Kyai Saifuddin: Kudus Berdiri 19 Rajab

QUDSIYYAH, KUDUS – Menurut prasasti di atas mihrab Masjid Menara, Kudus didirikan tanggal 19 Rajab 956 H. Hal itu diutarakan oleh KH. Saifuddin Luthfi dalam Sarasehan yang diadakan pengurus Yayasan Masjid, menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Acara yang bertajuk “Pesan Prasasti Masjid al-Aqsha Menara Kudus dilaksanakan pada Selasa malam (26/4) di Gedung YM3SK.

“Kenapa 19 Rajab padahal tanggal 27 Rajab lebih bersejarah? Kira-kira 19 adalah perpaduan angka terkecil dan terbesar,” tandasnya. Pesan dari Sunan Kudus agar masjid ini digunakan untuk berjamaah sebanyak-banyaknya ditandai 1 imam dan 9 makmum atau semaksimal mungkin. Beliau menambahkan filosofi angka 19 dalam pemerintahan, pesan daerah ini (kudus) rakyatnya 9 harus mengikuti pemimpinnya yang hanya 1.

Pemateri lain, Jadul Maula dari Lesbumi PBNU berpendapat bahwa 1 melambangkan yudhistira dengan pusaka Jamus Kalimosodo yang berarti setiap nafas harus dzikir kepada Allah SWT, sedangkan 9 adalah bolodewo atau batin kita jadi dzikir tidak hanya nafas tapi merasuk sampai ke batin.

Mbah ipud –panggilan akrab Kyai Saifuddin- membuatkan syair yang menjadi candrasengkala berdirinya Balad Quds, Nama Kota Kudus sesuai prasasti di Masjid al-Aqsha. Syair tersebut beliau diakuinya terinspirasi dari syair Syaikh Barzanji pengarang kitab Maulid.

المسجد الاقصى وقد بناه # سيدنا جعفر وقد سواه

في رجب الاصم يوم التاسع # من بعد عشر انه اواه

تاريخه من هجرة النبي وقد # اسس مسجده على تقواه

Dengan rangkaian syair berbahar rojaz ini, kyai yang masih aktif sebagai pengajar di Madrasah Qudsiyyah ini bermaksud bahwa al-Masjidil Aqsha telah dibangun oleh Sayyid Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus pada 19 Rajab tahun 956. Uniknya penyebutan tahun ditulis dengan lafad

وقد  اسس  مسجده  على  تقواه

512    101   112    121   110

Yang jika dijumlahkan dengan perhitungan abajadun berjumlah 956. Jika dalam prasasti jelas menyebutkan bahwa berdirinya masjidil Aqsha sebagai deklarasi berdirinya Kota Kudus maka Kudus berdiri pada hari itu juga yang jika dikonversi ke tarikh umum menjadi 23 Agustus 1549.

Para Pemateri dalam sarasehan "Pesan Prasasti al-Masjidil Aqsha Menara Kudus"

Para Pemateri dalam sarasehan “Pesan Prasasti al-Masjidil Aqsha Menara Kudus”

Selain mbah Ipud, hadir juga H. Em Nadjib Hassan, Ketua YM3SK selaku penyelanggara memberikan keynote speech, Hasyim Asy’ari, Ph.D selaku moderator memandu para pemateri Drs. Musaddad M.Hum (UGM), Dr. Abdul Jalil, M.E.I. (Akademisi) dan M. Jadul Maula (Budayawan). Acara sarasehan tersebut diadakan tanggal 19 Rajab 1437 sesuai penanggalan hijriyyah, dan dimaksudkan untuk merayakan harlah Kudus dengan dialog pesan Sunan Kudus yang tersirat dalam Prasasti peninggalannya (*).

Qudsiyyah Buka Pendaftaran Santri Baru

Menanamkan ajaran islam dan ilmu terkait secara tepadu melalui pendidikan formal, non-formal maupun informal dilaksanakan Madrasah Qudsiyyah yang telah berusia 1 abad dengan sepenuh hati.

Meneruskan amanah dari KHR. Asnawi yang merintis madrasah Qudsiyyah tahun 1337 H. / 1919 M., Qudsiyyah merupakan instansi akademis yang beakidahkan ahlus sunnah wal-jama’ah berdasarkan ajaran ulama salaf. Serta, mengadopsi kurikulum dari kementerian Agama Republik Indonesia yang mencakup mata pelajaran yang diujikan dalam UAMBN, UN dan UM.

Diasuh oleh para pendidik dan pengajar yang berkualitas, berintegritas dan berpengalaman;

  • KH. M. Sya’roni Ahmadi
  • KH. Nur Halim Ma’ruf
  • KH. Fathur Rahman
  • Para Mutakhorrijin Pondok Pesantren Salaf
  • Sarjana D2, D3, S1, S2

Didukung dengan fasilitas yang memadai seperti laboratorium IPA, Bahasa dan Komputer. Lapangan dan Kelas yang telah memenuhi standar untuk kenyamanan peserta didik.

Download Brosur Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah tahun ajaran 2016-2017 disini.

Pendaftaran santri baru secara resmi dilaksanakan pada 7 – 17 Ramadlan 1437 H. /12 – 22 Juni 2016 M. namun santri dapat mendaftarkan diri sebelum tanggal tersebut di Kantor Tata Usaha Madrasah Tsanawiyyah Qudsiyyah Kudus.

MI Gelar Senam dan Sarapan Bersama

Kamis pagi (14/4), santri dan ustadz MI Qudsiyyah melaksanakan Senam dan sarapan bersama. Hal ini ditujukan untuk menjaga kebugaran santri agar tetap sehat dan semangat dalam melakukan aktifitas KBM. Kegiatan dimulai jam 08.00 WIB di Halaman MI Qudsiyyah Kudus. Bekerjasama dengan produsen food & baverage, MI Qudsiyyah menyediakan 700 sarapan dan membagi mie instan kepada setiap santri.

Santri MI memperhatikan penjelasan akan pentingnya Sarapan

Santri MI memperhatikan penjelasan akan pentingnya Sarapan

Setelah senam bersama, tim ahli gizi memberikan penyuluhan akan pentingnya sarapan pagi untuk aktifitas sehari-hari. Sarapan pagi akan meningkatkan semangat dan meningkatkan konsentrasi belajar, tentunya meningkatkan prestasi siswa. Santri juga ditatar untuk benar dalam sarapan, yakni memastikan kandungan gizi seperti karbohidrat, protein dan tinggi serat.

Ustadz MI juga mencontohkan kepada adik-adik santri untuk membaca doa/ basmalah sebelum dan setelah makan serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Lingkungan yang bersih dan makanan yang kaya gizi menjadikan tubuh sehat, berikut penjelasan salah satu ustadz.

 

Konferensi Pers Jelang Rangkaian Kegiatan 1 Abad

QUDSIYYAH, KUDUS – Tiga hari sebelum  dimulainya rangkaian event 1 Abad Qudsiyyah, panitia dan YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah) mengadakan Konferensi Pers yang bertempat di MA Qudsiyyah. Konferens

i pers dihadiri puluhan media baik cetak, siar maupun online. Dipimpin langsung oleh Ketua panitia, DR. Ihsan, M.Ag didampingi Sekretaris panitia, DR. Abdul Jalil, M.E.I. dan dihadiri oleh Drs. Em. Nadjib Hassan selaku Ketua YAPIQ.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperjelas informasi perihal kegiatan 1 abad yang akan berlangsung bulan April sampai Agustus 2016.  Mengankat tema “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”, rangkaian kegiatan 1 Abad Qudsiyyah melaksanakan 23 kegiatan yang dibalut kearifan lokal khas Kudus. Gusjigang sendiri merupakan term jawa yang berarti Bagus, Ngaji dan Dagang. Menurut Ihsan, di Kota Kudus, Gusjigang sendiri merupakan patron dan perlu dibumikan secara nasional.

Abdul Jalil menjelaskan situs “Menara Kudus” sebagai latar belakang event 100 abad ini. Merupakan bangunan yang dibangun dengan semangat pluralism dan mengenyampingkan fundamentalisme dan egoisme etnis dan agama. Karenanya, sudah seharusnya dengan semangat kebersamaan ini, Qudsiyyah menghadirkan kegiatan demi kegiatan berbasis local wisdom. Jalil menambahkan kegiatan 1 abad tidak hanya mencerminkan bagus saja, kegiatan akademis juga ditonjolkan memaknai term “ngaji”, sedangkan dagang direalisasikan dengan kegiatan expo.

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Menara diangkat oleh panitia sebagai logo 1 abad qudsiyyah, menanggapi hal itu, Abdul Jalil memaparkan eksistensi Menara Kudus sebagai simbol pluralism. Secara arsitekstur, tubuh Menara bercorak Hindu dengan atap khas Islam dan tempat wudlu ala budha yang disatukan di satu tempat peribadatan. Ia menambahkan bahwa sejarah mengungkapkan bahwa Kudus didirikan atas 3 etnis yakni Jawa, Cina dan Arab. Nadjib Hassan menambahkan bahwa kawasan Menara adalah pusat penyebaran islam di Kudus, dan Qudsiyyah mengakar disana. Bukannya tidak sengaja, Qudsiyyah didirikan oleh Mbah Asnawi yang juga cucu Sunan Kudus dalam rangka melestarikan dan melanjutkan dakwah dalam bentuk klasikal (berdasarkan kelas).

Lewat rangkaian kegiatan yang direncanakan, Qudsiyyah hendak memperkenalkan sholawat asnawiyyah dari Mbah Asnawi sebagai sholawat kebangsaan. Ihsan menyinggung usaha Qudsiyyah agar sholawat asnawiyyah tidak hanya milik orang Kudus, akan tetapi lebih luas di lingkungan nahdliyyin. Jalil mengklaim bahwa syair sholawat asnawiyyah adalah satu-satunya yang menyebutkan dan mendoakan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara jelas. Sehingga sudah sepatutnya sholawat Asnawiyyah menjadi sholawat kebangsaan dan dikenal secara nasional. Untuk itu, panitia juga telah menyiapkan seminar nasional yang didedikasikan untuk mendaulat sholawat asnawiyyah yang akan dihadiri oleh Cak Nun. Selain itu secara simbolis, Qudsiyyah akan menyerahkan sholawat Asnawiyyah ke Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai kampanye sholawat kebangsaan.

Rencananya, puncak acara akan dilaksanakan Agustus 2016 dengan kegiatan “Jagong Kamulyan”. Even ini merupakan pertemuan yang akan melepas semua atribut agama dan ego etnis yang menjadi sekat di dalam kultur masyarakat. Mbangun Kudus sebagai agenda utama dengan meneladani mbah Asnawi dan mengembalikan lagi pluralisme yang kian luntur di masyarakat. Jalil menambahkan sudah saatnya masyarakat duduk bersama dan Qudsiyyah sebagai civic menjadi yang terdepan melaksanakannya.

Di akhir, konferensi pers, Nadjib Hassan berharap 1 abad usia Qudsiyyah menjadi momentum revitalisasi madrasah dimana peran madrasah dituntut untuk tetap eksis mencerdaskan bangsa. Qudsiyyah akan terus mencoba menangkap dan mewujudkan visi misi pendirinya, Mbah Asnawi secara presisi dan meneruskan dakwah beliau.

Qudsiyyah Gelar Maulid Nabi

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebelum libur semesteran, Madrasah Qudsiyyah Kudus, pada Sabtu (19/12/2015) melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bertempat di lapangan MTs Qudsiyyah, acara ini berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 1500 santri dari MTs dan MA Qudsiyyah.
Dalam rangkain acaranya, dimulai dengan pembacaan ayat suci al Qur’an dilanjutkan dengan shalawat Asnawiyyah dan pembacaan Maulid Simtud Duror. Dengan iringan grup rebana Al Mubarok, acara maulid tersebut semakin meriah. Dalam Mauidhoh yang disampaikan oleh sesepuh Qudsiyyah, KH Sya’roni Ahmadi. Beliau berpesan agar saat peringatan Maulid Nabi menghadirkan rasa cinta terhadap Nabi.

Beliau mencontohkan apa yang dilakukan Abu Lahab, paman Nabi, saat mendengar kelahiran Nabi. Abu Lahab riang gembira dan juga memerdekan budaknya yang bernama Tsuwaibah.“Karena kegembiraan Abu Lahab itu, ia yang telah dicap kafir dan masuk neraka, setiap hari Senin siksanya dikurangi,” ungkap KH Sya’roni.
Beliau melanjutkan, orang kafir saja bisa dikurangi siksanya, apalagi orang mukmin yang cinta dan mengagungkan Nabi. Selanjutnya, Mbah Yai Sya’roni berpesan agar dalam peringatan Maulid Nabi ini setelah cinta dan mengungkan nabi dan meniru dan meneladani akhlak Nabi. “Kalau belum bisa sepenuhnya, maka dimulai sedikit demi sedikit,” katanya. Terakhir, Nadhir Qudsiyyah ini berpesan kepada seluruh santri Qudsiyyah agar menjadi santri yang Shalih, yang ibadahnya tekun serta perilakunya baik di masyarakat.

Mauidhoh berikutnya, disampaikan oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah, KH. Nur Halim Ma’ruf. Dalam pesannya, beliau menyampaikan pentingnya meningkatkan ibadah bagi santri, khususnya sholat jama’ah.
Dalam acara tersebut juga di akhir acara dibagikan hadiah bagi para pemenang yang telah mengikuti lomba classmeeting yang digelar oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) selama lima hari sebelumnya, yakni pada Ahad – Kamis, 13-17 Desember 2015. Sementara itu untuk santri tingkat MI, pada hari yang sama juga digelar peringatan Maulid Nabi yang bertempat di Aula MI Qudsiyyah Kudus. (*)

QURBAN DAN BAKSOS DIMERIAHKAN TARI SUFI

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada yang berbeda dalam kegiatan Qurban dan Baksos tahun ini. Kegiatan yang rutin digelar setiap Idul Adha oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) ini digebyar dengan nuansa satu abad Qudsiyyah.
Acara yang dihelat selama tiga hari pada Kamis-Sabtu (23-25/09/2015) di lapangan Peganjaran Kudus ini memang menjadi bagian dari rangkaian gebyar satu abad Qudsiyyah Kudus yang puncaknya akan digelar pada Juli 2016 mendatang.

Berbagai acara turut memeriahkan acara utama Qurban dan Baksos ini, antara lain kegiatan bazar dan pameran oleh alumni dan Madrasah Qudsiyyah Kudus. Serta acara puncak pada peringatan ini adalah pengajian umum yang dimeriahkan dengan grup rebana Al Mubarok, Tari sufi serta dengan pembicara utama KH. Ahmad Asnawi Kudus.

IMG_7040Sebanyak empat penari sufi turut memeriahkan pembacaan maulid nabi Simtudduror dalam pengajian tersebut. Selain tari sufi yang menjadi banyak perhatian masyarakat adalah adanya pameran dan bazar dari produk dari alumni Qudsiyyah. Sebanyak 20 stan disiapkan untuk menampung pameran dan produk-produk dari alumni dan pemaran andalan dari Qudsiyyah sendiri.

Salah satu stand yang banyak menjadi tujuan adalah stand kaligrafi. Di sini di stand madrasah Qudsiyyah ini diberikan kaligrafi gratis penulisan nama dengan kaligrafi arab. Setiap pengunjung mendapatkan tulisan kaligrafi arab yang diberikan secara cuma-cuma dari karya para siswa dan santri Qudsiyyah yang menjadi andalan.

Ratusan masyarakat berbondong-bondong menyerbu stand ini. Selain stand kaligrafi juga yang menjadi andalan adalah stand falak. Di sini dipamerkan berbagai macam alat falak yang menjadi rujukan dan pameran, diantara theodolit untuk meneropong hilal dan sebagainya. Secara umum kegiatan ini sangat meriah dengan peserta kemah juga berasal dari sekitar 15 ambalan dari tamu undangan di sekolah MA/SMA sekitar.(*)

MERINTIS “ASNAWIYAH” MENJADI SHOLAWAT NASIONAL NU

QUDSIYYAH, JOMBANG – Qudsiyyah Kudus berupaya terus melestarikan dan mengembangkan ajaran-ajaran dari pendiri dan sesepuh Qudsiyyah Kudus. Salah satu yang terus digencarkan adalah dengan memopulerkan Sholawat Asnawiyah, karya pendiri madrasah Qudsiyyah, KHR Asnawi di level nasional.

Selain aspek kesenian melalui Grup Rebana Al Mubarok Qudsiyyah, yang selalu memopulerkan Sholawat Asnawiyah, Qudsiyyah Juga berupaya mengenalkan Sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran dalam Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama, di Jombang pada 1- 5 Agustus 2015.

Dalam pameran tersebut, Qudsiyyah mengambil peran untuk mengenalkan karya-karya KHR Asnawi yang merupakan salah satu pendiri NU dari Kudus. Salah satu karya monumental KHR Asnawi adalah sholawat Asnawiyah, dimana dalam liriknya merupakan wujud kecintaan dan nasionalisme KHR Asnawi terhadap Indonesia. Dalam teks sholawat Asnawiyah tersebut beliau berharap negeri ini selalu aman, damai dan masyarakatnya sejahtera, menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.

Melalui pameran tersebut, diharapkan masyarakat luas semakin mengenal karya pendiri NU, Sholawat Asnawiyyah, dan juga semakin mengenal lembaga Pendidikan Qudsiyyah. Madrasah Qudsiyyah ini merupakan Madrasah yang didirikan oleh KHR Asnawi pada tahun 1919 M, sebelum beliau mendirikan ponodk pesantren Raudlatut Tholibin. Upaya lain untuk memopulerkan sholawat Asnawiyah juga dilakukan para alumni Qudsiyyah, utamanya mereka yang duduk di dalam jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama tingkat pusat. Harapannya, sholawat pendiri NU ini menjadi salah satu sholawat “wajib” di ormas dengan jumlah angngota terbesar di Indonesia ini.

Dalam pameran di Mukatamar NU tersebut, Qudsiyyah bekerjasama dengan Yayasan masjid, Menara dan Makam sunan Kudus (YM3SK) dan menempati salah satu lokasi standa di komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain karya sholawat, berbagai keunggulan Qudsiyyah juga ditampilkan di sana, mulai dari penerbitan almanak (kalender), yang sejak lima tahun terakhir menyusun sendiri, kitab-kitab Qudsiyyah, yang merupakan karya asli dari para Masyayikh Qudsiyyah, produk jurnalistik karya santri, seperti majalah dan bulletin, hingga foto-foto Qudsiyyah tempo dulu, juga menghiasi stand Qudsiyyah Kudus. (*)

QUDSIYYAH KUDUS, SONGSONG SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Semenjak lahir pada 1919 M yang didirikan oleh KH Raden Asnawi, Madrasah Qudsiyyah sudah meluluskan ribuan santrinya. Hingga menjelang satu abad berdirinya kini, banyak hal yang dipersiapkan oleh pihak Qudsiyyah, salah satunya dari Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ).

Sebagaimana disampaikan Ketua IKAQ, DR. H. M. Ihsan, mengajak kepada alumni di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam mengadakan kegiatan dalam rangka satu abad Qudsiyyah Kudus, membantu sesuai bidang masing-masing.

Pihaknya menjelaskan, banyak kegiatan yang akan disiapkan dalam rangka peringatan satu abad Madrasah yang didirikan oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

“Penulisan buku satu abad pengajian akbar, lomba, dakwah keliling, bazar, halaqoh, sepeda santai, dan lain sebagainya,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan dalam Halalbihalal IKAQ di halaman MTs Qudsiyyah, Kamis (30/7/2015) siang.

“Oleh karena itu, dalam rangka menyongsong satu abad ini, kami harap kepada semua alumni Qudsiyyah dimohon partisipasinya agar pelaksanaan peringatan satu abad Qudsiyyah bisa sukses sesuai dengan harapan para masyayikh (guru-guru sepuh-red),” tambah dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) KH Nadjib Hassan dalam sambutannya menegaskan, bahwa Halalbihalal bukanlah puncak dari kegiatan alumni, tetapi peran besar dari alumni adalah bagaimana menjaga keutuhan terutama di dalam menjaga aqidah Aswaja NU.

“Jangan sampai setelah keluar dari Qudsiyyah mengikuti aliran-aliran yang bertentangan dengan Aswaja NU. Kita itu punya Guru Besar yang namanya Mbah Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU), kenapa mengikuti guru-guru aneh yang tidak jelas sanad keilmuannya,” jelasnya.

Peran yang tidak kalah penting, lanjut Kiai Nadjib, mengangkat perekonomian para alumni. “Untuk itu, dua pokok tugas yakni aqidah dan perekonomian yang sangat penting diperhatikan untuk saat ini,” ujar mantan Ketua Paguyuban Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa itu.

Dalam halal Bihalal tersebut, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi. Dalam pesannya beliau menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Nabi Muhammad SAW. Mustasyar PBNU dari Kudus mencontohkan metode dakwah Nabi saat Fathu Makkah, dimana masyarakat Mekah ditaklukkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan diplomasi yang menarik. Sehingga masyarakat berduyun-duyun memeluk Islam. (*)

QUDSIYYAH RAIH MEDALI PERAK DI AKSIOMA NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Hasil menggembirakan diraih siswa MTs Qudsiyyah Kudus di tingkat nasional. Bagus Tregginas (9 B), siswa MTs Qudsiyyah sukses mempersembahkan medali perak Cabang Bulu Tangkis Putra dalam ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) Tingkat Nasional 2015, di Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, pada 3 – 7 Agustus 2015.

Pagelaran final yang digelar di Sport Center Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Kamis (6/8/2015), santri Qudsiyyah, harus mengakui keunggulan lawannya, Toha Al Muktarim (Pekan Baru Baru Riau) dengan sekor 15-21 dan 17-21. Atas hasil ini, Bagus, yang juga binaan PB Musica Flypower Champion Kudus harus puas di urutan kedua.

Dalam ajang Aksioma tingkat Nasional ini, Qudsiyyah mengirimkan dua delegasi yang mewakili Jawa Tengah, yakni Bagus Trengginas (9 B) pada cabang Bulu Tangkis dan Saiful Niam Muzakki (8 A) pada ajang Kaligrafi Putra.
Sebelumnya, dua siswa MTs Qudsiyyah ini mampu menjadi juara pertama di tingkat provinsi pada Aksioma Jawa Tengah yang dilaksanakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada 3-6 Juni 2015.

Kepala MTs Qudsiyyah, Himmatul Fuad, M.S.I, mengungkapkan, medali perak teorahan siswa MTs Qudsiyyah ini merupakan prestasi yang membanggakan dan patut disyukuri. “Semoga ini menjadi spirit dan semangat bagi santri-santri lain untuk terus bersemangat menelurkan prestasi-prestasi berikutnya,” katanya. (*)

QUDSIYYAH SUMBANG DUA EMAS DI AKSIOMA JATENG

QUDSIYYAH, KUDUS – Dua santri Qudsiyyah Kudus sukses menyumbang dua medali emas dalam Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tingkat Jawa Tengah pada 3-6 Juni 2015 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Dua emas ini menambah koleksi raihan emas dari Kontingen kabupaten Kudus dan mengantarkannya menjadi juara umum dalam event bergengsi tingkat provinsi tersebut.

Bagus Tregginas (8 B), siswa MTs Qudsiyyah sukses meraih juara 1 dalam cabang Bulu Tangkis, dan Saiful Niam Muzakki (7 A), siswa MTs Qudsiyyah sukses menjadi juara pertama dari cabang Kaligrafi. Atas hasil ini, dua santri Qudsiyyah ini, bakal maju pada Aksioma tingkat nasional yang dilaksanakan di Palembang, pada 3-7 Agustus mendatang.

Kepala MTs Qudsiyyah, Himmatul Fuad, M.S.I, mengungkapkan, sumbangan dua emas dari siswa MTs Qudsiyyah ini merupakan torehan prestasi yang membanggakan dan patut disyukuri. “Semoga ini menjadi spirit dan semangat bagi santri-santri lain untuk terus bersemangat menelurkan prestasi-prestasi berikutnya,” katanya.

Ia juga berharap agar kedua santri ini juga mampu berprestasi di ajang nasional nanti. “Doa dan dukungan kita semua harus kita curahkan agar dalam Aksioma nasional nanti, santri Qudsiyyah mampu menyumbang medali,” pungkasnya.

Aksioma Jateng 2015 ini diikuti oleh 1.785 peserta dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) utusan dari 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah, serta melibatkan tak kurang dari 350 ofisial.

Dalam perlombaan ini, sebanyak 11 cabang seni dan olahraga yang dipertandingkan dalam Aksioma yaitu; atletik, bulu tangkis, tenis meja, Madrasah singer, MTQ, Hadroh, Tahfiz, Kaligrafi, Pidato Bahasa Inggris, Arab dan Indonesia.

Kontingen dari Kabupaten Kudus menyabet gelar juara umum dengan mengumpulkan 6 medali emas dan 3 medali. Disusul kontingen Jepara menjadi runner-up dengan raihan 4 medali emas, 2 perak. Tuan rumah Boyolali menempati urutan ketiga dengan 4 emas, 1 perak. (*)