad Zainal Huda: 2005).

Ilmu yang dimiliki Mbah Bisri diajarkan di Pondok Kasingan dan Pondok Rembang yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Taman Pelajar Islam). Mbah Bisri dikenal memiliki tiga kemampuan: articulation, documentation dan organizing. Artikulasi dikuasai Mbah Bisri dalam teknik orasi dan pidato dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Kemampuan dokumentasi ditunjukkan dengan hasil karya tulisnya yang sangat banyak (276 kitab dan buku). Dan semangat organisasi dijalankan sebagai wadah perjuangan, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Diantara pokok pemikiran Mbah Bisri dalam mencintai pahlawan, ia abadikan dalam bentuk syi’iran Jawa “Ngudi Susilo” dengan menggunakan tulisan pegon, yaitu:

Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng * Jare ora kebangsaan ingkang majeng
Sawang iku Pangeran Diponegoro * Imam Bonjol Tengku Umar kang kuncoro
Kabeh podo belo bongso lan negoro * Podo ngagem destar pantes yen perwiro
Gujeng serban sasat gujeng Imam Bonjol * Sak kancane he anakku aja tolol
Timbang gundul apa ora luweh bagus * Ngagem tutup sirah koyo Raden Bagus

Memakai blangkon, surban dan sarung jadi pembicaraan. Dianggap tidak memiliki jiwa kebangsaan yang maju.
Lihatlah Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Tengku Umar yang sudah terkenal.
Semuanya dari mereka nyata-nyata membela bangsa dan negara dengan menggunakan pakaian kebesaran, nampak seperti Perwira.
Memakai surban sebagaimana Imam Bonjol. Dan janganlah menjadi orang bodoh.
Daripada tidak memakai penutup kepala, nampak kurang bagus. Maka pakailah penutup kepala agar seperti Raden Bagus (priyayi).

Dari pemaknaan syi’ir Jawa ini dapat diambil pemahaman bahwa mencintai para pahlawan itu empat pola yang harus dilakukan: mengikuti jejak cinta bangsa dan negara, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa, berilmu pengetahuan dan tidak sombong. Empat makna cinta terhadap perjuangan para pahlawan bangsa ini menjadi sangat penting bagi generasi sekarang.

Pertama, mengikuti jejak cinta bangsa dan negara. Para pahlawan yang telah gugur dalam medan perang benar-benar merasakan perjuangan nyata. Berbeda dengan generasi sekarang yang sudah secara instan menikmati kemerdekaan dan kenyamanan hidup di Indonesia. Maka cinta terhadap tanah air menjadi salah satu bagian dari menghormati para pahlawan pendahulu.

Kedua, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa. Wibawa seseorang, salah satunya memang dapat dilihat dari cara berpakaian. Oleh sebab itu, nasehat Mbah Bisri yang ditulis ini menjadi tauladan bahwa orang yang berpakaian rapi, maka nampak gagah dan siap menjadi pemimpin. Termasuk jenis pakaian yang berbeda blangkong/surban/sarung atau lainnya tidak menjadi pemisah rasa persatuan. Keanekaragaman pakaian itu menandakan potensi lokal yang harus dihargai. Yang paling penting adalah tidak merendahkan pakaian kebesaran yang dimiliki oleh orang lain.

Ketiga, berilmu pengetahuan menjadi salah satu bagian dari mencintai para pahlawan. Sebab tanpa ilmu pengetahuan, maka manusia akan menjadi bodoh. Maka Mbah Bisri berpesan: “Jangan jadi orang tolol/bodoh”. Sebab dengan kebodohan, orang akan gampang ditipu. Dan salah satu alasan penjajah Indonesia mampu berkuasa ratusan tahun karena penduduknya saat itu tidak memiliki ilmu pengetahuan. Penderitaan bangsa kita jangan sampai terulang lagi hanya karena banyak orang bodoh di Indonesia.

Dan keempat, tidak sombong. Setelah mengenang para pahlawan dan menambah ilmu pengetahuan, maka rasa kebangsaan harusnya semakin kuat. Jangan sampai perilaku itu berubah menjadi sombong (tidak menutup kepala). Kesombongan yang dimiliki oleh bangsa ini juga akan melahirkan ego-sektoral dengan melemahkan kelompok lain. Maka pesan tidak sombong ini menjadi penting agar hidup bersama-sama dengan penuh kerukunan mudah tercapai.

Pesan-pesan ulama Nusantara yang demikian ini memang perlu sekali dipahami secara baik. Dengan kekuatan bahasa sastra yang indah dan dapat dilagukan ini, menjadikan kita paham siapa sebenarnya KH Bisri Mustofa. Ia tak lain adalah figur Kiai dengan multitalenta dengan segudang nasehat-nasehat bagi generasi muda. Keberadaan kitab Ngudi Susilo ini juga hingga sekarang masih dipelajari di Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah sebagai buku pegangan belajar akhlak. Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Penulis adalah Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dana Dosen UIN Walisongo.

Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren

DUNIA pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang sangat kuat. Guru selalu menjadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Demikian pula guru, selalu senang jika melihat para santrinya sukses berkhidmah di tengah masyarakat luas. Tugas sebagai guru seakan tuntas memiliki generasi penerus. Santri juga merasa gembira karena dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

Demikian pula tampaknya yang dirasakan oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapakah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal sebagai sosok guru dan murid yang saling mendukung satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

KHR Asnawi adalah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah ketika mencari ilmu di Makkah bersama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi sangat lama bermukim di Makkah menjadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agam di rumah pondokannya.

Demikian pula KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah sejak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Di antara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah adalah Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqih), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqih), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqih).

Dari sisi nasab, kedua Kiai ini sama-sama keturunan dari Walisongo. KHR Asnawi keturunan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah adalah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga sangat wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya sangat memiliki kemiripan. Semangat dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga menjadi komitmen keduanya.

Salah satu perjuangan yang tidak pernah dilupakan oleh kedua Kiai ini adalah dalam mengusir penjajah. Kekuatan ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia sangat dibela mati-matian. Apalagi penjajah hadir di bumi Indonesia sangat mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang sudah dipeluk oleh penduduk Indonesia.

Sejak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah sudah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu bisa merdeka. Mbah Asnawi bersama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme sudah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kiai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membuat fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh semua penduduk Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, karena fitnah penjajah “geger pecinan”.

Dan justru dari balik jeruji penjara, dakwah KHR Asnawi semakin kuat dan semua santri membala mati-matian dengan membenci penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Semangat kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kepada murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam mendukung kemerdekaan sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah menjadi komitmen Mbah Wahab yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya semakin kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Karya Lagu Pesantren

Di antara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua kiai ini dikenal sebagai sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membuat syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membahas cara membuat sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil sejak di Makkah. Dan dunia pesantren memang tidak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi sudah sangat masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut sebagai Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu adalah:

لَحُرَّةٌ فِي انْدُنْسِيَا * بَدَتْ لَدَى إِنْسَانِيَا
وَأَهْلُهَا مُنْفَرِحُوْ * نَ فَرَحًا أَبَدِيَا
لِنَيْلِهَا قَدْ جَاهَدُوْا * أَنْفُسَهُمْ مَا بَاقِيَا
تَحْتَ يَدَيْ كُولُونِيَالْ * يَابَانِ وَالـهُولَنْدِيَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُعْزِرُوْا * إِلَى دِيْكُولْ إِيْرِيَانْ جَايَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُدْخِلُوْا * فِي السِّجْنِ قَلْبًا مَرْضِيَا
فَإِنَّهُمْ قَدْ أَخْلَصُوا * خِدْمَتَهُمْ وَطَنِيَا
تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ أَفْئِدَ * ةُ الشَّعْبِ عَوْنًا جَلِيَّا
لِأُمَّةٍ وَوَطَنٍ * يُقَدِّمُوْا بِلَادِيَا
جَزَاهُمُوْ إِلَـهُنَا * أَعْمَالَهُمْ مُرَبِّيَا
حُرِّيَّةَ الفِكْرِ الَّتِيْ * تَنَالُ دِيمُوْكْرَاسِيَا
عَدَالَةً خَيْرِيَّةً * عِمَارَةَ اقْتِصَادِيَا

Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia
Seluruh bangsa bergembira selamanya
Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total
Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda
Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya
Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan
Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara
Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata
Demi bangsa dan negara
Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka
Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi
Menuju kemakmuran keadilan sosial

Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sudah sangat masyhur dan akan menjadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang sejak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan sejak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya jelas menunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, yakni:

Jangan kalian menjadi orang terjajah
Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan
Harus dibuktikan dengan perbuatan

Karya pesantren dari dua Kiai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kiai dalam mendorong kemerdekaan dan merayakannya menjadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga mendengar “Yahlal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang menjadi Lagu Nasional. Dan guru Kiai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga memiliki Syi’ir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syi’ir Nasionalisme menyambut IR Soekarno sebagai Presiden RI.

Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa: “Setiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau selalu meminta nasehat dan saran dari Kiai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang selalu hati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab selalu minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir memiliki kesamaan.

Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu ‘arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab adalah sosok Kiai yang benar-benar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu harus pandai dan harus dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 & Dosen UIN Walisongo

Tulisan ini juga tayang di NUONLINE