Habib Syekh Hadiri Pengajian Satu Abad Qudsiyyah

Rindu para pecinta sholawat serasa terobati, ketika Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf hadir di Bumi Gemiring Kidul dalam rangka pengajian ‪#‎1abadqudsiyyah. Acara yang masih satu rangkaian Roadshow peringatan satu abad Qudsiyyah Kudus ini mampu menyedot perhatian warga Jepara dan Kudus, walaupun panitia belum mengkonfirmasi, diperkirakan 5000 jamaah hadir dan memeriahkan pengajian bertajuk Jepara Bershalawat; Meneladani Dakwah KHR. Asnawi pada Kamis (14/7/2016) malam.

Sembari Maghrib para jamaah telah memenuhi area depan panggung menunggu acara dimulai, dan setelah Isya panitia menghadirkan Jam’iyyah Al-Mubarok Qudsiyyah bersama Gus Apank untuk mengawali acara malam itu. Rangkain acara berlangsung seperti pembacaan Ayat suci Al-Quran dan Tahlil oleh alumni Qudsiyyah di Jepara. Kehadiran Habib Syekh tepat selepas doa Tahlil disambut meriah oleh ribuan pecinta shalawat yang hadir seraya membawakan poster “Kami Rindu Habib Syekh Hadir Di Kudus”. Saat ini Habib Syekh terus berdakwah dengan shalawat baik di dalam maupun luar negeri, dan memang telah lama beliau tidak hadir di Kudus sehingga pantas warga Kudus berbondong-bondong datang mengingat lokasi Desa Gemiring Kidul sangat dekat dengan perbatasan Kudus.Sebelum Habib Syekh memulai, beliau persilahkan Drs. Em. Nadjib Hassan, sosok yang sangat ingin ia temui dan tidak menyangka bertemu dalam momen malam itu. Nadjib selaku Ketua YAPIQ memberikan sambutan singkat dan menyatakan bahwa Qudsiyyah akan terus menyiarkan dakwah ahlussunnah wal jamaah seperti dzikir dan shalawat. Dengan telah sampainya usia yang ke-100 ini, Nadjib berharap Qudsiyyah menjadi semakin maju dan berkembang pesat. Apalagi dengan usia yang sudah cukup tua, eksistensi Qudsiyyah semakin tinggi dengan semakin banyaknya alumni yang berhasil menjadi sosok yang mampu bermanfaat di lingkungan masing-masing.

Lantunan merdu nan kuat ala Habib Syekh semakin indah dengan kehadiran penerbang dari Jepara dan Kudus seperti Hadroh Ahbabul Musthofa Kudus, Jam’iyyah Al-Mubarok Qudsiyyah, Penerbang Polres Kudus dll. Syi’ir Jawa yang dilagukan dengan nada sholawat beriringan dengan  Sholawat yang sering dibawakan oleh Habib Syekh, tak ayal para hadirin dengan lancar bershalawat bersama dan “hanyut” dalam pengajian malam itu. Beliau memang sering membawakan syair jawa yang konon merupakan karya Sunan Kalijaga ketika berdakwah dan beliau menemasnya dengan shalawat yang sangat pas diiringi dengan tabuhan Terbang Habsyi.

Hal yang tidak bisa dilupakan adalah ketika habib Syekh berulang kali mengucapkan selamat hari jadi kepada Qudsiyyah dalam beberapa lagu, salah satunya adalah lagu “Alfa Mabruk” yang beliau deklarasikan sebagai lagu ucapan ulang tahun untuk warga nahdliyyin. Setelah menyanyikan lagu tersebut, Habib Syekh menjelaskan bahwa 1000 keberkahan adalah arti dari lagu tersebut dan sudah sepatutnya menjadi persembahan untuk nahdliyyin yang berulang tahun. Selamat ulang tahun Qudsiyyah yang ke-100, beliau mengakhiri.

Dalam sela-sela bershalawat beliau juga mempersilakan keponakannya, Habib Muhammad bin Farid al-Muthohhar (Semarang) untuk memberikan tausyiah. Ceramah singkatnya menjelaskan tentang Dakwah KHR. Asnawi yang tegas dan istiqomah sebagai teladan. “KHR. Asnawi meniru dakwah sayyidina Umar yang tak pernah takut dan Tegas,”. Menjelang Qiyam,  Habib Syekh menuturkan, “Saya kangen ceramah yai Asnawi Kudus”, sambil memberikan microphone kepada KH. Ahmad Asnawi. Yai Asnawi pun memberikan ceramah tentang Muslimin yang berpuasa di Bulan Ramadlan bagaikan bayi yang baru lahir, karena mereka tidak akan dibenci justru disayangi oleh makhluk. Tak jarang dalam ceramahnya yang berisi dan sarat candaan, Yai Asnawi pun menyindir Habib Syekh untuk mampir lagi di Kudus dan bershalawat bersama.

Habib Syekh mengajak para hadirin untuk “qiyam” dan melantukan shalawat Nabi dari Kitab Simtud Duror. Setelah shalawat usai Gus Aapank dipersilakan untuk memandu peserta melantunkan shalawat Asnawiyyah dan Shalawat Qudsiyyah Satu Abad. Masih dalam keaddan berdiri, Habib Syekh mengajak hadirin menyanyikan Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” dan acarapun purna ditutup doa ikhtitam dari KH. Ahmad Asnawi.

Salah satu panitia kegiatan, M Zamroni mengatakan, kegiatan ini masih merupakan rangkaian dari peringatan satu abad Qudsiyyah dengan tema membumikan Gusjigang untuk kemandirian Bangsa. Pihaknya mengaku senang dengan antusiasme jamaah yang hadir pada pengajian dan selawat tersebut. “Ini merupakan hasil dari kerja sama dengan pihak-pihak terkait sehingga pengajian dan  selawat dalam rangka peringatan 1 abad Qudsiyyah di Jepara ini berjalan lancar,” ucapnya.

IKAQ Tangerang Adakan Bhaksos

QUDSIYYAH-TANGERANG, Memperingati 100 tahun Qudsiyyah, Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) menggelar kegiatan bakti sosial Ramadhan di Masjid An-Nur, Kelurahan Pondok Betung, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Sabtu (18/6/2016) malam.
Bakti sosial yang dihadiri sekitar 200 orang alumni se-Jabodetabek tersebut antara lain berupa pemberian santunan kepada 100 anak yatim/piatu dan dhuafa,  pengobatan serta pangkas rambut gratis. “Bakti sosial ini, selain sebagai ajang silaturahmi  juga  sebagai bentuk kepedulian sosial  para alumni Qudsiyyah se-Jabodetabek pada masyarakat,” kata Ketua IKAQ Jabodetabek, Dr Akhmad Shunhaji, M Pd.I.
Sementara itu, Kepala Litbang Kementerian Agama, KH Prof. Abdurrahman Mas’ud yang juga alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus (Jawa Tengah) dalam ceramahnya mengatakan, peringatan 1 abad Qudsiyyah harus dapat dijadikan momentum pengabdian alumni pada masyarakat dengan cinta sesama yang penuh kedamaian , memiliki jiwa sosial serta memiliki semangat kerja keras. “Hikmah Ramadhan adalah mengajarkan kesamaan kedudukan semua umat di hadapan Allah SWT,” ujar Abdurrahman.
Kegiatan peringatan 1 bbad Qudsiyyah ini mengangkat tema ‘Gusjigang’, singkatan dari kata Bagus , Ngaji dan Dagang, yang mempunyai arti bahwa para alumni Qudsiyyah harus dapat mewarisi nilai nilai perjuangan pendiri Madrasah Qudsiyyah yaitu, KH.R Asnawi dengan sebuah bentuk perjuangan pengamalan ahlak mulia, ilmu yang mumpuni dan melakukan kerja keras dalam upaya mewujudkan kemandirian bangsa.
Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama IKAQ Jabodetabek dengan Pengurus Masjid An Nur, LPM Lentera dan PT Indofood.300X100 SPANDUK

 

Parade Bedhug Dhandang Sambut Ramadlan

IMG_0549

Deretan Dokar Meramaikan Parade Bedhug Dhandang

QUDSIYYAH – KUDUS, Ada yang menarik melintas jalanan kota Kudus pada Selasa (31/5). Rombongan dokar dan arak-arakan replika Menara Kudus berparade dari pagi hingga siang. Parade yang digelar oleh Qudsiyyah masih dalam rangka memperingati satu abad Qudsiyyah ini mengambil tema Bedhug Dhandang. Ramadhan  1437 H tinggal menghitung hari, umat muslim di Kudus memiliki Bedhug Dhandang yang merupakan tradisi yang dimulai sejak zaman Sunan Kudus untuk mengumumkan mulainya bulan Ramadlan. Dalam kegiatan tersebut, bedhug kuno yang dahulu merupakan bedhug utama di Menara Kudus diarak juga. Bedhug yang dimusiumkan oleh YM3SK itu semakin menambah kesan historis dalam parade sembari ditabuh dengan nada khas “bedhug dhandang”. Denny, staf YM3SK menjelaskan bahwa ini kali pertama minitur menara dan bedhug bersejarah diarak.

Rombongan parade berangkat dari Hotel Griptha, disana para peserta yang sehari sebelumnya telah mengikuti seminar sudah berkumpul sedari pagi. Dokar berjumlah 20 ditambah 2 mobil yang membawa replika Menara Kudus dan bedhug tersebut menuju ke arah Demak.  Miftah selaku kordinator parade menuturkan bahwa perjalanan sebenarnya dimulai dari Karanganyar, dikandung maksud merefleksikan rombongan Sunan Kudus yang memasuki Kudus dari kerajaan Demak, melewati Sungai Serang.

Bedhug Kuno Menara Kudus yang diarak dan ditabuh selama Parade

Bedhug Kuno Menara Kudus yang diarak dan ditabuh selama Parade

Rombongan berlanjut ke Masjid Wali Loram, tempat dimana Sunan Kudus menemui Thai Ling Sing untuk mengatur strategi dakwah di Kudus. Setelah itu, perjalanan panjang menuju ke Desa Kauman, lokasi dimana situs Menara Kudus berada. “Karena sudah memasuki masa dhandangan, maka rombongan akan check point di MTs Qudsiyyah, untuk selanjutnya berjalan bersama ke Kompleks makam Sunan Kudus untuk berziarah,” jelas Miftah.

Setibanya di makam Sunan Kudus, rombongan yang kala itu berpakaian serba putih dan memakai udeng-udeng/ iket sebagai penutup kepala ini membaca tahlil dipimpin oleh Kyai Mas’an dan Kyai Fahruddin. Para peserta parade turut haru, salah satu peserta berkesan positif tentang perjalanan kirab yang tidak hanya mengingatkan kembali tradisi para leluhur namun mengajak agar tak lupa jasa-jasa leluhur melalui tradisi ziarah juga. Rombongan bertolak pulang ke Hotel Griptha lagi setelah sebelumnya melewati simpang tujuh alun-alun Kudus.

SEMINAR TRADISI BEDHUG DHANDANG

Sebelum Parade bedhug dhandang digelar, malam harinya diadakan seminar dengan Tema “Bedhug Dhandang; Napak Tilas Laku Sunan Kudus dalam Penentuan Awal Ramadlan”. Seminar yang terlaksana dengan kerjasama YM3SK dan KESBANGPOL-LINMAS Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan pada Senin malam (30/5) di Aula Hotel Griptha. Seminar ini membahas astronomi terapan, khususnya dalam penentuan awal Ramadlan oleh Sunan Kudus dan dihadiri oleh 100 peserta serta diisi oleh 3 pemateri;

  • Drs. H. M. Nadjib Hassan, Ketua YM3SK (Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus)
  • Fahruddin, M.Pd (Praktisi Falak/ Astronomi Islam)
  • Dr. Abdul Jalil, M.E.I. (Dosen dan Sejarawan)
_MG_7411

Seminar Tradisi Bedhug Dhandang; Napak Tilas Laku Sunan Kudus dalam Penentuan Awal Ramadlan

Nadjib menuturkan betapa bijak Sunan Kudus dalam menentukan awal ramadlan. Bedhug dhandang menjadi sarana mengumumkan awal wajib puasa Ramadlan. Pada masanya, para muslimin menunggu di halaman masjid sehingga banyak pedagang yang berdagang disana. Nadjib menyayangkan masyarakat hanya mengetahui dhandangan sebagai pusat keramaian saja, bahkan keadaan sekarang terlihat seperti pasar malam, tidak ada unsur kebudaayaan atau sejarah. Ia menengarai dhandangan lebih bersifat ekonomi dan komersil, terbukti tradisi dhandangan justru diolah oleh Dinas Pasar, dan bukanlah Dinas Kebudayaan. Nadjib khawatir jika dhandangan akan dikenang sebagai hura-hura menyambut ramadlan saja, dan lebih meguntungkan warga luar bukan menguntungkan warga setempat.

Pendapat yang sama diutarakan Jalil, pemateri kedua. Dhandangan memiliki nilai religi yang sangat tinggi. Semakin memperteguh fungsi Menara Kudus dan Masjid al-Aqsha sebagai pusat kota Kudus. Bedhug Dhandang ditabuh setelah ashar menjelang maghrib sebagai pertanda bahwa setelah matahari terbenam sudah memasuki bulan Ramadlan, sehingga amalan-amalan ramadlan seperti tarawih, qiyamul lail dan niat puasa bisa mulai dilakukan. Jalil yang juga akademisi ekonomi ini memperhatikan betapa banyak keuntungan pemerintah dalam hajatan dhandangan, namun sayang tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat. Para pedagang yang meramaikan dhandangan justru berasal dari luar Kudus, sedangkan penduduk asli tidak begitu banyak. “Pribumi harusnya yang paling kaya karena kegiatan dhandangan, bukannya malah setor kekayaan ke pedagang luar dan menguntungkan yang lain,” ugkapnya mengkritik.

Kerjasama Harmonis antara Qudsiyyah dan Asy-Syafi’iyyah Demak

QUDSIYYAH – DEMAK, Jauhnya lokasi pengajian pada Kamis malam (26/5) tidak menyurutkan semangat santri Qudsiyyah untuk turut hadir dan bershalawat bersama masyarakat Lengkong. Semangat tak surut untuk menghadiri pengajian ‪‎1 abad Qudsiyyah‬ di Lengkong, Desa Mulyorejo, Kec. Demak, Demak. Pengajian keliling atau yang disebut roadshow dakwah berlokasi di halaman Madrasah Asy-Syafiiyah yang juga membantu terlaksananya pengajian malam itu, sekaligus merayakan haflah akhirussanah. Para hadirin tampak memenuhi halaman yang diperkirakan mencapai 1000 hadirin dari Desa Mulyorejo dan sekitarnya, menambah ramainya pengajian tersebut.

Setelah dimulai selepas isya’, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an dan sholawat Asnawiyyah. Sholawat Qudsiyyah 1 Abad juga dipopulerkan dalam acara ini. Pembacaan maulidurrasul dipimpin oleh ustadz H. Ashfal Maula diiringi Jam’iyyah ad’Dufuf al-Mubarok Kudus, dilanjutkan pembacaan Tahlil untuk para masyayikh dipimpin oleh Kyai Asmudi Sujud.

Setelah pembacaan tahlil, K. Ahmad Abbas selaku pengurus Madrasah Asy-Syafi’iyyah memberikan sambutan menghaturkan selamat kepada Qudsiyyah yang telah berusia satu abad. Dalam sambutannya, beliau juga menuturkan beberpa program madrasah Asy-Syafi’iyyah. Kyai Ahmad Sudardi menjawab selamat dari Kyai Ahmad Abbas dalam sambutannya mewakili dewan guru Qudsiyyah.

Acara selanjutnya ialah sambutan dari Camat Demak, Fatkhur Rahman, S.H. M.M. Beliau sangat senang dapat hadir diantara warga Mulyorejo dan civitas akademika Qudsiyyah. Beliau berharap kerjasama seperti ini terus dilanjutkan mengingat banyak alumni Qudsiyyah di wilayah Demak, dan bantuan keilmuan sangat bermanfaat.
pengajian malam itu ditutup dengan mauidloh KH. Noor Halim Ma’ruf dan Doa penutup KH. Fathur Rahman. Pengajian di Lengkong merupakan penutup Roadshow pengajian jilid pertama. Menurut Ketua Kegiatan satu abad Qudsiyyah, H. Ihsan, M.Ag bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan alumni Qudsiyyah di Jepara, Yogyakarta bahkan Pekalongan setelah Hari raya lebaran 1437.

Lengkong, Pengajian Penutup Jilid Pertama

QUDSIYYAH, KUDUS – Bergerak menuju daerah perkotaan Demak, Qudsiyyah menyelenggarakan pengajian di Lengkong, Desa Mulyorejo Kec. Demak, Demak. Meskipun terpisahkan jarak yang jauh, namun terdapat basis kecil alumni Qudsiyyah di wilayah Kota Demak, tercatat beberapa santri Qudsiyyah berasal dari Demak, baik yang nglaju maupun bermuqim di Pondok. Pengajian dilaksanakan pada 20 Sya’ban 1437 H. / 26 Mei 2016 sebagai kelanjutan dari rangkaian roadshow dakwah “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi”, bertempat di halaman Madrasah Asy-Syafi’iyyah, Mulyorejo Demak.

Selain memeriahkan gaung satu abad Qudsiyyah, kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama antara Lembaga Pendidikan Qudsiyyah dan Asy-Syafi’iyyah, diselenggarakan dalam rangka haflah Akhirus sanah madrasah Asy-Syafi’iyyah. Pengajian akan dimeriahkan oleh Jam’iyyah ad-Dufuf al-Mubarok Qudsiyyah dan Gus Apang yang akan memimpin pembacaan maulidurrasul. Pengajian juga dihadiri oleh segenap asatidz Madrasah Qudsiyyah, terutama KH. Noor Halim Ma’ruf yang rencananya akan memberikan siraman tausyiah untuk para hadirin pada kegiatan tersebut.

Pengajian di Lengkong merupakan penutup Roadshow pengajian jilid pertama. Menurut Ketua Kegiatan satu abad Qudsiyyah, H. Ihsan, M.Ag bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan alumni Qudsiyyah di Jepara, Yogyakarta bahkan Pekalongan setelah Hari raya lebaran 1437.

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam Sarekat Islam: Refleksi Historis Gerakan Sarekat Islam Cabang Kudus (1912-1918)

DEKADE awal abad XX situasi politik di Indonesia mengalami dinamika yang signifikan. Kesadaran nasionalisme dikalangan pribumi semakin tumbuh seiring munculnya berbagai organisasi dan perkumpulan politik. Menariknya banyak dari perkumpulan politik tersebut diinisiasi langsung oleh kelompok pribumi. Sebut saja Budi Utomo dan Sarekat Islam yang menonjol dalam periode awal pergerakan nasional. Sarekat Islam berdiri di Solo pada tahun 1911 dengan nama Sarekat Dagang Islam. Peran SDI, yang kemudian dirubah tahun 1912 menjadi Sarekat Islam (SI) di Solo signifikan, bahkan cenderung radikal. Diantaranya adalah melindungi pengusaha pribumi dari pentrasi pengusaha Tionghoa dalam industri batik. Pada tahun-tahun berikutnya SI membuka cabang dibeberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, dan tidak ketinggalan cabang Kudus.

Riwayat Sarekat Islam Cabang Kudus

Sarekat Islam Kudus berdiri pada tahun 1912 di bawah pimpinan Haji Djoepri yang merupakan pengusaha kretek.[1] Kepengurusan SI Kudus banyak didominasi oleh para haji dan ulama. Salah satu ulama yang berpengaruh waktu itu adalah KHR Asnawi yang menjabat sebagai penasehat SI Kudus. Beliau dilahirkan pada tahun 1861 dengan nama Raden Ahmad Syamsi, nama Asnawi disandangnya selepas pulang haji.[2] Selain aktif dalam Sarekat Islam Cabang Kudus, KHR Asnawi juga tokoh penting Nahdhatul Ulama’ Cabang Kudus.[3] Keterlibatan KHR Asnawi dalam Sarekat Islam dimulai dari keterlibatan beliau dalam jaringan ulama nusantara di Haramain. Pergaulan yang kosmopolit menghantarkan pertemuan KHR Asnawi dengan HOS Tjokroaminoto yang saat itu menjadi tokoh sentral Sarekat Islam. Maka sekembalinya ke tanah air, KHR Asnawi diminta secara khusus untuk mendirikan SI cabang Kudus. Ketokohan KHR Asnawi cukup diperhitungkan dalam peta politik nasional, sehingga beliau sering mendapat kepercaaan untuk menempati posisi strategis dalam beberapa organisasi.[4]

Awal kemunculannya, SI Kudus menonjolkan penguatan agama Islam dalam masyarakat Kudus. Hal ini dibuktikan dengn didirikannya dua madrasah, Muawanatul Muslimin pada tahun 1915, dan satu lagi madrasah yang berlokasi di Menara pada sekitar tahun 1918. Madrasah Muawanatul Muslimin Kenepan (M3K) berdiri tepatnya pada tanggal 7 Juli 1915 sebagai bentuk gerakan pendidikan yang dikampanyekan SI Kudus. Madrasah setingkat ibtidaiyah ini memiliki jenjang pendidikan 8 tahun yang terbagi dalam 8 kelas yang dimulai dari kelas 0.[5] Sementara itu Madrasah kedua yang berlokasi di Menara kemungkinan besar merupakan cikal bakal madrasah Qudsiyyah.[6] Karakteristik SI Kudus mungkin agak berbeda dengan SI kebanyakan waktu itu. Visi kemandirian ekonomi pribumi dan gerakan progresif kaum buruh menjadi trademark SI sehingga mendapat perhatian khusus pemerintah kolonial. Terlebih gerakan revolusioner yang mengancam rust en order sangat ditakuti pemerintah kolonial. Di Semarang misalnya SI menjadi creator gerakan pemogokan buruh kereta api pada tahun 1920.

Karakteristik SI Kudus yang cenderung bersifat keagamaan mungkin disebabkan dua hal. Pertama tidak bisa dipungkiri bahwa dominasi Haji dan ulama menjadi faktor penentu arah gerak maupun visi misi organisasi. Kedua adalah iklim perburuhan di Kudus tidak terlalu progresif sebagaimana Surabaya dan Semarang yang notabenenya memiliki pelabuhan dan menjadi kota industri dan perdagangan masa kolonial. Namun demikian dinamika SI Kudus selanjutnya mengalami pengaruh dan gejolak yang sama dengan SI Semarang. Friksi dalam SI seiring kehadiran kelompok yang terpengaruh paham sosialisme-komunisme yang dibawa oleh Sneevlit. Ketidak cocokan kelompok SI Kudus yang cenderung sosialis berujung pada pemisahan diri dari organisasi. Mereka yang keluar SI mendirikan organisasi sempalan PKBT (Perkumpulan Kaum Buruh dan Tani) yang dipimpin oleh Soerorejo dan Zaid Moehammad.[7] Pada tanggal 29 Oktober 1918 organisasi baru ini mengadakan rapat akbar di alun-alun Kudus. Isu-isu yang dibicarakan cukup progresif, diantaranya penghapusan lumbung desa dan sistem kesehatan berkeadilan.[8]

Huru Hara Kudus 1918

Momentum yang perlu dicatat dari eksistensi SI Kudus adalah peristiwa huru hara Kudus tahun 1918. Kronologi peristiwa ini diawali dengan pawai Toa Pek Kong yang diselenggarakan orang-orang Tionghoa dalam rangka menolak datangnya bala’ berupa penyakit influenza. Saat itu penyakit ini cukup menakutkan karena bisa berujung pada kematian. Sebenarnya perayaan ini mengantongi ijin pemerintah Belanda. Namun pawai terakhir yang diselenggarakan tanggal 30 Oktober 1918 berakhir denga chaos. Dalam arak-arakan Tionghoa terdapat orang Tionghoa yang berpakain layaknya haji yang ditemani sejumlah perempuan. Padahal rombongan arak-arakan ini melewati kawasan Menara Kudus yang pada saat itu berkumpul orang-orang         muslim pribumi yang sedang merenovasi masjid Menara. Tindakan ini dinilai oleh pribumi muslim sebagai aksi provokatif yang menyakiti hati mereka sebagai muslim.[9] Sebanarnya keributan yang berlangsung di kawasan Mesjid Menara ini bisa diakhiri dengan perdamaian di kantor Sarekat Islam Kudus pada tanggal 31 Oktober 1918 dengan sejumlah kesepakatan.[10] Sayangnya disaat yang sama sebagian kelompok juga telah merencanakan penyerangan terhadap orang-orang Tionghoa, bisa dikatakan sebagai aksi lanjutan yang berkonotasi balas dendam.[11] Dalam penyerbuan melibatkan massa antara 2000-3000 pribumi yang berdatangan tidak hanya dari Kudus menyebabkan 50 rumah orang Tionghoa terbakar.[12]

Pasca kerusuhan banyak dari tokoh SI ditangkap dan dipenjarakan. Setidaknya 68 orang diadili dengan hukuman yang bervariasai, termasuk KHR Asnawi yang menerima vonis 3 tahun penjara.[13] Benny G Setiono berpendapat peristiwa kerusuhan rasial Kudus tahun 1918 merupakan bagian dari politik adu domba Belanda dalam merespon gerekan militant SI yang semakin massif, termasuk di Kudus. Persaingan antara pedagang batik dan rokok kretek Arab dengan pengusaha Tionghoa sengaja dihembuskan. Kerusuhan diwarnai dengan aksi pembakaran rumah dan toko orang-orang Tionghoa yang disertai dengan penjarahan dan perampokan tidak lain merupakan ekses dari politik segresi pemerintahan kolonial yang memisahkan orang-orang Tionghoa dan pribumi dalam bidang politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan. Peristiwa Kudus menjadi puncak dari rangkain kerusuhan rasial yang melibatkan kelompok Tionghoa dan Pribumi yang terjadi pada awal abad XX, setelah sebelumnya kerusuhan serupa berlangsung di Solo dan Surabaya pada tahun 1912.[14]           Pasca meletusnya huru-hara Bakar Pecinan, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kemunduran SI Kudus menjadi gejala umum SI pada waktu itu. Perpecahan SI antara kelompok Tjokroaminoto (SI Putih) dan Semaun-Sneevlit (SI Merah) berdampak pada keberlangsungan SI diberbagai daerah. Kekuatan SI Putih terkooptasi oleh SI Merah yang membuat mereka semakin lama menjadi lemah. Sementara itu bagi SI Kudus penangkapan sejumlah tokoh penting pasca huru-hara Kudus 1918 merupakan sebab khusus kemunduran SI Kudus.

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam SI Kudus

Kehadiran SI Kudus sejak pendirian sampai dengan masa kemundurannya merefleksikan beberapa hal. Pertama, kelompok haji memiliki posisi dalam diskursus pergerakan nasional. Kelompok haji yang tergabung dalam SI Kudus merupakan para pedagang sekaligus haji di Kudus Kulon.[15] Kalangan pedagang haji ini merupakan penggerak utama SI Kudus sehingga ketika tokoh-tokoh utamanya tertangkap pemerintah kolonial, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kedua, SI Kudus berperan dalam kemajuan pendidikan dan pengajaran Islam. Hal ini terbukti dari dua madrasah yang berdiri atas inisiatif langsung maupun tidak langsung dari SI Kudus. Sehingga SI Kudus memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda dengan SI pada umumnya. Bidang keagamaan yang dilipih SI Kudus juga terlihat dalam Anggaran Dasar organisasinya.

Ketiga, huru-hara Kudus tahun 1918 yang melibatkan tokoh-tokoh SI Kudus menguatkan identitas keislaman kelompok pedagang haji. Seperti dijelaskan diatas pemicu huru-hara Kudus 1918 didorong oleh ketersinggungan atas tindakan kelompok Tionghoa yang dinilai menyinggung kelompok muslim Kudus Kulon. Keempat, pedagang yang sekaligus santri (baca:haji) ini berpusat di wilayah Kudus Kulon semakin membuktikan bahwa Gusjigang merupakan spirit keberagamaan yang memiliki akar historis. Secara elaboratif hal-hal tersebut diatas menunjukan bahwa Sarekat Islam cabang Kudus saat itu telah mewarisi spiritialitas dan mentalitas Gusjigang yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kudus Kulon. Secara sederhana Gusjigang adalah mereka yang memilki perangai bagus, memiliki pemahaman agama yang baik -secara mencolok mereka adalah haj-, dan pandai berdagang.[16]

Lebih jauh secara substantif penulis melihat Gusjigang sebagai dua hal utama yang relevan dalam melihat masyarakat Indonesia kontemporer. Dua hal tersebut adalah Gusjigang sebagai mentalitas ekonomi maysarakat dan Gusjigang sebagai spirit kegamaan. Secara holistik Gusjigang dapat diinterpretasikan dalam konteks masa kini sebagai enterpreuner yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat dan pribadi yang berintegritas tinggi. Jika melihat wajah perekonomian nasional saat ini, sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi andalan baru dalam menopang perekonomian nasional. Kontribusi UMKM menentukan PDB Nasional (Produk Bruto Nasional) menjadi agenda utama pembangunan ekonomi nasional.[17] Keseriusan pemerintah juga terlihat dari upaya pemerintah mendorong lahirnya enterpreneur-enterpreneur baru. Gusjigang sebagai bagian dari masyarakat Kudus Kulon juga dapat interpretasikan sebagai masyarakat yang memarisi tradisi keislaman Sunan Kudus. Tokoh-tokoh SI masa lampau membuktikan bahwa mereka adalah haji dan ulama yang memiliki pemahaman Islam yang kuat namun juga moderat. Jika melihat wajah Islam Indonesia saat ini yang diwarnai dengan kemunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan intoleran. Dalam beberapa tahun terakhir gejala ini dilihat oleh Martin van Bruinessen sebagai conservative turn. Pasca kejatuhan Soeharto, Martin melihat wajah Islam di Indonesia mengalami pergeseran, dari Islam kultural ke islam politis. Contoh konkrit dari kelompok Islam politis adalah munculnya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang memiliki tujun mendirikan negara Islam di Indonesia. Islam politik juga melakukan infiltrasi pada level politik praktis dimana munculnya perda-perda syariat dibeberapa daerah. Sementara kelompok Islam intoleran termanifestasi lewat sejumlah aksi kekerasan dan konflik berbasis agama mulai dari aksi jihad, pemboman gereja hingga perusakan temoat ibadah.[18] Kondisi ini jelas mengkhawatirkan kondisi keberagamaan sekaligus ancaman NKRI. Maka Gusjigang sebagai spirit kegamaaan yang ramah merupakan agen-agen Islam moderat dan toleran yang bisa diandalkan dalam menangkal islam fundamentalis dan intoleran. Dua hal diatas menunjukan bahwa Gusjigang sebagai sebuah mentalitas ekonomi masyarakat dan spirit keagamaan yang bersumber pada kearifan lokal yang orisinil masih relevan dan memiliki kontribusi dalam menjawab tantangan Indonesia kontemporer.

            [1] Castle, Lance, Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus, Jakarta: Sinar Harapan, 1982. hlm., 103.

            [2] KHR Asnawi masih memiliki garis genealogis dengan Sunan Kudus. Dalam Abdurrahman Masud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Arsitek Pesantren (Yogyakarta: Kencana, 2006), hlm., 210-212.

            [3] KHR Asnawi disebut terlibat dalam tragedi Bakar Pecinan tahun 1918 yang melibatkan komunitas muslim dan komunitas Tionghoa. Dalam laporan KHR Asnawi tertulis posisinya sebagai Penasehat SI Cabang Kudus. Beliau termasuk dari orang SI yang dipenjarakan terkait huru-hara anti Cina Kudus 1918. Lihat dalam Masyhuri, Bakar Pecinan, Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918 (Kudus: Yayasan Cermin, 2006).

            [4] Dalam buku Modern Muslim Movement, Deliar Noer menyebutkan pada 31 Oktober-2 Nopember 1922 bersama KH Abdul Wahab mewakili Tasywirul Afkar, KHR Asnawi menghadiri Konggres Al Islam di Cirebon. Kongres ini sendiri dihadiri beberapa organisai dan gerakan Islam yang penting saat itu, antara lain SI, Muhamadiyah, dan Al Irsyad. KHR Asnawi juga sempat terlobat dalam komite Hijaz (cikal bakal NU) sebelum digantikan tokoh lain. Hal ini menunjukan posisi KHR Asnawi dalam skala politik nasional.

            [5] Dalam tulisan ini, penulis menyebutkan KH. M Arwani sebagai lulusan pertamanya yang kemudian mendirikan Madrasah TBS tahun 1928        di Kudus. Mansur, Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 156

            [6] Argumentasi ini penulis ajukan dengan melihat fakta historis bahwa KHR Asnawi merupakan tokoh penting dalam SI Kudus. Sementara KHR Asnawi adalah pendiri Madrasah Qudsiyyah yang berlokasi di kompleks Menara Kudus.

            [7] Masyhuri, Bakar Pecinan Konflik Pribumi vs Cina di Kudus tahun 1918, (Jakarta: Grafika, 2006), hlm., 40.

            [8] Rapat yang diadakan di gedung Johannes Bioscoop dihadiri 900 orang disaksikan oleh ketuanya M. Soeroredjo, dan Sekteraris N. Soerjowinoto. Djawa Tengah, Verslag pendek openbare Vergadering PKBT di Koedes, 31 Oktober 1918, hlm. 1.

            [9] Ketika sampai di depan Masjid Menara terjadi saling mennghina antara orang-orang pribumi dan orang-orang Tionghoa. Orang-orang muslim merasa terhina dengan arak-arakan yang mempertontonkan haji dan perempuan. Sebaliknya orang-orang Tionghoa tersinggung karena upacara Tao Pek Kong juga sakral bagi mereka. Lihat dalam Tan Boen Kim, Peroesohan di Koedoes: Soeatoe Tjerita Jang Betoel Telah Terdjadi di Djawa Tengah Pada Waktoe Jang Belon Sabarapa Lama, (Batavia: Tjiong Kon Lion, 1920), hlm., 86-88.

            [10] Sarekat Islam mewakili kelompok pribumi karena dianggap sebagai organisasi islam terbesar waktu itu. Selain iitu juga diduga beberapa oknum yang terlibat merupakan anggota SI. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri Patih Martosoedirja mewakili Bupati Kudus, Polisi JW Snabilie, dan Letnan Tionghoa. op.cit. Masyhuri, hlm., 67-68.

            [11]Penyerbuan warga pribumi terhadap perkampungan Tionghoa di Kudus Kulon berlangsung sejak kira-kira pukul 20.00-02.00 dini hari. Ibid, hlm., 70

            [12] Kariboetan di Koedoes , Sin Po 6 Nopember 1918, hlm. 1.

[13] Lewat sejumlah tradisi lisan yang penulis terima selama menjadi santri Madrasah Qudsiyyah, meskipun KHR Asnawi dipenjara oleh pemerintah kolonial beliau masih tetap bisa mengajar santri-santrinya. Salah satu bukti ma’unah –kelebihan- dari KHR Asnawi.

            [14] Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, (Jakarta: Elkasa, 2003), hlm. 375-379

            [15] Tipologi Kudus Wetan dan Kudus Kulon merujuk pada pembagian masyarakat Kudus yang digunakan Lance Castle dalam memisahkan karakteristik masyarakat Kudus yang dipisahkan oleh garis kali gelis. Menurut Lance Castle masyarakat Kudus Kulon memiliki karakteristik religiusitas yang kuat daripada Kudus Wetan. Lihat dalam Castle, Lance. 1982. Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus. Jakarta: Sinar Harapan.

[16] Hasyim Asy’ari, Bersikap Satitahe Bergaya Milite, Suara Merdeka 4 September 200

[17] http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peran-penting-ukm-dorong-perekonomian-indonesia

            [18] Lihat dalam Martin van Bruinessen, dkk, Conservative Turn: Indonesia dalam Ancaman Islam Fundamentalis, 2014, Bandung: Mizan Utama, hlm. 26-52.

UIN Walisongo Bershalawat bersama Qudsiyyah

QUDSIYYAH, SEMARANG – Setelah Kudus, Demak dan Jakarta, kini pengajian “mubeng” atau roadshow dakwah Qudsiyyah bergerak menuju Ibukota Jawa Tengah, Semarang. Pengajian di gelar di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada Selasa (24/5). Sebagai kelanjutan dari rangkaian roadshow dakwah “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi”, pengajian dihadiri oleh santri-santri Kudus yang kini menimba ilmu dan para alumni Qudsiyyah yang menetap di Kota Semarang.

Selain memeriahkan gaung satu abad Qudsiyyah, pengajian diselenggarakan dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Menyongsong Bulan Suci Ramadlan, mengingat bulan Ramadlan tinggal menghitung hari saja. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama MAQDIS (Mahasiswa Qudsiyyah di Semarang) bekerjasama dengan JQH Fak. Syariah dan KMKS (Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang). Menurut penuturan anggota KMKS, bahwa Qudsiyyah adalah bagian dari keluarga dan Mbah Asnawi merupakan guru dan pejuang bangsa, “turut bangga meneladani dakwah beliau, kami siap membumikan Gusjigang,” imbuhnya.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh KH. Noor Halim ini dihadiri juga ustadz H. Ashfal Maula dan ustadz Elham (Yogyakarta) yang akan memimpin maulidurrasul simthud duror. Dalam dakwahnya, Yai halim mengingatkan semua hadirin untuk tidak menyia-nyiakan shalat. “Shalat adalah oleh-oleh Nabi dari perjalanan mi’raj”, terangnya, “sepadat apapun aktivitas kita sebagai civitas akademika ataupun pekerja, jangan sekali-kali mengakhirkan shalat”. Beliau menekankan betapa mengakhirkan shalat dari waktunya merupakan tindakan yang ceroboh, apalagi jika ditinggalkan tanpa udzur.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 1000 jamaah tersebut, Dr. Izzuddin, Dosen Falak di UIN Walisongo serasa bernostalgia meski hanya seminggu bersekolah di Qudsiyyah, dan harus pindah karena suatu alasan. Beliau berkesan betapa kompak alumni Qudsiyyah, tanpa menghiraukan lama studi atau kelulusan. Perihal kekompakan, Drs. Nadjib Hassan, Ketua YAPIQ ini setuju dan mengakui. beliau berharap momen ‎ satu abad Qudsiyyah menjadi perekat alumni, sehingga ikatan ukhuwwah ala Qudsiyyah semakin kuat dan bermanfaat.

Pengajian malam tersebut ditutup dengan Doa oleh KH. Fatkhur Rahman. Suasana khidmah para hadirin mengamini runtutan doa menutup kegiatan roadshow pengajian ini. Selanjutnya, pengajian akan diadakan di Kota Demak, tepatnya di desa Mulyorejo pada 26 Mei 2016

Kibarkan Dakwah Mbah Asnawi hingga Ibukota

Nishfu Sya’ban dimanfaatkan sebagai momen silaturrahmi IKAQ JABODETABEK. Dalam rangkaian Roadshow #1abadqudsiyyah bertemakan “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi, kegiatan dilakasanakan selama 1 hari penuh pada tanggal 22 Mei 2016 di 3 tempat. Paginya pertemuan alumni di Cipayung Jakarta Timur tepatnya di Kediaman Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D

Pengajian dibuka pukul 10.00 WIB dimana para alumni, bahkan dari JABODETABEK dan Lampung telah menunggu rombongan Kudus. Acara diisi tahlil dan maulid nabi terasa khusyu’ dengan hadirnya sesepuh madrasah, KH. Noor Halim ma’ruf dan KH. Fathur Rahman. Kegiatan juga dihadiri oleh Ketua YAPIQ, H. Nadjib Hassan dan Ketua alumni Qudsiyyah (IKAQ), H. Ihsan.

Setelah singgah di Kediaman, H. Nusron Wahid, kegiatan selanjutnya berlanjut di Tangerang, dimana para rombongan menghadiri penutupan Dzikir Ratibul Haddad dan Shalawat Nariyah di Masjid Ishlahiyyah, Perum Rajeg Asri yang juga diikuti oleh ratusan alumni Qudsiyyah. KH. Fathur Rahman sangat tersentuh melihat gema ‪‎satu abad Qudsiyyah‬ sampai di Ibukota, “Alhamdulillah, pada malam ini kami sangat berbahagia karena menyaksikan salah satu dari santri kami telah turut berpartisipasi mengembangkan ajaran ahlus sunnah wal jamaah di tengah masyarakat”, tutur Yai Khur dalam pengajian malam itu.

PAPER SANTRI QUDSIYYAH TEMBUS 5 BESAR DI FILIPINA

QUDSIYYAH, FILIPINA – Hal yang tidak disangka dialami oleh Mirza Muchammad Iqbala, lulusan Qudsiyyah yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa S1 UII Yogyakarta. Paper yang ia teliti bersama timnya diterima dalam  3rd International Conference on Education, Psychology and Social Science (ICEPSS). ICEPSS sendiri merupakan konferansi tentang psikologi, pendidikan dan pengetahuan sosial yang diselenggarakan oleh the International Research Enthusiast Society Inc. (IRES inc.), sebuah organisasi non-profit yang dibentuk sebagai penyelenggara beberapa riset internasional dalam berbagai disiplin ilmu dan menjembatani pertukaran keilmuan dan ide. ICEPSS 2016 diselenggarakan di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Mirza adalah putra asli Kudus yang berdomisili di Wergu Wetan, putra dari Mbah No. Saat ini ia merupakan mahasiswa semster 4, FBSB, UII Yogyakarta. Ia tak megira bahwa sering presentasi ketika masih studi di Qudsiyyah. Pribadi aktif yang juga menggeluti jurnalistik ketika tingkat tsanawiyyah dan aliyah ini juga sering presentasi dalam lomba-lomba karya tulis ilmiah.

Berkat kerja keras, Mirza yang merupakan ketua tim patut berbangga pasalnya paper yang mereka alihbahasakan ke bahasa Inggris diterima, mengingat paper yang diterima hanya 130 dari 230 paper yang masuk. Mirza pun berhak mengikuti konferensi di Filipina pada tanggal 19-21 Mei 2016 setelah diumumkan termasuk 47 yang lolos presentasi dan akan diterbitkan dalam jurnal. Bersama timnya, Dinu Hafidh Muvarizb, Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggustic, Syafira Putri Ekayanid, Nyda Afsarie, ia berangkat menuju Filipina dan terus menyempurnakan paper selama di perjalanan.

Minder & Bangkit di antara Tokoh Pendidikan Dunia

Agenda hari pertama di Filipina adalah hari yang tak terlupakan, bukan hanya karena bertemu dengan pakar pendidikan, melainkan didaulat sebagai best five papers (5 paper terbaik) dalam ajang tersebut. “Saya pun berdiri dan kaget, paper kami disebut”, ungkapnya. “just go there, children”, sahut doktor disebelah mereka dan Mirza beserta tim turun untuk menerima penghargaan tersebut dengan sorakan riuh dari peserta yang mayoritas Dosen, Mahasiswa S2 dan Doktor. “Tangis banggapun tak terbendung,” lanjutnya “hanya kami presenter dari Indonesia dan mungkin yang termuda karena masih semester 4 program S1,” jelasnya.

MIRZA

Sedikit rasa gugup pada saat presentasi di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Paper berjudul The Effect of PTC (Parent Teacher Communication) on Student Engagement of Elementary School Students: The Role of Communication Technology merupakan penelitian yang telah dijalankan selama setengah tahun bersama timnya. Di Filipina, Mirza pun harus presentasi dengan Bahasa Inggris didepan para akademisi. Meski mengaku minder namun ia mendapatkan semangat kembali setelah beberapa peserta berpangkat Profesor memberikan apresiasi. “Profesor Choi (Filipina) berkenalan dengan kami dan bertukar kartu nama, Prof. James (Korea Selatan) menawarkan beasiswa S2 untuk kelanjutan studi kami,” ungkapnya, “Saya didampingi Akmal presentasi lepas tanpa catatan dan terbawa suasana saja.” Mirza pun sukses membawakan paper hingga tanya jawab dan justru dibawakan dengan gaya lucu dan santai.

Kesan di Filipina

Filipina adalah negeri yang minoritas islam. Berbeda dengan Indonesia, dimana masjid dan makanan halal adalah hal yang wajar, tidak mudah mendapatkan semua itu di Filipina. Sebelum mengikuti acara Mirza dan tim mengunjungi kedai yang halal, meskipun mahal mereka memaklumi karena makanan pokok disana adalah nasi dan daging babi. Namun dalam acara tersebut, panitia menyediakan 2 pilihan makanan berbahan dasar babi atau bahan ayam. “Padahal peserta yang Islam hanya kami, namun panitia sangat menghargai kami,” jelasnya, “tidak hanya makanan, tempat sholat juga disediakan 5 waktu”.

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Hari ketiga adalah waktu luang bagi Mirza beserta tim, tidak disia-siakan menyusuri jalanan Kota Malolos yang ramai. Keramaian khas hari Minggu tak berbeda dengan di Indonesia. Gereja dan gereja berjajar meneguhkan hati Mirza, ‘Terkadang aku bersyukur di Indonesia, makanan halal dan masjid masih banyak.

Sebagai negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua nasional, penggunaan Bahasa Inggris sangatlah wajar untuk masyarakat Filipina. Berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia, kesan Mirza dalam perjalanan wisatanya. “Pesanku buat anak Qudsiyyah, jangan remehkan Bahasa Inggris”, pungkasnya, “terbukti, dengan bahasa inggris lah kami berada disini”.

Setelah ini, Mirza fokus ke penelitian selanjutnya yang telah diterima di Malaysia dan Singapura. “Malaysia presentasi Juli, dan Singapura pada Agustus 2016,” jelasnya.

Reporter: Ahmad Arinal Haq

 

Mengupas Shalawat dari Seni dan Sisi Akademis

Setiap hal dibahas dalam disiplin ilmu tersendiri, begitu pula syair arab klasik. Syair yang masyhur di Indonesia berupa shalawat dan Qosidah memiliki cabang ilmu tersendiri yang disebut “Arudl”.

QUDSIYYAH – KUDUS Unik, Qudsiyyah mengadakan seminar dengan fokus pembahasan yang unik. Mengambil Tema “Menggali Khazanah Syair Shalawat”, seminar ini fokus pada ilmu Arudl yang notabene sudah langka. Bekerjasama dengan KOMPAQ dan FORMI UMK, seminar yang diadakan di Auditorium UMK (Universitas Muria Kudus) pada Jumuah (20/5) tersebut dihadiri hampir 500 peserta dari sekolah dan pondok. Peserta telah melakukan registrasi 2 minggu sebelumnya kepada panitia.

Langka; bukan hanya jarang yang belajar, tetapi karena tak banyak yang menguasai dan mengajarkan ilmu arudl. Seperti yang disampaikan Keynote Speaker, KH. M. Saifudiin Luthfi bahwa ilmu Arudl makin jarang dikaji karena membahas syair arab dan literatur klasik peninggalan ulama. Tak banyak yang tahu bahwa seni syair arab ini dianalisis secara akademis dengan arudl.

Sejarah keilmuan Arudl justru muncul jauh setelah para pencipta syair klasik tiada dan Imam Kholil merumuskan beberapa pola atau wazan sebagai kerangka syair yang telah ada, jelas Kyai Saifuddin. Ilmu arudl tidak hanya bertujuan untuk mengetahui kesalahan sebuah syair, melainkan untuk menciptakan dan menggubah syair sesuai dengan aturan dan polanya. Ternyata banyak shalawat yang tidak tergolong syair karena tidak sesuai dengan bahar atau jenis syair.

Arief Budiman, pemateri pertama dalam seminar tersebut menjelaskan betapa banyak penggunaan syair dalam masyarakat. Dosen sastra asia-barat ini mengungkap bahwa masyarakat kebanyakan tidak mengetahui yang mereka lagukan adalah syair, sebaliknya banyak prosa arab yang justru dianggap sebagai syair.

Pola syair arab juga digunakan untuk membuat puisi berbahasa jawa atau Indonesia, biasanya dilagukan di musholla, masjid dan pengajian. Meskipun berasal dari arab atau timut tengah, namun nyatanya syair arab sangat famiIiar di Indonesia. Ini dikarenakan dakwah menggunakan seni dinilai efektif, ditambah lagi dinyanyikan dengan indah. Mengingat dakwah dengan seni telah diprakarsai oleh para walisongo dalam penyebaran islam dahulu.

Pemateri lainnya, Miftakhur Rahman dan Ashfal Maula berkolaborasi dalam penyampaian praktek ilmu arudl kepada para peserta. Kang Khur -sapaan Miftakhur Rahman- dengan singkat menjelaskan bahar yang telah dikodifikasi dalam ilmu arudl. Satu persatu kang Khur menjelaskan pola dan shalawat yang menggunakan pola tersebut. Selain pola, seniman yang masih aktif menciptakan syair arab ini menjelaskan dilengkapi dengan pola ketukan atau not nada agar para peserta bisa lebih memahami.

Kang Khur yang masih mengajar Bahasa Arab di MTs Qudsiyyah ini bergantian dengan Gus Apank, sapaan Ashfal Maula. Gus Apank melengkapi lagi dengan mencontohkan bagaiman arudl juga berguna dalam membuat nada lagu. Ilmu arudl terbukti berguna untuk menggubah syair shalawat menjadi lagu yang indah, salah satu buktinya adalah lagu-lagu Al-Mubarok. Gus Apank yang merupakan pembina Al-Mubarok menyanyikan beberapa syair dari Bahar Kamil, Wafir, dll dengan contoh shalawat yang sudah familiar bagi peserta.

Seminar Arudl merupakan satu dari berbagai rangkaian dauroh ilmiyyah yang disiapkan oleh Panitia Satu Abad Qudsiyyah. Rencananya, panitia juga akan menggelar Seminar yang kan membahas fenomena Bedhug Dhandang dari sisi budaya dan keilmuan falak pada Senin-Selasa (30-31/5) di Hotel Griptha.