Halalbihalal IKAQ, Bakal Diskusikan Gusjigang

QUDSIYYAH, KUDUS – Event tahunan Halalbihalal Ikatan Alumni Qudsiyah (IKAQ) Kudus tahun ini bakal digelar dengan berbeda. Biasanya acara yang mengundang seluruh alumni lintas angkatan ini dilakukan pada siang hari, tapi tahun ini dicoba dengan mengadakan Halalbihalal pada malam hari, yakni bakal digelar pada Malam Rabu (19/6/2018) di Lapangan KHR. Asnawi  Damaran Kota Kudus.

Acara akan mulai pukul 19.30 WIB dan dimulai dengan mengundangn Nadhir Qudsiyah KH. M. Sya’roni Ahmadi yang bakal menyampaikan Mauidhah hasanah. Usai mauidhah hasanah, acara dilanjutkan diskusi panel bertema “Majelis Gusjigang”. Narasumber dari alumni Qudsiyah yang menjadi tokoh aktif bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi dan sosial di kancah regional, nasional dan internasional.

Beberapa tokoh yang bakal dihadirkan antara lain H.M. Zuhal Abdul Lathif (Direktur Al-Amanah sekaligus Dosen institute al Zuhri, Singapura), Dr. H. Akhmad Shonhaji (Ketua STAI Fatahillah Serpong – Tangerang Selatan),Dr.H. Nuruddin (pengajar Universitas Negeri Jakarta), Noor Ali SE (Percetakan Nora), HM. Mujtahidil Fatah (owner Konv.el-Nifa Kudus).

Ketua Panitia, Hasan Mafiq, menyatakan, kehadiran narasumber yang merupakan alumni senior yang sudah sukses di bidangnya masing-masing diharapkan mampu memberikan semangat bagi para alumni dalam mewujudkan cita-cita. “Dari pakar pendidikan, dakwah dan ekonomi kami undang untuk meotiovasi seluruh alumni, untuk terus bersemangat berpartisipasi dan aktif bergerak di masyarakat menyebarkan ajaran Aswaja sebagaimana cita-cita Qudsiyyah,” ungkapnya. (Kharis)

SIFAT DENGKI ORANG-ORANG YAHUDI (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 21 Mei 2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 53-56
بسم الله الرحمن الرحيم
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52) أأَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا (53) أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (54) فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا (55) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56)

Artinya : (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya (53) Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia (54) ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar (55) Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya (56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Ayat 52
Asbabun Nuzul

وقال الإمام أحمد: حدثنا محمد بن أبي عدي، عن داود، عن عكرمة، عن ابن عباس قال: لما قدم كعب بن الأشرف مكة قالت قريش: ألا ترى هذا الصنبور المنبتر من قومه؟ يزعم أنه خير منا، ونحن أهل الحجيج، وأهل السدانة، وأهل السقاية! قال: أنتم خير. قال فنزلت { إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ } [الكوثر:3] ونزل: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ } إلى { نَصِيرًا } .

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Ketika Ka’ab bin Al-Asyraf mendatangi kota Makkah, maka orang-orang Quraisy berkata: “Cobalah engkau perhatikan, laki-laki hina yang terputus keturunanya (Nabi Muhammad) dari kaumnya ini, ia menyangka bahwa ia lebih baik dari kami. Padahal kami ini adalah pembesar haji dan pelayan Ka’bah, serta penyedia air minum”. Maka Ka’ab berkata: “ Kalian Lebih Baik”. Karena hal tersebut lalu Abu Sufyan mengutuk Ka’ab dan turunlah ayat:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا (51) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52)

Artinya: (51) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya

Berangkat dari sinilah, Allah mengutuk mereka (Orang Yahudi) dan menempatkannya di neraka level 3 yang diberi nama neraka Khutomah.

Tambahan: Macam-macam Neraka berdasarkan Levelnya:

1. Jahannam: adalah tingkat yang atas sekali, yaitu tempat mukminin-mukminat, muslimin-muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar.

2. Neraka Ladhoh: adalah tingkat kedua orang yang mendustakan agama dan Iblis Laknatullah dan orang majusi beserta orang-orang yang mengikuti Iblis dan Majusi.

3. Neraka Khutamah: adalah tingkat ketiga tempat bagi orang-orang yahudi dan para pengikutnya

4. Neraka Sair: adalah tingkat keempat tempat bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dan orang nasrani.

5. Neraka Saqar: adalah tingkat kelima untuk orang-orang yang menyembah berhala.

6. Neraka Jahim: adalah tingkat ke enam untuk orang yang menyekutukan Allah

7. Neraka Hawiyah: adalah tingkat ke tujuh yang terletak paling bawah (dasar) dan paling dahsyat siksaanya yakni untuk orang-orang munafiq, orang kafir, termasuk keluarga Fir’aun.

Ayat 53-55
Tafsiran Ayat

يقول تعالى: { أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ } ؟! وهذا استفهام إنكار، أي: ليس لهم نصيب من الملك ثم وصفهم بالبخل فقال: { فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا } أي: لأنهم لو كان لهم نصيب في الملك والتصرف لما أعطوا أحدا من الناس -ولا سيما محمدا صلى الله عليه وسلم-شيئًا، ولا ما يملأ “النقير”، وهو النقطة التي في النواة، في قول ابن عباس والأكثرين. وهذه الآية كقوله تعالى { قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ } [الإسراء:100]أي: خوف أن يذهب ما بأيديكم، مع أنه لا يتصور نفاده، وإنما هو من بخلكم وشحكم؛ ولهذا قال: { وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا } [الإسراء:100]أي: بخيلا. ثم قال: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ } يعني بذلك: حسدهم النبي صلى الله عليه وسلم على ما رزقه الله من النبوة العظيمة، ومنعهم من تصديقهم إياه حسدهم له؛ لكونه من العرب وليس من بني إسرائيل. قال الطبراني: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، حدثنا يحيى الحماني، حدثنا قيس بن الربيع، عن السدي، عن عطاء، عن ابن عباس قوله: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ [عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِه] } الآية، قال ابن عباس: نحن الناس دون الناس، قال الله تعالى: { فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا } أي: فقد جعلنا في أسباط بني إسرائيل -الذين هم من ذرية إبراهيم-النبوة، وأنزلنا عليهم الكتب، وحكموا فيهم بالسنن -وهي الحكمة-وجعلنا فيهم الملوك، ومع هذا { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بهذا الإيتاء وهذا الإنعام { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } أي: كفر به وأعرض عنه، وسعى في صد الناس عنه، وهو منهم ومن جنسهم، أي من بني إسرائيل، فقد اختلفوا عليهم، فكيف بك يا محمد ولست من بني إسرائيل؟. وقال مجاهد: { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بمحمد صلى الله عليه وسلم { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } فالكفرة منهم أشد تكذيبا لك، وأبعد عما جئتهم به من الهدى، والحق المبين. ولهذا قال متوعدا لهم: {وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا} أي: وكفى بالنار عقوبة لهم على كفرهم وعنادهم ومخالفتهم كتب الله ورسله..

Allah berfirman (أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ) “Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?” Kalimat ini adalah istifham inkari (sebuah pertanyaan yang menunjukkan penyangkalan), artinya mereka tidak memiliki bagian kekuasaan. Kemudian Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dalam firman-Nya ( فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا) “Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia”. Karena, seadainya mereke memiliki bagian kekuasaan atau kerajaan pun, niscaya mereka tidak akan memberikan apapun kepada manusia, apalagi kepada Muhammad. Dan mereka tidak akan member sesuatu seberat naqir pun, yaitu satu titik pada biji, menurut pendapat Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama, disebabkan kebakhilan dan kekikiran mereka

Setelah memeparkan keheranan terhadap urusan, sikap dan perkataan kaum Yahudi, serta mengumumkaan kutukan dan kehinaan atas mereka, maka ayat berikutnya menyatakan keingkaran terhadap sikap mereka kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Juga terdapat kebencian mereka karena Allah memberi karunia kepada Rasulullah dan kaum muslimin, yaitu karunia berupa agama Islam, kemenangan dan kekuasaan.Ayat selanjutnya mengingkari sikap mereka (kaum Yahudi) yang iri hati dan dengki terhadap karunia Allah yang diberikanNYa kepada kaum muslimin, padahal mereka tidak dapat memberi karunia sedikit pun. Pada waktu yang sama diungkapkanlah tabiat mereka yang keras dan kering, dan menganggap banyak setiap pemberian yang diperoleh orang lain. Padahal, Allah sudah melimpahkan karunia atas mereka dan nenek moyang mereka. Akan tetapi limpahan karunia ini tidak juga menjadikan mereka berlapang dada dan tidak mencegah dari dengki dan iri hati.

Sungguh mengherankan! Mereka sama sekali tidak dapat memberikan nikmat sedikitpun kepada seseorang sebagaimana yang dilakukan Allah. Apakah memang mereka itu sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah! Apakah mereka memiliki andil di dalam kekuasaan-Nya, untuk memberi dan melimpahkan karunia? Kalau mereka punya andil, niscaya mereka -sesuai dengan sifat yang keras kepala dan kikir- tidak akan memberikan sedikitpun kebajikan kepada manusia. Kaum Yahudi yang amat kikir dan pendendam itu –seandainya mereka memiliki andil dalam kekuasaan- tidak akan memberikan kebajikan dan kenikmatan kepada orang lain, walaupun hanya setebal kulit luar biji tumbuhan. Alhamdulillah, kaum Yahudi tidak mempunyai andil dalam kekuasaan. Sebab, seandainya mereke memiliki andil dalam kekuasaan ini, niscaya akan binasa seluruh manusia. Karena, mereka tidak akan mau memberi, walau hanya setebal kulit ari.

Allah berfirman (أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ) “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” Yaitu kedengkian mereka kepada Nabi atas rizqi kenabian yang Agung, yang diberikan Allah kepadanya dan keengganan mereka membenarkan nubuwwah. Kedengkian mereke itu dikarenakan Beliau dari keturunan Arab dan bukan dari keturunan Bani Israil.

Kedengkian orang Yahudi kepada Nabi atas rizqi kenabian ini berupa khususiyyat beristri berjumlah 12 istri:

1. Khadijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah s.a.w. di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun ( Janda 2 kali ). Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah s.a.w memiliki 2 anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki- laki beliau ( Qasim & Abdullah ) meninggal saat berumur 2 tahun. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Khodijah meninggal usia 65 tahun (saat itu usia Nabi 50 Tahun). Rasulullah s.a.w. tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Hikmah Nabi menikahi Siti Khadijah karena dia adalah wanita pertama yang AKAN memeluk Islam dan mendukung dakwah Nabi.

2. Saudah binti Zam’ah RA (70 tahun ), wanita kulit hitam dari Sudan dinikahi oleh Rasulullah pada saat beliau berumur 52 tahun pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khadijah. Ia adalah seorang janda (2 kali) yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amral yang menjadi perisai Nabi di medan perang. Memiliki 12 anak dari pernikahan dengan suami pertama. Hikmah Nabi menikahinya adalah menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin

3. Aisyah binti Abu Bakar RA, seorang gadis yang cantik dan cerdas, dinikahi oleh Rasulullah bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah dan Rasulullah mengajarkan tentang kewanitaan agar disampaikan kepada umatnya kelak.

4. Hafsah binti Umar bin Al-Khattab RA (35 tahun), janda yang ditinggal mati oleh suaminya dalam perang Uhud, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah pada tahun ketiga Hijriyah ketika beliau berumur 55 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah untuk menjaga keotentikan Al Qur’an karena Hafsah akan menjadi wanita pertama yang HAFAL 30 Juz Al Qur’an.

5. Zainab binti Khuzaimah RA (50 tahun), dari Bani Hilal dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi fakir miskin. Sebelumnya ia bersuamikan Abdullah bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah pada saat beliau berumur 56 tahun. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW.. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah, untuk menjadi teladan bersama-sama Rasulullah dalam menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

6. Ummu Salamah binti Abu Umayyah RA (62 tahun), Wanita yang pandai berbicara, berpidato dan mengajar ini sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya meninggal di bulan Jumadil Tsani tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki- laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah pada bulan Syawwal di tahun yang sama pada saat beliau berumur 56 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah dan mengajar kaum wanita.

7. Zainab binti Jahsyi RA (45 tahun), dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah . Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah di bulan Dzulqo’dah tahun kelima Hijriyah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghapus kebiasaan jahiliyah perihal nasab anak angkat yg harus mengikuti ayah aslinya (tidak mengikuti nasab ayah angkat) sekaligus menegaskan tuntunan syariat perihal konsekuensi pengangkatan anak.

8. Juwairiyah binti Al-Harits RA (65 tahun), putri pemimpin kabilah Bani Mustholiq dari Khuza’ah yang mempunyai 17 anak dari pernikahan pertamanya. Ia merupakan tawanan perang yang dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk syariat memerdekakan budak dan pembebasan tawanan perang dan meraih simpati dari kabilahnya untuk memasuki ajaran Islam.

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA (47 tahun), sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharram tahun 7 Hijriyaah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah ketika Nabi berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghibur dan menjaga keimanan Habibah agar tidak ikut murtad dengan mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik.

10. Shafiyyah binti Huyay RA (53 tahun), wanita dari bani israil yang menjadi muslimah janda 2 kali dari Salam bin Misykam dan Kinanah bin Abil Huqoiq, memiliki 10 anak dari perkawinan sebelumnya, ia merupakan tawan perang Khaibar lalu Rasulullah memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khaibar tahun 7 Hijriyah ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menjaga keimanan Shafiyyah dari boikot orang yahudi dan menjaga kedudukannya sebagai putri dari pemuka kabilah.

11. Maimunah binti Al-Harits RA (63 tahun), wanita dari suku yahudi bani kinanah janda Abu Ruham bin Abdul Uzza dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijriyah pada saat melaksanakan Umrah Qadha’ ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk menjaga dan mengembangkan dakwah di kalangan Bani Nadhir.

12. Mariyah Qibtiyyah RA (25 tahun) , seorang gadis budak yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis dari Iskandaria Mesir kepada Rasulullah kemudian dinikahinya pada tahun 8 hijriyah ketika Nabi berumur 59 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk membebaskan perbudakan dan menjaga keimanan Mariyah Qibtiyyah.

Beliau Nabi Muhammad meninggal dunia meninggalkan 9 istrinya selain khadijah (karena sudah meninggal sebelum Nabi Muhammad), Hafsah (wanita yang dicerai Rasulullah karena sifat cemburunnya yang menguasai dirinya lupa daratan) dan wanita yang diceraikan Rasulullah lantaran punya penyakit baros.

Allah berfirman, (فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا) “Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepadanya keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar”. Yaitu sesungguhnya Kami telah menjadikan kenabian pada keturunan Bani Israil yang merupakan anak cucu Nabi Ibrahim, kami turunkan kitab-kitab kepada mereka dan mereka (para Nabi) menghukumi Bani Israil dengan sunah-sunah yaitu berupa hikmah serta kami jadikan diantara mereka (Bani Israil) raja-raja

Maksud ayat ini adalah bantahan atas apa yang dihasuti oleh orang-orang yahudi? Jikalau yang dihasud atau iri dari Nabi Muhammad adalah jumlah istri, maka nabi-nabi mereka dari kalangan bani israil malah melebihi jumlah istri Rasulullah, contoh:
· Nabi Daud istrinya 99 dan tambah 1 (istrinya Jendral Area)
· Nabi Ismail istrinya 1000 bahkan memiliki kerajaan yang meliputi seluruh dunia dari kalangan manusia, jin dan syaitan
· Dan Nabi-nabi lainya dari bani israil

Di antara dengki yang lebih tercela ialah dengkinya orang-orang yang telah diberi nikmat seperti itu. Kalau orang yang tidak mendapatkan nikmat yang seperti itu bersikap dengki, itu pun sudah tercela. Apalagi kalau yang dengki itu justru mereka yang sudah mendapatkan nikmat yang banyak, maka kedengkian semacam ini amat buruk, mendasar dan mendalam, seperti kedengkian orang Yahudi yang memang aneh dan unik.

Tetapi dalam waktu yang sama, diantara mereka ada yang beriman dengan pemberian dan kenikmatan itu dan ada pula yang mengingkarinya, yaitu mengkufurinya, berpaling dari petunjuknya dan berupaya menghalangi manusia darinya. Padahal dia (Nabi lain) itu adalah bagian dari mereka dan merupakan jenis (golongan) mereka, yaitu Bani Israil, itu pun membuat mereka berselisisih. Maka bagaimana pula denganmu ya Muhammad sedang engkau bukan dari Bani Israil?

Nabi Muhammad adalah keturunan kaum ummi (keturunan Nabi Ismail) bukan merupakan ahlul kitab (bani Israil / bani ishaq). Jadi sebenarnya dari Nabi Ibrahim lahirlah dua kelompok: kelompok bani israil dan kelompok bani ismail. Sejarah kenabian yang berasal dari keturunan bani israil cukup jelas sementara kenabian yang berasal dari dari bani ismail tidak banyak disebut dalam sejarah. Kenabian dari kalangan bani israil jelas dengan silih bergantinya kelahiran (para) nabi sedangkan kenabian dari keturunan bani ismail hanya dapat disaksikan dalam praktek ibadah dan adat istiadat yang berkembang dalam masyarakat. Adapun kiblat kelompok bani israil adalah baitul maqdis sedangkan kiblat kelompok bani ismail adalah baitullah yang terletak di kota makkah. Yang menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Syariat kelompok pertama adalah hukum-hukum dan syariat kelompok kedua hanya memelihara tradisi menjaga kesucian Masjidil Haram. Musuh kelompok pertama adalah orang-orang kafir seperti Firaun dan Hamman, dan musuh kelompok kedua adalah orang-orang musyrik seperti penyembah berhala.

Mujahid berkata: “Di antara mereka ada yang beriman kepadanya yaitu kepada Nabi Muhammad dan ada pula yang berpaling darinya” untuk itu, Allah mengancam mereka, (وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا) “Cukuplah Jahannam sebagai tempat kembali mereka”. Artinya cukup api Neraka sebagai hukuman atas kekufuran, pembangkangan dan penentangan mereka terhadap kitab-kitab dan Rasul-rasul Nya.

Ayat 56

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarha Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Ditampilkan balasan ini dalam pemandangan hari sebagai berikut:

(56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S An-Nisa’: 56)

“Setiap kali mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab”. Sungguh ini merupakan pemandangan yang hamper tidak berujung dan tak berkesudahan. Pemandangan yang tampak berulang-ulang. Tampak wujudnya dalam khayalan dan tak dapat dipalingkan. Ia sangat menakutkan dan mengerikan. Kengerianya memiliki daya tarik yang menekan. Kalimat ini menggambarkan pemandangan itu secara berulang-ulang dengan menggunakan kata “kullama / كلما” yang artinya ‘setiap kali’. Di samping itu, juga dilukiskan dengan sangat mengerikan dan menakutkan.

Itulah balasan kekefiran, padahal sebab-sebab untuk beriman sudah disediakan. Balasan inilah yang dimaksudkan, dan ia merupakan balasan yang sangat tepat.

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum

 

NGAJI TAFSIR MBAH K.H SYA’RONI AHMADI (Jumu’ah Fajar di Masjid Menara Kudus/5 Ramadlan 1439 H-21 Mei 2018)

Menteri Agama Buka Festival Alquran

Festival Alquran resmi dibuka oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin di Tanah KHR. Asnawi, Jl. KHR Asnawi Kudus, Sabtu pagi (5/5/2018). Kagiatan yang digagas oleh Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) dilaksanakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadlan sekaligus merayakan 102 tahun Madrasah Qudsiyyah mengabdi di masyarakat.

Kegiatan yang akan berlangsung selama tanggal 4-10 Mei 2018 ini memamerkan koleksi Museum Bayt Alquran Masjid Istiqlal (Jakarta) dan perpustakaan litbang Kementerian Agama RI. Selain itu dipamerkan juga berbagai koleksi khazanah Islam Nusantara berupa kitab (turats) dan kaligrafi dari alumni Madrasah Qudsiyyah.

Tercatat 6 Seminar juga dilaksanakan selama even pameran berlangsung di lokasi, tepatnya di hall yang telah disediakan di bagian barat lokasi. Seperti Halaqah Majelis Gusjigang, Seminar Nasional Mushaf Standar Indonesia, Seminar Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila, Sarasehan Peningkatan Etika Budaya Politik dan Seminar Jateng Melawan Narkoba.

Seminar dan halaqah juga dilaksanakan dalam mendukung acara tersebut, antara lain Halaqah Majelis Gusjigang, Seminar Nasional Mushaf Standar Indonesia, Seminar Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila, Sarasehan Peningkatan Etika Budaya Politik dan Seminar Jateng Melawan Narkoba. Sementara kegiatan hiburan yang akan mewarnai event ini dalam event sepekan ini, antara lain ngontel bareng dengan tema “Islam Nusantara Benteng Pancasila”, parade seribu terbang, konser 21 tahuan Almubarok Qudsiyyah, dan Ngaji Bareng bersama Sabrang Noe Letto. Kegiatan ini bakal ditutup dengan Launching Majelis Gusjingan IKAQ dengan menggelar pengajian umum.

Berbondong-bondong Ziarah Masyayikh Muassis dan Muqri’

Menjelang datangnya bulan nuzulul Quran, Madrasah Qudsiyyah mengadakan Festival Alquran yang akan menyajikan koleksi Alquran dari Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (Jakarta). Kegiatan pameran ini akan dilaksanakan selama satu pekan penuhdari Jumat hingga Kamis tanggal 4-10 Mei 2018 / 18 – 24 Sya’ban 1438 H di Tanah KHR. Asnawi, Jalan KHR. Asnawi, Kecamatan Kota, Kab. Kudus
Pameran yang bertajuk “Menguduskan Alquran, Menebar Kedamaian” ini dikemas dengan event pameran khazanah Islam Nusantara yang menampilkan turats (kitab) karya ulama Indonesia dan Kaligrafi dari berbagai seniman serta Parade Benteng Pancasila.
Adapun Kegiatan utama dan pendukung diantaranya, Zaiarah masyayikh, Khotmil Quran 102 Kolosal, Lomba-lomba, seminar dan Ngontel Bareng, Halalqoh serta Pengajian.
Baca juga Rangkaian Kegiatan Festival Alquran

Ziarah Masyayikh
Santri dan Asatidz berbondong-bondong menuju makam KHR. Asnawi pada pagi pukul 08.00 WIB , kemudian menuju ke makam Krapyak Sedio Loehoer dan makam KH. M. Arwani Amin
Kegiatan Ziarah kepada Guru dan maestro al-Qur’an dilaksanakan sebelum pelaksanaan Festival al-Qur’an dan Pameran Khazanah Islam Nusantara. Rangkaian ziarah dimulai dari makam Pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi Kudus di kompleks makam al-Qur’an, dilanjutkan ke makam masyayikh Qudsiyyah seperti alm KH. Yahya Arif, KH Ma’ruf Asnawi, KH Ma’ruf Irsyad, KH. Jasin Djalil, KH Mahfudz Noor di Makam Krapyak Kudus. Ziarah kemudian berlanjut ke makam guru besar al-Qur’an (Muqri’) KH. M. Arwani Amin di Jl. KH. M. Arwani Amin, Kajeksan Kudus.
Ziarah dipimpin oleh KH. Ahmad Hanafi, KH. Abdur Rosyad, KH. J. Abdurrahman, KH. Nurul adlha, KH. Ali Abbas. Sholawat karangan mbah Asnawi juga dilagukan bersama dipimpin H. Hilal Haidar. Kejutan justru di akhir acara sebelum para santri meninggalkan majlis sholawat asnawiyyah.
Selesai jam 08.30 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan ke pemakaman sedio luhur, krapyak. Disinilah beberapa makam masyayikh dan asatidz qudsiyyah. Ziarah berlangsung dengan khidmat hingga pukul 10.00 WIB

Festival Al Qur’an Bakal Dibuka Menteri Agama

QUDSIYYAH, KUDUS – Festival Al Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara dan Parade Benteng Pancasila yang digagas Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, bakal dilaksanakan lebih awal dari Jadwal semula. Yang semula dijadwalkan pada 10 – 17 Mei, diajukan lebih menjadi 4 – 10 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 34 ini bakal dibuka langsung oleh Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua panitia sekaligus Ketua Umum IKAQ, H. Ihsan, menyatakan, pengajuan jadwal pameran dari waktu semula merupakan arahan dan penyesuaian jadwal Menteri Agama. “Kita sesuaikan dengan jadwal pak Menteri,” katanya.

Ia menandaskan pameran ini bakal dibuka secara resmi oleh Meneteri Agama pada Jumu’ah (4/5/2018) Pagi. Dengan kehadiran Menteri Agama, diharapkan kegiatan festival ini akan semakin ramai dan mengena ke masyarakat. Melalui kegiatan ini, ia berharap akan semakin tersampaikannya nilai-nilai al Qur’an kepad masyarakat. “Juga mudah-mudahan akan tersosialisasi mushaf standar Indoneisa kepada asyarakaty Kudus dan sekitarnya,” kata pria yang juga sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus ini.

Kegiatan seminggu ini baklal menampilkan pameran sejarah Al Qur;an, pameran khazanah Islam Nusantara, khataman Kosolsal 102 khataman, Festival Tilawah, Khaotmul Qur’an bil Kitabah, seminar Saintifikasi dan Faktualisasi al Qur’an, dan Olimpiade Sain. Selain itu, juga bakal dihibur dengan festival terbang klasik, malam seribu terbang, seni dan pertunjukan teater, Konser 21 tahun Al Mubarok, Konser “Noe” Letto, Gambusan, Tari Gusjigang, dan Ngontel Bareng dengan tema “Islam Nusantara Benteng Pancasila”. (Kharis)

SERBA-SERBI BULAN RAJAB

ALHAMDULILLAH umat Islam saat ini akan memasuki di salah satu bulan yang mulia dan memiliki kedudukan yang agung, yaitu Rajab yang jatuh pada hari Senin Pon, 19 Maret 2018 M/ 1 Rajab 1439 H. Bulan ini dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah [95]: 2).

Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qa’dah, dzul hijjah, rajab, dan muharam.

A. Pengertian Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dari tahun hijriyyah dan merupakan salah satu bulan haram (أحد الأشهر الحرم) seperti yang telah difirmankan Allah Ta’ala Azza Wa Jalla dalam Q.S Al-Taubah: 36 sebagai berikut:

يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

Ibnu Rajab mengatakan, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab

Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya bahwasanya Allah mengkhususkan bulan-bulan haram untuk berdzikir dan mencegah perbuatan dholim. Bentuk larangan dibulan-bulan ini ditakwili dengan larangan untuk tidak berbuat aniaya pada diri sendiri sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Dari hadist Abu Bakar R.A yang terdapat dalam Shohih bukhori-muslim dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika berkutbah berkata:

إن الزمان قد استدار كهيئة يوم خلق الله السموات والأرض، السنة إثنا عشر شهرا منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان.

Artinya: Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

B. Makna Rajab

Rojab itu dari kata رجب الرجل رجبا ‘menghormati seseorang dengan suatu kehormatan’. Dengan demikian kata رجبه –يرجبه-رجبا-رجوبا atau رجّبه- ترجّبه dan أرجبه semuanya semakna dengan kata هابه atau عظمه’memuliakan atau menghormati’. Sehingga kata مرجوب sama halnya dengan kata مهاب dan معظم yakni orang yang dihurmati atau dimuliakan.

Disebutkan bahwa bulan rajab memiliki 14 nama: syahrullah, rajab, rajab mudhir, munsholul asnah, ashom, munaffis, muthohhar, muqim, harm, muqosyqisy, mabri’, fard, al-ashob, dan mu’alla. Dan sebagian ulama’ menambahi lagi dengan nama rojam, munsholul aal (yang berarti perang) dan munajja’ul asnah.

Sebagian Ulama’ memaknai nama-nama bulan rajab di atas sebagai berikut:

1. Rajab (رجب) artinya kemuliaan karena bulan yang dimuliakan atau dihormati oleh orang-orang jahiliyyah.

2. Ashom (الأصم) artinya tuli karena dibulan mereka ini meninggalkan peperangan, tidak terdengar (tuli) gemerincingnya pedang dan suara minta tolong.

3. Ashob (الأصب) artinya turun/ curahan karena kafir makkah selalu mengatakan bahwasanya rahmat tercurah dan turun di bulan ini.

4. Rajm (رجم) artinya didalamnya Allah telah merajam musuh-musuhNya dan para syaiton.

5. Harm (هرم) artinya tua karena kemuliaan bulan ini abadi/kuno dari zaman mudhar bin nizar bin mu’ad bin adnan.

6. Muqim (المقيم) artinya tetap karena kemuliaan bulan ini tetap tidak berubah hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan salah satu bulan haram.

7. Mu’alla (المعلى) artinya yang tinggi karena tingginya kedudukan bulan rajab diantara bulan-bulan lainya.

8. Munsholul asnah (منصل الأسنة) disebutkan oleh Al-Bukhary dari Abi Raja’ al-Athordi.

9. Munshollul aall (منصل الآل) yang artinya perang.

10. Al-Mabri’ (المبريء) artinya terbebas karena dalam bulan ini terbebas dari peperangan dan terbebas dari kedholiman dan kemunafikan.

11. Muqosyqisy (المقشقش) artinya penyembuh karena bulan ini menyembuhkan penyakit kejahiliyyahan berupa peperangan.

12. Syahrul atiirah (شهر العتيرة) artinya bulan penyembelihan karena mereka menyembelih sesembelihan mereka yang dinamai dengan rajabiyyah yang dinisbatkan kepada bulan rajab.

13. Rajab mudhir (رجب مضر) artinya nama qobilah arab yang di masa jahiliyyah tidak mengutak-atik bulan-bulan haram tersebut. Mudhir sendiri berarti pekak atau cacat. Allah Swt. berfirman : “Hai bulan-Ku, apakah mereka mencintai dan memuliakanmu? Maka diamlah Rajab, hingga ditanya dua tiga kali, kemudian jawabnya : “Ya Tuhan, Engkaulah yang pandai merahasiakan segala cacad dan cela, dan Engkau pula yang menyuruh makhluk-Mu supaya merahasiakannya pada orang lain. Itulah sebabnya Rasul-Mu menyebutku “pekak”, aku semata hanya mendengar kebaktian mereka, ketaatan, dan kebaikan mereka, lain tidak”. Selanjutnya Allah berfirman : “Engkau bulan-Ku yang pandai menyimpan cacad dan pekak, hamba-hambaKu yang ber’aib, Aku terima mereka berikut aib/cacadnya berkat kehormatanmu seperti halnya aku terima kamu berikut aib/cacadmu. Aku mengampuni mereka sebab menyesali dosa mereka satu kali dalam bulan Rajab, dan dalam bulan itu pula, Aku tiada mencatat kemaksiatan mereka”

Kata Rajab terdiri dari 3 huruf, Ra’, Jim dan Ba’, masing-masing berarti : Rahmatullah, Jirmil abdi dan Birullah Ta’aalaa, yang seolah-olah dikatakan : “Hai hamba-Ku, Kujadilan dosa-dosa dan kebaikanmu diliput dengan rahmat-Ku, maka tiada tetap dosa-dosamu berkat kemulian bulan Rajab”.

C. Keutamaan Bulan Rajab

Telah dijelaskan dimuka bahwa Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Adapun keutamaan-keutamaan bulan ini sebagai berikut:

1. Bulan Penuh Berkah

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله إذا دخل رجب قال: “اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: ketika memasuki bulan Rajab Rosulullah berdoa “Ya Robb berkahilah kita di dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikankah kita ke bulan Ramadhan.

2. Bulan Dimuliakannya Kebaikan

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قيل : يارسول الله لم سمي رجب؟ قال لأنه يترجب فيه خير كثير لشعبان ورمضان

Dari Anas bin Malik R.A berkata: disebutkan bahwa salah satu sahabat bertanya ‘Ya Rasulallah kenapa dinamakan rajab?’, Rasulullah SAW menjawab: ia dinamakan rajab karena didalamya seluruh amal kebaikan dimuliakan untuk menyambut bulan Sya’ban dan Romandhon.

3. Kenikmatan Meninggal Dengan Husnul Khotimah Tanpa Gangguan Syaitan

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن أردتم الراحة وقت الموت من العطش والخروج مع الإيمان والنجاة من الشيطان فاحترموا هذه الشهور كلها بكثرة الصيام والندم على ما سلف من الأثام واذكروا خالق الأنام تدخلوا جنة ربكم بسلام.

Nabi bersabda: jika kamu sekalian ingin mendapatkan kenikmatan saat waktu kematian menjemput, membawa iman saat nyawa keluar dan terhindar dari godaan syaitan, maka sebaiknya muliakanlah bulan-bulan haram dengan banyak berpuasa, melakukan taubat dari dosa yang pernah dilakukan dan berdzikirlah kepada penyiptamu. Lalu masukkah surge dengan aman dan selamat.

4. Perumpaan Rajab seperti Al-Qur’an dari kalam-kalam Allah yang lain

عن النبي صلى الله عليه وسلم: فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الكلام.

Nabi Muhammad SAW bersabda: keutamaan bulan Rajab dari bulan-bulan yang lain seperti keutamaan Al-Qur’an dari kalam-kalam Allah yang lain.

5. Bulan Istighfar dan Bulannya Allah

وقال علي رضي الله عنه قال النبي عليه الصلاة والسلام: أكثروا من الإستغفار في شهر رجب فإن لله تعالى في كل سعة منه عتقا من النار وإن لله مدائن لا يدخلها إلا من صام رجب.

Ali RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda: perbanyaklah beristighfar di bulan Rajab karena Allah dibulan ini lapang untuk pembebasan dari neraka dan Allah memiliki beberapa kota di surga, tidak ada seseorang yang bisa masuk ke dalamnya malainkan orang yang mau puasa rajab.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم لآاله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يمسك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته.

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: siapa saja yang antara waktu dhuhur dan ashar di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan berdoa : أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْمْ لآاِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيّ القيّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا, maka Allah akan mengutus dua malaikan untuk membakar buku catatan amal buruknya.

قال العلماء: رجب شهر الاستغفار وشعبان شهر الصلاة على النبي المختار صلى الله عليه وسلم ورمضان شهر القرآن.

Ulama’ berkata: bulan Rajab itu bulan istighfar, sya’ban bulan sholawat kepada Nabi Muhammad dan Romadlan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an.

قال رسول الله صلى عليه وسلم رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي.

Rasulullah SAW bersabda: bulan Rajab itu bulannya Allah, bulan Sya’ban bulanku dan bulan Romadlon adalah bulan untuk ummatku

6. Ganjaran air rajab

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: رأيت ليلة المعراج نهرا ماءوه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك، فقلت لجبراءيل لمن هذا؟ قال لمن صلى عليك في رجب.

Artinya: Nabi Muhammad Bersabda: Aku melihat ketika malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya manis melebihi manisnya madu, dinginnya melebihi dinginnya salju, wanginya melebihi wanginya minyak misik. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril: untuk siapa sungai itu wahai Jibril. Malaikat Jibril menjawab: sungai itu diperuntukkan orang yang bersholawat kepadamu di bulan Rajab.

قال عليه الصلاة والسلام “إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر.

Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamai dengan sungai rajab yang sangat putih melebihi susu dan lebih manid daripada madu. Barang siapa puasa di hari itu sekali saja maka Allah akan memberi minuman orang tadi dari air sungai tadi.

7. Nilai puasa di bulan ini dibawah nilai puasa Ramadhan

عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يتم صوم شهر بعد شهر رمضان إلا رجب وشعبان

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasanya 1 bulan penuh setelah Ramadlan melainkan kacuali bulan Rajan dan Sya’ban.

8. Puasa 1 hari sebanding puasa 1 bulan

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام يوما من شهر حرام، كتب الله له بكل يوم شهرا، ومن صام أيام العشر، كان له بكل يوم حسنة.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: jika Rasulullah pernah berkata: barang siapa puasa sehari dibulan haram, Allah mencatatnya sama seperti puasa 1 bulan dan barang siapa puasa 10 hari maka tiap hari baginya suatu kebaikan.

9. Pahala Menghidupkan Malam Pertama, seperti menghidupkan hati yang mati, kembali ke fitrah, dapat menolong 70 ribu ahli dosa dan dapat nikmat surga.

روي عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من أحيا أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ويشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد استوجبوا النار”

Diriwayatkan dari Nabi orang yang menghidupkan malam pertama bulan Rajab, tidak akan mati hatinya tatkala banyak hati yang telah mati, Allah akan melimpahkan kebaikan kepadanya, dikeluarkan dosa-dosanya seperti layaknya dia dilahirkan oleh ibunya (kembali suci) dan dapat member syafaat (pertolongan kepada 70.000 ahli dosa.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من أحيا ليلة رجب، وصام يومها، أطعمه الله من ثمار الجنة، وكساه من خضر الجنة، وسقاه من الرحيق المختوم.

Nabi Muhammad SAW bersabda: barang siapa menghidupkan malam rajab dan paginya ia berpuasa, maka Allah kelak akan memberikan makan ia berupa buah-buahan dari surga, memakaikan pakaian dari pakaian surga dan memberi minuman nectar yang tiada bandinganya nikmatnya.

10. Bulan haram yang telah tercatat namanya di langit ke tujuh

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رجب من شهور الحرم، وأيامه مكتوبة على أبواب السماء السادسة، فإذا صام الرجل منه يوما وجرد صومه لتقوى الله، نطق الباب ونطق اليوم، قالا: يارب، اغفر له، وإذا لم يتم صومه بتقوى الله، لم يستغفر، قال أو قيل خدعتك نفسك.

Dari Abi Sa’id al-Khudry R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW telah berkata: bulan Rajab itu merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, dan hari-harinya telah tercatat di pintu-pintu langit ke tujuh. Maka tatkala seseorang berpuasa sehari murni karena takwanya kepada Allah, maka pintu dan hari itu akan berdoa kepada Allah: Ya Tuhanku, ampunilah dia. Dan tatkala ia tidak bisa menyempurnakan puasanya maka jangan ampuni.

11. Keutamaan berpuasa separuh awal bulan Rajab

عن النبي ص م أنه قال: ألا إن رجب شهر الله الأصم فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر. ومن صام يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة. ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الأخرة والجنون والجذام والبرص ومن فتنة الدجال. ومن صام سبعة أيام غلقة عنه سبعة أبواب جهنم. ومن صام ثمانية أيام فتحة له ثمانية أبواب الجنة. ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيءا إلا أعطاه إياه. ومن صام خمسة عشرة يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيءاته حسنات. ومن زاد زاد الله أجره.

Nabi SAW bersabda: Ingatkah sesungguhnya bukan Rajab adalah bulan Allah yang Mulia. Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Ikhkas 1 hari di bulan Rajab, maka dia berhak mendaoat Ridlo Allah yng Maha Besar. Barang siapa berpuasa 2 hari di bulan Rajab, tiada sifat yang diberikan oleh penduduk langit dan bumi, kecuali baginya diberi Karomah oleh Allah.

Barang siapa puasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia di jaga dari setiap balak dunia, suksa akhirat, penyakit gila, ayan, lepra, koreng, dan dari finah dajjal. Barang siapa berpuasa 7 hari di bulan Rajab, ditutuplah baginya 7 pintu Neraka Jahannam. Barang siapa berpuasa 8 hari di bulan Rajab, maka dibukalah baginyab 8 pintu Surga. Barang siapa berpuasa 10 hari di bulan Rajab, maka dia tidak usah minta sudah langsung diberi oleh Allah semua yang ia inginkan. Barang siapa berpuasa 15 hari di bulan Rajab, seluruh dosanya yang sudah kewat diampuni oleh Allah, dan kejelekannya diganti dengan kebaikan. Dan yang puasanya ditambah lebih dari 15 hari, maka Allah akan menambah juga ganjarannya.

12. Adanya Kaffarat

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوم يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، والثالث كفارة سنة، ثم كل يوم شهر.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa hari pertama di bulan Rajab merupakan kaffarat 3 tahun, puasa hari ke dua sama seperti kaffarat 2 tahun, dan puasa ke 3 hari merupakan kaffarat 1 tahun. Kemudian hari-hari berikutnya kaffaratnya adalah 1 bulan.

13. Rahasia malam ke 10 di bulan Rajab

عن قيس بن عباد، في قوله تعالى: (إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ) هذه الأربعة أشهر الحرم، كلها في يوم عاشر منها أمر: أما المحرم فاليوم العاشر من عاشوراء، وأما ذو الحجة فاليوم العاشر منه يوم النحر، وأما رجب فاليوم العاشر منه يمحو الله ما يشاء ويثبت، وعنده أم الكتاب، ونسيت ما في ذي القعدة.

Dari Qoisy bin Ibad, dalam firman Allah SWT ayat 36 surat al-Taubah: (Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu dia menciptakan langit dan bumi, diantara empat bulan haram) empat bulan yang disebutkan dalam ayat ini saat hari yang ke-10 punya perkara masing-masing. Hari ke 10 bulan Muharram merupakan hari asyuro. Hari ke-10 bulan dzul hijjah merupakan hari Qurban. Adapun hari ke-10 bulan Rajab, Allah menghapus apapun yang Ia hendaki dan Ia tetapkan.

14. Penamaan bulan karena kemuliaanya

عن ابن عباس – رضي الله عنهما- أن يهوديا أتاه، فقال: يا ابن عباس إني أريد أن أسألك عن أشياء، إن أنت أخبرتني بتأويلها فأنت ابن عباس، قال: وما هي؟ قال : عن رجب لم سمي رجب؟ وعن شعبان لم سمي شعبان؟

قال : أما رجب، فإنه يترجب فيه خير كثير لشعبان وسمي أصم لأن الملائكة تصم أذانها لشدة ارتفاع أصواتها بالتسبيح والتقديس.

Dari Ibnu Abbas R.A Sesungguhnya ssorang yahudi mendatanginyad dan berkata: wahai Ibnu Abbas sesungguhnya aku ingin bertanya padamu, beritahu aku tentang takwilan sesuatu. Lalu Ibnu Abbas bertanya: apa itu? Tentang bulan Rajab kenapa dinamakan demikian? Tanya kembali orang yahudi tersebut.

Lalu dijawab oleh Ibnu Abbas: Rajab di namakan Rajab untuk memuliakan kemuliaan di dalamnya dan dinamakan Ashom karena malaikat tuli kupingnya lantaran kerasnya tasbih dan pentasbihan di bulan tersebut.

15. Pahala puasa hari kamis, jumu’ah dan sabtu di bulan haram

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام ثلاثة أيام من كل شهر حرام –الخميس والجمعة والسبت- كتب له عبادة سبع مئة سنة”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: jika Rosulullah telah bersabda: siapa saja yang berpuasa 3 hari dibulan haram –kamis, jumuah dan sabtu- maka Allah akan mencatat baginya seperti beribadah 700 tahun.

16. Penamaan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

عن عروة، قال : قال عبد الله بن عمر –رضي الله عنهما- إنما سمي شهر رمضان لأنه يرض فيه الذنوب رضا، وإنما سمي شوال لأنه يشول الذنوب كما تشول الناقة ذنبها، وإنما سمي شعبان لأن الأرزاق تشعب فيه، وإنما سمي رجب، لأن الملائكة ترجب فيه بالتسبيح والتحميد والتمجيد للجبار عز وجل، وكان ابن عباس رضي الله عنهما يقول: يوم الفطر يوم الجوائز.

Dari Urwah berkata bahwa Abdullah bin Umar berkat: Sesungguhnya Romadhon dinamakan Romadhon karena di bulan ini penuh dengan tumbukan (peleburan) dosa. Dinamakan Syawal karena dosa-dosa pada bulan ini terangkat seperi terangkatnya sebuah bisul. Dinamakan Sya’ban karena rizqi dibulan ini tersebar. Dan dinamai Rajab karena malaikat pada bulan ini memuliakan (Sang Maha Perkasa) Allah dengan tasbih, tahmid, dan tajmid.

17. Salah satu dari 5 malam mustajab

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

18. Puasa 1 hari di tanggal 27 rajab : puasa 60 bulan

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- قال: من صام يوم سبعة وعشرين من رجب كتب الله له صيام ستين شهرا، وهو اليوم الذي هبط فيه جبريل –عليه السلام- على النبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة.

Dari Abu Hurairah R.A berkata: bahwa Nabi pernah bersabda: barang siapa yang puasa di hari ke 27 dari bulan Rajab Allah akan mencatat baginya seperti puasa 60 bulan, karena hari itu merupakan hari dimana malaikat Jibril turun dengan membawa sebuah risalah melakukan isra’-mi’raj.

19. Orang yang mencari keutamaan di dalamnya akan terkabul apapun dihajatkan

عن جابر بن عبد الله –رضي الله عنه- قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بلغه عن الله شيء فيه فضيلة، فأخذ به إيمانا بالله ورجاء ثوابه، أعطاه الله ذلك، وإن لم يكن كذلك”

Dari Jabir bin Abdillah R.A berkata: Nabi bersabda: barang siapa yang menyapaikan fadhilah tentang bulan Rajab dan ia iman kepada Allah serta mengharapkan pahala, maka Allah akan memberikanya apa yang ia hendaki, jika tidak Allah akan mengganti hal yang sama dengan apa yang ia hendaki.

D. Amalan-amalan di Bulan Rajab

Bertolak dari keutamaan-keutamaan bulan Rajab yang disebutkan di beberapa hadist di atas mengindikasikan betapa mulianya dan utamanya bulan ini. Bulan yang merupakan kunci dari munculnya beberapa keberkahan dan keutamaan. Dikatakan oleh Abu Bakar al-Warroq dengan qoul sebagai berikut:

شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع.

Artinya: bulan Rajab merupakan bulan untuk menanam, bulan Sya;ban bulan untuk pengairan dan bulan Ramadlan merupakan bulan untuk menuai hasil tanaman.

Senada dengan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar al-Warroq perumpaan ketiga bulan ini diumpamanakan dengan proses pembentukan hujan seperti qoul ulama’:

مثل شهر رجب مثل الريح ومثل شعبان مثل الغيم ومثل رمضان مثل القطر

Artinya: perumpaan bulan Rajab seperti angina; perumpaan bulan Sya’ban seperti mendung dan perumpaan Romadhon seperti hujan.

Oleh karena banyaknya kemuliaan di bulan ini, mari kita sebagai umat Muhammad, memaksimalkan sunah-sunah yang ada dengan semaksimal mungkin. Adapun Amaliyah yang penulis (Mohammad Bahauddin) anjurkan untuk diamalkan sebagai berikut:

1. Puasa

a. Puasa sekali di bulan rajab

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام يوما من شهر حرام، كتب الله له بكل يوم شهرا، ومن صام أيام العشر، كان له بكل يوم حسنة.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: jika Rasulullah pernah berkata: barang siapa puasa sehari dibulan haram, Allah mencatatnya sama seperti puasa 1 bulan dan barang siapa puasa 10 hari maka tiap hari baginya suatu kebaikan.

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رجب من شهور الحرم، وأيامه مكتوبة على أبواب السماء السادسة، فإذا صام الرجل منه يوما وجرد صومه لتقوى الله، نطق الباب ونطق اليوم، قالا: يارب، اغفر له، وإذا لم يتم صومه بتقوى الله، لم يستغفر، قال أو قيل خدعتك نفسك.

Dari Abi Sa’id al-Khudry R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW telah berkata: bulan Rajab itu merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, dan hari-harinya telah tercatat di pintu-pintu langit ke tujuh. Maka tatkala seseorang berpuasa sehari murni karena takwanya kepada Allah, maka pintu dan hari itu akan berdoa kepada Allah: Ya Tuhanku, ampunilah dia. Dan tatkala ia tidak bisa menyempurnakan puasanya maka jangan ampuni.

b. Puasa di hari-hari pertama bulan Rajab

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوم يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، والثالث كفارة سنة، ثم كل يوم شهر.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa hari pertama di bulan Rajab merupakan kaffarat 3 tahun, puasa hari ke dua sama seperti kaffarat 2 tahun, dan puasa ke 3 hari merupakan kaffarat 1 tahun. Kemudian hari-hari berikutnya kaffaratnya adalah 1 bulan.

c. Puasa 15 awal di bulan Rajab

عن النبي ص م أنه قال: ألا إن رجب شهر الله الأصم فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر. ومن صام يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة. ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الأخرة والجنون والجذام والبرص ومن فتنة الدجال. ومن صام سبعة أيام غلقة عنه سبعة أبواب جهنم. ومن صام ثمانية أيام فتحة له ثمانية أبواب الجنة. ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيءا إلا أعطاه إياه. ومن صام خمسة عشرة يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيءاته حسنات. ومن زاد زاد الله أجره.

Nabi SAW bersabda: Ingatkah sesungguhnya bukan Rajab adalah bulan Allah yang Mulia. Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Ikhkas 1 hari di bulan Rajab, maka dia berhak mendaoat Ridlo Allah yng Maha Besar. Barang siapa berpuasa 2 hari di bulan Rajab, tiada sifat yang diberikan oleh penduduk langit dan bumi, kecuali baginya diberi Karomah oleh Allah. Barang siapa puasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia di jaga dari setiap balak dunia, suksa akhirat, penyakit gila, ayan, lepra, koreng, dan dari finah dajjal. Barang siapa berpuasa 7 hari di bulan Rajab, ditutuplah baginya 7 pintu Neraka Jahannam. Barang siapa berpuasa 8 hari di bulan Rajab, maka dibukalah baginyab 8 pintu Surga. Barang siapa berpuasa 10 hari di bulan Rajab, maka dia tidak usah minta sudah langsung diberi oleh Allah semua yang ia inginkan. Barang siapa berpuasa 15 hari di bulan Rajab, seluruh dosanya yang sudah kewat diampuni oleh Allah, dan kejelekannya diganti dengan kebaikan. Dan yang puasanya ditambah lebih dari 15 hari, maka Allah akan menambah juga ganjarannya.

d. Puasa di hari 27 bulan Rajab

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- قال: من صام يوم سبعة وعشرين من رجب كتب الله له صيام ستين شهرا، وهو اليوم الذي هبط فيه جبريل –عليه السلام- على النبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة.

Dari Abu Hurairah R.A berkata: bahwa Nabi pernah bersabda: barang siapa yang puasa di hari ke 27 dari bulan Rajab Allah akan mencatat baginya seperti puasa 60 tahun, karena hari itu merupakan hari dimana malaikat Jibril turun dengan membawa sebuah risalah melakukan isra’-mi’raj.

e. Puasa Hari Kamis, Jumuah dan Sabtu di bulan Rajab

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام ثلاثة أيام من كل شهر حرام –الخميس والجمعة والسبت- كتب له عبادة سبع مئة سنة”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: jika Rosulullah telah bersabda: siapa saja yang berpuasa 3 hari dibulan haram –kamis, jumuah dan sabtu- maka Allah akan mencatat baginya seperti beribadah 700 tahun.

f. Puasa penuh (banyak berpuasa) di bulan Rajab

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن أردتم الراحة وقت الموت من العطش والخروج مع الإيمان والنجاة من الشيطان فاحترموا هذه الشهور كلها بكثرة الصيام والندم على ما سلف من الأثام واذكروا خالق الأنام تدخلوا جنة ربكم بسلام.

Nabi bersabda: jika kamu sekalian ingin mendapatkan kenikmatan saat waktu kematian menjemput, membawa iman saat nyawa keluar dan terhindar dari godaan syaitan, maka sebaiknya muliakanlah bulan-bulan haram dengan banyak berpuasa, melakukan taubat dari dosa yang pernah dilakukan dan berdzikirlah kepada penyiptamu. Lalu masukkah surga dengan aman dan selamat.

عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يتم صوم شهر بعد شهر رمضان إلا رجب وشعبان

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasanya 1 bulan penuh setelah Ramadlan melainkan kacuali bulan Rajan dan Sya’ban.

2. Beristighfar

وقال علي رضي الله عنه قال النبي عليه الصلاة والسلام: أكثروا من الإستغفار في شهر رجب فإن لله تعالى في كل سعة منه عتقا من النار وإن لله مدائن لا يدخلها إلا من صام رجب.
Ali RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda: perbanyaklah beristighfar di bulan Rajab karena Allah dibulan ini lapang untuk pembebasan dari neraka dan Allah memiliki beberapa kota di surga, tidak ada seseorang yang bisa masuk ke dalamnya malainkan orang yang mau puasa rajab.

قال العلماء: رجب شهر الاستغفار وشعبان شهر الصلاة على النبي المختار صلى الله عليه وسلم ورمضان شهر القرآن.

Ulama’ berkata: bulan Rajab itu bulan istighfar, sya’ban bulan sholawat kepada Nabi Muhammad dan Romadlan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم لآاله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يمسك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته.

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: siapa saja yang antara waktu dhuhur dan ashar di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan berdoa : أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْمْ لآاِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيّ القيّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا, maka Allah akan mengutus dua malaikan untuk membakar buku catatan amal buruknya.

Dan orang yang membaca “اللهم اغفر لي وارحمني وتوب علي” sebanyak 70 kali diwaktu subuh dan menjelang sore di Bulan Rajab, maka kelak orang itu tak akan dikenai api neraka. Berikut hujjahnya:

ان من استغفر الله في رجب بالغداة والعشي يرفع يديه ويقول اللهم اغفر لي وارحمني وتوب علي سبعين مرة لم تمس النار جلدا.

Selain dua istighfar di atas penulis juga menambahkan 2 istighfar. Pertama istighfar ijazah dari habib Hasan bin Abdillah al-Haddad, berikut teks istighfarnya:

بسم الله الرحمن الرحيم، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، أستغفر الله (ثلاثا)، وأتوب إلى الله مما يكره الله قولا وفعلا، وخاطرًا، وباطنا وظاهرا، أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحيَّ القيومَ وأتوب إليه، اللهم إني أستغفرك لما قدّمتُ وما أخرت، وما أسررت وما أعلنت، وما أنت أعلم به مني، أنت المقدِّم وأنت المؤَخّر، وأنت على كل شيء قديرٌ. أستغفر الله ذا الجلال والإكرام من جميع الذنوب والآثام. أستغفر الله لذنوبي كلها، سرِّها وجهرها، وصغيرها وكبيرها، وقديمها وجديدها، وأوَّلها وآخرها، وظاهرها وباطنها، وأتوب إليه. اللهم إني أستغفرك من ذنب تبتُ إليك منه ثم عدت فيه، وأستغفرك لما أردت به وجهك الكريم فخالطه ما ليس لك فيه رضًا، وأستغفرك لما وعدتُك به من نفسي ثم أخلفتك فيه، وأستغفرك لما دعاني إليه الهوي من قِبل الرُّخص مما اشتبه عليّ وهو عندك حرامٌ، وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت، يا عالِم الغيب والشهادة من كل سيئة عملتها، في بياض النهار وسواد الليل، في ملاءٍ وخلاءٍ، وسرّ وعلانية وأنت ناظرٌ إليّ إذا ارتكبتها، وأتيتُ بها من العصيان، فأتوب إليك يا حليمُ يا كريمُ يا رحيمُ. وأستغفرك من النعم التي أنعمتَ بها عليّ فتقوَّيتُ بها على معصيتك وأستغفرك من الذنوب التي لا يعرفها أحدٌ غيرك، ولا يطلع عليها أحدٌ سواك ولا سيعها إلا حلمك، ولا ينجيني منها إلا عفوك، وأستغفرك لكل يمين سلفتْ مني فحنِثْتُ فيها وأنا عندك مؤَاخَذٌ بها. وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت سبحانك إني كنتُ من الظالمين، فاستجبنا له ونجيناه من الغمّ وكذلك ننجي المؤمنين. وزكريا إذ نادى ربه ربِّ لا تذرني فردًا وأنت خير الوارثين. رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين. وأستغفرك من كل فريضة أوجبتها عليّ في آناء الليل وأطراف النهار فتركتها خطأ أو عمدًا أو نسيانًا أو تهاوُنًا أو جهلا وأنا معاقبٌ بها. وأستغفرك من كل سنة من سنن سيد المرسلين، وخاتم النبيين نبيك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم فتركتُها غفلةً أو سهوًا أو نسيانا أو تهاوُنا أو جهلا أو قلةَ مبالاةٍ بها. وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك، وأن محمدًا عبدك ورسولك، سبحانك يا رب العالمين، لك الملك ولك الحمد، وأنت حسبنا ونعم الوكيل، ونعم المولى ونعم النصير، ولا حول ولا قوة إلا بالله العليّ العظيم. يا جابر كل كسير، ويا مؤنس كل وحيدٍ، ويا صاحب كل غريب، ويا ميسّر كل عسير، يا من لا يحتاجُ إلى البيان والتفسير، وأنت على ما تشاء قديرٌ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد بعدد من صلى عليه، وبعدد من لم يصل عليه. اللهم صل على روح سيدنا محمد في الأرواح. اللهم صل على تربة سيدنا محمد في التراب. اللهم صل على قبر سيدنا محمد في القبور. اللهم صل على صورة سيدنا محمد في الصور اللهم صل على اسم سيدنا محمد في الأسماء، ﴿لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريصٌ عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم، فإن تولَّوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم﴾، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

*Fadhilah*

o Nabi SAW bersabda : Barang siapa yang membaca Istighfar Rajab, maka akan dibangunkan 80 negeri di surga, setiap negeri mempunyai 80 mahligai, setiap mahligai mempunyai 80 rumah, setiap rumah mempunyai 80 kamar, setiap kamar ada 80 bantal dan setiap bantal 80 bidadari..

o Nabi SAW, juga bersabda kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. : “wahai Ali, tulislah Raja Istighfar ini, karena siapa yang membacanya, atau menyimpan tulisannya didalam rumah, atau pada harta bendanya, atau tulisan itu dibawa kemana saja ia pergi, maka Allah SWT memberi kepadanya pahala 80000 nabi, 80000 shiddiqin, 80000 Malaikat, 80000 orang mati syahid, 80000 orang beribadah Haji Dan pahala membangun 80000 masjid.

Kedua, istighfar ijazah dari Almaghfurlah KH. Muhammad Anwar Basya Bin Abu Bakar Asnawi yang disebut dengan ‘Sayyidul Istighfar’, berikut teks istighfarnya:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Dan barang siapa yang membaca sayyidul istighfar di waktu sore 3 kali lalu ia wafat dimalam itu, maka ia masuk surga. Dan bila di baca 3 kali di pagi hari lalu ia wafat di hari itu maka ia masuk surga

3. Menghidupkan Malam Pertama di Bulan Rajab

Diriwayatkan dari Nabi orang yang menghidupkan malam pertama bulan Rajab, tidak akan mati hatinya tatkala banyak hati yang telah mati, Allah akan melimpahkan kebaikan kepadanya, dikelruarkan dosa-dosanya seperti layaknya dia dilahirkan oleh ibunya (kembali suci) dan dapat member syafaat (pertolongan kepada 70.000 ahli dosa, seperti yang dijelaskan di dalam kitab Mahalisul Anwar:

روي عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من أحيا أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ويشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد استوجبوا النار” (محالس الأنوار)

Lalu yang dilakukan untuk menghidupkan malam pertama dibulan Rajab, sebagai berikut:

a. Perbanyak Istighfar seperti yang sudah dijelaskan dimuka.

b. Sholat sunnah 20 rekaat dengan bacaan tiap2 rekaat berupa surat fatehah lalu disusul surat ikhlas dan salam sebanyak 10 kali, maka siapa orang yang menjalankan Allah akan menjaganya dari bala’ dunia dan siksa akhirat. Berikut dalilnya:

عن أنس بن مالك عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من صلى بعد المغرب في ليلة من رجب عشرين ركعة بقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب والإخلاص وسلم عشر تسليمات حفظه الله تعالى وأهل بيته وعيانه من بلاء الدنيا وعذاب الآخرة”.

c. Membaca doa

Telah disebutkan dimukan bahwa siapa yang berdoa di 5 malam (Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha) maka Allah tidak akan menolak doanya.

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

Dan Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani menuturkan dalam kitabnya yang berjudul الغنية bahwa salah satu doa yang dibaca di malam pertama dibulan Rojab:

إلهي تعرض لك في هذه الليلة المتعرضون. وقصدك القاصدون. وأمل فضلك ومعروفك الطالبون. ولك في في هذه الليلة تفحات وجوائز وعطايا ومواهب تمن بها على من تشاء من عبادك. وتمنعها ممن لم تسبق له العناية منك وها أنا منك الفقير إليك. المؤمل فضلك ومعروفك فإن كنت يامولاي تفضلت في هذه الليلة علي أحد من خلقك وجد عليه بعائدة من عطفك. وصل على سيدنا محمد وآله وصحبه وجد على بطولك معروفك يارب العالمين.

Adapun Sayyidina Ali R.A menghabiskannya untuk beribadah dengan membaca doa sebagai berikut:

اللهم صل على محمد وآله مصابيح الحكمة وموالي النعمة ومعادن العصمة وأعصمنى بهم من كل سوء ولا تأخذني على غرة ولا على غفلة ولا تحعل عواقب أمري حسرة وندامة وارض عني فإن مغفرتك للظالمين وأنا من الظالمين. اللهم اغفر لي ما لا يضرك وأعطني ما لا ينفعك فإنك الواسعة رحمته البديعة حكمته فأعطني السعة والدعة والامن والصحة والشكر والمعافاة والتقوى وافرغ الصبر والصدق علي وعلى أوليائك واعطني اليسر ولا تجعل معه العسر واعمم بذلك اهلي وولدي وإخواني فيك ومن ولدني من المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات.

4. Banyak Bersholawat

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: رأيت ليلة المعراج نهرا ماءوه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك، فقلت لجبراءيل لمن هذا؟ قال لمن صلى عليك في رجب.

Artinya: Nabi Muhammad Bersabda: Aku melihat ketika malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya manis melebihi manisnya madu, dinginnya melebihi dinginnya salju, wanginya melebihi wanginya minyak misik. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril: untuk siapa sungai itu wahai Jibril. Malaikat Jibril menjawab: sungai itu diperuntukkan orang yang bersholawat kepadamu di bulan Rajab.

5. Dzikir Kepada Allah

· Tanggal 1-10: سُبْحَانَ الْحَيِّ القَيُّوْمْ Sebanyak 100 kali sehari semalam.

· Tanggal 11-20: سُبْحَانَ اللّٰهِ الْأَحَدِ الصَّمَدْ Sebanyak 100 kali sehari semalam.

· Tanggal 21-30: سُبْحَانَ اللّٰهِ الرَّؤُوفْ Sebanyak 100 kali sehari semalam

Fadhilah : Barang siapa yang mau mengamalkanya maka akan diberi pahala yang tidak bisa disifati karena sangat banyaknya.

6. Perbanyak Doa

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

Adapun doa yang dianjurkan untuk dibaca terus menerus dari awal rajab sampai akhir romadlon sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ

Barang siapa yang mau membaca Doa tersebut, maka akan diberi Barokah Rizkinya, Umurnya, Anak keturunannya dan Diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya serta mendapat Rahmat keridhoan Allah SWT

7. Banyak Taubat

Dikatakan sebelumnya bahwasanya Rajab merupakan bulan istighfar, dari indikasi tersebut dapat dikatakan bulan rajab merupakan bulan yang tepat untuk melakukan taubat. Selain itu bulan Rajab merupakan bulan Allah yang dimana bulan khusus mencari rahmat Allah. Seperti tertulis dalam hadist sebagai berikut:

قال رسول الله صلى عليه وسلم رجب شهر الله وشعبان شهر أمتي ورمضان شهر أمتي.

dikatakan bahwa رجب memiliki tiga huruf: huruf ra’ (الراء) menunjukkan atas Rahmatnya Allah , huruf jim mengindikasikan جرم العبد dan huruf ba’ (الباء) menunjukkan kebaikan Allah (بر الله). Seolah-olah Allah mengatakan : “Wahai hambaku, aku jadikan kehajatanmu (جرمك) diantara rahmat dan kebaikanku agar kejaahatanmu tidak tetap dan berlanjut dengan menghormati bulan Rajab.

8. Amaliyyah Akhir Jumuah dari bulan Rajab

أن من قرأ آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر “أحمد رسول الله ، محمد رسول الله” خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدراهم من يده تلك السنة.

Artinya : Siapa orang yang membaca ini di akhir jumu’ah sedang khotib di atas mimbar

“أحمد رسول الله . محمد رسول الله” (35 x)

Maka orang itu kelak tidak akan diputus rizqinya selama setahun.

E Referensi:

(1) ابـن حجـر العسـقلاني، تبيين العجـب بـما ورد في رجـب.

(2) ابـن رجب الحنبلي، لطائف المعارف فـيما لمواسـم العـام مـن الوظـائف.

(3) أبو سعيد محمد بن علي الأصبهاني ، فضل الصيام.

(4) أبو محمد الحسن بن محمد بن الحسن الخلال، فضائل شهر رجب، (بيروت: دار إبن حزم، 1996).

(5) أحمد بن حجازي بن بدير الفشني، تحفة الإخوان في قراءة الميعاد في رجب وشعبان ورمضان، (مصر: مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، 1953).

(6) أحمد بن حجر العسقلاني، تبيين العجب بما ورد في شهر رجب

(7) الإمام الحافظ عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي، الجامع الكبير، (مصر: طبعة الهيئة المصرية العامة للكتاب عن مخطوطة نفيسة، 1987).

(8) الإمام العلامة عبد القادر الجيلاني، الغنية لطالبي طريق الحق، (سورية: دار الجيل، 1999).

(9) الإمام محمـد بـن إسـماعيل البخـاري رحمه االله، صحيح البخاري.

(10) الإمام مسـلم بـن الحجـاج النيسـابوري، صحيح مسلم.

(11) د.عبد االله بن عبد العزيز التويجري، البدع الحولية.

(12) سليمان بن جاسر بن عبد الكريم الجاسر، شهر رجب، (الرياض: حقوق الطبع محفوظة للمؤلف، 1433).

(13) شيرويه بن شهردار الديلمي، الفردوس بمأثور الخطاب، (لبنان: تحقيق السعيد بن بسيوني زغلول، 1986)

(14) عبد الحميد بن محمد علي بن عبد القادر قدس المكي الشافعي، كنز النجاح والسرور في الأدعية المأثورة التي تشرح الصدور، الطبعة الأولى، (دار السنابل-دار الحاوي، 2009).

(15) عبد العزيز بن أحمد الكتاني، فضائل شهر رجب.

(16) عثمان بن حسن بن أحمد الشاكر الخويري، درة الناصحين في الوعظ والإرشاد، (سورابايا: توكو كتاب الهداية).

(17) العلامة المؤرخ محمد أمين بن فضل بن محب الله المحبي، خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر، (لبنان: طبعة مصورة عن نشرة المطبعة الوهبية لدى دار صادر، 1284).

(18) محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح القرطبي أبو عبد الله، الجامع لأحكام القرآن.

(19) ملا على القاري الهروي، الأدب في رجب.

 

Oleh:

Mohammad Bahauddin

Alumni Qudsiyyah Kudus sekaligus Dosen STAIN Kudus 

GUSJIGANG: PRINSIP BISNIS RASULULLAH

Keberhasilan suatu bisnis bagi  seorang muslim tidak diukur dari besarnya laba atau keuntungan yang diperoleh, misalnya mempunyai rumah megah, deposito disetiap bank, mobil yang mewah, istri yang banyak, dibangunnya gedung bisnis bertingkat nan megah. Keberhasilan bisnis seorang muslim tidak diukut dengan itu, namun diukur dengan niali bagaimana bisnisnya itu bermanfaat untuk kepentingan umat dan mendapat ridlo oleh Allah dengan perilaku penuh kejujuran. Untuk melakukan bisnis memang sulit, namun bila kita menggunakan ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Agama, insya Allah perjalanan bisnis akan mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Fenomena yang ada dalam dunia perdagangan atau bisnis di Negara kita Indonesia  ini, banyak sekali pelanggaran atau penyimpangan dalam berbisnis. Banyak dari mereka yang masih berusaha melanggar perjanjian, manipulasi dalam segala tindakan. Mereka kurang memahami etika bisnis, atau mungkin saja mereka faham tapi memang tidak mau melaksanakan.

Selain ditanamkan akhlak atau etika, sebuah bisnis dapat berkembang dan sukses   harus dimulai usaha dengan membuat rencana bisnis yang memiliki fleksibilitas dan inovasi. Dengan kata lain orang yang melakukan usaha bisnis harus banyak belajar agar memiliki kreatifitas dalam memasarkan (mempromosikan) usahanya.

Pada hakekatnya Islam sebagai suatu agama besar telah mengajarkan konsep-konsep unggul lebih dulu dari Protestan, akan tetapi para pengikutnya kurang memperhatikan dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam sebagaimana mestinya. Nabi Muhammad SAW telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen, dan etos kerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika kerja dan manajemen bisnis tersebut telah mendapat legitimasi keagamaan setelah Beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau awal 21. Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, tranparan, persaingan yang sehat dan kompetitif, semua telah menjadi gambaran pribadi Nabi Muhammad ketika masih muda. (Prof. K.H Ali Yafie, dkk, 2003: 11-12)

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh dua hal pokok, yaitu kepridadian yang amanah dan terpercaya, serta pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Kedua hal tadi merupakan pesan moral yang bersifat universal yang uraianya antara lain sebagai berikut:

1. Shiddiq,yaitu benar dan jujur, tidak pernah berduata dalam melakukan berbagai macam transaksi bisnis. Hal tersebut juga dijelaskan dalam firman Allah

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)

Artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”(QS. Al-Muthaffifin:1-3)

2. Kreatif, Berani, dan Percaya diri. Ketiga hal ini mencerminkan kemauan berusaha untuk mencari dan menemukan peluang-peluang bisnis yang baru, prospektif, dan berwawasan masa depan, namun tidak mengabaikan prinsip kekinian.

3. Tabligh, yaitu mampu berkomunikasi dengan baik. Yaitu: supel, cerdar, cepat tanggap, koordinasi dan supervisi.

4. Istiqamah, yaitu secara konsisten menampilkan dan mengimplementasikan nilai-nilai di atas walaupun mendapatkan godaan dan tantangan. Hanya dengan istiqamah dan mujahadah, peluang-peluang bisnis yang prospektif dan menguntungkan akan selalu terbuka lebar. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”(QS. Al-Ahqaaf: 13)

Dari beberapa dasar tersebut di atas menunjukkan bahwa menghadirkan dan mengimplementasikan strategi bisnis Rasulullah SAW pada saat sekarang akan tetap relevan dan actual, karena prisip-prinsip yang telah dibangun Rasulullah SAW merupakan prinsisp yang universal dan tidak terbatas oleh ruan dan waktu. Hanya saja diperlukan kesungguhan, kedisiplinan dan keyakinan untuk terus mengaplikasikanya. (Dr. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc, 2003: 57)

Orang-orang yang sukses pada umumnya memiliki dan menampilkan sifat-sifat pribadi atau ciri-ciri watak, sebagaimana pendapat “The Liang Gie”, diantaranya (The Liang Gie, 1996: 20-21):

1. Kreatifitas: adalah pikiran lincah yang senantiasa bergerak menghasilkan ide-ide baru.

2. Integritas: adalah akhlak yang luhur dan hati yang bersih sehingga mempunyai berbagai kebajikan hidup (misalnya kejujuran, kesetiaan, semangat pengabdian, rasa tanggungjawab).

3. Kapabilitas: adalah keterampilan kerja, kemahiran memutuskan dan pengetahuan efisiensi yang diperoleh dari pendidikan formal, pengalaman hidup maupun terutama pengembangan diri.

Konsep perdagangan (bisnis) yang diajarkan oleh nabi Muhammad ialah apa yang disebut value drive, artinya menjaga, mempertahankan, menarik nilai-nilai dari pelanggan. Value drive juga erat hubunganya dengan apa yang disebut relationsip marketing, yaitu berusaha menjalin hubungan erat antara pedagang, produsen dengan para pelanggan. (Prof. Dr. H. Buchari Alma, 2003:21)

Sifat Rasulullah dalam berbisnis, seperti yang diungkapkan oleh Syafi’I Antono (Harian Republika, Juni, 2002) yang ditulis oleh Buchari Alma, sebagai berikut:

1. Siddiq,benar, nilai dasarnya ialah integirtas, nilai-nilai dalam bisnisnya berupa jujur, ikhlas, terjamin, dan keseimbangan emosional.

2. Amanah, nilai dasarnya terpercaya, dan  nilai-nilai dalam berbisnisnya ialah adanya kepercayaan, bertanggung jawab, transparan, dan tepat waktu

3. Fathonah, nilai dasarnya ialah memiliki pengetahuan yang luas, nilai-nilai dalam berbisnis ialah memiliki visi, pemimpin yang cerdas, sadar produk, dan jasa, serta belajar berkelanjutan.

4. Tabligh, nilai dasarnya ialah komunikatif, dan nilai bisnisnya ialah supel, penjual yang cerdas, deskripsi tugas, delegasi wewenang, kerja tim, koordinasi, ada kendali dan supervisi.

5. Syaja’ah, artinya berani, nilai bisnisnya adalam mau dan mampu menambil keputusan, menganalisa data, keputusan yang tepat dan cepat tanggap.

Sifat-sifat dasar ini merupakan pesan universal dari akhlak atau etika dan keterampilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis sehingga dapat membawa sukses dalam berbisnis.

Orang beretika atau berakhlak adalah orang yang memiliki perilaku yang bagus karena seseorang yang buruk lakunya, tentu akan berakibat panjang, paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain terhadap dirinya, dan pada gilirannya akan merugikan usaha dagangnya. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan atau keterampilah adalah orang senantiasa belajar dan mengaji dari lingkungan sekitar untuk mendapatkan ide-ide kratif yang nantinya digunakan untuk mengembangkan usahanya. Konsep-konsep dalam berdagang atau berbisnis di atas secara tutur tinular dikenal dengan istilah GUSJIGANG (Bagus, Mengaji/Mengkaji, Dagang).

Kata ‘gusjigang’ mengandung arti ‘ bagus – mengaji – berdagang’ adalah filosofi dari Sunan Kudus. Filosofi ‘gusjigang’ merupakan personifikasi Sunan Kudus agar masyarakat Kudus mempunyai budipekerti yang baik (masalah moralitas, ahklak), pandai mengaji yang berarti menuntut ilmu, rajin beribadah, dan pandai berdagang. Ada yang mengartikan mengaji adalah rajin beribadah, dan ‘ji’ ada  yang  mengartikan  kaji. Dalam telaah makna ‘gusjigang’ dalam kehidupan orang Kudus, dengan memperhatikan pandangan ‘dari dalam’, yaitu dari sudut pandang tineliti (orang Kudus-pedagang)  yaitu world view  orang  Kudus  atas  etos  dalam  ‘gusjigang’.  Dalam kerangka ini pemaknaan ‘gus- ji – gang’ pada pedagang Kudus mengandung tiga unsur nilai yang berbeda. Pengungkapan makna ‘gus’ (bagus ahklaknya) akan berbeda analisisnya dengan pengungkapan makna ‘ji’ (belajar, menuntut ilmu), dengan pemaknaan ‘gang’ (pandai berdagang). Namun ketiga unsur ini adalah satu kesatuan. Artinya,   seseorang (pedagang) yang menjalankan ‘ji’ dan ‘gang’ sebagai pedagang yang menjalankan praktik berdagang dengan baik, maka dalam konteks ini seseorang pedagang tersebut dapat disebut memiliki ‘gus’.

Nilai-nilai seperti ini, setelah melalui proses waktu yang cukup, melembaga dan yang pada akhirnya terlembagakan dalam tata nilai masyarakat Kudus, bersifat evaluatif, dan sekaligus merupakan bagian dari tradisi atau budaya masyarakat secara  keseluruhan. Hal ini karena secara psikis seseorang cenderung memasukkan segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya seperti simbol-simbol yang mencerminkan dunia di sekitarnya, norma, budaya, kehidupan sosial, serta perilaku orang yang akrab dengannya ke dalam sistem gejala kejiwaannya. Proses internalisasi pengalaman ini kemudian mempengaruhinya dengan cara tertentu ketika memahami, merasa, berpikir dan berbuat. ( Vinacke, 1992: 285)

 Tradisi lokal masyarakat Kudus yang merujuk kembali kepada figur  Sunan Kudus merupakan modal dasar dalam berusaha sehingga bisa dikatakan pengusaha-pengusaha Kudus berhasil dalam usahanya. Sebagai ilustrasi, industri milik pribumi di Indonesia sampai tahun 1930-an belum banyak berarti. Berbeda dengan ini, Kudus tahun 1910-an telah terkenal sebagai pusat industri  rokok kretek, dan pengusaha pribumi pada  waktu itu sangat dominant. (The Kian Wee, 1994: 16) Dan sampai sekarang Gusjigang mampu dipertahankan  dengan baik, sehingga bisnis industrialiasasi di Kabupaten Kudus bisa dijadikan model yang relevan sesuai dengan potensi dan karakter masyarakatnya.

Dengan demikian, sifat-sifat atau prinsip-prinsip dasar perilaku Nabi Muhammad SAW yang tercermin atau merupakan refleksi dari konsep gusjigang dalam berbisnis dapat membawa sukses dalam berbisnis. Karena hal ini merupakan suri tauladan yang baik diikuti agar bisnis yang digeluti dapat berkembang dengan baik dan akan membawa hasil yang sangat maksimal, khususnya bagi umat Islam dan umumnya bagi semua umat manusia.

Daftar Pustaka :
– Alma, Buchari, 2003, Dasar-dasar Etika Bisnis Islami, Bandung: Alfabeta.
– Gie, The Liang, 1996, Strategi Hidup Sukses, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Liberty.
– Hafidhuddin, Didin, M.Sc. dan Hendri Tanjung, 2003, Manajemen Syariah dalam Praktik, Jakarta: Gema Insani Press.
– Pareno, Sam Abede, 2002, Etika Bisnis: Wirausaha Muslim Suatu Arah Pandang,Surabaya: Papyrus.
– Soenarjo, 1991, Al-Qur’an dan Terjemahanya,Bandung: Gema Risalah Press.
– Vinacke, 1992, The Psycholgy of Thinking, Toronto: Mc Graw Hill Book Company Inc.
– Wee, The Kian, 1994, Industrialisasi di Indonesia; Beberapa Kajian, Jakarta: LP3ES.
– Yafie, Ali, dkk, 2003, Fiqih Perdagangan Bebas, Bandung: Teraju kelompok Mizan.

Oleh:
H. Ihsan
Ketua Umum Ikatan Alumni Qudsiyyah

Dua Alumni Qudsiyyah Dakwah di TV One

QUDSIYYAH, KUDUS – Program dakwah akhir pekan oleh salah satu stasiun televisi Nasional tayang live dari Kudus. Acara berjuluk Damai Indonesiaku oleh TV One itu memilih lokasi di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu (11/11/2017) siang. Uniknya acara yang memilih tema “Uswatun Hasanah” tersebut menampilkan dua alumni Qudsiyyah yang ditayangkan live ke seluruh penjuru tanah air.

Ya, H. Abdullah Rosyad, alumni Qudsiyyah tahun 1991 ini bertindak membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Sesuai tema yang diangkat, alumni yang berasal dari Mindahan Jepara yang kini juga mengajar di MI Qudsiyyah Kudus tersebut membacakan surat al- Ahzab ayat 21. Dengan suara yang yang lantang dan merdu, pria yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren al-Istiqomah, Demaan Kudus ini membaca ayat suci dengan apik dan menyentuh kalbu.

Lihat Video lengkapnya di sini

Berikutnya, alumni yang dakwah dan tayang di Tv One adalah KH. Idham Kholid. Lulusan MA Qudsiyyah tahun 1990 ini berceramah dihadapan Bupati Kudus, H. Mustofa, Jam’iyyah Yasin Fadhilah Kudus serta seluruh pemirsa televisi dengan mengakat tema Uswatun Hasanah.

Pria yang berasal dari Kedungwaru Lor Karang Anyar Demak tersebut menjabarkan suri tauldan dari Kanjeng Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyatakan, rahmat diutusnya Rasulullah jauh lebih banyak dirasakan oleh kaum ibu dibandingkan dengan kaum bapak-bapak. Sebelum Rasul lahir, disebut zaman jahilillah, begitu rusaknya akhlak, begitu hinanya kaum wanita. “Kelahiran Rasulullah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita,” ungkapnya.

Kyai Idham mengatakan, Al Qur’an yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, salah satu suratnya ada yang bernama An-Nisak yang artinya Wanita. Juga, surat pembuka al- Qur’an, surat Al-Fatihah, disebut juga dengan istilah Ummul Kitab yang berarti induk atau ibu kitab. “Ini adalah bukti Rasulullah hadir untuk memulyakan kaum wanita,” jelasnya.

Dalam pemberian ceramah tersebut juga dilakukan tanya jawab dengan hadirin yang kompak berbaju putih di dalam pendopo kabupaten Kudus tersebut. Selain itu KH Idham Kholid, acara Damai Indonesiaku Tv One tersebut juga diisi oleh penceramah Kh. Soemarno Syafi’I, dengan mengangkat tema yang sama yakni Uswatun Hasanah. (Kharis)

Lihat Video lengkapnya di sini

JURNALIS ALUMNI QUDSIYYAH RAIH DIVERSITY AWARD 2016

QUDSIYYAH, JAKARTA – Salah satu kado indah diberikan alumni Qudsiyyah pada momentum ulang tahun ke 100 Madrasah Qudsiyyah Kudus. Furqon Ulya Himawan, alumni Qudsiyyah yang berkarir di dunia jurnalistik, meraih penghargaan Diversity Award 2016, akhir Agustus ini.

Karya jurnalistik yang dibuat oleh alumni Qudsiyyah tahun 2003 ini, terpilih menjadi berita media cetak terbaik versi Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (disingkat; Sejuk). Diversity Award 2016 adalah penghargaan karya jurnalistik tentang toleransi beragama. Program ini merupakan inisiatif Sejuk untuk memberikan apresiasi atas kerja-kerja jurnalistik yang mengimani bahwa keberagaman mesti dihargai dan dirayakan.

Karya Furqon Ulya Himawan yang bernaung di jurnalis Media Indonesia ini berjudul “Toleransi Memudar di Kota Pelajar”. Dalam berita itu, Yaya, sapaan akrabnya, mencoba memotret kejadian intoleransi yang ada di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Ia bercerita, ide bermula ketika dirinya melihat banyak tindakan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Padahal, kota pelajar itu terkenal sebagai ‘City of Tolerant’ sejak 2010-an.

“Kemudian dicoreng sendiri oleh orang-orang yang mengaku sebagai warga Jogja. Orang-orang yang mengaku beragama, tapi melakukan tindakan intoleran,” ungkap Yaya, sebagaimana dikutip dalam Metrotvnews.com usai menerima penghargaan di Goethe-Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Pada 2015 misalnya, banyak tindakan intoleransi terjadi di Yogyakarta. Mulai dari pembubaran acara diskusi, acara nonton film, dan acara-acara seni lainnya yang dinilai bertentangan dengan pemahaman keagamaan sejumlah warga. Pernah juga terjadi pembubaran terhadap pondok waria, bahkan sempat ada pula rencana penggusuran.

“Itu kan sebenarnya merupakan tindakan intoleran. Mereka membenarkan melakukan tindakan tersebut berdasarkan doktrin agama yang mereka miliki. Intinya, selain kelompok dia, salah semua,” terang Yaya.

Kebetulan, jelas Yaya, The Wahid Institute dan Setara Institute menobatkan Yogyakarta sebagai kota intoleran. Kota yang khas dengan makanan gudeg itu ada di deretan lima kota terbesar di Indonesia yang melakukan tindakan intoleran.

“Ini jadi dipertanyakan, karena Jogja sebagai City of Tolerant, tapi melakukan tindakan intoleran. Ini kan menarik jadi pertanyaan,” kata dia.

Alumni Qudsiyyah yang masih Jomblo ini berhasil menyisihkan dua jurnalis lainnya dalam daftar nominasi peraih Diversity Award 2016 kategori media cetak. Mereka adalah Kodrat Setiawan dari Koran Tempo, dan jurnalis Media Indonesia lainnya, Ardhy Winata Sitepu. Berita hasil karya Kodrat berjudul Pembongkaran Gereja Diwarnai Isak Tangis Jemaat, sementara berita hasil karya Ardhy yang masuk daftar nominasi berjudul Polemik Pendidikan Agama di Aceh Singkil.

Selain kategori media cetak, penghargaan Diversity Award 2016 juga diberikan untuk kategori radio. Jurnalis radio yang masuk nominasi antara lain Rio Tuasikal dari Radio KBR68H dan Margi Ernawati dari Radio Elshinta Semarang. Pemenang Diversity Award 2016 kategori Radio dimenangkan oleh Margi Enawati.

Sejuk juga memberikan penghargaan Diversity Award 2016 untuk kategori media foto. Ada tiga fotografer yang masuk daftar nominasi, yakni dua fotografer AFP Aman Rohman dan Hotli Simanjuntak (AFP), juga fotografer Antara Jessica H Wyusang. Penghargaan untuk kategori media foto diraih Jessica H Wuysang.

Sedangkan, dalam kategori media online, ada dua jurnalis yang masuk nominasi, yakni Abraham Utama dari CNN Indonesia dengan judul berita Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia. Satu lagi Heyder Affan dari BBC Indonesia dengan judul berita Aliran Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia. Penghargaan dimenangkan oleh Heyder Affan. (*)

Mempopulerkan Shalawat Kebangsaan Karya KHR Asnawi

DALAM rangkaian satu abad Qudsiyyah digelar acara “Mendaulat Shalawat Asnawiyyah sebagai Shalawat Kebangsaan” oleh Cak Nun bersama Kyai Kandjeng (3/8/2016). Pada hakikatnya acara itu adalah penegasan kembali tentang keberadaan shalawat Asnawiyyah yang sangat memiliki nilai cinta bangsa dan do’a abadi kedamaian Indonesia. Sebelum Cak Nun, Habib Syekh sudah membawa shalawat Aswiyyah dikumandangkan setiap majelis shalawat, baik di dalam negeri atau luar negeri.

Dan jauh sebelum itu, para kyai dan santri KHR Asnawi juga sudah mengenalkan dan mempopulerkan shalawat karya Mbah Asnawi ini. Buktinya nyata, bahwa di pesantren berbasis NU sangat mengenal bait-bait shalawat Asnawiyyah tersebut. Lagu dan nada pelantunannya memang berbeda-beda sesuai dengan selera dimana shalawat itu dikumandangkang.

Bagi generasi masa sekarang, memang sangat perlu penegasan kembali eksistensi shalawat ini. Tepat jika momentum satu abad menjadi pijakan untuk mendaulat shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Dan pasca mendaulat, masih banyak PR yang harus dilakukan. Sebab jika hanya didaulat saja, maka akan sepi dari makna aslinya. Sebab shalawat itu adalah kalimat yang perlu dilafadzkan, bukan hanya didaulat.

Maka yang paling penting hari ini adalah mencetak generasi shalawat, kader yang cinta shalawat dengan membaca shalawat Asnawiyyah. Akan lebih mulia jika pembacaan shalawat Asnawiyyah dijam’iyyahkan dan dirutinkan. Maka jam’iyyah seperti Rebana Al Mubarok Qudsiyyah menjadi salah satu garda depan penjaga eksistensi shalawat Asnawiyyah. Sudah 11 album yang dikeluarkan oleh Al Mubarok selalu mengumandangkan shalawat Asnawiyyah.

Bagaimana isi dari shalawat Asnawiyyah sehingga layak disebut shalawat kebangsaan? Pertanyaan ini selalu saya terima dari banyak kawan yang masih belum paham secara detail isi dari shalawat itu. Maka ada tanggung jawab akademik yang harus dijelaskan. Penulis dengan segala kekurangan berikhtiyar membaca hermeneutika shalawat Asnawiyyah.

Sang pencipta shalawat Asnawiyyah bernama KHR Asnawi yang hidup di abad 19. Sosok Kyai Asnawi dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan penjaga garis Islam ahlussunnah wal jama’ah. Kiprahnya tidak hanya di lingkup lokal Kota Kudus, tetapi kiprah di level nasional dan internasional. Dalam bidang karya tulis, Mbah Asnawi juga melahirkan banyak karya: Fashalatan, Mu’taqad Seket, Fiqhun Nisa’ dan Syi’ir-Syi’ran Nasehat. Yang paling khas dikenal dari karya Mbah Asnawi adalah shalawat Asnawiyyah.

Dalam hal karya tulis, Mbah Asnawi memiliki karakter seperti gurunya KH Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat). Dua tokoh ini meninggalkan karya-karya yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf pegon al-Marikiyyah. Dalam hal ketegasan menolak penjajah, pengaruh Mbah Sholeh Darat dalam pribadi Mbah Asnawi sangat kuat. Terbukti Mbah Asnawi sangat menolak dasi, celana dan pakaian yang menyerupai Belanda.

Sikap itu juga dimiliki oleh Mbah Sholeh Darat yang ditulis dalam Kitab Majmu’atus Syari’ah halaman 25: “Sopo wonge nganggo penganggone liyani ahli Islam kaya klambi jas, topi utowo dasi, moko dadi murtad rusak Islame senadyan atine ora demen” (barang siapa yang memakai pakaian yang bukan milik Islam seperti jas, topi dan dasi, maka ia menjadi murtad dan Islamnya rusak. Walaupun hatinya tidak suka).

Dari profil singkat itu dapat diketahui, bahwa rasa kebangsaan yang dimiliki oleh Mbah Asnawi memang didasarkan ajaran-ajaran gurunya, termasuk meniru Rasulullah dalam memperjuangkan agama Islam. KHR Asnawi paham betul bahwa Indonesia saat itu sangat membutuhkan kekuatan Islam dengan model damai. Shalawat Asnawiyyah yang diciptakan itu menandakan bahwa pribadi Mbah Asnawi adalah pribadi ulama yang sangat kuat cinta bangsanya.

Isi dari shalawat ini adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الرَّسُوْ *  لِ مُـحَمَّدٍ سِرِّ العُلَا

وَالأَنْبِيَا وَالـمُرْسَلِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ           * نَ الغُرِّ خَتْمًا أَوَّلَا

يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَـــــــــــــــــــــــــــــــــا            * بِنُوْرِ قُرْأَنٍ جَلَا

وَافْتَحْ لَــنَــــــــــــــــــا بِدَرْسِ أَوْ            * قِرَاءَةٍ تُرَتـَّـــــــــــــــــــــــلَا

وَارْزُقْ بِفَهْمِ الأَنْبِيَـــــــــــــــا   * لَنَا وَأَيَّ مَنْ تَلَا

ثَبِّتْ بِهِ إِيْـــمَانَـــنـَـــــــــــــــــــــــا  * دُنْيَا وَأُخْرَى كَامِلَا

أمان أمان أمان أمان   * بِانْدُنْسِيَا رَايَا أَمَانْ

أمين أمين أمين أمين   * يَا رَبِّ رَبَّ العَالـَمِيْن

أمين أمين أمين أمين   * وَيَا مُـجِيْبَ السَّائِلِيْن

Shalawat Asnawiyyah diterjemahkan oleh Ustadz Nur Amin (guru Qudsiyyah) sebagai berikut:

Wahai tuhanku berilah * sholawat kepada rasul

Baginda Nabi Muhammad * yang punya rahasia unggul

Dan para nabi dan rasul * awal akhir mulya betul

Wahai tuhanku berilah * sinar pada hati kami

Dengan cahaya al-Qur’an * yang agung serta nan suci

Dan bukalah kami sebab * baca Qur’an yang teliti

Dan berilah rizqi dengan * kefahaman para nabi

Untuk kami orang-orang * yang membaca dan mengaji

Iman tetap sebab Nabi * dunia akhirat terpuji

Aman  aman  aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * aman aman aman aman

Aman  aman aman aman * Indonesia raya aman

Amin amin amin amin * Amin amin amin amin

Amin amin amin amin * ya perumat alam semesta

Amin amin amin amins * ya pengkabul para peminta

Dari sebelas bait shalawat Asnawiyyah ini meman terkandung makna yang sangat luar biasa. Ruh yang paling inti adalah pujian kepada Rasulullah Saw. Sebab esensi dari shalawat adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw yang memiliki rahasia kehidupan. Do’a untuk penyinar hati juga disanjungkan dengan tuntunan al-Qur’an. Rasa cinta kepada al-Qur’an juga diaktualisasikan dengan mahirnya dalam membaca dan mengaji secara tartil. Dan itulah rizki yang sangat dinanti. Penguatan keimanan dan keselamatan dunia sangat dinanti. Do’a yang dipanjatkan setelah itu adalah keamanan bagi bangsa Indonesia. Kalimat qabul disandarkan pada Allah Swt.

Itulah hebatnya shalawat Asnawiyyah yang jika dibedah memiliki lima dimensi yang tidak bisa dipisahkan: Pertama, dimensi ketuhanan. Bahwa semua orang yang hidup selalu bergantung pada kekuasaan Allah. Kedua, dimensi kenabian. Bahwa Rasulullah Saw adalah figur idola yang sangat dinantikan syafa’atnya. Ketiga, dimensi Qur’ani. Untuk memahami Islam yang perlu dipegang adalah al-Qur’an dengan membaca isinya (paham bahasa Arab dan tafsir) dan ahli tarlil (paham tajwid dan ilmu al-Qur’an). Keempat, dimensi teologi. Penegasan keimanan dalam agama Islam itu menjadi sangat penting sebagai bekal selamat di akhirat. Dan kelima, dimensi kebangsaan. Mbah Asnawi memberi pesan bahwa empat dimensi yang terkandung dalam isi shalawat itu tidak akan mudah diwujudkan jika negara dalam kondisi tidak aman. Maka do’a untuk Indonesia aman, damai, gemah ripah loh jinawe itu yang dimaksudkan dari isi shalawat ini.

Jadi sangat mulia sekali isi shalawat ini. Dan perlu ditegaskan bahwa karya Mbah Asnawi yang berisi tentang nilai kebangsaan tidak hanya berupa shalawat Asnawiyyah ini. Hampir semua sya’ir-sya’ir yang dikaryakan selalu menyinggung tentang pentingnya cinta agama dan cinta bangsa Indonesia. Maka tepat jika, KH Musthofa Bisri menyebut bahwa KHR Asnawi adalah orang ‘alim yang sangat Indonesia, bukan kearab-araban walaupun lama di Arab. Maka sudah saatnya kita mempopulerkan shalawat Asnawiyyah sebagai shalawat kebangsaan. Wallahu a’lam. (*)

M. Rikza Chamami

Alumni Qudsiyyah 2000, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang