Meriahkan Mlaku-Mlaku Bareng Santri dengan Sholawat dan Rebana

QUDSIYYAH, KUDUS – Qudsiyyah Kudus turut andil dalam event besar Mlaku-Mlaku Bareng Santri (MMBS) yang digagas PCNU dan Pemkab Kudus pada Ahad pagi, 29 Oktober 2017. Seluruh santri, mulai dari MI, MTs, MA dan Pesantren tumplek blek meramaikan acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu santri Kudus ini.

Bersarung batik dan memakai koko serta sebagian memakai baju batik “kangkung” khas seragam Qudsiyyah, sekitar dua ribu santri Qudsiyyah meramaikan acara mlaku-mlaku yang digelar dalam rangka puncak acara Hari Santri Nasional 22 Oktober kabupaten Kudus ini. Mereka membawa tulisan dan sepanduk yang berisikan jargon santri Kudus, seperti “Kudus Kota Santri”, “Santri Menolak Paham Khilafah”, “NKRI harga Mati”, “Santri No Drug” dan sebagainya.


Selain itu, sebagai bagian dalam kemeriahkan acara ini, peserta dari Qudsiyyah juga membawa lengkap Rebana lengkap dengan microphone dan sound kecil yang dicangking. Sepanjang jalan mulai dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga finish kembali di tempat yang sama, mereka bersholawat dengan lagu-lgu khas Qudsiyyah, seperti Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Qudsiyyah, Madrasati Aman-Aman, dan Sholawat Nabi lainnya. Praktis, dengan sholawat dan tabuhan rebana ini, menjadikan jalan santai santri ini semakin meriah.

Usai mlaku bareng, di panggung utama, sebagian santri Qudsiyyah ada juga yang ketiban hadiah. Diantaranya ada yang mendapatkan lemari es dan hadiah doorprize lain yang disiapkan panitia.

 

Dalam MMBS ini juga dimeriahkan adanya atraksi pagar Nusa. Sebelum start MMBS, puluhan pesilat dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menampilkan senam jurus khas Pagar Nusa. Kemudian, para pesilat Pagar Nusa dari pondok pesantren Qudsiyah Kudus dan pondok pesantren Sabilul Rosyad Pringsewu Bakalan Krapyak menunjukkan kemampuannya memecah genteng dengan kepala, mematahkan besi pakai tangan kosong, menarik mobil dan tubuh dilindas motor trail.

Pesilat Adi Purnomo menarik mobil sedan dengan 10 penumpang memukau ribuan pasang mata peserta MMBS. Mobil diikat pakai tali kemudian ditarik dengan mulut Andri berjalan hingga sejauh 10 meter lebih. Atraksi berlanjut, tujuh orang pesilat tidur di aspal kemudian dilindas dua motor trail secara bergiliran yang dikendarai Hari Sudrajat dan Yuni Agustin pesilat perempuan. Mereka yang dilindaspun tidak mengalami cedera apapun. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Masuk Lima Besar FTP 2017

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk lima besar Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2017. Dengan hasil ini, praktis teater Qudsiyyah menembus babak final dalam pagelaran kesenian tahunan tersebut.

Dari 13 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi lima finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada awal November mendatang di GOR Djarum Kaliputu Kudus.
Dari lima finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA yang berhasil lolos di babak final. Empat lainnya adalah teater Oscar, SMK NU Hasyim Asy’ari 2, Teater Saka, SMK 2 Kudus, teater Apotik, SMK Duta Karya, dan teater Studi One, SMA 1 Kudus.

Seleksi yang dilaksanakan oleh teater MA Qudsiyyah dilaksanakan pada Rabu, 25 Oktober 2017 di Gedung Muslimat Glantengan Kota Kudus sekitar pukul 09.00 pagi.

Adapun tingkat SLTP, empat kelompok teater masuk ke babak final. Keempat terater tersebut adalah tetar Bobot, SMP 1 Kudus, teater Essaka, SMP 1 Kaliwungu, teater Ukur, MTs NU Maslakul Falah, dan teater PR, MTs Nahdlatul Athfal. (Kharis)

Menyandingkan Mondok dan Kuliah

PADA tahun 2028-2030, Indonesia diperkirakan akan berada pada puncak bonus demografi (BPS, 2015). Kondisi ini membuat komposisi penduduk Indonesia dihuni lebih banyak penduduk usia produktif yakni pada usia 15-64 tahun. Disebut bonus atau keuntungan tentu saja jika kita mampu memaksimalkan kesempatan dan potensi tersebut. Sebaliknya, jika kita gagal mengantisipasi kondisi demografi tersebut, maka bukan bonus namanya tetapi bencana demografi yang akan terjadi.

Salah satu persiapan untuk mengoptimalkan kondisi demografi tersebut adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan berkarakter. Aspek pendidikan adalah salah satu kunci untuk memaksimalkan agar kondisi demografi di atas menjadi sebuah keuntungan bagi pembangunan bangsa. Tanpa pendidikan yang memadai dan handal, maka bonus demografi bisa berbalik menjadi bencana demografi karena penduduk usia produktif tidak memiliki bekal pengetahuan dan keilmuan yang memadai serta lemah karakter kebangsaannya.

Salah satu ikhtiar untuk membuat demografi bisa berguna untuk bangsa adalah dengan menyiapkan sebaik mungkin sumber daya manusia. Kesiapan pemanfaatan ini merupakan hal yang mutlak dilakukan jika kita ingin menikmati bonus demografi. Tidak bisa dipungkiri, institusi penting yang bisa membantu menyiapkan SDM yang handal dan berkualitas adalah perguruan tinggi dan pondok pesantren.

Sejak lama keduanya adalah tempat terbaik untuk menyiapkan warga negara yang handal, berkualitas dan mampu bersaing dengan SDM yang lain. Sama-sama memiliki tugas pokok pengajaran dan tranformasi keilmuan, keduanya juga memiliki karakter unik. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang teruji dalam membentuk karakter santri sebagai seorang pembelajar. Sedangkan perguruan tinggi merupakan arena pendidikan tingkat lanjut pasca menempuh pendidikan jenjang aliyah atau SMA guna memperdalam suatu keilmuan yang ingin didalami.

Pentingnya Sinergi

Sebagai sesama lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, perguruan tinggi dan pondok pesantren memiliki niat dan tujuan sebangun yakni memajukan peradaban bangsa melalui transformasi pendidikan. Dalam menyiapkan diri menghadapi keuntungan demografi, menjadi penting bagi perguruan tinggi dan pondok pesantren untuk bergandengan tangan dan memperkokoh antara satu dengan lainnya.

Kombinasi keduanya diyakini akan menjadi amunisi yang dahsyat bagi tercapainya revolusi karakter bangsa yang merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK sebagaimana tersebut dalam Nawa Cita. Pondok pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan transformasi keilmuan tetapi dalam sejarahnya juga menanamkan karakter cinta tanah air dan bela bangsa. Dua aspek penting dalam pembentukan karakter bangsa sekaligus ciri utama pondok pesantren di Indonesia. Jika ada lembaga mendaku pondok pesantren tetapi menjadi tempat untuk “melawan” ideologi negara, maka perlu dipertanyakan kembali ruh ke-pesantren-annya.

Sementara perguruan tinggi di Indonesia merupakan arena dimana pendidikan, pengabdian dan penelitian saling beririsan. Perguruan tinggi tidak hanya tempat menyemai benih keilmuan dan pengajaran untuk menghasilkan suatu produk budaya dan sosial yang unggul tetapi sekaligus mendorong adanya transformasi keilmuan ke masyarakat melalui tugas pengabdian. Sebagai tempat pendidikan lanjutan pasca aliyah-SMA, maka perguruan tinggi menjadi salah satu tempat penting dalam mematangkan keilmuan seseorang.

Sementara dari sisi SDM, perguruan tinggi dan pondok pesantren adalah agen sosial yang sangat penting dalam memantik perubahan sosial di Indonesia dengan kekayaan tenaga pengajar dan santri atau mahasiswa yang jumlahnya bisa mencapai jutaan. Ilmu yang mumpuni dengan landasan karakter yang cinta tanah air dan bela bangsa diharapkan menjadi potret demografi di masa mendatang.

Dwitunggal Era Milienial

Untuk memperoleh potret semacam ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Penulis menyebut pondok pesantren dan perguruan tinggi adalah dwi tunggal yang memegang peranan penting di era milenial. Menghadapi generasi milenial, podok pesantren dan perguruan tinggi tidak bisa berpuas diri tetapi harus terus berinovasi dalam pengajaran, memanfaatkan teknologi dan aktif berkomunikasi.

Tiga hal ini penting dicermati agar generasi saat ini mau melirik pondok pesantren dan perguruan tinggi. Inovasi dalam pembelajaran diperlukan agar peserta didik tidak cepat bosan dan selalu diajak mengkontekstualisasikan apa yang dipelajari dalam dunia sehari-hari. Teknologi merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat ini. Adapun komunikasi yang aktif merupakan ciri utama masyarakat saat ini dimana orang bisa saling terhubung tanpa ada batas.

Dengan sinergi antara pondok pesantren dan perguruan tinggi, maka diharapkan di masa mendatang akan dihasilkan potret warga Indonesia yang memiliki ilmu yang memadai dengan pondasi cinta tanah air dan bela bangsa. Warga berilmu tinggi tetapi tidak memiliki karakter cinta bangsa akan menindas bangsanya sendiri dan mengeksploitasi SDA tanpa batas. Begitu juga warga yang hanya bermodal cinta tanah air dan membela bangsa yang tinggi tetapi tidak berilmu hanya akan melahirkan potret bangsa yang bermental pemalak.

Salah satu upaya untuk mensinergikan pondok pesantren dengan perguruan tinggi akan bisa dilihat dalam acara sosialisasi sekaligus sosialisasi ayo mondok wilayah Jawa Tengah di kampus IAIN Surakarta pada pekan lalu. Kegiatan ini harus ditempatkan sebagai langkah strategis untuk memulai kerja bareng antara pondok pesantren dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan potret warga negara yang memiliki keilmuan yang memadai dan berkarakter bela bangsa.

Pertemuan antara para pengelola pondok pesantren dengan perguruan tinggi diharapkan menjadi silaturahmi keilmuan sehingga menjadi jalan baru untuk meneguhkan duet pondok pesantren dan perguruan tinggi. Kokohnya duet ini diharapkan menjadi dasar yang kuat bagi pelaksanaan revolusi karakter bangsa sebagaimana dicita-citakan pemerintahan Jokowi-JK. Sudah saatnya pula gerakan #ayomondok berjalan beriringan dengan gerakan #ayokuliah agar potret demografi di masa mendatang menjadi bonus dan bukan bencana. (*)

M Zainal Anwar
Alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus dan Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Tulisan ini pertama kali dimuat pada Rubrik GAGASAN – SOLO POS, 23 Oktober 2017

Qudsiyyah Putri Peringati HSN dengan Pembacaan Sholawat Nariyyah dan Nobar

QUDSIYYAH, KUDUS – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 kali ini sangat meriah. Banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan baik oleh pemerintahan maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta banomnya. Untuk pertama kalinya, Qudsiyyah Putri tak mau kehilangan momentum dalam HSN tahun ini. Berbagai kegiatan diadakan untuk mengisi HSN sekaligus mengurangi kepenatan dalam kegiatan belajar mengajar santri. Diantaranya adalah pembacaan Sholawat Nariyah, upacara dan nonton bareng (nobar) film pesantren.

Qudsiyyah putri turut serta menjadi bagian dari program PBNU dalam “Pembacaan 1 milyar sholawat” yang bertepatan dengan HSN ini. Santri Qudsiyyah putri membaca Sholawat Nariyyah sebanyak 4444 sholawat yang telah terlaksana pada Sabtu malam (21/10/2017) ba’dal Maghrib. Pembacaan sholawat yang dalam riwayat lain bernama sholawat “Taziyyah” ini diharapkan menjadikan negara Indonesia aman dan terhindar dari marabahaya.

Tepat pada Ahad 22 Oktober 2017, pagi Qudsiyyah putri ikut berpartisipasi dalam apel bersama di alun-alun simpang tujuh Kudus, lengkap dengan seragam khas Qudsiyyah putri, yakni batik “kangkung” dengan bawahan putih dan kerudung putih.

Usai upacara, santri-santri mengikuti nobar film “Cahaya Cinta Pesantren” yang bertempat di Aula MTs Qudsiyyah Putri. Dalam pemutaran film tersebut santri-santri diberi tugas untuk menulis kesimpulan dan cerita singkatnya. Film yang berlatar pondok pesantren tersebut berhasil mengaduk emosi santri putri. Banyak dari mereka yang menangis dan histeris dengan cerita film yang disutradarai oleh Raymond Handaya ini.

Diharapkan, dengan adanya nobar ini, santri Qudsiyyah putri bisa termotivasi serta betah mondok, dan menjadi santri yang salaf, sholihah, dan mandiri. (Isbah/Kharis)

HSN di MTs Qudsiyyah, Mulai Upacara hingga Penanaman

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasinal yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017 dimanfaatkan oleh MTs Qudsiyyah Kudus untuk menanamkan karakter yang kuat kepada para siswanya. Selain menyelenggarakan upacara yang di dalamnya dilantunkan lagu Ya Lal Wathan dan Sholawat Asnawiyyah, Juga diselenggarakan Istighatsah dan kegiatan menanam bersama sebagai wujud kepedulian santri terhadap lingkungan.

Sholawat Asnawiyyah dipilih dan selalu terdengar di setiap acara yang diselenggarakan MTs Qudsiyyah karena diciptakan oleh KHR Asnawi yang merupakan pendiri madrsah tersebut. Dalam syairnya juga mengandung doa untuk keamanan bangsa Indonesia.

Pada pelaksanaan upacara hari santri ini, upacara yang dilaksanakan di Lapangan Qudsiyyah di JL. KHR Asnawi dan diikuti sekitar 1.300 siswa MTS dan MA ini. Para siswa memakai sarung yang merupakan pakaian khas ala santri dan baju koko putih. Diharapkan nilai karakter santri akan terus melekat pada diri siswa bahkan pada saat bermasyarakat nanti. Dalam sambutannya, sesepuh Qudsiyyah, KH. Ahmad Sudardi, megingatkan kepada para Santri untuk bangkit dan mengingat jasa mbah Hasyim Asy’ari dan para santri zaman dulu saat mempertahankan kemerdekaan. Sehingga para santri di era kini, dapat meneladani sekaligus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini.

Dalam upacara tersebut juga dibagikan dana santunan kepada sejumlah 40 siswa. Dan juga pemberian penghargaan bagi siswa yang telah berhasil mengharumkan nama madrasah di berbagai perlombaan yang telah diikuti. MTs Qudsiyyah telah menyabet Juara 1 Tilawah, Juara 1 Tartil, dan juara 1 Tahfidz pada ajang MTQ Pelajar dan MTQ Umum tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017 yang telah diselenggarakan pada september bulan lalu. Berbagai piala di perlombaan kepramukaan juga turut menambah deretan daftar prestasi MTs Qudsiyyah tahun ini. Diharapkan prestasi yang telah diraih ini terus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

Setelah upacara selesai, para siswa dipimpin oleh guru kelas melanjutkan dengan istighatsah dan doa untuk keamanan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Siswa juga tidak lupa untuk mendoakan para pahlawan muslim yang telah berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Santri Menanam

Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama untuk meresponnya, tak terkecuali para santri. Peran aktif santri dapat diwujudkan dengan kepedulian pada lingkungan. Hal ini disadari MTs Qudsiyyah dengan mengajak para siswa untuk menanam bunga di lingkungan sekolah. Lebih dari seratus bunga yang dibawa para siwa untuk ditanam di taman milik madrasah.


Selain untuk menambah keindahan dan mengurangi pemanasan global, kegiatan ini juga dimaksud untuk menanam karakter santri agar peduli dan mencintai lingkungan. Memang untuk menanam karakter tidak bisa instan. Dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan butuh waktu sampai santri mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungannya. (Yasfin/kharis)

KEPUNGAN SEGO KEPEL DI HARI SANTRI NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Kepungan sego kepel yang diikuti oleh ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menjadi puncak acara kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 di MI Qudsiyyah Kudus, pada Ahad, 22 Oktober 2017 di halaman MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Beralaskan daun pisang, berisi nasi putih satu kepel, sambal goreng, telur dan kerupuk, ratusan santri berjajar dan mengepung nasi kepel tersebut secara serentak. Usai dikomando, semua santri langsung memakan nasi kepel tersebut hingga tuntas tak tersisa.

Kegiatan kepungan nasi santri ini merupakan salah sati dari berbagai kegiatan peringatan HSN, 22 Oktober di MI Qudsiyyah tahun 2017. Acara ini dipandegani oleh pihak madrasah beserta paguyuban wali santri MI Qudsiyyah. Beberapa acara lainnya antara lain, upacara Hari Santri Nasional, Ziarah dan Khatmil Qur’an di makam pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi, lampah laku bareng santri, Badum sego bungkus untuk fakir miskin, nyumbang buku, dan tali asih.

Kepungan nasi oleh santri ini sebagai salah satu wahana untuk bahwa meningkatkan kebersamanaan dan kerjasama sebagai ciri khas dan kekuatan masyarakat bangsa ini. Di samping itu, kepungan nasi ini sangat tepat untuk mengingatkan kembali tradisi santri makan kepungan bersama-sama yang kini mulai jarang adanya dan tergeser dengan nasi kotak maupun nasi bungkus.

Kepala MI Qudsiyyah, M. Aftoni mengatakan, Kegiatan ini mengangkat tema “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Diharapkan melalui kegiatan dan tema ini semua santri madrasah untuk senantiana selalu belajar yang rajin untuk menjadi generasi penerus bangsa Indonesia yang akan datang. “Lebih dari itu, para santri diharapkan siap sedia untuk membela tanah air Indonesia dan menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, sehingga negeri Indonesia ini menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” jelasnya. (Kharis)

SANTRI MI QUDSIYYAH GELAR UPACARA DAN NOBAR “SANG KYAI”

QUDSIYYAH, KUDUS – Pada hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017, ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menggelar upacara Hari Kesaktian pancasila, di lapangan MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Ratusan santri berseragam batik “kangkung”, seragam khas Qudsiyyah, berjajar rapi dalam barisan.

Dalam amanat upacara, kepala MI, M. Afthoni, menyerukan kepada seluruh santri untuk tidak melupakan sejarah. Sejarah perjanalan panjang kemerdekaan bangsa ini seyogyanya dijadikan acuan bagi generasi muda sekarang untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat kesatuan dan persatuan serta kedamaian negeri ini.

Lebih lanjut, kepala MI yang bertempat tinggal di Karangampel Kaliwungu Kudus ini berharap para santri dapat meneladani keberanian serta perjuangan para pahlawan bangsa. “Di hari kesaktian Pancasila ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, bersamaan dengan momentum Asyuro di bulan Muharram, juga dilaksanakan santunan Yatim bagi santri Qudsiyyah yang Yatim. Selain upacara dan santunan yatim, kegiatan yang dilaksankan tepat sesuai Tes Mid semester ini adalah berbagai macam kegiatan hiburan, seperti lomba anak-anak, seperti lomba mewarnai, lomba gelang sarung dan lomba pindah botol.

Juga, tak ketinggalan, acara juga dimeriahkan dengan nonton bareng film perjuangan. Film yang dipilih adalah film “Sang Kiai” yang mengangkat profil dan perjuangan ulama terkemuka KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Film yang diproduksi tahun 2013 ini dipilih karena sebentar lagi juga berbarengan dengan momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober, dimana film tersebut menceritakan tentang resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, terjadi tepat pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya. Resolusi ini dikeluarkan untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang tewas saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. (Kharis)

PERINGATAN RAJABIYYAH MI QUDSIYYAH MENGAJAK GIAT SHOLAT

QUDSIYYAH, KUDUS – Setelah sukses dengan Peringatan Rajabiyyah dan MBSR di gedung YM3SK pada Sabtu, 13 Mei 2017, hari ini (Ahad, 14/05/2017) PPQ menggelar acara yang sama dengan peserta santri pada tingkatan Ibtidaiyyah. Acara ini berlangsung mulai pukul 08.00 – 10.30 yang bertempat di Aula Tanah Mas MA Qudsiyyah.

Acara ini berlangsung cukup meriah. Selain diisi mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz, acara ini juga dihadiri oleh pihak kepolisian Polsek Kota Kudus.

Kepada seluruh santri yang hadir, pihak kepolisian menyampaikan pesan tentang ajakan untuk menjauhi narkoba. Selain itu juga menyampaikan pentingnya disiplin lalu lintas. Gemuruh suara santri-santri Ibtidaiyyah pun pecah seketika saat para polisi berinteraksi dengan santri-santri Qudsiyyah.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz antara lain menggemakan ajakan bagi para santri untuk lebih giat melaksanakan sholat. Ini karena sebagai buah manis dari perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Acara ini berlangsung dengan lancar. Alunan nada terbang dari Al-Mubarok Kids pun menutup acara ini dengan wajah bahagia dari santri-santri Ibtidaiyyah yang beranjak pulang. Rangkaian acara yang berlangsung antara lain, pembukaan, pembacaan ayat suci al Qur’an dan Sholawat Asnawiyah, tahlil, sambutan ketua panitia, sambutan kepala MI, sosialisasi dari kepolisian, mauidhoh hasanah dan terakhir penampilan Renana dari santri-santri MI Qudsiyyah yang tergabung dalam Al-Mubarok Kids. (M Iqbal Marzuqi/Kharis)

Puluhan Santri Khataman Alfiyyah di Makam KH Ma’ruf Asnawi

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada pemandangan yang berbeda di pagi ini. Pada Kamis 14 Sya’ban 1438 H bertepatan tanggal 11 Mei 2017 TU sekitar pukul 10.00 di bawah pohon kamboja di area pemakaman Sedio Luhur Bakalan krapyak sejumlah santri sedang berkumpul di dekat makam shohibul fadlilah simbah KH Ma’ruf Asnawi.

Mereka adalah para santri kelas 12 MA Qudsiyyah. Dengan mengenakan baju batik “Kangkung” dan bersarung santri-santri itu berkumpul membentuk setengah lingkaran menghadap ke timur. Mereka melantunkan bait demi bait Nadham Alfiyyah Ibnu Malik, dan ditashih hafalannya. Mereka “sema’an” Nadham Alfiyah bersama para santri yang telah hafal 1002 bait utuh. Sebanyak 17 santri kelas 12 Aliyah berani unjuk gigi disimak dan disaksikan teman-temannya. Santri yang dinyatakan lolos akan mendapatkan syahadah yang akan dibagikan saat Muwadda’ah. Adapun tim pentashih khataman tersebut salah satunya H. Ashfal Maula.

Dipilihnya lokasi di makam simbah KH Ma’ruf Asnawi selain tempatnya yang adem juga untuk mengenalkan sosok Mbah Ji (sebutan akrab untuk simbah KH Ma’ruf Asnawi) kepada para santri. Semasa hidupnya, mbah Ji adalah pribadi yang sangat cinta terhadap Alfiyyah. “Saat masih sugeng mbah ji suka wiridan dan mendengarkan alfiyyah, jadi kita baca menurut apa yang disenangi beliau” ujar gus Apank menjelaskan.

Adapun santri yang ikut hafalan Alfiyyah tersebut adalah Ahmad Multazam, Achmad Aan Nahruddin, Atsnan Naja, Auva Nashan Mushoffa, Eko Nuristianto, Khusnil Mubarok, M. Haqul Muttaqin, M. Irfan Maulana, M. Bahrul ‘Ulum, M. Zuhal Fahmi, M. Shofiyullah, M. Agil Mubarok, Sani M Asnawi, M. Faiz Muzakki, M. Noor Halim, Agung Sulistyo, M. Nouris Sakhok, Lukman Nur Romadlon, Zusrul Hana, dan M. Wahyu Waliyyur Rohman.

Setiap tahun Madrasah Qudsiyyah memberikan apresiasi khusus bagi mereka yang dengan suka hati telah menghafal Alfiyyah utuh 1000 bait. Apresiasi itu berbentuk Syahadah yang ditandatangani oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah dan dibagikan saat Muwada’ah umum yang dihadiri wali santri kelas 6 MI, 9 MTs dan 12 MA.

Diharapkan para santri Qudsiyyah bisa meneladani para seniornya yang mampu menjaga hafalan Alfiyyah hingga lulus sebagai modal menghadapi tantangan zaman. Nadham Alfiyyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab terkenal di kalangan pesantren yang berisi tentang struktur bahasa Arab sebagai salah alat untuk membaca dan memahami kitab kuning. (Yasfin/Kharis)

Haul Ke 59 KHR Asnawi Kudus

QUDSIYYAH, KUDUS – Rangkain kegiatan Haul ke 59 Pendiri Qudsiyyah dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KHR Asnawi Kudus, berlangsung dengan beberapa acara. Oleh Santri madrasah Qudsiyyah, kegiatan ziarah di makam KHR Asnawi dilaksanakan pada Rabu dan Kamis 22-23 Maret 2017.

Dilanjutkan dengan kegiatan Tahlil Umum yang dilaksanakan pada Jumu’ah Pon, 24 Maret 2017 di komplek makam Menara Kudus. Tahlil umum ini terbuka untuk seluruh masyarakat dan dilaksanakan mulai pukul 15.30 WIB.
Puncaknya akan diadakan pengajian umum yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok pesantren Raudlatut Tholibin, peninggalan KHR Asnawi , pada Jumu’ah malam Sabtu, bertepatan dengan tanggal 26 Jumadal Akhirah 1438 H/24 Maret 2017 TU di halaman pondok pesantren Raudlatut Tholibin Kerjasan Kota Kudus. Pengajian ini insyallah akan menghadirkan Habib Musthofa Alaydrus dari Tuban dan Kh Haris Shodaqah dari semarang.

KHR Asnawi merupakan seorang ulama kharismatik di Kudus. Ia merupakan salah satu penggerak dan pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Lahir di Damaran Kudus dari pasangan dari H. Abdullah dan Raden Sarninah pada tahun 1861, beliau menyendang nama kecil sebagai Ahmad Syamsyi.

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pendidikan agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Semenjak usia 15 tahun, orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang dan juga mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.

Pada tahun 1886, Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, kemudian berganti nama menjadi KHR. Asnawi dan mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun dan kemudian kembali ke tanah air untuk berdakwan dan berdomisili di Kudus.

Beliau meninggal dunia pada usia 98 tahun tepat seminggu setelah pelaksanaan Muktamar NU XII di Jakarta yang beliau ikuti. Beliau meninggal pada subuh hari Sabtu Kliwon, 25 Jumadal Akhirah 1378 H, bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M pada pukul 03.00 WIB dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Semasa hidupnya beliau banyak berkiprah untuk kemajuan Islam ahlussunnah wal jama’ah. Selain aktif di organisasi NU beliau juga mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada tahun 1919 dan mendirikan pondok pesantren Raudlatut Tholibin pada tahun 1927. Beliau juga memelopori berdirinya Darusan Pitulasan di Masjid Menara Kudus yang terus eksis hingga sekarang. (Kharis)