Lengkong, Pengajian Penutup Jilid Pertama

QUDSIYYAH, KUDUS – Bergerak menuju daerah perkotaan Demak, Qudsiyyah menyelenggarakan pengajian di Lengkong, Desa Mulyorejo Kec. Demak, Demak. Meskipun terpisahkan jarak yang jauh, namun terdapat basis kecil alumni Qudsiyyah di wilayah Kota Demak, tercatat beberapa santri Qudsiyyah berasal dari Demak, baik yang nglaju maupun bermuqim di Pondok. Pengajian dilaksanakan pada 20 Sya’ban 1437 H. / 26 Mei 2016 sebagai kelanjutan dari rangkaian roadshow dakwah “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi”, bertempat di halaman Madrasah Asy-Syafi’iyyah, Mulyorejo Demak.

Selain memeriahkan gaung satu abad Qudsiyyah, kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama antara Lembaga Pendidikan Qudsiyyah dan Asy-Syafi’iyyah, diselenggarakan dalam rangka haflah Akhirus sanah madrasah Asy-Syafi’iyyah. Pengajian akan dimeriahkan oleh Jam’iyyah ad-Dufuf al-Mubarok Qudsiyyah dan Gus Apang yang akan memimpin pembacaan maulidurrasul. Pengajian juga dihadiri oleh segenap asatidz Madrasah Qudsiyyah, terutama KH. Noor Halim Ma’ruf yang rencananya akan memberikan siraman tausyiah untuk para hadirin pada kegiatan tersebut.

Pengajian di Lengkong merupakan penutup Roadshow pengajian jilid pertama. Menurut Ketua Kegiatan satu abad Qudsiyyah, H. Ihsan, M.Ag bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan alumni Qudsiyyah di Jepara, Yogyakarta bahkan Pekalongan setelah Hari raya lebaran 1437.

UIN Walisongo Bershalawat bersama Qudsiyyah

QUDSIYYAH, SEMARANG – Setelah Kudus, Demak dan Jakarta, kini pengajian “mubeng” atau roadshow dakwah Qudsiyyah bergerak menuju Ibukota Jawa Tengah, Semarang. Pengajian di gelar di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada Selasa (24/5). Sebagai kelanjutan dari rangkaian roadshow dakwah “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi”, pengajian dihadiri oleh santri-santri Kudus yang kini menimba ilmu dan para alumni Qudsiyyah yang menetap di Kota Semarang.

Selain memeriahkan gaung satu abad Qudsiyyah, pengajian diselenggarakan dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Menyongsong Bulan Suci Ramadlan, mengingat bulan Ramadlan tinggal menghitung hari saja. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama MAQDIS (Mahasiswa Qudsiyyah di Semarang) bekerjasama dengan JQH Fak. Syariah dan KMKS (Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang). Menurut penuturan anggota KMKS, bahwa Qudsiyyah adalah bagian dari keluarga dan Mbah Asnawi merupakan guru dan pejuang bangsa, “turut bangga meneladani dakwah beliau, kami siap membumikan Gusjigang,” imbuhnya.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh KH. Noor Halim ini dihadiri juga ustadz H. Ashfal Maula dan ustadz Elham (Yogyakarta) yang akan memimpin maulidurrasul simthud duror. Dalam dakwahnya, Yai halim mengingatkan semua hadirin untuk tidak menyia-nyiakan shalat. “Shalat adalah oleh-oleh Nabi dari perjalanan mi’raj”, terangnya, “sepadat apapun aktivitas kita sebagai civitas akademika ataupun pekerja, jangan sekali-kali mengakhirkan shalat”. Beliau menekankan betapa mengakhirkan shalat dari waktunya merupakan tindakan yang ceroboh, apalagi jika ditinggalkan tanpa udzur.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 1000 jamaah tersebut, Dr. Izzuddin, Dosen Falak di UIN Walisongo serasa bernostalgia meski hanya seminggu bersekolah di Qudsiyyah, dan harus pindah karena suatu alasan. Beliau berkesan betapa kompak alumni Qudsiyyah, tanpa menghiraukan lama studi atau kelulusan. Perihal kekompakan, Drs. Nadjib Hassan, Ketua YAPIQ ini setuju dan mengakui. beliau berharap momen ‎ satu abad Qudsiyyah menjadi perekat alumni, sehingga ikatan ukhuwwah ala Qudsiyyah semakin kuat dan bermanfaat.

Pengajian malam tersebut ditutup dengan Doa oleh KH. Fatkhur Rahman. Suasana khidmah para hadirin mengamini runtutan doa menutup kegiatan roadshow pengajian ini. Selanjutnya, pengajian akan diadakan di Kota Demak, tepatnya di desa Mulyorejo pada 26 Mei 2016

Kibarkan Dakwah Mbah Asnawi hingga Ibukota

Nishfu Sya’ban dimanfaatkan sebagai momen silaturrahmi IKAQ JABODETABEK. Dalam rangkaian Roadshow #1abadqudsiyyah bertemakan “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi, kegiatan dilakasanakan selama 1 hari penuh pada tanggal 22 Mei 2016 di 3 tempat. Paginya pertemuan alumni di Cipayung Jakarta Timur tepatnya di Kediaman Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D

Pengajian dibuka pukul 10.00 WIB dimana para alumni, bahkan dari JABODETABEK dan Lampung telah menunggu rombongan Kudus. Acara diisi tahlil dan maulid nabi terasa khusyu’ dengan hadirnya sesepuh madrasah, KH. Noor Halim ma’ruf dan KH. Fathur Rahman. Kegiatan juga dihadiri oleh Ketua YAPIQ, H. Nadjib Hassan dan Ketua alumni Qudsiyyah (IKAQ), H. Ihsan.

Setelah singgah di Kediaman, H. Nusron Wahid, kegiatan selanjutnya berlanjut di Tangerang, dimana para rombongan menghadiri penutupan Dzikir Ratibul Haddad dan Shalawat Nariyah di Masjid Ishlahiyyah, Perum Rajeg Asri yang juga diikuti oleh ratusan alumni Qudsiyyah. KH. Fathur Rahman sangat tersentuh melihat gema ‪‎satu abad Qudsiyyah‬ sampai di Ibukota, “Alhamdulillah, pada malam ini kami sangat berbahagia karena menyaksikan salah satu dari santri kami telah turut berpartisipasi mengembangkan ajaran ahlus sunnah wal jamaah di tengah masyarakat”, tutur Yai Khur dalam pengajian malam itu.

Mengupas Shalawat dari Seni dan Sisi Akademis

Setiap hal dibahas dalam disiplin ilmu tersendiri, begitu pula syair arab klasik. Syair yang masyhur di Indonesia berupa shalawat dan Qosidah memiliki cabang ilmu tersendiri yang disebut “Arudl”.

QUDSIYYAH – KUDUS Unik, Qudsiyyah mengadakan seminar dengan fokus pembahasan yang unik. Mengambil Tema “Menggali Khazanah Syair Shalawat”, seminar ini fokus pada ilmu Arudl yang notabene sudah langka. Bekerjasama dengan KOMPAQ dan FORMI UMK, seminar yang diadakan di Auditorium UMK (Universitas Muria Kudus) pada Jumuah (20/5) tersebut dihadiri hampir 500 peserta dari sekolah dan pondok. Peserta telah melakukan registrasi 2 minggu sebelumnya kepada panitia.

Langka; bukan hanya jarang yang belajar, tetapi karena tak banyak yang menguasai dan mengajarkan ilmu arudl. Seperti yang disampaikan Keynote Speaker, KH. M. Saifudiin Luthfi bahwa ilmu Arudl makin jarang dikaji karena membahas syair arab dan literatur klasik peninggalan ulama. Tak banyak yang tahu bahwa seni syair arab ini dianalisis secara akademis dengan arudl.

Sejarah keilmuan Arudl justru muncul jauh setelah para pencipta syair klasik tiada dan Imam Kholil merumuskan beberapa pola atau wazan sebagai kerangka syair yang telah ada, jelas Kyai Saifuddin. Ilmu arudl tidak hanya bertujuan untuk mengetahui kesalahan sebuah syair, melainkan untuk menciptakan dan menggubah syair sesuai dengan aturan dan polanya. Ternyata banyak shalawat yang tidak tergolong syair karena tidak sesuai dengan bahar atau jenis syair.

Arief Budiman, pemateri pertama dalam seminar tersebut menjelaskan betapa banyak penggunaan syair dalam masyarakat. Dosen sastra asia-barat ini mengungkap bahwa masyarakat kebanyakan tidak mengetahui yang mereka lagukan adalah syair, sebaliknya banyak prosa arab yang justru dianggap sebagai syair.

Pola syair arab juga digunakan untuk membuat puisi berbahasa jawa atau Indonesia, biasanya dilagukan di musholla, masjid dan pengajian. Meskipun berasal dari arab atau timut tengah, namun nyatanya syair arab sangat famiIiar di Indonesia. Ini dikarenakan dakwah menggunakan seni dinilai efektif, ditambah lagi dinyanyikan dengan indah. Mengingat dakwah dengan seni telah diprakarsai oleh para walisongo dalam penyebaran islam dahulu.

Pemateri lainnya, Miftakhur Rahman dan Ashfal Maula berkolaborasi dalam penyampaian praktek ilmu arudl kepada para peserta. Kang Khur -sapaan Miftakhur Rahman- dengan singkat menjelaskan bahar yang telah dikodifikasi dalam ilmu arudl. Satu persatu kang Khur menjelaskan pola dan shalawat yang menggunakan pola tersebut. Selain pola, seniman yang masih aktif menciptakan syair arab ini menjelaskan dilengkapi dengan pola ketukan atau not nada agar para peserta bisa lebih memahami.

Kang Khur yang masih mengajar Bahasa Arab di MTs Qudsiyyah ini bergantian dengan Gus Apank, sapaan Ashfal Maula. Gus Apank melengkapi lagi dengan mencontohkan bagaiman arudl juga berguna dalam membuat nada lagu. Ilmu arudl terbukti berguna untuk menggubah syair shalawat menjadi lagu yang indah, salah satu buktinya adalah lagu-lagu Al-Mubarok. Gus Apank yang merupakan pembina Al-Mubarok menyanyikan beberapa syair dari Bahar Kamil, Wafir, dll dengan contoh shalawat yang sudah familiar bagi peserta.

Seminar Arudl merupakan satu dari berbagai rangkaian dauroh ilmiyyah yang disiapkan oleh Panitia Satu Abad Qudsiyyah. Rencananya, panitia juga akan menggelar Seminar yang kan membahas fenomena Bedhug Dhandang dari sisi budaya dan keilmuan falak pada Senin-Selasa (30-31/5) di Hotel Griptha.

Bupati Demak Hadiri Pengajian Satu Abad Qudsiyyah

QUDSIYYAH – DEMAK. Selepas isya’, tabuh terbang membuka pengajian umum dalam rangka ‪‎satu abad Qudsiyyah‬ di Desa Papringan, Kaliwungu Kudus. Kurang lebih 150 penerbang hadir menyemarakkan kegiatan pada Ahad malam (18/5) yang bertempat di Masjid Baiturrahim, Karangnyar. Jam’iyyah penerbang dari desa-desa di Kecamatan Karangnyar sengaja dihadirkan dan mengisi pembukaan serta maulidurrasul.

Pengajian dibuka pukul 20.00 WIB dilanjutkan pembacaan ayat-ayat al-Quran dan tahlil. Maulidurrasul yang dipimpin oleh ustadz ustadz H. Ashfal Maula, ustadz Abdul Ghofur dan ustadz Ahmad Mushoffa memenuhi majlis masjid dan jalanan desa Karanganyar. Sholawat, lantunan lagu dan natsar dari Simthud Duror dikumandangkan meramaikan pengajian malam itu. Begitu pula, pujaan dan wasilah dikumandangkan para hadirin yang datang dari berbagai desa Kec. Karanganyar.

Dalam acara tersebut, Bupati Demak, H. M. Natsir hadir dan bersholawat bersama para warga Karanganyar. Dalam kesempatan itu pula Bupati Demak memberikan sambutan akan pentingnya instansi yang eksis dan istiqomah mengajarkan nilai-nilai luhur budaya kita seperti tahlil dan maulid Nabi.

Selanjutnya, Ketua YAPIQ, H. Em. Nadjib Hassan berikan sambutan dan memberikan penyerahan 2 prasasti berisikan Shalawat Asnawiyyah dan Shalawat Qudsiyyah Satu Abad kepada Bupati Demak, H. M. Natsir sebagai wujud deklarasi bahwa Shalawat Asnawiyyah tidak hanya dimiliki secara lokal dan regional Kudus saja, Shalawat Asnawiyyah, karya KHR. Asnawi adalah shalawat nasionalis dan milik warga bangsa Indonesia.

Mauidloh disampaikan oleh KH. Fathur Rahman dan KH. Idham Khalid. Sedangkan doa penutup dipanjatkan oleh KH. Saifuddin Luthfi.

Pementasan Teatrikal

IMG_2719

Pertemuan 2 Pionir Pendiri Kota Kudus dipentaskan di Karangnyar

Dalam sela-sela pengajian setelah pembacaan maulid, Teater dari Qudsiyyah menampilkan pentas teatrikal pertemuan Sunan Kudus dan Thai Ling Sing. Sunan Kudus merupakan panglima dari Kerajaan Demak yang meninggalkan jabatannya dan menuju tanah yang kelak bernama Kudus. Thai Ling Sing adalah seniman tua dan mantan nahkoda Panglima Cheng Ho, keduanya merupakan tokoh peletak batu pondasi Kota Kudus.

Perjalanan Sunan Kudus Menuju Kudus dan pertemuan dengan Kyai Telingsing inilah yang menjadi penanda awal menyebarnya Islam di tanah Kudus ini. Berdasarkan beberapa literatur yang ada, pertemuan antara Sunan Kudus dan Kyai Telingsing pertama kali terjadi di Loram, yang kini berdiri Masjid Wali Loram.

Drama menceritakan kedatangan Sunan Kudus yang telah melepas semua jabatan di Kerajaan Demak dan meminta Ling untuk bersama-sama membentuk Kota yang sekarang dikenal dengan Kota Kudus. Sunan Kudus menancapkan pondasi kota Kudus yang memiliki karakter, pandai dan cerdas serta lihai dalam berdagang. Hal tersebut digambarkan dari tokoh Ling yang meminta agar Sunan Kudus tetap memberikan kesempatan warga untuk terus berkreatifitas, mengembangkan seni dan berdagang. Sunan Kudus setuju bahwa hal tersebut tidak bertentnangan dengan Gusjigang, sebuah konsep untuk membentuk warga Kudus nantinya. Setelah keduanya sepakat, mereka menetapkan “tajug” sebagai sentra penyebaran dakwah.

Roadshow di Kabupaten Demak, tidak berakhir malam itu, karena selanjutnya Roadshow pengajian akan dilanjutkan di Mulyorejo, Lengkong, Kec. Kota, Demak. Bertempat di Madrasah Asy-Syafiiyah, pengajian akan dilaksanakan pada 20 Sya’ban 1431/ 26 Mei 2016.

Ali Yahya, selaku panitia pelaksana roadshow menuturkan bahwa semangat para alumni yang tersebar di berbagai kota tidak menutup kemungkinan roadshow di Kota selain Demak. Pengajian Roadshow juga akan dilaksanakan di Jakarta pada 22 Mei 2016 dan di Semarang pada 24 Mei 2016.

Manasik untuk PAUD, Buka Roadshow Qudsiyyah di Demak

QUDSIYYAH, DEMAK – Manasik haji untuk siswa-siswi PAUD Kecmatan Karanganyar membuka Roadshow pengajian dalam rangka ‎ 1 abad Qudsiyyah. Bekerjasama dengan IPHI Kec. Karanganyar dan HIMPAUD Kec. Karangnyar, kegiatan ini berlangsung selama 2 hari tanggal 17-18 Mei 2016 di Gedung dan Halaman IPHI Kec. Karanganyar. “Kegiatan dimulai pagi hari dan berakhir jam 10.00 WIB sehingga matahari tidak terlalu terik,” jelas Abdul Ghofur, panitia pelaksana.

Antusias: siswa-siswi PAUD mengikuti serangkaian pelatihan Manasik

Antusias: siswa-siswi PAUD mengikuti serangkaian pelatihan Manasik

Ghofur menuturkan, “Hari pertama, peserta mencapai 90 siswa, sedangkan hari kedua diikuti 284 siswa, Total kegiatan ini diikuti lebih dari 350 siswa dari 18 PAUD Kec. Karangnyar”. Kegiatan ini untuk menyemarakkan roadshow pengajian dengan tema “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi”. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Panitia Satu Abad Qudsiyyah, H. Ikhsan turut memberikan sambutan dan mengarahkan beberapa amalan haji. Untuk praktek manasik haji IPHI dan guru pembimbing PAUD mengarahkan para siswa-siswi dari berihram, thowaf hingga tahallul.

Bertempat di lokasi terpisah, persiapan pengajian di Masjid Baiturrahim, Karanganyar Demak untuk nanti malam (18/5). Tercatat alumni Qudsiyyah berasal dari Demak terutama daerah Karanganyar, tersebar di berbagai desa di Kec. Karanganyar.

Malamnya, Panitia juga mengundang H. M. Natsir selaku Bupati Demak untuk hadir dan bersholawat bersama hadirin. Malam ini sholawat dan pembacaan maulidurrasul dipimpin oleh ustadz H. Ashfal Maula dkk beserta Jam’iyyah ad-Dufuf Al-Mubarok dan penerbang dari Kec. Karangnayar. Selain itu acara malam itu diisi dakwah dari 2 da’i.

  1. KH. Nur Halim Ma’ruf
  2. KH. Idham Khalid

Roadshow pengajian terus berlanjut sampai akhir Mei 2016, adapun pengajian selanjutnya digelar di wilayah Lengkong Mulyorejo, Demak , tepatnya di Madrasah Asy-Syafiiyah Mulyorejo Demak pada Malam Kamis Wage, 20 Sya’ban  1437/ 26 Mei 2016.

5000 Peserta Ramaikan Pengajian di Kirig

QUDSIYYAH, KUDUS – “Orang-orang yang sholeh bahagia jika didoakan terutama oleh orang yang mereka cintai ketika masih hidup di dunia”, ungkap KH. Noor Halim Ma’ruf dalam pengajian ‪#‎1abadqudsiyyah‬ bertajuk “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi” di Masjid Suryawiyyah, Kirig Mejobo Kudus. Pengajian yang diadakan pada Ahad (15/5) juga memperingati haul tokoh agama Desa Kirig, Kyai Said Irjam ke-31.

Kyai Halim menuturkan, “yakin, mbah Asnawi dan mbah mbah Said mendengar dan bahagia murid-muridnya pengajian malam ini”. Beliau menyakinkan para hadirin bahwa orang-orang yang telah meninggal justru lebih mendengarkan daripada manusia yang masih hidup. “Alangkah bahagia beliau berdua di alam sana”, pungkas kyai Halim.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 5000 jamaah tersebut, dihadiri pula KH. Idham Khalid dari Demak. KH. Idham menjelaskan bahwa masyayikh qudsiyyah, seperti Kyai Yahya Arif, Kyai Ma’ruf Asnawi, Kyai Ma’ruf Irsyad dan Kyai Jasin Djalil juga bahagia melihat para penerusnya. Beliau bernostalgia betapa berkah dari para guru-gurunya yang telah dibuktikannya. Terutama dalam menegakkan paham ahlus sunnah di wilayahnya. Berbekal restu gurunya, akhirnya Masjid di daerah Kedungwaru kembali bernuansa NU.

Sebelum dakwah oleh para dai Qudsiyyah, pengajian dimulai dengan pembacaan maulidurrasul oleh Habib Husain al-Bunumay dan ustadz H. Ashfal Maula bersama penerbang se-Kec. Mejobo.

Haul Mbah Said Irjam

Pengajian malam itu juga memperingati Haul mbah Said, yang merupakan tokoh agama dan spiritual dari Desa Kirig. “Mbah Said adalah guru semua warga Kirig”, tutur Abdul Khalim, salah satu panitia pelaksana, “warga sengkuyung dan guyub membantu pelaksanaan acara”. Panitia menyiapkan 3000 brekat atau nasi bungkus diperuntukkan hadirin, “Nasi dipadukan dengan lauk Empal Kebo dan Sambel Goreng,” tutur Khalim di sela-sela pembungkusan brekat di Balai Desa Kirig.

Sebelum acara puncak digelar Ahad malam, panitia juga mengagendakan kegiatan rohani dan seni. Mustaghfirin, Ketua panitia menjelaskan ada 4 (empat) kegiatan untuk pra acara, yakni ziarah ke makam Mbah Asnawi dan mbah Said, Khataman al-qur’an bil-Ghoib dan bin-Nadhor, serta festival khadrah (rebana).

Ziarah di Makam Mbah Asnawi

Ziarah di Makam Mbah Asnawi

Ziarah ke makam mbah Asnawi dan mbah Said dilaksanakan Kamis Pagi (28/4) sebagai pembuka rangkaian acara. bertempat di Makam keduanya, kegiatan ini diikuti oleh alumni dan warga Kirig.

Kegiatan khataman dilakukan dua kali, yang pertama pada Kamis (9/5) di Makam mbah Said. Uniknya kegiatan

Ziarah di Makam Mbah Said Irjam

Ziarah di Makam Mbah Said Irjam

ini diikuti oleh warga setempat yang tergabung dalam paguyuban Sopir Desa Kirig yang beranggotakan 150 anggota. Kedua kalinya khataman dilakukan dengan hapalan (bil-Ghoib), dilaksanakan pada Sabtu (14/5) oleh 20 peserta. Khataman tidak dilakukan dalam satu tempat, tetapi terbagi di Rumah mbah Said, Makamnya dan Masjid Suryawiyyah.

Khotmil Quran bil-Ghoib

Khotmil Quran bil-Ghoib

Siang hari-H (15/5) dilaksanakan festival khadrah yang diikuti 10 jamiyyah rebana dari Kudus dan Pati. Kegitan berlangsung sangat ramai mulai jam 10 pagi hingga sore. 3 (tiga) grup terbaik mendapatkan trophy dan uang pembinaan dari panitia.

Kegiatan roadshow di Mejobo ini memang yang terakhir di Kab. Kudus, selanjutnya roadshow dakwah KHR. Asnawi akan lanjut dan menyambangi Kota Demak, Kota Jepara, Kota Semarang, Kota Jakarta, dan Kota Yogyakarta. Selanjutnya, roadshow dilaksanakan di Masjid baiturrahman, Karanyar Demak yang dihadiri pula oleh Bupati Demak, H. M. Natsir pada Rabu Malam (18/5) mendatang.

Kampus UIN Walisongo Jadi Tempat Berlabuh Dakwah Qudsiyyah di Semarang

QUDSIYYAH, SEMARANG – Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, bakal menjadi tempat diselenggarakannya “Roadshow; Meneladani Dakwah KHR Asnawi” Satu Abad Qudsiyyah di kota Semarang. Kegiatan yang berbentuk pengajian umum dan terbuka untuk semua kalangan tersebut bakal digelar di  auditorium I Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, pada Selasa malam Rabu (24/5/2016).

Kegiatan yang dikomandoi oleh panitia Satu Abad Qudsiyyah kerja bareng Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS), Ponpes Life Skill Daarun Najaah Semarang, JQH Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, dan Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang (KMKS) ini bakal menghadirkan beberapa pembicara. KH Nur Halim Ma’ruf (Kudus), Prof H Abdurrahman Mas’ud MA PhD (Jakarta), KH Abu Hapsin MA PhD (Semarang), KH Nadjib Hassan (Kudus) dan KH Ahmad Asnawi (Kudus) dijadwalkan bakal mengisi pengajian “Meneladani Dakwah KHR Asnawi” tersebut.
Kegiatan dalam rangka Peringatan Satu Abad Qudsiyyah tersebut juga bakal dimeriahkan oleh Rebana Al Mubarok Qudsiyyah Kudus. Rebana ini telah Sukses Menembus Dapur Rekaman hingga sepuluh album, dan bakalan meluncurkan album baru pada puncak peringatan Satu Abad Agustus mendatang. Kemeriahan Rebana Al Mubarok nanti dijadwalkan bakal mengundang Vokalis utama Gus Apang, Gus Ilham, Shofa, Ghofur. Juga, pengajian nanti bakal dibuka dengan Maulid & Do’a oleh Habib Rizqi Baharun.

Selain di Semarang, agenda dakwah ini juga bakal digelar di Karanganyar Demak pada Malam Kamis, 12 Mei 2016, di Masjid Baiturrahim, Karanganyar dan juga di Lengkong Mulyorejo Demak pada malam Jumu’ah, 26 Mei 2016 mendatang. (*)

Konfirmasi kehadiran ketik SMS/WA:
HADIR <spasi> NAMA <spasi> KAMPUS/ALAMAT ASAL
Kirim ke nomor 085641551875

Mejobo, Tutup Roadshow di Kudus

QUDSIYYAH, KUDUS – Roadshow pengajian di Kudus berakhir di Wilayah Mejobo, Ahad (15/5). Mejobo memiliki segudang alumni yang tersebar di berbagai desa di Kec. Mejobo yang akan memeriahkan pengajian dalam rangka ‎ 1 abad Qudsiyyah. Sebagai kelanjutan dari rangkaian roadshow dakwah “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi”, pengajian akan diadakan di Majid Suryawiyyah, Desa Kirig, Kec. Mejobo Kudus.

Selain memeriahkan gaung satu abad Qudsiyyah, pengajian diselenggarakan dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dabn Haul Mbah Said Irjam. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama IKAQ (Ikatan Alumni Qudsiyyah) Kec. Mejobo bekerjasama dengan Panitia penyelenggra Haul Mbah Said.

Sebelum hari-H, berbagai kegiatan pembuka dilaksanakan oleh Panitia. Berikut kegiatan pra acara:

1. Napak tilas dan ziarah Makam Mbah Said Irjam dan Mbah KHR. Asnawi

Hari : Kamis

Tanggal: 28 April 2015

Jam : 08.00 WIB

2. Khotmil Quran bersama paguyuban sopir desa Kirig

Hari : Senin Wage

Tanggal : 9 Mei 2016

Jam : 19.00 WIB – selesai

Tempat : Makam KH. Ahmad Said Irjam

3. Khotmil Quran Bil Ghoib bersama Huffadz Alumni Qudsiyyah Kec. Mejobo Kudus

Hari : Sabtu Wage

Tgl : 14 Mei 2016

Jam : 07.00 WIB – selesai

Tempat : Masjid Suryawiyyah Kirig Mejobo Kudus

4. Lomba Hadlroh Se Kab. Kudus

Hari : Ahad Kliwon

Tgl : 15 Mei 2016

Jam : 07.30 WIB – selesai

Tempat : Masjid Suryawiyyah Kirig Mejobo Kudus

Malamnya, para peserta hadroh akan memeriahkan Pengajian. Selain itu acara diisi dakwah dari 3 da’i.

  1. KH. Asid Said
  2. KH. Nur Halim Ma’ruf
  3. KH. Idham Khalid

Roadshow pengajian terus berlanjut sampai akhir Mei 2016, adapun pengajian selanjutnya digelar di wilayah Karanganyar Demak , tepatnya di Masjid Baiturrahman, Karangayar Demak pada Malam Kamis Wage, 12 Sya’ban  1437/ 18 Mei 2016.

Pangkat Dunia Jangan Tutupi Pangkat Hamba

QUDSIYYAH, KUDUS – Semua manusia dilahirkan dengan pangkat yang sama, yakni Abdullah (Hamba Allah, red). Salah satu poin tersebut disampaikan oleh KH. Ahmad Asnawi dalam pengajian “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi” yang digelar di Masjid At-Taqwa Desa Ngemplak Kec. Undaan, Kudus, Musholla Nurul Iman, Desa Jepang Pakis Kec Jati. Kudus, Selasa (10/5)

Beliau menjelaskan perbedaan manusia adalah bagaimana mereka mempertahankan pangkat tersebut hingga akhir hayat. “Usaha untuk sesuai dengan pangkat Abdullah diterapkan di Qudsiyyah,” tambahnya. Qudsiyyah mengajarkan berbagai disiplin ilmu terutama akhlaq yang akan membentuk karakter santri sejak dini. Pendidikan akhlaq dan agama sejak belia sangatlah penting sebagai bekal ketika dewas, sehingga sebanyak apapun pangkat yang disandang, baik letkol, jendral dan presiden sekalipun tidak akan menghilangkan pangkat Abdullah, mengingat fenomena dimana pangkat duniawi justru menggeser pentingnya pangkat sebagai hamba Allah.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 1500 jamaah tersebut, KH. Fathur Rahman membenarkan bahwa Qudsiyyah sampai sekarang tetap mempertahankan kurikulum yang mengedepankan karakter dan agama. Santri dibekali ilmu agama tanpa meniadakan muatan kurilulum pendidikan nasional.

Pelaksanaan pengajian didahului qiroatul quran, tahlil dan maulidurrosul sebagai ciri khas pengajian nahdliyyah. pembacaan maulidurrasul ustadz Elham dan ustadz H. ashfal Maula diiringi juga oleh 150 penerbang dari Kec. Undaan. Selanjutnya, Sambutan dari Wakil Alumni, KH. Hamdi ditemani Ta’mir Masjid At-Taqwa, Ustadz Zainul Falihin. Pengajian malam tersebut ditutup dengan Doa oleh KH. A. Sudardi.

Kegiatan roadshow pengajian ini terus berlanjut hingga Mei 2016. Pengajian selanjutnya digelar di wilayah Mejobo. Rencananya akan dilaksanakan di Masjid Suryawiyyah, Desa Kirig Kec. Mejobo Kudus pada Ahad (15/5) mendatang.