QUDSIYYAH RAIH MEDALI PERAK DI AKSIOMA NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Hasil menggembirakan diraih siswa MTs Qudsiyyah Kudus di tingkat nasional. Bagus Tregginas (9 B), siswa MTs Qudsiyyah sukses mempersembahkan medali perak Cabang Bulu Tangkis Putra dalam ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) Tingkat Nasional 2015, di Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, pada 3 – 7 Agustus 2015.

Pagelaran final yang digelar di Sport Center Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Kamis (6/8/2015), santri Qudsiyyah, harus mengakui keunggulan lawannya, Toha Al Muktarim (Pekan Baru Baru Riau) dengan sekor 15-21 dan 17-21. Atas hasil ini, Bagus, yang juga binaan PB Musica Flypower Champion Kudus harus puas di urutan kedua.

Dalam ajang Aksioma tingkat Nasional ini, Qudsiyyah mengirimkan dua delegasi yang mewakili Jawa Tengah, yakni Bagus Trengginas (9 B) pada cabang Bulu Tangkis dan Saiful Niam Muzakki (8 A) pada ajang Kaligrafi Putra.
Sebelumnya, dua siswa MTs Qudsiyyah ini mampu menjadi juara pertama di tingkat provinsi pada Aksioma Jawa Tengah yang dilaksanakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada 3-6 Juni 2015.

Kepala MTs Qudsiyyah, Himmatul Fuad, M.S.I, mengungkapkan, medali perak teorahan siswa MTs Qudsiyyah ini merupakan prestasi yang membanggakan dan patut disyukuri. “Semoga ini menjadi spirit dan semangat bagi santri-santri lain untuk terus bersemangat menelurkan prestasi-prestasi berikutnya,” katanya. (*)

QUDSIYYAH SUMBANG DUA EMAS DI AKSIOMA JATENG

QUDSIYYAH, KUDUS – Dua santri Qudsiyyah Kudus sukses menyumbang dua medali emas dalam Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tingkat Jawa Tengah pada 3-6 Juni 2015 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Dua emas ini menambah koleksi raihan emas dari Kontingen kabupaten Kudus dan mengantarkannya menjadi juara umum dalam event bergengsi tingkat provinsi tersebut.

Bagus Tregginas (8 B), siswa MTs Qudsiyyah sukses meraih juara 1 dalam cabang Bulu Tangkis, dan Saiful Niam Muzakki (7 A), siswa MTs Qudsiyyah sukses menjadi juara pertama dari cabang Kaligrafi. Atas hasil ini, dua santri Qudsiyyah ini, bakal maju pada Aksioma tingkat nasional yang dilaksanakan di Palembang, pada 3-7 Agustus mendatang.

Kepala MTs Qudsiyyah, Himmatul Fuad, M.S.I, mengungkapkan, sumbangan dua emas dari siswa MTs Qudsiyyah ini merupakan torehan prestasi yang membanggakan dan patut disyukuri. “Semoga ini menjadi spirit dan semangat bagi santri-santri lain untuk terus bersemangat menelurkan prestasi-prestasi berikutnya,” katanya.

Ia juga berharap agar kedua santri ini juga mampu berprestasi di ajang nasional nanti. “Doa dan dukungan kita semua harus kita curahkan agar dalam Aksioma nasional nanti, santri Qudsiyyah mampu menyumbang medali,” pungkasnya.

Aksioma Jateng 2015 ini diikuti oleh 1.785 peserta dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) utusan dari 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah, serta melibatkan tak kurang dari 350 ofisial.

Dalam perlombaan ini, sebanyak 11 cabang seni dan olahraga yang dipertandingkan dalam Aksioma yaitu; atletik, bulu tangkis, tenis meja, Madrasah singer, MTQ, Hadroh, Tahfiz, Kaligrafi, Pidato Bahasa Inggris, Arab dan Indonesia.

Kontingen dari Kabupaten Kudus menyabet gelar juara umum dengan mengumpulkan 6 medali emas dan 3 medali. Disusul kontingen Jepara menjadi runner-up dengan raihan 4 medali emas, 2 perak. Tuan rumah Boyolali menempati urutan ketiga dengan 4 emas, 1 perak. (*)

CIPTAKAN DIRI MANDIRI MENGHADAPI AFTA!

KUDUS, QUDSIYYAH – Salah satu tawaran strategi bagi pelajar dalam menghadapi ekonomi ASEAN 2015 adalah menciptakan diri menjadi mandiri dan kreatif. Demikian salah satu hal yang diungkap oleh akademisi dan peneliti Kudus, DR Abdul Jalil, M.E.I dalam diskusi bertema “Menyiapkan Sumber Daya Kompetitif Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015” di gedung Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) di Jl Sunan Kudus No. 198, pada Sabtu (2/5/2015).

Dalam diskusi yang digagas oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) Kudus dengan menghadirkan sekitar 200 pelajar tingkat MA/SMA se-Kabupaten Kudus ini, Jalil menyerukan kepada pelajar untuk selalu optimis dalam segala hal. “Gagal, lupa, berbuat salah, tidak naik kelas, mendapat nilai jelek, tidak masalah asalkan anda bangkit dari semua itu. Yang jadi masalah adalah ketika anda tidak bangkit dan terpuruk dengan hal-hal itu,” tegasnya.

Lebih jauh dijelaskan ASEAN Free Trade Area (AFTA) atau kawasan perdagangan bebas ASEAN merupakan kesepakatan Negara-Negara Asia Tenggara untuk meningkatkan daya saing ekonomi dan menciptakan pasar regional. Praktisnya, dalam AFTA nanti tidak ada lagi pajak bea masuk impor komoditas pada wilayah Negara ASEAN. “Imbasnya, negeri kita akan diserbu dengan barang-barang luar negeri. Sebaliknya, kita juga bebas menyerbu Negara tetangga dengan barang-barang produk kita. Persoalannya, sudah siapkah kita?,” tanya pria yang juga Mudarris Ma’had Qudsiyyah Kudus.

Oleh karena itu, menghadapi hal ini, beliau berpesan agar para pelajar harus terus membaca potensi diri dan kemudian terus dikembangkan menjadi pribadi-pribadi yang kreatif dan inovatif. “Para siswa harus menjadi pribadi yang ulet, tangguh dan kreatif, sehingga pada gilirannya akan mampu mandiri dan mampu bersaing di pasar bebas dengan berbagai inovasi,” terangnya.

Inovasi adalah suatu ide baru bagi seseorang atau kelompok yang digunakan untuk mencapai tujuan untuk memecahkan masalah tertentu atau juga penciptaan sesuatu yang baru. Hal ini identik dengan kreatif yang secara umum karakteristik orang kreatif adalah selalu melihat sesuatu dengan cara berbeda dan baru. “Proses kreatifitas yang melibatkan ide-ide baru, berguna dan dapat diimplementasikan inilah yang pada akhirnya menciptakan seseorang menjadi mandiri,” pungkasnya.

Nara sumber lain, KH Ahmad Asnawi mengungkapkan, kunci kesuksesan adalah dengan teguh menjaga kejujuran. “Dimanapun dan kapanpun kejujuran tetap menjadi andalan yang tak akan lekang oleh waktu,” ungkap kyai muda Qudsiyyah ini.
Lebih lanjut ditekankan, kepada para pelajar harus bersikap dan bertindak jujur dalam segala hal. “Menjadi pelajar harus jujur, bekerja juga harus jujur, menjadi pengusaha juga harus jujur,” katanya.

Sementara itu, Dzikri Fauqi Agbas, salah satu pengusaha Kudus yang juga menjadi nara sumber memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu bermental optimis dan tidak bermental psimis.
Ia juga menyatakan, salah satu hal yang dikembangkan dalam perusahaan keluarganya adalah dengan mengembangkan apa yang disebut sebagai spiritual company. Artinya, dalam bekerja, semua pihak, mulai dari tingkat paling bawah, karyawan, hingga tingkat paling atas hars menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. (*)

Ratusan Santri dan Kiai Kudus Ziarahi Makam KHR Asnawi

KUDUS, Ratusan santri, kiai dan warga NU, mengadakan ziarah ke makam KHR Asnawi di kompleks Makam Masjid Menara Rabu (15/4) sore. Mereka secara khusuk mengikuti Tahlil Umum sebagai rangkaian peringatan Haul ke-57 pendiri NU tersebut.

Acara diawali dengan pembukaan majelis yang dipimpin KH Aniq Muhammadun, pembacaan Surat Yasin oleh wakil Rais PCNU Kudus KH Ahmadi Abdul Fatah, dilanjutkan tahlil dengan imam KH Choirozyad dan doa KH Ulin Nuha Arwani.

Mustasyar PBNU, KH Sya’roni Ahmadi saat memberikan tausiah menerangkan pentingnya peringatan Haul. Mengutip kitab Syarah Nahjil Balaghah, KH. Sya’roni menjelaskan, setiap tahun Nabi Muhammad menyempatkan diri menziarahi makam para sahabat yang gugur dalam perang Uhud. Padahal jarak rumah Nabi ke makam sangat jauh, sekitar 6 KM, dan diikuti sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.

“Ada tata caranya: sampai makam, Nabi menyampaikan salam dengan menggunakan mukhatab (redaksi yang menunjukkan adanya lawan bicara, red). Assalamu’alaikum bima shabartum fani’ma’uqbad daar (semoga keselamatan untuk kalian lantaran kesabaran kalian, senikmat-nikmatnya tempat adalah tempati ini). Para sahabat ini jelas menempati surga,” terangnya.

Ulama kharismatik ini menjelaskan, hingga kini peringatan haul telah menjadi tradisi di kalangan masyarakat. Ia mencontohkon setiap 10 Muharram ada peringatan haul Sunan Kudus dan 24 Jumadil Akhir haul Mbah KHR Asnawi.

Namun, KH Sya’roni Ahmadi mengingatkan jangan berniat mendoakan saat memperingati haul dengan menziarahi makam orang alim seperti KHR Asnawi ini. “Itu keliru, niatlah untuk ngalap (mengharap) berkah,” paparnya.

Di akhir tausiah, KH Sya’roni menuturkan, kisah singkat riwayat hidup KHR Asnawi. Dikatakan, KHR Asnawi adalah sosok orang alim yang memiliki kelebihan dan serba bisa baik dalam menimba maupun mengajarkan ilmunya kepada santri dan masyarakat.

Usai tahlil umum, peringatan haul dilanjutkan pengajian umum pada malam harinya di halaman Pondok pesantren Raudlotut thalibin Bendan. Ribuan masyarakat mengikuti pengajian hingga purna acara. (Qomarul Adib/Mahbib)

Sumber: NUOnline

QIRO’AH SAB’AH, PELENGKAP TEORI BACA AL QUR’AN

Sebenarnya bacaan Al Qur’an itu mempunyai beberapa jenis. Qiro’ah sab’ah merupakan salah satu mata pelajaran yang mendiskusikan tentang berbagai jenis bacaan al Qur’an. Sampai saat ini, di MA Qudsiyyah Kudus Qiro’ah sab’ah masih menjadi salah satu mata pelajaran andalan yang terus diajarkan sejak awal berdiri pada tahun 1973 ini. Materinya antara lain mempelajari jenis-jenis bacaan Al Qur’an.

Salah satu guru MA Qudsiyyah Kudus, H. Yusrul Hana, mengatakan, qiro’ah sab’ah adalah pelajaran membaca al Qur’an yang terdiri dari tujuh versi imam. Di antaranya Imam Nafi’, Imam Ibnu Katsir, Imam Abu ‘Amr, Imam Ibnu Amir, Imam ‘Ashim, Imam Hamzah, Imam Ali Kisa’i.

“Materi itu kami kenalkan kepada siswa, agar mengetahui jenis-jenis bacaan AlQur’an. Sebab, selama ini yang dibaca oleh seluruh umat Islam seluruh dunia adalah versi salah satu ketujuh imam tersebut, yakni Imam Ashim,” katanya.

Dengan adanya materi pelajaran tersebut madrasah yang terletak di JL KHR Asnawi Gang Kerjasan Kota Kudus ini memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang al Qur’an terhadap siswanya. Salah satu pengampu qiro’ah sab’ah di MA Qudsiyyah adalah KH M Sya’roni AHmadi, salah satu ulama’ sepuh di Kudus.

Kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin, mengatakan, dengan mendalami qiro’ah sab’ah, bacaan siswa tidak lagi monoton, dan siswa menjadi bertambah wawasannya terhadap al Qur’an. Sehingga diharapkan, lulusan madrasah ini mampu mengaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat.

Madrasah yang memiliki 564 siswa dengan 15 rombel dan 33 guru ingin memberikan ilmu yang bermanfaat bagi siswanya. Dan ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan terutama bagi orang lain. Sebab, lulusan Qudsiyyah banyak yangmenjadi pemuka agama di masyarakat, maka pihak madrasah dengan serius menggembleng bibit-bibit calon pemuka agama dengan beragam ilmu agama.

“Manfaatnya banyak sekali, khususnya sebagai penengah ketidakfahaman masyarakat awam ketika di masjid atau musholla ada imam yang membaca surat atau ayat al Qur’an dengan versi dari imam yang tidak biasa, maka siswa ini dapat menjelaskan di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya. (*)

Disarikan dari KORAN MURIA, edisi Jum’at 30 Januari 2015

BERKURBAN DI DAERAH NON-MUSLIM

QUDSIYYAH, KUDUS – Kegiatan sosial yang dilaksanakan Madrasah Qudsiyyah Kudus terus dilakukan setiap tahun. Kegiatan yang dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Adha ini, pada tahun ini dilaksanakan di Dukuh Ngelo (Ngeseng) Desa  Karangrowo Kec Undaan Kabupaten Kudus.

Selama tiga hari, mulai Sabtu – Senin (11-13 Oktober 2014) sekitar 150 santri turun langsung di daerah yang juga terdapat banyak keluarga yang belum memeluk agama Islam. Di daerah tersebut sekitar 45 kepala keluarga belum memeluk agama Islam. Oleh karena itu, dalam even Idul Qurban tahun ini, Qudsiyyah melaksanakan dakwah sekaligus bakti sosial di daerah yangjauh dari kota tersebut.

Selain mendekati para penduduk yang belum memeluk Islam, kegiatan Kurban dan bakti sosial di daerah Ngeseng tersebut juga sebagai bentuk memberi semangat kepada tokoh dan penduduk muslim setempat untuk terus berdakwah dan mempertahankan keislamannya. Lebih dari itu, panitia juga berharap agar kedatangan Qudsiyyah tersebut membuka hati dan memberikan petunjuk para penduduk yeng belum memeluk Islam agar dapat tergerak hatinya untuk masuk dan memeluk Islam.

Dalam kegiatan tersebut Qudsiyyah membawa sepuluh kambing hewan Kurban yang berasal dari alumni dan aghniya’ Qudsiyyah, serta sejumlah beras yang berasal dari para orang tua siswa dan juga donatur. Dari masyarakat setempat  juga menyembelih lima kambing dan 1 kerbau.

Usai sholat Idul Adha di masjid Daruussalam di Ngeseng, hewan Kurban tersebut kemudian disembelih dan didistribusikan. Dalam kesempatan tersebut, seluruh daging hewan kurban dibagikan kepada penduduk muslim yang berjumlah lebih dari seribu KK di tiga dukuh di desa Karangrowo, yakni dukuh Ngelo, Dukuh Krajan, dan Dukuh kaliyoso disertai beras sebanyak 1,5 kg setiap KK. Tekniknya, setelah penyembelihan, daging hewan kurban tidak dicampur, tujuannya agar distribusi daging qurban tepat sasaran dan dibagikan kepada penduduk yang muslim di daerah tersebut. Sementara bagi penduduk non muslim, tetap diberikan daging dan beras. Bedanya, daging yang dibagikan kepada penduduk nonmuslim tersebut adalah bukan daging yang berasal dari hewan kurban dari para mudhahi, tetapi panitia telah menyiapkan satu kambing lain yang bukan kurban, kemudian dibagikan kepada sekitar 45 KK penduduk nonmuslim.

Dalam kegiatan tersebut, salah satu santri Qudsiyyah tampil langsung sebagai khatib dalam Sholat Idul Adha di Masjid Darussalam.  Santri tersebut adalah Muhammad Hilman Fattah yang bertindak sebagai khatib, sedangkan yang menjadi imam Sholat Idul Adha adalah KH Fathur Rahman, Wakil Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Selain penyembelihan hewan Kurban, dalam kegiatan tersebut, santri-santri Qudsiyyah juga meramaikan dengan berbagai perlombaan anak-anak desa setempat pada sore harinya. Sedangkan pada malam harinya diadakan pengajian umum dengan pembicara KH Ahmad Asnawi, salah satu da’i terkenal dari Qudsiyyah Kudus. (*)

RUKYATUL HILAL DI BULAN “BESAR”

QUDSIYYAH, KUDUS – Tim Rukyatul Hilal Qudsiyyah Kudus kembali melaksanakan kegiatan rukyah di Jepara pada Kamis sore, 25 September 2014. Berada di pantai Teluk Awur Jepara, tim yang dipandu langsung salah seorang ahli falak Kudus, KH. Saifuddin Luthfi, melaksanakan rukyah pada bulan Dzul Hijjah atau biasa disebut bulan Besar tahun 1435.

Kegiatan rukyah, sengaja dilaksanakan pada hari Kamis, meskipun dari Tim Rukyah kemenag Kudus telah dilaksanakan pada hari Rabu, satu hari sebelumnya. Hal ini karena pada hari Rabu diperkirakan sangat sulit dan belum dimungkinkan untuk dapat melihat hilal (rukyatul hilal), karena perhitungan ketinggian hilal masih berada di bawah setengah derajat, yakni sekitar 0,04 derajat. Sedangkan kemungkinan hilal dapat terlihat sekitar 4 derajat.

Dalam perhitungan tim, pada Kamis malam Jumu’ah (25/09/2014) di daerah Jepara, tinggi Hilal 11, 28 derajat berada pada 0, 24 derajat sebelah selatan titik matahari terbenam. Hilal berada di atas ufuk sekitar 48 menit 38 detik sejak terbenamnya matahari.
Setelah dengan seksama melakukan rukyah baik dengan mata telanjang, maupun dengan bantuan alat theodolit yang telah dimiliki Qudsiyyah, pertengahan tahun 2014 ini, tim yang terdiri sekitar 15 orang ini, pada rukyah kali ini belum dapat melihat hilal.

Namun begitu, hal ini tidak berpengaruh terhadap 1 Dzul Hijjah yang telah ditetapkan pemerintah jatuh pada Jumu’ah 26 September 2014, dan Hari Raya Idul Adlha jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014.

Di tahun 2014 ini Tim rukyatul Hilal Qudsiyyah telah menjalankan tiga kali kegiatan rukyah. Pada awal bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri melaksanakan di Pantai Bandengan Jepara, dan kali ini dilaksanakan di pantai teluk Awur Jepara. (*)

KH M SYA’RONI AHMADI: QUDSIYYAH ITU KHAS

QUDSIYYAH, KUDUS – Dalam upacara pembukaan visitasi oleh tim asesor akreditasi di MA Qudsiyyah, pada Rabu (20/8/2014), Nadhir Qudsiyyah Kudus, K.H. M. Sya’roni Ahmadi memberikan sambutan. Beliau mengungkapkan, Qudsiyyah merupakan salah satu madrasah kuno yang khas.

Berdiri sebelum NU lahir, yakni pada tahun 1919, madrasah yang telah menelurkan ribuan alumni ini tetap eksis hingga hari ini. “Karena itu tidak dinamakan MA NU Qudsiyyah,” ungkapnya.

Salah satu kekhasannya terungkap dari sisi sejarah awal berdirinya Madrasah Aliyah pada tahun 1973. Jumlah siswa angkatan pertama saat pertama kali berdiri MA adalah 11 siswa. “9 orang semuanya sarjana, dan satu lagi menjadi dukun,” terangnya.

Beliau melanjutkan, dari angkatan pertama MA tadi, banyak yang menjadi pengurus di Madrasah Qudsiyyah Kudus. Salah satunya adalah KH. M Nadjib Hassan, selaku Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah dan KH Fathur Rahman yang dulu kepala MA Qudsiyyah, dan kini menjadi wakil Al Mudirul Am Qudsiyyah.

Sementara itu, Qudsiyyah memiliki keunggulan terkait keberkahan dari pendiri Qudsiyyah, yakni KHR Asnawi yang merupakan keturunan Sunan Kudus ke-13. “Kerberkahan ini sudah terbukti. Semoga ke depan semakin berkah dan maju,” terang kyai sepuh ini.

Kekhasan Qudsiyyah yang tidak ditemukan di madrasah lain, salah satunya adalah adanya mata pelajaran Qira’ah Sab’ah. “Mapel ini kami kenalkan kepada siswa, bahwa cara membaca Al Qur’an itu berbeda antara satu imam dengan imam yang lainnya,” ungkap kyai sepuh yang juga Musytasar PBNU ini. Mapel ini untuk memperkaya wawasan santri terhadap Al Qur’an. Sebab dalam mapel ini tidak hanya memaparkan materi, tetapi juga dipraktikkan langsung dalam proses pembelajarannya.

Terakhir, beliau berharap kedatangan tim akreditasi di MA Qudsiyyah selama dua hari ini (Rabu-Kamis, 20-21/8/2014) akan semakin membuat Qudsiyyah semakin maju dan terdepan. (*)

SELALU MERIAH, SELALU DINANTI

QUDSIYYAH, KUDUS – Dalam tiga tahun kegiatan sepeda santai Qudsiyyah Kudus selalu ramai dan meriah. Kegiatan dalam salah satu rangkaian Haul pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi ini selalu dinanti lebih dari seribu siswa Qudsiyyah. Hadiah yang disediakan juga semakin bertambah banyak. Fun bike yang dilaksanakan pada Ahad (27/4/2014) pagi ini diikuti lebih dari dua ribu peserta dari keluarga besar lembaga pendidikan Qudsiyyah Kudus.

Siswa MI, MTs, MA Qudsiyyah serta santri Ma’had Qudsiyyah ikut serta dalam memeriahkan pawai sehat tersebut. Seluruh dewan guru, pengurus, serta sebagian alumni Qudsiyyah juga turut serta dalam event yang digelartiap tahun ini.

Rute yang diambil dalam fun bike Qudsiyyah tahun 2014 kali ini, berbeda dengan rute tahun sebelumnya. Kali ini rute yang dilalui sekitar 10 kilometer. Bermula dari lapangan Qudiyyah di Jl KHR Asnawi terus meluncur ke selatan sampai di perempatan jember terus ke arah barat sampai di pasar jember terus belok ke selatan sampai di pasuruan, terus belok ke timur hingga PLN. Dari sana terus melanjutkan ke arah utara hingga sampai di Matahari Plasa.terus belok ke barat, terus ke utara hingga melewati Madrasah Muallimat dan SMK Taman Siswa. Perjalanan dilanjutkan ke barat hingga jembatan baru, kemudian ke arah utara sampai di Krandon ke arah barat hingga ke Jl KHR Asnawi kemudian balik lagi ke tanah Qudsiyyah.

1

Acara kemudian dilanutkan dengan hiburan dari Grup AL-Mubarok dilanjutkan dengan pembagian doorprize kepda seluruh siswa yang ikut dalam kegiatan tersebut. 9 sepeda gunung, 9 kompor gas, 3 kipas angin dan ratusan hadiah lainnya dibagikan secara gratis dan cuma-cuma kepada santri Qudsiyyah Kudus. Hadiah tersebut merupakan hibah dari alumni dan aghniya’ serta dari guru-guru Qudsiyyah.

Rangkain Haul KHR Asnawi ke 56 sendiri diawali dengan tahlil umum di Komplek makam sunan Kudus pada Jumu’ah (25/4/2014), terus pada malam harinya diadakan pengajian umum bersama Habib Umar dari Semarang dan KH. Abdul Qayyum. Di Qudsiyyah sendiri, dilaksanakan kegiatan Workshop Pengembangan Ilmu Falak pada Sabtu (26/4), Lomba Rebana tingkat SMP/MTs serta launching album terbaru rebana Al Mubarok vol X pada Rabu (30/4). (*)

PERBEDAAN KRITERIA MEMBUAT AWAL BULAN BERBEDA

QUDSIYYAH, KUDUS – Salah satu hal yang mengemuka dalam Workshop Pengembangan Ilmu Falak bertema “Implementasi Teori dan Praktik Ilmu Falak dalam Pembelajaran; Upaya Penguatan Model dan Keunggulan Madrasah”  pada Sabtu pagi (26/4/2014) di Aula MA Qudsiyyah Kudus adalah seringnya perbedaan dalam penetapan awal puasa maupun IdulFitri.

Narasumber utama, H. Muhyiddin Khazin, dari UIN Yogyakarta mengungkapkan, perbedaan tersebut salah satu faktor utamanya terkait  persoalan kriteria dan landasan yang berbeda.

Dijelaskan, pendapat-pendapat yang berbeda salah satunya adalah kemungkinan bisa terlihatnya hilal (imkanurrukyah).  “Ada yang menggunakan kriteria tinggi duaderajat, ada yang kriteria 6,4 derajat baru bisa terlihat, bahkan ada yang berpendapat yang penting wujud hilal,” terang anggota Lajnah Falakiyah PBNU ini.

Perbedaan pandangan inilah yang membuat para ormas suli tuntuk disatukan ketika menentukan awal bulan puasa maupun hari raya Idul Fitri. “Tetapi kita tidak boleh menyerah, kita terus berusaha untuk sering melakukan diskusi dengan para ahli falak di masing-masing ormas untuk melakukan kesefahaman dan meminimalisir perbedaan,” kata dia.

Kendati demikian, Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bersyukur di era sekarang, walaupun sering berbeda tetapi tetap menghormati satu sama lain. “Sekarang ini tidak seperti dahulu, yang begitu memperuncing perbedaan dalam penetapan awal puasa ataupun Idul Fitri. Kebersamaan harus tetap diutamakan untuk persatuan dan kesatuan umat muslim di negeri ini,” pungkasnya.

Hal lain dalam memotivasi para guru dan siswa dalam acara tersebut adalah karena ilmu falak merupakan salah satu ilmu bantu dalam ibadah. Dari lima rukun Islam, empat diantaranya bersinggungan langsung dan menggunakan ilmu falak.

“Sholat, zakat, puasa, dan haji adalah rukun Islam yang berkaitan dengan ilmu falak,” terangnya.

Ibadah sholat haruslah diketahui waktu menjalankannya. “Kita sholat dhuhur jam berapa, sholat Isya’ jam berapa, itu dengan metode ilmu falak. Begitu juga menghadap kiblat, itu menggunakan hitungan falak,” terangnya. Begitu pula dengan zakat fitrah, puasa dan ibadah haji penentuannya juga dengan menggunakan ilmu falak. (*)