Putusan MK Soal Anak di luar Perkawinan, Dibela atau Dicerca?

Mahkamah Konstitusi (MK) baru-baru ini memutuskan terobosan baru tentang status anak di luar perkawinan. Sebelumnya, status anak di luar perkawinan, menurut UU No. 1 tahun 1974, pasal 43 ayat (1) menyatakan, status anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya, dan keluarga ibunya. Tetapi kemudian oleh MK pada hari Jumu’ah, 17 Februari 2012, memutuskan bahwa, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”.

Ahmad Fadhil Sumadi, hakim konstitusi MK menyatakan, sangat tidak adil jika hukum membebaskan tanggung jawab ayah biologis dari anak yang dihasilkan di luar pernikahan. Menurutnya, secara ilmiah perempuan tidak mungkin hamil tanpa terjadinya pertemuan antara ovum dan spermatozoa melalui hubungan seksual yang menimbulkan terjadinya pembuahan. Apalagi, sekarang ini dimungkinkan adanya pembuktian bahwa seorang anak merupakan anak pria tertentu, melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keputusan dari MK ini, didasari oleh alasan kemaslahatan umum (al-mashlahah al-‘ammah) yaitu untuk melindungi nasib sang anak dan agar memberi efek jera pada lelaki hiudung belang, serta agar perzinaan tidak menyebar luas. Karena sebelumnya, anak hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, tidak ada hubungan secara perdata dengan ayah biologisnya, sehingga seringkali sang ayah biologis tidak mengakui anak tersebut dan menelantarkannya. Dengan keputusan ini sang lelaki tersebut (ayah biologis) harus bertanggung jawab terhadap nasib anak dan tidak boleh mengabaikannya.

Lalu seperti apa sudut pandang pandang fiqh?
Dalam keputusan MK tadi tertulis “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan”. Kata-kata ini masih sangatlah umum, karena anak yang dilahirkan di luar perkawinan (menurut hukum negara) itu bermacam-macam, mulai dari nikah yang tidak dicatat (nikah siri), perzinaaan dan sebagainya.

Mengenai masalah nikah siri, nikah yang tidak dicatatkan ke negara, mungkin tidak ada masalah. Ditinjau dari perspektif fiqh sah-sah saja, karena telah memenuhi syarat dan rukun nikah, yaitu sudah adanya wali, dua saksi, kedua mempelai, mahar dan ijab kabul. Intisabnya pun jelas, anak yang dihasilkan memiliki hubungan dengan ayahnya. Tapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana dengan masalah anak hasil perzinaan?

Kalau kembali pada dasar hukumnya, intisab itu hanya bisa disebabkan oleh pernikahan. Karena, pernikahan itu adalah akad, bukan wathi (hubungan seksual). Maka, orang yang melahirkan anak di luar pernikahan (zina), intisab anaknya tidak bisa kepada ayah biologisnya (pemilik spermanya), tetapi kepada suami yang sah. Jika tidak bersuami, maka intisab anak kepada ibunya. Sedangkan nafkah anak tersebut ditanggung oleh yang orang diintisabi, yaitu bapak. Jika tidak ada maka ibu. Ini adalah pendapat empat madzhab termasuk juga pengikut Dawud Adz-Dzahiri. (I’anatut Thalibin, I, 146; Ushulus Sarkhasiy, I, 130; Hasyiyah Bujairimy ‘Alal Khatib, VI, 343 )

Mengenai hal ini, ada sebuah cerita yang terjadi pada zaman Rasulullah. Saat itu, seorang wanita yang masih memiliki suami yang sah melakukan perzinaan dengan lelaki lain. Ternyata, tanpa diduga sebelumnya, hasil perselingkuhan itu menghasilkan buah hati. Hingga akhirnya mereka saling merebutkan anak itu. Singkat cerita, akhirnya mereka membawa masalah ini kepada Rasulullah. Dan Rasulullah pun menjawab:

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

Anak itu disebabkan karena pernikahan, sedangkan bagi pezina adalah batu (rajam). (Shahih Bukhari, XIII, 200)

Hadits ini dengan sharih mengatakan bahwa anak hasil zina itu intisab pada bapak dari perkawinan sah. Sedangkan untuk yang berzina adalah rajam (jika sudah punya pasangan) atau jilid (jika belum punya pasangan). Karena itu, keluarlah syari’at hifdzun nasl (menjaga keturunan) yang di dalamnya ada syari’at nikah dan keharaman zina. Yaitu untuk menjaga nasab agar tidak putus dengan ayahnya. (Hasyiyah Bujairimy ‘Alal Khatib, VI, 343)

Kalau kita ikuti pendapat ini, bagaimana dengan nasib sang anak?
Memang benar, kalau kita ikuti pendapat ini, pastilah anak “hasil karya” mereka akan mudah terlantar karena hanya dalam tanggung jawab ibunya tidak dalam tanggung jawab ayah biologinya. Karena itu, untuk menghindari keterlantaran anak itu, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa anak yang dihasilkan dari perzinaan itu bisa intisab kepada ayah biologisnya. Pendapat tersebut diusung oleh Imam Hanafi berdasarkan logika bahwa hakikat anak itu adalah dari sperma ayah biologisnya. Yang menumpahkan ‘air’, berarti dia yang bertanggung jawab. Bagaimana bisa seorang ayah tidak mempunyai hubungan, sedangkan anak berasal dari spermanya? Beberapa ulama juga ada yang berpendapat sama dengan pendapat ini, di antaranya ialah Urwah bin Zubair, Sulaiman bin Yasar, Hasan Bashriy.

Banyak lagi argumen yang membantu pandapat ini. Di antaranya adalah mengqiyaskan ayah kepada ibu. Sebab anak adalah buah karya dari perzinaan mereka berdua, yang mana bapak adalah salah satunya. Anak dinasabkan pada ibu karena ibulah yang melahirkan, tentu saja anak harus bernasab pada bapak karena bapak juga melahirkan (spermanya).

Juga untuk menutupi aib kedua pezina, memberi peluang pada mereka untuk bertaubat, anjuran pada mereka untuk menikah, dan menjaga identitas sang anak agar tidak ada ejekan bahwa ini adalah anak haram, anak zina, dan sebagainya. Karena haqqullah lebih baik disembunyikan. Dan jika tidak ada hukum seperti ini, maka akan timbul perzinaan di mana-mana. (Hukmu Nisbatil Maulud Ila Abihi Minal Madkhuli Bihaa Qoblal ‘Aqdi, I, 13)

Meskipun ada pendapat ini, namun perlu diingat, bahwa pendapat ini dimaksudkan sebagai langkah darurat untuk melindungi. Anak bisa bernasab ke ayah bilogisnya, tapi tidak secara mutlak seperti yang dilahirkan dari pernikahan sah. Ia tidak mendapat waris. (Fiqhul Islami, VIII, 431)

Kemudian, untuk menyikapi putusan MK yang diusung atas dasar al-mashlahah al-‘ammah yang bertolak belakang dengan nash hadits di atas, timbul suatu pertanyaan, manakah yang dimenangkan antara keduanya?

Dalam istilah fiqh, kepentingan umum adalah al-mashlahah al-‘ammah, ada 5 kriteria al-mashlahah al-‘ammah yang dipatok oleh para ulama. Pertama, al-mashlahah al-‘ammah adalah sesuatu yang manfaatnya dirasakan oleh seluruh atau sebagian besar masyarakat. Bukan oleh kelompok tertentu apalagi orang tertentu. Kedua, selaras dengan tujuan syari’at yang terangkum dalam al-kulliyyat al-khams. Tiga, manfaat yang dimaksud harus nyata (haqiqi) bukan sebatas perkiraan (wahmi). Keempat, tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Kelima, tidak boleh dilaksanakan dengan mengorbankan kepentingan orang lain yang sederajat, apalagi yang lebih besar. (Ushul Fiqh Al-Islamy, II, 1028; Dlawabitul Maslahah, 254; Ilmu Usul Fiqh Kholaf, 86; Usul Fiqh Abu Zahrah, 278; al-Mustashfa, I, 444)

Jadi, anak hasil perzinaan tidak bisa intisab kepada ayah biologisnya. Meskipun ada maslahat umum seperti keterangan di atas. Tidak pula bisa berintisab walau dengan pembuktian ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih apapun, contohnya dengan menggunakan tes DNA (Deoxyrebose Nucleic Acid).

Jika mengikuti pendapat yang menyatakan anak zina bisa intisab kepada ayah biologis, terkadang akan memunculkan suatu problem, yaitu ketika bukan hanya satu lelaki yang menyumbangkan sperma, mana yang menjadi ayah? Tak jelas. Kemudian persoalan lain jika kita ikuti pendapat ini, maka bisa-bisa malah ayah biologis tersebut boleh dijadikan wali nikah yang akan memengaruhi keabsahan nikah, padahal tidak boleh.

Sekarang, jika kita mengikuti pendapat yang pertama (anak zina tidak bisa intisab), lalu bagaimana nasib si anak (hasil) zina tersebut?
Seperti telah disinggung di atas, anak zina berintisab kepada ibu kandungnya atau bisa juga berintisab kepada orang yang menikahi ibunya, dengan syarat adanya pengakuan dari orang tersebut. Dan si anak pun menjadi tanggung jawabnya, bisa mewaris, nafkah, dan lain-lain sebagaimana anaknya asli.

Syarat pengakuan dari si suami sah ini sangat penting, karena konsekwensi yang didapat jika tidak adanya pengakuan adalah beban anak ini bisa terlepas darinya, yaitu dengan cara si suami bersumpah li’an dengan mengucapkan, “Jika aku berdusta atas pengakuanku, maka aku akan dilaknati Allah”. Li’an ini akan menafikan hubungan nasabnya dengan anak itu, dan merembet ke nafkah dan waris. Li’an ini juga bisa diperkuat dengan bukti bahwa dia belum pernah berhubungan intim dengan istrinya, atau pernah tapi selang waktu antara hubungan intimnya dengan kelahiran anak tadi tidak kurang dari 6 bulan atau lebih dari 4 tahun. Ketentuan ini berdasarkan istiqro’ (penelitian) Imam Syafi’i yaitu angka minimalnya waktu hamil adalah enam bulan, sedangkan maksimalnya adalah empat tahun. Dan sumpah li’an juga akan berdampak putusnya ikatan perkawinan antara suami istri. Namun, sumpah li’an dalam kasus ini tidak menyebabkan haddul qodzaf. (Fathul Wahhab, II, 172; Rawai’ul Bayan, II, 76; Hasyiyatul Jamal, XIX, 110; Raudlatut Thalibin Wa ‘Umdatul Muftin, III, 224)

Kesimpulannya, seorang anak hanya bisa bernasab dengan pernikahan, dan bukan hanya dari hubungan intim saja, walaupun ada qoul yang berpendapat berbeda. Jadi, anak yang dilahirkan dari hasil zina, maupun yang ditentukan dari penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat bernasab kepada ayah biologisnya. “Dan janganlah dekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”[eLFa]

El-Fajr Edisi 23

Menelisik Persaksian Bohong

Kejujuran, seolah menjadi barang yang sangat langka dan mahal luar biasa di negeri ini. Drama adegan “baku hantam” politik menjadi tontonan yang tak kunjung usai. Tak hanya di ranah politik, bahkan pada sidang pengadilan pun kepalsuan dan kebohongan seolah mewabah. Menyedihkan.

Soal Angelina Sondakh misalnya. Saat menjadi saksi dalam kasus Wisma Atlet dengan terdaksa M Nazaruddin pada Rabu (15/2/2012) diragukan kebenaran kesaksiannya dan diduga ia berbohong. Kesaksian Angie bertolak belakang dengan kesaksian Mindo Rosalina (saksi pada sidang 16/1/2012). Angie seolah “mencari aman” dalam kesaksian tersebut, sebab dalam kasus yang sama ia telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.
Kesaksian Angie yang diragukan, antara lain terlihat dalam kesaksian Mindo yang mengatakan, “Benar itu isi percakapan Blackberry Messenger (BBM) dengan Angelina Sondakh”. Tetapi kemudian dibantah Angie dengan mengatakan, “Saya tidak menggunakan Blackberry sebelum akhir tahun 2010. Itu bukan percakapan saya”. Pernyataan lainnya, Mindo mengungkapkan, “Bu Angie menyebut ketua dan bos besar. Ketua adalah ketua Komisi X DPR dan bos besar adalah AU”. Tetapi Angie menolak dengan mengatakan, “Tidak pernah menyebut Anas Urbaningrum dalam BBM dengan Rosa (Mindo)” (Kompas, Kamis/16 Februari 2012).

Ulasan ini bukan untuk menghakimi siapa yang berbohong dan siapa yang bersalah. Biarlah pengadilan di negeri ini yang bertugas memutuskan siapa yang berbohong dan siapa yang tidak. Siapa yang bersalah dan siapa yang bebas. Di sini hanya akan mengurai bagaimana perspektif fiqh, bila para saksi yang dinanti keterangan kejujurannya, justru memberikan keterangan bohong dan palsu.

Saksi, dalam kitab salaf disebutkan, sebagai orang yang mengabarkan suatu perkara atau hal menurut apa yang dilihat atau didengarnya. Memberikan kesaksian sendiri, hukumnya fardhu kifayah bagi orang yang benar-benar mengetahui kejadian perkara tersebut. (al-Majmu’, XX, 286)

Tak jauh dari definisi di atas, Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 Pasal 1 ayat 1menyatakan, saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan tentang suatu tindak pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan/atau ia alami sendiri.
Di dalam al-Qur’an terdapat keterangan perintah memberikan kesaksian, yakni:

وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil. (Q.S. al-Baqarah, 282)

Dalam tata cara Fiqh, tidak sembarang orang bisa menjadi saksi. Syarat-syarat yang harus dipenuhi seseorang agar bisa menjadi saksi adalah, [1] Islam, orang kafir tidak boleh menjadi saksi, baik untuk orang Islam atau orang kafir. [2] Aqil (berakal), maka orang gila tidak boleh menjadi saksi. [3] Baligh, maka anak yang belum baligh (shoby) tidak boleh menjadi saksi. [4] Hurriyyah (merdeka), maka seorang budak tidak boleh menjadi saksi. [5] Adil, yaitu orang yang tidak melakukan dosa besar, atau melakukan dosa kecil yang dilakukan secara rutin, maka di sini tidak sah persaksian orang fasik yang notabenenya adalah kebalikan dari adil. [6] Menjaga muru’ah (harga diri), sebab orang yang tidak menjaga muru’ah berarti dia tidak punya sifat malu, dan orang yang tidak punya sifat malu akan melakukan apa yang diinginkan sesuai dengan kehendaknya. [7] Tidak punya kepentingan. Misalnya kesaksian anak pada bapaknya atau sebaliknya, istri kepada suaminya, dan semacamnya, itu berarti saksi mempunyai kepentingan untuk membebaskan terdakwa, maka tidak diperbolehkan. [8] Mampu bicara, maka orang yang bisu tidak diperbolehkan menjadi saksi, sekalipun bisa dipahami bahasa isyaratnya. [9] Sadar, sepenuhnya mengetahui tindakan berdasar dengan kesadaran akalnya. Maka orang yang tidak sadar atau setengah sadar tidak diperbolehkan menjadi saksi. [10] Tidak idiot. Karena orang idiot tidak diperbolehkan melakukan transaksi. (Hasyiyatul Bujairimy ‘Alal Khatib, XIV, 68; I’anatut Thalibin, III, 312)

Saksi, boleh saja mengajukan diri ke pengadilan untuk mengutarakan persaksiannya. Ia bisa juga dipanggil oleh pihak pengadilan untuk dimintai persaksian. Namun, antara keduanya, yang lebih baik adalah mengajukan diri sendiri ke pengadilan untuk menyampaikan persaksian. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi:

ألا أخبركم بخير الشهداء ؟ الذي يؤدي شهادته قبل أن يسأل عنها

Maukah kalian aku beri tahu sebaik-baik saksi? Yaitu orang yang datang memberi saksi sebelum diminta persaksiannya.(Mushonnaf Abdur Rozaq, VIII, 364)

Terkait soal ini, Undang-Undang pasal 224 KUHP justru menyatakan, saksi yang telah dipanggil ke suatu pengadilan tapi dia menolak, maka dia bisa terkena pidana. Karena menjadi saksi dalam persidangan adalah kewajiban warga Negara yang telah dipanggil secara sah.

Kembali kepada sorotan Islam, klasifikasi mengenai jumlah saksi minimal berbeda antara satu masalah dengan masalah lain, [a] Rukyah Hilal yaitu untuk mengetahui awal Ramadhan yang berhubungan dengan puasa wajib. Yang dibutuhkan adalah satu orang laki-laki, tidak boleh perempuan atau khuntsa. [b] Zina dan anal sex, yaitu empat saksi laki-laki yang semuanya benar-benar melihat masuknya khasyafah ke dalam farji. [c] Masalah mal (harta), seperti jual beli, sewa, hutang, pembebasan hutang, wakaf, gadai, hiwalah, khiyar, dll. yaitu butuh dua laki-laki atau satu laki-laki ditambah dua perempuan atau satu laki-laki dan sumpah. [d] Tidak berhubungan dengan harta, seperti had orang yang minum khamr, mencuri, dakwa zina. Juga semua perihal yang jelas bagi laki-laki seperti nikah, rujuk, mati, talak, baligh, wakalah, syirkah, dll. yaitu dua orang laki-laki, tidak boleh perempuan. [e] Semua yang jelas bagi wanita, seperti kelahiran, haidl, radla’, keperawanan, kejandaan, yaitu empat orang wanita atau satu orang laki-laki ditambah dua wanita atau dua laki-laki. (Fathul Mu’in, IV, 313-317)

Lalu bagaimana dengan masalah kebohongan saksi?
Berbohong adalah penyakit kronis yang sedikit demi sedikit akan menggerogoti nilai-nilai Islam. Banyak alasan yang melandasi seseorang melakukan kebohongan. Salah satu motif penyebab melakukan kebohongan adalah kapitalisme, seperti terekam dalam sabda Nabi saw:

مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ يَقْتَطِعُ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ هُوَ عَلَيْهَا فَاجِرٌ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

Barang siapa yang bersumpah yang dengannya dia mengambil harta seorang muslim,sedangkan sumpahnya adalah palsu maka ia akan menghadap Allah dalam keadaan Dia murka kepadanya. (Shahih Bukhari, VIII, 172)

Berbohong juga termasuk dosa yang sampai-sampai ia adalah merupakan salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi pernah berkata:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berkata dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila diberi amanat dia khianat. (Shahih bukhari, I, 58).
Dalam al-Qur’an menyebutkan:

وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Dan jauhilah perkataan bohong. (al-Hajj, 30)

Kita harus benar-benar menjauhi dosa yang satu ini. Terpeleset sedikit saja bisa memasukkan kita ke dalam neraka. Karena lisan juga bisa memprovokasi dosa-dosa yang lain seperti pertengkaran, permusuhan, dan sebagainya yang bisa menuntun ke neraka. Karena itu, hendaklah kita jauhi. Semua perkataan yang keluar dari lisan kita pasti tak luput dari pena yang dipegang Malaikat Roqib dan ‘Atid. Dalam al-Qur’an disebutkan :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (Q.S. Qof, 18)

Adapun hukuman yang berhak diterima oleh orang yang bersaksi palsu adalah dita’zir. Ta’zir bisa berupa ditahan, dipukul, pencemaran nama baik, atau sesuatu yang bisa membuatnya jera. (al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, XX, 232)

Namun, saksi palsu dapat dinyatakan sebagai saksi palsu apabila: dia sendiri mengaku (iqrar) bahwa dirinya berbohong, atau adanya bukti bahwa ia bohong, atau jelas sekali kebohongannya, seperti bersaksi kepada seseorang yang melakukan zina, padahal orang yang didakwa itu pada waktu yang dituturkannya sedang berada di tempat lain. (al-Majmu’, XX, 232).

Selain itu, bila sebelum bersaksi, orang tersebut disumpah dengan nama Allah, dan kemudian memberikan keterangan yang tidak benar, maka saksi tersebut melanggar sumpah dan dikenakan kafarat (tebusan). Yaitu memilih antara memerdekakan budak, memberi makan sepuluh orang miskin tiap satu orang satu mud, atau memberi pakaian kepada orang miskin. Jika tidak sanggup memenuhi kaffarat yang tertera tadi, maka diwajibkan berpuasa selama tiga hari. (I’anatut Thalibin, IV, 41)

Sementara dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab IX tentang sumpah palsu dan keterangan palsu pasal 242 ayat (1) disebutkan, Barang siapa dalam keadaan di mana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan di atas sumpah atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian, dengan sengaja memberi keterangan palsu di atas sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, secara pribadi maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Sedang ayat (2) menyatakan, jika keterangan palsu di atas sumpah diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Bagi kita, janganlah sesekali berteman dengan kebohongan, sekecil apapun. Karena mulai dari kebohongan kecil itulah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi gunung yang memberatkan kita. [eLFa]

Buletin El-Fajr Edisi 22

Guru Taat, Murid Hormat

Semakin banyak saja orang-orang miskin di Indonesia. Mereka berhamburan di mana-mana tak terurus oleh Negara. Mungkin mereka juga ingin bekerja dan kaya. Namun, nyatanya, mereka harus mengais sisa-sisa nasi di tong sampah, atau di kolong jembatan. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu penyebab yang memengaruhinya adalah faktor pendidikan. Karena tak punya bekal keilmuan, mereka hanya tahu cara mencari makan hanya dengan mengais, tidak lebih.

Maka, sudah lazim apabila seluruh negara di belahan dunia ini memprioritaskan pendidikan. Karena negara memimpikan kemajuan dan benih generasi masa depan yang lebih unggul dalam segala bidang. Juga, supaya kualitas keilmuan tidak menurun dan terus meningkat. Lewat pendidikan itulah impian negara untuk maju dan lebih baik akan terealisasi.

Pendidikan bukan hanya sebatas kegiatan belajar mengajar (teaching and learning), akan tetapi juga merupakan salah satu bentuk ibadah. Seperti yang dikatakan al-Ghazali dalam kitabnya, “Kegiatan mengajar dan belajar merupakan ibadah yang paling utama di dunia”. (Ihya’ Ulumiddin, II, 76)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan yang dalam bahasa arab disebut tarbiyah, mencakup dua hal penting, ta’lim (transfer ilmu) dan ta’dib (memperbaiki moral).

Tujuan pokok pendidikan adalah memanusiakan manusia. Artinya, menjadikan manusia makhluk yang berguna bagi sesama dan lingkungan di sekitarnya. Untuk mengidentifikasi apakah tujuan itu telah tercapai atau belum, biasanya dibuat indikator atau tolok ukur untuk memandang tercapainya tujuan. Indikator tersebut terkadang terlihat dalam perilaku, kebiasaan, dan kecenderungan seseorang di tiap harinya.
Dalam pendidikan terdapat pendidik (guru) dan peserta didik (murid). Keduanya harus ada interaksi dan komunikasi agar pendidikan berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil. Keduanya pun memiliki peran, kewajiban, tanggung jawab, hak, dan etika.
Dalam tugas dan etika, murid harus mengamalkan antara lain, tidak menyombongkan ilmunya dan tidak menentang gurunya, tidak terlibat dalam kontroversi dan pertentangan akademis, mempunyai tujuan yang baik. Untuk lebih mantapnya suatu ilmu, seorang murid harus tirakat rela merantau (mondok) demi mendapatkan guru dan ilmu yang searah dengan hatinya. Sang murid juga harus mendahulukan ilmu-ilmu yang penting dan pokok, yaitu ilmu agama. (Ihya’ Ulumid Din, I, 52-56)

Begitu pula bagi seorang guru. Seorang guru juga mempunyai tugas. Tugas guru antara lain mengajarkan ilmu sesuai dengan kemampuan peserta didik, memberi perhatian lebih terhadap anak didik yang IQ-nya di bawah standar rata-rata, mengikuti jejak Rasul, dan memberikan kasih sayang kepada anak didiknya sebagaimana menyayangi anaknya sendiri. (Ihya’ Ulumid Din, I, 60-62)
Memang berat menjadi guru, lebih berat daripada menjadi murid. Seorang pahlawan tanpa tanda jasa itu, baru berhak mendapat predikat sebagai guru profesional apabila ia dapat menyampaikan materi secara komperhensif (lengkap dan mencakup semua hal).
Oleh sebab itu, mendurhakai guru lebih tercela daripada mendurhakai orang tuanya sendiri. Karena peran guru adalah sebagai orang yang mengeluarkan kita dari gelapnya kebodohan menuju lorong makrifat kepada Allah. Namun begitu, mereka sama-sama harus kita hormati. Bukan berarti mendurhakai orangtua diperbolehkan, malah tanpa adanya doa dan restu orang tua mungkin kita tak mungkin berhasil mancari ilmu. (al-Bahrul Madid, I, 60)

Sebagai insan pencari ilmu, baik remaja, dewasa, atau tua, pasti ingin mencapai keberhasilan dalam mencari suatu ilmu. Ini karena termasuk sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap orang yang berakal sehat. Dalam kitab Ta’limul Muta’allimin telah dijelaskan mengenai kunci keberhasilan dalam menempuh ilmu. Adapun kunci kesuksesan tersebut ada enam. Pertama, dzaka’ (cerdas atau cerdik) yaitu cepat dalam berfikir dan menanggapi suatu permasalahan. Setiap orang yang ingin mencapai keberhasilan harus memiliki sifat tersebut.

Kedua, khirshun (rakus ilmu) yaitu adanya keinginan yang sangat mendalam untuk menghasilkan ilmu itu sendiri. Seseorang tidak akan memperoleh ilmu tanpa adanya keinginan. Ketiga, bulghoh (bekal) yaitu merasa cukup dengan bekal yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan hidup semasa menuntut ilmu. Ini dapat diketahui melalui tidak butuhnya seseorang pada orang lain dalam urusan rizki, karena kebutuhan yang satu ini mampu menimbulkan kekacauan dalam hati, sehingga untuk menghasilkan sebuah ilmu menjadi sukar.

Keempat, ishthibar (sabar) yaitu tidak mengeluh atas cobaan-cobaan yang telah diberikan oleh Allah terhadap hamba-Nya pencari ilmu. Terkadang seorang yang dalam keadaan menempuh ke jenjang pendidikan ketika mendapat cobaan baik yaitu berupa masalah keuangan atau wanita, sebagian dari mereka ada yang tidak sabar atas cobaan tersebut. Misalnya seorang itu putus sekolah karena faktor ekonomi yang tidak mendukung atau malas belajar yang timbul akibat wanita yang singgah dalam hati orang tersebut. Kelima, irsyadu ustadzin (bimbingan dari guru) yaitu petunjuk dari seorang guru yang bersifat baik dan benar sedangkan petunjuk guru yang bersifat tidak baik dan melanggar syara’ wajib tidak diikuti.

Keenam, thuulu zaman (lamanya waktu) atau dalam istilah ilmu pendidikan disebut ‘long life education’ yaitu lama dalam arti sampai mampu menghasilkan ilmu yang diinginkan. Baik itu berupa pendidikan formal ataupun non-formal. Pendidikan formal misalnya belajar di sekolahan, sedangkan pendidikan non-formal seperti pondok pesantren dan les privat. (Ta’limul Muta’allim, 15)

Tingkat intelegensi atau kecerdasan murid pasti juga tak lepas dari kepribadian dan lingkungan. Lebih dominan manakah antara keduanya? Memang, kedua-duanya bisa saja mendominasi tergantung pada kondisi saat itu. Namun, biasanya kepribadian itu mendominasi jika berada di kalangan masyarakat, dan lingkungan biasanya mendominasi jika berada di kalangan pesantren.

Karena guru adalah sumber ilmu, yang mana murid butuh akan bimbingannya, maka, murid harus memiliki etika terhadap guru. Kata-kata “jadikan guru sebagai teman” bukan berarti kita memperlakukannya seperti teman kita sebaya. Teman itu ada tiga macam. Pertama, dengan orang yang di atasnya seperti guru dan orang tua. Hakikat pertemanan ini adalah khidmat atau kepatuhan. Kedua, terhadap orang yang di bawahnya, yaitu sebagai bentuk sayang dan belas kasih. Dan yang terakhir, terhadap orang yang sederajat. Pengertian yang ketiga inilah makna teman yang biasa digunakan.
Murid wajib menghormati guru. Seseorang tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan mengagungkan ilmu dan pemiliknya (ahlul ilmi). Sayyidina Ali pernah berkata, “Aku adalah budak bagi orang yang telah mengajarkanku ilmu, walaupun itu hanya satu huruf”. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu dan orang yang memilikinya, sampai-sampai Sayyidina Ali pun rela mengaku sebagai budak hanya karena ilmu. Dan termasuk salah satu berntuk menghormati guru adalah tidak melakukan perbuatan seperti berjalan di depannya atau mendahuluinya dan tidak juga tempat duduknya juga tidak memotong pembicaraan kecuali kalau telah diizinkannya. Meskipun ini sudah kami paparkan di atas namun untuk menegaskan kembali bahwa ini termasuk salah satu dari cara menghormati guru. Dan termasuk menghormati guru juga, menghormati anaknya, kerabatnya, dan khodamnya. (Bariqotun Muhammadiyah Fi Syarh Thoriqoh Muhammadiyyah Wa Syari’ah Nabawiyyah, V, 185)

Mengenai etika yang juga perlu diketahui seorang murid adalah tidak tergesa-gesa memotong dan menanggapi ucapan guru sebelum guru selesai menyampaikan masalah. Murid dapat menanyakan isykal-isykal dari penjelasan guru setelah guru selesai dalam menyampaikan suatu materi. Nabi ketika mendapat wahyu dari Allah, beliau menjelaskan lafadz-lafadz dan menerangkan makna-maknanya. Ketika para sahabat tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Nabi, mereka baru menanyakannya setelah Nabi selesai menerangkannya. (Tafsir as-Sa’diy, I, 889)

Dengan kata lain, murid itu dituntut untuk mengharap ridho dari guru, menjauhi kemurkaannya dan menjalankan perintahnya, selain perintah yang mengacu pada kemaksiatan. Sementara guru, selain mengajarkan ilmu sesuai dengan kemampuan peserta didik, juga harus memberi perhatian dan kasih sayang terhadap anak didik. Yang lebih penting, sikap dan perilaku guru sehari-hari mengikuti Rasul, melaksanakan sepenuh hati perintah-perintah Rasul dan menjauhi larangan-larangan Rasul. [eLFa]

Buletin El-Fajr Edisi 21

SIAPA IDOLAMU?

Sudah menjadi watak manusia, mengagumi, mengidolakan, bahkan meniru orang-orang yang terkenal atau orang-orang yang kebesarannya telah masyhur. Misalnya pesepak bola, penyanyi, pesulap, atau yang lainnya. Hal itu merupakan fakta yang sudah bisa kita lihat sendiri sekarang. Puluhan ribu pasang mata rela berdesak-desakan demi melihat aksi individu pemain di rumput hijau, maupun aksi tim kesayangannya dalam sepak bola. Begitu pula, bagi penyanyi kenamaan ataupun bagi pesulap yang handal, setiap kali konser digelar, ribuan penonton selalu datang dan membanjiri lapangan pertunjukan.

Padahal, dari semua yang diidolakan dari berbagai bidang itu, tidak semuanya muslim, ada juga yang beragama non-muslim. Ini misalnya Christiano Ronaldo (pemain sepak bola), Justin Bieber (penyanyi), atau kalau di Indonesia seperti Agnes Monica (penyanyi), juga pesulap Deddy Corbuzier (pesulap), adalah dari kalangan non-muslim.
Nama-nama tersebut, tentu tidak asing di telinga kita. Bahkan mungkin juga sebagian dari kita menjadi penggemar berat atau fans mereka.

Lalu, persoalan yang muncul adalah bagaimana hukumnya ngefans terhadap orang-orang tadi, padahal mereka adalah non-muslim?

Memang, hidup di dunia ini telah dilingkupi dengan banyak kenikmatan yang dapat melalaikan dan mengaburkan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran, 14)
Tentang pergaulan dengan orang kafir telah disebutkan dalam ayat berikut:

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوى وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. (al-Mumtahanah, 1)

Dalam kitab kuning, fans ditekstualkan dengan kata mahabbah atau mawaddah. Kedua kata itu mutaradif (sinonim). Sedangkan lawan katanya adalah bughdlu (benci). Sedangkan pengertian mahabbah (cinta) sangatlah banyak lantaran banyaknya pendapat para tokoh. Kita cuplik satu saja yaitu pendapat dari al-Ghazali, cinta adalah kecenderungan alami terhadap sesuatu yang melezatkan. (Mukhtashor Ihya’ Ulumud Din, 235)

Mahabbah itu ada dua. Yaitu, mahabbah diniy yaitu mahabbah yang didasari faktor agama, seperti mahabbah pada Allah, Rasul-Nya, dan sesama mukmin. Kedua, mahabbah thobi’iy yaitu kecintaan yang timbul karena hal itu sudah menjadi watak/tabiat manusia, seperti kecintaan pada istri, anak, kerabat, dan harta. Kadang, kecintaan secara tabiat juga disertai kebencian secara agama (cinta tapi benci). Seperti cinta seorang muslim kepada orang tuanya yang musyrik. Dari satu sisi (tabiat), dia pasti cinta kepada orang tuanya. Tapi dari sisi lain (agama), dia benci karena menentang Allah. Rasulullah pun demikian, Beliau cinta kepada pamannya (Abu Thalib) karena kerabat, padahal pamannya itu kafir. Dalam al-Qur’an:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (al-Qashash, 56)
Begitu pula sebaliknya, kadang ada juga kecintaan secara agama disertai dengan kebencian secara tabiat, seperti jihad. Secara tabiat, pastilah orang akan benci dengan peperangan. Tapi secara agama tidak seperti itu. (Ijabatus Syaikh Abdur Rahman al-Barrak, I, 40)

Kembali ke pokok persoalan, menurut pandangan fiqh, hukum mencintai dengan kecondongan hati terhadap orang-orang non-muslim adalah haram walaupun bukan karena kafirnya. Adapun hukum berkumpul bersama orang kafir secara lahiriyyah, hukumnya makruh selama tidak diharapkan keislamannya, atau karena kerabat, atau tetangga. Jika karena diharapkan keislamannya, tetangga, atau kerabat, maka hukumnya boleh. Hukum ini sama persis dengan hukum mencintai orang-orang fasik (fussaq). Haram jika tidak karena kerabat atau tetangga. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)

Tapi ada ulama lain yang berpendapat berbeda. Jika cintanya karena kekafirannya, maka haram hukumnya. Sedangkan jika mencintainya bukan karena kekafirannya, entah karena karya, prestasi, atau skillnya, maka makruh. Juga diperbolehkan mahabbah karena mengharapkan keislamannya, walaupun memang kita hanya bisa berharap saja, karena petunjuk hanyalah milik Allah semata. (Hasyiyatul Qolyubi, IV, 237)

Orang yang kagum terhadap seseorang, biasanya akan meniru orang yang dikagumi tersebut. Inilah dampak dari kekaguman itu. Buntutnya, jika rasa kagum itu sampai membuat kita meniru dalam hal yang haram, maka hukumnya pun haram. Begitu pun sebaliknya, jika kita menirunya dalam hal positif maka boleh-boleh saja. Hal ini berdasarkan hadits yang sudah akrab di telinga kita:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam kaum itu. (Sunan Abi Dawud, XI, 48)

Lalu bagaimana jika hanya teman?
Seperti yang dipaparkan di atas, berteman (berkumpul secara lahiriyyah) dengan orang-orang kafir hukumnya makruh. Dan jika orang kafir tersebut adalah tetangga, kerabat, atau orang yang diharapkan keislamannya, maka boleh. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)

Kesimpulannya, silahkan ngefans terhadap siapapun atau bahkan apapun sesuka Anda, tetapi tentunya dengan batasan-batasan yang tadi telah diutarakan.
Yang harus kita ingat adalah dalam hidup ini semua manusia pastilah memiliki pedoman hidup. Dan salah satu pedoman hidup kita adalah Islam yang menjadi agama kita. Dan dalam Islam pun sudah ada makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna dan paling pantas untuk dikagumi bahkan dicintai oleh seluruh umat manusia, karena dialah utusan Allah yang paling mulia, pembawa pencerahan dan cahaya Islam. Siapakah itu? Pembaca pastilah bisa menjawabnya sendiri. [eLFa]

Buletin El-Fajr Edisi 20

Obat Najis, Bolehkah?

Setiap orang pasti pernah merasakan dua hal, sehat dan sakit. Kedua hal ini saling berkaitan, satu sama lain saling melengkapi. Karena tidak ada orang yang bisa mengatakan dirinya sehat, jika dia tidak pernah merasakan sakit, begitu pun sebaliknya. Karena itu setiap orang yang merasa dirinya sakit, pasti akan berusaha agar kembali menjadi sehat. Usaha inilah biasa disebut dengan ‘pengobatan’.

Pengobatan sudah ada sejak zaman dahulu, karena pengobatan merupakan hasil dari observasi dan pengalaman manusia untuk mencari obat bagi penyakit yang dideritanya. Dulu, pengobatan masih menggunakan cara dan bahan alami, yaitu menggunakan alam sebagai obatnya. Namun, seiring perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern, pengobatan sudah menggunakan proses dan cara yang lebih modern. Kemasan obat pun, kini ada dalam berbagai bentuk. Mulai dari pil, puyer, kapsul, salep, dan lain sebagainya.

Ada juga pengobatan dengan air kencing sebagai salah satu pengobatan alternatif untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Katanya, urin memiliki kegunaan dapat dipakai sebagai obat luar untuk mencegah infeksi dan diminum untuk meredakan sakit lambung dan usus.

Lalu, bagaimana Islam menanggapi hal ini?

Dalam al-Qur’an disebutkan:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku. (as-Syu’ara, 80)
“Setiap penyakit itu pasti ada obatnya”, itulah slogan yang paling cocok dalam agama kita. Slogan ini bukannya tak berdasar, tapi justru malah memiliki dasar yang kuat, yaitu hadis Nabi:

إِنَّ اللَّه أَنْزَلَ الدَّاء وَالدَّوَاءلِكُلِّ دَاء دَوَاء فَتَدَاوَوْا وَلَا تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, setiap ada penyakit pasti ada obatnya maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan barang haram. (Sunan Abi Dawud, X, 371)

Dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, setiap lafal yang diawali dengan lafal ‘kullu’ itu bersifat umum. Karena itu, dapat disimpulkan dari hadis tersebut bahwa semua penyakit itu pasti ada obatnya, walaupun mungkin masih belum ditemukan oleh ahli medis. (Lubbul Ushul, 70)

Mengenai hukum berobat sendiri, hukumnya adalah sunah bagi orang yang sakit. Sedangkan bagi orang yang sehat, tidak dianjurkan melakukan pengobatan karena jika obat tidak bereaksi dengan penyakit justru akan membahayakan bagi si pengguna. (Faidlul Qodir, II, 273)

Ada banyak cara untuk melakukan pengobatan, tapi ada beberapa metode yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita para umatnya. Dari berbagai hadis, Rasulullah biasanya mempergunakan metode bekam (hijamah) untuk pengobatan. Bahkan, Rasul pun pernah mengatakan bahwa bekam adalah pengobatan paling ideal, karena bekam berfungsi mengeluarkan penyakit-penyakit yang terdapat dalam darah kotor.

Mungkin memang benar, ada beribu-ribu cara seseorang melakukan pengobatan. Termasuk yang pernah disinggung di awal pembukaan tadi yaitu menggunakan barang najis, apakah hal ini diperbolehkan?

Menurut hadis Sunan Abi Dawud di atas, bisa dipahami bahwa tidak boleh berobat dengan barang haram, termasuk berobat menggunakan barang najis, baik itu digunakan untuk obat luar ataupun dalam. Kecuali jika memang tidak ditemukan obat lain yang suci yang bisa digunakan sebagai obat. (I’anatut Thalibin, IV, 176)

Lalu bagaimana dengan hadits:

إن الله لم يجعل شفاء أمتي فيما حُرّم عليهم

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagi umatku yang di dalamnya terdapat barang yang diharamkan.
Mungkin jika dilihat sekilas, timbul pertentangan antara hukum di atas tadi dengan hadits tersebut, tetapi sebenarnya, dalam konteks hadis ini yang dimaksud ma hurrima ‘alaihim adalah arak saja, karena arak bukanlah obat melainkan penyakit. Walaupun dalam keadaan dhorurot, arak tetap tidak boleh diminum, arak hanya diperbolehkan sebatas sebagai obat luar saja. Jika sampai digunakan sebagai obat dalam, maka hukumnya mutlak haram. Begitu pula racun, tidak boleh digunakan sebagai obat dalam, hanya obat luar. (al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an Lil Qurthuby, I, 432¬; Tanwirul Qulub, 390)

Mengenai hal ini, Nabi pernah berkata:

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

Sesungguhnya arak bukanlah obat, melainkan penyakit. (Shahih Muslim, X, 191)
Zaman sekarang, penggunaan barang najis sebagai obat merupakan hal yang jarang. Karena sekarang, sudah ada banyak macam obat-obatan yang suci dan jumlahnya pun sudah beratus-ratus bahkan sampai beribu-ribu di dunia ini. Hal yang masih sering terjadi adalah karena mahalnya harga obat yang suci, maka orang-orang yang miskin seringkali tidak mampu untuk membelinya. Masih ada banyak setok obat yang suci, tetapi ganti si sakit yang tidak mampu untuk membelinya karena faktor ekonomi, sedangkan yang ia mampu hanyalah obat najis.

Bagaimana jika timbul masalah demikian?
Bila demikian halnya, maka jawabannya boleh, karena orang yang tidak mampu untuk membeli obat tersebut masuk dalam kategori dhorurot. (Lubbul Ushul, 8)
Ada sebuah kaidah fiqh yang berbunyi:

الضرورات تبيح المحظورات

Dhorurot memperbolehkan perkara-perkara yang dilarang.
Pengertian dhorurot sendiri adalah kondisi dimana jika tidak menggunakan suatu yang diharamkan akan dikhawatirkan jatuh pada kebinasaan atau mendekati kebinasaan. (Idlohul Qowaidil Fiqhiyyah, 43)

Jadi, kesimpulannya, pengobatan dengan menggunakan barang najis hukumnya tidak boleh, kecuali dengan ketentuan-ketentuan seperti yang tersebut di atas. Yakni, jika tidak ditemukan barang suci lain sebagai obat. Sedangkan untuk barang najis berupa khamr dan racun, sama sekali tidak boleh digunakan untuk obat dalam (diminum) meski dalam keadaan dharurat. Khamr dan racun hanya diperbolehkan sebagai obat luar saja.
Sangat benar, sehat itu mahal harganya. Sehat adalah hal yang sangat penting bagi makhluk hidup. Tapi bukan berarti kita harus melakukan cara apapun untuk mendapatkan kesembuhan saat sakit. Hal yang diharamkan agama tetap harus kita hindari. Selain itu, terkadang sakit justru diperlukan, karena bisaanya orang yang dalam keadan sakit lebih banyak ingat dan dekat kepada Allah ketimbang orang yang sehat.

Dan ingatlah, Allah memberikan nikmat sehat ini kepada kita semua secara cuma-cuma, tanpa memungut biaya sepeser pun. Maka dari itu, jagalah dan pergunakanlah nikmat Allah ini dengan sebaik-baiknya. [eLFa]

Inilah, Pemabuk yang Merenggut Nyawa

Banyak peristiwa merenggut korban jiwa di negeri ini. Dari kasus kerusuhan, kecelakaan, penyerangan tidak jelas, demonstrasi anarkistik, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa itu seolah terus menerus ada sejak dulu. Yang terbaru dan menjadi perbincangan banyak orang adalah peristiwa tabrakan pada Ahad, 22 Januari 2012. Mobil Daihatsu Xenia yang disopiri Afriyani Susanti melaju kencang dan menghantam belasan pejalan kaki di trotoar dan halte di Jalan M.I. Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat. Akibatnya, sembilan orang tewas dan tiga terluka, termasuk korban jiwa dari kecamatan Mayong, kabupaten Jepara. Lebih heboh lagi, Afriyani menyetir mobil tersebut dalam keadaan mabuk akibat mengkonsumsi narkoba.

Lalu bagaimana pandangan fiqh mengenai peristiwa yang merenggut korban nyawa ini, dapatkah dikategorikan sebagai pembunuhan?

Pada dasarnya, semua perbuatan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang masuk dalam kategori qatl (pembunuhan), termasuk perbuatan menabrak seseorang yang mengakibatkan kematian. Dalam Islam, membunuh orang lain adalah perbuatan yang diharamkan Allah jika tidak disertai alasan yang benar. Allah berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 33:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (QS. Al-Isra’, 33)

Dalam fiqh, dijelaskan bahwa qatl (pembunuhan) dibagi menjadi tiga. Pertama, ‘amdun mahdlun (murni sangaja) yaitu orang yang sengaja menyerang pada orang tertentu dan menggunakan alat yang secara teori bisa digunakan untuk membunuh. Kedua, Syibhu ‘amdin (semi sengaja) yaitu orang yang sengaja menyerang pada orang tertentu dan menggunakan alat yang lazimnya tidak bisa membunuh. Seperti menggunakan tangan, kerikil, dan pensil. Dan ketiga, khothoun mahdlun (murni kekeliruan) yaitu orang yang tidak sengaja membunuh orang lain. Misalnya seseorang menembak burung ternyata mengenai orang lain yang mengakibatkan kematian. (Fathul Mu’in, IV, 125; Nihayatuz Zain, 339)

Hukum asli membunuh memanglah haram, namun ada juga membunuh yang dibenarkan oleh syara’ yaitu sebagai hukuman (balasan) terhadap terhadap orang yang zina muhshon (sudah mempunyai istri atau suami), orang yang membunuh muslim secara sengaja, dan orang murtad. Namun hal itu tidak boleh dilakukan sembarang orang dan harus menunggu keputusan hakim dan dilakukan aparat pemerintah.

Nabi pernah berkata:

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ كُفْرٌ بَعْدَ إِسْلَامٍ أَوْ زِنًا بَعْدَ إِحْصَانٍ أَوْ قَتْلُ نَفْسٍ بِغَيْرِ نَفْسٍ

Tidak halal darah seorang muslim kecuali sebab tiga perkara yaitu kafir setelah Islam, zina muhshon, atau membunuh nyawa dengan tanpa haq. (Sunan Abi Dawud, XII, 87)

Dalam masalah pembunuhan, dikenal juga istilah ‘qishash’, sebagai hukuman atas perbuatan pelaku. Qishash adalah melakukan pembalasan sesuai dengan apa yang dilakukan pelaku. (at-Ta’rifat, I, 56).

Qishash dalam pembunuhan hanya dapat diberlakukan untuk pembunuhan ‘amdun mahdlun (murni sengaja). Juga ditambah lagi harus memenuhi empat persyaratan yang telah dibeberkan fiqh, yaitu, pembunuh adalah orang yang berakal, baligh, pembunuh bukan orang tua dari korban (orang yang dibunuh), dan orang yang dibunuh derajatnya tidak lebih tinggi dari orang yang membunuh. Artinya jika orang Islam membunuh orang kafir, orang merdeka membunuh budak, maka tiada qishosh baginya. Tapi jika sama derajatnya, seperti yang diterangkan dalam al-Qur’an al-Baqarah ayat 178, “…diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita… “, maka wajib qishash bagi si pembunuh. (Kifayatul Akhyar, II, 159)

Untuk pembunuhan selain ‘amdun mahdlun yaitu syibhu ‘amdin dan khothoun mahdlun, maka dikenakan diyat (denda). (Fathul Qarib, 53). Selain diyat, bagi pelaku juga diwajibkan untuk membayar kafarat. Kafarat yang wajib ditunaikan adalah memerdekakan budak perempuan muslimah. Apabila tidak menemukan budak, maka puasa dua bulan berturut-turut. (Raudaltut Thalibin, III, 416)

Allah dalam menurunkan hukum sesuatu tidak pernah asal-asalan, maka dari itu qishash pun pastilah memiliki hikmah agung dari diberlakukannya. Seperti yang tertera dalam surat al-Baqarah ayat 179, “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Artinya, jika ada seorang yang mau membunuh, dia akan tidak jadi membunuh, karena akan muncul rasa takut dengan hukum qishash yang menantinya. Ini berarti qishash menjamin keberlangsungan hidup dan bukannya malah melayangkan nyawa. (Tafsir ibn Katsir, I, 492)

Ada sebuah masalah lagi mengenai qishash, sekarang bagaimana jika terdapat satu orang yang dikeroyok sejumlah orang dan akhirnya meninggal? Siapakah yang terkena hukum qishash?

Fiqh tak ketinggalan membahas hal itu. Fiqh menetapkan bahwa semua yang yang ikut berpartisipasi dalam pembunuhan itu dikategorikan sebagai qotil (pembunuh). Suatu cerita telah tersebar bahwasanya suatu ketika Sayyidina Umar telah meng-qishash lima atau (dalam riwayat lain) tujuh orang yang mana orang-orang tersebut telah membunuh satu orang. (Fathul Mu’in, IV, 135)

Lalu bagaimana mengenai orang mabuk yang melakukan perbuatan yang menyebabkan kematian orang lain?

Jika kita pandang dari sisi pelaku. Orang yang tengah mabuk, walaupun tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri, tapi orang mabuk masih dianggap sebagai seorang mukallaf. Karena sakron (orang yang mabuk) ataupun orang yang mengonsumsi obat-obatan lainnya yang dapat menghilangkan akal, masih terkena hukum taklif (terbebani hukum). Karena dia sudah tahu kalau obat-obatan itu bisa menimbulkan efek yang menyebabkan ia tidak dapat mengendalikan diri, kok masih dikonsumsi, berarti di sinilah letak kesalahannya. Jadi, pelaku perbuatan ini dapat dikenai hukuman qishash jika ia melakukan perbuatan tersebut dengan sengaja (amdun mahdlun). (Raudlatut Tholibin Wa ‘Umdatul Muftin, III, 321; Hasyiyatul Jamal, XX, 256)

Lalu bagaimana nasib sang korban kecelakaan yang tengah meninggal? Dapatkah dikategorikan syahid?

Syahid digolongkan menjadi tiga macam. Pertama, syahid dunia akhirat, ialah orang yang gugur dalam perang melawan orang-orang kafir demi membela agama Islam. Kedua, syahid dunia ialah orang yang meninggal dunia karena terkena musibah, seperti orang yang meninggal karena suatu penyakit, tenggelam, terkena bencana, dan sebagainya. Dan yang terakhir adalah syahid akhirat, yaitu orang yang gugur dalam perang sabilillah, namun perangnya karena mengharap harta rampasan, dendam, atau riya. Jadi, orang-orang yang tertabrak mobil (kecelakaan) dalam kasus di atas, masuk dalam kategori syahid akhirat, karena kecelakaan tersebut termasuk musibah bagi si korban. Maka dari itu, mereka masih dimandikan, dikafani, dan dishalati sebagaimana mayit-mayit muslim yang lain. (al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, V, 264)

Islam sangat menghargai nyawa manusia, dengan bukti adanya hukum mengenai qishash, syahid, dan sebagainya, seperti yang telah disebut di atas. Berhati-hatilah!.[eLFa]

Menelisik Haul

Setiap orang pasti akan sangat senang jika mendapatkan sesuatu atau kiriman yang begitu istimewa, seperti sebuah hadiah atau semacamnya. Apakah hal itu hanya berlaku pada orang-orang yang masih mendiami bumi? Jawabnya tidak. Karena orang yang sudah meniggal pun bisa menerima kiriman serupa, mungkin malah lebih istimewa yang bisa membuatnya sangat bahagia. Tak sedikit cara untuk memberi kiriman pada orang yang sudah wafat, di antaranya dengan mengadakan haul.

Haul berasal dari kata al-haulu yang berarti satu tahun. Kata haul dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 240:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meniggalkan istri hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya (yaitu) diberi nafkah hingga satu tahun. (QS. al-Baqarah, 240)

Dari uraian di atas, kata ‘haul’ berkembang menjadi istilah Indonesia yang lazim dipakai oleh komunitas muslim dengan arti memperingati hari wafat seseorang yang diadakan setiap satu tahun sekali (biasanya disertai selamatan arwah), dalam acara ini semua keluarga diundang. (KBBI, 514).

Pada zaman Rasulullah, tak ada istilah haul yang diartikan sebagai peringatan kematian. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang pertama kali memperkenalkan tradisi itu? Pertanyaan ini memang terlihat begitu sederhana. Namun, masih terlalu sulit untuk menjawab masalah yang ternyata sangat pelik itu. Menurut Agus Sunyoto (seorang pengamat sejarah dan budaya) haul pertama kali dilakukan oleh kerajaan Campa, Kamboja. Sayangnya pendapat ini tak bisa dijadikan pegangan yang kuat yang bisa digunakan sebagai rujukan. Dikarenakan sumber yang didapatnya belum jelas.

Pada awalnya, haul diadakan hanya untuk memperingati hari wafat para tokoh ataupun ulama yang biasanya dilakukan dengan berdzikir, membaca sholawat, atau al-Qur’an. Bisa juga dengan membacakan riwayat hidup atau mengenang sepak terjang orang yang dihauli dalam rangka memperjuangkan agama. Dengan maksud supaya mampu menjadi suri tauladan, setidaknya bisa menjadi motivasi bagi para generasi yang masih tergolong muda. Namun, di era sekarang ini haul bukan lagi terikat untuk para tokoh maupun ulama saja. Siapapun melakukannya, karena tujuan dan maksud dari haul sendiri hanya satu yaitu mendoakan orang yang sudah meninggal.

Kalau sekilas, haul memang terlihat begitu baik untuk dilakukan dan dilestarikan. Namun, masih terlalu dini untuk membenarkannya. Sebab sejauh mata memandang, tak ditemukan ta’bir yang secara tegas memberikan bukti bahwa tradisi ini ada pada masa Rasulullah. Dikarenakan sangat besar kemungkinan bila haul ini dikategorikan sebagai bid’ah yang dilarang oleh Rasulullah. Sudah wajar jika ada sebagian orang-orang yang sensitif dengan hal seperti ini. Tak sampai di situ, mereka juga mengecam tradisi ini. Tapi ada salah satu hadits yang konteksnya tentang haul:

عَنِ اْلوَاقِدِى قَالَ: كَانَ النَّبِـىُّ يَـزُوْرُ شُهَدَاءَ اُحُدٍ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ وَاِذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتـَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ ِبـمَا صَبَرْتـُمْ فَـنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ . ثُمَّ اَبُوْ بَكْرٍ يَـفْعَلُ مِثْلَ ذٰلِكَ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ

Al-Waqidy berkata: “Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. berziarah ke makam syuhada’ uhud pada setiap tahun, apabila telah sampai di makam syuhada’ uhud beliau mengeraskan suaranya seraya berdo’a: keselamatan bagimu wahai ahli uhud dengan kesabaran-kesabaran yang telah kalian perbuat, sungguh akhirat adalah tempat yang paling nikmat/sebaik-baik rumah peristirahatan. Kemudian Abu Bakar pun melakukannya pada setiap tahun begitu juga Umar dan Utsman.(Mukhtashar Ibnu Katsir, II, 279, Syarah Nahj al-Balaghah,399)

Dalil inilah yang kemudian menjadi dasar dari dilaksanakannya acara tahunan itu guna mendoakan ulama, sesepuh, dan orang tua kita. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa haul hukumnya sunah. Karena di dalamnya terdapat do’a, tahlil, istighfar, dan ritual Islam lainnya. Dalam acara haul, juga dianjurkan untuk berziarah ke makam orang yang dihauli. Seperti dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ النَّبِيذِ إِلَّا فِي سِقَاءٍ فَاشْرَبُوا فِي الْأَسْقِيَةِ كُلِّهَا وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا

Dahulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah. Dahulu aku melarang kalian untuk menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari, maka sekarang simpanlah selama jelas bagimu manfaatnya. Dahulu aku melarang kalian membuat anggur selain dalam qirbah, maka sekarang minumlah dari segala tempat air, asal jangan kamu minum yang memabukkan. (Sahih Muslim, X, 165)

Dalam disiplin ilmu ushul fiqh, ada sebuah keterangan yang menerangkan bahwa, jika ada amr (perintah) yang terletak setelah nahy (larangan) maka hukumnya menjadi mubah. (Lubb al-Ushul, 65)

Kalau bicara tentang siapa yang berhak dihauli, tentunya umat muslim tak terkhususkan bagi tokoh agama, perintis, atau para pembesar lainnya. Karena seseorang yang sudah meninggal akan sangat bahagia jika orang-orang yang ditinggalkan almarhum mau mendoakannya. Dikarenakan orang yang sudah meninggal, semua amalnya terputus kecuali tiga perkara (ilmu yang bermanfaat, shodaqoh jariyyah, dan putra yang saleh) (Syarah An-Nawawi Ala Muslim, I, 25).

Membuat bahagia orang yang sudah meninggal bukan hanya lewat doa. Masih ada cara lain untuk membuatnya tentram. Di antaranya, mengenang masa-masa hidupnya, bersedekah dengan niat sedekah dari almarhum, dan masih ada yang lainnya seperti anjuran-anjuran para ulama.

Sebuah hadits menyatakan:

اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِم

Ingatlah kebaikan-kebaikan orang yang telah mati, dan hindarilah menyebut cela mereka. (al-Jami’ as-Shaghir, I, 138)

Untuk berbelasungkawa, Islam memiliki batasan tersendiri, yaitu tidak boleh menangis dengan menjerit-jerit, apalagi sampai menyobek-nyobek pakaian karena perbuatan ini adalah perbuatan orang-orang jahiliyyah. Tapi tidak masalah jika tangisan tersebut tanpa mengeluarkan suara atau jeritan sama sekali, karena tangisan itu dengan air mata, bukan dengan suara. (at-Tadzhib, 88)

Sebagai sesama muslim, kita dilarang menyebut cacat orang yang sudah meninggal. Diperbolehkan menyebut cacat seseorang yang sudah wafat jika memang demi kemaslahatan. Misalnya, cara meninggalnya seorang zalim yang tak wajar. Agar bisa menjadi pelajaran bagi semua orang agar tidak berbuat zalim. (Faidlul Qadir, I, 457).

Yang banyak ditemukan di masyarakat adalah haul ditujukan doanya untuk orang Islam. Adapun jika hukum mendoakan (memintakan maghfiroh) untuk orang kafir adalah ditafsil. Dikatakan boleh jika orang kafir itu masih hidup, dan jika sudah meninggal maka hukumnya haram mendoakannya. (Hawasyi as-Syarwani, III, 75).

Dari keterangan yang telah dikupas tadi, kita bisa mengambil hikmah atau manfaat dari haul yang begitu agung. Seperti, mengenang perjalanan hidupnya sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi kita untuk menjadi lebih baik ke depannya. [eLFa]

Buletin El-Fajr Edisi 17

Memilih Hewan yang Halal Dimakan

Hewan merupakan salah satu makanan yang dikonsumsi manusia. Berjuta-juta spesies dan ribuan nama dan jenis hewan menjadikan manusia memiliki banyak pilihan untuk mengkonsumsinya. Baik hewan darat maupun hewan laut, asalkan diracik dengan sedap, manusia tentu siap untuk menyantapnya. Ada dari swike kodok, tikus bakar sampai sate ular pun juga tak luput dari daftar menu makanan dewasa ini.

Akan tetapi, tidak semua hewan enak untuk dimakan, tidak semua hewan baik untuk tubuh. Oleh karenanya, al-Qur’an dan Hadits telah memberi rambu-rambu untuk memilih dan memilah mana hewan yang boleh dimakan, mana yang tidak boleh.

Dalam fiqh, dikenal klasifikasi tiga jenis hewan menurut habitat hidupnya. Pertama, Al-hayawan al-maaiy (hewan air) yaitu hewan yang hanya bisa hidup di air saja.
Seperti ikan, kepiting, kerang, dll. Hewan ini halal untuk dimakan secara mutlak. Artinya walaupun hewan tersebut tanpa disembelih tetap boleh dimakan. Ini sesuai dengan ayat al-Qur’an surat al-Maidah ayat 96 :

أحل لكم صيد البحر وطعامه، متاعاً لكم وللسيارة

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. (QS. al-Maidah, 96)

Kedua, Al-hayawan al-barriy (hewan darat) yaitu hewan yang hanya bisa hidup di darat saja. Dalam kontkes ini, hewan darat terbagi atas tiga macam, yaitu (a) hewan yang tidak memiliki darah, (2) hewan yang memiliki darah tetapi tidak mengalir, dan (3) hewan yang memiliki darah yang mengalir.

Hewan-hewan yang tidak memiliki darah sama sekali seperti belalang, lalat, semut, lebah, cacing, kumbang, laba-laba, kecoa, dll. Selain belalang, hukumnya haram dimakan karena termasuk hewan yang menjijikkan. Belalang diperbolehkan karena sudah ada nash hadits yang menyatakan bahwa belalang termasuk kategori hewan yang halal untuk dimakan walaupun tanpa disembelih.

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ

Dihalalkan untuk kita dua bangkai yaitu ikan dan belalang.(Sunan Ibnu Majah, IX, 412).

Hewan-hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir contohnya ular, tokek, cicak, musang, dll. Hukum memakannya adalah haram. Tetapi, Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa ada pengecualian pada hewan jenis ini yakni landak, musang, dan rubah. Ini karena orang Arab menganggap baik hewan tersebut. Jadi, memakan landak, musang, dan rubah menurut Ulama Syafi’iyyah diperbolehkan.

Sedangkan jenis hewan-hewan yang memiliki darah mengalir terbagi menjadi dua kategori, yakni hewan jinak dan hewan liar. Hewan jinak, misalnya (1) dari jenis hewan ternak, seperti sapi, onta, kambing, kerbau, keledai, bagal (peranakan kuda dengan keledai) dan (2) hewan unggas yang tidak memiliki cakar kuat seperti ayam, angsa, bebek, dll. Memakan hewan-hewan jinak adalah boleh dengan ketentuan harus disembelih terlebih dahulu, kecuali keledai rumahan dan bagal. Kedua hewan ini (keledai rumahan dan bagal) haram dimakan.

Sementara hewan liar, hukum memakannya menurut jumhurul ulama adalah haram. Contohnya, (1) jenis-jenis unggas yang memiliki cakar yang digunakan untuk memangsa, separti elang, burung hantu, rajawali, dll, dan (2) binatang-binatang buas seperti singa, macan, beruang, serigala, dll. Akan tetapi, dalam hal ini, Ulama Syafi’iyyah memberi batasan tersendiri yaitu hewan liar yang memiliki taring dan cakar yang kuat dan bisa melukai yangharam. Karena itu, hewan seperti rubah dan musang boleh dimakan karena taringnya tidak dapat melukai.

Ketiga, Al-hayawan al-barru-maaiy (hewan amfibia): yaitu hewan yang dapat hidup di dua alam, seperti katak, buaya, kura-kura, ular, anjing laut, dll. Hukumnya haram untuk dimakan. (al-Fiqhu al-Islamy Wa Adillatuhu, IV, 323-332)

Selain ketentuan di atas ada juga sebuah kaidah yang berbunyi maa nuhiya ‘an qotlihi fahuwa haromun (semua hewan yang dilarang untuk dibunuh, maka haram memakannya). Hewan yang masuk dalam kaidah fiqh tersebut seperti semut, lebah, burung Hud-Hud. Nabi bersabda:

أَنَّهُ نَهَى عَنْ قَتْلِ الْخَمْسَةِ عَنِ النَّمْلَةِ وَالنَّحْلَةِ وَالضِّفْدِعِ وَالصُّرَدِ وَالْهُدْهُدِ

Sesungguhnya Nabi melarang membunuh lima (hewan) yaitu semut, lebah, katak, burung Surad, dan burung Hud-Hud. (as-Sunan Li al-Baihaqi Wa Fi Dzailihi al-Jauhar an-Naqi, IX, 317)

Hewan-hewan tersebut haram dimakan karena hewan-hewan tersebut termasuk hewan yang dimulyakan (muharram).

Ada lagi kaidah yang berbunyi maa umiro bi qotlihi minal hayawani fahuwa haromun (semua hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, maka haram untuk memakannya). Yang termasuk dalam kaidah ini seperti ular, kalajengking, tikus, rajawali, gagak, dan hewan-hewan buas yang membahayakan. Nabi bersabda:

خمس قتلهن حلال في الحرم الحية والعقرب والحدأة والفأرة والكلب العقور

Lima hewan yang halal membunuhnya di tanah haram: ular, kalajengking, rajawali, tikus, dan anjing galak. (Kanz al-Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’aal, V, 37)
Hewan-hewan tersebut juga haram dimakan. (Raudlatu at-Thalibin Wa ‘Umdatu al-Muftin, I, 377-378)

Sebenarnya, haram dan halalnya hewan-hewan yang telah disebutkan, bermula dari orang Arab. Hewan yang dianggap baik oleh orang Arab, semuanya halal, kecuali yang telah ditetapkan oleh syara’ keharamannya.
Al-Quran menyatakan:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَات

Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik”. (QS. al-Maidah, 4)

Juga hadits Nabi:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.(QS. al-A’raf, 157)

Dalam terminilogi Ushul Fiqh, kata ‘at-thoyyibat’ dan ‘al-khobaits’ termasuk dalam kategori kata yang kurang jelas penunjukannya dan membutuhkan penafsiran. Jelasnya, kata at-thoyyibat dan al-khobaits adalah lafadz mujmal (global) yang masih membutuhkan mubayyin (penjelas) dari al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian, kita harus bertanya kembali pada al-Qur’an.

Dalam ayat-ayat lain, Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan makanan yang baik adalah seperti hewan-hewan ternak kambing, sapi dan onta (QS. al-An’am, 144). Dan makanan kotor adalah seperti hewan yang disembelih dengan cara tidak menyebut nama Allah, yang mati terjerat, tertanduk, terlempar, dan hewan yang dimangsa hewan buas dan tidak sempat disembelih (QS. al-Maidah, 3). Dalam hadits juga menjelaskan tentang beberapa hewan yang tidak baik untuk tidak dikonsumsi seperti tiap-tiap hewan yang bertaring, berkuku tajam, anjing, kodok, gagak, ular, tikus, semut, lebah dan sejenisnya.

Kesimpulannya, antara hewan yang boleh dan tidak boleh untuk dimakan sudah diterangkan secara rinci dalam Islam. Jangan mentang-mentang selera, dengan rakus memakan segala apa yang ada. Karena menghindar dari keharaman ada hikmah dan faedah di dalamnya. Salah satunya, seperti pada ilmu gizi modern yang menetapkan bahwa orang yang memakan hewan buas akan mewarisi sifat-sifat hewan tersebut. Sebab, hormon-hormon yang berada dalam tubuh hewan tersebut mengalir ke dalam darah orang yang memakannya hingga akhirnya bercampur jadi satu. Hal ini akan mempengaruhi kejiwaan seseorang dan akhlak-akhlak yang ada pada diri manusia. [eLFa]

Buletin EL-FAJR, Edisi 16/20 Januari 2012

Perayaan Tahun Baru, Bolehkah?

Bunyi nyaring terompet dan cahaya gemerlap kembang api senantiasa menghidupkan suasana malam tahun baru. Di jagad raya ini malam tahun baru ini selalu dinanti dan selalu dirayakan ratusan ribu bahkan milyaran penduduk bumi. Dari berbagai penjuru dengan beragam etnis dan budaya. Gegap gempita menyambut pergantian tahun.

Suasananya sangat heboh dan menyemarak. Mereka berjubel di jalan-jalan seiring dengan merangkaknya jarum jam menuju pukul 00.00 yang menandakan berakhirnya tanggal 31 Desember dan dimulainya tanggal 1 Januari.

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Di Indonesia, pada umumnya, tahun baru jatuh pada 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian sama seperti mayoritas negara-negara lain di dunia.

Dirunut dari sejarahnya, peryaan tahun baru pertama kali dilakukan oleh Julius Caesar pada 1 Januari 45 SM. tak lama setelah dinobatkan sebagai Kaisar Roma. Dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandaria yang menyarankan agar penanggalan baru itu dihitung berdasarkan revolusi matahari (sebanyak 365,25 hari). Caesar menambahkan 67 hari dalam tahun 45 SM. Caesar juga memerintahkan agar setiap 4 tahun pada bulan Februari ditambahkan 1 hari (kabisat) yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.

Di zaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa pada abad permulaan Masehi. Pada tahun 1200-an, pemimpin-pemimpin Inggris mengikuti kebiasaan Romawi yang mewajibkan mereka memberikan hadiah tahun baru orang-orang Inggris Romawi memberi uang kepada istri-istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Kebiasaan ini hilang pada tahun 1800-an. Namun istilah pin money yang berarti sedikit uang jajan tetap digunakan. Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dengan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di Gereja atau pesta terbuka.
Zaman sekarang, banyak pemuda-pemudi Islam juga ikut merayakan tahun baru Masehi tersebut. Apakah merayakannya itu bisa dianggap sebagai perwujudan tasyabbuh bil kuffar (menyerupai/meniru orang kafir)?. Rasulullah pernah menyatakan:

من تشبه بقوم فهو منهم

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.(al-Jami’ Fi al-Maulid, IX, 43)

Juga ayat al-Qur’an berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. (al-Baqarah, 104)

Mulanya ayat ini menjelaskan tentang larangan orang Islam mengucapkan raa’ina yang artinya “perhatikanlah kami” ini, karena orang Yahudi mengucapkannya sehingga mereka maksud adalah ru’uunah yang artinya “bodoh sekali” sebagai ejekan pada Rasulullah. Itu sebabnya Allah menyuruh para sahabat menukar lafal raa’ina dengan unzhurna yang artinya sama dengan raa’ina. Jadi, jelasnya orang Islam dilarang meniru orang kafir. Baik dalam perkataan, perbuatan, maupun pakaian yang khusus untuk orang kafir. Terlebih lagi soal ibadah yang tidak disyari’atkan pada orang Islam. (Tafsir Ibn Katsir, I, 374)

Adapun hujjah lain yang menyinggung tentang larangan meniru orang kafir adalah
اجتنبوا أعداء الله في عيدهم
Jauhilah hari-hari perayaan musuh- musuh Allah. (Sunan al-Baihaqi, IX, 234)

Mengenai tasyabbuh, ada beberapa rincian. Jika seseorang meniru orang-orang kafir dengan bertujuan menyerupai untuk menyiarkan agama mereka dan condong ke agama mereka, atau bahkan juga ikut-ikutan melakukan ibadah mereka, maka orang tersebut dianggap kufur. Ini seperti halnya perayaan Natal yang jelas-jelas adalah perayaan orang Kristen, atau bagi orang Persia 1 Januari adalah Hari Raya bagi orang Majusi yang disebut hari Nairuz.

Jika tasyabbuh tersebut tidak bertujuan menyerupai untuk mensyiarkan agama mereka, tapi hanya bertujuan untuk mengisi syi’ar Hari Raya ‘id sendiri, maka hukum tasyabbuh (menyerupai orang kafir) hanya dosa, tidak sampai kufur. Jika perbuatan tersebut tidak ada tujuan sama sekali, seperti halnya orang Islam ketika merayakan hari-hari besarnya yang kebetulan saja bersamaan dengan hari di mana hari tersebut orang-orang muslim juga merayakan hari besar mereka, maka hukumnya makruh.

Adapun tasyabbuh yang diperbolehkan ialah jika tasyabbuh pada ranah kebaikan, seperti meniru dalam kedisiplinan atau keilmuan dan hal-hal baik lainnya. (Bughyah al-Mustarsyidin, II,15)

Lalu bagaimana hukum merayakan tahun baru Masehi?
Tahun Masehi bukanlah tahun yang khusus untuk agama Kristen. Walaupun tahun baru masehi – karena berdekatan waktunya – biasanya dijadikan satu paket dengan hari Natal, namun perayaan tahun baru Masehi bukanlah hal yang khusus (yang diajarkan agama mereka). Tahun Masehi adalah bentuk penanggalan internasional yang dipakai oleh orang sedunia. Maka, perayaan tahun baru bukanlah termasuk tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir).

Namun, walaupun tidak termasuk tasyabbuh, bukan berarti fiqh membolehkan secara absolute (mutlak). Karena perayaan tahun baru zaman sekarang identik dengan hura-hura. Banyak orang mengisi tahun barunya dengan menggunakan seremoni haram, seperti pesta miras, joget bareng, atau maksiat lainnya. Tidak melihat hukum perayaannya, tapi melihat dari unsur-unsur atau cara yang digunakan adalah barang haram.

Selain itu, perayaan tahun baru terkadang juga menimbulkan musibah. Ini terjadi di Philipina dan Italia, tidak sedikit warga di sana yang menjadi korban dari letusan kembang api bahkan sampai menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil. (Harian Jawa Pos, 02 Januari 2012)

Dalam momentum ini, tahun baru juga dapat kita dijadikan sebagai sarana berkesempatan untuk berbuat kebaikan, misalnya mengasihi fakir miskin, menyantuni anak-anak panti asuhan, kerja bakti membersihkan lingkungan, dan sebagainya, yang nilai-nilainya telah diajarkan oleh Islam. Mari kita usahakan atau bahkan haruskan untuk meninggalkan model-model cara merayakan tahun baru Masehi yang meniru orang kafir, sebab masih banyak cara lain yang bersifat diperbolehkan oleh syara’ seperti perbuatan-perbuatan baik yang telah dipaparkan di atas.

Yang prlu kita tegaskan lagi, jangan berkecil hati dengan hingar bingar dalam perayaan tahun baru Masehi, sebab kita masih memiliki momentum tahun baru Hijriyyah. Selain itu kita juga masih mempunyai hari-hari agung Islam lainnya, seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. [eLFa]

Buletin EL-FAJR Edisi 15/06 Januri 2012

Taubatku untuk-Mu

Setiap waktu, setiap hari, bahkan setiap detik, manusia tak kan pernah lepas dari aturan yang telah dibuat sedemikian rupa oleh Allah. Mengingat hal itu, manusia pasti pernah melakukan pelanggaran (maksiat) terhadap aturan-aturan tersebut. Dan karena manusia diciptakan juga memiliki hati, maka pastilah dalam hidupnya pernah merasa menyesal akan perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan.

Sebab itu, muncullah suatu jalan yang akan membuat dosa-dosa yang diproduksi manusia itu luntur, walaupun tak seluruhnya. Jalan itu adalah taubat, sebagai pengakuan dosa.

Ada sebuah cerita menarik yang akan sedikit kami ulas. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada Rabi’ah al-Adawiyah al-Bashriyyah. Tanpa banyak basa-basi pria itu pun bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa, maksiat saya menumpuk. Mungkin jika diukur melebihi gunung yang ada. Andai saja saya bertaubat, apakah Allah akan menerima taubat saya?”. Dengan tegas Rabi’ah al-Adawiyah menjawab “Tidak”.

Pada kesempatan yang berbeda, seorang lelaki lain datang kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Semua jenis maksiat telah saya lakukan, baik kecil maupun besar. Apakah Allah masih menerima taubat saya?”. Jawab Rabi’ah dengan tegas, “Pasti”. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Allah tidak berkenan menerima taubat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak manjalani taubat?. Untuk berhenti dari dosa, jangan pernah gunakan kata ‘akan’ atau ‘andai kata’.”

Yang bisa kita ambil dari kisah ini, bahwa secara naluri, kita tidak dapat memungkiri kecenderungan hampir tiap orang untuk melakukan taubat ketika jelas nyata-nyata berbuat salah. Hanya persoalannya, banyak orang tidak memahami apa yang mesti ia lakukan agar taubat tadi benar-benar diterima di sisi Allah. Akibatnya, keinginan untuk membersihkan dosa itu menjadi terabaikan. Selain itu, mungkin ini juga akibat dari tiadanya pemahaman makna taubat yang sesungguhnya.

Secara etimologi, taubat berarti kembali. Sedangkan secara terminologi, taubat berarti kembali dari dosa dan maksiat menuju taat kepada Allah dan mencapai ridlo-Nya. (Syarh an- Nawawy ‘Ala Muslim, IX, 107; Tafsir ath-Thobary, XXIII, 493)

Ayat yang berbicara tentang taubat sangat beragam. Di antaranya adalah:

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqç/qè? ’n<Î) «!$# Zpt/öqs? %·nqÝÁ¯R 4Ó|¤tã öNä3š/u‘ br& tÏeÿs3ムöNä3Ytã öNä3Ï?$t«Íh‹y™ öNà6n=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# tPöqtƒ Ÿw “Ì“øƒä† ª!$# ¢ÓÉ<¨Z9$# z`ƒÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB ( öNèdâ‘qçR 4Ótëó¡o„ šú÷üt/ öNÍk‰É‰÷ƒr& öNÍkÈ]»yJ÷ƒr’Î/ur tbqä9qà)tƒ !$uZ­/u‘ öNÏJø?r& $uZs9 $tRu‘qçR öÏÿøî$#ur !$uZs9 ( y7¨RÎ) 4’n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇÑÈ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. at-Tahrim, 08)

Dalam ayat tersebut, kita orang-orang mukmin diperintah untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Bukan hanya taubat-taubat yang biasa, tapi diberi sifat ‘nasuha’. Pengertian taubat nasuha ialah taubat yang sebenar-benarnya, taubat yang bermakna kembali pada Allah dan tidak akan pergi menjauhi-Nya lagi. Tidak kembali melakukan maksiat. Taubat nasuha menurut ayat tersebut, bisa melebur kesalahan-kesalahan dan memasukkan ke dalam surga. (Tafsir ath-Thobary, XXIII, 493)

Dalam syariat Nabi Musa, taubat dilaksanakan dengan cara bunuh diri (QS. al-Baqarah, 54) setelah umat Nabi Musa bersama-sama menyembah patung sapi emas. Namun, lain ladang lain tanaman. Dalam syariat Nabi kita, hal itu malah dilarang, karena kewajiban untuk menjaga nyawa (hifdhun nafsi).

Ulama sepakat bahwa bersegera taubat hukumnya wajib karena telah melakukan dosa, besar ataupun kecil. Apabila seorang bertaubat untuk sebagian dari semua dosanya, taubat tersebut tetap sah menurut ahlul haq. Sedang dosa-dosa yang masih tersisa dan belum ditaubati harus segera ditaubati. (Syarh an- Nawawy Ala Muslim, IX, 107; Riyadl as-Sholihin, I, 3)

Syarat taubat yang harus dilakukan seseorang setelah maksiat adalah: Pertama, jika maksiat yang dilakukan tidak berhubungan dengan haq adamy (hak kemanusiaan) maka ada tiga syarat: [a] Berhenti dari maksiat [b] Menyesali perbuatan [c] Tekad kuat untuk tidak melakukannya lagi. Kedua, jika berhubungan dengan haq adamy, seseorang harus bebas dari hak orang yang bersangkutan. Jika berupa barang, maka wajib mengembalikan atau menggantinya. Jika berupa tuduhan, omongan, atau sejenisnya, maka wajib untuk meminta maaf. Sedangkan jika merasa pernah salah namun tidak diketahui salahnya, maka dengan meminta halal. Singkat cerita, permasalahan antar individu harus selesai. (Riyadl as-Sholihin, I, 3)

Sejatinya, menurut al-Kalby, taubat nasuha adalah beristighfar dengan lisan, penyesalan dengan hati, dan pengekangan dari maksiat dengan anggota badan. sedang menurut Muhammad bin Ka’ab al-Qordliy, taubat nasuha mencakup empat hal yaitu : memohon ampunan dengan lisan, menjauhkan diri dari dosa dengan badan, berniat tidak mengulangi dengan hati dan berhenti berbuat buruk kepada orang lain. (Tafsir al-Khozin, VI, 128)

Menurut Dzunnun al-Mishriy, taubat harus merambah luas ke seluruh tubuh. Hati, bertaubat dengan cara meninggalkan perbuatan tercela. Mata, bertaubat dengan memejamkan mata dari semua yang diharamkam. Tangan, bertaubat dengan tidak mengambil barang yang tidak halal. Kaki, bertaubat dengan tidak berjalannya menuju hiburan-hiburan yang dilarang agama. Telinga, bertaubat dengan tidak mendengarkan barang-barang batil. Kemaluan, bertaubat dengan tidak melakukan hal tercela. Begitu seterusnya, sampai taubat menyeluruh dari ujung jari kaki sampai ujung kepala. (Mukfirot adz-Dzunub Wa Mujibat al-Jannah, I, 4)

Antara rasul, wali, dan manusia biasa pasti mempunyai cara tersendiri dalam ma’rifat kepada Allah. Maka dari itu, ada pula tingkatan tersendiri mereka bertaubat. [1] Taubat, adalah tingkatan orang mukmin. Allah berfirman, “Bertaubatlah kalian kepada Allah wahai orang-orang beriman” (QS. an-Nur, 31). [2] Inabah, adalah tingkatan para wali dan muqorrobin (orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah). Allah berfirman, “Yaitu orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah” (QS. Qoff, 33). [3] Aubah, adalah tingkatan para nabi dan rasul. Allah berfirman, “Sebaik-baik hamba adalah orang yang bertaubat” (QS. Shod, 44). Jika seseorang melakukan taubat karena takut terhadap siksaan Allah dan ancaman-Nya, maka dia berada pada tingkatan inabah. Dan jika seseorang taubat karena menjalankan perintah, bukan karena mengharap pahala ataupun takut terhadap siksaan tetapi karena semata-mata cinta kepada Allah, maka dia sudah berada pada tingkatan aubah. Tingkat inilah yang paling tinggi. (Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, I, 46)

Mulai sekarang, marilah kita biasakan bertaubat. Dan ingatlah, jika ingin bertaubat, ikutilah aturan-aturan yang sudah tertera di atas. Tidak perlu menunggu sampai dosa itu menumpuk hingga seluas lautan. Siapa tahu sebelum Anda sempat bertaubat, nyawa anda sudah digandeng oleh Malaikat Azrail.

Walaupun memang zaman sekarang situasinya sudah berat, dan potensi yang memanggil-manggil agar berbuat maksiat pun sudah berlalu-lalang di depan mata kita. Tapi alangkah indahnya, jika maksiat-maksiat itu dijauhi dan disingkiri. Marilah kita memulai hari yang diidam-idamkan, yang damai, dan sejahtera. Jauh dari perbuatan-perbuatan dosa. [eLFa]