GUSJIGANG: PRINSIP BISNIS RASULULLAH

Keberhasilan suatu bisnis bagi  seorang muslim tidak diukur dari besarnya laba atau keuntungan yang diperoleh, misalnya mempunyai rumah megah, deposito disetiap bank, mobil yang mewah, istri yang banyak, dibangunnya gedung bisnis bertingkat nan megah. Keberhasilan bisnis seorang muslim tidak diukut dengan itu, namun diukur dengan niali bagaimana bisnisnya itu bermanfaat untuk kepentingan umat dan mendapat ridlo oleh Allah dengan perilaku penuh kejujuran. Untuk melakukan bisnis memang sulit, namun bila kita menggunakan ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Agama, insya Allah perjalanan bisnis akan mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Fenomena yang ada dalam dunia perdagangan atau bisnis di Negara kita Indonesia  ini, banyak sekali pelanggaran atau penyimpangan dalam berbisnis. Banyak dari mereka yang masih berusaha melanggar perjanjian, manipulasi dalam segala tindakan. Mereka kurang memahami etika bisnis, atau mungkin saja mereka faham tapi memang tidak mau melaksanakan.

Selain ditanamkan akhlak atau etika, sebuah bisnis dapat berkembang dan sukses   harus dimulai usaha dengan membuat rencana bisnis yang memiliki fleksibilitas dan inovasi. Dengan kata lain orang yang melakukan usaha bisnis harus banyak belajar agar memiliki kreatifitas dalam memasarkan (mempromosikan) usahanya.

Pada hakekatnya Islam sebagai suatu agama besar telah mengajarkan konsep-konsep unggul lebih dulu dari Protestan, akan tetapi para pengikutnya kurang memperhatikan dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam sebagaimana mestinya. Nabi Muhammad SAW telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen, dan etos kerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika kerja dan manajemen bisnis tersebut telah mendapat legitimasi keagamaan setelah Beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau awal 21. Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, tranparan, persaingan yang sehat dan kompetitif, semua telah menjadi gambaran pribadi Nabi Muhammad ketika masih muda. (Prof. K.H Ali Yafie, dkk, 2003: 11-12)

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh dua hal pokok, yaitu kepridadian yang amanah dan terpercaya, serta pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Kedua hal tadi merupakan pesan moral yang bersifat universal yang uraianya antara lain sebagai berikut:

1. Shiddiq,yaitu benar dan jujur, tidak pernah berduata dalam melakukan berbagai macam transaksi bisnis. Hal tersebut juga dijelaskan dalam firman Allah

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)

Artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”(QS. Al-Muthaffifin:1-3)

2. Kreatif, Berani, dan Percaya diri. Ketiga hal ini mencerminkan kemauan berusaha untuk mencari dan menemukan peluang-peluang bisnis yang baru, prospektif, dan berwawasan masa depan, namun tidak mengabaikan prinsip kekinian.

3. Tabligh, yaitu mampu berkomunikasi dengan baik. Yaitu: supel, cerdar, cepat tanggap, koordinasi dan supervisi.

4. Istiqamah, yaitu secara konsisten menampilkan dan mengimplementasikan nilai-nilai di atas walaupun mendapatkan godaan dan tantangan. Hanya dengan istiqamah dan mujahadah, peluang-peluang bisnis yang prospektif dan menguntungkan akan selalu terbuka lebar. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”(QS. Al-Ahqaaf: 13)

Dari beberapa dasar tersebut di atas menunjukkan bahwa menghadirkan dan mengimplementasikan strategi bisnis Rasulullah SAW pada saat sekarang akan tetap relevan dan actual, karena prisip-prinsip yang telah dibangun Rasulullah SAW merupakan prinsisp yang universal dan tidak terbatas oleh ruan dan waktu. Hanya saja diperlukan kesungguhan, kedisiplinan dan keyakinan untuk terus mengaplikasikanya. (Dr. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc, 2003: 57)

Orang-orang yang sukses pada umumnya memiliki dan menampilkan sifat-sifat pribadi atau ciri-ciri watak, sebagaimana pendapat “The Liang Gie”, diantaranya (The Liang Gie, 1996: 20-21):

1. Kreatifitas: adalah pikiran lincah yang senantiasa bergerak menghasilkan ide-ide baru.

2. Integritas: adalah akhlak yang luhur dan hati yang bersih sehingga mempunyai berbagai kebajikan hidup (misalnya kejujuran, kesetiaan, semangat pengabdian, rasa tanggungjawab).

3. Kapabilitas: adalah keterampilan kerja, kemahiran memutuskan dan pengetahuan efisiensi yang diperoleh dari pendidikan formal, pengalaman hidup maupun terutama pengembangan diri.

Konsep perdagangan (bisnis) yang diajarkan oleh nabi Muhammad ialah apa yang disebut value drive, artinya menjaga, mempertahankan, menarik nilai-nilai dari pelanggan. Value drive juga erat hubunganya dengan apa yang disebut relationsip marketing, yaitu berusaha menjalin hubungan erat antara pedagang, produsen dengan para pelanggan. (Prof. Dr. H. Buchari Alma, 2003:21)

Sifat Rasulullah dalam berbisnis, seperti yang diungkapkan oleh Syafi’I Antono (Harian Republika, Juni, 2002) yang ditulis oleh Buchari Alma, sebagai berikut:

1. Siddiq,benar, nilai dasarnya ialah integirtas, nilai-nilai dalam bisnisnya berupa jujur, ikhlas, terjamin, dan keseimbangan emosional.

2. Amanah, nilai dasarnya terpercaya, dan  nilai-nilai dalam berbisnisnya ialah adanya kepercayaan, bertanggung jawab, transparan, dan tepat waktu

3. Fathonah, nilai dasarnya ialah memiliki pengetahuan yang luas, nilai-nilai dalam berbisnis ialah memiliki visi, pemimpin yang cerdas, sadar produk, dan jasa, serta belajar berkelanjutan.

4. Tabligh, nilai dasarnya ialah komunikatif, dan nilai bisnisnya ialah supel, penjual yang cerdas, deskripsi tugas, delegasi wewenang, kerja tim, koordinasi, ada kendali dan supervisi.

5. Syaja’ah, artinya berani, nilai bisnisnya adalam mau dan mampu menambil keputusan, menganalisa data, keputusan yang tepat dan cepat tanggap.

Sifat-sifat dasar ini merupakan pesan universal dari akhlak atau etika dan keterampilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis sehingga dapat membawa sukses dalam berbisnis.

Orang beretika atau berakhlak adalah orang yang memiliki perilaku yang bagus karena seseorang yang buruk lakunya, tentu akan berakibat panjang, paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain terhadap dirinya, dan pada gilirannya akan merugikan usaha dagangnya. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan atau keterampilah adalah orang senantiasa belajar dan mengaji dari lingkungan sekitar untuk mendapatkan ide-ide kratif yang nantinya digunakan untuk mengembangkan usahanya. Konsep-konsep dalam berdagang atau berbisnis di atas secara tutur tinular dikenal dengan istilah GUSJIGANG (Bagus, Mengaji/Mengkaji, Dagang).

Kata ‘gusjigang’ mengandung arti ‘ bagus – mengaji – berdagang’ adalah filosofi dari Sunan Kudus. Filosofi ‘gusjigang’ merupakan personifikasi Sunan Kudus agar masyarakat Kudus mempunyai budipekerti yang baik (masalah moralitas, ahklak), pandai mengaji yang berarti menuntut ilmu, rajin beribadah, dan pandai berdagang. Ada yang mengartikan mengaji adalah rajin beribadah, dan ‘ji’ ada  yang  mengartikan  kaji. Dalam telaah makna ‘gusjigang’ dalam kehidupan orang Kudus, dengan memperhatikan pandangan ‘dari dalam’, yaitu dari sudut pandang tineliti (orang Kudus-pedagang)  yaitu world view  orang  Kudus  atas  etos  dalam  ‘gusjigang’.  Dalam kerangka ini pemaknaan ‘gus- ji – gang’ pada pedagang Kudus mengandung tiga unsur nilai yang berbeda. Pengungkapan makna ‘gus’ (bagus ahklaknya) akan berbeda analisisnya dengan pengungkapan makna ‘ji’ (belajar, menuntut ilmu), dengan pemaknaan ‘gang’ (pandai berdagang). Namun ketiga unsur ini adalah satu kesatuan. Artinya,   seseorang (pedagang) yang menjalankan ‘ji’ dan ‘gang’ sebagai pedagang yang menjalankan praktik berdagang dengan baik, maka dalam konteks ini seseorang pedagang tersebut dapat disebut memiliki ‘gus’.

Nilai-nilai seperti ini, setelah melalui proses waktu yang cukup, melembaga dan yang pada akhirnya terlembagakan dalam tata nilai masyarakat Kudus, bersifat evaluatif, dan sekaligus merupakan bagian dari tradisi atau budaya masyarakat secara  keseluruhan. Hal ini karena secara psikis seseorang cenderung memasukkan segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya seperti simbol-simbol yang mencerminkan dunia di sekitarnya, norma, budaya, kehidupan sosial, serta perilaku orang yang akrab dengannya ke dalam sistem gejala kejiwaannya. Proses internalisasi pengalaman ini kemudian mempengaruhinya dengan cara tertentu ketika memahami, merasa, berpikir dan berbuat. ( Vinacke, 1992: 285)

 Tradisi lokal masyarakat Kudus yang merujuk kembali kepada figur  Sunan Kudus merupakan modal dasar dalam berusaha sehingga bisa dikatakan pengusaha-pengusaha Kudus berhasil dalam usahanya. Sebagai ilustrasi, industri milik pribumi di Indonesia sampai tahun 1930-an belum banyak berarti. Berbeda dengan ini, Kudus tahun 1910-an telah terkenal sebagai pusat industri  rokok kretek, dan pengusaha pribumi pada  waktu itu sangat dominant. (The Kian Wee, 1994: 16) Dan sampai sekarang Gusjigang mampu dipertahankan  dengan baik, sehingga bisnis industrialiasasi di Kabupaten Kudus bisa dijadikan model yang relevan sesuai dengan potensi dan karakter masyarakatnya.

Dengan demikian, sifat-sifat atau prinsip-prinsip dasar perilaku Nabi Muhammad SAW yang tercermin atau merupakan refleksi dari konsep gusjigang dalam berbisnis dapat membawa sukses dalam berbisnis. Karena hal ini merupakan suri tauladan yang baik diikuti agar bisnis yang digeluti dapat berkembang dengan baik dan akan membawa hasil yang sangat maksimal, khususnya bagi umat Islam dan umumnya bagi semua umat manusia.

Daftar Pustaka :
– Alma, Buchari, 2003, Dasar-dasar Etika Bisnis Islami, Bandung: Alfabeta.
– Gie, The Liang, 1996, Strategi Hidup Sukses, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Liberty.
– Hafidhuddin, Didin, M.Sc. dan Hendri Tanjung, 2003, Manajemen Syariah dalam Praktik, Jakarta: Gema Insani Press.
– Pareno, Sam Abede, 2002, Etika Bisnis: Wirausaha Muslim Suatu Arah Pandang,Surabaya: Papyrus.
– Soenarjo, 1991, Al-Qur’an dan Terjemahanya,Bandung: Gema Risalah Press.
– Vinacke, 1992, The Psycholgy of Thinking, Toronto: Mc Graw Hill Book Company Inc.
– Wee, The Kian, 1994, Industrialisasi di Indonesia; Beberapa Kajian, Jakarta: LP3ES.
– Yafie, Ali, dkk, 2003, Fiqih Perdagangan Bebas, Bandung: Teraju kelompok Mizan.

Oleh:
H. Ihsan
Ketua Umum Ikatan Alumni Qudsiyyah

Meniru Semangat BerNU KHR Asnawi

Salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari adalah KHR Asnawi Kudus (1861-1959). Kyai keturunan KH Mutamakkin dan Sunan Kudus ini sangat loyal dalam beraktivitas di NU.

Kyai Asnawi selama hidup tidak pernah meninggalkan prinsip-prinsip baku ahlussunnah wal jama’ah. Terbukti dalam hal berjama’ah ditunjukkan dengan aktivitas keagamaan yang sangat lekat dengan tradisi ulama khas Timur Tengah dan Jawa.

Bekal kombinasi ilmu Arab-Jawa yang didapatinya selama mencari ilmu diterapkan agar mudah dijalani oleh orang awam. Maka karya-karya yang ia lahirkan adalah berbahasa Jawa dengan tulisan pegon. Sedangkan karya berupa syi’ir dikarang dengan dua model: bahasa Jawa dan bahasa Arab.

Sedangkan dalam hal jam’iyyah, Kyai Asnawi tercatat dalam berbagai organisasi pra kemerdekaan semisal Sarekat Islam, Jam’iyyatun Nasihin dan Nahdlatul Ulama. Prakarsa mendirikan Nahdlatul Ulama selalu aktif dijalani hingga resmi berdiri tahun 1926.

Selama NU berdiri dan melaksanakan Muktamar, ia tidak pernah udzur mengikutinya hingga akhir hayat. Inilah yang patut dicatat oleh generasi muda saat ini. Kyai Asnawi wafat beberapa hari setelah pulang dari Muktamar NU ke-12 di Jakarta.

Ada empat pola semangat berNU yang dapat diambil dari kisah KHR Asnawi.

Pertama, tidak pernah berhenti dakwah ahlussunnah wal jama’ah walau dalam tekanan penjajah. Semangat beraswaja diteguhkan dengan mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada 1919 dan mendirikan Pondok Pesantren Raudlatul Tholibin Bendan Kudus tahun 1927. Termasuk Kyai Asnawi memprakarsai majelis pengajian aswaja di berbagai daerah Kudus, Pati, Demak hingga Pekalongan.

Kedua, mengorganasisikan aswaja dalam wadah Nahdlatul Ulama. Bahwa jama’ah yang sudah ada tidak dianggap sempurna tanpa organisasi. Maka berdirinya NU bagi KHR Asnawi adalah mutlak adanya dan harus berjuang memberantas paham wahabi yang merusak aqidah Islam.

Perihal perjuangan melawan gerakan wahabi, Kyai Asnawi berada di barisan depan. Ini terbukti prasasti berdirinya NU tertulis di Masjid Aqsha Menara Kudus–atas prakarsa Kyai Asnawi dan KHR Kamal Chambali. Gerakan wahabi di Kota Kudus ia berantas dengan cara damai dan perdebatan hujjah agama versi aswaja.

Ketiga, penyempurnaan jama’ah dan jam’iyyah dibingkai dalam cinta tanah air. Kyai Asnawi sangat peduli terhadap cinta tanah air dan kedamaian bumi Indonesia. Syair yang dikarangnya banyak mengarah pada bukti nyata kemerdekaan Indonesia adalah dengan rasa aman.

Dalam syair shalawat Asnawiyyah yang dikarang sebelum kemerdekaan tertulis: Indonesia Raya Aman. Ini menjadi bukti nyata bahwa rasa aman bernegara itu sangat penting untuk dijaga.

Salah satu bukti keamanan Indonesia bagi Kyai Asnawi perlu diperkuat rasa beislam dan bersejarah. Apa artinya? Islamnya harus benar patuh pada aswaja dan mengerti sejarah bangsa. Bahkan Kyai Asnawi memuji prinsip demokrasi yang diusung oleh bangsa Indonesia.

Keempat, rasa saling sayang dan menghormati perlu ditanamkan dalam berNU. Boleh kita bayangkan saat awal pendirian NU, sarana transportasi dan komunikasi masih sangat manual. Tapi semangat para ulama terbangun baik karena saling sayang dan hormat.

Inilah hal-hal pokok yang dapat diambil dari pengalaman KHR Asnawi dalam berNU. Usia NU yang memasuki 92 tahun patut disambut dengan rasa sayang dan hormat.

NU akan tetap jaya dan besar jika kita mau meniru cara-cara ulama dalam meneguhkan jama’ah dan jam’iyyah.

M. Rikza Chamami
PW GP Ansor Jawa Tengah

Memantapkan Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Bulan Rabi’ul Awwal dalam kalender hijriyyah selalu memberikan makna yang istimewa. Kenapa? Karena di tanggal 12 diperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Walaupun kelahiran Nabi sudah 1445 tahun berlalu, hingga kini (2017) masih dimeriahkan.

Sebagian muslim masih ragu akan peringatan Maulid Nabi, bahkan ada yang menganggap itu bid’ah. Untuk itu perlu sekali dijelaskan dalil-dalil yang berdasar dari hadits Nabi Muhammad tentang peringatan maulid Nabi itu.

Dalam kitab Al Faraidus Saniyyah wad Durarul Bahiyyah karya KH M Sya’roni Ahmadi dijelaskan secara khusus mengenai dalil-dalil menghormati perayaan maulid Nabi Muhammad. Di halaman 4 tertulis bab empat dengan judul Al Adillatu fi Sunniyyati Ta’dzimi Maulidin Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ada sembilan hujjah yang diambil dalam menjelaskan sunnahnya perayaan maulid Nabi. Ada satu hadits, empat pendapat khulafaurrasyidin dan empat pendapat ulama salaf.

Salah satu hadits Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan sunnahnya perayaan maulid Nabi secara jelas disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من عظم مولدي كنت شفيعا له يوم القيامة ومن انفق درهما في مولدي فكانما انفق جبلا من ذهب في سبيل الله

Artinya:
Rasulullah Saw telah bersabda: “Barangsiapa memuliakan hari kelahiranku maka kelak akan mendapatkan syafaatku di hari kiamat. Dan barangsiapa berinfaq dirham dalam peringatan maulid Nabi, maka sama dengan pahala infaq gunung emas di jalan Allah Swt”.

Dengan hadits Nabi itu jelas sekali bahwa peringatan maulid Nabi adalah sunnah. Bahkan sunnah yang demikian bukan sunnah biasa, tapi sunnah yang sangat luar biasa.

Kenapa? Karena peringatan maulid Nabi merupakan amalan dunia tapi menjadi pahala di akhirat. Bahkan pahala di akhirat dobel: syafaat (pertolongan) Nabi di hari kiamat dan senilai pahala infaq gunung emas.

Hadits ini cukup menjadi hujjah dalam pelaksanaan maulid Nabi. Di Indonesia, pelaksanaan maulid Nabi sudah diselenggarakan sejak zaman Walisongo. Saat jaman kerajaan, semua Keraton Islam selalu menggelar maulid Nabi. Dan saat Indonesia merdeka hingga sekarang, maulid Nabi selalu menjadi acara resmi negara.

Sebagai penguat hadits Nabi, empat khulafaurrasyidin yang merasakan hidup bersama dengan Nabi Muhammad juga menjelaskan secara eksplisit manfaat perayaan maulid.

Sahabat Abu Bakar Assiddiq menyebutkan:
من انفق درهما في مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة
Shabat Umar bin Khattab berkata:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد احيا الاسلام

Sahabat Utsman bin Affan menjelaskan:
من انفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكانما شهد يوم وقعة بدر وحنين

Sayyidina Ali bin Abu Tholib berkata:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لا يخرج من الدنيا إلا بالايمان

Lengkap sudah kiranya dalil penjelas mengenai perayaan maulid Nabi yang telah ditegaskan oleh empat shahabat penerus perjuangan Nabi yang jelas-jelas hidup bersama-sama Nabi saat masih hidup.

Sayyidina Abu Bakar berjanji akan menjadi teman setia di surga bagi para umat Islam yang mau berinfaq untuk perayaan maulid Nabi.

Sayyidina Umar menegaskan bahwa salah satu cara menghidupkan Islam adalah dengan merayakan maulid Nabi. Ini menjadi anti tesa bahwa jika maulid Nabi dilarang, sama dengan membunuh Islam.

Sayyida Utsman juga telah memberikan penguatan bahwa pahala infaq untuk maulid Nabi setara dengan berjuang saat perang di jaman Rasulullah.

Sedangkan Sayyidina Ali menandaskan betapa iman itu penting untuk tetap dipertahankan hingga akhir hayat. Dan salah satu jaminan keimanan itu adalah dengan perayaan maulid Nabi–dimana dengan perayaan maulid Nabi manusia tidak akan meninggalkan dunia kecuali dalam kondisi beriman.

Semoga tulisan singkat ini menjadi ibroh bagi setiap muslim dalam rangka memantapkan perayaan maulid dalam yang berdasar pada syariat Islam. Merayakan maulid Nabi sama dengan menghidupkan Islam. Jangan pernah padamkan maulid Nabi kalau Islam ingin hidup selamanya. (*)

M. Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Mahasiswa Program Doktor Studi Islam & Dosen UIN Walisongo

Tulisan ini pertama kali ditayangkan di NU.ONLINE pada Senin, 4 Desember 2017

Menyandingkan Mondok dan Kuliah

PADA tahun 2028-2030, Indonesia diperkirakan akan berada pada puncak bonus demografi (BPS, 2015). Kondisi ini membuat komposisi penduduk Indonesia dihuni lebih banyak penduduk usia produktif yakni pada usia 15-64 tahun. Disebut bonus atau keuntungan tentu saja jika kita mampu memaksimalkan kesempatan dan potensi tersebut. Sebaliknya, jika kita gagal mengantisipasi kondisi demografi tersebut, maka bukan bonus namanya tetapi bencana demografi yang akan terjadi.

Salah satu persiapan untuk mengoptimalkan kondisi demografi tersebut adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan berkarakter. Aspek pendidikan adalah salah satu kunci untuk memaksimalkan agar kondisi demografi di atas menjadi sebuah keuntungan bagi pembangunan bangsa. Tanpa pendidikan yang memadai dan handal, maka bonus demografi bisa berbalik menjadi bencana demografi karena penduduk usia produktif tidak memiliki bekal pengetahuan dan keilmuan yang memadai serta lemah karakter kebangsaannya.

Salah satu ikhtiar untuk membuat demografi bisa berguna untuk bangsa adalah dengan menyiapkan sebaik mungkin sumber daya manusia. Kesiapan pemanfaatan ini merupakan hal yang mutlak dilakukan jika kita ingin menikmati bonus demografi. Tidak bisa dipungkiri, institusi penting yang bisa membantu menyiapkan SDM yang handal dan berkualitas adalah perguruan tinggi dan pondok pesantren.

Sejak lama keduanya adalah tempat terbaik untuk menyiapkan warga negara yang handal, berkualitas dan mampu bersaing dengan SDM yang lain. Sama-sama memiliki tugas pokok pengajaran dan tranformasi keilmuan, keduanya juga memiliki karakter unik. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang teruji dalam membentuk karakter santri sebagai seorang pembelajar. Sedangkan perguruan tinggi merupakan arena pendidikan tingkat lanjut pasca menempuh pendidikan jenjang aliyah atau SMA guna memperdalam suatu keilmuan yang ingin didalami.

Pentingnya Sinergi

Sebagai sesama lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, perguruan tinggi dan pondok pesantren memiliki niat dan tujuan sebangun yakni memajukan peradaban bangsa melalui transformasi pendidikan. Dalam menyiapkan diri menghadapi keuntungan demografi, menjadi penting bagi perguruan tinggi dan pondok pesantren untuk bergandengan tangan dan memperkokoh antara satu dengan lainnya.

Kombinasi keduanya diyakini akan menjadi amunisi yang dahsyat bagi tercapainya revolusi karakter bangsa yang merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK sebagaimana tersebut dalam Nawa Cita. Pondok pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan transformasi keilmuan tetapi dalam sejarahnya juga menanamkan karakter cinta tanah air dan bela bangsa. Dua aspek penting dalam pembentukan karakter bangsa sekaligus ciri utama pondok pesantren di Indonesia. Jika ada lembaga mendaku pondok pesantren tetapi menjadi tempat untuk “melawan” ideologi negara, maka perlu dipertanyakan kembali ruh ke-pesantren-annya.

Sementara perguruan tinggi di Indonesia merupakan arena dimana pendidikan, pengabdian dan penelitian saling beririsan. Perguruan tinggi tidak hanya tempat menyemai benih keilmuan dan pengajaran untuk menghasilkan suatu produk budaya dan sosial yang unggul tetapi sekaligus mendorong adanya transformasi keilmuan ke masyarakat melalui tugas pengabdian. Sebagai tempat pendidikan lanjutan pasca aliyah-SMA, maka perguruan tinggi menjadi salah satu tempat penting dalam mematangkan keilmuan seseorang.

Sementara dari sisi SDM, perguruan tinggi dan pondok pesantren adalah agen sosial yang sangat penting dalam memantik perubahan sosial di Indonesia dengan kekayaan tenaga pengajar dan santri atau mahasiswa yang jumlahnya bisa mencapai jutaan. Ilmu yang mumpuni dengan landasan karakter yang cinta tanah air dan bela bangsa diharapkan menjadi potret demografi di masa mendatang.

Dwitunggal Era Milienial

Untuk memperoleh potret semacam ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Penulis menyebut pondok pesantren dan perguruan tinggi adalah dwi tunggal yang memegang peranan penting di era milenial. Menghadapi generasi milenial, podok pesantren dan perguruan tinggi tidak bisa berpuas diri tetapi harus terus berinovasi dalam pengajaran, memanfaatkan teknologi dan aktif berkomunikasi.

Tiga hal ini penting dicermati agar generasi saat ini mau melirik pondok pesantren dan perguruan tinggi. Inovasi dalam pembelajaran diperlukan agar peserta didik tidak cepat bosan dan selalu diajak mengkontekstualisasikan apa yang dipelajari dalam dunia sehari-hari. Teknologi merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini. Adapun komunikasi yang aktif merupakan ciri utama masyarakat saat ini dimana orang bisa saling terhubung tanpa ada batas.

Dengan sinergi antara pondok pesantren dan perguruan tinggi, maka diharapkan di masa mendatang akan dihasilkan potret warga Indonesia yang memiliki ilmu yang memadai dengan pondasi cinta tanah air dan bela bangsa. Warga berilmu tinggi tetapi tidak memiliki karakter cinta bangsa akan menindas bangsanya sendiri dan mengeksploitasi SDA tanpa batas. Begitu juga warga yang hanya bermodal cinta tanah air dan membela bangsa yang tinggi tetapi tidak berilmu hanya akan melahirkan potret bangsa yang bermental pemalak.

Salah satu upaya untuk mensinergikan pondok pesantren dengan perguruan tinggi akan bisa dilihat dalam acara sosialisasi sekaligus sosialisasi ayo mondok wilayah Jawa Tengah di kampus IAIN Surakarta pada pekan lalu. Kegiatan ini harus ditempatkan sebagai langkah strategis untuk memulai kerja bareng antara pondok pesantren dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan potret warga negara yang memiliki keilmuan yang memadai dan berkarakter bela bangsa.

Pertemuan antara para pengelola pondok pesantren dengan perguruan tinggi diharapkan menjadi silaturahmi keilmuan sehingga menjadi jalan baru untuk meneguhkan duet pondok pesantren dan perguruan tinggi. Kokohnya duet ini diharapkan menjadi dasar yang kuat bagi pelaksanaan revolusi karakter bangsa sebagaimana dicita-citakan pemerintahan Jokowi-JK. Sudah saatnya pula gerakan #ayomondok berjalan beriringan dengan gerakan #ayokuliah agar potret demografi di masa mendatang menjadi bonus dan bukan bencana. (*)

M Zainal Anwar
Alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus dan Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Tulisan ini pertama kali dimuat pada Rubrik GAGASAN – SOLO POS, 23 Oktober 2017

Merawat Warisan Harmoni Sosial Walisongo

KETIKA bangsa Indonesia—khususnya umat Islam dalam kondisi terbelah pendapatnya—maka perlu merenung sejenak sejarah Nusantara di masa lampau. Apa yang perlu direnungkan? Sejarah Walisongo sebagai pembawa Islam di bumi Nusantara. Kenapa harus direnungkan kembali saat ini? Sebab Walisongo menjadi figur penginspirasi harmoni sosial.

Terlalu cepat nampaknya Indonesia dibuat gaduh (versi media sosial) akibat hajatan politik. Muslim satu dan lainnya berbeda pandangan soal tafsir “penistaan agama”. Belum lagi soal argumentasi agama yang dibenturkan dengan kecondongan pilihan kandidat Kepala Daerah. Seakan restu politik menjadi tunggal dan sudah kelewat batas dari titik harmoni.

Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq memberikan contoh dalam kondisi suasana politik Kesultanan Demak menghangat. Ia sebagai salah satu Panglima Perang Demak memilih untukbabad alas (membuka wilayah politik baru) di Kudus, daerah utara Demak. Konflik yang terjadi di Demak pun bukan sebagai lahan berebut kekuasaan semata. Tetapi menjadi pendewasaan berpolitik—yang sudah terintervensi gengsi kekuasaan Majapahit.

Akibat dari suasana yang demikian, Sunan Kudus mengambil jalan untuk memperkuat basis keilmuan dengantafaqquh fiddin (menguasai ilmu agama). Selain itu, keturunan Raja Demak bernama Ario Penangsang juga menjadi murid kesayangan Sunan Kudus. Itu dilakukan karena kecintaan Sunan Kudus pada keturunan Raja agar tidak lari mencari perlindungan Raja Majapahit.

Kisah Sunan Kalijaga dalam membangun pondasi Islam Nusantara yang penuh harmoni juga sudah nyata. Bangunan Islam yang ramah dengan masyarakat awam ia tancapkan mendarah daging hingga saat ini. Kesan Kesultanan Demak yang sangat terbuka untuk menjadi tempat curhat kawulo alit didorong oleh Sunan Kalijaga sebagai Penasehat Raja. Sunan Kalijaga juga membangun zona-zona politik berbasis harmoni dengan seni.

Seni semacam Wayang dan Gendhing Jawa (lagu Jawa) ia ciptakan sebagai pemersatu masyarakat Jawa yang saat itu sudah multiagama. Orang non muslim begitu mesra dengan Islam saat Sunan Kalijaga tampil dengan kesenian Jawa yang telah diislamkan. Dalam suasana yang demikian, masyarakat menyatu dalam seni untuk membangun harmoni sosial. Agama saat itu sudah menjadi perekat, bukan menjadi sumber konflik.

Kehadiran Maulana Malik Ibrahim di Gresik dalam membangun harmoni sosial juga nampak nyata. Di tengah kondisi masyarakat memiliki keyakinan terhadap Dewa, Islam tampil dengan ramah. Agama yang diyakini sebelum Maulana Malik Ibrahim hadir di Jawa tidak diusik. Keyakinan itu tetap dibiarkan berjalan. Itulah cikal bakal bangunan toleransi beragama sudah ada sejak abad 14 dan 15.

Ketika masyarakat meyakini bahwa meminta kepada Dewa harus dengan tumbal menyembelih perawan cantik, oleh Maulana Malik Ibrahim diganti dengan menyembelih ayam. Dan permintaan hujan dan berhentinya paceklik itu terkabulkan. Akhirnya masyarakat mulai mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim tanpa harus mengusik umat agama sebelumnya. Wajah Islam yang demikian harus kita lihat.

Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati juga demikian. Ia lahir dari keturunan Raja Siliwangi bernama Dewi Rara Santang. Praktis, bahwa perjuangan membuat Bumi Jawa Pasundan Betawi sebagai medan juang Islam didakwahkan dengan penuh damai dan toleran. Sunan Gunung Jati sadar bahwa Islam harus didakwahkan, tapi dakwah yang santun, bukan dengan dakwah yang berapi-api. Soal hadangan kelompok yang tidak sepakat, ia lakukan dengan penuh kasih sayang.

Ada hal yang perlu dipertegas soal kisah-kisah Walisongo. Maulana Habib Luthfi Pekalongan selalu menegaskan tentang kisah-kisah para Walisongo ini. Bahwa konflik Walisongo jangan dipahami dengan berdasar cerita lisan Ketoprak. Dimana dikesankan bahwa Walisongo dan Kesultanan Demak mudah pathen-pinathen(bunuh membunuh). Sungguh naif, jika kemuliaan Walisongo dalam membangun harmoni sosial itu tidak ditonjolkan.

Atas dasar itu, maka sudah waktunya masyarakat Indonesia kembali mengkaji nilai harmoni sosial yang telah diletakkan oleh Walisongo. Wajah Islam Nusantara yang penuh dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ini jelas nyata dibawa oleh Walisongo. Cara berdakwah yang dilakukan juga sangat tegas dengan memaknai wilayah agama, sosial, politik dan budaya.

Maka jika hari ini kita diperlihatkan dengan kondisi wajah Islam yang beragam, itulah Indonesia. Namun wajah Islam yang ramah dengan penuh kekeluargaan, itulah Islam yang ditinggalkan oleh Walisongo. Walisongo tidak mengajari dengan Islam yang menodai persatuan dan kesatuan.

Garis agama tegas bahwa Islam itu berdasar syariat yang telah ditentukan. Dan wilayah harmoni sosial dengan hidup berinteraksi dengan lintas agama, lintas negara dan lintas budaya itu juga dibangun secara baik. Walisongo terbukti mampu menyatukan interaksi agama Islam, Kapitayan, Hindu dan Budha. Walisongo juga berhasil membangun diplomasi Timur Tengah, India, China dan Nusantara. Semua warisan Walisongo tentang harmoni sosial itu patut dijaga dengan baik.*)

M Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Dosen UIN Walisongo, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

SANAD ALFIYYAH DI QUDSIYYAH BERSAMBUNG PADA MBAH KHOLIL BANGKALAN

DI kalangan pesantren, nama Syaikhona Kholil Bangkalan sangat popular sebagai ulama pertama yang membawa nadzom Alfiyyah ke tanah Jawa. Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah KH. Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim. Kiai Abdul Karim adalah putra Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sedang Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sewaktu menjadi Santri, Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan kitab, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran dan bahkan beliau juga mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Selama nyantri di Makkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Adapun gurunya yang lain ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sanad Alfiyyah di Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah, salah satu madrasah tua di Kudus masih mempertahankan kurikulum salaf yang diantaranya adalah mapel Nahwu dan Shorof. Dalam fan ini, Qudsiyyah masih konsisten menggunakan nadzam Alfiyyah sebagai rujukan materinya. Adapun ketika di MTs Qudsiyyah maka menggunakan kitab tarjamah Alfiyyah hasil karya guru Madrasah Qudsiyyah sendiri. Sedang di MA Qudsiyyah menggunakan kitab syarah Ibnu Aqil.

Sanad nadzam Alfiyyah di Qudsiyyah sendiri bersambung pada saikhona Kholil Bangkalan, salah satu ulama’ yang terkenal dengan kewaliannya. Adapun jalur sanad tersebut adalah :
1. KH. Nur Halim Ma’ruf (beliau mendapatkan sanad Alfiyyah dari ayah beliau sendiri, KH. Ma’ruf Asnawi)
2. KH. Ma’ruf Asnawi mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Ahmad Tarwadi Solo
3. Syekh Ahmad Tarwadi Solo mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Kholil Rembang
4. Syekh Kholil Rembang mendapat sanad dari guru beliau, Saikhona Kholil Bangkalan

Di madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1919 ini, hafalan nadzom Alfiyyah merupakan materi wajib yang harus dihafalkan oleh santri sebagai syarat kenaikan kelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga tradisi ulama terdahulu dalam menghafal nadzom yang berjumlah 1002 bait tersebut. Dan bagi santri yang telah hafal 1002 bait akan diberi syahadah/piagam sebagai apresiasi terhadap santri ketika Muwada’ah kelulusan kelas 12 MA Qudsiyyah.

Alfiyyah memang menarik dan menjadi materi wajib untuk setiap santri di berbagai pondok pesantren Nusantara ini tak terkecuali Qudsiyyah. Menghafal Alfiyyah memang membutuhkan usaha keras, namun ketika kita sudah menghafalnya maka janji dari Syekh Ibnu Malik pasti akan terwujud.
تقرب الاقصى بلفظ موجز * وتبسط البذل بوعد منجز
Semoga dengan masih mempertahankan ajaran salafuna al sholih kita selalu mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Amiin.

CINTA PAHLAWAN VERSI KH BISRI MUSTOFA

INDONESIA memiliki banyak pahlawan yang berjuang gigih meraih kemerdekaan. Tentunya perjuangan itu bukan hal sederhana. Mereka rela mengorbankan nyawa, jiwa, raga dan harta demi untuk bangsanya. Maka, mencintai para pahlawan merupakan satu hal yang penting ditanamkan. Salah satu pemikiran yang disampaikan oleh KH Bisri Mustofa adalah tentang cinta kepada para pahlawan.

KH Bisri Mustofa (selanjutnya disebut Mbah Bisri) merupakan salah satu ulama Nusantara yang lahir di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915. Ayahnya adalah pedagang kaya bernama H Zainal Mustofa (Djojo Mustopo) bin H Yahya (Podjojo) yang dikenal tekun dalam beragama dan sangat mencintai Kiai. Ibunya bernama Hj. Chodijah binti E. Zajjadi bin E. Sjamsuddin yang berdarah Makassar.

Nama Bisri Mustofa dipakai sejak pulang dari ibadah haji. Sebelumnya ia bernama Mashadi. Pernikahan H Zainal Mustofa dengan Hj. Chodijah melahirkan empat anak: Mashadi (Bisri), Salamah (Aminah), Misbach dan Ma’shum.Pendidikan Mbah Bisri dimulai dengan mengaji kepada KH Cholil Kasingan dan H. Zuhdi (kakak tiri). Mbah Bisri juga menjalankan Sekolah Jawa (Sekolah Ongko 2) selama tiga tahun dan dinyatakan lulus dengan mendapat sertifikat.

Mbah Bisri sempat mondok di Pesantren KH Chasbullah Kajen Pati. Waktu belajar banyak dihabiskan di Pondok Kasingan Rembang belajar dengan Kiai Suja’i (Kitab Alfiyyah) dan dan KH Cholil (Kitab Alfiyyah, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Iqna’, Jam’ul Jawami’, Uqudun Juman dan lain lain). Mbah Bisri sempat berniat mengaji di Pondok Pesantren Termas dibawah asuhan KH Dimyati, tapi niat itu gagal karena tidak mendapat restu KH Cholil.

Mbah Bisri juga pernah mengikuti khataman Kitab Bukhori Muslim yang dimulai pada 21 Sya’ban 1354 H bersama KH Hasyim Asya’ri di Tebuireng Jombang. Di tengah pengajian itu, tepatnya 10 Ramadan 1354 H, KH Hasyim Asy’ari jatuh sakit dan digantikan oleh KH Ilyas (Kitab Muslim) dan KH Baidlawi (Kitab Tajrid Bukhari).

Mbah Bisri juga memiliki dua guru dari sistem mengaji candak kulak(musyawarah kitab dan hasilnya dipakai mengajar) dengan Kyai Kamil dan Kyai Fadlali di Karanggeneng Rembang. Proses belajar tetap ia jalankan karena merasa haus ilmu, Mbah Bisri memilih mukim di Makkah setelah menunaikan ibadah haji tahun 1936. Di Makkah, Mbah Bisri berguru dengan: Syaikh Bakir, Syaikh Umar Chamdan Al Maghrabi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawie dan Syaikh Abdul Muhaimin.

Berbekal keilmuan itulah, Mbah Bisri kemudian berkembang menjadi figur ulama Nusantara yang dikenal sangat ‘alim. Rasa sayangnya KH Cholil seorang guru dari Mbah Bisri ditunjukkan dengan menjadikannya sebagai menantu. Mbah Bisri dinikahkan dengan putri KH Cholil bernama Ma’rufah pada 17 Rajab 1354 H/Juni 1935 M. Dari pernikahannya ini, Mbah Bisri memiliki anak: Cholil (lahir 1941), Mustofa (dikenal dengan sebutan Gus Mus, lahir 1943), Adieb (lahir 1950), Faridah (lahir 1952), Najichah (lahir 1955), Labib (1956), Nihayah (lahir 1958) dan Atikah (lahir 1964). Pada tahun 1967, Mbah Bisri menikah dengan Hj Umi Atiyah yang berasal dari Tegal dan melahirkan satu anak bernama Maemun (Ahmad Zainal Huda: 2005).

Ilmu yang dimiliki Mbah Bisri diajarkan di Pondok Kasingan dan Pondok Rembang yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Taman Pelajar Islam). Mbah Bisri dikenal memiliki tiga kemampuan: articulation, documentation dan organizing. Artikulasi dikuasai Mbah Bisri dalam teknik orasi dan pidato dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Kemampuan dokumentasi ditunjukkan dengan hasil karya tulisnya yang sangat banyak (276 kitab dan buku). Dan semangat organisasi dijalankan sebagai wadah perjuangan, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Diantara pokok pemikiran Mbah Bisri dalam mencintai pahlawan, ia abadikan dalam bentuk syi’iran Jawa “Ngudi Susilo” dengan menggunakan tulisan pegon, yaitu:

Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng * Jare ora kebangsaan ingkang majeng
Sawang iku Pangeran Diponegoro * Imam Bonjol Tengku Umar kang kuncoro
Kabeh podo belo bongso lan negoro * Podo ngagem destar pantes yen perwiro
Gujeng serban sasat gujeng Imam Bonjol * Sak kancane he anakku aja tolol
Timbang gundul apa ora luweh bagus * Ngagem tutup sirah koyo Raden Bagus

Memakai blangkon, surban dan sarung jadi pembicaraan. Dianggap tidak memiliki jiwa kebangsaan yang maju.
Lihatlah Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Tengku Umar yang sudah terkenal.
Semuanya dari mereka nyata-nyata membela bangsa dan negara dengan menggunakan pakaian kebesaran, nampak seperti Perwira.
Memakai surban sebagaimana Imam Bonjol. Dan janganlah menjadi orang bodoh.
Daripada tidak memakai penutup kepala, nampak kurang bagus. Maka pakailah penutup kepala agar seperti Raden Bagus (priyayi).

Dari pemaknaan syi’ir Jawa ini dapat diambil pemahaman bahwa mencintai para pahlawan itu empat pola yang harus dilakukan: mengikuti jejak cinta bangsa dan negara, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa, berilmu pengetahuan dan tidak sombong. Empat makna cinta terhadap perjuangan para pahlawan bangsa ini menjadi sangat penting bagi generasi sekarang.

Pertama, mengikuti jejak cinta bangsa dan negara. Para pahlawan yang telah gugur dalam medan perang benar-benar merasakan perjuangan nyata. Berbeda dengan generasi sekarang yang sudah secara instan menikmati kemerdekaan dan kenyamanan hidup di Indonesia. Maka cinta terhadap tanah air menjadi salah satu bagian dari menghormati para pahlawan pendahulu.

Kedua, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa. Wibawa seseorang, salah satunya memang dapat dilihat dari cara berpakaian. Oleh sebab itu, nasehat Mbah Bisri yang ditulis ini menjadi tauladan bahwa orang yang berpakaian rapi, maka nampak gagah dan siap menjadi pemimpin. Termasuk jenis pakaian yang berbeda blangkong/surban/sarung atau lainnya tidak menjadi pemisah rasa persatuan. Keanekaragaman pakaian itu menandakan potensi lokal yang harus dihargai. Yang paling penting adalah tidak merendahkan pakaian kebesaran yang dimiliki oleh orang lain.

Ketiga, berilmu pengetahuan menjadi salah satu bagian dari mencintai para pahlawan. Sebab tanpa ilmu pengetahuan, maka manusia akan menjadi bodoh. Maka Mbah Bisri berpesan: “Jangan jadi orang tolol/bodoh”. Sebab dengan kebodohan, orang akan gampang ditipu. Dan salah satu alasan penjajah Indonesia mampu berkuasa ratusan tahun karena penduduknya saat itu tidak memiliki ilmu pengetahuan. Penderitaan bangsa kita jangan sampai terulang lagi hanya karena banyak orang bodoh di Indonesia.

Dan keempat, tidak sombong. Setelah mengenang para pahlawan dan menambah ilmu pengetahuan, maka rasa kebangsaan harusnya semakin kuat. Jangan sampai perilaku itu berubah menjadi sombong (tidak menutup kepala). Kesombongan yang dimiliki oleh bangsa ini juga akan melahirkan ego-sektoral dengan melemahkan kelompok lain. Maka pesan tidak sombong ini menjadi penting agar hidup bersama-sama dengan penuh kerukunan mudah tercapai.

Pesan-pesan ulama Nusantara yang demikian ini memang perlu sekali dipahami secara baik. Dengan kekuatan bahasa sastra yang indah dan dapat dilagukan ini, menjadikan kita paham siapa sebenarnya KH Bisri Mustofa. Ia tak lain adalah figur Kiai dengan multitalenta dengan segudang nasehat-nasehat bagi generasi muda. Keberadaan kitab Ngudi Susilo ini juga hingga sekarang masih dipelajari di Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah sebagai buku pegangan belajar akhlak. Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Penulis adalah Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dana Dosen UIN Walisongo.

Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren

DUNIA pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang sangat kuat. Guru selalu menjadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Demikian pula guru, selalu senang jika melihat para santrinya sukses berkhidmah di tengah masyarakat luas. Tugas sebagai guru seakan tuntas memiliki generasi penerus. Santri juga merasa gembira karena dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

Demikian pula tampaknya yang dirasakan oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapakah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal sebagai sosok guru dan murid yang saling mendukung satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

KHR Asnawi adalah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah ketika mencari ilmu di Makkah bersama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi sangat lama bermukim di Makkah menjadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agam di rumah pondokannya.

Demikian pula KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah sejak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Di antara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah adalah Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqih), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqih), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqih).

Dari sisi nasab, kedua Kiai ini sama-sama keturunan dari Walisongo. KHR Asnawi keturunan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah adalah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga sangat wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya sangat memiliki kemiripan. Semangat dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga menjadi komitmen keduanya.

Salah satu perjuangan yang tidak pernah dilupakan oleh kedua Kiai ini adalah dalam mengusir penjajah. Kekuatan ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia sangat dibela mati-matian. Apalagi penjajah hadir di bumi Indonesia sangat mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang sudah dipeluk oleh penduduk Indonesia.

Sejak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah sudah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu bisa merdeka. Mbah Asnawi bersama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme sudah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kiai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membuat fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh semua penduduk Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, karena fitnah penjajah “geger pecinan”.

Dan justru dari balik jeruji penjara, dakwah KHR Asnawi semakin kuat dan semua santri membala mati-matian dengan membenci penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Semangat kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kepada murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam mendukung kemerdekaan sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah menjadi komitmen Mbah Wahab yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya semakin kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Karya Lagu Pesantren

Di antara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua kiai ini dikenal sebagai sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membuat syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membahas cara membuat sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil sejak di Makkah. Dan dunia pesantren memang tidak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi sudah sangat masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut sebagai Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu adalah:

لَحُرَّةٌ فِي انْدُنْسِيَا * بَدَتْ لَدَى إِنْسَانِيَا
وَأَهْلُهَا مُنْفَرِحُوْ * نَ فَرَحًا أَبَدِيَا
لِنَيْلِهَا قَدْ جَاهَدُوْا * أَنْفُسَهُمْ مَا بَاقِيَا
تَحْتَ يَدَيْ كُولُونِيَالْ * يَابَانِ وَالـهُولَنْدِيَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُعْزِرُوْا * إِلَى دِيْكُولْ إِيْرِيَانْ جَايَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُدْخِلُوْا * فِي السِّجْنِ قَلْبًا مَرْضِيَا
فَإِنَّهُمْ قَدْ أَخْلَصُوا * خِدْمَتَهُمْ وَطَنِيَا
تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ أَفْئِدَ * ةُ الشَّعْبِ عَوْنًا جَلِيَّا
لِأُمَّةٍ وَوَطَنٍ * يُقَدِّمُوْا بِلَادِيَا
جَزَاهُمُوْ إِلَـهُنَا * أَعْمَالَهُمْ مُرَبِّيَا
حُرِّيَّةَ الفِكْرِ الَّتِيْ * تَنَالُ دِيمُوْكْرَاسِيَا
عَدَالَةً خَيْرِيَّةً * عِمَارَةَ اقْتِصَادِيَا

Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia
Seluruh bangsa bergembira selamanya
Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total
Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda
Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya
Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan
Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara
Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata
Demi bangsa dan negara
Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka
Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi
Menuju kemakmuran keadilan sosial

Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sudah sangat masyhur dan akan menjadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang sejak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan sejak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya jelas menunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, yakni:

Jangan kalian menjadi orang terjajah
Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan
Harus dibuktikan dengan perbuatan

Karya pesantren dari dua Kiai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kiai dalam mendorong kemerdekaan dan merayakannya menjadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga mendengar “Yahlal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang menjadi Lagu Nasional. Dan guru Kiai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga memiliki Syi’ir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syi’ir Nasionalisme menyambut IR Soekarno sebagai Presiden RI.

Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa: “Setiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau selalu meminta nasehat dan saran dari Kiai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang selalu hati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab selalu minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir memiliki kesamaan.

Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu ‘arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab adalah sosok Kiai yang benar-benar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu harus pandai dan harus dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 & Dosen UIN Walisongo

Tulisan ini juga tayang di NUONLINE

Mempopulerkan Shalawat Kebangsaan Karya KHR Asnawi

DALAM rangkaian satu abad Qudsiyyah digelar acara “Mendaulat Shalawat Asnawiyyah sebagai Shalawat Kebangsaan” oleh Cak Nun bersama Kyai Kandjeng (3/8/2016). Pada hakikatnya acara itu adalah penegasan kembali tentang keberadaan shalawat Asnawiyyah yang sangat memiliki nilai cinta bangsa dan do’a abadi kedamaian Indonesia. Sebelum Cak Nun, Habib Syekh sudah membawa shalawat Aswiyyah dikumandangkan setiap majelis shalawat, baik di dalam negeri atau luar negeri.

Dan jauh sebelum itu, para kyai dan santri KHR Asnawi juga sudah mengenalkan dan mempopulerkan shalawat karya Mbah Asnawi ini. Buktinya nyata, bahwa di pesantren berbasis NU sangat mengenal bait-bait shalawat Asnawiyyah tersebut. Lagu dan nada pelantunannya memang berbeda-beda sesuai dengan selera dimana shalawat itu dikumandangkang.

Bagi generasi masa sekarang, memang sangat perlu penegasan kembali eksistensi shalawat ini. Tepat jika momentum satu abad menjadi pijakan untuk mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Dan pasca mendaulat, masih banyak PR yang harus dilakukan. Sebab jika hanya didaulat saja, maka akan sepi dari makna aslinya. Sebab shalawat itu adalah kalimat yang perlu dilafadzkan, bukan hanya didaulat.

Maka yang paling penting hari ini adalah mencetak generasi shalawat, kader yang cinta shalawat dengan membaca shalawat Asnawiyyah. Akan lebih mulia jika pembacaan shalawat Asnawiyyah dijam’iyyahkan dan dirutinkan. Maka jam’iyyah seperti Rebana Al Mubarok Qudsiyyah menjadi salah satu garda depan penjaga eksistensi shalawat Asnawiyyah. Sudah 11 album yang dikeluarkan oleh Al Mubarok selalu mengumandangkan shalawat Asnawiyyah.

Bagaimana isi dari shalawat Asnawiyyah sehingga layak disebut shalawat kebangsaan? Pertanyaan ini selalu saya terima dari banyak kawan yang masih belum paham secara detail isi dari shalawat itu. Maka ada tanggung jawab akademik yang harus dijelaskan. Penulis dengan segala kekurangan berikhtiyar membaca hermeneutika shalawat Asnawiyyah.

Sang pencipta shalawat Asnawiyyah bernama KHR Asnawi yang hidup di abad 19. Sosok Kyai Asnawi dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan penjaga garis Islam ahlussunnah wal jama’ah. Kiprahnya tidak hanya di lingkup lokal Kota Kudus, tetapi kiprah di level nasional dan internasional. Dalam bidang karya tulis, Mbah Asnawi juga melahirkan banyak karya: Fashalatan, Mu’taqad Seket, Fiqhun Nisa’ dan Syi’ir-Syi’ran Nasehat. Yang paling khas dikenal dari karya Mbah Asnawi adalah shalawat Asnawiyyah.

Dalam hal karya tulis, Mbah Asnawi memiliki karakter seperti gurunya KH Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat). Dua tokoh ini meninggalkan karya-karya yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf pegon al-Marikiyyah. Dalam hal ketegasan menolak penjajah, pengaruh Mbah Sholeh Darat dalam pribadi Mbah Asnawi sangat kuat. Terbukti Mbah Asnawi sangat menolak dasi, celana dan pakaian yang menyerupai Belanda.

Sikap itu juga dimiliki oleh Mbah Sholeh Darat yang ditulis dalam Kitab Majmu’atus Syari’ah halaman 25: “Sopo wonge nganggo penganggone liyani ahli Islam kaya klambi jas, topi utowo dasi, moko dadi murtad rusak Islame senadyan atine ora demen” (barang siapa yang memakai pakaian yang bukan milik Islam seperti jas, topi dan dasi, maka ia menjadi murtad dan Islamnya rusak. Walaupun hatinya tidak suka).

Dari profil singkat itu dapat diketahui, bahwa rasa kebangsaan yang dimiliki oleh Mbah Asnawi memang didasarkan ajaran-ajaran gurunya, termasuk meniru Rasulullah dalam memperjuangkan agama Islam. KHR Asnawi paham betul bahwa Indonesia saat itu sangat membutuhkan kekuatan Islam dengan model damai. Shalawat Asnawiyyah yang diciptakan itu menandakan bahwa pribadi Mbah Asnawi adalah pribadi ulama yang sangat kuat cinta bangsanya.

Isi dari shalawat ini adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْ *  لِ مُـحَمَّدٍ سِرِّ العُلَا

وَالأَنْبِيَا وَالـمُرْسَلِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ           * نَ الغُرِّ خَتْمًا أَوَّلَا

يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَـــــــــــــــــــــــــــــــــا            * بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا

وَافْتَحْ لَــنَــــــــــــــــــا بِدَرْسِ أَوْ            * قِرَاءَةٍ تُرَتـَّـــــــــــــــــــــــلَا

وَارْزُقْ بِفَهْمِ الأَنْبِيَـــــــــــــــا   * لَنَا وَأَيَّ مَنْ تَلَا

ثَبِّتْ بِهِ إِيْـــمَانَـــنـَـــــــــــــــــــــــا  * دُنْيَا وَأُخْرَى كَامِلَا

أمان أمان أمان أمان   * بِانْدُنْسِيَا رَايَا أَمَانْ

أمين أمين أمين أمين   * يَا رَبِّ رَبَّ العَالـَمِيْن

أمين أمين أمين أمين   * وَيَا مُـجِيْبَ السَّائِلِيْن

Shalawat Asnawiyyah diterjemahkan oleh Ustadz Nur Amin (guru Qudsiyyah) sebagai berikut:

Wahai tuhanku berilah * sholawat kepada rasul

Baginda Nabi Muhammad * yang punya rahasia unggul

Dan para nabi dan rasul * awal akhir mulya betul

Wahai tuhanku berilah * sinar pada hati kami

Dengan cahaya al-Qur’an * yang agung serta nan suci

Dan bukalah kami sebab * baca Qur’an yang teliti

Dan berilah rizqi dengan * kefahaman para nabi

Untuk kami orang-orang * yang membaca dan mengaji

Iman tetap sebab Nabi * dunia akhirat terpuji

Aman  aman  aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * Indonesia raya aman

Amin amin amin amin * Amin amin amin amin

Amin amin amin amin * ya perumat alam semesta

Amin amin amin amins * ya pengkabul para peminta

Dari sebelas bait shalawat Asnawiyyah ini meman terkandung makna yang sangat luar biasa. Ruh yang paling inti adalah pujian kepada Rasulullah Saw. Sebab esensi dari shalawat adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw yang memiliki rahasia kehidupan. Do’a untuk penyinar hati juga disanjungkan dengan tuntunan al-Qur’an. Rasa cinta kepada al-Qur’an juga diaktualisasikan dengan mahirnya dalam membaca dan mengaji secara tartil. Dan itulah rizki yang sangat dinanti. Penguatan keimanan dan keselamatan dunia sangat dinanti. Do’a yang dipanjatkan setelah itu adalah keamanan bagi bangsa Indonesia. Kalimat qabul disandarkan pada Allah Swt.

Itulah hebatnya shalawat Asnawiyyah yang jika dibedah memiliki lima dimensi yang tidak bisa dipisahkan: Pertama, dimensi ketuhanan. Bahwa semua orang yang hidup selalu bergantung pada kekuasaan Allah. Kedua, dimensi kenabian. Bahwa Rasulullah Saw adalah figur idola yang sangat dinantikan syafa’atnya. Ketiga, dimensi Qur’ani. Untuk memahami Islam yang perlu dipegang adalah al-Qur’an dengan membaca isinya (paham bahasa Arab dan tafsir) dan ahli tarlil (paham tajwid dan ilmu al-Qur’an). Keempat, dimensi teologi. Penegasan keimanan dalam agama Islam itu menjadi sangat penting sebagai bekal selamat di akhirat. Dan kelima, dimensi kebangsaan. Mbah Asnawi memberi pesan bahwa empat dimensi yang terkandung dalam isi shalawat itu tidak akan mudah diwujudkan jika negara dalam kondisi tidak aman. Maka do’a untuk Indonesia aman, damai, gemah ripah loh jinawe itu yang dimaksudkan dari isi shalawat ini.

Jadi sangat mulia sekali isi shalawat ini. Dan perlu ditegaskan bahwa karya Mbah Asnawi yang berisi tentang nilai kebangsaan tidak hanya berupa shalawat Asnawiyyah ini. Hampir semua sya’ir-sya’ir yang dikaryakan selalu menyinggung tentang pentingnya cinta agama dan cinta bangsa Indonesia. Maka tepat jika, KH Musthofa Bisri menyebut bahwa KHR Asnawi adalah orang ‘alim yang sangat Indonesia, bukan kearab-araban walaupun lama di Arab. Maka sudah saatnya kita mempopulerkan shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Wallahu a’lam. (*)

M. Rikza Chamami

Alumni Qudsiyyah 2000, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

QUDSIYYAH DAN ISLAM NUSANTARA

SEBAGAI madrasah salaf, Qudsiyyah sebenarnya memiliki potensi dan peran signifikan di dalam penebaran Islam yang kultural, moderat dan progresif. Mengapa? Karena ia merupakan “pewaris sah” dari pola keislaman Menara Kudus.

Bukan hanya karena letaknya yang dekat dengan Menara, karya Sunan Kudus, Qudsiyyah memang memiliki karakter keislaman Sunan Kudus yang fiqhiyyah atau syar’i di satu sisi, dan kultural pada saat bersamaan. Sisi kultural inilah yang kini dieksplorasi oleh perkumpulan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ) dalam rangka perayaan 1 Abad Qudsiyyah. Misalnya dengan memakai dan menampakkan kembali cara pakaian tradisional Muslim Kudus di era Sunan Kudus.

Dengan demikian, ketika kini Muslim moderat Indonesia tengah mengembangkan wacana dan kultur keislaman, Islam Nusantara, Qudsiyyah sebenarnya bisa menjadi gerbong sosial-pendidikan yang menggerakkan ini di Kota Kudus dan Jawa Tengah pada umumnya.

Hal ini terjadi karena sebagai lembaga pendidikan, Qudsiyyah sebenarnya merupakan pesantren berbaju madrasah, apalagi sekarang telah berdiri Ma’had Qudsiyyah tersendiri. Saya sendiri merasakan betapa ketat pendidikan kepesantrenan dalam bentuk pembelajaran ilmu ‘alat, -terutama nahwu, shorof-, sehingga saya harus mengulang masuk kelas 4 MI, padahal saat itu saya sudah lulusan SD. Keketatan ini yang membuat murid dan alumni Qudsiyyah -yang rajin- bisa merasakan apa makna tafaqquh fi al-din.

Kepesantrenan dalam arti pembelajaran dan penguasaan tradisi Islam salaf inilah yang menjadi salah satu karakter utama Islam Nusantara. Sebagaimana dijelaskan oleh KH Abdurrahman Wahid, Islam di Nusantara memuncak pada pembentukan kultur Islam fikih-sufistik, yang merupakan kultur pesantren. Kultur ini merujuk pada ketaatan atas syariah, didasari oleh pembelajaran dan penguasaan ilmu-ilmu fikih yang kompleks, serta penghayatan terhadap tasawuf. Jika diibaratkan tubuh, fikih menjadi tubuh, berisi “kebatinan” sufistik. Tentu sufisme dalam tradisi Islam Sunni yang mengarah pada pembersihan hati (tazkiyah al-nafs) serta pemuliaan akhlak.

Qudsiyyah memiliki ini, karena para murid tidak hanya dididik menguasai ilmu tapi juga mempraktikkan agama secara benar, demi pengabdian masyarakat. Poin terakhir ini juga penting: pengabdian masyarakat. Sebab, murid Qudsiyyah digodog tidak hanya untuk jadi guru agama, modin, atau nanti sarjana, melainkan terlebih menjadi kiai. Peran kekiaian di sini merujuk pada peran pembimbingan masyarakat demi hidup keagamaan yang lebih baik.

Di samping kultur pesantren salaf yang dididikkan di Qudsiyyah, madrasah ini juga dekat dengan kultur kesunanan Kudus yang memusat di dalam aktivitas religius di Menara Kudus. Ini terlihat tidak hanya dalam tradisi ziarah yang dilakukan para murid di makam Sunan Kudus, tetapi juga posisi pengasuh Qudsiyyah yang mengelola Yayasan Menara Kudus. Inilah mengapa momen 1 Abad Qudsiyyah dipusatkan di area Menara Kudus berbasis latar kultural Kudus era Sunan Kudus.

Langkah Strategis
Dengan potensi dan posisi strategis ini, Qudsiyyah bisa menjadi penggerak Islam Nusantara dengan beberapa catatan. Pertama, para murid senior, guru dan alumninya mengembangkan wacana Islam Nusantara dalam rangka pengembangan pemikiran Islam. Hal ini belum terjadi karena warga Qudsiyyah seperti layaknya kebanyakan umat Islam: terlelap di lumbung sendiri. Artinya, peradaban Islam itu begitu kaya, namun tak digali karena lebih nyaman melampahinya sebagai budaya (kebiasaan), daripada objek studi yang diteliti.

Akan tetapi hal ini tak mustahil, sebab para guru dan alumni merupakan aktivis Islam progresif yang bergerak mengembangkan keislaman moderat. Aktivisme ini pula yang menjadi nilai plus Qudsiyyah -yang tak dimiliki sekolah lain- karena sejak awal, para guru dan kiai mendorong kreativitas murid untuk mengembangkan agenda-agenda pergerakan Islam, salah satunya melalui penerbitan majalah sekolah yang kualitas temanya mendekati majalah kampus.

Kedua, Qudsiyyah perlu memelopori program riset besar-besar mengenai akar Islam Nusantara di Kudus, berpijak dari riset tentang sejarah dan kebudayaan Islam Sunan Kudus. Riset ini kemudian bisa diperluas ke area budaya Kudus lain, misalnya pola keislaman yang dibentuk Sunan Muria, kesinambungan pesantren dengan pendidikan Islam para Sunan, dll. Intinya mempraksiskan Islam Nusantara sebagai kerja akademik. Tentu kerja intelektual ini tak bisa dilakukan para murid. Ia harus digerakkan para guru dan ikatan alumni.

Ketiga, mengangkat geliat Islam Nusantara dari Kudus Ke kancah nasional, karena wacana Islam Nusantara itu sendiri merupakan wacana nasional.
Dengan cara ini, segenap potensi dan aktivisme Islam Qudsiyyah akan menemukan perannya dalam pergerakan Islam di Indonesia. Sebab Islam Nusantara itu sendiri memang berakar di lokalitas keislaman seluruh Nusantara. Selamat 1 Abad Qudsiyyah! (*)

Oleh: Syaiful Arif
Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah angkatan tahun 2000. Kini dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta. Penulis buku Falsafah Kebudayaan Pancasila, Nilai dan Kontradiksi Sosialnya (Gramedia Pustaka Utama, 2016)