KOMPAQ Gelar Seminar Kebudayaan

QUDSIYYAH, KUDUS – Dalam rangka menyongsong satu abad Qudsiyyah Kudus, berbagai kegiatan digelar. Salah satunya orasi budaya dan seminar kebudayan yang diselenggarakan oleh Komunitas Pelajar Alumni Qudsiyyah (Kompaq) Kudus bekerjasama dengan dan Lembaga Swadaya Masyarakat Pusat Kajian Multikultural (LSM Pusaka).

Acara bertajuk “Menjadi Manusia Indonesia yang Berbudaya” ini dilaksanakan di Rumah Makan Gentong Sehat Getas Pejaten Kudus, Jawa Tengah, Jumuah sore (18/9/2015). Hadir dalam kesempatan tersebut puluhan pelajar, santri, seniman, budayawan, ormas, dan sebagainya.

Acara tersebut diisi oleh beberapa penampilan, di antaranya pembacaan puisi oleh Seniman asal Jepara, penampilan teater dari Kibaru Kudus, Stand Up Comedy dari Sleman, Monolog dari Yogyakarta, dan diakhiri dengan Seminar Kebudayaan oleh dua Budayawan dari Kudus dan Yogyakarta, yaitu Miftah Ali dan Yazid Al-Bustomi.

Chasan Albab selaku panitia mengatakan, kegiatan ini dilakukan dalam rangka memeriahkan satu abad Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus. “Acara ini termasuk dalam serangkaian acara ‘Menyongsong Satu Abad Qudsiyyah’ yang mana puncaknya insya’allah bulan Syawal tahun depan,” ujar santri Pondok Pesantren Raudlatul Mardiyyah Kudus ini.

Lebih lanjut Chasan menjelaskan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan para pelajar maupun masyarakat pada umumnya bisa sadar akan budaya Indonesia dan bisa menjadi manusia Indonesia yang berbudaya baik.

“Agar masyarakat lebih sadar akan budaya dan menjadi orang Indonesia yang berbudaya baik” kata Mahasiswa STAIN Kudus ini.

Di samping kegiatan tersebut, besok tanggal 23-25 September juga akan diadakan Perkemahan Bhakti Sosial ‘Satu Abad Qudsiyyah’ di lapangan Desa Peganjaran, Bae Kudus. yang melibatkan sekolah setingkat SMP-SMA se-Kabupaten Kudus.

Dalam perkemahan tersebut sekolahan se-kabupaten Kudus akan untuk mengikuti lomba kaligrafi, fotografi, kreasi musik, melukis, dan sebagainya.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR. Asnawi Kudus yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1919 M. namun sejak tahun 1917 M kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. (*)

QUDSIYYAH KUDUS, SONGSONG SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Semenjak lahir pada 1919 M yang didirikan oleh KH Raden Asnawi, Madrasah Qudsiyyah sudah meluluskan ribuan santrinya. Hingga menjelang satu abad berdirinya kini, banyak hal yang dipersiapkan oleh pihak Qudsiyyah, salah satunya dari Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ).

Sebagaimana disampaikan Ketua IKAQ, DR. H. M. Ihsan, mengajak kepada alumni di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam mengadakan kegiatan dalam rangka satu abad Qudsiyyah Kudus, membantu sesuai bidang masing-masing.

Pihaknya menjelaskan, banyak kegiatan yang akan disiapkan dalam rangka peringatan satu abad Madrasah yang didirikan oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

“Penulisan buku satu abad pengajian akbar, lomba, dakwah keliling, bazar, halaqoh, sepeda santai, dan lain sebagainya,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan dalam Halalbihalal IKAQ di halaman MTs Qudsiyyah, Kamis (30/7/2015) siang.

“Oleh karena itu, dalam rangka menyongsong satu abad ini, kami harap kepada semua alumni Qudsiyyah dimohon partisipasinya agar pelaksanaan peringatan satu abad Qudsiyyah bisa sukses sesuai dengan harapan para masyayikh (guru-guru sepuh-red),” tambah dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) KH Nadjib Hassan dalam sambutannya menegaskan, bahwa Halalbihalal bukanlah puncak dari kegiatan alumni, tetapi peran besar dari alumni adalah bagaimana menjaga keutuhan terutama di dalam menjaga aqidah Aswaja NU.

“Jangan sampai setelah keluar dari Qudsiyyah mengikuti aliran-aliran yang bertentangan dengan Aswaja NU. Kita itu punya Guru Besar yang namanya Mbah Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU), kenapa mengikuti guru-guru aneh yang tidak jelas sanad keilmuannya,” jelasnya.

Peran yang tidak kalah penting, lanjut Kiai Nadjib, mengangkat perekonomian para alumni. “Untuk itu, dua pokok tugas yakni aqidah dan perekonomian yang sangat penting diperhatikan untuk saat ini,” ujar mantan Ketua Paguyuban Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa itu.

Dalam halal Bihalal tersebut, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi. Dalam pesannya beliau menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Nabi Muhammad SAW. Mustasyar PBNU dari Kudus mencontohkan metode dakwah Nabi saat Fathu Makkah, dimana masyarakat Mekah ditaklukkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan diplomasi yang menarik. Sehingga masyarakat berduyun-duyun memeluk Islam. (*)

AYO, DESAIN BARENG LOGO SATU ABAD QUDSIYYAH!

Kami mengajak seluruh Alumni dan santri Qudsiyyah untuk berkontribusi secara terbuka dalam desain logo “Peringatan Satu Abad Qudsiyyah” dengan ketentuan sebagai berikut:
A. Ketentuan Umum
1. Desain logo terbuka untuk alumni dan santri Qudsiyyah
2. Logo dikirim ke email: yapiq@qudsiyyah.com dengan format jpg paling lambat 23 Agustus 2015 pukul 18.00 WIB
3. Sertakan biodata pengirim, deskripsi dan penjelasan singkat makna logo
4. Logo yang telah dikirim menjadi hak milik panitia untuk kemudian dilakukan pemilihan, penyempurnaan dan akan dilaunching pada saat Launching dan Baksos Qudsiyyah pada 22-24 September 2015
B. Kriteria Logo Satu Abad Qudsiyyah
1. Logo simple dan menarik
2. Unsur warna logo meliputi merah, kuning, hijau tua, hitam
3. Logo memuat gambar Menara
4. Unsur teks yang terkandung dalam logo: (1) 1 Abad/Satu Abad/100 tahun, (2) Qudsiyyah, (3) 1337 – 1437 H
5. Mengandung nilai/makna Qudsiyyah untuk Nusantara (bukan teks)
Kudus, 15 Agustus 2015
Panitia
M. Rozikan (Ketua) (085866424839) M. Nailal Mustaghfirin (Koordinator Desain Logo) (085641361616)

Membumikan Al-Qur’an Langgam Nusantara

KONTROVERSI pembacaan ayat al-Qur’an dengan langgam nusantara (khasJawa) saat peringatan isra’ mi’raj di Istana Merdeka menjadi sangat menarik untuk dikaji. Oleh sebagian pihak, Menteri Agama RI dituduh melakukan liberalisasi terhadap kitab suci. Di lain pihak, ada yang menyebut bahwalanggam Jawa untuk pembacaan al-Qur’an disebut sebagai ekspresi budaya—tanpa merubah kesuciannya.

Membaca al-Qur’an dengan langgam dan cengkok Jawa memang terasa aneh karena tidak lazim digunakan. Akan tetapi bagi masyarakat Jawa, gaya melagukan ayat al-Qur’an semacam itu sudah dimulai sejak lama. Orang-orang tua dan muballigh di desa-desa sudah sering memakainya. Sehingga dalam konteks budaya Jawa, gaya langgam Jawa untuk membaca al-Qur’an tidak jadi masalah.

Yang menjadi masalah akhir-akhir ini adalah ketika sudah disajikan argumentasi fiqh bahwa al-Qur’an dilanggamkan Jawa itu haram dan menyalahi hadits Nabi. Respon masyarakat juga menjadi beragam. Bahwa dalam merespon polemik ini tidak hanya sebatas bicara halal atau halal, tapi ada tiga hal pokok yang perlu diluruskan sehingga kesucian al-Qur’an tetap terjaga bersama.

Pertama, menjaga kesucian al-Qur’an tetap jadi fokus utama. Semua orang sepakat bahwa al-Qur’an itu suci dan harus dijaga kemurniaanya dengan empat cara: menjaga keaslian ayatnya tanpa pemalsuan, menjaga pemaknaan tekstual dan kontekstualnya, menjaga tata cara membaca dengan pola tajwid dan menjaga dengan pelestarian pengalaman isi al-Qur’an. Apapun perbedaan persepsi mengenai isi pemaknaan al-Qur’an, itu dianggap sebagai rahmat agama Islam, karena memang cara memaknai itu adalah bagian dari pemahaman tokoh agama masing-masing.

Kedua, sebagai kitab suci, al-Qur’an perlu diajarkan kepada masyarakat dan diamalkan ajaran-ajarannya. Untuk memelajari ilmu-ilmu al-Qur’an dibutuhkan banyak perangkat, dari mulai ilmu bahasa arab (nahwu, sharaf,badi’, ma’ani dan bayan), ulumul qur’an, asbabun nuzul, ilmu tafsir dan lainnya. Maka dari itu, isi al-Qur’an akan mendalam jika digunakan perangkat pemahaman dengan bekal ilmu-ilmu itu.

Bagi muslim yang belum menguasai ilmu-ilmu itu dapat menyederhanakan dengan mempelajari ilmu tafsir dan tentunya tetap menghargai adanya konsentrasi ilmu-ilmu lainnya. Dari sinilah isi al-Qur’an akan terungkap dengan detail dan masyarakat akan mampu mencerna ajaran-ajaran Islam yang original.

Dan ketiga, untuk melanggengkan isi kandungan al-Qur’an, maka agama Islam mendorong umatnya untuk membacanya. KH Sahal Mahfudh (2011) menyampaikan bahwa membaca al-Qur’an berbeda dengan membaca hadits Qudsi, walaupun keduanya adalah kalimat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dalam kitabnya,Syaikh Zakaria al-Anshari menyebutkan bahwa al-Qur’an termasuk al-muta’abbadu bitilawatihi, mendapatkan pahala ketika membacanya (walaupun tidakmengetahui artinya).

Gaya Baca

Persoalan yang sedang hangat diperbincangkan adalah soal membaca al-Qur’an dengan gaya langgam Jawa. Di sini juga ada empat hal yang perlu dilihat secara spesifik. Pertama, sejarah Islam mencatat bahwa kitab suci ini diturunkan di Makah dan Madinah sehingga disebut Makiyah dan Madaniyah. Hingga sekarang para muslim masih mengamalkan bacaan-bacaan al-Qur’an. Dalam posisi membaca pribadi atau kalangan tertentu, langgam bacaan al-Qur’an menyesuaikan selera pembaca. Dan yang ditekankan adalah dengan cara baca yang benar menurut ilmu tajwid (ilmu khusus untuk membaca kitab suci).

Dalam acara-acara keagamaan, lazimnya al-Qur’an dibaca denganlanggam (sering disebut memakai lagu) sesuai dengan gaya tartil dan qira’ah. Gaya bacaan tartil ini lebih sederhana karena al-Qur’an dibaca dengan lagu sederhana dan cengkok yang tidak terlalu rumit. Sedangkan gaya baca qira’ah ini lebih rumit karena mengikuti kaidah qira’ah yang lazim digunakan semacam: husaini, bayati, syika, nahwan dan lainnya. Model qira’ah inilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai bacaan khas bangsa Arab, tempat di mana al-Qur’an diturunkan.

Padahal perlu diketahui bahwa gaya qira’ah: husaini, bayati,syika, nahwan dan lainnya itu bukan dari Makah dan Madinah melainkan Iran. Dan Iran menurut Ahmat Sarwat (2015) pada masa Nabi bukan masuk Arab karena berbangsa dan bahasa Persi. Jadi itulah kesalah pahaman sejarah atas dasar kebiasaan dilanggamkan dikira asli Arab. Bahkan para pembaca al-Qur’an di dunia juga melanggamkan dengan gaya negaranya masing-masing seperti Mesir, Turki,Lebanon, Yaman dan lainnya.

Jadi perlu ditegaskan bahwa sejarah panjang ini jangan sampai dipotong atas dasar kebiasaan mendengar lantunan langgam saja, sehingga menyimpulkan dengan “kebiasaan” tapi tidak ilmiah.

Kedua, membaca dengan gaya langgam adalah budaya masyarakat. Al-Qur’an sebagai teks dan berisi ajaran tetap utuh keberadaannya, sedangkan masyarakat luas berhak atas budayanya masing-masing dalam membacanya. Orang Arab akan menggunakan langgam khas arabnya, begitu pula orang Indonesia berhak atas cara baca langgam dengan budayanya.

Kalau kemarin yang ditampilkan adalah langgam dan cengkok Jawa, maka tidak menutup kemungkinan akan menyusul langgam Sunda, Melayu, Bali, Papua dan lainnya. Jadi kalau ada pihak yang tidak sepakat dengan langgam Jawa adalah bagian dari ketidaksetujuan terhadap budaya dan bukan ketidaksepakatan terhadap gaya baca al-Qur’an. Intinya bahwa bacaan langgam Jawa adalah untuk membumikan al-Qur’an dengan pendekatan budaya nusantara.

Ketiga, bahwa langgam adalah seni membaca. Dan seni inilah yang akan memperindah dan menghibur notasi teks yang dibaca. Bisa diibaratkan bagi masyarakat yang sudah maniak dengan dangdut, maka dengan lirik lagu yang sama dirubah menjadi keroncong atau jazz akan nampak aneh dan cenderung menolaknya.Sama dengan langgam al-Qur’an yang sudah mainstream dan baku dibaca orang-orang Timur Tengah, ketika dilanggamkan Jawa akan terasa aneh dan mengagetkan. Itulah seni baca al-Qur’an dan terkait dengan budaya.

Oleh sebab itu wajar jika qari’ interasional dari Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar ikut menanggapi dan kurang setuju dengan gaya langgam Jawa dalam membaca al-Qur’an. Ada lima catatan yang diberikan dalam menanggapi video bacaan Muhammad Yaser Arafat saat membaca al-Qur’an dengan lagu Dandanggulo MacapatJawa, yakni: kesalahan tajwid, kesalahan lahjah (logat), kesalahan takalluf (memaksakan), kesalahan niat dan memperolok-olok ayat Allah.

Ketika orang Arab memberikan koreksi yang demikian itu sangat wajar karena ada perbedaan budaya dan logat. Sama halnya ketika orang Jawa di daerah Wonosobo danP urworejo misalnya tidak bisa melafalkan ‘ain, karena biasa menyebut nga’in. Bagi orang yang paham budaya akan memaklumi karena ini adalah soal kebiasaan dan dialek orang Wonosobo dan Purworejo demikian. Walaupun membaca al-Qur’an mereka susah mengucapkan ‘ain dan itu tidak disalahkan. Lahirnya qira’ah sab’ah (tujuh cara baca al-Qur’an) juga karena faktor dialek masyarakatTimur Tengah yang berbeda-beda dalam pelafalan dan detail bacaannya.

Dan keempat, pentingnya menghormati perbedaan. Adanya perbedaan dalam gaya membaca al-Qur’an tidak perlu diperpanjang karena ini ranah budaya dan seni baca al-Qur’an. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat digugah kembali untuk peduli terhadap kerajinan membaca al-Qur’an dan peduli terhadap cara baca yang benar sesuai tajwid. Termasuk yang terpenting adalah mengamalkan isi al-Qur’an untuk memperbaiki Indonesia dan dunia.*)

Dimuat Koran Jateng Ekspres, Kamis/21 Mei 2015.

oleh: M. RikzaChamami, MSI
ALumni Qudsiyyah dan Dosen FITK Universitas Islam Negeri Walisongo

Isra Mi’raj dan Spirit Toleransi NKRI

SETIAP 27 Rajab seluruh umat Islam selalu memeringati Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Pesan utama yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj adalah perintah menjalankan shalat lima waktu.

Melaksanakan shalat pada hakekatnya tidak hanya sekadar memberi manfaat pada si pelaku saja, tetapi lebih dari itu juga memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, bahkan bagi bangsa dan negara. Karena sesungguhnya shalat dapat menyelamatkan manusia dari berbuat keji.

”Sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Al Ankabut: 45). Mengingat nilai yang terkandung dalam shalat itu bersifat universal, maka implementasi dalam kehidupan nyata juga harus bersifat universal pula, yaitu harus lintas agama, etnis dan golongan.

Merealisasikan hal yang demikian ini tentunya sangatlah penting karena kian hari bangsa ini dihadapkan pada persoalan toleransi yang secara kuantitas dan kualitasnya semakin mengkhawatirkan. Di mana sekarang ini toleransi telah menjadi barang mahal dan langka di negeri yang katanya majemuk ini.

Dalam kondisi riil seperti itu seyogianya seluruh umat Islam berada di garda depan untuk memelopori tumbuhnya toleransi, sebagaimana yang pernah dilakukan dan didakwahkan Nabi Muhammad saw di Madinah. Bukan malah sebaliknya dalam berperilaku dan berdakwah justru melenceng jauh dari ajaran agung Nabi Muhammad yang selalu dalam kosmos toleransi.

Jika cara berdakwah yang mengabaikan prinsip toleransi seperti yang dilakukan sebagian umat Islam di Indonesia sekarang masih terus berlangsung, tidak tertutup kemungkinan ke depan akan terjadi benturan antarumat beragama, etnis dan golongan di bumi pertiwi ini. Dan bila hal itu sampai terjadi, maka tidak saja dapat mengganggu serta menghambat pembangunan nasional, tetapi lebih parah lagi akan dapat mengancam keutuhan NKRI.

Mulai saat ini, mau tidak mau segenap umat Islam dalam berdakwah hendaknya selalu mencontoh cara, strategi dan metode yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw, yaitu dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah.

Di mana dalam ranah praktis aplikasinya penuh dengan sikap toleransi, perdamaian, humanis dan santun. Bukannya dengan jalan kekerasan dan anarkisme yang jelas melenceng jauh dari subtansi tujuan shalat yang merupakan hasil Isra Mikraj Muhammad saw.

Dalam momentum peringatan Isra Mikraj kali ini, mari kita kaji dan renungkan bersama bagaimana Nabi Muhammad saw saat memimpin sekaligus berdakwah di Madinah. Dia telah melaksanakan toleransi yang luar biasa hebatnya. Sebagai pemimpin negara dan agama, Nabi Muhammad saw selalu mengakomodasi seluruh kepentingan rakyatnya tanpa mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan sedikit pun.

Sikap Simpatik

Justru dengan sikap simpatik serta toleransi yang sungguh-sungguh serta totalitas, agama Islam pada periode itu mengalami ekspansi dan kemajuan yang luar biasa.

Cara dan strategi dakwah seperti itu pulalah yang membuat Walisongo sukses penyiarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Mereka dalam berdakwah totalitas mencontoh apa yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw, yaitu dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah. Di mana cara dakwah semacam ini harus selalu lekat dengan akhlaqul karimah, humanisme dan toleransi yang tinggi.

Jauh dari praktik anarkisme dan teror. Namun justru dengan cara serta metode inilah agama Islam dapat diterima dan berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, bahkan hingga bisa sebagai agama mayoritas di Indonesia. Sikap akomodatif, humanis dan toleransi itu hakikatnya merupakan inti dari ajaran agama Islam dalam hal dakwah.

Terutama ajaran yang terdapat dalam Surat Al-A’raf; ”Sesungguhnya Kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk berkenal-kenalan.”Ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan manusia dengan beragam bangsa dan suku merupakan sunnatullah yang pasti akan selalu ada sampai kapan pun. Karena keragaman dan plutralitas hidup manusia adalah realitas kehidupan di bumi yang dikehendaki Allah Swt.

Di sisi lain ayat itu juga mempunyai tujuan untuk menciptakan kesadaran kognisi manusia agar saling mengenal satu sama lain dalam suatu proses dan dialektika hidup bersama. Sebab hanya dengan modal pluralitas, toleransi dan kesadaran manusia tersebutlah roda kehidupan dengan dinamika, dialektika dan pemberdayaannya dapat berjalan terus.

Tetapi sayang sering kita sebagai umat Islam dan warga bangsa Indonesia yang majemuk ini belum mampu menangkap pesan Ilahiyah yang terdapat dalam Alquran tentang pluralisme dan toleransi itu.(*)

oleh: M Saifuddin Alia
Pengurus IKAQ Menara Kudus; Direktur Central for Islamic Education and Culture Studies (CIIS) Grobogan

TULISAN INI TAYANG DI SUARA MERDEKA, EDISI 15 Mei 2015

PESANTREN BERWAWASAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN

KEBERADAAN Pondok Pesantren (selanjutnya disebut Pesantren) akhir akhir ini menjadi bahan perbincangan dunia akademik. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang semula tertutup sekarang sudah membuka diri dengan dengan perkembangan zaman. Termasuk pesantren juga memberikan ruang terbuka dalam menginovasi lembaganya dengan pendidikan umum dan pendidikan politik.

Pendidikan umum di pesantren dijalankan secara baik. Karena kalangan pesantren mulai menerima masukan dari wali Santri agar anaknya berilmu agama kuat dan mempunyai pengetahuan umum. Apalagi dengan dibukanya peluang beasiswa Santri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri bergengsi di Indonesia, menjadikan pesantren semakin memperkuat kebijakan ini.

Tentunya untuk menjemput bola terwujudnya Santri yang ilmiah, pesantren tetap memperteguh visi agamanya.
Dalam wujud inilah, perlu sekali pemahaman bersama mengenai pendidikan pesantren dalam pengembangan ilmu sains. Meski belum semua pesantren mampu membuka peluang ini, paling tidak Kyai mulai sadar tentang pentingnya ilmu sains.
Mengenai pendidikan politik di pesantren memang tidak terkemas dalam kurikulum formal. Pendidikan politik di pesantren berupa materi kurikulum tersimpan (hidden curriculum) pada pesantren yang Kyai dan keluarga ndalem terjun langsung ke dunia politik (baik sebagai penasehat atau fungsionaris). Pendidikan berupa teladan politik ini yang kemudian menjadi bahan “anutan” oleh para masyarakat dan Santri.

Dalam meneguhkan visi pesantren sebagai lembaga agama, maka dibutuhkan warna baru tentang pendidikan politik pesantren ini.Jangan sampai pesantren memberikan corak politik yang tidak santun di tengah masyatakat. Apalagi politik praktis yang mengakar pada sebuah tradisi politik belah bambu dan politik kekuasaan. Hendaknya ada model politik pesantren kebangsaan yang mengarah pada tiga dimensi.

Pertama, dimensi budi pekerti. Politik pesantren dengan mengandalkan budi pekerti bukan berarti segala langkah politik berbungkus agama. Akan tetapi komunikasi politik yang dikemas dengan bahasa santun dan lobi-lobi politik yang tidak banyak membuat orang kecewa. Model ini bukan menjadikan politik pesantren selalu kalah. Justru dengan budi pekerti, maka ada banyak simpati dari para politisi yang menempatkan kader politik pesantren di pos strategis –tidak hanya pembaca do’a saja.

Kedua, dimensi strategi koorposari. Pesantren punya modal besar dalam menata pola strategi koorposari dengan tawashau bil haqqi wa tawa shaubis shabri (saling memberikan nasehat politik). Jalan yang dilakukan dalam memberikan kritik politik adalah demi kebaikan bersama. Bukan dengan prinsip like and dislike, suka dan benci sebagaimana politik konvensional.

Dan ketiga, dimensi kesejahteraan ummat. Para politisi yang menjadapatkan amanah menjadi wakil rakyat dan pemimpin perlu memegang teguh prinsip: sayyidul qaumi khadimuhum, oemimpin adalah abdi untuk ummat. Maka tidak salah lagi pemimpin politik yang ingin memperkaya diri sendiri dan mengkorupsi hak-hak masyarakat.
Di sinilah politik pesantren hadir sebagai kuasa untuk menjadikan dirinya sebagai abdi masyarakat, jangan sebaliknya ingin menjadikan masyarakat sebagai budak politiknya.

Perjalanan bangsa Indonesia masih cukup jauh sekali dalam menatap Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Pesantren dengan model politik kebangsaan ini akan mencoba memberikan gagasan politik baru, yaitu politik yang berdaulat dan amanah. Jika memang pesantren bisa hadir dengan warna ini, maka asa pesantren akan dikenang sepanjang sejarah. Bahwa pesantren menjadi motor penggerak politik kebangsaan ini.

Target besar dari politik kebangsaan ini adalah demi menyatukan kembali bangsa ini. Sebab akhir-akhir ini banyak sekali agenda nasional yang terbengkalai hanya persoalan beda visi politik. Oleh sebab itu, butuh figur pemersatu bangsa ini yang diharapkan hadir dari Rahim pesantren. Pesantren punya tanggungjawab ini semua. Jangan kemudian kehadiran pesantren menjadi bagian dari pemecah belah kesatuan bangsa ini. (*)

Oleh: M. Rikza Chamami, Alumni Qudsiyyah Kudus tahun 2000
Tulisan ini dimuat di JATENG POS, edisi Kamis, 27 Maret 2015

Menjaga Kemurnian Khitah NU

Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) legislatif, ibarat tinggal menghitung jam. Pesta demokrasi tiap lima tahun tersebut merupakan salah satu ujian terberat dan bersifat permanen bagi Khitah Nahdlatul Ulama (NU). Khusus di Jateng, hal itu mengingat provinsi ini merupakan salah satu basis warga nahdliyin.

Apabila dalam pemilu legislatif kemurnian khitah bisa terjaga, niscaya pada pelaksanaan pilpres mendatang khitah juga selamat. Konsekuensinya, pada pileg 9 April 2014 warga nahdliyin, baik yang berada dalam ranah struktural maupun kultural, wajib hukumnya untuk menjaga kemurnian.

Hal itu mengingat khitah adalah garis pendirian, perjuangan, dan kepribadian NU, baik yang berhubungan dengan urusan keagamaan maupun kemasyarakatan, atau baik secara perorangan maupun organisasi (PBNU, Khittah Nahdlatul Ulama, Lajnah Taílif Wan Nasyr; 1983).

Khitah juga merupakan landasan berpikir, bersikap dan bertindak warga nahdliyin yang harus tercermin dalam tingkah laku perseorangan ataupun organisasi, serta dalam setiap proses pengambilan keputusan (3 Pedoman Warga NU, Yayasan Mata Air; 2009).

Persoalannya, menjaga kemurnian khitah seperti digariskan organisasi tidaklah mudah. Terbukti dalam perjalanannya, kondisi itu senantiasa mendapat berbagai cobaan yang tidak ringan. Organisasi jamiyyah Islamiyyah yang semata-mata mengurusi masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dan dakwah, acap masih tergiur urusan politik praktis dan jabatan.

Sangat wajar dalam pileg, NU berharap banyak warga nahdliyin terpilih menjadi anggota DPRD, DPR, dan DPD. Namun keberhasilan itu hendaknya tanpa menodai dan mengorbankan khitah, sebagai adalah amanat dasar organisasi yang berharga mati dan wajib dijaga hingga kapan pun. Terlalu mahal bila mengorbankan hanya demi meraih kursi.

Untuk itu, warga nahdliyin hendaknya mampu memahami, menghayati, dan melaksanakan garis organisasi. Terutama bagi kiai, pengurus NU, dan caleg. Perlu beberapa konsistensi komitmen dari tiga komponen itu, yang akan ikut menjaga kemurnian khitah. Kiranya terlalu mahal apabila hanya demi meraih kursi di DPRD, DPR dan DPD, warga nahdliyin harus mengorbankan khitah.

Terpecah-belah

Pertama; komitmen kiai. Dalam konteks itu, seluruh kiai NU hendaknya mempunyai tekad sama, yaitu menjaga dan menyelamatkan khitah. Jangan sampai ada yang melanggar dengan masuk ke area politik praktis. Andai hal itu terjadi, akibatnya bisa fatal, yakini warga nahdliyin bingung, bahkan bisa terpecah-belah.

Belum lagi andai antara kiai satu dan yang lain terperangkap dalam persaingan terbuka yang tidak sehat, semisal sesama kiai saling menjelek-jelekkan atau menyalahkan. Hal itu secara otomatis memengaruhi pengikut masing-masing. Implikasinya, mereka terpecah-belah dan bermusuhan seperti pada Pemilu 2004.

Untuk itu, kiai harus memelopori istikamah menjaga khitah. Hal itu juga mendasarkan pemahaman bahwa kiai milik semua umat, bukan hanya satu golongan, apalagi penguasa.

Kedua; komitmen pengurus NU. Seluruh pengurus, dari tingkat ranting (tingkat desa), majlis wakil cabang (tingkat kecamatan), pengurus cabang (tingkat kabupaten), hingga pengurus wilayah (tingkat provinsi) perlu punya tekad sama. Jangan sampai ada satu pun pengurus terlibat dalam tim sukses, baik tim resmi maupun bayangan.

Ketiga; komitmen parpol dan caleg. Segenap parpol dan caleg hendaknya ikut berperan, terutama yang mengandalkan perolehan suara dari warga nahdliyin. Silakan memperebutkan dukungan warga nahdliyin, namun jangan sampai menodai khitah. Ibarat memancing, berhasil mendapatkan ikannya tapi air tetap jernih.

Komitmen dan kesadaran seperti itu yang harus tertanam kuat dalam hati sanubari seluruh kader parpol dan caleg. Bila tiga komponen vital tersebut memiliki komitmen yang kuat dalam menjaga khitah, kemurnian tujuan NU di Jateng akan selamat dalam pelaksanaan pileg dan pilpres nanti. (*)

Sumber: Suara Merdeka, 9 April 2014

Oleh: M. Saifuddin Alia, Alumni Qudsiyyah Kudus, kini berdomisili di kabupaten Grobogan.

 

HALAL BIHALAL IKAQ GELAR TALKSHOW

QUDSIYYAH, KUDUS – Agenda rutin Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) selalu rutin dilaksanakan. Tahun 2013 ini,  salah satu even rutin, Halal Bihalal, dilaksanakan dengan menggelar Talk Show bertemakan “Membangun Sinergitas Alumni Untuk Pendidikan Qudsiyyah Semakin Terdepan” pada Ahad pagi, 18 Agustus 2013 di Halaman MTs Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus.

 

IKAQ Jakarta Gelar Peringatan Maulid Nabi

QUDSIYYAH, KUDUS – Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Jakarta menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad. Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis (24/1/2013) di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus sebagai wahana silaturrahmi antaralumni yang ada di ibu kota tersebut.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.30 WIB tersebut dihadiri juga rombongan dari Kudus. Antara lain yang hadir Pembina IKAQ, KH. Fathur Rahman, pengurus Qudsiyyah, KH. Ahmad Sudardi, serta Pembina IKAQ Jakarta, Prof. Abdurrahman Mas’ud, MA, Ph. D.

Kegiatan tersebut dimulai dengan pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan al-Barzanji dan diteruskan dengan sambutan dan dialog bersama. Dalam sambutan ketua IKAQ Jakarta, DR Nuruddin, menyampaikan banyak terima kasih kepada rombongan dari Kudus yang telah hadir di Jakarta. Ia berharap dengan kehadiran bapak Fathur dan rombongan memberikan semangat serta spirit bagi alumni Qudsiyyah untuk terus berperan dan berpartisipasi untuk memajukan dan memberikan masukan bagi madrasah Qudsiyyah Kudus ini.

siraman rohani, kata Nuruddin, serta motivasi dari KH. Fathur Rahman selalu ditunggu alumni-alumni IKAQ Jakarta untuk terus bersemangat dalam aktivitasnya masing, tanpa melupakan Qudsiyyah sebagai lembaga pendidikan yang telah mendidikanya selama ini.

6-ok
Acara ini juga sekaligus sebagai wahana silaturrahim saling tukar informasi antara alumni dengan pengurus madrasah. Tujuannya, agar para alumni masih terus mengikuti perekmbangan madrasah, serta turut aktif memberikan masukan serta sumbangsih pemikiran maupun sumbangsih materi demi memajukan dan mengembangkan Qudsiyyah. (*)

TOKOH-TOKOH IKAQ HADIR MEMBERI WARNA

KUDUS-Halal Bihalal Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Kudus tahun ini begitu meriah. Selain sekitar seribu alumni membanjiri kegiatan pada Sabtu legi (25 Agustus 2012) di Lapangan baru Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi, para tokoh IKAQ juga turut hadir memberi warna.

Beberapa tokoh penting yang selama ini berkarya dan menjalankan tugas di luar Kudus menyumbangkan berbagai pemikiran serta pendangannya terhadap perkembangan Madrasah Qudsiyyah. Beberapa tokoh alumni antara lain, H. Nusron Wahid yang kini sebagai ketua umum Ansor serta anggota DPR RI ini turut memberikan sambutan atas nama alumni IKAQ. Pria yang juga sebagai bendahara umum IKAQ ini mengharapkan kepada alumni untuk berperan aktif dalam membantu pengembangan lembaga ini.

Tokoh-tokoh lain, diantaranya H. Abdurrahman Mas’ud yang kini menjadi Kepala Pusat Litbang Kehidupan Keagamaan Kemenag, Muballig dari Demak, H. Idham Kholid, Nur Azhar, Direktur pascasarjana UNSIQ Wonosobo serta Mustahdi, memberikan pandangan dalam bincang bareng tentang pendidikan di madrasah yangtelah berdiri sejak 1919 ini.

Untuk mauidhoh sendiri, Nadhir Qudsiyyah sekaligus ulama terkemuka Kudus, KH. Sya’roni Ahmadi hadir memberikan tausiyah kepada seluruh alumni. Ketua Umum PBNU, KH. Aqil Siroj yang dijadwalkan memberikan tausiyah belum bisa hadir karena masih berada di Hongkong dalam acara Idul Fitri di sana. Sebagai gantinya, paniti mendatangkan KH Ahmad Nadhif, dari Tayu yang masih keturunan dari pendiri Madrasah Qudsiyyah, KHR. Asnawi. (*)