PAPER SANTRI QUDSIYYAH TEMBUS 5 BESAR DI FILIPINA

QUDSIYYAH, FILIPINA – Hal yang tidak disangka dialami oleh Mirza Muchammad Iqbala, lulusan Qudsiyyah yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa S1 UII Yogyakarta. Paper yang ia teliti bersama timnya diterima dalam  3rd International Conference on Education, Psychology and Social Science (ICEPSS). ICEPSS sendiri merupakan konferansi tentang psikologi, pendidikan dan pengetahuan sosial yang diselenggarakan oleh the International Research Enthusiast Society Inc. (IRES inc.), sebuah organisasi non-profit yang dibentuk sebagai penyelenggara beberapa riset internasional dalam berbagai disiplin ilmu dan menjembatani pertukaran keilmuan dan ide. ICEPSS 2016 diselenggarakan di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Mirza adalah putra asli Kudus yang berdomisili di Wergu Wetan, putra dari Mbah No. Saat ini ia merupakan mahasiswa semster 4, FBSB, UII Yogyakarta. Ia tak megira bahwa sering presentasi ketika masih studi di Qudsiyyah. Pribadi aktif yang juga menggeluti jurnalistik ketika tingkat tsanawiyyah dan aliyah ini juga sering presentasi dalam lomba-lomba karya tulis ilmiah.

Berkat kerja keras, Mirza yang merupakan ketua tim patut berbangga pasalnya paper yang mereka alihbahasakan ke bahasa Inggris diterima, mengingat paper yang diterima hanya 130 dari 230 paper yang masuk. Mirza pun berhak mengikuti konferensi di Filipina pada tanggal 19-21 Mei 2016 setelah diumumkan termasuk 47 yang lolos presentasi dan akan diterbitkan dalam jurnal. Bersama timnya, Dinu Hafidh Muvarizb, Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggustic, Syafira Putri Ekayanid, Nyda Afsarie, ia berangkat menuju Filipina dan terus menyempurnakan paper selama di perjalanan.

Minder & Bangkit di antara Tokoh Pendidikan Dunia

Agenda hari pertama di Filipina adalah hari yang tak terlupakan, bukan hanya karena bertemu dengan pakar pendidikan, melainkan didaulat sebagai best five papers (5 paper terbaik) dalam ajang tersebut. “Saya pun berdiri dan kaget, paper kami disebut”, ungkapnya. “just go there, children”, sahut doktor disebelah mereka dan Mirza beserta tim turun untuk menerima penghargaan tersebut dengan sorakan riuh dari peserta yang mayoritas Dosen, Mahasiswa S2 dan Doktor. “Tangis banggapun tak terbendung,” lanjutnya “hanya kami presenter dari Indonesia dan mungkin yang termuda karena masih semester 4 program S1,” jelasnya.

MIRZA

Sedikit rasa gugup pada saat presentasi di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Paper berjudul The Effect of PTC (Parent Teacher Communication) on Student Engagement of Elementary School Students: The Role of Communication Technology merupakan penelitian yang telah dijalankan selama setengah tahun bersama timnya. Di Filipina, Mirza pun harus presentasi dengan Bahasa Inggris didepan para akademisi. Meski mengaku minder namun ia mendapatkan semangat kembali setelah beberapa peserta berpangkat Profesor memberikan apresiasi. “Profesor Choi (Filipina) berkenalan dengan kami dan bertukar kartu nama, Prof. James (Korea Selatan) menawarkan beasiswa S2 untuk kelanjutan studi kami,” ungkapnya, “Saya didampingi Akmal presentasi lepas tanpa catatan dan terbawa suasana saja.” Mirza pun sukses membawakan paper hingga tanya jawab dan justru dibawakan dengan gaya lucu dan santai.

Kesan di Filipina

Filipina adalah negeri yang minoritas islam. Berbeda dengan Indonesia, dimana masjid dan makanan halal adalah hal yang wajar, tidak mudah mendapatkan semua itu di Filipina. Sebelum mengikuti acara Mirza dan tim mengunjungi kedai yang halal, meskipun mahal mereka memaklumi karena makanan pokok disana adalah nasi dan daging babi. Namun dalam acara tersebut, panitia menyediakan 2 pilihan makanan berbahan dasar babi atau bahan ayam. “Padahal peserta yang Islam hanya kami, namun panitia sangat menghargai kami,” jelasnya, “tidak hanya makanan, tempat sholat juga disediakan 5 waktu”.

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Hari ketiga adalah waktu luang bagi Mirza beserta tim, tidak disia-siakan menyusuri jalanan Kota Malolos yang ramai. Keramaian khas hari Minggu tak berbeda dengan di Indonesia. Gereja dan gereja berjajar meneguhkan hati Mirza, ‘Terkadang aku bersyukur di Indonesia, makanan halal dan masjid masih banyak.

Sebagai negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua nasional, penggunaan Bahasa Inggris sangatlah wajar untuk masyarakat Filipina. Berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia, kesan Mirza dalam perjalanan wisatanya. “Pesanku buat anak Qudsiyyah, jangan remehkan Bahasa Inggris”, pungkasnya, “terbukti, dengan bahasa inggris lah kami berada disini”.

Setelah ini, Mirza fokus ke penelitian selanjutnya yang telah diterima di Malaysia dan Singapura. “Malaysia presentasi Juli, dan Singapura pada Agustus 2016,” jelasnya.

Reporter: Ahmad Arinal Haq

 

Kampus UIN Walisongo Jadi Tempat Berlabuh Dakwah Qudsiyyah di Semarang

QUDSIYYAH, SEMARANG – Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, bakal menjadi tempat diselenggarakannya “Roadshow; Meneladani Dakwah KHR Asnawi” Satu Abad Qudsiyyah di kota Semarang. Kegiatan yang berbentuk pengajian umum dan terbuka untuk semua kalangan tersebut bakal digelar di  auditorium I Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, pada Selasa malam Rabu (24/5/2016).

Kegiatan yang dikomandoi oleh panitia Satu Abad Qudsiyyah kerja bareng Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS), Ponpes Life Skill Daarun Najaah Semarang, JQH Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, dan Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang (KMKS) ini bakal menghadirkan beberapa pembicara. KH Nur Halim Ma’ruf (Kudus), Prof H Abdurrahman Mas’ud MA PhD (Jakarta), KH Abu Hapsin MA PhD (Semarang), KH Nadjib Hassan (Kudus) dan KH Ahmad Asnawi (Kudus) dijadwalkan bakal mengisi pengajian “Meneladani Dakwah KHR Asnawi” tersebut.
Kegiatan dalam rangka Peringatan Satu Abad Qudsiyyah tersebut juga bakal dimeriahkan oleh Rebana Al Mubarok Qudsiyyah Kudus. Rebana ini telah Sukses Menembus Dapur Rekaman hingga sepuluh album, dan bakalan meluncurkan album baru pada puncak peringatan Satu Abad Agustus mendatang. Kemeriahan Rebana Al Mubarok nanti dijadwalkan bakal mengundang Vokalis utama Gus Apang, Gus Ilham, Shofa, Ghofur. Juga, pengajian nanti bakal dibuka dengan Maulid & Do’a oleh Habib Rizqi Baharun.

Selain di Semarang, agenda dakwah ini juga bakal digelar di Karanganyar Demak pada Malam Kamis, 12 Mei 2016, di Masjid Baiturrahim, Karanganyar dan juga di Lengkong Mulyorejo Demak pada malam Jumu’ah, 26 Mei 2016 mendatang. (*)

Konfirmasi kehadiran ketik SMS/WA:
HADIR <spasi> NAMA <spasi> KAMPUS/ALAMAT ASAL
Kirim ke nomor 085641551875

Konferensi Pers Jelang Rangkaian Kegiatan 1 Abad

QUDSIYYAH, KUDUS – Tiga hari sebelum  dimulainya rangkaian event 1 Abad Qudsiyyah, panitia dan YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah) mengadakan Konferensi Pers yang bertempat di MA Qudsiyyah. Konferens

i pers dihadiri puluhan media baik cetak, siar maupun online. Dipimpin langsung oleh Ketua panitia, DR. Ihsan, M.Ag didampingi Sekretaris panitia, DR. Abdul Jalil, M.E.I. dan dihadiri oleh Drs. Em. Nadjib Hassan selaku Ketua YAPIQ.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperjelas informasi perihal kegiatan 1 abad yang akan berlangsung bulan April sampai Agustus 2016.  Mengankat tema “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”, rangkaian kegiatan 1 Abad Qudsiyyah melaksanakan 23 kegiatan yang dibalut kearifan lokal khas Kudus. Gusjigang sendiri merupakan term jawa yang berarti Bagus, Ngaji dan Dagang. Menurut Ihsan, di Kota Kudus, Gusjigang sendiri merupakan patron dan perlu dibumikan secara nasional.

Abdul Jalil menjelaskan situs “Menara Kudus” sebagai latar belakang event 100 abad ini. Merupakan bangunan yang dibangun dengan semangat pluralism dan mengenyampingkan fundamentalisme dan egoisme etnis dan agama. Karenanya, sudah seharusnya dengan semangat kebersamaan ini, Qudsiyyah menghadirkan kegiatan demi kegiatan berbasis local wisdom. Jalil menambahkan kegiatan 1 abad tidak hanya mencerminkan bagus saja, kegiatan akademis juga ditonjolkan memaknai term “ngaji”, sedangkan dagang direalisasikan dengan kegiatan expo.

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Menara diangkat oleh panitia sebagai logo 1 abad qudsiyyah, menanggapi hal itu, Abdul Jalil memaparkan eksistensi Menara Kudus sebagai simbol pluralism. Secara arsitekstur, tubuh Menara bercorak Hindu dengan atap khas Islam dan tempat wudlu ala budha yang disatukan di satu tempat peribadatan. Ia menambahkan bahwa sejarah mengungkapkan bahwa Kudus didirikan atas 3 etnis yakni Jawa, Cina dan Arab. Nadjib Hassan menambahkan bahwa kawasan Menara adalah pusat penyebaran islam di Kudus, dan Qudsiyyah mengakar disana. Bukannya tidak sengaja, Qudsiyyah didirikan oleh Mbah Asnawi yang juga cucu Sunan Kudus dalam rangka melestarikan dan melanjutkan dakwah dalam bentuk klasikal (berdasarkan kelas).

Lewat rangkaian kegiatan yang direncanakan, Qudsiyyah hendak memperkenalkan sholawat asnawiyyah dari Mbah Asnawi sebagai sholawat kebangsaan. Ihsan menyinggung usaha Qudsiyyah agar sholawat asnawiyyah tidak hanya milik orang Kudus, akan tetapi lebih luas di lingkungan nahdliyyin. Jalil mengklaim bahwa syair sholawat asnawiyyah adalah satu-satunya yang menyebutkan dan mendoakan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara jelas. Sehingga sudah sepatutnya sholawat Asnawiyyah menjadi sholawat kebangsaan dan dikenal secara nasional. Untuk itu, panitia juga telah menyiapkan seminar nasional yang didedikasikan untuk mendaulat sholawat asnawiyyah yang akan dihadiri oleh Cak Nun. Selain itu secara simbolis, Qudsiyyah akan menyerahkan sholawat Asnawiyyah ke Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai kampanye sholawat kebangsaan.

Rencananya, puncak acara akan dilaksanakan Agustus 2016 dengan kegiatan “Jagong Kamulyan”. Even ini merupakan pertemuan yang akan melepas semua atribut agama dan ego etnis yang menjadi sekat di dalam kultur masyarakat. Mbangun Kudus sebagai agenda utama dengan meneladani mbah Asnawi dan mengembalikan lagi pluralisme yang kian luntur di masyarakat. Jalil menambahkan sudah saatnya masyarakat duduk bersama dan Qudsiyyah sebagai civic menjadi yang terdepan melaksanakannya.

Di akhir, konferensi pers, Nadjib Hassan berharap 1 abad usia Qudsiyyah menjadi momentum revitalisasi madrasah dimana peran madrasah dituntut untuk tetap eksis mencerdaskan bangsa. Qudsiyyah akan terus mencoba menangkap dan mewujudkan visi misi pendirinya, Mbah Asnawi secara presisi dan meneruskan dakwah beliau.

QURBAN DAN BAKSOS DIMERIAHKAN TARI SUFI

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada yang berbeda dalam kegiatan Qurban dan Baksos tahun ini. Kegiatan yang rutin digelar setiap Idul Adha oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) ini digebyar dengan nuansa satu abad Qudsiyyah.
Acara yang dihelat selama tiga hari pada Kamis-Sabtu (23-25/09/2015) di lapangan Peganjaran Kudus ini memang menjadi bagian dari rangkaian gebyar satu abad Qudsiyyah Kudus yang puncaknya akan digelar pada Juli 2016 mendatang.

Berbagai acara turut memeriahkan acara utama Qurban dan Baksos ini, antara lain kegiatan bazar dan pameran oleh alumni dan Madrasah Qudsiyyah Kudus. Serta acara puncak pada peringatan ini adalah pengajian umum yang dimeriahkan dengan grup rebana Al Mubarok, Tari sufi serta dengan pembicara utama KH. Ahmad Asnawi Kudus.

IMG_7040Sebanyak empat penari sufi turut memeriahkan pembacaan maulid nabi Simtudduror dalam pengajian tersebut. Selain tari sufi yang menjadi banyak perhatian masyarakat adalah adanya pameran dan bazar dari produk dari alumni Qudsiyyah. Sebanyak 20 stan disiapkan untuk menampung pameran dan produk-produk dari alumni dan pemaran andalan dari Qudsiyyah sendiri.

Salah satu stand yang banyak menjadi tujuan adalah stand kaligrafi. Di sini di stand madrasah Qudsiyyah ini diberikan kaligrafi gratis penulisan nama dengan kaligrafi arab. Setiap pengunjung mendapatkan tulisan kaligrafi arab yang diberikan secara cuma-cuma dari karya para siswa dan santri Qudsiyyah yang menjadi andalan.

Ratusan masyarakat berbondong-bondong menyerbu stand ini. Selain stand kaligrafi juga yang menjadi andalan adalah stand falak. Di sini dipamerkan berbagai macam alat falak yang menjadi rujukan dan pameran, diantara theodolit untuk meneropong hilal dan sebagainya. Secara umum kegiatan ini sangat meriah dengan peserta kemah juga berasal dari sekitar 15 ambalan dari tamu undangan di sekolah MA/SMA sekitar.(*)

KOMPAQ Gelar Seminar Kebudayaan

QUDSIYYAH, KUDUS – Dalam rangka menyongsong satu abad Qudsiyyah Kudus, berbagai kegiatan digelar. Salah satunya orasi budaya dan seminar kebudayan yang diselenggarakan oleh Komunitas Pelajar Alumni Qudsiyyah (Kompaq) Kudus bekerjasama dengan dan Lembaga Swadaya Masyarakat Pusat Kajian Multikultural (LSM Pusaka).

Acara bertajuk “Menjadi Manusia Indonesia yang Berbudaya” ini dilaksanakan di Rumah Makan Gentong Sehat Getas Pejaten Kudus, Jawa Tengah, Jumuah sore (18/9/2015). Hadir dalam kesempatan tersebut puluhan pelajar, santri, seniman, budayawan, ormas, dan sebagainya.

Acara tersebut diisi oleh beberapa penampilan, di antaranya pembacaan puisi oleh Seniman asal Jepara, penampilan teater dari Kibaru Kudus, Stand Up Comedy dari Sleman, Monolog dari Yogyakarta, dan diakhiri dengan Seminar Kebudayaan oleh dua Budayawan dari Kudus dan Yogyakarta, yaitu Miftah Ali dan Yazid Al-Bustomi.

Chasan Albab selaku panitia mengatakan, kegiatan ini dilakukan dalam rangka memeriahkan satu abad Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus. “Acara ini termasuk dalam serangkaian acara ‘Menyongsong Satu Abad Qudsiyyah’ yang mana puncaknya insya’allah bulan Syawal tahun depan,” ujar santri Pondok Pesantren Raudlatul Mardiyyah Kudus ini.

Lebih lanjut Chasan menjelaskan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan para pelajar maupun masyarakat pada umumnya bisa sadar akan budaya Indonesia dan bisa menjadi manusia Indonesia yang berbudaya baik.

“Agar masyarakat lebih sadar akan budaya dan menjadi orang Indonesia yang berbudaya baik” kata Mahasiswa STAIN Kudus ini.

Di samping kegiatan tersebut, besok tanggal 23-25 September juga akan diadakan Perkemahan Bhakti Sosial ‘Satu Abad Qudsiyyah’ di lapangan Desa Peganjaran, Bae Kudus. yang melibatkan sekolah setingkat SMP-SMA se-Kabupaten Kudus.

Dalam perkemahan tersebut sekolahan se-kabupaten Kudus akan untuk mengikuti lomba kaligrafi, fotografi, kreasi musik, melukis, dan sebagainya.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR. Asnawi Kudus yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1919 M. namun sejak tahun 1917 M kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. (*)

QUDSIYYAH KUDUS, SONGSONG SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Semenjak lahir pada 1919 M yang didirikan oleh KH Raden Asnawi, Madrasah Qudsiyyah sudah meluluskan ribuan santrinya. Hingga menjelang satu abad berdirinya kini, banyak hal yang dipersiapkan oleh pihak Qudsiyyah, salah satunya dari Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ).

Sebagaimana disampaikan Ketua IKAQ, DR. H. M. Ihsan, mengajak kepada alumni di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam mengadakan kegiatan dalam rangka satu abad Qudsiyyah Kudus, membantu sesuai bidang masing-masing.

Pihaknya menjelaskan, banyak kegiatan yang akan disiapkan dalam rangka peringatan satu abad Madrasah yang didirikan oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

“Penulisan buku satu abad pengajian akbar, lomba, dakwah keliling, bazar, halaqoh, sepeda santai, dan lain sebagainya,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan dalam Halalbihalal IKAQ di halaman MTs Qudsiyyah, Kamis (30/7/2015) siang.

“Oleh karena itu, dalam rangka menyongsong satu abad ini, kami harap kepada semua alumni Qudsiyyah dimohon partisipasinya agar pelaksanaan peringatan satu abad Qudsiyyah bisa sukses sesuai dengan harapan para masyayikh (guru-guru sepuh-red),” tambah dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) KH Nadjib Hassan dalam sambutannya menegaskan, bahwa Halalbihalal bukanlah puncak dari kegiatan alumni, tetapi peran besar dari alumni adalah bagaimana menjaga keutuhan terutama di dalam menjaga aqidah Aswaja NU.

“Jangan sampai setelah keluar dari Qudsiyyah mengikuti aliran-aliran yang bertentangan dengan Aswaja NU. Kita itu punya Guru Besar yang namanya Mbah Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU), kenapa mengikuti guru-guru aneh yang tidak jelas sanad keilmuannya,” jelasnya.

Peran yang tidak kalah penting, lanjut Kiai Nadjib, mengangkat perekonomian para alumni. “Untuk itu, dua pokok tugas yakni aqidah dan perekonomian yang sangat penting diperhatikan untuk saat ini,” ujar mantan Ketua Paguyuban Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa itu.

Dalam halal Bihalal tersebut, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi. Dalam pesannya beliau menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Nabi Muhammad SAW. Mustasyar PBNU dari Kudus mencontohkan metode dakwah Nabi saat Fathu Makkah, dimana masyarakat Mekah ditaklukkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan diplomasi yang menarik. Sehingga masyarakat berduyun-duyun memeluk Islam. (*)

AYO, DESAIN BARENG LOGO SATU ABAD QUDSIYYAH!

Kami mengajak seluruh Alumni dan santri Qudsiyyah untuk berkontribusi secara terbuka dalam desain logo “Peringatan Satu Abad Qudsiyyah” dengan ketentuan sebagai berikut:
A. Ketentuan Umum
1. Desain logo terbuka untuk alumni dan santri Qudsiyyah
2. Logo dikirim ke email: yapiq@qudsiyyah.com dengan format jpg paling lambat 23 Agustus 2015 pukul 18.00 WIB
3. Sertakan biodata pengirim, deskripsi dan penjelasan singkat makna logo
4. Logo yang telah dikirim menjadi hak milik panitia untuk kemudian dilakukan pemilihan, penyempurnaan dan akan dilaunching pada saat Launching dan Baksos Qudsiyyah pada 22-24 September 2015
B. Kriteria Logo Satu Abad Qudsiyyah
1. Logo simple dan menarik
2. Unsur warna logo meliputi merah, kuning, hijau tua, hitam
3. Logo memuat gambar Menara
4. Unsur teks yang terkandung dalam logo: (1) 1 Abad/Satu Abad/100 tahun, (2) Qudsiyyah, (3) 1337 – 1437 H
5. Mengandung nilai/makna Qudsiyyah untuk Nusantara (bukan teks)
Kudus, 15 Agustus 2015
Panitia
M. Rozikan (Ketua) (085866424839) M. Nailal Mustaghfirin (Koordinator Desain Logo) (085641361616)

Membumikan Al-Qur’an Langgam Nusantara

KONTROVERSI pembacaan ayat al-Qur’an dengan langgam nusantara (khasJawa) saat peringatan isra’ mi’raj di Istana Merdeka menjadi sangat menarik untuk dikaji. Oleh sebagian pihak, Menteri Agama RI dituduh melakukan liberalisasi terhadap kitab suci. Di lain pihak, ada yang menyebut bahwalanggam Jawa untuk pembacaan al-Qur’an disebut sebagai ekspresi budaya—tanpa merubah kesuciannya.

Membaca al-Qur’an dengan langgam dan cengkok Jawa memang terasa aneh karena tidak lazim digunakan. Akan tetapi bagi masyarakat Jawa, gaya melagukan ayat al-Qur’an semacam itu sudah dimulai sejak lama. Orang-orang tua dan muballigh di desa-desa sudah sering memakainya. Sehingga dalam konteks budaya Jawa, gaya langgam Jawa untuk membaca al-Qur’an tidak jadi masalah.

Yang menjadi masalah akhir-akhir ini adalah ketika sudah disajikan argumentasi fiqh bahwa al-Qur’an dilanggamkan Jawa itu haram dan menyalahi hadits Nabi. Respon masyarakat juga menjadi beragam. Bahwa dalam merespon polemik ini tidak hanya sebatas bicara halal atau halal, tapi ada tiga hal pokok yang perlu diluruskan sehingga kesucian al-Qur’an tetap terjaga bersama.

Pertama, menjaga kesucian al-Qur’an tetap jadi fokus utama. Semua orang sepakat bahwa al-Qur’an itu suci dan harus dijaga kemurniaanya dengan empat cara: menjaga keaslian ayatnya tanpa pemalsuan, menjaga pemaknaan tekstual dan kontekstualnya, menjaga tata cara membaca dengan pola tajwid dan menjaga dengan pelestarian pengalaman isi al-Qur’an. Apapun perbedaan persepsi mengenai isi pemaknaan al-Qur’an, itu dianggap sebagai rahmat agama Islam, karena memang cara memaknai itu adalah bagian dari pemahaman tokoh agama masing-masing.

Kedua, sebagai kitab suci, al-Qur’an perlu diajarkan kepada masyarakat dan diamalkan ajaran-ajarannya. Untuk memelajari ilmu-ilmu al-Qur’an dibutuhkan banyak perangkat, dari mulai ilmu bahasa arab (nahwu, sharaf,badi’, ma’ani dan bayan), ulumul qur’an, asbabun nuzul, ilmu tafsir dan lainnya. Maka dari itu, isi al-Qur’an akan mendalam jika digunakan perangkat pemahaman dengan bekal ilmu-ilmu itu.

Bagi muslim yang belum menguasai ilmu-ilmu itu dapat menyederhanakan dengan mempelajari ilmu tafsir dan tentunya tetap menghargai adanya konsentrasi ilmu-ilmu lainnya. Dari sinilah isi al-Qur’an akan terungkap dengan detail dan masyarakat akan mampu mencerna ajaran-ajaran Islam yang original.

Dan ketiga, untuk melanggengkan isi kandungan al-Qur’an, maka agama Islam mendorong umatnya untuk membacanya. KH Sahal Mahfudh (2011) menyampaikan bahwa membaca al-Qur’an berbeda dengan membaca hadits Qudsi, walaupun keduanya adalah kalimat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dalam kitabnya,Syaikh Zakaria al-Anshari menyebutkan bahwa al-Qur’an termasuk al-muta’abbadu bitilawatihi, mendapatkan pahala ketika membacanya (walaupun tidakmengetahui artinya).

Gaya Baca

Persoalan yang sedang hangat diperbincangkan adalah soal membaca al-Qur’an dengan gaya langgam Jawa. Di sini juga ada empat hal yang perlu dilihat secara spesifik. Pertama, sejarah Islam mencatat bahwa kitab suci ini diturunkan di Makah dan Madinah sehingga disebut Makiyah dan Madaniyah. Hingga sekarang para muslim masih mengamalkan bacaan-bacaan al-Qur’an. Dalam posisi membaca pribadi atau kalangan tertentu, langgam bacaan al-Qur’an menyesuaikan selera pembaca. Dan yang ditekankan adalah dengan cara baca yang benar menurut ilmu tajwid (ilmu khusus untuk membaca kitab suci).

Dalam acara-acara keagamaan, lazimnya al-Qur’an dibaca denganlanggam (sering disebut memakai lagu) sesuai dengan gaya tartil dan qira’ah. Gaya bacaan tartil ini lebih sederhana karena al-Qur’an dibaca dengan lagu sederhana dan cengkok yang tidak terlalu rumit. Sedangkan gaya baca qira’ah ini lebih rumit karena mengikuti kaidah qira’ah yang lazim digunakan semacam: husaini, bayati, syika, nahwan dan lainnya. Model qira’ah inilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai bacaan khas bangsa Arab, tempat di mana al-Qur’an diturunkan.

Padahal perlu diketahui bahwa gaya qira’ah: husaini, bayati,syika, nahwan dan lainnya itu bukan dari Makah dan Madinah melainkan Iran. Dan Iran menurut Ahmat Sarwat (2015) pada masa Nabi bukan masuk Arab karena berbangsa dan bahasa Persi. Jadi itulah kesalah pahaman sejarah atas dasar kebiasaan dilanggamkan dikira asli Arab. Bahkan para pembaca al-Qur’an di dunia juga melanggamkan dengan gaya negaranya masing-masing seperti Mesir, Turki,Lebanon, Yaman dan lainnya.

Jadi perlu ditegaskan bahwa sejarah panjang ini jangan sampai dipotong atas dasar kebiasaan mendengar lantunan langgam saja, sehingga menyimpulkan dengan “kebiasaan” tapi tidak ilmiah.

Kedua, membaca dengan gaya langgam adalah budaya masyarakat. Al-Qur’an sebagai teks dan berisi ajaran tetap utuh keberadaannya, sedangkan masyarakat luas berhak atas budayanya masing-masing dalam membacanya. Orang Arab akan menggunakan langgam khas arabnya, begitu pula orang Indonesia berhak atas cara baca langgam dengan budayanya.

Kalau kemarin yang ditampilkan adalah langgam dan cengkok Jawa, maka tidak menutup kemungkinan akan menyusul langgam Sunda, Melayu, Bali, Papua dan lainnya. Jadi kalau ada pihak yang tidak sepakat dengan langgam Jawa adalah bagian dari ketidaksetujuan terhadap budaya dan bukan ketidaksepakatan terhadap gaya baca al-Qur’an. Intinya bahwa bacaan langgam Jawa adalah untuk membumikan al-Qur’an dengan pendekatan budaya nusantara.

Ketiga, bahwa langgam adalah seni membaca. Dan seni inilah yang akan memperindah dan menghibur notasi teks yang dibaca. Bisa diibaratkan bagi masyarakat yang sudah maniak dengan dangdut, maka dengan lirik lagu yang sama dirubah menjadi keroncong atau jazz akan nampak aneh dan cenderung menolaknya.Sama dengan langgam al-Qur’an yang sudah mainstream dan baku dibaca orang-orang Timur Tengah, ketika dilanggamkan Jawa akan terasa aneh dan mengagetkan. Itulah seni baca al-Qur’an dan terkait dengan budaya.

Oleh sebab itu wajar jika qari’ interasional dari Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar ikut menanggapi dan kurang setuju dengan gaya langgam Jawa dalam membaca al-Qur’an. Ada lima catatan yang diberikan dalam menanggapi video bacaan Muhammad Yaser Arafat saat membaca al-Qur’an dengan lagu Dandanggulo MacapatJawa, yakni: kesalahan tajwid, kesalahan lahjah (logat), kesalahan takalluf (memaksakan), kesalahan niat dan memperolok-olok ayat Allah.

Ketika orang Arab memberikan koreksi yang demikian itu sangat wajar karena ada perbedaan budaya dan logat. Sama halnya ketika orang Jawa di daerah Wonosobo danP urworejo misalnya tidak bisa melafalkan ‘ain, karena biasa menyebut nga’in. Bagi orang yang paham budaya akan memaklumi karena ini adalah soal kebiasaan dan dialek orang Wonosobo dan Purworejo demikian. Walaupun membaca al-Qur’an mereka susah mengucapkan ‘ain dan itu tidak disalahkan. Lahirnya qira’ah sab’ah (tujuh cara baca al-Qur’an) juga karena faktor dialek masyarakatTimur Tengah yang berbeda-beda dalam pelafalan dan detail bacaannya.

Dan keempat, pentingnya menghormati perbedaan. Adanya perbedaan dalam gaya membaca al-Qur’an tidak perlu diperpanjang karena ini ranah budaya dan seni baca al-Qur’an. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat digugah kembali untuk peduli terhadap kerajinan membaca al-Qur’an dan peduli terhadap cara baca yang benar sesuai tajwid. Termasuk yang terpenting adalah mengamalkan isi al-Qur’an untuk memperbaiki Indonesia dan dunia.*)

Dimuat Koran Jateng Ekspres, Kamis/21 Mei 2015.

oleh: M. RikzaChamami, MSI
ALumni Qudsiyyah dan Dosen FITK Universitas Islam Negeri Walisongo

Isra Mi’raj dan Spirit Toleransi NKRI

SETIAP 27 Rajab seluruh umat Islam selalu memeringati Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Pesan utama yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj adalah perintah menjalankan shalat lima waktu.

Melaksanakan shalat pada hakekatnya tidak hanya sekadar memberi manfaat pada si pelaku saja, tetapi lebih dari itu juga memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, bahkan bagi bangsa dan negara. Karena sesungguhnya shalat dapat menyelamatkan manusia dari berbuat keji.

”Sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Al Ankabut: 45). Mengingat nilai yang terkandung dalam shalat itu bersifat universal, maka implementasi dalam kehidupan nyata juga harus bersifat universal pula, yaitu harus lintas agama, etnis dan golongan.

Merealisasikan hal yang demikian ini tentunya sangatlah penting karena kian hari bangsa ini dihadapkan pada persoalan toleransi yang secara kuantitas dan kualitasnya semakin mengkhawatirkan. Di mana sekarang ini toleransi telah menjadi barang mahal dan langka di negeri yang katanya majemuk ini.

Dalam kondisi riil seperti itu seyogianya seluruh umat Islam berada di garda depan untuk memelopori tumbuhnya toleransi, sebagaimana yang pernah dilakukan dan didakwahkan Nabi Muhammad saw di Madinah. Bukan malah sebaliknya dalam berperilaku dan berdakwah justru melenceng jauh dari ajaran agung Nabi Muhammad yang selalu dalam kosmos toleransi.

Jika cara berdakwah yang mengabaikan prinsip toleransi seperti yang dilakukan sebagian umat Islam di Indonesia sekarang masih terus berlangsung, tidak tertutup kemungkinan ke depan akan terjadi benturan antarumat beragama, etnis dan golongan di bumi pertiwi ini. Dan bila hal itu sampai terjadi, maka tidak saja dapat mengganggu serta menghambat pembangunan nasional, tetapi lebih parah lagi akan dapat mengancam keutuhan NKRI.

Mulai saat ini, mau tidak mau segenap umat Islam dalam berdakwah hendaknya selalu mencontoh cara, strategi dan metode yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw, yaitu dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah.

Di mana dalam ranah praktis aplikasinya penuh dengan sikap toleransi, perdamaian, humanis dan santun. Bukannya dengan jalan kekerasan dan anarkisme yang jelas melenceng jauh dari subtansi tujuan shalat yang merupakan hasil Isra Mikraj Muhammad saw.

Dalam momentum peringatan Isra Mikraj kali ini, mari kita kaji dan renungkan bersama bagaimana Nabi Muhammad saw saat memimpin sekaligus berdakwah di Madinah. Dia telah melaksanakan toleransi yang luar biasa hebatnya. Sebagai pemimpin negara dan agama, Nabi Muhammad saw selalu mengakomodasi seluruh kepentingan rakyatnya tanpa mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan sedikit pun.

Sikap Simpatik

Justru dengan sikap simpatik serta toleransi yang sungguh-sungguh serta totalitas, agama Islam pada periode itu mengalami ekspansi dan kemajuan yang luar biasa.

Cara dan strategi dakwah seperti itu pulalah yang membuat Walisongo sukses penyiarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Mereka dalam berdakwah totalitas mencontoh apa yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw, yaitu dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah. Di mana cara dakwah semacam ini harus selalu lekat dengan akhlaqul karimah, humanisme dan toleransi yang tinggi.

Jauh dari praktik anarkisme dan teror. Namun justru dengan cara serta metode inilah agama Islam dapat diterima dan berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, bahkan hingga bisa sebagai agama mayoritas di Indonesia. Sikap akomodatif, humanis dan toleransi itu hakikatnya merupakan inti dari ajaran agama Islam dalam hal dakwah.

Terutama ajaran yang terdapat dalam Surat Al-A’raf; ”Sesungguhnya Kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk berkenal-kenalan.”Ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan manusia dengan beragam bangsa dan suku merupakan sunnatullah yang pasti akan selalu ada sampai kapan pun. Karena keragaman dan plutralitas hidup manusia adalah realitas kehidupan di bumi yang dikehendaki Allah Swt.

Di sisi lain ayat itu juga mempunyai tujuan untuk menciptakan kesadaran kognisi manusia agar saling mengenal satu sama lain dalam suatu proses dan dialektika hidup bersama. Sebab hanya dengan modal pluralitas, toleransi dan kesadaran manusia tersebutlah roda kehidupan dengan dinamika, dialektika dan pemberdayaannya dapat berjalan terus.

Tetapi sayang sering kita sebagai umat Islam dan warga bangsa Indonesia yang majemuk ini belum mampu menangkap pesan Ilahiyah yang terdapat dalam Alquran tentang pluralisme dan toleransi itu.(*)

oleh: M Saifuddin Alia
Pengurus IKAQ Menara Kudus; Direktur Central for Islamic Education and Culture Studies (CIIS) Grobogan

TULISAN INI TAYANG DI SUARA MERDEKA, EDISI 15 Mei 2015

PESANTREN BERWAWASAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN

KEBERADAAN Pondok Pesantren (selanjutnya disebut Pesantren) akhir akhir ini menjadi bahan perbincangan dunia akademik. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang semula tertutup sekarang sudah membuka diri dengan dengan perkembangan zaman. Termasuk pesantren juga memberikan ruang terbuka dalam menginovasi lembaganya dengan pendidikan umum dan pendidikan politik.

Pendidikan umum di pesantren dijalankan secara baik. Karena kalangan pesantren mulai menerima masukan dari wali Santri agar anaknya berilmu agama kuat dan mempunyai pengetahuan umum. Apalagi dengan dibukanya peluang beasiswa Santri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri bergengsi di Indonesia, menjadikan pesantren semakin memperkuat kebijakan ini.

Tentunya untuk menjemput bola terwujudnya Santri yang ilmiah, pesantren tetap memperteguh visi agamanya.
Dalam wujud inilah, perlu sekali pemahaman bersama mengenai pendidikan pesantren dalam pengembangan ilmu sains. Meski belum semua pesantren mampu membuka peluang ini, paling tidak Kyai mulai sadar tentang pentingnya ilmu sains.
Mengenai pendidikan politik di pesantren memang tidak terkemas dalam kurikulum formal. Pendidikan politik di pesantren berupa materi kurikulum tersimpan (hidden curriculum) pada pesantren yang Kyai dan keluarga ndalem terjun langsung ke dunia politik (baik sebagai penasehat atau fungsionaris). Pendidikan berupa teladan politik ini yang kemudian menjadi bahan “anutan” oleh para masyarakat dan Santri.

Dalam meneguhkan visi pesantren sebagai lembaga agama, maka dibutuhkan warna baru tentang pendidikan politik pesantren ini.Jangan sampai pesantren memberikan corak politik yang tidak santun di tengah masyatakat. Apalagi politik praktis yang mengakar pada sebuah tradisi politik belah bambu dan politik kekuasaan. Hendaknya ada model politik pesantren kebangsaan yang mengarah pada tiga dimensi.

Pertama, dimensi budi pekerti. Politik pesantren dengan mengandalkan budi pekerti bukan berarti segala langkah politik berbungkus agama. Akan tetapi komunikasi politik yang dikemas dengan bahasa santun dan lobi-lobi politik yang tidak banyak membuat orang kecewa. Model ini bukan menjadikan politik pesantren selalu kalah. Justru dengan budi pekerti, maka ada banyak simpati dari para politisi yang menempatkan kader politik pesantren di pos strategis –tidak hanya pembaca do’a saja.

Kedua, dimensi strategi koorposari. Pesantren punya modal besar dalam menata pola strategi koorposari dengan tawashau bil haqqi wa tawa shaubis shabri (saling memberikan nasehat politik). Jalan yang dilakukan dalam memberikan kritik politik adalah demi kebaikan bersama. Bukan dengan prinsip like and dislike, suka dan benci sebagaimana politik konvensional.

Dan ketiga, dimensi kesejahteraan ummat. Para politisi yang menjadapatkan amanah menjadi wakil rakyat dan pemimpin perlu memegang teguh prinsip: sayyidul qaumi khadimuhum, oemimpin adalah abdi untuk ummat. Maka tidak salah lagi pemimpin politik yang ingin memperkaya diri sendiri dan mengkorupsi hak-hak masyarakat.
Di sinilah politik pesantren hadir sebagai kuasa untuk menjadikan dirinya sebagai abdi masyarakat, jangan sebaliknya ingin menjadikan masyarakat sebagai budak politiknya.

Perjalanan bangsa Indonesia masih cukup jauh sekali dalam menatap Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Pesantren dengan model politik kebangsaan ini akan mencoba memberikan gagasan politik baru, yaitu politik yang berdaulat dan amanah. Jika memang pesantren bisa hadir dengan warna ini, maka asa pesantren akan dikenang sepanjang sejarah. Bahwa pesantren menjadi motor penggerak politik kebangsaan ini.

Target besar dari politik kebangsaan ini adalah demi menyatukan kembali bangsa ini. Sebab akhir-akhir ini banyak sekali agenda nasional yang terbengkalai hanya persoalan beda visi politik. Oleh sebab itu, butuh figur pemersatu bangsa ini yang diharapkan hadir dari Rahim pesantren. Pesantren punya tanggungjawab ini semua. Jangan kemudian kehadiran pesantren menjadi bagian dari pemecah belah kesatuan bangsa ini. (*)

Oleh: M. Rikza Chamami, Alumni Qudsiyyah Kudus tahun 2000
Tulisan ini dimuat di JATENG POS, edisi Kamis, 27 Maret 2015