Qudsiyyah Gelar Maulid Nabi

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebelum libur semesteran, Madrasah Qudsiyyah Kudus, pada Sabtu (19/12/2015) melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bertempat di lapangan MTs Qudsiyyah, acara ini berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 1500 santri dari MTs dan MA Qudsiyyah.
Dalam rangkain acaranya, dimulai dengan pembacaan ayat suci al Qur’an dilanjutkan dengan shalawat Asnawiyyah dan pembacaan Maulid Simtud Duror. Dengan iringan grup rebana Al Mubarok, acara maulid tersebut semakin meriah. Dalam Mauidhoh yang disampaikan oleh sesepuh Qudsiyyah, KH Sya’roni Ahmadi. Beliau berpesan agar saat peringatan Maulid Nabi menghadirkan rasa cinta terhadap Nabi.

Beliau mencontohkan apa yang dilakukan Abu Lahab, paman Nabi, saat mendengar kelahiran Nabi. Abu Lahab riang gembira dan juga memerdekan budaknya yang bernama Tsuwaibah.“Karena kegembiraan Abu Lahab itu, ia yang telah dicap kafir dan masuk neraka, setiap hari Senin siksanya dikurangi,” ungkap KH Sya’roni.
Beliau melanjutkan, orang kafir saja bisa dikurangi siksanya, apalagi orang mukmin yang cinta dan mengagungkan Nabi. Selanjutnya, Mbah Yai Sya’roni berpesan agar dalam peringatan Maulid Nabi ini setelah cinta dan mengungkan nabi dan meniru dan meneladani akhlak Nabi. “Kalau belum bisa sepenuhnya, maka dimulai sedikit demi sedikit,” katanya. Terakhir, Nadhir Qudsiyyah ini berpesan kepada seluruh santri Qudsiyyah agar menjadi santri yang Shalih, yang ibadahnya tekun serta perilakunya baik di masyarakat.

Mauidhoh berikutnya, disampaikan oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah, KH. Nur Halim Ma’ruf. Dalam pesannya, beliau menyampaikan pentingnya meningkatkan ibadah bagi santri, khususnya sholat jama’ah.
Dalam acara tersebut juga di akhir acara dibagikan hadiah bagi para pemenang yang telah mengikuti lomba classmeeting yang digelar oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) selama lima hari sebelumnya, yakni pada Ahad – Kamis, 13-17 Desember 2015. Sementara itu untuk santri tingkat MI, pada hari yang sama juga digelar peringatan Maulid Nabi yang bertempat di Aula MI Qudsiyyah Kudus. (*)

QURBAN DAN BAKSOS DIMERIAHKAN TARI SUFI

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada yang berbeda dalam kegiatan Qurban dan Baksos tahun ini. Kegiatan yang rutin digelar setiap Idul Adha oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) ini digebyar dengan nuansa satu abad Qudsiyyah.
Acara yang dihelat selama tiga hari pada Kamis-Sabtu (23-25/09/2015) di lapangan Peganjaran Kudus ini memang menjadi bagian dari rangkaian gebyar satu abad Qudsiyyah Kudus yang puncaknya akan digelar pada Juli 2016 mendatang.

Berbagai acara turut memeriahkan acara utama Qurban dan Baksos ini, antara lain kegiatan bazar dan pameran oleh alumni dan Madrasah Qudsiyyah Kudus. Serta acara puncak pada peringatan ini adalah pengajian umum yang dimeriahkan dengan grup rebana Al Mubarok, Tari sufi serta dengan pembicara utama KH. Ahmad Asnawi Kudus.

IMG_7040Sebanyak empat penari sufi turut memeriahkan pembacaan maulid nabi Simtudduror dalam pengajian tersebut. Selain tari sufi yang menjadi banyak perhatian masyarakat adalah adanya pameran dan bazar dari produk dari alumni Qudsiyyah. Sebanyak 20 stan disiapkan untuk menampung pameran dan produk-produk dari alumni dan pemaran andalan dari Qudsiyyah sendiri.

Salah satu stand yang banyak menjadi tujuan adalah stand kaligrafi. Di sini di stand madrasah Qudsiyyah ini diberikan kaligrafi gratis penulisan nama dengan kaligrafi arab. Setiap pengunjung mendapatkan tulisan kaligrafi arab yang diberikan secara cuma-cuma dari karya para siswa dan santri Qudsiyyah yang menjadi andalan.

Ratusan masyarakat berbondong-bondong menyerbu stand ini. Selain stand kaligrafi juga yang menjadi andalan adalah stand falak. Di sini dipamerkan berbagai macam alat falak yang menjadi rujukan dan pameran, diantara theodolit untuk meneropong hilal dan sebagainya. Secara umum kegiatan ini sangat meriah dengan peserta kemah juga berasal dari sekitar 15 ambalan dari tamu undangan di sekolah MA/SMA sekitar.(*)

MERINTIS “ASNAWIYAH” MENJADI SHOLAWAT NASIONAL NU

QUDSIYYAH, JOMBANG – Qudsiyyah Kudus berupaya terus melestarikan dan mengembangkan ajaran-ajaran dari pendiri dan sesepuh Qudsiyyah Kudus. Salah satu yang terus digencarkan adalah dengan memopulerkan Sholawat Asnawiyah, karya pendiri madrasah Qudsiyyah, KHR Asnawi di level nasional.

Selain aspek kesenian melalui Grup Rebana Al Mubarok Qudsiyyah, yang selalu memopulerkan Sholawat Asnawiyah, Qudsiyyah Juga berupaya mengenalkan Sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran dalam Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama, di Jombang pada 1- 5 Agustus 2015.

Dalam pameran tersebut, Qudsiyyah mengambil peran untuk mengenalkan karya-karya KHR Asnawi yang merupakan salah satu pendiri NU dari Kudus. Salah satu karya monumental KHR Asnawi adalah sholawat Asnawiyah, dimana dalam liriknya merupakan wujud kecintaan dan nasionalisme KHR Asnawi terhadap Indonesia. Dalam teks sholawat Asnawiyah tersebut beliau berharap negeri ini selalu aman, damai dan masyarakatnya sejahtera, menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.

Melalui pameran tersebut, diharapkan masyarakat luas semakin mengenal karya pendiri NU, Sholawat Asnawiyyah, dan juga semakin mengenal lembaga Pendidikan Qudsiyyah. Madrasah Qudsiyyah ini merupakan Madrasah yang didirikan oleh KHR Asnawi pada tahun 1919 M, sebelum beliau mendirikan ponodk pesantren Raudlatut Tholibin. Upaya lain untuk memopulerkan sholawat Asnawiyah juga dilakukan para alumni Qudsiyyah, utamanya mereka yang duduk di dalam jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama tingkat pusat. Harapannya, sholawat pendiri NU ini menjadi salah satu sholawat “wajib” di ormas dengan jumlah angngota terbesar di Indonesia ini.

Dalam pameran di Mukatamar NU tersebut, Qudsiyyah bekerjasama dengan Yayasan masjid, Menara dan Makam sunan Kudus (YM3SK) dan menempati salah satu lokasi standa di komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain karya sholawat, berbagai keunggulan Qudsiyyah juga ditampilkan di sana, mulai dari penerbitan almanak (kalender), yang sejak lima tahun terakhir menyusun sendiri, kitab-kitab Qudsiyyah, yang merupakan karya asli dari para Masyayikh Qudsiyyah, produk jurnalistik karya santri, seperti majalah dan bulletin, hingga foto-foto Qudsiyyah tempo dulu, juga menghiasi stand Qudsiyyah Kudus. (*)

QUDSIYYAH KUDUS, SONGSONG SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Semenjak lahir pada 1919 M yang didirikan oleh KH Raden Asnawi, Madrasah Qudsiyyah sudah meluluskan ribuan santrinya. Hingga menjelang satu abad berdirinya kini, banyak hal yang dipersiapkan oleh pihak Qudsiyyah, salah satunya dari Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ).

Sebagaimana disampaikan Ketua IKAQ, DR. H. M. Ihsan, mengajak kepada alumni di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam mengadakan kegiatan dalam rangka satu abad Qudsiyyah Kudus, membantu sesuai bidang masing-masing.

Pihaknya menjelaskan, banyak kegiatan yang akan disiapkan dalam rangka peringatan satu abad Madrasah yang didirikan oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

“Penulisan buku satu abad pengajian akbar, lomba, dakwah keliling, bazar, halaqoh, sepeda santai, dan lain sebagainya,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan dalam Halalbihalal IKAQ di halaman MTs Qudsiyyah, Kamis (30/7/2015) siang.

“Oleh karena itu, dalam rangka menyongsong satu abad ini, kami harap kepada semua alumni Qudsiyyah dimohon partisipasinya agar pelaksanaan peringatan satu abad Qudsiyyah bisa sukses sesuai dengan harapan para masyayikh (guru-guru sepuh-red),” tambah dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) KH Nadjib Hassan dalam sambutannya menegaskan, bahwa Halalbihalal bukanlah puncak dari kegiatan alumni, tetapi peran besar dari alumni adalah bagaimana menjaga keutuhan terutama di dalam menjaga aqidah Aswaja NU.

“Jangan sampai setelah keluar dari Qudsiyyah mengikuti aliran-aliran yang bertentangan dengan Aswaja NU. Kita itu punya Guru Besar yang namanya Mbah Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU), kenapa mengikuti guru-guru aneh yang tidak jelas sanad keilmuannya,” jelasnya.

Peran yang tidak kalah penting, lanjut Kiai Nadjib, mengangkat perekonomian para alumni. “Untuk itu, dua pokok tugas yakni aqidah dan perekonomian yang sangat penting diperhatikan untuk saat ini,” ujar mantan Ketua Paguyuban Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa itu.

Dalam halal Bihalal tersebut, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi. Dalam pesannya beliau menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Nabi Muhammad SAW. Mustasyar PBNU dari Kudus mencontohkan metode dakwah Nabi saat Fathu Makkah, dimana masyarakat Mekah ditaklukkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan diplomasi yang menarik. Sehingga masyarakat berduyun-duyun memeluk Islam. (*)

QUDSIYYAH RAIH MEDALI PERAK DI AKSIOMA NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Hasil menggembirakan diraih siswa MTs Qudsiyyah Kudus di tingkat nasional. Bagus Tregginas (9 B), siswa MTs Qudsiyyah sukses mempersembahkan medali perak Cabang Bulu Tangkis Putra dalam ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) Tingkat Nasional 2015, di Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, pada 3 – 7 Agustus 2015.

Pagelaran final yang digelar di Sport Center Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Kamis (6/8/2015), santri Qudsiyyah, harus mengakui keunggulan lawannya, Toha Al Muktarim (Pekan Baru Baru Riau) dengan sekor 15-21 dan 17-21. Atas hasil ini, Bagus, yang juga binaan PB Musica Flypower Champion Kudus harus puas di urutan kedua.

Dalam ajang Aksioma tingkat Nasional ini, Qudsiyyah mengirimkan dua delegasi yang mewakili Jawa Tengah, yakni Bagus Trengginas (9 B) pada cabang Bulu Tangkis dan Saiful Niam Muzakki (8 A) pada ajang Kaligrafi Putra.
Sebelumnya, dua siswa MTs Qudsiyyah ini mampu menjadi juara pertama di tingkat provinsi pada Aksioma Jawa Tengah yang dilaksanakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada 3-6 Juni 2015.

Kepala MTs Qudsiyyah, Himmatul Fuad, M.S.I, mengungkapkan, medali perak teorahan siswa MTs Qudsiyyah ini merupakan prestasi yang membanggakan dan patut disyukuri. “Semoga ini menjadi spirit dan semangat bagi santri-santri lain untuk terus bersemangat menelurkan prestasi-prestasi berikutnya,” katanya. (*)

QUDSIYYAH SUMBANG DUA EMAS DI AKSIOMA JATENG

QUDSIYYAH, KUDUS – Dua santri Qudsiyyah Kudus sukses menyumbang dua medali emas dalam Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tingkat Jawa Tengah pada 3-6 Juni 2015 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Dua emas ini menambah koleksi raihan emas dari Kontingen kabupaten Kudus dan mengantarkannya menjadi juara umum dalam event bergengsi tingkat provinsi tersebut.

Bagus Tregginas (8 B), siswa MTs Qudsiyyah sukses meraih juara 1 dalam cabang Bulu Tangkis, dan Saiful Niam Muzakki (7 A), siswa MTs Qudsiyyah sukses menjadi juara pertama dari cabang Kaligrafi. Atas hasil ini, dua santri Qudsiyyah ini, bakal maju pada Aksioma tingkat nasional yang dilaksanakan di Palembang, pada 3-7 Agustus mendatang.

Kepala MTs Qudsiyyah, Himmatul Fuad, M.S.I, mengungkapkan, sumbangan dua emas dari siswa MTs Qudsiyyah ini merupakan torehan prestasi yang membanggakan dan patut disyukuri. “Semoga ini menjadi spirit dan semangat bagi santri-santri lain untuk terus bersemangat menelurkan prestasi-prestasi berikutnya,” katanya.

Ia juga berharap agar kedua santri ini juga mampu berprestasi di ajang nasional nanti. “Doa dan dukungan kita semua harus kita curahkan agar dalam Aksioma nasional nanti, santri Qudsiyyah mampu menyumbang medali,” pungkasnya.

Aksioma Jateng 2015 ini diikuti oleh 1.785 peserta dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) utusan dari 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah, serta melibatkan tak kurang dari 350 ofisial.

Dalam perlombaan ini, sebanyak 11 cabang seni dan olahraga yang dipertandingkan dalam Aksioma yaitu; atletik, bulu tangkis, tenis meja, Madrasah singer, MTQ, Hadroh, Tahfiz, Kaligrafi, Pidato Bahasa Inggris, Arab dan Indonesia.

Kontingen dari Kabupaten Kudus menyabet gelar juara umum dengan mengumpulkan 6 medali emas dan 3 medali. Disusul kontingen Jepara menjadi runner-up dengan raihan 4 medali emas, 2 perak. Tuan rumah Boyolali menempati urutan ketiga dengan 4 emas, 1 perak. (*)

CIPTAKAN DIRI MANDIRI MENGHADAPI AFTA!

KUDUS, QUDSIYYAH – Salah satu tawaran strategi bagi pelajar dalam menghadapi ekonomi ASEAN 2015 adalah menciptakan diri menjadi mandiri dan kreatif. Demikian salah satu hal yang diungkap oleh akademisi dan peneliti Kudus, DR Abdul Jalil, M.E.I dalam diskusi bertema “Menyiapkan Sumber Daya Kompetitif Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015” di gedung Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) di Jl Sunan Kudus No. 198, pada Sabtu (2/5/2015).

Dalam diskusi yang digagas oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) Kudus dengan menghadirkan sekitar 200 pelajar tingkat MA/SMA se-Kabupaten Kudus ini, Jalil menyerukan kepada pelajar untuk selalu optimis dalam segala hal. “Gagal, lupa, berbuat salah, tidak naik kelas, mendapat nilai jelek, tidak masalah asalkan anda bangkit dari semua itu. Yang jadi masalah adalah ketika anda tidak bangkit dan terpuruk dengan hal-hal itu,” tegasnya.

Lebih jauh dijelaskan ASEAN Free Trade Area (AFTA) atau kawasan perdagangan bebas ASEAN merupakan kesepakatan Negara-Negara Asia Tenggara untuk meningkatkan daya saing ekonomi dan menciptakan pasar regional. Praktisnya, dalam AFTA nanti tidak ada lagi pajak bea masuk impor komoditas pada wilayah Negara ASEAN. “Imbasnya, negeri kita akan diserbu dengan barang-barang luar negeri. Sebaliknya, kita juga bebas menyerbu Negara tetangga dengan barang-barang produk kita. Persoalannya, sudah siapkah kita?,” tanya pria yang juga Mudarris Ma’had Qudsiyyah Kudus.

Oleh karena itu, menghadapi hal ini, beliau berpesan agar para pelajar harus terus membaca potensi diri dan kemudian terus dikembangkan menjadi pribadi-pribadi yang kreatif dan inovatif. “Para siswa harus menjadi pribadi yang ulet, tangguh dan kreatif, sehingga pada gilirannya akan mampu mandiri dan mampu bersaing di pasar bebas dengan berbagai inovasi,” terangnya.

Inovasi adalah suatu ide baru bagi seseorang atau kelompok yang digunakan untuk mencapai tujuan untuk memecahkan masalah tertentu atau juga penciptaan sesuatu yang baru. Hal ini identik dengan kreatif yang secara umum karakteristik orang kreatif adalah selalu melihat sesuatu dengan cara berbeda dan baru. “Proses kreatifitas yang melibatkan ide-ide baru, berguna dan dapat diimplementasikan inilah yang pada akhirnya menciptakan seseorang menjadi mandiri,” pungkasnya.

Nara sumber lain, KH Ahmad Asnawi mengungkapkan, kunci kesuksesan adalah dengan teguh menjaga kejujuran. “Dimanapun dan kapanpun kejujuran tetap menjadi andalan yang tak akan lekang oleh waktu,” ungkap kyai muda Qudsiyyah ini.
Lebih lanjut ditekankan, kepada para pelajar harus bersikap dan bertindak jujur dalam segala hal. “Menjadi pelajar harus jujur, bekerja juga harus jujur, menjadi pengusaha juga harus jujur,” katanya.

Sementara itu, Dzikri Fauqi Agbas, salah satu pengusaha Kudus yang juga menjadi nara sumber memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu bermental optimis dan tidak bermental psimis.
Ia juga menyatakan, salah satu hal yang dikembangkan dalam perusahaan keluarganya adalah dengan mengembangkan apa yang disebut sebagai spiritual company. Artinya, dalam bekerja, semua pihak, mulai dari tingkat paling bawah, karyawan, hingga tingkat paling atas hars menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. (*)

Ratusan Santri dan Kiai Kudus Ziarahi Makam KHR Asnawi

KUDUS, Ratusan santri, kiai dan warga NU, mengadakan ziarah ke makam KHR Asnawi di kompleks Makam Masjid Menara Rabu (15/4) sore. Mereka secara khusuk mengikuti Tahlil Umum sebagai rangkaian peringatan Haul ke-57 pendiri NU tersebut.

Acara diawali dengan pembukaan majelis yang dipimpin KH Aniq Muhammadun, pembacaan Surat Yasin oleh wakil Rais PCNU Kudus KH Ahmadi Abdul Fatah, dilanjutkan tahlil dengan imam KH Choirozyad dan doa KH Ulin Nuha Arwani.

Mustasyar PBNU, KH Sya’roni Ahmadi saat memberikan tausiah menerangkan pentingnya peringatan Haul. Mengutip kitab Syarah Nahjil Balaghah, KH. Sya’roni menjelaskan, setiap tahun Nabi Muhammad menyempatkan diri menziarahi makam para sahabat yang gugur dalam perang Uhud. Padahal jarak rumah Nabi ke makam sangat jauh, sekitar 6 KM, dan diikuti sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.

“Ada tata caranya: sampai makam, Nabi menyampaikan salam dengan menggunakan mukhatab (redaksi yang menunjukkan adanya lawan bicara, red). Assalamu’alaikum bima shabartum fani’ma’uqbad daar (semoga keselamatan untuk kalian lantaran kesabaran kalian, senikmat-nikmatnya tempat adalah tempati ini). Para sahabat ini jelas menempati surga,” terangnya.

Ulama kharismatik ini menjelaskan, hingga kini peringatan haul telah menjadi tradisi di kalangan masyarakat. Ia mencontohkon setiap 10 Muharram ada peringatan haul Sunan Kudus dan 24 Jumadil Akhir haul Mbah KHR Asnawi.

Namun, KH Sya’roni Ahmadi mengingatkan jangan berniat mendoakan saat memperingati haul dengan menziarahi makam orang alim seperti KHR Asnawi ini. “Itu keliru, niatlah untuk ngalap (mengharap) berkah,” paparnya.

Di akhir tausiah, KH Sya’roni menuturkan, kisah singkat riwayat hidup KHR Asnawi. Dikatakan, KHR Asnawi adalah sosok orang alim yang memiliki kelebihan dan serba bisa baik dalam menimba maupun mengajarkan ilmunya kepada santri dan masyarakat.

Usai tahlil umum, peringatan haul dilanjutkan pengajian umum pada malam harinya di halaman Pondok pesantren Raudlotut thalibin Bendan. Ribuan masyarakat mengikuti pengajian hingga purna acara. (Qomarul Adib/Mahbib)

Sumber: NUOnline

QIRO’AH SAB’AH, PELENGKAP TEORI BACA AL QUR’AN

Sebenarnya bacaan Al Qur’an itu mempunyai beberapa jenis. Qiro’ah sab’ah merupakan salah satu mata pelajaran yang mendiskusikan tentang berbagai jenis bacaan al Qur’an. Sampai saat ini, di MA Qudsiyyah Kudus Qiro’ah sab’ah masih menjadi salah satu mata pelajaran andalan yang terus diajarkan sejak awal berdiri pada tahun 1973 ini. Materinya antara lain mempelajari jenis-jenis bacaan Al Qur’an.

Salah satu guru MA Qudsiyyah Kudus, H. Yusrul Hana, mengatakan, qiro’ah sab’ah adalah pelajaran membaca al Qur’an yang terdiri dari tujuh versi imam. Di antaranya Imam Nafi’, Imam Ibnu Katsir, Imam Abu ‘Amr, Imam Ibnu Amir, Imam ‘Ashim, Imam Hamzah, Imam Ali Kisa’i.

“Materi itu kami kenalkan kepada siswa, agar mengetahui jenis-jenis bacaan AlQur’an. Sebab, selama ini yang dibaca oleh seluruh umat Islam seluruh dunia adalah versi salah satu ketujuh imam tersebut, yakni Imam Ashim,” katanya.

Dengan adanya materi pelajaran tersebut madrasah yang terletak di JL KHR Asnawi Gang Kerjasan Kota Kudus ini memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang al Qur’an terhadap siswanya. Salah satu pengampu qiro’ah sab’ah di MA Qudsiyyah adalah KH M Sya’roni AHmadi, salah satu ulama’ sepuh di Kudus.

Kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin, mengatakan, dengan mendalami qiro’ah sab’ah, bacaan siswa tidak lagi monoton, dan siswa menjadi bertambah wawasannya terhadap al Qur’an. Sehingga diharapkan, lulusan madrasah ini mampu mengaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat.

Madrasah yang memiliki 564 siswa dengan 15 rombel dan 33 guru ingin memberikan ilmu yang bermanfaat bagi siswanya. Dan ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan terutama bagi orang lain. Sebab, lulusan Qudsiyyah banyak yangmenjadi pemuka agama di masyarakat, maka pihak madrasah dengan serius menggembleng bibit-bibit calon pemuka agama dengan beragam ilmu agama.

“Manfaatnya banyak sekali, khususnya sebagai penengah ketidakfahaman masyarakat awam ketika di masjid atau musholla ada imam yang membaca surat atau ayat al Qur’an dengan versi dari imam yang tidak biasa, maka siswa ini dapat menjelaskan di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya. (*)

Disarikan dari KORAN MURIA, edisi Jum’at 30 Januari 2015

BERKURBAN DI DAERAH NON-MUSLIM

QUDSIYYAH, KUDUS – Kegiatan sosial yang dilaksanakan Madrasah Qudsiyyah Kudus terus dilakukan setiap tahun. Kegiatan yang dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Adha ini, pada tahun ini dilaksanakan di Dukuh Ngelo (Ngeseng) Desa  Karangrowo Kec Undaan Kabupaten Kudus.

Selama tiga hari, mulai Sabtu – Senin (11-13 Oktober 2014) sekitar 150 santri turun langsung di daerah yang juga terdapat banyak keluarga yang belum memeluk agama Islam. Di daerah tersebut sekitar 45 kepala keluarga belum memeluk agama Islam. Oleh karena itu, dalam even Idul Qurban tahun ini, Qudsiyyah melaksanakan dakwah sekaligus bakti sosial di daerah yangjauh dari kota tersebut.

Selain mendekati para penduduk yang belum memeluk Islam, kegiatan Kurban dan bakti sosial di daerah Ngeseng tersebut juga sebagai bentuk memberi semangat kepada tokoh dan penduduk muslim setempat untuk terus berdakwah dan mempertahankan keislamannya. Lebih dari itu, panitia juga berharap agar kedatangan Qudsiyyah tersebut membuka hati dan memberikan petunjuk para penduduk yeng belum memeluk Islam agar dapat tergerak hatinya untuk masuk dan memeluk Islam.

Dalam kegiatan tersebut Qudsiyyah membawa sepuluh kambing hewan Kurban yang berasal dari alumni dan aghniya’ Qudsiyyah, serta sejumlah beras yang berasal dari para orang tua siswa dan juga donatur. Dari masyarakat setempat  juga menyembelih lima kambing dan 1 kerbau.

Usai sholat Idul Adha di masjid Daruussalam di Ngeseng, hewan Kurban tersebut kemudian disembelih dan didistribusikan. Dalam kesempatan tersebut, seluruh daging hewan kurban dibagikan kepada penduduk muslim yang berjumlah lebih dari seribu KK di tiga dukuh di desa Karangrowo, yakni dukuh Ngelo, Dukuh Krajan, dan Dukuh kaliyoso disertai beras sebanyak 1,5 kg setiap KK. Tekniknya, setelah penyembelihan, daging hewan kurban tidak dicampur, tujuannya agar distribusi daging qurban tepat sasaran dan dibagikan kepada penduduk yang muslim di daerah tersebut. Sementara bagi penduduk non muslim, tetap diberikan daging dan beras. Bedanya, daging yang dibagikan kepada penduduk nonmuslim tersebut adalah bukan daging yang berasal dari hewan kurban dari para mudhahi, tetapi panitia telah menyiapkan satu kambing lain yang bukan kurban, kemudian dibagikan kepada sekitar 45 KK penduduk nonmuslim.

Dalam kegiatan tersebut, salah satu santri Qudsiyyah tampil langsung sebagai khatib dalam Sholat Idul Adha di Masjid Darussalam.  Santri tersebut adalah Muhammad Hilman Fattah yang bertindak sebagai khatib, sedangkan yang menjadi imam Sholat Idul Adha adalah KH Fathur Rahman, Wakil Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Selain penyembelihan hewan Kurban, dalam kegiatan tersebut, santri-santri Qudsiyyah juga meramaikan dengan berbagai perlombaan anak-anak desa setempat pada sore harinya. Sedangkan pada malam harinya diadakan pengajian umum dengan pembicara KH Ahmad Asnawi, salah satu da’i terkenal dari Qudsiyyah Kudus. (*)