Menyandingkan Mondok dan Kuliah

PADA tahun 2028-2030, Indonesia diperkirakan akan berada pada puncak bonus demografi (BPS, 2015). Kondisi ini membuat komposisi penduduk Indonesia dihuni lebih banyak penduduk usia produktif yakni pada usia 15-64 tahun. Disebut bonus atau keuntungan tentu saja jika kita mampu memaksimalkan kesempatan dan potensi tersebut. Sebaliknya, jika kita gagal mengantisipasi kondisi demografi tersebut, maka bukan bonus namanya tetapi bencana demografi yang akan terjadi.

Salah satu persiapan untuk mengoptimalkan kondisi demografi tersebut adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan berkarakter. Aspek pendidikan adalah salah satu kunci untuk memaksimalkan agar kondisi demografi di atas menjadi sebuah keuntungan bagi pembangunan bangsa. Tanpa pendidikan yang memadai dan handal, maka bonus demografi bisa berbalik menjadi bencana demografi karena penduduk usia produktif tidak memiliki bekal pengetahuan dan keilmuan yang memadai serta lemah karakter kebangsaannya.

Salah satu ikhtiar untuk membuat demografi bisa berguna untuk bangsa adalah dengan menyiapkan sebaik mungkin sumber daya manusia. Kesiapan pemanfaatan ini merupakan hal yang mutlak dilakukan jika kita ingin menikmati bonus demografi. Tidak bisa dipungkiri, institusi penting yang bisa membantu menyiapkan SDM yang handal dan berkualitas adalah perguruan tinggi dan pondok pesantren.

Sejak lama keduanya adalah tempat terbaik untuk menyiapkan warga negara yang handal, berkualitas dan mampu bersaing dengan SDM yang lain. Sama-sama memiliki tugas pokok pengajaran dan tranformasi keilmuan, keduanya juga memiliki karakter unik. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang teruji dalam membentuk karakter santri sebagai seorang pembelajar. Sedangkan perguruan tinggi merupakan arena pendidikan tingkat lanjut pasca menempuh pendidikan jenjang aliyah atau SMA guna memperdalam suatu keilmuan yang ingin didalami.

Pentingnya Sinergi

Sebagai sesama lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, perguruan tinggi dan pondok pesantren memiliki niat dan tujuan sebangun yakni memajukan peradaban bangsa melalui transformasi pendidikan. Dalam menyiapkan diri menghadapi keuntungan demografi, menjadi penting bagi perguruan tinggi dan pondok pesantren untuk bergandengan tangan dan memperkokoh antara satu dengan lainnya.

Kombinasi keduanya diyakini akan menjadi amunisi yang dahsyat bagi tercapainya revolusi karakter bangsa yang merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK sebagaimana tersebut dalam Nawa Cita. Pondok pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan transformasi keilmuan tetapi dalam sejarahnya juga menanamkan karakter cinta tanah air dan bela bangsa. Dua aspek penting dalam pembentukan karakter bangsa sekaligus ciri utama pondok pesantren di Indonesia. Jika ada lembaga mendaku pondok pesantren tetapi menjadi tempat untuk “melawan” ideologi negara, maka perlu dipertanyakan kembali ruh ke-pesantren-annya.

Sementara perguruan tinggi di Indonesia merupakan arena dimana pendidikan, pengabdian dan penelitian saling beririsan. Perguruan tinggi tidak hanya tempat menyemai benih keilmuan dan pengajaran untuk menghasilkan suatu produk budaya dan sosial yang unggul tetapi sekaligus mendorong adanya transformasi keilmuan ke masyarakat melalui tugas pengabdian. Sebagai tempat pendidikan lanjutan pasca aliyah-SMA, maka perguruan tinggi menjadi salah satu tempat penting dalam mematangkan keilmuan seseorang.

Sementara dari sisi SDM, perguruan tinggi dan pondok pesantren adalah agen sosial yang sangat penting dalam memantik perubahan sosial di Indonesia dengan kekayaan tenaga pengajar dan santri atau mahasiswa yang jumlahnya bisa mencapai jutaan. Ilmu yang mumpuni dengan landasan karakter yang cinta tanah air dan bela bangsa diharapkan menjadi potret demografi di masa mendatang.

Dwitunggal Era Milienial

Untuk memperoleh potret semacam ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Penulis menyebut pondok pesantren dan perguruan tinggi adalah dwi tunggal yang memegang peranan penting di era milenial. Menghadapi generasi milenial, podok pesantren dan perguruan tinggi tidak bisa berpuas diri tetapi harus terus berinovasi dalam pengajaran, memanfaatkan teknologi dan aktif berkomunikasi.

Tiga hal ini penting dicermati agar generasi saat ini mau melirik pondok pesantren dan perguruan tinggi. Inovasi dalam pembelajaran diperlukan agar peserta didik tidak cepat bosan dan selalu diajak mengkontekstualisasikan apa yang dipelajari dalam dunia sehari-hari. Teknologi merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini. Adapun komunikasi yang aktif merupakan ciri utama masyarakat saat ini dimana orang bisa saling terhubung tanpa ada batas.

Dengan sinergi antara pondok pesantren dan perguruan tinggi, maka diharapkan di masa mendatang akan dihasilkan potret warga Indonesia yang memiliki ilmu yang memadai dengan pondasi cinta tanah air dan bela bangsa. Warga berilmu tinggi tetapi tidak memiliki karakter cinta bangsa akan menindas bangsanya sendiri dan mengeksploitasi SDA tanpa batas. Begitu juga warga yang hanya bermodal cinta tanah air dan membela bangsa yang tinggi tetapi tidak berilmu hanya akan melahirkan potret bangsa yang bermental pemalak.

Salah satu upaya untuk mensinergikan pondok pesantren dengan perguruan tinggi akan bisa dilihat dalam acara sosialisasi sekaligus sosialisasi ayo mondok wilayah Jawa Tengah di kampus IAIN Surakarta pada pekan lalu. Kegiatan ini harus ditempatkan sebagai langkah strategis untuk memulai kerja bareng antara pondok pesantren dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan potret warga negara yang memiliki keilmuan yang memadai dan berkarakter bela bangsa.

Pertemuan antara para pengelola pondok pesantren dengan perguruan tinggi diharapkan menjadi silaturahmi keilmuan sehingga menjadi jalan baru untuk meneguhkan duet pondok pesantren dan perguruan tinggi. Kokohnya duet ini diharapkan menjadi dasar yang kuat bagi pelaksanaan revolusi karakter bangsa sebagaimana dicita-citakan pemerintahan Jokowi-JK. Sudah saatnya pula gerakan #ayomondok berjalan beriringan dengan gerakan #ayokuliah agar potret demografi di masa mendatang menjadi bonus dan bukan bencana. (*)

M Zainal Anwar
Alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus dan Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Tulisan ini pertama kali dimuat pada Rubrik GAGASAN – SOLO POS, 23 Oktober 2017

Merawat Warisan Harmoni Sosial Walisongo

KETIKA bangsa Indonesia—khususnya umat Islam dalam kondisi terbelah pendapatnya—maka perlu merenung sejenak sejarah Nusantara di masa lampau. Apa yang perlu direnungkan? Sejarah Walisongo sebagai pembawa Islam di bumi Nusantara. Kenapa harus direnungkan kembali saat ini? Sebab Walisongo menjadi figur penginspirasi harmoni sosial.

Terlalu cepat nampaknya Indonesia dibuat gaduh (versi media sosial) akibat hajatan politik. Muslim satu dan lainnya berbeda pandangan soal tafsir “penistaan agama”. Belum lagi soal argumentasi agama yang dibenturkan dengan kecondongan pilihan kandidat Kepala Daerah. Seakan restu politik menjadi tunggal dan sudah kelewat batas dari titik harmoni.

Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq memberikan contoh dalam kondisi suasana politik Kesultanan Demak menghangat. Ia sebagai salah satu Panglima Perang Demak memilih untukbabad alas (membuka wilayah politik baru) di Kudus, daerah utara Demak. Konflik yang terjadi di Demak pun bukan sebagai lahan berebut kekuasaan semata. Tetapi menjadi pendewasaan berpolitik—yang sudah terintervensi gengsi kekuasaan Majapahit.

Akibat dari suasana yang demikian, Sunan Kudus mengambil jalan untuk memperkuat basis keilmuan dengantafaqquh fiddin (menguasai ilmu agama). Selain itu, keturunan Raja Demak bernama Ario Penangsang juga menjadi murid kesayangan Sunan Kudus. Itu dilakukan karena kecintaan Sunan Kudus pada keturunan Raja agar tidak lari mencari perlindungan Raja Majapahit.

Kisah Sunan Kalijaga dalam membangun pondasi Islam Nusantara yang penuh harmoni juga sudah nyata. Bangunan Islam yang ramah dengan masyarakat awam ia tancapkan mendarah daging hingga saat ini. Kesan Kesultanan Demak yang sangat terbuka untuk menjadi tempat curhat kawulo alit didorong oleh Sunan Kalijaga sebagai Penasehat Raja. Sunan Kalijaga juga membangun zona-zona politik berbasis harmoni dengan seni.

Seni semacam Wayang dan Gendhing Jawa (lagu Jawa) ia ciptakan sebagai pemersatu masyarakat Jawa yang saat itu sudah multiagama. Orang non muslim begitu mesra dengan Islam saat Sunan Kalijaga tampil dengan kesenian Jawa yang telah diislamkan. Dalam suasana yang demikian, masyarakat menyatu dalam seni untuk membangun harmoni sosial. Agama saat itu sudah menjadi perekat, bukan menjadi sumber konflik.

Kehadiran Maulana Malik Ibrahim di Gresik dalam membangun harmoni sosial juga nampak nyata. Di tengah kondisi masyarakat memiliki keyakinan terhadap Dewa, Islam tampil dengan ramah. Agama yang diyakini sebelum Maulana Malik Ibrahim hadir di Jawa tidak diusik. Keyakinan itu tetap dibiarkan berjalan. Itulah cikal bakal bangunan toleransi beragama sudah ada sejak abad 14 dan 15.

Ketika masyarakat meyakini bahwa meminta kepada Dewa harus dengan tumbal menyembelih perawan cantik, oleh Maulana Malik Ibrahim diganti dengan menyembelih ayam. Dan permintaan hujan dan berhentinya paceklik itu terkabulkan. Akhirnya masyarakat mulai mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim tanpa harus mengusik umat agama sebelumnya. Wajah Islam yang demikian harus kita lihat.

Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati juga demikian. Ia lahir dari keturunan Raja Siliwangi bernama Dewi Rara Santang. Praktis, bahwa perjuangan membuat Bumi Jawa Pasundan Betawi sebagai medan juang Islam didakwahkan dengan penuh damai dan toleran. Sunan Gunung Jati sadar bahwa Islam harus didakwahkan, tapi dakwah yang santun, bukan dengan dakwah yang berapi-api. Soal hadangan kelompok yang tidak sepakat, ia lakukan dengan penuh kasih sayang.

Ada hal yang perlu dipertegas soal kisah-kisah Walisongo. Maulana Habib Luthfi Pekalongan selalu menegaskan tentang kisah-kisah para Walisongo ini. Bahwa konflik Walisongo jangan dipahami dengan berdasar cerita lisan Ketoprak. Dimana dikesankan bahwa Walisongo dan Kesultanan Demak mudah pathen-pinathen(bunuh membunuh). Sungguh naif, jika kemuliaan Walisongo dalam membangun harmoni sosial itu tidak ditonjolkan.

Atas dasar itu, maka sudah waktunya masyarakat Indonesia kembali mengkaji nilai harmoni sosial yang telah diletakkan oleh Walisongo. Wajah Islam Nusantara yang penuh dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ini jelas nyata dibawa oleh Walisongo. Cara berdakwah yang dilakukan juga sangat tegas dengan memaknai wilayah agama, sosial, politik dan budaya.

Maka jika hari ini kita diperlihatkan dengan kondisi wajah Islam yang beragam, itulah Indonesia. Namun wajah Islam yang ramah dengan penuh kekeluargaan, itulah Islam yang ditinggalkan oleh Walisongo. Walisongo tidak mengajari dengan Islam yang menodai persatuan dan kesatuan.

Garis agama tegas bahwa Islam itu berdasar syariat yang telah ditentukan. Dan wilayah harmoni sosial dengan hidup berinteraksi dengan lintas agama, lintas negara dan lintas budaya itu juga dibangun secara baik. Walisongo terbukti mampu menyatukan interaksi agama Islam, Kapitayan, Hindu dan Budha. Walisongo juga berhasil membangun diplomasi Timur Tengah, India, China dan Nusantara. Semua warisan Walisongo tentang harmoni sosial itu patut dijaga dengan baik.*)

M Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Dosen UIN Walisongo, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

SANAD ALFIYYAH DI QUDSIYYAH BERSAMBUNG PADA MBAH KHOLIL BANGKALAN

DI kalangan pesantren, nama Syaikhona Kholil Bangkalan sangat popular sebagai ulama pertama yang membawa nadzom Alfiyyah ke tanah Jawa. Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah KH. Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim. Kiai Abdul Karim adalah putra Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sedang Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sewaktu menjadi Santri, Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan kitab, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran dan bahkan beliau juga mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Selama nyantri di Makkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Adapun gurunya yang lain ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sanad Alfiyyah di Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah, salah satu madrasah tua di Kudus masih mempertahankan kurikulum salaf yang diantaranya adalah mapel Nahwu dan Shorof. Dalam fan ini, Qudsiyyah masih konsisten menggunakan nadzam Alfiyyah sebagai rujukan materinya. Adapun ketika di MTs Qudsiyyah maka menggunakan kitab tarjamah Alfiyyah hasil karya guru Madrasah Qudsiyyah sendiri. Sedang di MA Qudsiyyah menggunakan kitab syarah Ibnu Aqil.

Sanad nadzam Alfiyyah di Qudsiyyah sendiri bersambung pada saikhona Kholil Bangkalan, salah satu ulama’ yang terkenal dengan kewaliannya. Adapun jalur sanad tersebut adalah :
1. KH. Nur Halim Ma’ruf (beliau mendapatkan sanad Alfiyyah dari ayah beliau sendiri, KH. Ma’ruf Asnawi)
2. KH. Ma’ruf Asnawi mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Ahmad Tarwadi Solo
3. Syekh Ahmad Tarwadi Solo mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Kholil Rembang
4. Syekh Kholil Rembang mendapat sanad dari guru beliau, Saikhona Kholil Bangkalan

Di madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1919 ini, hafalan nadzom Alfiyyah merupakan materi wajib yang harus dihafalkan oleh santri sebagai syarat kenaikan kelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga tradisi ulama terdahulu dalam menghafal nadzom yang berjumlah 1002 bait tersebut. Dan bagi santri yang telah hafal 1002 bait akan diberi syahadah/piagam sebagai apresiasi terhadap santri ketika Muwada’ah kelulusan kelas 12 MA Qudsiyyah.

Alfiyyah memang menarik dan menjadi materi wajib untuk setiap santri di berbagai pondok pesantren Nusantara ini tak terkecuali Qudsiyyah. Menghafal Alfiyyah memang membutuhkan usaha keras, namun ketika kita sudah menghafalnya maka janji dari Syekh Ibnu Malik pasti akan terwujud.
تقرب الاقصى بلفظ موجز * وتبسط البذل بوعد منجز
Semoga dengan masih mempertahankan ajaran salafuna al sholih kita selalu mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Amiin.

CINTA PAHLAWAN VERSI KH BISRI MUSTOFA

INDONESIA memiliki banyak pahlawan yang berjuang gigih meraih kemerdekaan. Tentunya perjuangan itu bukan hal sederhana. Mereka rela mengorbankan nyawa, jiwa, raga dan harta demi untuk bangsanya. Maka, mencintai para pahlawan merupakan satu hal yang penting ditanamkan. Salah satu pemikiran yang disampaikan oleh KH Bisri Mustofa adalah tentang cinta kepada para pahlawan.

KH Bisri Mustofa (selanjutnya disebut Mbah Bisri) merupakan salah satu ulama Nusantara yang lahir di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915. Ayahnya adalah pedagang kaya bernama H Zainal Mustofa (Djojo Mustopo) bin H Yahya (Podjojo) yang dikenal tekun dalam beragama dan sangat mencintai Kiai. Ibunya bernama Hj. Chodijah binti E. Zajjadi bin E. Sjamsuddin yang berdarah Makassar.

Nama Bisri Mustofa dipakai sejak pulang dari ibadah haji. Sebelumnya ia bernama Mashadi. Pernikahan H Zainal Mustofa dengan Hj. Chodijah melahirkan empat anak: Mashadi (Bisri), Salamah (Aminah), Misbach dan Ma’shum.Pendidikan Mbah Bisri dimulai dengan mengaji kepada KH Cholil Kasingan dan H. Zuhdi (kakak tiri). Mbah Bisri juga menjalankan Sekolah Jawa (Sekolah Ongko 2) selama tiga tahun dan dinyatakan lulus dengan mendapat sertifikat.

Mbah Bisri sempat mondok di Pesantren KH Chasbullah Kajen Pati. Waktu belajar banyak dihabiskan di Pondok Kasingan Rembang belajar dengan Kiai Suja’i (Kitab Alfiyyah) dan dan KH Cholil (Kitab Alfiyyah, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Iqna’, Jam’ul Jawami’, Uqudun Juman dan lain lain). Mbah Bisri sempat berniat mengaji di Pondok Pesantren Termas dibawah asuhan KH Dimyati, tapi niat itu gagal karena tidak mendapat restu KH Cholil.

Mbah Bisri juga pernah mengikuti khataman Kitab Bukhori Muslim yang dimulai pada 21 Sya’ban 1354 H bersama KH Hasyim Asya’ri di Tebuireng Jombang. Di tengah pengajian itu, tepatnya 10 Ramadan 1354 H, KH Hasyim Asy’ari jatuh sakit dan digantikan oleh KH Ilyas (Kitab Muslim) dan KH Baidlawi (Kitab Tajrid Bukhari).

Mbah Bisri juga memiliki dua guru dari sistem mengaji candak kulak(musyawarah kitab dan hasilnya dipakai mengajar) dengan Kyai Kamil dan Kyai Fadlali di Karanggeneng Rembang. Proses belajar tetap ia jalankan karena merasa haus ilmu, Mbah Bisri memilih mukim di Makkah setelah menunaikan ibadah haji tahun 1936. Di Makkah, Mbah Bisri berguru dengan: Syaikh Bakir, Syaikh Umar Chamdan Al Maghrabi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawie dan Syaikh Abdul Muhaimin.

Berbekal keilmuan itulah, Mbah Bisri kemudian berkembang menjadi figur ulama Nusantara yang dikenal sangat ‘alim. Rasa sayangnya KH Cholil seorang guru dari Mbah Bisri ditunjukkan dengan menjadikannya sebagai menantu. Mbah Bisri dinikahkan dengan putri KH Cholil bernama Ma’rufah pada 17 Rajab 1354 H/Juni 1935 M. Dari pernikahannya ini, Mbah Bisri memiliki anak: Cholil (lahir 1941), Mustofa (dikenal dengan sebutan Gus Mus, lahir 1943), Adieb (lahir 1950), Faridah (lahir 1952), Najichah (lahir 1955), Labib (1956), Nihayah (lahir 1958) dan Atikah (lahir 1964). Pada tahun 1967, Mbah Bisri menikah dengan Hj Umi Atiyah yang berasal dari Tegal dan melahirkan satu anak bernama Maemun (Ahmad Zainal Huda: 2005).

Ilmu yang dimiliki Mbah Bisri diajarkan di Pondok Kasingan dan Pondok Rembang yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Taman Pelajar Islam). Mbah Bisri dikenal memiliki tiga kemampuan: articulation, documentation dan organizing. Artikulasi dikuasai Mbah Bisri dalam teknik orasi dan pidato dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Kemampuan dokumentasi ditunjukkan dengan hasil karya tulisnya yang sangat banyak (276 kitab dan buku). Dan semangat organisasi dijalankan sebagai wadah perjuangan, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Diantara pokok pemikiran Mbah Bisri dalam mencintai pahlawan, ia abadikan dalam bentuk syi’iran Jawa “Ngudi Susilo” dengan menggunakan tulisan pegon, yaitu:

Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng * Jare ora kebangsaan ingkang majeng
Sawang iku Pangeran Diponegoro * Imam Bonjol Tengku Umar kang kuncoro
Kabeh podo belo bongso lan negoro * Podo ngagem destar pantes yen perwiro
Gujeng serban sasat gujeng Imam Bonjol * Sak kancane he anakku aja tolol
Timbang gundul apa ora luweh bagus * Ngagem tutup sirah koyo Raden Bagus

Memakai blangkon, surban dan sarung jadi pembicaraan. Dianggap tidak memiliki jiwa kebangsaan yang maju.
Lihatlah Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Tengku Umar yang sudah terkenal.
Semuanya dari mereka nyata-nyata membela bangsa dan negara dengan menggunakan pakaian kebesaran, nampak seperti Perwira.
Memakai surban sebagaimana Imam Bonjol. Dan janganlah menjadi orang bodoh.
Daripada tidak memakai penutup kepala, nampak kurang bagus. Maka pakailah penutup kepala agar seperti Raden Bagus (priyayi).

Dari pemaknaan syi’ir Jawa ini dapat diambil pemahaman bahwa mencintai para pahlawan itu empat pola yang harus dilakukan: mengikuti jejak cinta bangsa dan negara, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa, berilmu pengetahuan dan tidak sombong. Empat makna cinta terhadap perjuangan para pahlawan bangsa ini menjadi sangat penting bagi generasi sekarang.

Pertama, mengikuti jejak cinta bangsa dan negara. Para pahlawan yang telah gugur dalam medan perang benar-benar merasakan perjuangan nyata. Berbeda dengan generasi sekarang yang sudah secara instan menikmati kemerdekaan dan kenyamanan hidup di Indonesia. Maka cinta terhadap tanah air menjadi salah satu bagian dari menghormati para pahlawan pendahulu.

Kedua, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa. Wibawa seseorang, salah satunya memang dapat dilihat dari cara berpakaian. Oleh sebab itu, nasehat Mbah Bisri yang ditulis ini menjadi tauladan bahwa orang yang berpakaian rapi, maka nampak gagah dan siap menjadi pemimpin. Termasuk jenis pakaian yang berbeda blangkong/surban/sarung atau lainnya tidak menjadi pemisah rasa persatuan. Keanekaragaman pakaian itu menandakan potensi lokal yang harus dihargai. Yang paling penting adalah tidak merendahkan pakaian kebesaran yang dimiliki oleh orang lain.

Ketiga, berilmu pengetahuan menjadi salah satu bagian dari mencintai para pahlawan. Sebab tanpa ilmu pengetahuan, maka manusia akan menjadi bodoh. Maka Mbah Bisri berpesan: “Jangan jadi orang tolol/bodoh”. Sebab dengan kebodohan, orang akan gampang ditipu. Dan salah satu alasan penjajah Indonesia mampu berkuasa ratusan tahun karena penduduknya saat itu tidak memiliki ilmu pengetahuan. Penderitaan bangsa kita jangan sampai terulang lagi hanya karena banyak orang bodoh di Indonesia.

Dan keempat, tidak sombong. Setelah mengenang para pahlawan dan menambah ilmu pengetahuan, maka rasa kebangsaan harusnya semakin kuat. Jangan sampai perilaku itu berubah menjadi sombong (tidak menutup kepala). Kesombongan yang dimiliki oleh bangsa ini juga akan melahirkan ego-sektoral dengan melemahkan kelompok lain. Maka pesan tidak sombong ini menjadi penting agar hidup bersama-sama dengan penuh kerukunan mudah tercapai.

Pesan-pesan ulama Nusantara yang demikian ini memang perlu sekali dipahami secara baik. Dengan kekuatan bahasa sastra yang indah dan dapat dilagukan ini, menjadikan kita paham siapa sebenarnya KH Bisri Mustofa. Ia tak lain adalah figur Kiai dengan multitalenta dengan segudang nasehat-nasehat bagi generasi muda. Keberadaan kitab Ngudi Susilo ini juga hingga sekarang masih dipelajari di Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah sebagai buku pegangan belajar akhlak. Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Penulis adalah Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dana Dosen UIN Walisongo.

Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren

DUNIA pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang sangat kuat. Guru selalu menjadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Demikian pula guru, selalu senang jika melihat para santrinya sukses berkhidmah di tengah masyarakat luas. Tugas sebagai guru seakan tuntas memiliki generasi penerus. Santri juga merasa gembira karena dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

Demikian pula tampaknya yang dirasakan oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapakah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal sebagai sosok guru dan murid yang saling mendukung satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

KHR Asnawi adalah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah ketika mencari ilmu di Makkah bersama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi sangat lama bermukim di Makkah menjadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agam di rumah pondokannya.

Demikian pula KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah sejak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Di antara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah adalah Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqih), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqih), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqih).

Dari sisi nasab, kedua Kiai ini sama-sama keturunan dari Walisongo. KHR Asnawi keturunan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah adalah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga sangat wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya sangat memiliki kemiripan. Semangat dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga menjadi komitmen keduanya.

Salah satu perjuangan yang tidak pernah dilupakan oleh kedua Kiai ini adalah dalam mengusir penjajah. Kekuatan ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia sangat dibela mati-matian. Apalagi penjajah hadir di bumi Indonesia sangat mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang sudah dipeluk oleh penduduk Indonesia.

Sejak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah sudah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu bisa merdeka. Mbah Asnawi bersama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme sudah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kiai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membuat fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh semua penduduk Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, karena fitnah penjajah “geger pecinan”.

Dan justru dari balik jeruji penjara, dakwah KHR Asnawi semakin kuat dan semua santri membala mati-matian dengan membenci penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Semangat kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kepada murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam mendukung kemerdekaan sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah menjadi komitmen Mbah Wahab yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya semakin kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Karya Lagu Pesantren

Di antara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua kiai ini dikenal sebagai sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membuat syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membahas cara membuat sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil sejak di Makkah. Dan dunia pesantren memang tidak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi sudah sangat masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut sebagai Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu adalah:

لَحُرَّةٌ فِي انْدُنْسِيَا * بَدَتْ لَدَى إِنْسَانِيَا
وَأَهْلُهَا مُنْفَرِحُوْ * نَ فَرَحًا أَبَدِيَا
لِنَيْلِهَا قَدْ جَاهَدُوْا * أَنْفُسَهُمْ مَا بَاقِيَا
تَحْتَ يَدَيْ كُولُونِيَالْ * يَابَانِ وَالـهُولَنْدِيَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُعْزِرُوْا * إِلَى دِيْكُولْ إِيْرِيَانْ جَايَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُدْخِلُوْا * فِي السِّجْنِ قَلْبًا مَرْضِيَا
فَإِنَّهُمْ قَدْ أَخْلَصُوا * خِدْمَتَهُمْ وَطَنِيَا
تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ أَفْئِدَ * ةُ الشَّعْبِ عَوْنًا جَلِيَّا
لِأُمَّةٍ وَوَطَنٍ * يُقَدِّمُوْا بِلَادِيَا
جَزَاهُمُوْ إِلَـهُنَا * أَعْمَالَهُمْ مُرَبِّيَا
حُرِّيَّةَ الفِكْرِ الَّتِيْ * تَنَالُ دِيمُوْكْرَاسِيَا
عَدَالَةً خَيْرِيَّةً * عِمَارَةَ اقْتِصَادِيَا

Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia
Seluruh bangsa bergembira selamanya
Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total
Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda
Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya
Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan
Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara
Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata
Demi bangsa dan negara
Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka
Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi
Menuju kemakmuran keadilan sosial

Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sudah sangat masyhur dan akan menjadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang sejak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan sejak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya jelas menunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, yakni:

Jangan kalian menjadi orang terjajah
Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan
Harus dibuktikan dengan perbuatan

Karya pesantren dari dua Kiai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kiai dalam mendorong kemerdekaan dan merayakannya menjadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga mendengar “Yahlal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang menjadi Lagu Nasional. Dan guru Kiai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga memiliki Syi’ir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syi’ir Nasionalisme menyambut IR Soekarno sebagai Presiden RI.

Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa: “Setiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau selalu meminta nasehat dan saran dari Kiai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang selalu hati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab selalu minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir memiliki kesamaan.

Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu ‘arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab adalah sosok Kiai yang benar-benar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu harus pandai dan harus dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 & Dosen UIN Walisongo

Tulisan ini juga tayang di NUONLINE

Mempopulerkan Shalawat Kebangsaan Karya KHR Asnawi

DALAM rangkaian satu abad Qudsiyyah digelar acara “Mendaulat Shalawat Asnawiyyah sebagai Shalawat Kebangsaan” oleh Cak Nun bersama Kyai Kandjeng (3/8/2016). Pada hakikatnya acara itu adalah penegasan kembali tentang keberadaan shalawat Asnawiyyah yang sangat memiliki nilai cinta bangsa dan do’a abadi kedamaian Indonesia. Sebelum Cak Nun, Habib Syekh sudah membawa shalawat Aswiyyah dikumandangkan setiap majelis shalawat, baik di dalam negeri atau luar negeri.

Dan jauh sebelum itu, para kyai dan santri KHR Asnawi juga sudah mengenalkan dan mempopulerkan shalawat karya Mbah Asnawi ini. Buktinya nyata, bahwa di pesantren berbasis NU sangat mengenal bait-bait shalawat Asnawiyyah tersebut. Lagu dan nada pelantunannya memang berbeda-beda sesuai dengan selera dimana shalawat itu dikumandangkang.

Bagi generasi masa sekarang, memang sangat perlu penegasan kembali eksistensi shalawat ini. Tepat jika momentum satu abad menjadi pijakan untuk mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Dan pasca mendaulat, masih banyak PR yang harus dilakukan. Sebab jika hanya didaulat saja, maka akan sepi dari makna aslinya. Sebab shalawat itu adalah kalimat yang perlu dilafadzkan, bukan hanya didaulat.

Maka yang paling penting hari ini adalah mencetak generasi shalawat, kader yang cinta shalawat dengan membaca shalawat Asnawiyyah. Akan lebih mulia jika pembacaan shalawat Asnawiyyah dijam’iyyahkan dan dirutinkan. Maka jam’iyyah seperti Rebana Al Mubarok Qudsiyyah menjadi salah satu garda depan penjaga eksistensi shalawat Asnawiyyah. Sudah 11 album yang dikeluarkan oleh Al Mubarok selalu mengumandangkan shalawat Asnawiyyah.

Bagaimana isi dari shalawat Asnawiyyah sehingga layak disebut shalawat kebangsaan? Pertanyaan ini selalu saya terima dari banyak kawan yang masih belum paham secara detail isi dari shalawat itu. Maka ada tanggung jawab akademik yang harus dijelaskan. Penulis dengan segala kekurangan berikhtiyar membaca hermeneutika shalawat Asnawiyyah.

Sang pencipta shalawat Asnawiyyah bernama KHR Asnawi yang hidup di abad 19. Sosok Kyai Asnawi dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan penjaga garis Islam ahlussunnah wal jama’ah. Kiprahnya tidak hanya di lingkup lokal Kota Kudus, tetapi kiprah di level nasional dan internasional. Dalam bidang karya tulis, Mbah Asnawi juga melahirkan banyak karya: Fashalatan, Mu’taqad Seket, Fiqhun Nisa’ dan Syi’ir-Syi’ran Nasehat. Yang paling khas dikenal dari karya Mbah Asnawi adalah shalawat Asnawiyyah.

Dalam hal karya tulis, Mbah Asnawi memiliki karakter seperti gurunya KH Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat). Dua tokoh ini meninggalkan karya-karya yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf pegon al-Marikiyyah. Dalam hal ketegasan menolak penjajah, pengaruh Mbah Sholeh Darat dalam pribadi Mbah Asnawi sangat kuat. Terbukti Mbah Asnawi sangat menolak dasi, celana dan pakaian yang menyerupai Belanda.

Sikap itu juga dimiliki oleh Mbah Sholeh Darat yang ditulis dalam Kitab Majmu’atus Syari’ah halaman 25: “Sopo wonge nganggo penganggone liyani ahli Islam kaya klambi jas, topi utowo dasi, moko dadi murtad rusak Islame senadyan atine ora demen” (barang siapa yang memakai pakaian yang bukan milik Islam seperti jas, topi dan dasi, maka ia menjadi murtad dan Islamnya rusak. Walaupun hatinya tidak suka).

Dari profil singkat itu dapat diketahui, bahwa rasa kebangsaan yang dimiliki oleh Mbah Asnawi memang didasarkan ajaran-ajaran gurunya, termasuk meniru Rasulullah dalam memperjuangkan agama Islam. KHR Asnawi paham betul bahwa Indonesia saat itu sangat membutuhkan kekuatan Islam dengan model damai. Shalawat Asnawiyyah yang diciptakan itu menandakan bahwa pribadi Mbah Asnawi adalah pribadi ulama yang sangat kuat cinta bangsanya.

Isi dari shalawat ini adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْ *  لِ مُـحَمَّدٍ سِرِّ العُلَا

وَالأَنْبِيَا وَالـمُرْسَلِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ           * نَ الغُرِّ خَتْمًا أَوَّلَا

يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَـــــــــــــــــــــــــــــــــا            * بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا

وَافْتَحْ لَــنَــــــــــــــــــا بِدَرْسِ أَوْ            * قِرَاءَةٍ تُرَتـَّـــــــــــــــــــــــلَا

وَارْزُقْ بِفَهْمِ الأَنْبِيَـــــــــــــــا   * لَنَا وَأَيَّ مَنْ تَلَا

ثَبِّتْ بِهِ إِيْـــمَانَـــنـَـــــــــــــــــــــــا  * دُنْيَا وَأُخْرَى كَامِلَا

أمان أمان أمان أمان   * بِانْدُنْسِيَا رَايَا أَمَانْ

أمين أمين أمين أمين   * يَا رَبِّ رَبَّ العَالـَمِيْن

أمين أمين أمين أمين   * وَيَا مُـجِيْبَ السَّائِلِيْن

Shalawat Asnawiyyah diterjemahkan oleh Ustadz Nur Amin (guru Qudsiyyah) sebagai berikut:

Wahai tuhanku berilah * sholawat kepada rasul

Baginda Nabi Muhammad * yang punya rahasia unggul

Dan para nabi dan rasul * awal akhir mulya betul

Wahai tuhanku berilah * sinar pada hati kami

Dengan cahaya al-Qur’an * yang agung serta nan suci

Dan bukalah kami sebab * baca Qur’an yang teliti

Dan berilah rizqi dengan * kefahaman para nabi

Untuk kami orang-orang * yang membaca dan mengaji

Iman tetap sebab Nabi * dunia akhirat terpuji

Aman  aman  aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * Indonesia raya aman

Amin amin amin amin * Amin amin amin amin

Amin amin amin amin * ya perumat alam semesta

Amin amin amin amins * ya pengkabul para peminta

Dari sebelas bait shalawat Asnawiyyah ini meman terkandung makna yang sangat luar biasa. Ruh yang paling inti adalah pujian kepada Rasulullah Saw. Sebab esensi dari shalawat adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw yang memiliki rahasia kehidupan. Do’a untuk penyinar hati juga disanjungkan dengan tuntunan al-Qur’an. Rasa cinta kepada al-Qur’an juga diaktualisasikan dengan mahirnya dalam membaca dan mengaji secara tartil. Dan itulah rizki yang sangat dinanti. Penguatan keimanan dan keselamatan dunia sangat dinanti. Do’a yang dipanjatkan setelah itu adalah keamanan bagi bangsa Indonesia. Kalimat qabul disandarkan pada Allah Swt.

Itulah hebatnya shalawat Asnawiyyah yang jika dibedah memiliki lima dimensi yang tidak bisa dipisahkan: Pertama, dimensi ketuhanan. Bahwa semua orang yang hidup selalu bergantung pada kekuasaan Allah. Kedua, dimensi kenabian. Bahwa Rasulullah Saw adalah figur idola yang sangat dinantikan syafa’atnya. Ketiga, dimensi Qur’ani. Untuk memahami Islam yang perlu dipegang adalah al-Qur’an dengan membaca isinya (paham bahasa Arab dan tafsir) dan ahli tarlil (paham tajwid dan ilmu al-Qur’an). Keempat, dimensi teologi. Penegasan keimanan dalam agama Islam itu menjadi sangat penting sebagai bekal selamat di akhirat. Dan kelima, dimensi kebangsaan. Mbah Asnawi memberi pesan bahwa empat dimensi yang terkandung dalam isi shalawat itu tidak akan mudah diwujudkan jika negara dalam kondisi tidak aman. Maka do’a untuk Indonesia aman, damai, gemah ripah loh jinawe itu yang dimaksudkan dari isi shalawat ini.

Jadi sangat mulia sekali isi shalawat ini. Dan perlu ditegaskan bahwa karya Mbah Asnawi yang berisi tentang nilai kebangsaan tidak hanya berupa shalawat Asnawiyyah ini. Hampir semua sya’ir-sya’ir yang dikaryakan selalu menyinggung tentang pentingnya cinta agama dan cinta bangsa Indonesia. Maka tepat jika, KH Musthofa Bisri menyebut bahwa KHR Asnawi adalah orang ‘alim yang sangat Indonesia, bukan kearab-araban walaupun lama di Arab. Maka sudah saatnya kita mempopulerkan shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Wallahu a’lam. (*)

M. Rikza Chamami

Alumni Qudsiyyah 2000, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

QUDSIYYAH DAN ISLAM NUSANTARA

SEBAGAI madrasah salaf, Qudsiyyah sebenarnya memiliki potensi dan peran signifikan di dalam penebaran Islam yang kultural, moderat dan progresif. Mengapa? Karena ia merupakan “pewaris sah” dari pola keislaman Menara Kudus.

Bukan hanya karena letaknya yang dekat dengan Menara, karya Sunan Kudus, Qudsiyyah memang memiliki karakter keislaman Sunan Kudus yang fiqhiyyah atau syar’i di satu sisi, dan kultural pada saat bersamaan. Sisi kultural inilah yang kini dieksplorasi oleh perkumpulan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ) dalam rangka perayaan 1 Abad Qudsiyyah. Misalnya dengan memakai dan menampakkan kembali cara pakaian tradisional Muslim Kudus di era Sunan Kudus.

Dengan demikian, ketika kini Muslim moderat Indonesia tengah mengembangkan wacana dan kultur keislaman, Islam Nusantara, Qudsiyyah sebenarnya bisa menjadi gerbong sosial-pendidikan yang menggerakkan ini di Kota Kudus dan Jawa Tengah pada umumnya.

Hal ini terjadi karena sebagai lembaga pendidikan, Qudsiyyah sebenarnya merupakan pesantren berbaju madrasah, apalagi sekarang telah berdiri Ma’had Qudsiyyah tersendiri. Saya sendiri merasakan betapa ketat pendidikan kepesantrenan dalam bentuk pembelajaran ilmu ‘alat, -terutama nahwu, shorof-, sehingga saya harus mengulang masuk kelas 4 MI, padahal saat itu saya sudah lulusan SD. Keketatan ini yang membuat murid dan alumni Qudsiyyah -yang rajin- bisa merasakan apa makna tafaqquh fi al-din.

Kepesantrenan dalam arti pembelajaran dan penguasaan tradisi Islam salaf inilah yang menjadi salah satu karakter utama Islam Nusantara. Sebagaimana dijelaskan oleh KH Abdurrahman Wahid, Islam di Nusantara memuncak pada pembentukan kultur Islam fikih-sufistik, yang merupakan kultur pesantren. Kultur ini merujuk pada ketaatan atas syariah, didasari oleh pembelajaran dan penguasaan ilmu-ilmu fikih yang kompleks, serta penghayatan terhadap tasawuf. Jika diibaratkan tubuh, fikih menjadi tubuh, berisi “kebatinan” sufistik. Tentu sufisme dalam tradisi Islam Sunni yang mengarah pada pembersihan hati (tazkiyah al-nafs) serta pemuliaan akhlak.

Qudsiyyah memiliki ini, karena para murid tidak hanya dididik menguasai ilmu tapi juga mempraktikkan agama secara benar, demi pengabdian masyarakat. Poin terakhir ini juga penting: pengabdian masyarakat. Sebab, murid Qudsiyyah digodog tidak hanya untuk jadi guru agama, modin, atau nanti sarjana, melainkan terlebih menjadi kiai. Peran kekiaian di sini merujuk pada peran pembimbingan masyarakat demi hidup keagamaan yang lebih baik.

Di samping kultur pesantren salaf yang dididikkan di Qudsiyyah, madrasah ini juga dekat dengan kultur kesunanan Kudus yang memusat di dalam aktivitas religius di Menara Kudus. Ini terlihat tidak hanya dalam tradisi ziarah yang dilakukan para murid di makam Sunan Kudus, tetapi juga posisi pengasuh Qudsiyyah yang mengelola Yayasan Menara Kudus. Inilah mengapa momen 1 Abad Qudsiyyah dipusatkan di area Menara Kudus berbasis latar kultural Kudus era Sunan Kudus.

Langkah Strategis
Dengan potensi dan posisi strategis ini, Qudsiyyah bisa menjadi penggerak Islam Nusantara dengan beberapa catatan. Pertama, para murid senior, guru dan alumninya mengembangkan wacana Islam Nusantara dalam rangka pengembangan pemikiran Islam. Hal ini belum terjadi karena warga Qudsiyyah seperti layaknya kebanyakan umat Islam: terlelap di lumbung sendiri. Artinya, peradaban Islam itu begitu kaya, namun tak digali karena lebih nyaman melampahinya sebagai budaya (kebiasaan), daripada objek studi yang diteliti.

Akan tetapi hal ini tak mustahil, sebab para guru dan alumni merupakan aktivis Islam progresif yang bergerak mengembangkan keislaman moderat. Aktivisme ini pula yang menjadi nilai plus Qudsiyyah -yang tak dimiliki sekolah lain- karena sejak awal, para guru dan kiai mendorong kreativitas murid untuk mengembangkan agenda-agenda pergerakan Islam, salah satunya melalui penerbitan majalah sekolah yang kualitas temanya mendekati majalah kampus.

Kedua, Qudsiyyah perlu memelopori program riset besar-besar mengenai akar Islam Nusantara di Kudus, berpijak dari riset tentang sejarah dan kebudayaan Islam Sunan Kudus. Riset ini kemudian bisa diperluas ke area budaya Kudus lain, misalnya pola keislaman yang dibentuk Sunan Muria, kesinambungan pesantren dengan pendidikan Islam para Sunan, dll. Intinya mempraksiskan Islam Nusantara sebagai kerja akademik. Tentu kerja intelektual ini tak bisa dilakukan para murid. Ia harus digerakkan para guru dan ikatan alumni.

Ketiga, mengangkat geliat Islam Nusantara dari Kudus Ke kancah nasional, karena wacana Islam Nusantara itu sendiri merupakan wacana nasional.
Dengan cara ini, segenap potensi dan aktivisme Islam Qudsiyyah akan menemukan perannya dalam pergerakan Islam di Indonesia. Sebab Islam Nusantara itu sendiri memang berakar di lokalitas keislaman seluruh Nusantara. Selamat 1 Abad Qudsiyyah! (*)

Oleh: Syaiful Arif
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah angkatan tahun 2000. Kini dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta. Penulis buku Falsafah Kebudayaan Pancasila, Nilai dan Kontradiksi Sosialnya (Gramedia Pustaka Utama, 2016)

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam Sarekat Islam: Refleksi Historis Gerakan Sarekat Islam Cabang Kudus (1912-1918)

DEKADE awal abad XX situasi politik di Indonesia mengalami dinamika yang signifikan. Kesadaran nasionalisme dikalangan pribumi semakin tumbuh seiring munculnya berbagai organisasi dan perkumpulan politik. Menariknya banyak dari perkumpulan politik tersebut diinisiasi langsung oleh kelompok pribumi. Sebut saja Budi Utomo dan Sarekat Islam yang menonjol dalam periode awal pergerakan nasional. Sarekat Islam berdiri di Solo pada tahun 1911 dengan nama Sarekat Dagang Islam. Peran SDI, yang kemudian dirubah tahun 1912 menjadi Sarekat Islam (SI) di Solo signifikan, bahkan cenderung radikal. Diantaranya adalah melindungi pengusaha pribumi dari pentrasi pengusaha Tionghoa dalam industri batik. Pada tahun-tahun berikutnya SI membuka cabang dibeberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, dan tidak ketinggalan cabang Kudus.

Riwayat Sarekat Islam Cabang Kudus

Sarekat Islam Kudus berdiri pada tahun 1912 di bawah pimpinan Haji Djoepri yang merupakan pengusaha kretek.[1] Kepengurusan SI Kudus banyak didominasi oleh para haji dan ulama. Salah satu ulama yang berpengaruh waktu itu adalah KHR Asnawi yang menjabat sebagai penasehat SI Kudus. Beliau dilahirkan pada tahun 1861 dengan nama Raden Ahmad Syamsi, nama Asnawi disandangnya selepas pulang haji.[2] Selain aktif dalam Sarekat Islam Cabang Kudus, KHR Asnawi juga tokoh penting Nahdhatul Ulama’ Cabang Kudus.[3] Keterlibatan KHR Asnawi dalam Sarekat Islam dimulai dari keterlibatan beliau dalam jaringan ulama nusantara di Haramain. Pergaulan yang kosmopolit menghantarkan pertemuan KHR Asnawi dengan HOS Tjokroaminoto yang saat itu menjadi tokoh sentral Sarekat Islam. Maka sekembalinya ke tanah air, KHR Asnawi diminta secara khusus untuk mendirikan SI cabang Kudus. Ketokohan KHR Asnawi cukup diperhitungkan dalam peta politik nasional, sehingga beliau sering mendapat kepercaaan untuk menempati posisi strategis dalam beberapa organisasi.[4]

Awal kemunculannya, SI Kudus menonjolkan penguatan agama Islam dalam masyarakat Kudus. Hal ini dibuktikan dengn didirikannya dua madrasah, Muawanatul Muslimin pada tahun 1915, dan satu lagi madrasah yang berlokasi di Menara pada sekitar tahun 1918. Madrasah Muawanatul Muslimin Kenepan (M3K) berdiri tepatnya pada tanggal 7 Juli 1915 sebagai bentuk gerakan pendidikan yang dikampanyekan SI Kudus. Madrasah setingkat ibtidaiyah ini memiliki jenjang pendidikan 8 tahun yang terbagi dalam 8 kelas yang dimulai dari kelas 0.[5] Sementara itu Madrasah kedua yang berlokasi di Menara kemungkinan besar merupakan cikal bakal madrasah Qudsiyyah.[6] Karakteristik SI Kudus mungkin agak berbeda dengan SI kebanyakan waktu itu. Visi kemandirian ekonomi pribumi dan gerakan progresif kaum buruh menjadi trademark SI sehingga mendapat perhatian khusus pemerintah kolonial. Terlebih gerakan revolusioner yang mengancam rust en order sangat ditakuti pemerintah kolonial. Di Semarang misalnya SI menjadi creator gerakan pemogokan buruh kereta api pada tahun 1920.

Karakteristik SI Kudus yang cenderung bersifat keagamaan mungkin disebabkan dua hal. Pertama tidak bisa dipungkiri bahwa dominasi Haji dan ulama menjadi faktor penentu arah gerak maupun visi misi organisasi. Kedua adalah iklim perburuhan di Kudus tidak terlalu progresif sebagaimana Surabaya dan Semarang yang notabenenya memiliki pelabuhan dan menjadi kota industri dan perdagangan masa kolonial. Namun demikian dinamika SI Kudus selanjutnya mengalami pengaruh dan gejolak yang sama dengan SI Semarang. Friksi dalam SI seiring kehadiran kelompok yang terpengaruh paham sosialisme-komunisme yang dibawa oleh Sneevlit. Ketidak cocokan kelompok SI Kudus yang cenderung sosialis berujung pada pemisahan diri dari organisasi. Mereka yang keluar SI mendirikan organisasi sempalan PKBT (Perkumpulan Kaum Buruh dan Tani) yang dipimpin oleh Soerorejo dan Zaid Moehammad.[7] Pada tanggal 29 Oktober 1918 organisasi baru ini mengadakan rapat akbar di alun-alun Kudus. Isu-isu yang dibicarakan cukup progresif, diantaranya penghapusan lumbung desa dan sistem kesehatan berkeadilan.[8]

Huru Hara Kudus 1918

Momentum yang perlu dicatat dari eksistensi SI Kudus adalah peristiwa huru hara Kudus tahun 1918. Kronologi peristiwa ini diawali dengan pawai Toa Pek Kong yang diselenggarakan orang-orang Tionghoa dalam rangka menolak datangnya bala’ berupa penyakit influenza. Saat itu penyakit ini cukup menakutkan karena bisa berujung pada kematian. Sebenarnya perayaan ini mengantongi ijin pemerintah Belanda. Namun pawai terakhir yang diselenggarakan tanggal 30 Oktober 1918 berakhir denga chaos. Dalam arak-arakan Tionghoa terdapat orang Tionghoa yang berpakain layaknya haji yang ditemani sejumlah perempuan. Padahal rombongan arak-arakan ini melewati kawasan Menara Kudus yang pada saat itu berkumpul orang-orang         muslim pribumi yang sedang merenovasi masjid Menara. Tindakan ini dinilai oleh pribumi muslim sebagai aksi provokatif yang menyakiti hati mereka sebagai muslim.[9] Sebanarnya keributan yang berlangsung di kawasan Mesjid Menara ini bisa diakhiri dengan perdamaian di kantor Sarekat Islam Kudus pada tanggal 31 Oktober 1918 dengan sejumlah kesepakatan.[10] Sayangnya disaat yang sama sebagian kelompok juga telah merencanakan penyerangan terhadap orang-orang Tionghoa, bisa dikatakan sebagai aksi lanjutan yang berkonotasi balas dendam.[11] Dalam penyerbuan melibatkan massa antara 2000-3000 pribumi yang berdatangan tidak hanya dari Kudus menyebabkan 50 rumah orang Tionghoa terbakar.[12]

Pasca kerusuhan banyak dari tokoh SI ditangkap dan dipenjarakan. Setidaknya 68 orang diadili dengan hukuman yang bervariasai, termasuk KHR Asnawi yang menerima vonis 3 tahun penjara.[13] Benny G Setiono berpendapat peristiwa kerusuhan rasial Kudus tahun 1918 merupakan bagian dari politik adu domba Belanda dalam merespon gerekan militant SI yang semakin massif, termasuk di Kudus. Persaingan antara pedagang batik dan rokok kretek Arab dengan pengusaha Tionghoa sengaja dihembuskan. Kerusuhan diwarnai dengan aksi pembakaran rumah dan toko orang-orang Tionghoa yang disertai dengan penjarahan dan perampokan tidak lain merupakan ekses dari politik segresi pemerintahan kolonial yang memisahkan orang-orang Tionghoa dan pribumi dalam bidang politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan. Peristiwa Kudus menjadi puncak dari rangkain kerusuhan rasial yang melibatkan kelompok Tionghoa dan Pribumi yang terjadi pada awal abad XX, setelah sebelumnya kerusuhan serupa berlangsung di Solo dan Surabaya pada tahun 1912.[14]           Pasca meletusnya huru-hara Bakar Pecinan, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kemunduran SI Kudus menjadi gejala umum SI pada waktu itu. Perpecahan SI antara kelompok Tjokroaminoto (SI Putih) dan Semaun-Sneevlit (SI Merah) berdampak pada keberlangsungan SI diberbagai daerah. Kekuatan SI Putih terkooptasi oleh SI Merah yang membuat mereka semakin lama menjadi lemah. Sementara itu bagi SI Kudus penangkapan sejumlah tokoh penting pasca huru-hara Kudus 1918 merupakan sebab khusus kemunduran SI Kudus.

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam SI Kudus

Kehadiran SI Kudus sejak pendirian sampai dengan masa kemundurannya merefleksikan beberapa hal. Pertama, kelompok haji memiliki posisi dalam diskursus pergerakan nasional. Kelompok haji yang tergabung dalam SI Kudus merupakan para pedagang sekaligus haji di Kudus Kulon.[15] Kalangan pedagang haji ini merupakan penggerak utama SI Kudus sehingga ketika tokoh-tokoh utamanya tertangkap pemerintah kolonial, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kedua, SI Kudus berperan dalam kemajuan pendidikan dan pengajaran Islam. Hal ini terbukti dari dua madrasah yang berdiri atas inisiatif langsung maupun tidak langsung dari SI Kudus. Sehingga SI Kudus memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda dengan SI pada umumnya. Bidang keagamaan yang dilipih SI Kudus juga terlihat dalam Anggaran Dasar organisasinya.

Ketiga, huru-hara Kudus tahun 1918 yang melibatkan tokoh-tokoh SI Kudus menguatkan identitas keislaman kelompok pedagang haji. Seperti dijelaskan diatas pemicu huru-hara Kudus 1918 didorong oleh ketersinggungan atas tindakan kelompok Tionghoa yang dinilai menyinggung kelompok muslim Kudus Kulon. Keempat, pedagang yang sekaligus santri (baca:haji) ini berpusat di wilayah Kudus Kulon semakin membuktikan bahwa Gusjigang merupakan spirit keberagamaan yang memiliki akar historis. Secara elaboratif hal-hal tersebut diatas menunjukan bahwa Sarekat Islam cabang Kudus saat itu telah mewarisi spiritialitas dan mentalitas Gusjigang yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kudus Kulon. Secara sederhana Gusjigang adalah mereka yang memilki perangai bagus, memiliki pemahaman agama yang baik -secara mencolok mereka adalah haj-, dan pandai berdagang.[16]

Lebih jauh secara substantif penulis melihat Gusjigang sebagai dua hal utama yang relevan dalam melihat masyarakat Indonesia kontemporer. Dua hal tersebut adalah Gusjigang sebagai mentalitas ekonomi maysarakat dan Gusjigang sebagai spirit kegamaan. Secara holistik Gusjigang dapat diinterpretasikan dalam konteks masa kini sebagai enterpreuner yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat dan pribadi yang berintegritas tinggi. Jika melihat wajah perekonomian nasional saat ini, sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi andalan baru dalam menopang perekonomian nasional. Kontribusi UMKM menentukan PDB Nasional (Produk Bruto Nasional) menjadi agenda utama pembangunan ekonomi nasional.[17] Keseriusan pemerintah juga terlihat dari upaya pemerintah mendorong lahirnya enterpreneur-enterpreneur baru. Gusjigang sebagai bagian dari masyarakat Kudus Kulon juga dapat interpretasikan sebagai masyarakat yang memarisi tradisi keislaman Sunan Kudus. Tokoh-tokoh SI masa lampau membuktikan bahwa mereka adalah haji dan ulama yang memiliki pemahaman Islam yang kuat namun juga moderat. Jika melihat wajah Islam Indonesia saat ini yang diwarnai dengan kemunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan intoleran. Dalam beberapa tahun terakhir gejala ini dilihat oleh Martin van Bruinessen sebagai conservative turn. Pasca kejatuhan Soeharto, Martin melihat wajah Islam di Indonesia mengalami pergeseran, dari Islam kultural ke islam politis. Contoh konkrit dari kelompok Islam politis adalah munculnya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang memiliki tujun mendirikan negara Islam di Indonesia. Islam politik juga melakukan infiltrasi pada level politik praktis dimana munculnya perda-perda syariat dibeberapa daerah. Sementara kelompok Islam intoleran termanifestasi lewat sejumlah aksi kekerasan dan konflik berbasis agama mulai dari aksi jihad, pemboman gereja hingga perusakan temoat ibadah.[18] Kondisi ini jelas mengkhawatirkan kondisi keberagamaan sekaligus ancaman NKRI. Maka Gusjigang sebagai spirit kegamaaan yang ramah merupakan agen-agen Islam moderat dan toleran yang bisa diandalkan dalam menangkal islam fundamentalis dan intoleran. Dua hal diatas menunjukan bahwa Gusjigang sebagai sebuah mentalitas ekonomi masyarakat dan spirit keagamaan yang bersumber pada kearifan lokal yang orisinil masih relevan dan memiliki kontribusi dalam menjawab tantangan Indonesia kontemporer.

            [1] Castle, Lance, Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus, Jakarta: Sinar Harapan, 1982. hlm., 103.

            [2] KHR Asnawi masih memiliki garis genealogis dengan Sunan Kudus. Dalam Abdurrahman Masud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Arsitek Pesantren (Yogyakarta: Kencana, 2006), hlm., 210-212.

            [3] KHR Asnawi disebut terlibat dalam tragedi Bakar Pecinan tahun 1918 yang melibatkan komunitas muslim dan komunitas Tionghoa. Dalam laporan KHR Asnawi tertulis posisinya sebagai Penasehat SI Cabang Kudus. Beliau termasuk dari orang SI yang dipenjarakan terkait huru-hara anti Cina Kudus 1918. Lihat dalam Masyhuri, Bakar Pecinan, Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918 (Kudus: Yayasan Cermin, 2006).

            [4] Dalam buku Modern Muslim Movement, Deliar Noer menyebutkan pada 31 Oktober-2 Nopember 1922 bersama KH Abdul Wahab mewakili Tasywirul Afkar, KHR Asnawi menghadiri Konggres Al Islam di Cirebon. Kongres ini sendiri dihadiri beberapa organisai dan gerakan Islam yang penting saat itu, antara lain SI, Muhamadiyah, dan Al Irsyad. KHR Asnawi juga sempat terlobat dalam komite Hijaz (cikal bakal NU) sebelum digantikan tokoh lain. Hal ini menunjukan posisi KHR Asnawi dalam skala politik nasional.

            [5] Dalam tulisan ini, penulis menyebutkan KH. M Arwani sebagai lulusan pertamanya yang kemudian mendirikan Madrasah TBS tahun 1928        di Kudus. Mansur, Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 156

            [6] Argumentasi ini penulis ajukan dengan melihat fakta historis bahwa KHR Asnawi merupakan tokoh penting dalam SI Kudus. Sementara KHR Asnawi adalah pendiri Madrasah Qudsiyyah yang berlokasi di kompleks Menara Kudus.

            [7] Masyhuri, Bakar Pecinan Konflik Pribumi vs Cina di Kudus tahun 1918, (Jakarta: Grafika, 2006), hlm., 40.

            [8] Rapat yang diadakan di gedung Johannes Bioscoop dihadiri 900 orang disaksikan oleh ketuanya M. Soeroredjo, dan Sekteraris N. Soerjowinoto. Djawa Tengah, Verslag pendek openbare Vergadering PKBT di Koedes, 31 Oktober 1918, hlm. 1.

            [9] Ketika sampai di depan Masjid Menara terjadi saling mennghina antara orang-orang pribumi dan orang-orang Tionghoa. Orang-orang muslim merasa terhina dengan arak-arakan yang mempertontonkan haji dan perempuan. Sebaliknya orang-orang Tionghoa tersinggung karena upacara Tao Pek Kong juga sakral bagi mereka. Lihat dalam Tan Boen Kim, Peroesohan di Koedoes: Soeatoe Tjerita Jang Betoel Telah Terdjadi di Djawa Tengah Pada Waktoe Jang Belon Sabarapa Lama, (Batavia: Tjiong Kon Lion, 1920), hlm., 86-88.

            [10] Sarekat Islam mewakili kelompok pribumi karena dianggap sebagai organisasi islam terbesar waktu itu. Selain iitu juga diduga beberapa oknum yang terlibat merupakan anggota SI. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri Patih Martosoedirja mewakili Bupati Kudus, Polisi JW Snabilie, dan Letnan Tionghoa. op.cit. Masyhuri, hlm., 67-68.

            [11]Penyerbuan warga pribumi terhadap perkampungan Tionghoa di Kudus Kulon berlangsung sejak kira-kira pukul 20.00-02.00 dini hari. Ibid, hlm., 70

            [12] Kariboetan di Koedoes , Sin Po 6 Nopember 1918, hlm. 1.

[13] Lewat sejumlah tradisi lisan yang penulis terima selama menjadi santri Madrasah Qudsiyyah, meskipun KHR Asnawi dipenjara oleh pemerintah kolonial beliau masih tetap bisa mengajar santri-santrinya. Salah satu bukti ma’unah –kelebihan- dari KHR Asnawi.

            [14] Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, (Jakarta: Elkasa, 2003), hlm. 375-379

            [15] Tipologi Kudus Wetan dan Kudus Kulon merujuk pada pembagian masyarakat Kudus yang digunakan Lance Castle dalam memisahkan karakteristik masyarakat Kudus yang dipisahkan oleh garis kali gelis. Menurut Lance Castle masyarakat Kudus Kulon memiliki karakteristik religiusitas yang kuat daripada Kudus Wetan. Lihat dalam Castle, Lance. 1982. Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus. Jakarta: Sinar Harapan.

[16] Hasyim Asy’ari, Bersikap Satitahe Bergaya Milite, Suara Merdeka 4 September 200

[17] http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peran-penting-ukm-dorong-perekonomian-indonesia

            [18] Lihat dalam Martin van Bruinessen, dkk, Conservative Turn: Indonesia dalam Ancaman Islam Fundamentalis, 2014, Bandung: Mizan Utama, hlm. 26-52.

Membumikan Al-Qur’an Langgam Nusantara

KONTROVERSI pembacaan ayat al-Qur’an dengan langgam nusantara (khasJawa) saat peringatan isra’ mi’raj di Istana Merdeka menjadi sangat menarik untuk dikaji. Oleh sebagian pihak, Menteri Agama RI dituduh melakukan liberalisasi terhadap kitab suci. Di lain pihak, ada yang menyebut bahwalanggam Jawa untuk pembacaan al-Qur’an disebut sebagai ekspresi budaya—tanpa merubah kesuciannya.

Membaca al-Qur’an dengan langgam dan cengkok Jawa memang terasa aneh karena tidak lazim digunakan. Akan tetapi bagi masyarakat Jawa, gaya melagukan ayat al-Qur’an semacam itu sudah dimulai sejak lama. Orang-orang tua dan muballigh di desa-desa sudah sering memakainya. Sehingga dalam konteks budaya Jawa, gaya langgam Jawa untuk membaca al-Qur’an tidak jadi masalah.

Yang menjadi masalah akhir-akhir ini adalah ketika sudah disajikan argumentasi fiqh bahwa al-Qur’an dilanggamkan Jawa itu haram dan menyalahi hadits Nabi. Respon masyarakat juga menjadi beragam. Bahwa dalam merespon polemik ini tidak hanya sebatas bicara halal atau halal, tapi ada tiga hal pokok yang perlu diluruskan sehingga kesucian al-Qur’an tetap terjaga bersama.

Pertama, menjaga kesucian al-Qur’an tetap jadi fokus utama. Semua orang sepakat bahwa al-Qur’an itu suci dan harus dijaga kemurniaanya dengan empat cara: menjaga keaslian ayatnya tanpa pemalsuan, menjaga pemaknaan tekstual dan kontekstualnya, menjaga tata cara membaca dengan pola tajwid dan menjaga dengan pelestarian pengalaman isi al-Qur’an. Apapun perbedaan persepsi mengenai isi pemaknaan al-Qur’an, itu dianggap sebagai rahmat agama Islam, karena memang cara memaknai itu adalah bagian dari pemahaman tokoh agama masing-masing.

Kedua, sebagai kitab suci, al-Qur’an perlu diajarkan kepada masyarakat dan diamalkan ajaran-ajarannya. Untuk memelajari ilmu-ilmu al-Qur’an dibutuhkan banyak perangkat, dari mulai ilmu bahasa arab (nahwu, sharaf,badi’, ma’ani dan bayan), ulumul qur’an, asbabun nuzul, ilmu tafsir dan lainnya. Maka dari itu, isi al-Qur’an akan mendalam jika digunakan perangkat pemahaman dengan bekal ilmu-ilmu itu.

Bagi muslim yang belum menguasai ilmu-ilmu itu dapat menyederhanakan dengan mempelajari ilmu tafsir dan tentunya tetap menghargai adanya konsentrasi ilmu-ilmu lainnya. Dari sinilah isi al-Qur’an akan terungkap dengan detail dan masyarakat akan mampu mencerna ajaran-ajaran Islam yang original.

Dan ketiga, untuk melanggengkan isi kandungan al-Qur’an, maka agama Islam mendorong umatnya untuk membacanya. KH Sahal Mahfudh (2011) menyampaikan bahwa membaca al-Qur’an berbeda dengan membaca hadits Qudsi, walaupun keduanya adalah kalimat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dalam kitabnya,Syaikh Zakaria al-Anshari menyebutkan bahwa al-Qur’an termasuk al-muta’abbadu bitilawatihi, mendapatkan pahala ketika membacanya (walaupun tidakmengetahui artinya).

Gaya Baca

Persoalan yang sedang hangat diperbincangkan adalah soal membaca al-Qur’an dengan gaya langgam Jawa. Di sini juga ada empat hal yang perlu dilihat secara spesifik. Pertama, sejarah Islam mencatat bahwa kitab suci ini diturunkan di Makah dan Madinah sehingga disebut Makiyah dan Madaniyah. Hingga sekarang para muslim masih mengamalkan bacaan-bacaan al-Qur’an. Dalam posisi membaca pribadi atau kalangan tertentu, langgam bacaan al-Qur’an menyesuaikan selera pembaca. Dan yang ditekankan adalah dengan cara baca yang benar menurut ilmu tajwid (ilmu khusus untuk membaca kitab suci).

Dalam acara-acara keagamaan, lazimnya al-Qur’an dibaca denganlanggam (sering disebut memakai lagu) sesuai dengan gaya tartil dan qira’ah. Gaya bacaan tartil ini lebih sederhana karena al-Qur’an dibaca dengan lagu sederhana dan cengkok yang tidak terlalu rumit. Sedangkan gaya baca qira’ah ini lebih rumit karena mengikuti kaidah qira’ah yang lazim digunakan semacam: husaini, bayati, syika, nahwan dan lainnya. Model qira’ah inilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai bacaan khas bangsa Arab, tempat di mana al-Qur’an diturunkan.

Padahal perlu diketahui bahwa gaya qira’ah: husaini, bayati,syika, nahwan dan lainnya itu bukan dari Makah dan Madinah melainkan Iran. Dan Iran menurut Ahmat Sarwat (2015) pada masa Nabi bukan masuk Arab karena berbangsa dan bahasa Persi. Jadi itulah kesalah pahaman sejarah atas dasar kebiasaan dilanggamkan dikira asli Arab. Bahkan para pembaca al-Qur’an di dunia juga melanggamkan dengan gaya negaranya masing-masing seperti Mesir, Turki,Lebanon, Yaman dan lainnya.

Jadi perlu ditegaskan bahwa sejarah panjang ini jangan sampai dipotong atas dasar kebiasaan mendengar lantunan langgam saja, sehingga menyimpulkan dengan “kebiasaan” tapi tidak ilmiah.

Kedua, membaca dengan gaya langgam adalah budaya masyarakat. Al-Qur’an sebagai teks dan berisi ajaran tetap utuh keberadaannya, sedangkan masyarakat luas berhak atas budayanya masing-masing dalam membacanya. Orang Arab akan menggunakan langgam khas arabnya, begitu pula orang Indonesia berhak atas cara baca langgam dengan budayanya.

Kalau kemarin yang ditampilkan adalah langgam dan cengkok Jawa, maka tidak menutup kemungkinan akan menyusul langgam Sunda, Melayu, Bali, Papua dan lainnya. Jadi kalau ada pihak yang tidak sepakat dengan langgam Jawa adalah bagian dari ketidaksetujuan terhadap budaya dan bukan ketidaksepakatan terhadap gaya baca al-Qur’an. Intinya bahwa bacaan langgam Jawa adalah untuk membumikan al-Qur’an dengan pendekatan budaya nusantara.

Ketiga, bahwa langgam adalah seni membaca. Dan seni inilah yang akan memperindah dan menghibur notasi teks yang dibaca. Bisa diibaratkan bagi masyarakat yang sudah maniak dengan dangdut, maka dengan lirik lagu yang sama dirubah menjadi keroncong atau jazz akan nampak aneh dan cenderung menolaknya.Sama dengan langgam al-Qur’an yang sudah mainstream dan baku dibaca orang-orang Timur Tengah, ketika dilanggamkan Jawa akan terasa aneh dan mengagetkan. Itulah seni baca al-Qur’an dan terkait dengan budaya.

Oleh sebab itu wajar jika qari’ interasional dari Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar ikut menanggapi dan kurang setuju dengan gaya langgam Jawa dalam membaca al-Qur’an. Ada lima catatan yang diberikan dalam menanggapi video bacaan Muhammad Yaser Arafat saat membaca al-Qur’an dengan lagu Dandanggulo MacapatJawa, yakni: kesalahan tajwid, kesalahan lahjah (logat), kesalahan takalluf (memaksakan), kesalahan niat dan memperolok-olok ayat Allah.

Ketika orang Arab memberikan koreksi yang demikian itu sangat wajar karena ada perbedaan budaya dan logat. Sama halnya ketika orang Jawa di daerah Wonosobo danP urworejo misalnya tidak bisa melafalkan ‘ain, karena biasa menyebut nga’in. Bagi orang yang paham budaya akan memaklumi karena ini adalah soal kebiasaan dan dialek orang Wonosobo dan Purworejo demikian. Walaupun membaca al-Qur’an mereka susah mengucapkan ‘ain dan itu tidak disalahkan. Lahirnya qira’ah sab’ah (tujuh cara baca al-Qur’an) juga karena faktor dialek masyarakatTimur Tengah yang berbeda-beda dalam pelafalan dan detail bacaannya.

Dan keempat, pentingnya menghormati perbedaan. Adanya perbedaan dalam gaya membaca al-Qur’an tidak perlu diperpanjang karena ini ranah budaya dan seni baca al-Qur’an. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat digugah kembali untuk peduli terhadap kerajinan membaca al-Qur’an dan peduli terhadap cara baca yang benar sesuai tajwid. Termasuk yang terpenting adalah mengamalkan isi al-Qur’an untuk memperbaiki Indonesia dan dunia.*)

Dimuat Koran Jateng Ekspres, Kamis/21 Mei 2015.

oleh: M. RikzaChamami, MSI
ALumni Qudsiyyah dan Dosen FITK Universitas Islam Negeri Walisongo

Isra Mi’raj dan Spirit Toleransi NKRI

SETIAP 27 Rajab seluruh umat Islam selalu memeringati Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Pesan utama yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj adalah perintah menjalankan shalat lima waktu.

Melaksanakan shalat pada hakekatnya tidak hanya sekadar memberi manfaat pada si pelaku saja, tetapi lebih dari itu juga memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, bahkan bagi bangsa dan negara. Karena sesungguhnya shalat dapat menyelamatkan manusia dari berbuat keji.

”Sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Al Ankabut: 45). Mengingat nilai yang terkandung dalam shalat itu bersifat universal, maka implementasi dalam kehidupan nyata juga harus bersifat universal pula, yaitu harus lintas agama, etnis dan golongan.

Merealisasikan hal yang demikian ini tentunya sangatlah penting karena kian hari bangsa ini dihadapkan pada persoalan toleransi yang secara kuantitas dan kualitasnya semakin mengkhawatirkan. Di mana sekarang ini toleransi telah menjadi barang mahal dan langka di negeri yang katanya majemuk ini.

Dalam kondisi riil seperti itu seyogianya seluruh umat Islam berada di garda depan untuk memelopori tumbuhnya toleransi, sebagaimana yang pernah dilakukan dan didakwahkan Nabi Muhammad saw di Madinah. Bukan malah sebaliknya dalam berperilaku dan berdakwah justru melenceng jauh dari ajaran agung Nabi Muhammad yang selalu dalam kosmos toleransi.

Jika cara berdakwah yang mengabaikan prinsip toleransi seperti yang dilakukan sebagian umat Islam di Indonesia sekarang masih terus berlangsung, tidak tertutup kemungkinan ke depan akan terjadi benturan antarumat beragama, etnis dan golongan di bumi pertiwi ini. Dan bila hal itu sampai terjadi, maka tidak saja dapat mengganggu serta menghambat pembangunan nasional, tetapi lebih parah lagi akan dapat mengancam keutuhan NKRI.

Mulai saat ini, mau tidak mau segenap umat Islam dalam berdakwah hendaknya selalu mencontoh cara, strategi dan metode yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw, yaitu dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah.

Di mana dalam ranah praktis aplikasinya penuh dengan sikap toleransi, perdamaian, humanis dan santun. Bukannya dengan jalan kekerasan dan anarkisme yang jelas melenceng jauh dari subtansi tujuan shalat yang merupakan hasil Isra Mikraj Muhammad saw.

Dalam momentum peringatan Isra Mikraj kali ini, mari kita kaji dan renungkan bersama bagaimana Nabi Muhammad saw saat memimpin sekaligus berdakwah di Madinah. Dia telah melaksanakan toleransi yang luar biasa hebatnya. Sebagai pemimpin negara dan agama, Nabi Muhammad saw selalu mengakomodasi seluruh kepentingan rakyatnya tanpa mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan sedikit pun.

Sikap Simpatik

Justru dengan sikap simpatik serta toleransi yang sungguh-sungguh serta totalitas, agama Islam pada periode itu mengalami ekspansi dan kemajuan yang luar biasa.

Cara dan strategi dakwah seperti itu pulalah yang membuat Walisongo sukses penyiarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Mereka dalam berdakwah totalitas mencontoh apa yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw, yaitu dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah. Di mana cara dakwah semacam ini harus selalu lekat dengan akhlaqul karimah, humanisme dan toleransi yang tinggi.

Jauh dari praktik anarkisme dan teror. Namun justru dengan cara serta metode inilah agama Islam dapat diterima dan berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, bahkan hingga bisa sebagai agama mayoritas di Indonesia. Sikap akomodatif, humanis dan toleransi itu hakikatnya merupakan inti dari ajaran agama Islam dalam hal dakwah.

Terutama ajaran yang terdapat dalam Surat Al-A’raf; ”Sesungguhnya Kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk berkenal-kenalan.”Ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan manusia dengan beragam bangsa dan suku merupakan sunnatullah yang pasti akan selalu ada sampai kapan pun. Karena keragaman dan plutralitas hidup manusia adalah realitas kehidupan di bumi yang dikehendaki Allah Swt.

Di sisi lain ayat itu juga mempunyai tujuan untuk menciptakan kesadaran kognisi manusia agar saling mengenal satu sama lain dalam suatu proses dan dialektika hidup bersama. Sebab hanya dengan modal pluralitas, toleransi dan kesadaran manusia tersebutlah roda kehidupan dengan dinamika, dialektika dan pemberdayaannya dapat berjalan terus.

Tetapi sayang sering kita sebagai umat Islam dan warga bangsa Indonesia yang majemuk ini belum mampu menangkap pesan Ilahiyah yang terdapat dalam Alquran tentang pluralisme dan toleransi itu.(*)

oleh: M Saifuddin Alia
Pengurus IKAQ Menara Kudus; Direktur Central for Islamic Education and Culture Studies (CIIS) Grobogan

TULISAN INI TAYANG DI SUARA MERDEKA, EDISI 15 Mei 2015