Teater Qudsiyyah Sukses Raih Terbaik Dua

QUDSIYYAH, KUDUS – Teater MA Qudsiyyah, Jangkar Bumi, sukses menempatkan diri meraih juara Terbaik Kedua pada Festival Teater Pelajar (FTP) Djarum Kudus tahun 2017. Torehan ini merupakan progres yang baik dalam capaian tiga tahun terakhir. Tahun 2015 kali pertama mengikuti FTP, teater ini kandas pada babak kualifikasi. Tahun berikutnya, 2016, teater Qudsiyyah, sukses masuk babak final dan meraih jura Terbaik ketiga, dan tahun 2017 ini, progresnya naik meraih juara Terbaik Kedua.

Pada babak final FTP yang digelar digelar di GOR Djarum Kaliputu, 24-26 November 2017, selaian meraih juara Terbaik Dua, juga meraih kelompok teater terfavorit dan meraih aktor utama terbaik (Afif Khairudin/peran Petruk) dan aktor pembantu terbaik (Muhammad Adnan Naufala Zhafir/Gareng).

Dengan disutradai oleh Nur Kholis dan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu: Petruk Gugat” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, sukses masuk lima besar dan meraih juara di babak final. Adapun terbaik pertama dimenangkan oleh juara bertahan, teater Apotik dari SM Duta Karya dan terbaik ketiga diraih oleh Teater Saka (SMK 2 Kudus). Pada tahun ini juga ada jura harapan yang masing-masing diraih oleh Teater Oscar (SMKNU 2 Hasyim Asy’ari 2 Karangamalang) dan harapan 2 Teater Studio One (SMA 1 Kudus).

Selain juara tingkat SLTA, FTP yang kali ini dengan dewan juri yang terdiri dari Inayah Wulandari (pegiat Teater), Sita Nursanti (pemain opera) dan Waryoto Giyok (Sutradara Teater) juga melakukan penilaian pada teater tingkat SLTP. Para pemenang dalam FTP kali ini adalah Teater Terbaik 1 tingkat SMP Teater Ukur (MTs NU Maslakul Huda Glagah Undaan), terbaik 2 Teater Bobot (SMP 1 Kudus), terbaik 3 Teater Essaka ((SMP 1 Kaliwungu) Harapan 1 Teater PR (MTs NU Nahdlatul Athfal). (Ilma/Kharis)

Dua Alumni Qudsiyyah Dakwah di TV One

QUDSIYYAH, KUDUS – Program dakwah akhir pekan oleh salah satu stasiun televisi Nasional tayang live dari Kudus. Acara berjuluk Damai Indonesiaku oleh TV One itu memilih lokasi di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu (11/11/2017) siang. Uniknya acara yang memilih tema “Uswatun Hasanah” tersebut menampilkan dua alumni Qudsiyyah yang ditayangkan live ke seluruh penjuru tanah air.

Ya, H. Abdullah Rosyad, alumni Qudsiyyah tahun 1991 ini bertindak membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Sesuai tema yang diangkat, alumni yang berasal dari Mindahan Jepara yang kini juga mengajar di MI Qudsiyyah Kudus tersebut membacakan surat al- Ahzab ayat 21. Dengan suara yang yang lantang dan merdu, pria yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren al-Istiqomah, Demaan Kudus ini membaca ayat suci dengan apik dan menyentuh kalbu.

Lihat Video lengkapnya di sini

Berikutnya, alumni yang dakwah dan tayang di Tv One adalah KH. Idham Kholid. Lulusan MA Qudsiyyah tahun 1990 ini berceramah dihadapan Bupati Kudus, H. Mustofa, Jam’iyyah Yasin Fadhilah Kudus serta seluruh pemirsa televisi dengan mengakat tema Uswatun Hasanah.

Pria yang berasal dari Kedungwaru Lor Karang Anyar Demak tersebut menjabarkan suri tauldan dari Kanjeng Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyatakan, rahmat diutusnya Rasulullah jauh lebih banyak dirasakan oleh kaum ibu dibandingkan dengan kaum bapak-bapak. Sebelum Rasul lahir, disebut zaman jahilillah, begitu rusaknya akhlak, begitu hinanya kaum wanita. “Kelahiran Rasulullah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita,” ungkapnya.

Kyai Idham mengatakan, Al Qur’an yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, salah satu suratnya ada yang bernama An-Nisak yang artinya Wanita. Juga, surat pembuka al- Qur’an, surat Al-Fatihah, disebut juga dengan istilah Ummul Kitab yang berarti induk atau ibu kitab. “Ini adalah bukti Rasulullah hadir untuk memulyakan kaum wanita,” jelasnya.

Dalam pemberian ceramah tersebut juga dilakukan tanya jawab dengan hadirin yang kompak berbaju putih di dalam pendopo kabupaten Kudus tersebut. Selain itu KH Idham Kholid, acara Damai Indonesiaku Tv One tersebut juga diisi oleh penceramah Kh. Soemarno Syafi’I, dengan mengangkat tema yang sama yakni Uswatun Hasanah. (Kharis)

Lihat Video lengkapnya di sini

Meriahkan Mlaku-Mlaku Bareng Santri dengan Sholawat dan Rebana

QUDSIYYAH, KUDUS – Qudsiyyah Kudus turut andil dalam event besar Mlaku-Mlaku Bareng Santri (MMBS) yang digagas PCNU dan Pemkab Kudus pada Ahad pagi, 29 Oktober 2017. Seluruh santri, mulai dari MI, MTs, MA dan Pesantren tumplek blek meramaikan acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu santri Kudus ini.

Bersarung batik dan memakai koko serta sebagian memakai baju batik “kangkung” khas seragam Qudsiyyah, sekitar dua ribu santri Qudsiyyah meramaikan acara mlaku-mlaku yang digelar dalam rangka puncak acara Hari Santri Nasional 22 Oktober kabupaten Kudus ini. Mereka membawa tulisan dan sepanduk yang berisikan jargon santri Kudus, seperti “Kudus Kota Santri”, “Santri Menolak Paham Khilafah”, “NKRI harga Mati”, “Santri No Drug” dan sebagainya.


Selain itu, sebagai bagian dalam kemeriahkan acara ini, peserta dari Qudsiyyah juga membawa lengkap Rebana lengkap dengan microphone dan sound kecil yang dicangking. Sepanjang jalan mulai dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga finish kembali di tempat yang sama, mereka bersholawat dengan lagu-lgu khas Qudsiyyah, seperti Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Qudsiyyah, Madrasati Aman-Aman, dan Sholawat Nabi lainnya. Praktis, dengan sholawat dan tabuhan rebana ini, menjadikan jalan santai santri ini semakin meriah.

Usai mlaku bareng, di panggung utama, sebagian santri Qudsiyyah ada juga yang ketiban hadiah. Diantaranya ada yang mendapatkan lemari es dan hadiah doorprize lain yang disiapkan panitia.

 

Dalam MMBS ini juga dimeriahkan adanya atraksi pagar Nusa. Sebelum start MMBS, puluhan pesilat dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menampilkan senam jurus khas Pagar Nusa. Kemudian, para pesilat Pagar Nusa dari pondok pesantren Qudsiyah Kudus dan pondok pesantren Sabilul Rosyad Pringsewu Bakalan Krapyak menunjukkan kemampuannya memecah genteng dengan kepala, mematahkan besi pakai tangan kosong, menarik mobil dan tubuh dilindas motor trail.

Pesilat Adi Purnomo menarik mobil sedan dengan 10 penumpang memukau ribuan pasang mata peserta MMBS. Mobil diikat pakai tali kemudian ditarik dengan mulut Andri berjalan hingga sejauh 10 meter lebih. Atraksi berlanjut, tujuh orang pesilat tidur di aspal kemudian dilindas dua motor trail secara bergiliran yang dikendarai Hari Sudrajat dan Yuni Agustin pesilat perempuan. Mereka yang dilindaspun tidak mengalami cedera apapun. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Masuk Lima Besar FTP 2017

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk lima besar Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2017. Dengan hasil ini, praktis teater Qudsiyyah menembus babak final dalam pagelaran kesenian tahunan tersebut.

Dari 13 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi lima finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada awal November mendatang di GOR Djarum Kaliputu Kudus.
Dari lima finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA yang berhasil lolos di babak final. Empat lainnya adalah teater Oscar, SMK NU Hasyim Asy’ari 2, Teater Saka, SMK 2 Kudus, teater Apotik, SMK Duta Karya, dan teater Studi One, SMA 1 Kudus.

Seleksi yang dilaksanakan oleh teater MA Qudsiyyah dilaksanakan pada Rabu, 25 Oktober 2017 di Gedung Muslimat Glantengan Kota Kudus sekitar pukul 09.00 pagi.

Adapun tingkat SLTP, empat kelompok teater masuk ke babak final. Keempat terater tersebut adalah tetar Bobot, SMP 1 Kudus, teater Essaka, SMP 1 Kaliwungu, teater Ukur, MTs NU Maslakul Falah, dan teater PR, MTs Nahdlatul Athfal. (Kharis)

HSN di MTs Qudsiyyah, Mulai Upacara hingga Penanaman

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasinal yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017 dimanfaatkan oleh MTs Qudsiyyah Kudus untuk menanamkan karakter yang kuat kepada para siswanya. Selain menyelenggarakan upacara yang di dalamnya dilantunkan lagu Ya Lal Wathan dan Sholawat Asnawiyyah, Juga diselenggarakan Istighatsah dan kegiatan menanam bersama sebagai wujud kepedulian santri terhadap lingkungan.

Sholawat Asnawiyyah dipilih dan selalu terdengar di setiap acara yang diselenggarakan MTs Qudsiyyah karena diciptakan oleh KHR Asnawi yang merupakan pendiri madrsah tersebut. Dalam syairnya juga mengandung doa untuk keamanan bangsa Indonesia.

Pada pelaksanaan upacara hari santri ini, upacara yang dilaksanakan di Lapangan Qudsiyyah di JL. KHR Asnawi dan diikuti sekitar 1.300 siswa MTS dan MA ini. Para siswa memakai sarung yang merupakan pakaian khas ala santri dan baju koko putih. Diharapkan nilai karakter santri akan terus melekat pada diri siswa bahkan pada saat bermasyarakat nanti. Dalam sambutannya, sesepuh Qudsiyyah, KH. Ahmad Sudardi, megingatkan kepada para Santri untuk bangkit dan mengingat jasa mbah Hasyim Asy’ari dan para santri zaman dulu saat mempertahankan kemerdekaan. Sehingga para santri di era kini, dapat meneladani sekaligus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini.

Dalam upacara tersebut juga dibagikan dana santunan kepada sejumlah 40 siswa. Dan juga pemberian penghargaan bagi siswa yang telah berhasil mengharumkan nama madrasah di berbagai perlombaan yang telah diikuti. MTs Qudsiyyah telah menyabet Juara 1 Tilawah, Juara 1 Tartil, dan juara 1 Tahfidz pada ajang MTQ Pelajar dan MTQ Umum tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017 yang telah diselenggarakan pada september bulan lalu. Berbagai piala di perlombaan kepramukaan juga turut menambah deretan daftar prestasi MTs Qudsiyyah tahun ini. Diharapkan prestasi yang telah diraih ini terus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

Setelah upacara selesai, para siswa dipimpin oleh guru kelas melanjutkan dengan istighatsah dan doa untuk keamanan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Siswa juga tidak lupa untuk mendoakan para pahlawan muslim yang telah berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Santri Menanam

Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama untuk meresponnya, tak terkecuali para santri. Peran aktif santri dapat diwujudkan dengan kepedulian pada lingkungan. Hal ini disadari MTs Qudsiyyah dengan mengajak para siswa untuk menanam bunga di lingkungan sekolah. Lebih dari seratus bunga yang dibawa para siwa untuk ditanam di taman milik madrasah.


Selain untuk menambah keindahan dan mengurangi pemanasan global, kegiatan ini juga dimaksud untuk menanam karakter santri agar peduli dan mencintai lingkungan. Memang untuk menanam karakter tidak bisa instan. Dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan butuh waktu sampai santri mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungannya. (Yasfin/kharis)

KEPUNGAN SEGO KEPEL DI HARI SANTRI NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Kepungan sego kepel yang diikuti oleh ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menjadi puncak acara kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 di MI Qudsiyyah Kudus, pada Ahad, 22 Oktober 2017 di halaman MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Beralaskan daun pisang, berisi nasi putih satu kepel, sambal goreng, telur dan kerupuk, ratusan santri berjajar dan mengepung nasi kepel tersebut secara serentak. Usai dikomando, semua santri langsung memakan nasi kepel tersebut hingga tuntas tak tersisa.

Kegiatan kepungan nasi santri ini merupakan salah sati dari berbagai kegiatan peringatan HSN, 22 Oktober di MI Qudsiyyah tahun 2017. Acara ini dipandegani oleh pihak madrasah beserta paguyuban wali santri MI Qudsiyyah. Beberapa acara lainnya antara lain, upacara Hari Santri Nasional, Ziarah dan Khatmil Qur’an di makam pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi, lampah laku bareng santri, Badum sego bungkus untuk fakir miskin, nyumbang buku, dan tali asih.

Kepungan nasi oleh santri ini sebagai salah satu wahana untuk bahwa meningkatkan kebersamanaan dan kerjasama sebagai ciri khas dan kekuatan masyarakat bangsa ini. Di samping itu, kepungan nasi ini sangat tepat untuk mengingatkan kembali tradisi santri makan kepungan bersama-sama yang kini mulai jarang adanya dan tergeser dengan nasi kotak maupun nasi bungkus.

Kepala MI Qudsiyyah, M. Aftoni mengatakan, Kegiatan ini mengangkat tema “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Diharapkan melalui kegiatan dan tema ini semua santri madrasah untuk senantiana selalu belajar yang rajin untuk menjadi generasi penerus bangsa Indonesia yang akan datang. “Lebih dari itu, para santri diharapkan siap sedia untuk membela tanah air Indonesia dan menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, sehingga negeri Indonesia ini menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” jelasnya. (Kharis)

SANTRI MI QUDSIYYAH GELAR UPACARA DAN NOBAR “SANG KYAI”

QUDSIYYAH, KUDUS – Pada hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017, ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menggelar upacara Hari Kesaktian pancasila, di lapangan MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Ratusan santri berseragam batik “kangkung”, seragam khas Qudsiyyah, berjajar rapi dalam barisan.

Dalam amanat upacara, kepala MI, M. Afthoni, menyerukan kepada seluruh santri untuk tidak melupakan sejarah. Sejarah perjanalan panjang kemerdekaan bangsa ini seyogyanya dijadikan acuan bagi generasi muda sekarang untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat kesatuan dan persatuan serta kedamaian negeri ini.

Lebih lanjut, kepala MI yang bertempat tinggal di Karangampel Kaliwungu Kudus ini berharap para santri dapat meneladani keberanian serta perjuangan para pahlawan bangsa. “Di hari kesaktian Pancasila ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, bersamaan dengan momentum Asyuro di bulan Muharram, juga dilaksanakan santunan Yatim bagi santri Qudsiyyah yang Yatim. Selain upacara dan santunan yatim, kegiatan yang dilaksankan tepat sesuai Tes Mid semester ini adalah berbagai macam kegiatan hiburan, seperti lomba anak-anak, seperti lomba mewarnai, lomba gelang sarung dan lomba pindah botol.

Juga, tak ketinggalan, acara juga dimeriahkan dengan nonton bareng film perjuangan. Film yang dipilih adalah film “Sang Kiai” yang mengangkat profil dan perjuangan ulama terkemuka KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Film yang diproduksi tahun 2013 ini dipilih karena sebentar lagi juga berbarengan dengan momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober, dimana film tersebut menceritakan tentang resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, terjadi tepat pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya. Resolusi ini dikeluarkan untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang tewas saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. (Kharis)

PPQ Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik

QUDSIYYAH, KUDUS- Training Pres Jurnallistik oleh Perstuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) dilaksanakan pada Sabtu Legi –Ahad Pahing, 19-20 Agustus 2017. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan santri Tsanawiyyah Maupun Aliyyah Qudsiyyah, yang bertempat di Aula Ma’had , Lab MA dan Aula MA Qudsiyyah.

Kegiatan ini mengambil tema “Penguasan Teknologi Jurnalistik Santri”, dan bertujuan agar santri tidak ketinggalan dengan teknologi karena sekarang orang-orang lebih sering bermain dengan teknologi. Diharapkan, para Santri Qudsiyyah harus menguasai teknologi khususnya yang terkait dengan teknologi jurnalistik.

Secara khusus, Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan tentang dunia kejurnalistikan tetapi juga untuk memilih pimpinan redaksi (pimred) EL WIJHAH & EL QUDSY untuk tahun depan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan crew El WIjhah dan EL Qudsy dapat lebih baik dari tahun sebelumnya.

Acara ini berlanggsung dengan meriah. Pasalnya acara ini dapat mendatangkan Alumni Qudsiyyah yang sudah lama menggeluti dunia tulis menulis. Salah satu pemateri,Nor Kholidin, dari Jepara mengatakan, dunia kejurnalistikan itu dunia yang seru. “ Selain bisa menambah pengetahuan juga bisa menambah teman,” kata dia.

Pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan supaya Madrasah Qudsiyyah tidak tertinggal dengan madrasah lain. “Mereka sudah sanggat canggih dalam jurnalistik,” ujar Yusrul Wafa, alumni yang kini aktif di dunia bloger dan Youtube ini. (M Khoirul umam-Saiful effendi-Salahudin Yusri/Kharis)

PERINGATAN RAJABIYYAH MI QUDSIYYAH MENGAJAK GIAT SHOLAT

QUDSIYYAH, KUDUS – Setelah sukses dengan Peringatan Rajabiyyah dan MBSR di gedung YM3SK pada Sabtu, 13 Mei 2017, hari ini (Ahad, 14/05/2017) PPQ menggelar acara yang sama dengan peserta santri pada tingkatan Ibtidaiyyah. Acara ini berlangsung mulai pukul 08.00 – 10.30 yang bertempat di Aula Tanah Mas MA Qudsiyyah.

Acara ini berlangsung cukup meriah. Selain diisi mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz, acara ini juga dihadiri oleh pihak kepolisian Polsek Kota Kudus.

Kepada seluruh santri yang hadir, pihak kepolisian menyampaikan pesan tentang ajakan untuk menjauhi narkoba. Selain itu juga menyampaikan pentingnya disiplin lalu lintas. Gemuruh suara santri-santri Ibtidaiyyah pun pecah seketika saat para polisi berinteraksi dengan santri-santri Qudsiyyah.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz antara lain menggemakan ajakan bagi para santri untuk lebih giat melaksanakan sholat. Ini karena sebagai buah manis dari perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Acara ini berlangsung dengan lancar. Alunan nada terbang dari Al-Mubarok Kids pun menutup acara ini dengan wajah bahagia dari santri-santri Ibtidaiyyah yang beranjak pulang. Rangkaian acara yang berlangsung antara lain, pembukaan, pembacaan ayat suci al Qur’an dan Sholawat Asnawiyah, tahlil, sambutan ketua panitia, sambutan kepala MI, sosialisasi dari kepolisian, mauidhoh hasanah dan terakhir penampilan Renana dari santri-santri MI Qudsiyyah yang tergabung dalam Al-Mubarok Kids. (M Iqbal Marzuqi/Kharis)

Puluhan Santri Khataman Alfiyyah di Makam KH Ma’ruf Asnawi

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada pemandangan yang berbeda di pagi ini. Pada Kamis 14 Sya’ban 1438 H bertepatan tanggal 11 Mei 2017 TU sekitar pukul 10.00 di bawah pohon kamboja di area pemakaman Sedio Luhur Bakalan krapyak sejumlah santri sedang berkumpul di dekat makam shohibul fadlilah simbah KH Ma’ruf Asnawi.

Mereka adalah para santri kelas 12 MA Qudsiyyah. Dengan mengenakan baju batik “Kangkung” dan bersarung santri-santri itu berkumpul membentuk setengah lingkaran menghadap ke timur. Mereka melantunkan bait demi bait Nadham Alfiyyah Ibnu Malik, dan ditashih hafalannya. Mereka “sema’an” Nadham Alfiyah bersama para santri yang telah hafal 1002 bait utuh. Sebanyak 17 santri kelas 12 Aliyah berani unjuk gigi disimak dan disaksikan teman-temannya. Santri yang dinyatakan lolos akan mendapatkan syahadah yang akan dibagikan saat Muwadda’ah. Adapun tim pentashih khataman tersebut salah satunya H. Ashfal Maula.

Dipilihnya lokasi di makam simbah KH Ma’ruf Asnawi selain tempatnya yang adem juga untuk mengenalkan sosok Mbah Ji (sebutan akrab untuk simbah KH Ma’ruf Asnawi) kepada para santri. Semasa hidupnya, mbah Ji adalah pribadi yang sangat cinta terhadap Alfiyyah. “Saat masih sugeng mbah ji suka wiridan dan mendengarkan alfiyyah, jadi kita baca menurut apa yang disenangi beliau” ujar gus Apank menjelaskan.

Adapun santri yang ikut hafalan Alfiyyah tersebut adalah Ahmad Multazam, Achmad Aan Nahruddin, Atsnan Naja, Auva Nashan Mushoffa, Eko Nuristianto, Khusnil Mubarok, M. Haqul Muttaqin, M. Irfan Maulana, M. Bahrul ‘Ulum, M. Zuhal Fahmi, M. Shofiyullah, M. Agil Mubarok, Sani M Asnawi, M. Faiz Muzakki, M. Noor Halim, Agung Sulistyo, M. Nouris Sakhok, Lukman Nur Romadlon, Zusrul Hana, dan M. Wahyu Waliyyur Rohman.

Setiap tahun Madrasah Qudsiyyah memberikan apresiasi khusus bagi mereka yang dengan suka hati telah menghafal Alfiyyah utuh 1000 bait. Apresiasi itu berbentuk Syahadah yang ditandatangani oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah dan dibagikan saat Muwada’ah umum yang dihadiri wali santri kelas 6 MI, 9 MTs dan 12 MA.

Diharapkan para santri Qudsiyyah bisa meneladani para seniornya yang mampu menjaga hafalan Alfiyyah hingga lulus sebagai modal menghadapi tantangan zaman. Nadham Alfiyyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab terkenal di kalangan pesantren yang berisi tentang struktur bahasa Arab sebagai salah alat untuk membaca dan memahami kitab kuning. (Yasfin/Kharis)