DAI QUDSIYYAH NONGOL DI METRO TV

QUDSIYYAH, KUDUS – Salah satu profil guru Qudsiyyah Kudus yang telah mengabdi lebih dari sepuluh tahun diliput di Metro TV. Ya, setelah sehari sebelumnya salah satu santri yang telah tayang di Metro TV, kini giliran Ustadz M. Syukron yang kembali ditayangkan dalam Program Metro Siang, tepatnya dalam Java Overland Metro TV.

Untuk tahun ini, Tim Java Overland Metro TV telah menayangkan profil santri Qudsiyyah dan Profil Guru Qudsiyyah Kudus. Seperti apa liputannya, bisa disimak dalam video berikut ini.

SANTRI QUDSIYYAH TAYANG DI METRO TV

QUDSIYYAH, KUDUS – Tim Java Overland Metro TV yang datang ke Ma’had Qudsiyyah Kudus beberapa waktu lalu, telah melaksanakan tugasnya. Hasilnya telah ditayangkan oleh Metro TV pada program Metro Siang  pada Ahad, 27 Juli 2013.

Tim yang terdiri dari 4 orang dan didampingi dari BAZ Kota Semarang ini secara khusus meliput salah satu profil santri dan guru Ma’had Qudsiyyah. Hasilnya, dapat dilihat di tayangan Metro TV program Metro Pagi (Pukul 06.20 WIB) dan  Metro Siang (Pukul 12.20 WIB)

Pada Liputan di Ma’had Qudsiyyah Kudus ini, Tim Java Overland akhirnya memilih profil santri yang berprestasi di bidang pembuatan film pendek. Santri yang bernama lengkap Muhammad Sigit Wicaksono meraih juara satu nasional dalam POSPENAS di Gorontalo beberapa waktu lalu. Dari prestasi ini, tim Java Overland mencoba mengangkat  profil santri tersebut. Hasilnya, secara lengkap dapat dilihat dalam video ini.

JAVA OVERLAND METRO TV SINGGAH DI QUDSIYYAH KUDUS

QUDSIYYAH, KUDUS – Program Java Overland Metro TV yang tayang pada bulan Ramadhan tahun ini singgah di Qudsiyyah Kudus. Tim yang berjumlah 4 orang dari Stasiun Televisi Nasional tersebut datang ke Qudsiyyah pada Sabtu – Senin, 13-15 Juli 2013.

Tim yang juga ditemani dari Badan Amil Zakat (Baz) Kota Semarang tersebut meliput segala aktivitas pesantren Qudsiyyah serta Madrasah Qudsiyyah. Qudsiyyah menjadi salah satu lokasi yang diliput di wilayah Jawa Tengah. Selain Kudus tim itu juga liputan di pesantren Rembang, Demak dan Semarang.

Program Java Overland adalah program khusus Ramadhan kerjasama Metro TV dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jakarta yang tayang 2 kali setiap hari selama Ramadhan. Program itu tayang sekitar pukul 06.20 dalam Metro Pagi dan tayang pada pukul 12.20 pada Metro Siang. Program yang berdurasi sekitar 5 menit tersebut, tahun ini mengangkat sosok profil dari da’i inspiratif dan santri yang berprestasi.

Dengan apik, Kameramen Metro, Desta Livyami, Reporter Yasir Neneama, Landi, dan Editor, Johandi membidik segala aktivitas yang ada di Qudsiyyah selama tiga hari. Mereka juga mengangkat profil sosok da’I inspiratif dari Qudsiyyah serta santri Qudsiyyah yang berprestasi.

Siapa kedua orang tersebut? “Lihat aja nanti tayanganya di televisi setiap pukul 06.20 pagi dan 12.20 siang,” jawab H. Yusrul Hana, Naib Mudir Ma’had Qudsiyyah saat ditemui tim redaksi Web Qudsiyyah.

Dijelaskan lebih lanjut, akan banyak kejutan  dalam tayangan nanti. “Pokoknya jangan sampai terlewatkan,” tambahnya.

Tayangan Java Overland di Qudsiyyah sendiri rencananya akan tayang sekitar dua pekan nanti. “Ya sekitar Sabtu (20 Juli 2013) atau Ahad (21 Juli 2013) pekan depan,” katanya, saat ditanya kapan tayangan ini akan bisa dinikmati seluruh pemirsa di Indonesia.  (*)

SANTRI MA’HAD JUARA NASIONAL DI POSPENAS

QUDSIYYAH, KUDUS – Kado manis dipersembahkan santri Ma’had Qudsiyyah menjelang bulan Ramadhan. Salah satu wakil kontingen Jateng dalam Pekan Olahraga dan Seni Nasional (POSPENAS) Antar Pondok Pesantren VI di Gorontalo , Sulawesi, 24 – 30 Juni 2013 yang berasal dari Santri Ma’had Qudsiyyah Kudus meraih emas dalam lomba kategori Video Dokumenter.

M Sigit Wicaksono, santri kelas X yang berasal dari Ngembal Kulon Jati ini berhasil meraih juara pertama nasional dalam ajang antar pesantren tiga tahunan tersebut. Dengan menampilkan video dokumenter yang berjudul  “Menara Kudus Sebagai  Bukti Toleransi Beragama”  (lihat Videonya) berhasil memukau dewan juri sehingga mengantarkannya meraih medali emas.

Dalam ajang POSPENAS tersebut dua santri Ma’had ikut serta dalam even itu. Hal ini karena dua santri Qudsiyyah sukses meraih juara pertama dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Daerah (POSPEDA) antar Pondok Pesantren Provinsi Jawa Tengah awal Juni lalu. Selain Sigit dalam lomba Video Dokumenter, juga ada M Bahrul Ulum yang mewakili Jawa Tengah dalam lomba Cipta Puisi Islami di ajang POSPENAS VI Gorontalo. (*)

Dua Santri Ma’had Mewakili Jateng di Pospenas Gorontalo

QUDSIYYAH, KUDUS – Dua santri Ma’had Qudsiyyah Kudus ikut serta dalam kontingen Jawa Tengah dalam ajang bergengsi Pekan Olahraga dan Seni Nasional (POSPENAS) VI antar Pondok Pesantren di Gorontalo 24 – 30 Juni 2013. Kedua santri tersebut adalah M Sigit Wicaksono dalam lomba video dokumenter dan M Bahrul Ulum pada lomba Cipta Puisi Islami.

Keduanya lolos menjadi wakil Jawa Tengah dalam ajang bergengsi tiga tahun sekali tersebut setelah keduanya suskses mearih juara satu dalam lomba yang sama tingkat Jawa tengah beberapa waktu lalu di Grobogan. Dengan mengangkat tema Menara dan keunikannya, Sigit mampu meraihjuara pertama di Jawa Tengah. Rencananya, dalam ajang tingkat nasional nanti juga akan menggunakan video yang sama setelah dilakukan editing dan penambahan di sana sini.

Sedang M Bahrul Ulum, berhasil maju setelah dalam pekan seni tingkat Jawa Tengah menyingkirkan 30 peserta lain di Jawa Tengah dalamlomba cipta puisi islami. Keduanya juga telah menjalani pemusatan pelatihan di Gedung Haji Semarang pada 14 – 16 Juni 2013.

IMG-20130613-00874Kabupaten Kudus sendiri mengirimkan beberapa santrinya dalam kontingan Jawa Tengah kali ini. Diataranya kerajinan tangan putri, senam santri putri, fotografer putri dan kaligrafi mushaf putri. (*)

DUA PIALA HARUMKAN MA’HAD QUDSIYYAH

QUDSIYYAH, KUDUS – Prestasi santri Ma’had Qudsiyyah kembali meraih juara. Pada pekan Seni Pondok Pesantren tingkat Jawa Tengah, 3-6 Juni 2013, di Grobogan, dua medali emas diraih santri Ma’had Qudsiyyah Kudus. Dua juara tersebut diraih oleh M. Sigit Wijaksono dalam perlombaan Video Dokumenter/Cerita Pendek yang meraih juara pertama, serta M. Bahrul Ulum yang juga meraih juara pertama pada lomba Cipta Puisi Islami.

Atas prestasi ini, kedua santri ini direncanakan bakal mengikuti Pekan Seni Pondok Pesantren tingkat Nasional yang bakal digelar pada 30 Juni mendatang di Provinsi Gorontalo, Sulawesi bagian Utara.

Dalam video dokumenter tersebut, santri Ma’had Qudsiyyah mengangkat tema tentang Masjid Menara Kudus dan keunikannya. Sekitar sebelas menit film pendek tersebut mampu memukau dewan juri dn mengantarkannya meraih juara pertama tingkat Jawa Tengah. (lebih lengkapya: lihat videonya)

Sedang dalam cipta puisi, Bahrul Ulum mengangkat tema tentang minuman keras dan narkotika. Dalam loba cipta puisi tersebut, setiap peserta dikasih waktu sekitar 4 jam, sementara temanya adalah berasal dari salah satu ayat Al qur’an yang diberikan dewan juri saat itu juga. Dalam lomba tersebut ada penggalan 5 ayat, tanpa harakat dan tanpa terjemahan yang berbeda tentang tema dan isinya.

Dari salah satu ayat tersebut peserta dipersilahkan memilih salah satunya dan kemudian menguraikan dalam tulisan berbentuk puisi, bait demi bait.

Dalam Pekan seni tersebut, Ma’had Qudsiyyah mewakili Kudus dan turut serta mengharumkan nama Kudus di level Jawa Tengah. Secara keseluruhan, Kudus meraih juara umum dengan perolehan 4 piala pertama, 3 piala ketiga dan beberapa juara harapan.

Selain 2 piala pertama yang diraih Ma’Had Qudsiyyah, Kudus juga meraih juara pertama Seni Kriya Putri (Arina Zulfa: PP Yanabiul Ulum Warrahmah, Kota), dan juara pertama kaligrafi Hiasan Mushaf Al Qur’an Putri (Zakiyatul Amiroh: PP Miftahul Falah Cendono, Dawe).

Sedangkan Juara tiga diraih oleh M Izzul Aufa (PP Miftahul Falah Cendono, Dawe) dalam Seni Kaligrafi Hiasan Mushaf Al Qur’an Putra, M Imron Hamzah (Ma’had Ulumis Syar’i Yanbuul Qur’an Putra) dalam Seni Lukis Islami Putra, dan Ahmad Yusron (PP Darul Falah Jekulo) pada seni Kriya Putra. (*)

Prof Dur Berikan Kuliah Umum bagi Santri

QUDSIYYAH, KUDUS– Di sela-sela pembelajaran sekolah pagi dan pembelajaran di pesantren, Mahad Qudsiyyah Kudus mendatangkan Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph. D untuk menberikan kuliah umum kepada para santri, pada Ahad, 21 April 2013. Dalam kesempatan tersebut, Prof Dur, sapaan akrabnya, memberikan kiat-kiat dan motivasi belajar bagi santri.

Prof Dur, yang kini sebagai Kepala Litbang Kemenag RI, memberikan wacana terkait pembelajaran yang efektif yang bisa dilakukan para santri. “Santri harus terus aktif belajar tanpa menunggu perintah,” ungkapnya.

Salah bentuknya adalah dengan rajin membaca. “Saya sudah sering belajar di luar negeri. Kuncinya adalah, lembaga pendidikan yang baik adalah didukung dengan perpustakaan yang baik,” terangnya.

Di luar negeri, kenapa pendidikan mereka maju, karena perpustakaan mereka menjadi denyut nadi pendidikan. “Perpustakaan selalu ramai, menjadi pusat kajian. Tidak hanya siswanya, guru-guru dan dosennya selalu aktif. Perpustakaanya buka hingga jam sebelas atau dua belas malam setiap hari,” ceritanya panjang lebar.

Oleh karenanya, ia berulangkali berpesan kepada para santri untuk rajin membaca. Membaca kitab, membaca buku, koran dan sebagainya. “Kita harus praktikkan Iqr’a sebagai ayat pertama yang turun kepada umat Islam. Jangan terbalik, kita yang memiliki ajaran, tetapi orang lain yang mempraktikkanya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, tanya jawab dan diskusi antara Prof Dur dan para santri dilakukan dengan cara wajib menggunakan bahasa asing, yakni bahas Arab, bahasa Inggris atau bahasa Jawa Kromo Inggil. (*)

BOYONG LIMA PIALA DI MQK KUDUS

QUDSIYYAH, KUDUS – Santri-santri Ma’had Qudsiyyah Menara Kudus kembali menunjukkan prestasinya. Lima piala kembali diboyong ke asrama Ma’had dalam Musabaqah Qiroatul Kutub (MQK) tingkat kabupaten Kudus pada Selasa, 29 Januari 2013.

Pada kejuaraan tahunan yang digelar oleh Kementerian Agama Kabupaten Kudus di pesantren Darul Falah Jekulo Kudus tersebut meraih juara baca kitab. Pada kategori Hadits Ulya juara satu dan dan dua diborong dari Ma’had Qudsiyyah yang diraih oleh M. Nasirul Haq (Juara I) dan M. Khotibul Umam Annahar (Juara II).

Begitu juga pada kategori Hadits Wustho, Juara satu dan dua sama-sama diborong santri Ma’had. M. Miftahuddin meraih juara I dan M. Humam Mu’tashim Dafiq meraih juara II. Sedangkan piala kelima dipersembahkan oleh M. Ahdanal Halim yang meraih juara III pada kategori Fiqih Ulya.

Tahun lalu, di kejuaraan yang sama Ma’had hanya meraih tiga piala.  Selain itu, pada perlombaan intern antar kelas di Madrasah Qudsiyyah, kelas Santri Ma’had angkatan pertama (XII D) berhasil meraih “hatrick” dengan meraih juara umum tiga kali berturut-turut pada classmeeting tahunan, yakni menjadi juara pada 2010, 2011, dan 2012.  (*)

HATI-HATI PENYADAPAN!

Akhir-akhir ini, penyadapan menjadi salah satu kunci keberhasilan membongkar sebuah kasus, terutama kasus korupsi. Bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  penyadapan dalam hal tindak pidana korupsi, khususnya dengan delik suap, merupakan front-gate untuk membuka tabir bentuk perbuatan korupsi, seperti halnya penyalahgunaan wewenang dari aparatur negara atau pejabat publik. Kasus penyadapan telepon terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana memang beberapa kali diungkap ke publik. Sebut saja kasus yang menyeret Artalyta Suryani yang menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan atas dikeluarkannya surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus BLBI oleh Kejaksaan Agung (Kejakgung). Belum lagi bagaimana dari hasil penyadapan telepon yang dilakukan, KPK berhasil membongkar kasus suap yang dilakukan beberapa angota DPR, seperti Al Amin Nasution, Bulyan Royan, dan sebagainya.

Berpijak dari deskripsi persoalan di atas, Bagaimana tanggapan fiqh menyikapi tentang penyadapan telepon tersebut? Bagimana pula jika hasil penyadapan itu disebarluaskan ke publik?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sadap diartikan sebagai mendengarkan, merekam informasi (rahasia, pembicaraan) orang lain dengan sengaja tanpa sepengetahuan orangnya. Dalam istilah fiqih ada istilah yang mirip dengan penyadapan yaitu istima’ yang artinya mencuri dengar perkataan orang lain. Istima’ hukum asalnya adalah haram. Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda:

من استمع الى حديث قوم وهم له كارهون صبّ في اذنيه الانك

Barang siapa mencuri dengar pembicaraan sekelompok orang, sementara mereka tidak suka pembicaraannya didengar, niscaya dua telinga orang (yang mencuri dengar) tadi akan dituangi dengan timah yang meleleh”.(Faidhul Qodir, VI, 59).

Dalam hadist ini, secara umum Rasulullah melarang perbuatan istima’, terlepas dari motif yang melatar belakanginya. Oleh karena itu, sangat cocok dengan pernyataan di atas bahwa hukum asal istima’ adalah haram.

Kemudian, hukum istima’ terperinci lagi tergantung pada motif yang melatarinya.Ada beberapa penjelasan. Pertama, penyadapan telepon dengan motif amar ma’ruf nahi munkar dan untuk mendidik. Penyadapan telepon dengan motif seperti ini, akan berpengaruh kepada hukum istima’ yang diharamkan. Istima’ di sini menjadi boleh karena motif tersebut. Dasarnya adalah saddud dzari’ah, menutup jalan yang mengakibatkan pada kerusakan.

Kedua, motif jahat. istima’ dengan motif kejahatan adalah haram hukumnya. Oleh karena itu, penyadapan telepon oleh orang dengan maksud busuk adalah haram.

Dua motif di atas didasarkan pada pertimbangan tujuan. Jika tujuannya baik dan membawa maslahah, istima’ diperbolehkan bahkan bisa menjadi sunnah atau wajib. Sebaliknya, jika maksud dan tujuan istima’ jelek dan selalu mengakibatkan mafsadah, maka istima’ hukumnya haram. (Sirojul Munir, III, 329; Azzawajir ‘an Iqtirafi al-Kabair, III, 164).

Ini sesuai dengan firman Allah yang telah difirmankan dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu ber-tajassus (mencari cari kesalahan orang lain”. (QS. Al-Hujarat, 12).

Dalam ayat di atas, dapat kita tarik pengertian bahwa tajassus yang menurut sebagian ulama’ disamakan dengan tahassus berarti mencari-cari aib orang lain sekaligus membeberkan rahasia aib tersebut. (Is’adur Rafiq, 96; Al-Bahrul Muhit, VIII, 113).

Dari penjelasan di atas, bahwa motif tajassus selalu jelek. Padahal istima’ termasuk bagian dari tajassus, mencari cari aib orang lain. Karena itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang diharamkan adalah istima’ yang bermotif mafsadah (termasuk mencari aib orang lain). Bukan istima’ yang membawa maslahah.

Kembali pada topik permasalahan, kemudian bagaimana dengan penyadapan oleh KPK sekaligus kemudian meng-ekspose (menyebarluaskan pada khalayak umum lewat media massa)?

Kita perlu melihat dulu, motif di balik penyadapan oleh KPK tersebut. Bahwa motif KPK menyadap perbincangan sesorang adalah untuk kepentingan pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar disertai adanya gholabatuzh zhan (dugaan kuat) atas terjadinya tindakan korupsi disertai dengan sudah ada beberapa kejadian yang patut dicurigai. Melihat motif dan tujuan yang dilakukan KPK, penyadapan tersebut lebih mendekati bahkan termasuk ke dalam motif maslahah. Maka hukum menyadap (tajassus) dapat diperbolehkan. Bahkan ada yang berpendapat dengan tegas bahwa tajassus dalam kasus seperti al-lusus (korupsi) hukumnya diperbolehkan, bahkan bisa menjadi wajib jika tidak ada cara yang lain. (Asnal Mathalib Sharkhu Raudlatu ath-Thalib, XX, 313; at-Tahrir wa at-Tanwir, XIV, 27)

Dalam kacamata fiqh, ekspose, adalah sama dengan ghibah. Dipandang sama karena kedua hal ini karena masing-masing mengandung unsur memberitakan sesuatu hal. Tetapi sejatinya ada perbedaan karena memandang bahwa isi atau muatan ekspos lebih bersifat obyektif. Lain halnya dengan ghibah yang identik bernada negatif.

Ekspos sebagaimana ghibah pada dasarnya juga dilarang.  namun, tidak semua ghibah dilarang. Ada beberapa pengecualian dimana ghibah menjadi boleh. Diantaranya; Pertama, al-tadzallum, al-madzlum (orang yang didzalimi) yang menuturkan kejelekan orang yang mendzaliminya untuk menghilangkan kedzaliman itu. Kedua, al-isti’anah ‘ala taghyir al-munkar, menuturkan suatu kemungkaran dengan tujuan agar kemungkaran itu ditinggalkan. Ketiga, al-istifta, menuturkan aib seseorang kepada ahli hukum (mufti) untuk mengerti hukumannya. Keempat, menuturkan seseorang yang dengan terang terangan berbuat munkar. Kelima, untuk mewaspadakan umat agar tidak turut melakukan aib yang dighibahi. (Ihya’ Ulumuddin, III, 161-162; Iqna’, II, 127).

Kalau alur berfikir kita teruskan dan diperkuat dengan konteks pers di Indonesia yang menyatakan bahwa yang termasuk dalam kategori pertama (yang boleh diekspos) adalah pemberitaan tentang korupsi, kolusi, manipulasi, perampokan, pencurian, tindakan sewenang-wenang penguasa, monopoli dan berita seputar persoalan rakyat banyak, dan seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa korupsi juga merupakan suatu perbuatan yang munkar dan secara otomatis termasuk ke dalam ghibah yang diperbolehkan. Maka dari itu, hukum mengekspos tindakan korupsi ke dalam media massa hukumnya boleh. (Hawasyi as-Syarwani, IX, 219).

Dengan kata lain, menindak dan mengungkap kasus korupsi diperbolehkan bahkan diharuskan untuk dilaksanakan meskipun itu menyangkut privasi terhadap oknum-oknum tertentu. Karena tujuan (gharad) yang dimaksud adalah menegakkan keadilan dan memberikan contoh kepada masyarakat untuk selalu bersikap tegas terhadap segala bentuk penyelewengan. [eLFa]

BULETIN EL-FAJR MA’HAD QUDSIYYAH KUDUS, Edisi 36/15 Februari 2013

Mauludan, Jangan Campur dengan yang Haram!

Di bulan Rabiul Awwal ini, suasana maulid terasa hangat di benak kita. Di mana-mana terdengung shalawat-shalawat keagungan atas Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sudah menjadi tradisi kaum muslim di seluruh belahan dunia, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan, kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap pekan, seperti setiap malam Senin atau malam Jumu’ah. Bentuk peringatan ini diadakan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia di lingkungan masyarakat dari kota besar hingga ke pelosok-pelosok desa.  Masyarakat muslim di Indonesia pada umumnya menyambut maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair al-Barzanji, Simtud Duror, dan sebagainya. Tidak jarang, acara-acara tersebut juga diselingi juga dengan keramaian-keramaian untuk memeriahkan acara mauled Nabi seperti adanya perlombaan agama anak-anak, pengajian umum dan sebagainya.

Peringatan maulid nabi merupakan hal yang disunnahkan. Dalam Hadits Nabi disebutkan:

 

من عظم مولدى كنت شفيعا له يوم القيامة ومن انفق درهما فى مولدى فكأنما انفق جبلا من ذهب فى سبيل الله

 

Barang siapa memuliakan hari kelahiranku, maka aku akan memberikan syafa’at kepadanya di hari kiamat, dan barang siapa infaq sebanyak satu dirham untuk memuliakan hari kelahiranku, maka akan seakan-akan dia infaq sebesar gunung emas di jalan Allah.(Fatawa as-Subkah al-Islamiyyah, V, 5079).

Masyarakat sangat ekspresif dalam merayakan maulid Nabi.  Tidak hanya acara yang sederhana, acara yang megah dan meriah dilaksanakan dalam momentum peringatan maulid Nabi. Ada yang diiringi musik, rebana, bahkan ada juga yang berjoget.

Bagaimana sebenarnya bentuk perayaan yang demikian, masihkan disunnahkan, atau justru dilarang?

Mengenai musik, menurut Imam al-Ghazali hukum menyanyi diiringi dengan alat musik itu diperbolehkan dengan syarat: pertama, tidak dinyanyikan oleh perempuan yang haram dilihat dan lantunannya tidak menimbulkan fitnah. Kedua, tidak menggunakan alat-alat yang diharamkan oleh syara’ seperti seruling, gitar, dan kendang. Ketiga, tidak mengandung kata-kata kotor, bahkan pengingkaran terhadap Allah dan Rasulullah. Keempat, pendengar lagu lantas tidak langsung dikuasai nafsu kala mendengarnya. Kelima, lirik lagu memungkinkan mengaspirasi diri untuk menambah kedekatan kepada Allah. Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka, menurut Imam al-Ghazali, menyanyikan lagu dengan diiringi musik hukumnya haram. (Ihya’ Ulumiddin, II, 306-308)

Kriteria yang dipatok Imam Ghazali ini bukan tanpa dasar. Ada hadits Nabi yang mengungkapkan:

إن الله حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام

Sesungguhnya Allah mengharamkan arak, judi, gendang. Dan setiap barang yang memabukkan adalah haram.

Juga hadits Nabi:

بعثت بكسر المزامر

Aku (Nabi) diutus untuk menghancurkan seruling.

 

Begitu juga dalam perayaan Maulid Nabi. Bila dalam perayaan tersebut diiringi alat malahi, maka diharamkan. Alat malahi tersebut, seperti segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak yang tidak dimaksudkan untuk dipergunakan hiburan atau dalam pelaksanaannya terdapat bentuk istikhfaf (meremehkan). (Kifayatul Akhyar, II, 201-202; Syarhu Sullamit Taufiq, 13; Faidu al-Qodir, VI, 433).

Sementara alat musik yang dihalalkan adalah seperti rebana. Karena ada hadits dari Rubayyi’ binti Muawwidz:

 

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم غداة بُنِيَ عَلَيَّ فجلس على فراشي كمجلسك مني وجويريات يضربن بالدف

 

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan/memukul rebana. (HR. Bukhari, 987)

 

Sedangkan ihwal berjoget, lagi-lagi ada setidaknya dua pendapat. Kubu pertama mengatakan kalau goyangan tubuh dan gemulai badan yang merangsang birahi hukumnya haram. Karena bagi yang mengatakan halal, orang tersebut termasuk fasik. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, IV, 2665)

Pendapat kedua menghalalkan. nampaknya dari ikhtilaf tersebut, pendapat yang menghalalkanlah yang lebih kuat. Karena ada hadits:

 

قدم وفد الحبشة فجعلوا يزفنون ويلعبون

 

Serombongan utusan raja Habasyah (Etiopia) datang kepada Nabi, lalu mereka menari dan menyanyi (di hadapan beliau).

Bahkan di riwayat lain, Rasul pernah memberi izin kepada ‘Aisyah untuk menyaksikan tarian orang-orang Zanuj (ras kulit hitam) di hari raya.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali ternyata berpendapat kalau sebenarnya tarian itu tidak dilarang. Yang menjadikannya haram adalah faktor eksternal (luar). Maka ketika faktor itu hilang, maka tarian tidak menjadi masalah. Diambil dari hadits di atas, Nabi pernah melihat tarian orang dari delegasi Habasyah. Beliau tidak membenci gerak tubuh gemulai tersebut. Lagi pula, Allah tidak memberi hukuman bagi orang yang melakukan hal yang sia-sia. Andai saja ada seseorang bermain dengan meletakkan tangannya seratus kali di kepalanya selama seratus hari, tuhan tidak akan menghardiknya meskipun hal itu sia-sia. (Ihya’ Ulumiddin, II, 309)

Jadi, peringatan maulid Nabi hendaknya tidak menggunakan alat-alat malahi yang diharamkan. Sebab ketika hal yang halal dan haram berkumpul, maka akan menjadi haram. Sebagaimana dalam kaidah fiqhiyyah:

 

إذا اجتمع الحلال والحرام غلب الحرام

Apabila berkumpul antara yang halal dengan yang haram maka dimenangkan oleh yang haram.

 

Yang lebih penting lagi, perlu digarisbawahi, bahwa banyak hal yang dapat dilakukan untuk menunjukkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekadar membaca sejarah beliau, bukan hanya bershalawat atas beliau, tapi harus dilakukan dengan melakukan perintah dan sunnahnya dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan syara’ yang sudah ada. [eLFa]

BULETIN EL-FAJR MA’HAD QUDSIYYAH KUDUS, Edisi 35/8 Februari 2013