SANAD ALFIYYAH QUDSIYYAH BERSAMBUNG PADA MBAH KHOLIL BANGKALAN

DI kalangan pesantren, nama saikhona Kholil Bangkalan sangat popular sebagai ulama pertama yang membawa nadzom Alfiyyah ke tanah Jawa. Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah KH. Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim. Kiai Abdul Karim adalah putra Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sedang Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sewaktu menjadi santri, Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Selama nyantri di Makkah Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Adapun gurunya yang lain ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sanad Alfiyyah di Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah, salah satu madrasah tua di Kudus masih mempertahankan kurikulum salaf yang diantaranya adalah mapel Nahwu dan Shorof. Dalam fan ini, Qudsiyyah masih konsis menggunakan nadzam Alfiyyah sebagai rujukan materinya. Adapun ketika di MTs Qudsiyyah maka menggunakan kitab tarjamah hasil karya guru Madrasah Qudsiyyah sendiri. Sedang di MA Qudsiyyah menggunakan kitab syarah Ibnu Aqil.

Sanad nadzam Alfiyyah di Qudsiyyah sendiri bersambung pada saikhona Kholil Bangkalan, salah satu ulama’ yang terkenal dengan kewaliannya. Adapun jalur sanad tersebut adalah : (1) KH. Nur Halim Ma’ruf, guru Qudsiyyah, beliau mendapatkan sanad Alfiyyah dari ayahnya, KH Ma’ruf Asnawi (2) KH. Ma’ruf Asnawi mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Ahmad Tarwadi Solo (3) Syekh Ahmad Tarwadi Solo mendapat sanad dari gurunya, Syekh Kholil Rembang (4) Syekh Kholil Rembang mendapat sanad dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan.

Di Qudsiyyah sendiri hafalan nadzom Alfiyyah merupakan materi wajib yang harus dihafalkan oleh santri sebagai syarat kenaikan kelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga tradisi ulama terdahulu dalam menghafal nadzom yang berjumlah 1002 bait tersebut. Dan bagi santri yang telah hafal 1002 bait akan diberi syahadah/piagam sebagai apresiasi  terhadap santri ketika Muwada’ah kelulusan kelas 12 MA Qudsiyyah.

Alfiyyah memang menarik dan menjadi materi wajib untuk setiap santri di berbagai pondok pesantren Nusantara ini tak terkecuali Qudsiyyah. Menghafal Alfiyyah memang membutuhkan usaha keras, namun ketika kita sudah menghafalnya maka janji dari Syekh Ibnu Malik pasti akan terwujud.

تقرب الاقصى بلفظ موجز * وتبسط البذل بوعد منجز

Semoga dengan masih mempertahankan ajaran salafuna al sholih kita selalu mendapatkan berkah  dari Allah Subhanahu Wata’ala. Amiin.

M. Isbah Kholili
Guru MTs Qudsiyyah

GEDUNG QUDSIYYAH PUTRI MULAI DIBANGUN

QUDSIYYAH, KUDUS – Pembangunan gedung baru di tanah Qudsiyyah yang berada di wilayah desa Singocandi kecamatan Kota kabupaten Kudus, mulai dibangun pada Sabtu Pahing (20/8/2016). Di tanah seluas sekitar 3548 meter persegi ini direncanakan bakal dibangun gedung untuk pondok pesantren putri dan sekolah Qudsiyyah putri.

Pencangkulan pertama dilakukan oleh ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah, KH Em Nadjib Hassan, dilanjutkan oleh Al Mudirul Am Qudsiyyah, KH Nur Halim Ma’ruf, Wakil Al Mudirul Am, KH Fathur Rahman, para sesepuh Qudsiyyah, KH Sugiarto, KH Ahmad Sudardi dan KH Nur Hamid.

Sebelum pencangkulan, acara dimulai dengan doa rasul oleh Nadhir Qudsiyyah, KH M Sya’roni Ahmadi, di kediaman beliau di Pagongan Kajeksan Kota Kudus. dilanjutkan dengan istighosah dan manaqib yang dilaksanakan di tanah Qudsiyyah di desa Singocandi.(*)

SANTRI QUDSIYYAH GELAR UPACARA HUT RI

QUDSIYYAH, KUDUS – Madrasah Qudsiyyah yang didirikan oleh KHR Asnawi menggelar upacara bendera dalam rangka HUT RI ke 71. Acara yang berlangsung di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 32 Kudus pada Rabu (17/8/2016) berjalan lancar dan hikmat.

Dalam sambutannya, kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin,M.Pd.I menekankan perlunya merawat dan memperkuat jiwa Nasioalisme sebagaimana KHR Asnawi dulu ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. “100 tahun sudah simbah KHR Asnawi mendirikan madrasah. Saat itu mendirikan madrasah adalah tantangan besar karena harus berhadapan denga kolonial penjajah,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan semoga Qudsiyyah mampu mencetak generasi Santri yang melek peradaban serta mampu menjaga NKRI.

Selain doa kepada para pahlawan yang telah Gugur, dalam upacara yang digelar di lokasi yang sama dengan acara puncak satu abad Qudsiyyah tersebut juga dinyanyikan lagu 17 Agustus dan Syukur karya Habib Husein Al-Mutohar. Tidak ketinggalan Sholawat Asnawiyyah yang didalamnya berisi doa-doa untuk Indonesia juga didengungkan dengan penuh hikmat. (*)

PENTING, SINERGI GURU DAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK

QUDSIYYAH, KUDUS – Mendidik anak harus sinergi antara guru dan wali santri. Karenanya perlu adanya persamaan persepsi dan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru sehingga tidak timbul kegaduhan semacam orang tua menyalahkan Guru atau sebaliknya. Oleh karenanya, MA Qudsiyyah Kudus melakukan sosialisai dan sharing pendapat dengan orang tua santri yang diselenggarakan di aula MA pada Ahad (14/8/16).

Kegiatan ini dilaksanakan guna menemukan titik temu dan persamaan persepsi antara guru dan wali santri dalam mendidik anak. Sebanyak 210 Wali santri kelas 10 hadir untuk mendapatkan informasi tentang tata tertib madrasah, materi pelajaran, guru pengampu dan lain sebagainya.

Dalam sambutannya, al Mudirul Am Qudsiyyah, KH. Nur Halim Ma’ruf berpesan kepada para wali santri agar jangan bosan mengingatkan anak sendiri dan berdoa kepada Allah untuk kebaikan anak kita. Beliau menambahkan agar anak kita menjadi anak yang sholeh ada baiknya disedekahi dengan cara menyisihkan sebagian rejeki kita kepada anak yatim karena doa anak yatim sangat mustajab.

Kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin, M.Pd.I, mengatakan, meskipun di MA Qudsiyyah Kudus sudah menggunakan absensi finger print dan ada CCTV di masing-masing kelas, namun kontrol orang tua sangat diperlukan. “Kita harus sama-sam mendidik untuk mewejudkan anak yang sholeh dan berkualitas,” kata Fahruddin.

Dengan kegiatan seperti ini diharapkan agar orang tua dan guru satu pemahaman dalam hal mendidik anak. Sehingga kejadian seperti yang menimpa guru Dasrul di Makassar tidak perlu terjadi di Kudus. (*)

Qudsiyyah Gelar Rajabiyyah dan MBSR

Rajabul Ashom, bulan yang dimuliakan oleh Allah dimana Nabi-Nya diberangkatkan dan diangkat dalam prosesi Isra’ Mi’raj. Sebagai generasi penerus umat Muhammad SAW memperingati Rajabiyyah adalah cara kita merayakan dan merefleksi kejadian agung silam. Bersama PPQ, Qudsiyyah menggelar Rajabiyyah dan MBSR (Menyongsong Bulan Suci Ramadlan) pada Rabu (4/5) di 2 tempat sekaligus. Santri MI bertempat di Lantai 2 Gedung MI Qudsiyyah, sedangkan kegiatan untuk santri MTs dan MA dipusatkan di Gedung YM3SK.

Menurut panitia pelaksana, Kegiatan rajabiyyah tidak hanya memperingati isra’ mi’raj tetapi sebagai bentuk ta’dhim bulan rajab yang penuh dengan fadhilah. Adapun MBSR memang telah menjadi tradisi di Qudsiyyah dalam menyambut bulan Ramadlan.

Dengan mengadakan pengajian dan menyerukan akan dekatnya bulan puasa, santri dibekali bentuk-bentuk ibadah dalam Bulan Ramadlan. Tradisi MBSR telah ada di Qudsiyyah sejak lama dan diprakarsai oleh KH. Sya’roni Ahmadi. Sebuah hadits menerangkan bahwa bahagia memasuki Bulan Ramadlan akan dijamin dari api neraka.

Menurut Salah satu staf guru, Ali Yahya, untuk tahun ini, MBSR dibarengkan dengan rajabiyyah karena tuntutan kalender pendidikan, biasanya MBSR diadakan pada bulan Sya’ban akan tetapi tahun ini tidak sesuai jadwalnya.

 

Kyai Saifuddin: Kudus Berdiri 19 Rajab

QUDSIYYAH, KUDUS – Menurut prasasti di atas mihrab Masjid Menara, Kudus didirikan tanggal 19 Rajab 956 H. Hal itu diutarakan oleh KH. Saifuddin Luthfi dalam Sarasehan yang diadakan pengurus Yayasan Masjid, menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Acara yang bertajuk “Pesan Prasasti Masjid al-Aqsha Menara Kudus dilaksanakan pada Selasa malam (26/4) di Gedung YM3SK.

“Kenapa 19 Rajab padahal tanggal 27 Rajab lebih bersejarah? Kira-kira 19 adalah perpaduan angka terkecil dan terbesar,” tandasnya. Pesan dari Sunan Kudus agar masjid ini digunakan untuk berjamaah sebanyak-banyaknya ditandai 1 imam dan 9 makmum atau semaksimal mungkin. Beliau menambahkan filosofi angka 19 dalam pemerintahan, pesan daerah ini (kudus) rakyatnya 9 harus mengikuti pemimpinnya yang hanya 1.

Pemateri lain, Jadul Maula dari Lesbumi PBNU berpendapat bahwa 1 melambangkan yudhistira dengan pusaka Jamus Kalimosodo yang berarti setiap nafas harus dzikir kepada Allah SWT, sedangkan 9 adalah bolodewo atau batin kita jadi dzikir tidak hanya nafas tapi merasuk sampai ke batin.

Mbah ipud –panggilan akrab Kyai Saifuddin- membuatkan syair yang menjadi candrasengkala berdirinya Balad Quds, Nama Kota Kudus sesuai prasasti di Masjid al-Aqsha. Syair tersebut beliau diakuinya terinspirasi dari syair Syaikh Barzanji pengarang kitab Maulid.

المسجد الاقصى وقد بناه # سيدنا جعفر وقد سواه

في رجب الاصم يوم التاسع # من بعد عشر انه اواه

تاريخه من هجرة النبي وقد # اسس مسجده على تقواه

Dengan rangkaian syair berbahar rojaz ini, kyai yang masih aktif sebagai pengajar di Madrasah Qudsiyyah ini bermaksud bahwa al-Masjidil Aqsha telah dibangun oleh Sayyid Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus pada 19 Rajab tahun 956. Uniknya penyebutan tahun ditulis dengan lafad

وقد  اسس  مسجده  على  تقواه

512    101   112    121   110

Yang jika dijumlahkan dengan perhitungan abajadun berjumlah 956. Jika dalam prasasti jelas menyebutkan bahwa berdirinya masjidil Aqsha sebagai deklarasi berdirinya Kota Kudus maka Kudus berdiri pada hari itu juga yang jika dikonversi ke tarikh umum menjadi 23 Agustus 1549.

Para Pemateri dalam sarasehan "Pesan Prasasti al-Masjidil Aqsha Menara Kudus"

Para Pemateri dalam sarasehan “Pesan Prasasti al-Masjidil Aqsha Menara Kudus”

Selain mbah Ipud, hadir juga H. Em Nadjib Hassan, Ketua YM3SK selaku penyelanggara memberikan keynote speech, Hasyim Asy’ari, Ph.D selaku moderator memandu para pemateri Drs. Musaddad M.Hum (UGM), Dr. Abdul Jalil, M.E.I. (Akademisi) dan M. Jadul Maula (Budayawan). Acara sarasehan tersebut diadakan tanggal 19 Rajab 1437 sesuai penanggalan hijriyyah, dan dimaksudkan untuk merayakan harlah Kudus dengan dialog pesan Sunan Kudus yang tersirat dalam Prasasti peninggalannya (*).

Qudsiyyah Buka Pendaftaran Santri Baru

Menanamkan ajaran islam dan ilmu terkait secara tepadu melalui pendidikan formal, non-formal maupun informal dilaksanakan Madrasah Qudsiyyah yang telah berusia 1 abad dengan sepenuh hati.

Meneruskan amanah dari KHR. Asnawi yang merintis madrasah Qudsiyyah tahun 1337 H. / 1919 M., Qudsiyyah merupakan instansi akademis yang beakidahkan ahlus sunnah wal-jama’ah berdasarkan ajaran ulama salaf. Serta, mengadopsi kurikulum dari kementerian Agama Republik Indonesia yang mencakup mata pelajaran yang diujikan dalam UAMBN, UN dan UM.

Diasuh oleh para pendidik dan pengajar yang berkualitas, berintegritas dan berpengalaman;

  • KH. M. Sya’roni Ahmadi
  • KH. Nur Halim Ma’ruf
  • KH. Fathur Rahman
  • Para Mutakhorrijin Pondok Pesantren Salaf
  • Sarjana D2, D3, S1, S2

Didukung dengan fasilitas yang memadai seperti laboratorium IPA, Bahasa dan Komputer. Lapangan dan Kelas yang telah memenuhi standar untuk kenyamanan peserta didik.

Download Brosur Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah tahun ajaran 2016-2017 disini.

Pendaftaran santri baru secara resmi dilaksanakan pada 7 – 17 Ramadlan 1437 H. /12 – 22 Juni 2016 M. namun santri dapat mendaftarkan diri sebelum tanggal tersebut di Kantor Tata Usaha Madrasah Tsanawiyyah Qudsiyyah Kudus.

MI Gelar Senam dan Sarapan Bersama

Kamis pagi (14/4), santri dan ustadz MI Qudsiyyah melaksanakan Senam dan sarapan bersama. Hal ini ditujukan untuk menjaga kebugaran santri agar tetap sehat dan semangat dalam melakukan aktifitas KBM. Kegiatan dimulai jam 08.00 WIB di Halaman MI Qudsiyyah Kudus. Bekerjasama dengan produsen food & baverage, MI Qudsiyyah menyediakan 700 sarapan dan membagi mie instan kepada setiap santri.

Santri MI memperhatikan penjelasan akan pentingnya Sarapan

Santri MI memperhatikan penjelasan akan pentingnya Sarapan

Setelah senam bersama, tim ahli gizi memberikan penyuluhan akan pentingnya sarapan pagi untuk aktifitas sehari-hari. Sarapan pagi akan meningkatkan semangat dan meningkatkan konsentrasi belajar, tentunya meningkatkan prestasi siswa. Santri juga ditatar untuk benar dalam sarapan, yakni memastikan kandungan gizi seperti karbohidrat, protein dan tinggi serat.

Ustadz MI juga mencontohkan kepada adik-adik santri untuk membaca doa/ basmalah sebelum dan setelah makan serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Lingkungan yang bersih dan makanan yang kaya gizi menjadikan tubuh sehat, berikut penjelasan salah satu ustadz.

 

Konferensi Pers Jelang Rangkaian Kegiatan 1 Abad

QUDSIYYAH, KUDUS – Tiga hari sebelum  dimulainya rangkaian event 1 Abad Qudsiyyah, panitia dan YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah) mengadakan Konferensi Pers yang bertempat di MA Qudsiyyah. Konferens

i pers dihadiri puluhan media baik cetak, siar maupun online. Dipimpin langsung oleh Ketua panitia, DR. Ihsan, M.Ag didampingi Sekretaris panitia, DR. Abdul Jalil, M.E.I. dan dihadiri oleh Drs. Em. Nadjib Hassan selaku Ketua YAPIQ.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperjelas informasi perihal kegiatan 1 abad yang akan berlangsung bulan April sampai Agustus 2016.  Mengankat tema “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”, rangkaian kegiatan 1 Abad Qudsiyyah melaksanakan 23 kegiatan yang dibalut kearifan lokal khas Kudus. Gusjigang sendiri merupakan term jawa yang berarti Bagus, Ngaji dan Dagang. Menurut Ihsan, di Kota Kudus, Gusjigang sendiri merupakan patron dan perlu dibumikan secara nasional.

Abdul Jalil menjelaskan situs “Menara Kudus” sebagai latar belakang event 100 abad ini. Merupakan bangunan yang dibangun dengan semangat pluralism dan mengenyampingkan fundamentalisme dan egoisme etnis dan agama. Karenanya, sudah seharusnya dengan semangat kebersamaan ini, Qudsiyyah menghadirkan kegiatan demi kegiatan berbasis local wisdom. Jalil menambahkan kegiatan 1 abad tidak hanya mencerminkan bagus saja, kegiatan akademis juga ditonjolkan memaknai term “ngaji”, sedangkan dagang direalisasikan dengan kegiatan expo.

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Menara diangkat oleh panitia sebagai logo 1 abad qudsiyyah, menanggapi hal itu, Abdul Jalil memaparkan eksistensi Menara Kudus sebagai simbol pluralism. Secara arsitekstur, tubuh Menara bercorak Hindu dengan atap khas Islam dan tempat wudlu ala budha yang disatukan di satu tempat peribadatan. Ia menambahkan bahwa sejarah mengungkapkan bahwa Kudus didirikan atas 3 etnis yakni Jawa, Cina dan Arab. Nadjib Hassan menambahkan bahwa kawasan Menara adalah pusat penyebaran islam di Kudus, dan Qudsiyyah mengakar disana. Bukannya tidak sengaja, Qudsiyyah didirikan oleh Mbah Asnawi yang juga cucu Sunan Kudus dalam rangka melestarikan dan melanjutkan dakwah dalam bentuk klasikal (berdasarkan kelas).

Lewat rangkaian kegiatan yang direncanakan, Qudsiyyah hendak memperkenalkan sholawat asnawiyyah dari Mbah Asnawi sebagai sholawat kebangsaan. Ihsan menyinggung usaha Qudsiyyah agar sholawat asnawiyyah tidak hanya milik orang Kudus, akan tetapi lebih luas di lingkungan nahdliyyin. Jalil mengklaim bahwa syair sholawat asnawiyyah adalah satu-satunya yang menyebutkan dan mendoakan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara jelas. Sehingga sudah sepatutnya sholawat Asnawiyyah menjadi sholawat kebangsaan dan dikenal secara nasional. Untuk itu, panitia juga telah menyiapkan seminar nasional yang didedikasikan untuk mendaulat sholawat asnawiyyah yang akan dihadiri oleh Cak Nun. Selain itu secara simbolis, Qudsiyyah akan menyerahkan sholawat Asnawiyyah ke Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai kampanye sholawat kebangsaan.

Rencananya, puncak acara akan dilaksanakan Agustus 2016 dengan kegiatan “Jagong Kamulyan”. Even ini merupakan pertemuan yang akan melepas semua atribut agama dan ego etnis yang menjadi sekat di dalam kultur masyarakat. Mbangun Kudus sebagai agenda utama dengan meneladani mbah Asnawi dan mengembalikan lagi pluralisme yang kian luntur di masyarakat. Jalil menambahkan sudah saatnya masyarakat duduk bersama dan Qudsiyyah sebagai civic menjadi yang terdepan melaksanakannya.

Di akhir, konferensi pers, Nadjib Hassan berharap 1 abad usia Qudsiyyah menjadi momentum revitalisasi madrasah dimana peran madrasah dituntut untuk tetap eksis mencerdaskan bangsa. Qudsiyyah akan terus mencoba menangkap dan mewujudkan visi misi pendirinya, Mbah Asnawi secara presisi dan meneruskan dakwah beliau.

Qudsiyyah Gelar Maulid Nabi

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebelum libur semesteran, Madrasah Qudsiyyah Kudus, pada Sabtu (19/12/2015) melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bertempat di lapangan MTs Qudsiyyah, acara ini berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 1500 santri dari MTs dan MA Qudsiyyah.
Dalam rangkain acaranya, dimulai dengan pembacaan ayat suci al Qur’an dilanjutkan dengan shalawat Asnawiyyah dan pembacaan Maulid Simtud Duror. Dengan iringan grup rebana Al Mubarok, acara maulid tersebut semakin meriah. Dalam Mauidhoh yang disampaikan oleh sesepuh Qudsiyyah, KH Sya’roni Ahmadi. Beliau berpesan agar saat peringatan Maulid Nabi menghadirkan rasa cinta terhadap Nabi.

Beliau mencontohkan apa yang dilakukan Abu Lahab, paman Nabi, saat mendengar kelahiran Nabi. Abu Lahab riang gembira dan juga memerdekan budaknya yang bernama Tsuwaibah.“Karena kegembiraan Abu Lahab itu, ia yang telah dicap kafir dan masuk neraka, setiap hari Senin siksanya dikurangi,” ungkap KH Sya’roni.
Beliau melanjutkan, orang kafir saja bisa dikurangi siksanya, apalagi orang mukmin yang cinta dan mengagungkan Nabi. Selanjutnya, Mbah Yai Sya’roni berpesan agar dalam peringatan Maulid Nabi ini setelah cinta dan mengungkan nabi dan meniru dan meneladani akhlak Nabi. “Kalau belum bisa sepenuhnya, maka dimulai sedikit demi sedikit,” katanya. Terakhir, Nadhir Qudsiyyah ini berpesan kepada seluruh santri Qudsiyyah agar menjadi santri yang Shalih, yang ibadahnya tekun serta perilakunya baik di masyarakat.

Mauidhoh berikutnya, disampaikan oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah, KH. Nur Halim Ma’ruf. Dalam pesannya, beliau menyampaikan pentingnya meningkatkan ibadah bagi santri, khususnya sholat jama’ah.
Dalam acara tersebut juga di akhir acara dibagikan hadiah bagi para pemenang yang telah mengikuti lomba classmeeting yang digelar oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) selama lima hari sebelumnya, yakni pada Ahad – Kamis, 13-17 Desember 2015. Sementara itu untuk santri tingkat MI, pada hari yang sama juga digelar peringatan Maulid Nabi yang bertempat di Aula MI Qudsiyyah Kudus. (*)