MENGUDUSKAN QUR’AN, MENEBAR KEDAMAIAN

Memulai dari titik koordinat Menara dengan mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan dalam peringatan satu abad Qudsiyyah dua tahun silam, ternyata memberi spirit tersendiri untuk bangkit menata barisan. Shalawat asnawiyyah semakin menggema di bumi Nusantara, MTs dan Pesantren Putri Qudsiyyah lahir, tokoh-tokoh muda mulai bermunculan di berbagai sektor, organisasi santri dan alumni (PPQ-IKAQ) mulai menampakkan signifikansinya, dan masih banyak lagi kiprah ‘Generasi Gusjigang’ di bawah panji-panji Menara Kudus sebagai simbol toleransi (Ukhuwwah Qudusiyyah) yang multi etnis-multi religi.

Kini, semangat itu akan kita gelorakan kembali agar semakin bersemi. Generasi Gusjigang siap menggelar acara Festival Al-Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara Dan Parade Benteng Pancasila pada 18-24 Sya’ban 1439 H/4-10 Mei 2018 TU di Bumi bersejarah Qudsiyyah. Tujuh hari tujuh malam Bumi Kudus akan berhias hikmah, sains dan seni untuk menurunkan kebijakan langit menjadi kedamaian bumi.

Cara yang kami tempuh adalah dengan membentuk “Majlis Gusjigang” yang menyatukan berbagai unsur perilaku secara sinergis, sehingga di dalamnya ada keterlibatan teologis (theological involvement), keterlibatan intelektual (intellectual involvement), keterlibatan ritual (ritual involvement), dan keterlibatan pengalaman (experiential involvement). Kohesi masing-masing unsur ini akan selalu bertransformasi dan memunculkan energi positif kemandirian yang tercerahkan (spiritual independence).

Serangkaian acara telah siap digelar. Sebagai penerus tradisi salaf, acara akan dimulai dengan mohon doa restu kepada Masyayikh di Kudus (Ziarah Masyayikh). Selanjutnya kita akan mengeksplorasi kebijakan langit dengan khataman Kolosal 102 Khataman, Nyerat al-Qur’an Kolosal (Khotmil Qur’an bil Kitabah bersama 666 santri putra dan 333 santri putri) serta Festival Tilawah. Dalam rangka menurunkan kedamaian bumi, telah disiapkan agenda Halaqah “Rasm Utsmany di Nusantara”, Olimpiade Sains Qur’ani, Lomba Mewarnai Ornamen Mushaf, Pameran “Sejarah al-Qur’an”, Pameran Khazanah Islam Nusantara, Napak Tilas Islam Nusantara Benteng Pancasila, Seminar “Jateng Benteng Pancasila Melawan Narkoba”, Sarasehan “Gusjigang dan Ketahanan Ekonomi Jawa Tengah”, Sinau Seni dan Sains Qur’an bersama Sabrang “Noe” Letto, Festival Seribu Terbang al-Mubarok all Generation, Malam Sastra Qur’ani, Pertunjukan Teater “Jangkar Bumi”, Gambusan “alladzifih”, Pertunjukan “Tari Gusjigang” dan Gusjigang Expo sebagai artikulasi kongkrit karakter Gusjigang.

Kami yakin, dengan merapatkan barisan untuk bergandengan tangan secara jama’i, tangan-tangan suci para mu’assis akan menuntun kita untuk mampu menguduskan Qur’an menebar kedamaian. Secara teknis kita akan bermetamorfosa ke peradaban baru yang lebih damai dan ber tepo seliro. Kita akan mendayung bersama dari pusat pengkaderan ulama (center of exellence) ke pencetakan bibit unggul (human resources) di berbagai bidang menuju pulau pemberdayaan sosial (agent of development).

Akhirnya, selamat menguduskan Qur’an, selamat menebar kedamaian, dan selamat menemukan kembali Jadi diri yang terlupakan. [dj]

oleh:
ABDUL JALIL
Sekretaris Umum IKAQ

Festival Al Qur’an Bakal Dibuka Menteri Agama

QUDSIYYAH, KUDUS – Festival Al Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara dan Parade Benteng Pancasila yang digagas Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, bakal dilaksanakan lebih awal dari Jadwal semula. Yang semula dijadwalkan pada 10 – 17 Mei, diajukan lebih menjadi 4 – 10 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 34 ini bakal dibuka langsung oleh Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua panitia sekaligus Ketua Umum IKAQ, H. Ihsan, menyatakan, pengajuan jadwal pameran dari waktu semula merupakan arahan dan penyesuaian jadwal Menteri Agama. “Kita sesuaikan dengan jadwal pak Menteri,” katanya.

Ia menandaskan pameran ini bakal dibuka secara resmi oleh Meneteri Agama pada Jumu’ah (4/5/2018) Pagi. Dengan kehadiran Menteri Agama, diharapkan kegiatan festival ini akan semakin ramai dan mengena ke masyarakat. Melalui kegiatan ini, ia berharap akan semakin tersampaikannya nilai-nilai al Qur’an kepad masyarakat. “Juga mudah-mudahan akan tersosialisasi mushaf standar Indoneisa kepada asyarakaty Kudus dan sekitarnya,” kata pria yang juga sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus ini.

Kegiatan seminggu ini baklal menampilkan pameran sejarah Al Qur;an, pameran khazanah Islam Nusantara, khataman Kosolsal 102 khataman, Festival Tilawah, Khaotmul Qur’an bil Kitabah, seminar Saintifikasi dan Faktualisasi al Qur’an, dan Olimpiade Sain. Selain itu, juga bakal dihibur dengan festival terbang klasik, malam seribu terbang, seni dan pertunjukan teater, Konser 21 tahun Al Mubarok, Konser “Noe” Letto, Gambusan, Tari Gusjigang, dan Ngontel Bareng dengan tema “Islam Nusantara Benteng Pancasila”. (Kharis)

Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah Dibuka Hingga 7 Juni 2018

QUDSIYYAH, KUDUS  –  Pendaftaran santri baru Qudsiyyah Kudus baik putra dan putri tahun 2018/2019 telah dibuka.  Secara resmi pendaftaran dan sekaligus tes seleksi bakal dilaksanakan pada 2 – 7 Juni 2018. Pada saat tanggal 2-7 Juni tersebut, pendaftaran santri baru dapat dilaksanakan dengan one day services, pendaftaran tes seleksi serta hasil seleksi dilakukan dalam satu hari . Sementara,  sebelum tanggal 2-7 Juni itu, pendaftaran bisa dilayani di kantor MTs Qudsiyyah, tetapi untuk tes seleksi serta hasil seleksi dapat dilakukan pada tanggal 2 – 7 Juni 2018.

 

Pada tahun 2018/2019 ini Qudsiyyah membuka 4 pendidikan formal dan 2 pendidikan non-formal. Keempat pendidikan formal tersebut masing-masing MI Qudsiyyah (khusus putra), MTs Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putri) dan MA Qudsiyyah (khusus putra). Sedangkan dua pendidikan non formal adalah Ponpes Qudsiyyah Putra dan Ponpes Qudsiyyah putri yang masing-masing membuka jurusan Tahfid Qur’an dan jurusabn Fiqih (kitab).

 

Baca: Dua Jurusan Ponpes Qudsiyyah Putri Mulai Menerima Santri Baru

 

Adapun Persyaratan administrasi pendaftaran santri MI Qudsiyyah, M Ts Qudsiyyah (Putra) dan MA Qudsiyyah meliputi:

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah)
  • Menyerahkan uang infaq pengembangan madrasah sebesar Rp 1.800.000,- (Satu juta delapan ratus ribu rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga (KK) sebanyak 1 lembar
  • Foto copy KIP/PKH/KPS (bagi yang memiliki)
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna merah.

 

Adapun tes seleksi akan dilaksanakan pada saat pendaftaran tanggal 2-7 Juni 2018. Sedangkan materi tes yang diujikan meliputi Baca Al Qur’an, Nahwu Shorof dan membaca kitab kuning Taqrib (khusus tes masuk MA).

 

Sementara persyaratan pendaftaran santri Pondok Pesantren Qudsiyyah Putra adalah:

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran/Surat kenal lahir sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga /KK sebanyak 1 lembar
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna hijau.

 

Adapun tempat pendaftaran di Qudsiyyah disentralkan dalam satu tempat. Artinya, pendaftaran MI Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putra), MTs Qudsiyyah (putri), MA Qudsiyyah (Putra), Pondok Pesantren Qudsiyyah putra dan Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri dalam satu tempat yang sama, yakni di Kantor MTs Qudsiyyah (Putra), Jl KHR Asnawi gang Kerjasan Kota Kudus (0291) 435938. Panitia pendaftaran yang yang bisa dihubungi antara lain H. Nurul Adlha (081325701326), Nailal Muna (08157735137).  Untuk brosur Pendaftran santri Baru Putra Qudsiyyah dapat diunduh di sini. (*)

 

 

Meriahkan Mlaku-Mlaku Bareng Santri dengan Sholawat dan Rebana

QUDSIYYAH, KUDUS – Qudsiyyah Kudus turut andil dalam event besar Mlaku-Mlaku Bareng Santri (MMBS) yang digagas PCNU dan Pemkab Kudus pada Ahad pagi, 29 Oktober 2017. Seluruh santri, mulai dari MI, MTs, MA dan Pesantren tumplek blek meramaikan acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu santri Kudus ini.

Bersarung batik dan memakai koko serta sebagian memakai baju batik “kangkung” khas seragam Qudsiyyah, sekitar dua ribu santri Qudsiyyah meramaikan acara mlaku-mlaku yang digelar dalam rangka puncak acara Hari Santri Nasional 22 Oktober kabupaten Kudus ini. Mereka membawa tulisan dan sepanduk yang berisikan jargon santri Kudus, seperti “Kudus Kota Santri”, “Santri Menolak Paham Khilafah”, “NKRI harga Mati”, “Santri No Drug” dan sebagainya.


Selain itu, sebagai bagian dalam kemeriahkan acara ini, peserta dari Qudsiyyah juga membawa lengkap Rebana lengkap dengan microphone dan sound kecil yang dicangking. Sepanjang jalan mulai dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga finish kembali di tempat yang sama, mereka bersholawat dengan lagu-lgu khas Qudsiyyah, seperti Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Qudsiyyah, Madrasati Aman-Aman, dan Sholawat Nabi lainnya. Praktis, dengan sholawat dan tabuhan rebana ini, menjadikan jalan santai santri ini semakin meriah.

Usai mlaku bareng, di panggung utama, sebagian santri Qudsiyyah ada juga yang ketiban hadiah. Diantaranya ada yang mendapatkan lemari es dan hadiah doorprize lain yang disiapkan panitia.

 

Dalam MMBS ini juga dimeriahkan adanya atraksi pagar Nusa. Sebelum start MMBS, puluhan pesilat dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menampilkan senam jurus khas Pagar Nusa. Kemudian, para pesilat Pagar Nusa dari pondok pesantren Qudsiyah Kudus dan pondok pesantren Sabilul Rosyad Pringsewu Bakalan Krapyak menunjukkan kemampuannya memecah genteng dengan kepala, mematahkan besi pakai tangan kosong, menarik mobil dan tubuh dilindas motor trail.

Pesilat Adi Purnomo menarik mobil sedan dengan 10 penumpang memukau ribuan pasang mata peserta MMBS. Mobil diikat pakai tali kemudian ditarik dengan mulut Andri berjalan hingga sejauh 10 meter lebih. Atraksi berlanjut, tujuh orang pesilat tidur di aspal kemudian dilindas dua motor trail secara bergiliran yang dikendarai Hari Sudrajat dan Yuni Agustin pesilat perempuan. Mereka yang dilindaspun tidak mengalami cedera apapun. (Kharis)

TURUT SERTA PEMBACAAN SATU MILIAR SHOLAWAT NARIYAH

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasional, yang salah satunya dengan menggelar Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah, yang digagas Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) berlangsung begitu meriah di berbagai daerah di tanah air. Seluruh warga, yang dikomando oleh Pengurus Cabang NU berbondong-bondong melaksanakan pembacaan sholawat Nariyah secara serentak di Musholla, Masjid, dan di pondok pesantren.

Tak ketinggalan, Ma’had Qudsiyyah juga menjadi bagian dalam program memohon doa keselamatan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia ini. Dengan dipimpin langsung oleh salah satu pengelola Ma’had, H. Nurul Adlha, acara pembacaan Sholawat Nariyah dilaksanakan pada Jumu’ah Malam Sabtu (21/10/2010) di aula Ma’had Qudsiyyah Kudus.

Sekitar satu jam waktu digunakan oleh 150 santri yang dilibatkan dalam kegiatan ini, yakni dimulai usai sholat Isyak dan berakhir sekitar pukul 20.00 WIB.

Diperkirakan, sebanyak 1.666.500.000 selawat nariyah akan dibacakan setelah mendapat instruksi langsung dari Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Sirodj untuk dilaksanakan di seluruh lembaga struktural Nahdhatul Ulama (NU) dari tingkat pusat hingga ke tingkat terbawah di ranting-ranting. Bahkan sebanyak 1.666.500.000 selawat nariyah juga akan dibacakan di 24 Negara dimana cabang Nahdlatul Ulama berada.

Koordinatoor acara satu miliar sholawat nariyah PBNU, Muhammad Aqil Irham mengatakan, acara ini bertujuan untuk menyampaikan doa dan salam umat muslim Indonesia kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Melalui selawat nariyah yang dibacakan serentak ini, kita memohon doa kepada Allah agar kita mendapat pertolongan dari Rasullah.

“Mudah-mudahan melalui selawat nariyah ini mendapat syafaat kepada Rasulullah baik di dunia ini maupun di akhirat,” ujar Aqil sebagiamana dikutip dalam Okezone.com, Jumat (21/10/2016).

Selain itu, Aqil yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu berharap, acara ini juga dapat memohon doa keselamatan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

“Kita juga melalui selawat nariyah sebagai wasilah, kita memohon doa kepada Allah untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa kita, agar cita-cita dan kesejahteraan bangsa ini tercapai dengan baik,” ucapnya. (*)

Hari Santri Nasional di Qudsiyyah

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebagai lembaga pendidikan peninggalan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KHR Asnawi, Madrasah Qudsiyyah tak mau ketinggalan dalam merayakan momentum Hari Santri Nasional. Berbagai event dan kegiatan dilaksanakan oleh lembaga yang telah berusia seratus tahun ini. Diantaranya, diskusi, pembacaan Sholawat Nariyah, istighosah dan Upacara Hari Santri.

Pada Sabtu pagi (22/10/2016) sekitar 1500 santri melaksanakan upacara hari santri di Lapangan Qudsiyyah, di Jl KHR Asnawi Kudus. Dalam kesempatan tersebut seluruh santri mengenakan sarung dan baju putih. Seluruh santri mulai dari santri MI, MTs, dan MA berbaur menjadi satu di lapangan di Jl KHR Asnawi No 32 Kudus.

Selain melaksanakan upacara di lapangan Qudsiyyah, sebagian santri Qudsiyyah juga turut serta melaksanakan upacara di alun-alun simpang tujuh Kudus. Sekitar 50 santri Ma’had, 50 santri MTs dan 50 santri MA mewakili upacar di pusat kota kretek tersebut bersama ribuan santri lain seluruh kabupaten.

Sehari sebelumnya, ratusan santri Ma’had Qudsiyyah juga menggelar event “Diskusi Kalem” dengan tema “Mengenal Karakter Santri berdasarkan Jenis Golongan Darah”. Dalam kesempatan tersebut, salah satu motivator yang didatangkan adalah Herni Soesongko. Melalui game yang menarik, dia memberikan motivasi dan gambaran karakter dengan pendekatan golongan darah.

Terlihat, para santri cukup antusias dan tertarik pada acara yang digelar pada Kamis malam (20/10/2016) dengan materi yang diberikan. Ditambah, dalam kesempatan tersebut, salah satu produk makanan memberikan “bonus” mie instan siap saji lengkap dengan minumannya kepada seluruh santri Ma’had. (*)

Alumni Ma’had Qudsiyyah Diminta Tetap Konsisten Ilmu

QUDSIYYAH, KUDUS – Ma’had Qudsiyyah Kudus, Jawa Tengah menggelar Halal Bihalal pertama kali para alumni di aula pesantren setempat Rabu (22/07) malam. Puluhan alumni yang baru tiga angkatan berdialog interaktif dengan para kiai perihal perkembangan pendidikan di Qudsiyyah.

Naib Mudir Ma’had, KH Yusrul Hana mengatakan sebagai santri memang tidak akan bisa lepas dari belajar. Sebagaimana konsep hadis yang menerangkan perintah belajar dari sejak lahir hingga di liang kubur, atau dalam bahasa orang sekarang adalah konsisten terhadap ilmu.

Kiai yang akrab disapa Gus Hana itu mencontohkan sosok ulama KH Arwani yang pandai di berbagai bidang keilmuan ilmu semacam, ilmu alat, Falak, Qiro’ah Sab’ah hingga Tasawuf.

“Nah, ini menarik untuk kita telurusi bagaimana orang yang sederhana bisa memperloleh dan mencapai ilmu yang sebanyak itu,” papar itu.

Menurut putera Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi tersebut, hal itu adalah satu pertanyaan yang penting bagi santri, yaitu disek iku ngajine piye? (Dahulu itu ngajinya bagaimana).

Ia menerangkan, ada rahasia dalam mengaji, yakni ketekunan dan ikhlas,apalagi yang dipelajari adalah ilmu syariat. “Apapun yang dipelajari yang penting sungguh-sungguh dan tidak boleh berhenti belajar,” tanda kiai jebolan Ma’had Aly Situbondo itu.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Yayasan Pendidikan Qudsiyyah (YAPIQ) Dr. Abdul Jalil mengingatkan para santri alumni supaya dapat memposisikan diri secara saleh (proporsional) sesuai kapasitas masing-masing.

“Setiap orang pasti punya kapasitas, tapi tergantung pada ikhtiarnya,”jelas pengurus LBM PBNU itu.

Sebenarnya, dirunut dari kesejarahan, Madrasah Qudsiyyah sudah berdiri sejak tahun 1919 M hanya saja pada tahun 2010 baru membuka pendidikan dalam bentuk pesantren (Ma’had) di bawah satu Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah. (*)

Pesantren Berkontribusi Besar dalam Kesatuan Bangsa

QUDSIYYAH, KUDUS – Keberadaan pesantren di negeri ini telah membuktikan diri sebagai bagian penting yang telah berkontribusi besar dalam menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa ini.
Demikian dinyatakan Dr Abdul Jalil,M.E.I, Mudarris Ma’had Qudsiyyah Kudus, dalam seminar bertemakan “Tradisi Kebangsaan di Pesantren” pada Selasa (17/2/2015) di Aula Ma’had Qudsiyyah, Jl. KHR Asnawi Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Dalam seminar tersebut, Alumni Qudsiyyah tahun 1994 menjelaskan, komunitas pesantren loyal terhadap perjuangan kemerdekaan dan dukungan pada pendirian bapak bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang plural, di mana agama Islam tidak menjadi dasar berdirinya bangsa ini.

“KH. Wahid Hasyim, sebagai salah satu pendiri bangsa, dan tokoh NU dengan sadar dan penuh pertimbangan mendirikan bangsa Indonesia dengan dasar Pancasila tidak berdasarkan pada bingkai Negara Islam,” terangnya.

Dijelaskan, dalam Islam tidak diwajibkan suatu bentuk pemerintahan tertentu bagi pemeluknya. Umat Islam diberi kewenangan sendiri untuk mengatur dan merancang sistem pemerintahan sesuai dengen tuntutan ruang dan waktu. Setiap muslim wajib mematuhi hukum-hukum yang mengatur kemaslahatan umat, selama produk hukum tersebut tidak bertentangan dengan syara’

“Yang terpenting adalah perlindungan dan jaminan kepada warganya untuk mengamalkan dan menerapkan ajaran agamanya. Juga, untuk mengatur kesejahteraan dan kemakmuran warganya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, bahwa komitmen untuk terus menjaga tolerasi, dan mempertahnakan kemajemukan warga di hadapan Negara inilah yang merupakan sumbangan besar dari kalangan pesantren bagi bangsa ini.

Nara sumber lain, Subhkhan, SH Kanit V Satuan Intelkam Polres Kudus, mengatakan, santri harus turut serta mengisi bangsa ini sesuai dengan kapasitas dan posisinya masing-masing. “Semua harus bersinergi untuk terciptanya bangsa ini yang tetap bersatu, untuk kemajuan bangsa ini,” jelasnya.

Lebih lanjut ia berpesan kepada santri, untuk teruslah belajar, dan kemudian menjadi bagian dari masyarakat dengan tetap menjadikan nilai-nailai agama dan moral sebagai tuntutan perilakunya.

Seminar ini sendiri diikuti oleh sekitar 150 santri dan terselenggara atas kerjasama, Forum Silaturrahim Pesantren Kudus, dan Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Kabupatan Kudus. Selain dua nara sumber di atas, juga diisi oleh Ahmad Syafiq, S.Ag, SH, MH (Pengadilan Negeri Kudus) dan kepala Kesbangpol Kudus, Jati Sholekhah, SH (*)

“TUJUH BELASAN” ALA MA’HAD QUDSIYYAH

QUDSIYYAH, KUDUS – Memeriahkan HUT RI ke- 69, Santri-santri Ma’had Qudsiyyah Kudus menggelar lomba tujuh belasan. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis – Jumu’ah (14-15 Agustus 2014) di Lapangan Madrasah Qudsiyyah ini diikuti oleh seluruh santri Ma’had Qudsiyyah Kudus.

Berbagai perlombaan digelar dan dipersipkan oleh santri yang dipandegani langsung oleh santri-santri kelas XI ini. Perlombaan itu mulai dari yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan keilmuan. Perlombaan itu antara lain, lomba adzan, Iqomat, Hafalan Alfiyyah, baca kitab taqrib, Pidato, Karya Tulis, Futsal, Balap karung, Pecah air, kelereng, dan makan kerupuk.

Kegiatan ini sebagai salah satu upaya memeriahkan kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus upaya menanamkan cinta kepada bangsa dan Negara ini. (*)

DI HARI IBU, PUISI SANTRI MASUK KORAN NASIONAL

QUDSIYYAH, KUDUS – Menjelang pergantian tahun ini, salah satu puisi santri Ma’had Qudsiyyah Kudus berhasil nangkring di Koran nasional JAWA POS. Ya, tepat pada ulang tahun JAWA POS FOR HER ke tiga sekaligus merayakan Hari Ibu, Muhammad Bahrul Ulum (XI D MA Qudsiyyah Kudus) berhasil mencatatkan namanya di JAWA POS sebagai salah satu peserta yang  termuat karyanya.

Pada pengantar Redaksi JAWA POS dijelaskan, dari sekitar 1700 lebih surat cinta untuk ibu dari pembaca yang dikirim ke JAWA POS, akhirnya dipilih sebanyak 53 surat dan kemudian ditayangkan di JAWA POS pada edisi Jumat, 20 Desember 2013. Adapun puisi Bahrul Ulum tampil di halaman B 11, di bagian tengah atas.

Bahrul Ulum sendiri sebelumnya juga pernah menyabet juara I dalam lomba cipta puisi islami tingkat Jawa Tengah pada POSPEDA pertengahan 2013 lalu. (*)

 

MAAF, BARU KUSADARI PERJUANGANMU

 

Terang atau padam, pasti jelas

Mentari nan rembulan, engkau rupakan

Ketulusan mengiringi lega

Pamrih, mandi keringat dihiraukan

 

Karena kekuatanku, bercabang darimu

Tanpamu, daya hidupku samar

Ketika menyatakan rindu, gengsi meniru

Tapi, keikhlasanmu menyambar

Karena aliran derasmu, mengantarkan miliaran atom

 

Tanpamu, aku hanya alienasi alam

Ketika meminta, engkau kira aku melapor

Tapi, nurani itu, jelas perhatian

Karena penderitaan kebahagiaan itu, kerusakan kesadaran

Tanpamu, suka jadi duka

gaib, tapi nyata

Ketika tetesan air mengalir, tak diacuhkan

Tapi, kesabaran mengajarkan prioritas