Maulid Nabi Pertama di Qudsiyyah Putri

QUDSIYYAH, SINGOCANDI – Qudsiyyah Putri yang baru berumur sekitar 6 bulan terus berupaya melahirkan generasi yang handal. Selain melalui kegiatan pembelajaran formal melalui kelas MTs dan nonformal melalui pondok pesantren, kegiatan ekstra kulikuler dan kegiatan peringatan hari besar juga rutin dilaksanakan.

Pada bulan kelahiran Nabi ini, Qudsiyyah putri melaksanakan peringatan Maulid pada, Sabtu pagi 27 Rabiul Awwal 1439/ 16 Desember 2017. Ini merupakan peringatan Maulid Nabi pertama yang diadakan oleh MTs Qudsiyyah Putri. Dalam kesempatan ini, grup Rebana Putri dari santri juga tampil dengan melantunkan beberapa lagu, diantaranya adalah lagu andalan peringatan maulid nabi yaitu “Keluarga Nabi” dengan lirik ‘kanjeng nabi Muhammad din lahirno ono ing Makkah” karya beliau Almaghfurlah KH Ma’ruf Irsyad.

Dalam peringatan kali ini MC menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan susunan acara pembukaan,pembacaan ayat suci Al Quran dan sholawat asnawiyyah,pembacaan maulid Al Barzanji, sambutan dewan guru, Mauidloh hasanah serta doa penutup.

Dalam sambutan dewan guru, ibu Lailatus Sa’diyyah, S.Pd memberikan wejangan kepada santri putri agar senantiasa rajin belajar dan meniru akhlaq mulia Rasulullah SAW. Adapun mauidloh hasanah pertama diisi oleh kyai muda Qudsiyyah ust. Miftakhur Rohman,M.Pd pengarang lagu ‘ya saikhona’ yang sangat populer tersebut. Dalam mauidlohnya beliau banyak berpesan agar selalu meneladani Rosulullah saw dalam berbagai hal. Rosulullah merupakan uswatun hasanah yang harus diidolakan oleh umat islam. Sedangkan mauidloh hasanah kedua disampaikan olehsesepuh Qudsiyyah KH Fathur Rahman. Dalam penyampaiannya beliau menceritakan tentang sejarah nabi mulai beliau lahir sampai perkembangan Islam di tanah Jawa.

Di akhir acara diadakan pengumuman juara class meting yang dalam kesempatan kali ini juara umumnya adalah kelas 7 H. (Isbah/Kharis)

Dua Alumni Qudsiyyah Dakwah di TV One

QUDSIYYAH, KUDUS – Program dakwah akhir pekan oleh salah satu stasiun televisi Nasional tayang live dari Kudus. Acara berjuluk Damai Indonesiaku oleh TV One itu memilih lokasi di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu (11/11/2017) siang. Uniknya acara yang memilih tema “Uswatun Hasanah” tersebut menampilkan dua alumni Qudsiyyah yang ditayangkan live ke seluruh penjuru tanah air.

Ya, H. Abdullah Rosyad, alumni Qudsiyyah tahun 1991 ini bertindak membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Sesuai tema yang diangkat, alumni yang berasal dari Mindahan Jepara yang kini juga mengajar di MI Qudsiyyah Kudus tersebut membacakan surat al- Ahzab ayat 21. Dengan suara yang yang lantang dan merdu, pria yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren al-Istiqomah, Demaan Kudus ini membaca ayat suci dengan apik dan menyentuh kalbu.

Lihat Video lengkapnya di sini

Berikutnya, alumni yang dakwah dan tayang di Tv One adalah KH. Idham Kholid. Lulusan MA Qudsiyyah tahun 1990 ini berceramah dihadapan Bupati Kudus, H. Mustofa, Jam’iyyah Yasin Fadhilah Kudus serta seluruh pemirsa televisi dengan mengakat tema Uswatun Hasanah.

Pria yang berasal dari Kedungwaru Lor Karang Anyar Demak tersebut menjabarkan suri tauldan dari Kanjeng Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyatakan, rahmat diutusnya Rasulullah jauh lebih banyak dirasakan oleh kaum ibu dibandingkan dengan kaum bapak-bapak. Sebelum Rasul lahir, disebut zaman jahilillah, begitu rusaknya akhlak, begitu hinanya kaum wanita. “Kelahiran Rasulullah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita,” ungkapnya.

Kyai Idham mengatakan, Al Qur’an yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, salah satu suratnya ada yang bernama An-Nisak yang artinya Wanita. Juga, surat pembuka al- Qur’an, surat Al-Fatihah, disebut juga dengan istilah Ummul Kitab yang berarti induk atau ibu kitab. “Ini adalah bukti Rasulullah hadir untuk memulyakan kaum wanita,” jelasnya.

Dalam pemberian ceramah tersebut juga dilakukan tanya jawab dengan hadirin yang kompak berbaju putih di dalam pendopo kabupaten Kudus tersebut. Selain itu KH Idham Kholid, acara Damai Indonesiaku Tv One tersebut juga diisi oleh penceramah Kh. Soemarno Syafi’I, dengan mengangkat tema yang sama yakni Uswatun Hasanah. (Kharis)

Lihat Video lengkapnya di sini

Meriahkan Mlaku-Mlaku Bareng Santri dengan Sholawat dan Rebana

QUDSIYYAH, KUDUS – Qudsiyyah Kudus turut andil dalam event besar Mlaku-Mlaku Bareng Santri (MMBS) yang digagas PCNU dan Pemkab Kudus pada Ahad pagi, 29 Oktober 2017. Seluruh santri, mulai dari MI, MTs, MA dan Pesantren tumplek blek meramaikan acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu santri Kudus ini.

Bersarung batik dan memakai koko serta sebagian memakai baju batik “kangkung” khas seragam Qudsiyyah, sekitar dua ribu santri Qudsiyyah meramaikan acara mlaku-mlaku yang digelar dalam rangka puncak acara Hari Santri Nasional 22 Oktober kabupaten Kudus ini. Mereka membawa tulisan dan sepanduk yang berisikan jargon santri Kudus, seperti “Kudus Kota Santri”, “Santri Menolak Paham Khilafah”, “NKRI harga Mati”, “Santri No Drug” dan sebagainya.


Selain itu, sebagai bagian dalam kemeriahkan acara ini, peserta dari Qudsiyyah juga membawa lengkap Rebana lengkap dengan microphone dan sound kecil yang dicangking. Sepanjang jalan mulai dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga finish kembali di tempat yang sama, mereka bersholawat dengan lagu-lgu khas Qudsiyyah, seperti Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Qudsiyyah, Madrasati Aman-Aman, dan Sholawat Nabi lainnya. Praktis, dengan sholawat dan tabuhan rebana ini, menjadikan jalan santai santri ini semakin meriah.

Usai mlaku bareng, di panggung utama, sebagian santri Qudsiyyah ada juga yang ketiban hadiah. Diantaranya ada yang mendapatkan lemari es dan hadiah doorprize lain yang disiapkan panitia.

 

Dalam MMBS ini juga dimeriahkan adanya atraksi pagar Nusa. Sebelum start MMBS, puluhan pesilat dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menampilkan senam jurus khas Pagar Nusa. Kemudian, para pesilat Pagar Nusa dari pondok pesantren Qudsiyah Kudus dan pondok pesantren Sabilul Rosyad Pringsewu Bakalan Krapyak menunjukkan kemampuannya memecah genteng dengan kepala, mematahkan besi pakai tangan kosong, menarik mobil dan tubuh dilindas motor trail.

Pesilat Adi Purnomo menarik mobil sedan dengan 10 penumpang memukau ribuan pasang mata peserta MMBS. Mobil diikat pakai tali kemudian ditarik dengan mulut Andri berjalan hingga sejauh 10 meter lebih. Atraksi berlanjut, tujuh orang pesilat tidur di aspal kemudian dilindas dua motor trail secara bergiliran yang dikendarai Hari Sudrajat dan Yuni Agustin pesilat perempuan. Mereka yang dilindaspun tidak mengalami cedera apapun. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Masuk Lima Besar FTP 2017

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk lima besar Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2017. Dengan hasil ini, praktis teater Qudsiyyah menembus babak final dalam pagelaran kesenian tahunan tersebut.

Dari 13 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi lima finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada awal November mendatang di GOR Djarum Kaliputu Kudus.
Dari lima finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA yang berhasil lolos di babak final. Empat lainnya adalah teater Oscar, SMK NU Hasyim Asy’ari 2, Teater Saka, SMK 2 Kudus, teater Apotik, SMK Duta Karya, dan teater Studi One, SMA 1 Kudus.

Seleksi yang dilaksanakan oleh teater MA Qudsiyyah dilaksanakan pada Rabu, 25 Oktober 2017 di Gedung Muslimat Glantengan Kota Kudus sekitar pukul 09.00 pagi.

Adapun tingkat SLTP, empat kelompok teater masuk ke babak final. Keempat terater tersebut adalah tetar Bobot, SMP 1 Kudus, teater Essaka, SMP 1 Kaliwungu, teater Ukur, MTs NU Maslakul Falah, dan teater PR, MTs Nahdlatul Athfal. (Kharis)

Qudsiyyah Putri Peringati HSN dengan Pembacaan Sholawat Nariyyah dan Nobar

QUDSIYYAH, KUDUS – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 kali ini sangat meriah. Banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan baik oleh pemerintahan maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta banomnya. Untuk pertama kalinya, Qudsiyyah Putri tak mau kehilangan momentum dalam HSN tahun ini. Berbagai kegiatan diadakan untuk mengisi HSN sekaligus mengurangi kepenatan dalam kegiatan belajar mengajar santri. Diantaranya adalah pembacaan Sholawat Nariyah, upacara dan nonton bareng (nobar) film pesantren.

Qudsiyyah putri turut serta menjadi bagian dari program PBNU dalam “Pembacaan 1 milyar sholawat” yang bertepatan dengan HSN ini. Santri Qudsiyyah putri membaca Sholawat Nariyyah sebanyak 4444 sholawat yang telah terlaksana pada Sabtu malam (21/10/2017) ba’dal Maghrib. Pembacaan sholawat yang dalam riwayat lain bernama sholawat “Taziyyah” ini diharapkan menjadikan negara Indonesia aman dan terhindar dari marabahaya.

Tepat pada Ahad 22 Oktober 2017, pagi Qudsiyyah putri ikut berpartisipasi dalam apel bersama di alun-alun simpang tujuh Kudus, lengkap dengan seragam khas Qudsiyyah putri, yakni batik “kangkung” dengan bawahan putih dan kerudung putih.

Usai upacara, santri-santri mengikuti nobar film “Cahaya Cinta Pesantren” yang bertempat di Aula MTs Qudsiyyah Putri. Dalam pemutaran film tersebut santri-santri diberi tugas untuk menulis kesimpulan dan cerita singkatnya. Film yang berlatar pondok pesantren tersebut berhasil mengaduk emosi santri putri. Banyak dari mereka yang menangis dan histeris dengan cerita film yang disutradarai oleh Raymond Handaya ini.

Diharapkan, dengan adanya nobar ini, santri Qudsiyyah putri bisa termotivasi serta betah mondok, dan menjadi santri yang salaf, sholihah, dan mandiri. (Isbah/Kharis)

HSN di MTs Qudsiyyah, Mulai Upacara hingga Penanaman

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasinal yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017 dimanfaatkan oleh MTs Qudsiyyah Kudus untuk menanamkan karakter yang kuat kepada para siswanya. Selain menyelenggarakan upacara yang di dalamnya dilantunkan lagu Ya Lal Wathan dan Sholawat Asnawiyyah, Juga diselenggarakan Istighatsah dan kegiatan menanam bersama sebagai wujud kepedulian santri terhadap lingkungan.

Sholawat Asnawiyyah dipilih dan selalu terdengar di setiap acara yang diselenggarakan MTs Qudsiyyah karena diciptakan oleh KHR Asnawi yang merupakan pendiri madrsah tersebut. Dalam syairnya juga mengandung doa untuk keamanan bangsa Indonesia.

Pada pelaksanaan upacara hari santri ini, upacara yang dilaksanakan di Lapangan Qudsiyyah di JL. KHR Asnawi dan diikuti sekitar 1.300 siswa MTS dan MA ini. Para siswa memakai sarung yang merupakan pakaian khas ala santri dan baju koko putih. Diharapkan nilai karakter santri akan terus melekat pada diri siswa bahkan pada saat bermasyarakat nanti. Dalam sambutannya, sesepuh Qudsiyyah, KH. Ahmad Sudardi, megingatkan kepada para Santri untuk bangkit dan mengingat jasa mbah Hasyim Asy’ari dan para santri zaman dulu saat mempertahankan kemerdekaan. Sehingga para santri di era kini, dapat meneladani sekaligus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini.

Dalam upacara tersebut juga dibagikan dana santunan kepada sejumlah 40 siswa. Dan juga pemberian penghargaan bagi siswa yang telah berhasil mengharumkan nama madrasah di berbagai perlombaan yang telah diikuti. MTs Qudsiyyah telah menyabet Juara 1 Tilawah, Juara 1 Tartil, dan juara 1 Tahfidz pada ajang MTQ Pelajar dan MTQ Umum tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017 yang telah diselenggarakan pada september bulan lalu. Berbagai piala di perlombaan kepramukaan juga turut menambah deretan daftar prestasi MTs Qudsiyyah tahun ini. Diharapkan prestasi yang telah diraih ini terus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

Setelah upacara selesai, para siswa dipimpin oleh guru kelas melanjutkan dengan istighatsah dan doa untuk keamanan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Siswa juga tidak lupa untuk mendoakan para pahlawan muslim yang telah berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Santri Menanam

Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama untuk meresponnya, tak terkecuali para santri. Peran aktif santri dapat diwujudkan dengan kepedulian pada lingkungan. Hal ini disadari MTs Qudsiyyah dengan mengajak para siswa untuk menanam bunga di lingkungan sekolah. Lebih dari seratus bunga yang dibawa para siwa untuk ditanam di taman milik madrasah.


Selain untuk menambah keindahan dan mengurangi pemanasan global, kegiatan ini juga dimaksud untuk menanam karakter santri agar peduli dan mencintai lingkungan. Memang untuk menanam karakter tidak bisa instan. Dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan butuh waktu sampai santri mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungannya. (Yasfin/kharis)

PPQ Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik

QUDSIYYAH, KUDUS- Training Pres Jurnallistik oleh Perstuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) dilaksanakan pada Sabtu Legi –Ahad Pahing, 19-20 Agustus 2017. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan santri Tsanawiyyah Maupun Aliyyah Qudsiyyah, yang bertempat di Aula Ma’had , Lab MA dan Aula MA Qudsiyyah.

Kegiatan ini mengambil tema “Penguasan Teknologi Jurnalistik Santri”, dan bertujuan agar santri tidak ketinggalan dengan teknologi karena sekarang orang-orang lebih sering bermain dengan teknologi. Diharapkan, para Santri Qudsiyyah harus menguasai teknologi khususnya yang terkait dengan teknologi jurnalistik.

Secara khusus, Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan tentang dunia kejurnalistikan tetapi juga untuk memilih pimpinan redaksi (pimred) EL WIJHAH & EL QUDSY untuk tahun depan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan crew El WIjhah dan EL Qudsy dapat lebih baik dari tahun sebelumnya.

Acara ini berlanggsung dengan meriah. Pasalnya acara ini dapat mendatangkan Alumni Qudsiyyah yang sudah lama menggeluti dunia tulis menulis. Salah satu pemateri,Nor Kholidin, dari Jepara mengatakan, dunia kejurnalistikan itu dunia yang seru. “ Selain bisa menambah pengetahuan juga bisa menambah teman,” kata dia.

Pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan supaya Madrasah Qudsiyyah tidak tertinggal dengan madrasah lain. “Mereka sudah sanggat canggih dalam jurnalistik,” ujar Yusrul Wafa, alumni yang kini aktif di dunia bloger dan Youtube ini. (M Khoirul umam-Saiful effendi-Salahudin Yusri/Kharis)

Puluhan Santri Khataman Alfiyyah di Makam KH Ma’ruf Asnawi

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada pemandangan yang berbeda di pagi ini. Pada Kamis 14 Sya’ban 1438 H bertepatan tanggal 11 Mei 2017 TU sekitar pukul 10.00 di bawah pohon kamboja di area pemakaman Sedio Luhur Bakalan krapyak sejumlah santri sedang berkumpul di dekat makam shohibul fadlilah simbah KH Ma’ruf Asnawi.

Mereka adalah para santri kelas 12 MA Qudsiyyah. Dengan mengenakan baju batik “Kangkung” dan bersarung santri-santri itu berkumpul membentuk setengah lingkaran menghadap ke timur. Mereka melantunkan bait demi bait Nadham Alfiyyah Ibnu Malik, dan ditashih hafalannya. Mereka “sema’an” Nadham Alfiyah bersama para santri yang telah hafal 1002 bait utuh. Sebanyak 17 santri kelas 12 Aliyah berani unjuk gigi disimak dan disaksikan teman-temannya. Santri yang dinyatakan lolos akan mendapatkan syahadah yang akan dibagikan saat Muwadda’ah. Adapun tim pentashih khataman tersebut salah satunya H. Ashfal Maula.

Dipilihnya lokasi di makam simbah KH Ma’ruf Asnawi selain tempatnya yang adem juga untuk mengenalkan sosok Mbah Ji (sebutan akrab untuk simbah KH Ma’ruf Asnawi) kepada para santri. Semasa hidupnya, mbah Ji adalah pribadi yang sangat cinta terhadap Alfiyyah. “Saat masih sugeng mbah ji suka wiridan dan mendengarkan alfiyyah, jadi kita baca menurut apa yang disenangi beliau” ujar gus Apank menjelaskan.

Adapun santri yang ikut hafalan Alfiyyah tersebut adalah Ahmad Multazam, Achmad Aan Nahruddin, Atsnan Naja, Auva Nashan Mushoffa, Eko Nuristianto, Khusnil Mubarok, M. Haqul Muttaqin, M. Irfan Maulana, M. Bahrul ‘Ulum, M. Zuhal Fahmi, M. Shofiyullah, M. Agil Mubarok, Sani M Asnawi, M. Faiz Muzakki, M. Noor Halim, Agung Sulistyo, M. Nouris Sakhok, Lukman Nur Romadlon, Zusrul Hana, dan M. Wahyu Waliyyur Rohman.

Setiap tahun Madrasah Qudsiyyah memberikan apresiasi khusus bagi mereka yang dengan suka hati telah menghafal Alfiyyah utuh 1000 bait. Apresiasi itu berbentuk Syahadah yang ditandatangani oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah dan dibagikan saat Muwada’ah umum yang dihadiri wali santri kelas 6 MI, 9 MTs dan 12 MA.

Diharapkan para santri Qudsiyyah bisa meneladani para seniornya yang mampu menjaga hafalan Alfiyyah hingga lulus sebagai modal menghadapi tantangan zaman. Nadham Alfiyyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab terkenal di kalangan pesantren yang berisi tentang struktur bahasa Arab sebagai salah alat untuk membaca dan memahami kitab kuning. (Yasfin/Kharis)

Haul Ke 59 KHR Asnawi Kudus

QUDSIYYAH, KUDUS – Rangkain kegiatan Haul ke 59 Pendiri Qudsiyyah dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KHR Asnawi Kudus, berlangsung dengan beberapa acara. Oleh Santri madrasah Qudsiyyah, kegiatan ziarah di makam KHR Asnawi dilaksanakan pada Rabu dan Kamis 22-23 Maret 2017.

Dilanjutkan dengan kegiatan Tahlil Umum yang dilaksanakan pada Jumu’ah Pon, 24 Maret 2017 di komplek makam Menara Kudus. Tahlil umum ini terbuka untuk seluruh masyarakat dan dilaksanakan mulai pukul 15.30 WIB.
Puncaknya akan diadakan pengajian umum yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok pesantren Raudlatut Tholibin, peninggalan KHR Asnawi , pada Jumu’ah malam Sabtu, bertepatan dengan tanggal 26 Jumadal Akhirah 1438 H/24 Maret 2017 TU di halaman pondok pesantren Raudlatut Tholibin Kerjasan Kota Kudus. Pengajian ini insyallah akan menghadirkan Habib Musthofa Alaydrus dari Tuban dan Kh Haris Shodaqah dari semarang.

KHR Asnawi merupakan seorang ulama kharismatik di Kudus. Ia merupakan salah satu penggerak dan pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Lahir di Damaran Kudus dari pasangan dari H. Abdullah dan Raden Sarninah pada tahun 1861, beliau menyendang nama kecil sebagai Ahmad Syamsyi.

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pendidikan agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Semenjak usia 15 tahun, orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang dan juga mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.

Pada tahun 1886, Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, kemudian berganti nama menjadi KHR. Asnawi dan mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun dan kemudian kembali ke tanah air untuk berdakwan dan berdomisili di Kudus.

Beliau meninggal dunia pada usia 98 tahun tepat seminggu setelah pelaksanaan Muktamar NU XII di Jakarta yang beliau ikuti. Beliau meninggal pada subuh hari Sabtu Kliwon, 25 Jumadal Akhirah 1378 H, bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M pada pukul 03.00 WIB dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Semasa hidupnya beliau banyak berkiprah untuk kemajuan Islam ahlussunnah wal jama’ah. Selain aktif di organisasi NU beliau juga mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada tahun 1919 dan mendirikan pondok pesantren Raudlatut Tholibin pada tahun 1927. Beliau juga memelopori berdirinya Darusan Pitulasan di Masjid Menara Kudus yang terus eksis hingga sekarang. (Kharis)

MTS – MA Qudsiyyah Siap Jalankan UNBK

QUDSIYYAH, KUDUS – Madrasah Tsanawiyah Qudsiyyah dan Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus siap melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2017 ini. Berbagai langkah dan persiapan sarana prasarana telah rampung dilakukan.

Persiapan yang telah dilaksanakan adalah dengan menyiapkan dua ruang lab komputer yang terintegrasi dengan server. Masing-masing lab terdiri atas 36 unit komputer dan satu unit server yang telah rampung dilakukan singkronisasi. Dari jumlah siswa yang ikut UNBK di MTs dan MA, dua lab komputer sudah cukup dengan asumsi pelaksanaan tiga sesi, yakni sesi pagi, siang dan sore.

Untuk tahun ini, jumlah siswa Aliyah Qudsiyyah yang ikut UNBK sebanyak 184, sedang untuk MTs jumlah siswa kelas IX yang ikut UNBK sebanyak 183 orang.

Sebagaimana dirilis oleh website resmi Kemdikbud, UNBK disebut juga Computer Based Test (CBT), yakni sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK.

Penyelenggaraan UNBK tahun 2017 ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online. (Kharis)