Halalbihalal IKAQ, Bakal Diskusikan Gusjigang

QUDSIYYAH, KUDUS – Event tahunan Halalbihalal Ikatan Alumni Qudsiyah (IKAQ) Kudus tahun ini bakal digelar dengan berbeda. Biasanya acara yang mengundang seluruh alumni lintas angkatan ini dilakukan pada siang hari, tapi tahun ini dicoba dengan mengadakan Halalbihalal pada malam hari, yakni bakal digelar pada Malam Rabu (19/6/2018) di Lapangan KHR. Asnawi  Damaran Kota Kudus.

Acara akan mulai pukul 19.30 WIB dan dimulai dengan mengundangn Nadhir Qudsiyah KH. M. Sya’roni Ahmadi yang bakal menyampaikan Mauidhah hasanah. Usai mauidhah hasanah, acara dilanjutkan diskusi panel bertema “Majelis Gusjigang”. Narasumber dari alumni Qudsiyah yang menjadi tokoh aktif bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi dan sosial di kancah regional, nasional dan internasional.

Beberapa tokoh yang bakal dihadirkan antara lain H.M. Zuhal Abdul Lathif (Direktur Al-Amanah sekaligus Dosen institute al Zuhri, Singapura), Dr. H. Akhmad Shonhaji (Ketua STAI Fatahillah Serpong – Tangerang Selatan),Dr.H. Nuruddin (pengajar Universitas Negeri Jakarta), Noor Ali SE (Percetakan Nora), HM. Mujtahidil Fatah (owner Konv.el-Nifa Kudus).

Ketua Panitia, Hasan Mafiq, menyatakan, kehadiran narasumber yang merupakan alumni senior yang sudah sukses di bidangnya masing-masing diharapkan mampu memberikan semangat bagi para alumni dalam mewujudkan cita-cita. “Dari pakar pendidikan, dakwah dan ekonomi kami undang untuk meotiovasi seluruh alumni, untuk terus bersemangat berpartisipasi dan aktif bergerak di masyarakat menyebarkan ajaran Aswaja sebagaimana cita-cita Qudsiyyah,” ungkapnya. (Kharis)

JALAN UNTUK BERTEMAN DENGAN PARA NABI, SHIDDIQIN, SYUHADA & SHALIHIN DI AKHIRAT

JALAN UNTUK BERTEMAN DENGAN PARA NABI, SHIDDIQIN, SYUHADA & SHALIHIN DI AKHIRAT
(NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI DI MENARA KUDUS)
By: MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
24/5/2018

QS. An-Nisa’ [4]: 66-71
بسم الله الرحمن الرحيم
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66) وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69) ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (70) ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا (71)

Artinya : (66) Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (67) dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami (68) dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus (69) Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (70) Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui (71) Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama

Ayat 66-68

Setelah menetapkan bahwa tidak ada iman sebelum bertahkim kepada Rasulullah, maka Allah mengatakan kembali bahwa manhaj yang mereka seru kembali kepadanya dan syariat yang mereka perintahkan marupakan manhaj yang mudah, lapang dan penuh kasih kasah. Dia tidak membebani tugas sesuatu pun melebihi kemampuan mereka, menyulitkan atau dengan perngorbanan yang berat.

Islam memberikan kemudahan kepada mereka semua untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan yang harus mereka tunaikan dan menghindari kemaksiatan-kemaksiatan yang dilarang.

Berikut contoh tuntutan yang mengindikasikan betapa mudahnya menjalankan manhaj pentaubatan umat dahulu dan umat Nabi Muhammad:

1 Umat bani Israil diberi tuntutan untuk melakukan bunuh diri atau keluar dari kampung dari kampung halamannya jikalau mau diterima taubatnya.

2 Umat Nabi Muhammad cukup dengan membaca istighfar atau sayyidul istighfar maka Allah sudah menerima taubatnya.

Membunuh diri sendiri dan keluar dari kampung halaman merupakan dua buah contoh tuntutan yang amat berat, yang seandainya diwajibkan kepada mereka niscaya tidak akan ada yang mau melaksanakanya kecuali sebagian kecil saja. Taklif itu dimaksudkan untuk mengatur masyarakat muslim dengan segala tingkat spiritualitas, himmah dan kodratnya , oleh karenya hal itu tidak dituntut atas mereka. Persoalanya hanyalah kemauan manusia dan keikhlasan niat untuk melaksanakanya.

Seandainya mereka mau menunaikan tugas-tugas mudah yang diwajibkan Allah atas mereka serta mau menderngarkan nasihat dan pengajaran yang diberikan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan kebaikan yang besar di dunia dan di akhirat.

Ayat 69-70

Asbabun Nuzul

ذكر سبب نزول هذه الآية الكريمة:
قال ابن جرير: حدثنا ابن حميد، حدثنا يعقوب القُمي، عن جعفر بن أبي المغيرة، عن سعيد بن جُبير قال: جاء رجل من الأنصار إلى النبي صلى الله عليه وسلم وهو محزون، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: “يا فلان، ما لي أراك محزونًا؟” قال: يا نبي الله شيء فكرت فيه؟ قال: “ما هو؟” قال: نحن نغدو عليك ونروح، ننظر إلى وجهك ونجالسك، وغدا ترفع مع النبيين فلا نصل إليك. فلم يرد النبي صلى الله عليه وسلم عليه شيئا، فأتاه جبريل بهذه الآية: { وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَم اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ [وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا] } فبعث النبي صلى الله عليه وسلم فبشره.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diinformasikan kepadanya oleh Ibnu Humaid, dari Ya’qub as-Saqami, dari Ja’far bin Abil Mughirah, dari Said bin Jubair bahwa ia berkata, “Seorang laki-laki Anshar datang kepada Rasulullah dalam keadaan sedih hati. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, mengapa saya lihat kamu bersedih hati? Dia menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, ada sesuatu yang ku pikirkan’, Beliau bertanya, ‘Apa itu? Dia menjawab ‘Kami biasa bersamamu pagi dan petang, kami lihat wajahmu, dan duduk bersamamu. Akan tetapi besok, Engkau akan berada ditampat yang tinggi bersama para nabi, sehingga kami tidak akan dapat menggapaimu’. Maka Nabi tidak menjawabnya sama sekali, kemudian Malaikat Jibril datang menbawa ayat ini. Maka bangkitlah Nabi dan memberikan kabar gembira kepada orang itu.

Tafsiran Ayat

ثم قال تعالى: { وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا } أي: من عمل بما أمره الله ورسوله، وترك ما نهاه الله عنه ورسوله، فإن الله عز وجل يسكنه دار كرامته، ويجعله مرافقًا للأنبياء ثم لمن بعدهم في الرتبة، وهم الصديقون، ثم الشهداء، ثم عموم المؤمنين وهم الصالحون الذين صلحت سرائرهم وعلانيتهم. ثم أثنى عليهم تعالى فقال: { وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا }

‎Allah berfirman (وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا) “(69) Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (70) Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui” Artinya, barangsiapa melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah akan menempatkanya di tempat kehormatan-Nya (Surga) dan menjadikanya pendamping para Nabi, kemudian orang-orang yang derajatnta dibawah mereka. Yaitu para Shiddiq, para suhada’ (orang yang mati syahid), lalu mukminin secara umum, yaitu orang-orang shalih yang baik (benar) pada sesuatu yang tersembunyi dan tampak. Kemudian Allah memuji mereka dengan firman-Nya (وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا) “Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”

NB: As-Shiddiqin (الصديقين) disini yang dimaksud adalah أفاضل أصحاب النبي yang artinya “Sahabat-sahabat nabi yang luhur”

Bagaimana mentaati Allah dan Rasul?
1. Memperbanyak baca Al-Qur’an
قال الإمام أحمد أيضا: حدثنا أبو سعيد مولى أبي هاشم، حدثنا ابن لهيعة، عن زَبَّان بن فائد، عن سهل بن معاذ بن أنس، عن أبيه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من قرأ ألف آية في سبيل الله كتب يوم القيامة مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، وحسن أولئك رفيقا، إن شاء الله”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Muadz bin Anas dari Ayahnya , bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca seribu ayat di jalan Allah, niscaya Allah akan mencatatnya pada hari Kiamat bersama Nabi, Siddiqin, Syuhada’, dan Shalihin. Itulah sebaik-baik teman, insyaAllah”

2. Menjadi Pedagang yang Jujur lagi amanah
وروى الترمذي من طريق سفيان الثوري، عن أبي حمزة، عن الحسن البصري، عن أبي سعيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء”.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Said, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Pedaganng yang jujur lagi amanah akan bersama para Nabi, Siddiqin, dan Syuhada”. (Kemudian dia berkata: “Hadis ini hasan yang kami tidak ketahui kecuali dari jalan ini)

3. Mencintai dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
المرء مع من أحب
Nabi Bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”

KONTRADIKSI ORANG MUNAFIK; PENGAKUAN BERIMAN TAPI BERTAHKIM KEPADA THAGHUT (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI/23-5-2018) 

QS. An-Nisa’ [4]: 60-65
بسم الله الرحمن الرحيم
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63) وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (64) فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

Artinya : (60) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya (61) Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu (62) Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna” (63) Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka (64) Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (65) Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Setelah selesai menetapkan kaidah kulliyah ‘kaidah umum’ tentang syaray uman dan batasan Islam, juga tentang peraturan pokok bagi umat Islam, serta mengenai manhaj penetapan hukum dan prinsip-prinsipnya, maka nash berikutnya menoleh kepada orang-orang yang menyimpang dari kaidah ini tetapi kemudian mengaku sebagai orang-orang mukmin. Padahal mereka merusak syaray iman dan batasan Islam karena mereka ingin bertahkim kepada selain syariat Allah.

Nash ini menoleh kepada mareka karena merasa heran dan menganggap mungkar sikap mereka itu, serta untuk mengingatkan mereka terhadap keinginan setan untuk menyesatkan mereka. Ayat ini juga menjelaskan keadaan dan sikap mereka ketika diajak mengikuti apa yang diturunkan Allah dan untuk mengikuti Rasul, tetapi kemudian mereka tidak mau bahkan menghalang-halangi orang lain untuk mengikutinya. Ayat ini menganggap sikap menghalang-halangi ini sebagai tanda kemunafikan sebagaimana ia menganggap bahwa keinginan untuk bertahkim kepada thaghut ini berarti sudah keluar dari iman. Selain itu ayat ini juga menjelaskan alasan-alasan mereka yang lemah dan dusta ketika mereka mengikuti jalan yang mungkar itu, pada waktu mereka ditimpa bahaya dan bencana. Disamping itu, ayat ini juga memberikan arahan kepada Rasulullah untuk berlaku tulus dan senantiasa menasihati mereka.

Kemudian segmen ini ditutup dengan menjelaskan apa yang dikehendaki Allah dalam mengutus para rasul itu yaitu untuk ditaati. Selanjutnya melalui nash yang jelas dan tegas, Dia menegaskan kembali syarat iman dan batasan Islam.

Ayat 60-63

Tafsiran Ayat
هذا إنكار من الله، عز وجل، على من يدعي الإيمان بما أنزل الله على رسوله وعلى الأنبياء الأقدمين، وهو مع ذلك يريد التحاكم في فصل الخصومات إلى غير كتاب الله وسنة رسوله، كما ذكر في سبب نزول هذه الآية: أنها في رجل من الأنصار ورجل من اليهود تخاصما، فجعل اليهودي يقول: بيني وبينك محمد. وذاك يقول: بيني وبينك كعب بن الأشرف. وقيل: في جماعة من المنافقين، ممن أظهروا الإسلام، أرادوا أن يتحاكموا إلى حكام الجاهلية. وقيل غير ذلك، والآية أعم من ذلك كله، فإنها ذامة لمن عدل عن الكتاب والسنة، وتحاكموا إلى ما سواهما من الباطل، وهو المراد بالطاغوت هاهنا؛ ولهذا قال: {يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ [وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا . وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنزلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا] وقوله: {يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا} أي: يعرضون عنك إعراضا كالمستكبرين عن ذلك، كما قال تعالى عن المشركين: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا } [لقمان:21]هؤلاء وهؤلاء بخلاف المؤمنين، الذين قال الله فيهم: { إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا [وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ]} [النور: 51] فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا . ثم قال تعالى في ذم المنافقين: { فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ } أي: فكيف بهم إذا ساقتهم المقادير إليك في مصائب تطرقهم بسبب ذنوبهم واحتاجوا إليك في ذلك،. { ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا } أي: يعتذرون إليك ويحلفون: ما أردنا بذهابنا إلى غيرك، وتحاكمنا إلى عداك إلا الإحسان والتوفيق، أي: المداراة والمصانعة، لا اعتقادا منا صحة تلك الحكومة، ثم قال تعالى: { أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ } [أي] هذا الضرب من الناس هم المنافقون، والله يعلم ما في قلوبهم وسيجزيهم على ذلك، فإنه لا تخفى عليه خافية، فاكتف به يا محمد فيهم، فإن الله عالم بظواهرهم وبواطنهم؛ ولهذا قال له: { فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ } أي: لا تعنفهم على ما في قلوبهم { وَعِظْهُمْ } أي: وانههم على ما في قلوبهم من النفاق وسرائر الشر { وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا } أي: وانصحهم فيما بينك وبينهم بكلام بليغ رادع لهم.

ِAyat ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang mengaku beriman dengan apa yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, dan Nabi-nabinya yang terdahulu, tetapi bersamaan dengan itu, dalam memutuskan berbagai persengketaan, mereka berhukum bukan kepada Kitabullah dan Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam sebab turunya ayat ini, bahwa ada seorang laki-laki Anshar dan seorang laki-laki Yahudi sedang bersengketa, lalu orang Yahudi itu berkata : “Antara aku dan engkau ada Muhammad”. Sedangkan orang Anshar itu berkata: “Antara aku dan engkau ada Ka’ab bin Al-Asyraf”.

Sejumlah gambaran yang disebutkan dalam nash-nash ini member kesan bahwa semua itu terjadi pada masa-masa awal hijrah, masa ketika kaum munafik masih begitu gencar melakukan serangan, dan kaum Yahudi –yang bekerja sama dengan kaum munafik itu- masih kuat.

Mereka yang hendak berhakim kepada selain syariat Allah yakni kepada thaghut, itu mungkin golongan munafik sebagaimana secara eksplisit disebutkan dalam ayat kedua dari segmen ini. Mungkin juga mereka adalah golongan Yahudi yang diserukan untuk bertahkim kepada kitab Allah (Taurat) dan kepada hukum Rasulullah SAW dalam menyelesaikan kasus yang terjadi di antara mereka atau antara mereka dan penduduk Madinah, tetapi mereka menolak seruan itu dan bertahkim kepada tradisi jahiliyyah yang berlaku.

Kami menguatkan pendapat yang pertama, mengingat firman Allah mengenai mereka yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Sedangkan orang-orang Yahudi tidak pernah menyatakan masuk Islam atau mengaku telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasulullah , hanya kaum munafiklah yang mengaku dirinya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan kitab yang diturunkan sebelumnya.

Peristiwa ini tidak pernah terjadi melainkan pada tahun-tahun pertama hijrah, sebelum dicabutnya duri-duti Yahudi di kalangan Bani Quraidhah dan di Khaibar. Juga sebelum lumpuhnya kaum munafik dengan berakhirnya peran kaum Yahudi di Madinah.

Dan dikatakan, bahwa sebab turunya ayat ini bukan itu, akan tetapi ayat tersebut mencakup lebih umum dari hal itu semua. Karena ia mengandung celaan terhadap orang yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunah. Sedangkan berhukum kepada selain kedunaya merupakan kebathilan dan itulah yang dimaksud dengan thaghut dalam ayat ini. Untuk itu Allah berfirman (يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ) “Mereka hendak berhakim kepada thaghut” hingga akhir ayat.

Firman Allah (يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا) “Mereka menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu”, yaitu mereka berpaling darimu seperti orang-orang yang sombong hal itu. Kemudian Allah berfirman mencela orang-orang munafiq (فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ) “Maka bagaimanakah halnya apabila mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri”. Artinya, bagaimana keadaan mereka jika takdir menggiring mereka kepadamu dan mereka pun butuh kepadamu di saat berbagai musibah dating silih berganti menerpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka.

(ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا) “Kemudian mereka dating kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selaian penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Yaitu, mereka mohon maaf kepadamu dan bersumpah: “Kepergian kami kepada orang lain dan berhukumnya kami kepada musuh-musuhmu itu tidak lain kecuali kami menhendaki kebaikan dan perdamain, yaitu hanya berpura-pura bukan karena keyakinan kami tengang sahnya (benarnya) tahkim tersebut.

Kemudian Allah berfirman (أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ) “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka”. Manusia kelompok ini adalah kaum munafik. Dimana Allah Maha Mengetahui apa yang terdapat di dalam hati mereka dan mereka pun akan dibalas oleh Allah atas perbuatanya itu. Kerena tidak ada suatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Maka merasa cukuplah dengan-Nya tentang mereka, ya Muhammad! Karena Allah Maha mengetahui zhahir dan batin mereka. Untuk itu Allah berfirman kepada beliau (فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ) “Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka. Yaitu, jangan engkau bersikap kasar terhadap apa yang ada di dalam hati mereka (وَعِظْهُمْ) “dan berilah mereka pelajaran”, Yaitu laranglah mereka dari kemunafikan dan rahasis-rahasia jahat yang tertanam dalam hati mereka. (وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا) “Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang dapat membekas jiwa mereka” Yaitu, berilah nasehat kepada mereka dalam semua perkara yang terjadi antara engkau dan mereka, dengan kata-kata yang berbekas yang dapat mencegah mereka.

Sebuah ungkapa deskriptif. Seakan-akan perkataan itu memberikan bekas secara langsung pada jiwa, dan menetap secara langsung di dalam hati.

Itu adalah perkataan yang mempersuasi mereka untuk sadar kembali, bertobat, bersikap istiqomah dan merasa tenang dibawah lindungan Allah dan jaminan Rasulullah, setelah tampak jelas dari mereka kecenderungan untuk bertahkim kepada thagut dan tidak mau mengikuti Rasulullah ketika mereka diseur untuk bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ayat 64-65

يقول تعالى: { وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ } أي: فرضت طاعته على من أرسله إليهم وقوله: { بِإِذْنِ اللَّهِ } قال مجاهد: أي لا يطيع أحد إلا بإذني. يعني: لا يطيعهم إلا من وفقته لذلك، كقوله: { وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ } [آل عمران:52] أي: عن أمره وقدره ومشيئته، وتسليطه إياكم عليهم. وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا} يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيم}. وقوله: { فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } يقسم تعالى بنفسه الكريمة المقدسة: أنه لا يؤمن أحد حتى يُحَكم الرسول صلى الله عليه وسلم في جميع الأمور، فما حكم به فهو الحق الذي يجب الانقياد له باطنا وظاهرا؛ ولهذا قال: { ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } أي: إذا حكموك يطيعونك في بواطنهم فلا يجدون في أنفسهم حرجا مما حكمت به، وينقادون له في الظاهر والباطن فيسلمون لذلك تسليما كليا من غير ممانعة ولا مدافعة ولا منازعة، كما ورد في الحديث: “والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به”. وقال البخاري: حدثنا علي بن عبد الله حدثنا محمد بن جعفر، أخبرنا مَعْمَر، عن الزهري، عن عُرْوَة قال: خاصم الزبير رجلا في شُرَيج من الحَرَّة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “اسق يا زُبير ثم أرْسل الماء إلى جارك” فقال الأنصاري: يا رسول الله، أنْ كان ابن عمتك ؟ فَتَلَوَّن وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال: “اسق يا زبير، ثم احبس الماء حتى يرجع إلى الجدْر، ثم أرسل الماء إلى جارك” واستوعى النبي صلى الله عليه وسلم للزبير حَقّه في صريح الحكم، حين أحفظه الأنصاري، وكان أشار عليهما بأمر لهما فيه سعة. قال الزبير: فما أحسب هذه الآية إلا نزلت في ذلك: { فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } الآية. وهكذا رواه البخاري هاهنا أعني في كتاب: “التفسير” من صحيحه من حديث معمر: وفي كتاب: “الشرب” من حديث ابن جُرَيْج ومعمر أيضا، وفي كتاب: “الصلح” من حديث شعيب بن أبي حمزة، ثلاثتهم عن الزهري عن عروة، فذكره وصورته صورة الإرسال، وهو متصل في المعنى.

Allah berfirman (وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ) “Dan tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati”.Artinya aku wajibkan utnuk mentaati orang yang diutus kepada mereka. Dan Firman-Nya (بِإِذْنِ اللَّهِ) “Dengan izizn Allah” Mujahid berkata: “Yaitu, tidak ada seseorang pun yang taat kecuali dengan izin-Ku; yakni, tidak ada seorang pun yang mentaatinya, kecuali orang yang Aku beri taufik, seperti firman-Nya (وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ) “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya (Q.S Ali Imran : 152) Yaitu dari perintah, qadar, kehendak, dan kekuasan-Nya dan penguasaan-Nya untuk kalian terhadap mereka.

Sedangkan firman-Nya (وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ) “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya” Allah mengarahkan para pelaku maksiat dan para pelaku dosa, jika terjatuh dalam kekeliruan dan kemaksiatan untuk dating kepada Rasulullah dalam rangka meminta ampun kepada Allah di sisinya serta meminta kepada beliau untuk memohonkan ampunan bagi mereka. Jika mereka melakukan demikian, niscaya Allah akan menerima taubat mereka, mengasihi dan mengampuni mereka. Untuk itu, Allah berfirman, (لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيم) “Tentulah mereka mendapati Allah Maha penerima taubat Maha Penyayang”.

Firman-Nya, (فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ) “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. Allah bersumpah dengan diri-Nya yang Mahamulia, bahwa seseorang tidak beriman hingga ia berhukum kepada Rasulullah dalam seluruh perkara. Hukum apa saja yang diputuskannya, itulah yang wajib dipatuhi secara total, lahir dan batin. Untuk itu Allah berfirman (ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) “Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. Yaitu apabila mereka berhukum kepadamu, mereka mentaatimu dalam hati mereka dan tidak didapati dalam jiwa mereka rasa keberatan terhadap apa yang telah engkau putuskan, mereka pun mematuhinya secara dhahir dan bathin, serta menerimanya dengan penuh tanpa keengganan, penolakan dan pembangkangan. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis:

والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
“Demi Rabb yang jiwaku ada dikekuasaan-Nya. Salah seorang kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa”

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Urwah ia berkata : “Az-Zubair bersengketa dengan seorang laki-laki tentang saluran air. Lalu Nabi bersabda: “Siramlah hai Zubair, lalu salurkanlah kepada tetanggamu” kemuadian orang Anshar itu berkata: “Ya Rasulallah, apakah karena ia anak pamanmu?” Maka wajah Nabi pun berubah, lalu bersabda: “Ya Zubair! Siramlah, kemudian tahanlah air hingga memenuhi parit. Kemudian, alirkanlah air itu ke tetanggamu”. Maka Nabi mengambilkan Zubair semua haknya dalam keputusan yang jelas, ketika orang Anshar membikin marah. Dan adalah Nabi memberikan jalan keluar kepada keduanya terhadap urusan kedunya yang mengandung keluasan”. Az-Zubair berkata: “Saya kira ayat ini tidak turun, kecuali berkenaan dengan masalah tersebut (فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ) “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. Demikian yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab at-Tafsir, bentuknya adalah mursal dan secara makna adalah muttasil.

Umat Nabi Muhammad SAW memang beragam. Dikisahkan dari Abu Hurairah bahwa ada seorang sahabat menemui Rasulullah SAW:

فَقَالَ هَلَكْتُ فَقَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَاقَعْتُ امْرَأَتِي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ فَأَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ لَيْسَ عِنْدِي قَالَ فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ تَصَدَّقْ بِهَذَا فَقَالَ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنْ أَهْلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرَ مِنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْتُمْ إِذًا وَضَحِكَ

Kemudian ia berkata, “Aku telah celaka! “ Beliau bertanya: “Apa yang membuatmu celaka?” Ia menjawab, “Aku telah menggauli isteriku pada bulan Ramadan.” Beliau bersabda: “Bebaskanlah seorang budak.” Ia berkata, “Aku tidak memiliki budak.” Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia berkata, “Aku tidak mampu.” Beliau bersabda: “Berilah makan enam puluh orang miskin.” Ia berkata, “Aku tidak mendapatkan makanan.” Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi keranjang yang berisi kurma“, kemudian beliau berkata: “Dimanakah orang yang bertanya? Bersedekahlah dengan ini.” Orang itu lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus bersedekah kepada orang yang lebih fakir dari keluargaku? Demi Allah, tidak ada di antara dua daerah yang berbatu hitam (yaitu Madinah) yang lebih fakir daripada kami.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu untuk kalian saja.” Beliau berikan kurma tersebut sambil tertawa hingga nampak gigi-gigi taringnya.”

Kafarat bagi orang batal puasa karena menggauli istri pada waktu berpuasa adalah tertib sesuai urutan berikut:
1. Memerdekakan budak, jika tidak mampu maka
2. Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa putus, jika tidak mampu maka
3. Memberi makan 60 orang miskin tiap satu orang 1 mud
Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat dermawan. Dalam Syarh Bukhari karya Abi Jamrah disebutkan dari Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا مَدِيْنَةُ السَّخَاءِ وَأَبُوْ بَكْرٍ بَابُهَا

Saya adalah kota kedermawanan dan Abu Bakar adalah pintunya.

Penyataan Rasulullah SAW adalah nyata, sehingga tidak ada yang bisa menandingi kedermawanan Abu Bakar setelah kedermawanan beliau. Dikisahkan bahwa ketika menghadapi perang Tabuk Rasulullah mengajak umat Islam untuk mengumpulkan amal untuk biaya perang. Umar bin Khathab berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku.” Rasulullah bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini (separuh harta).’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?‘ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Allah dan Rasulullah bagi mereka.’ Umar berkata, “Demi Allah, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.’

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
Ngaji Tafsir Al Qur’an di Masjid Menara pada  Rabu, 7 Ramadlan 1439

SIFAT DENGKI ORANG-ORANG YAHUDI (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 21 Mei 2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 53-56
بسم الله الرحمن الرحيم
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52) أأَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا (53) أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (54) فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا (55) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56)

Artinya : (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya (53) Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia (54) ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar (55) Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya (56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Ayat 52
Asbabun Nuzul

وقال الإمام أحمد: حدثنا محمد بن أبي عدي، عن داود، عن عكرمة، عن ابن عباس قال: لما قدم كعب بن الأشرف مكة قالت قريش: ألا ترى هذا الصنبور المنبتر من قومه؟ يزعم أنه خير منا، ونحن أهل الحجيج، وأهل السدانة، وأهل السقاية! قال: أنتم خير. قال فنزلت { إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ } [الكوثر:3] ونزل: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ } إلى { نَصِيرًا } .

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Ketika Ka’ab bin Al-Asyraf mendatangi kota Makkah, maka orang-orang Quraisy berkata: “Cobalah engkau perhatikan, laki-laki hina yang terputus keturunanya (Nabi Muhammad) dari kaumnya ini, ia menyangka bahwa ia lebih baik dari kami. Padahal kami ini adalah pembesar haji dan pelayan Ka’bah, serta penyedia air minum”. Maka Ka’ab berkata: “ Kalian Lebih Baik”. Karena hal tersebut lalu Abu Sufyan mengutuk Ka’ab dan turunlah ayat:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا (51) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52)

Artinya: (51) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya

Berangkat dari sinilah, Allah mengutuk mereka (Orang Yahudi) dan menempatkannya di neraka level 3 yang diberi nama neraka Khutomah.

Tambahan: Macam-macam Neraka berdasarkan Levelnya:

1. Jahannam: adalah tingkat yang atas sekali, yaitu tempat mukminin-mukminat, muslimin-muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar.

2. Neraka Ladhoh: adalah tingkat kedua orang yang mendustakan agama dan Iblis Laknatullah dan orang majusi beserta orang-orang yang mengikuti Iblis dan Majusi.

3. Neraka Khutamah: adalah tingkat ketiga tempat bagi orang-orang yahudi dan para pengikutnya

4. Neraka Sair: adalah tingkat keempat tempat bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dan orang nasrani.

5. Neraka Saqar: adalah tingkat kelima untuk orang-orang yang menyembah berhala.

6. Neraka Jahim: adalah tingkat ke enam untuk orang yang menyekutukan Allah

7. Neraka Hawiyah: adalah tingkat ke tujuh yang terletak paling bawah (dasar) dan paling dahsyat siksaanya yakni untuk orang-orang munafiq, orang kafir, termasuk keluarga Fir’aun.

Ayat 53-55
Tafsiran Ayat

يقول تعالى: { أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ } ؟! وهذا استفهام إنكار، أي: ليس لهم نصيب من الملك ثم وصفهم بالبخل فقال: { فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا } أي: لأنهم لو كان لهم نصيب في الملك والتصرف لما أعطوا أحدا من الناس -ولا سيما محمدا صلى الله عليه وسلم-شيئًا، ولا ما يملأ “النقير”، وهو النقطة التي في النواة، في قول ابن عباس والأكثرين. وهذه الآية كقوله تعالى { قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ } [الإسراء:100]أي: خوف أن يذهب ما بأيديكم، مع أنه لا يتصور نفاده، وإنما هو من بخلكم وشحكم؛ ولهذا قال: { وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا } [الإسراء:100]أي: بخيلا. ثم قال: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ } يعني بذلك: حسدهم النبي صلى الله عليه وسلم على ما رزقه الله من النبوة العظيمة، ومنعهم من تصديقهم إياه حسدهم له؛ لكونه من العرب وليس من بني إسرائيل. قال الطبراني: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، حدثنا يحيى الحماني، حدثنا قيس بن الربيع، عن السدي، عن عطاء، عن ابن عباس قوله: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ [عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِه] } الآية، قال ابن عباس: نحن الناس دون الناس، قال الله تعالى: { فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا } أي: فقد جعلنا في أسباط بني إسرائيل -الذين هم من ذرية إبراهيم-النبوة، وأنزلنا عليهم الكتب، وحكموا فيهم بالسنن -وهي الحكمة-وجعلنا فيهم الملوك، ومع هذا { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بهذا الإيتاء وهذا الإنعام { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } أي: كفر به وأعرض عنه، وسعى في صد الناس عنه، وهو منهم ومن جنسهم، أي من بني إسرائيل، فقد اختلفوا عليهم، فكيف بك يا محمد ولست من بني إسرائيل؟. وقال مجاهد: { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بمحمد صلى الله عليه وسلم { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } فالكفرة منهم أشد تكذيبا لك، وأبعد عما جئتهم به من الهدى، والحق المبين. ولهذا قال متوعدا لهم: {وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا} أي: وكفى بالنار عقوبة لهم على كفرهم وعنادهم ومخالفتهم كتب الله ورسله..

Allah berfirman (أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ) “Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?” Kalimat ini adalah istifham inkari (sebuah pertanyaan yang menunjukkan penyangkalan), artinya mereka tidak memiliki bagian kekuasaan. Kemudian Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dalam firman-Nya ( فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا) “Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia”. Karena, seadainya mereke memiliki bagian kekuasaan atau kerajaan pun, niscaya mereka tidak akan memberikan apapun kepada manusia, apalagi kepada Muhammad. Dan mereka tidak akan member sesuatu seberat naqir pun, yaitu satu titik pada biji, menurut pendapat Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama, disebabkan kebakhilan dan kekikiran mereka

Setelah memeparkan keheranan terhadap urusan, sikap dan perkataan kaum Yahudi, serta mengumumkaan kutukan dan kehinaan atas mereka, maka ayat berikutnya menyatakan keingkaran terhadap sikap mereka kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Juga terdapat kebencian mereka karena Allah memberi karunia kepada Rasulullah dan kaum muslimin, yaitu karunia berupa agama Islam, kemenangan dan kekuasaan.Ayat selanjutnya mengingkari sikap mereka (kaum Yahudi) yang iri hati dan dengki terhadap karunia Allah yang diberikanNYa kepada kaum muslimin, padahal mereka tidak dapat memberi karunia sedikit pun. Pada waktu yang sama diungkapkanlah tabiat mereka yang keras dan kering, dan menganggap banyak setiap pemberian yang diperoleh orang lain. Padahal, Allah sudah melimpahkan karunia atas mereka dan nenek moyang mereka. Akan tetapi limpahan karunia ini tidak juga menjadikan mereka berlapang dada dan tidak mencegah dari dengki dan iri hati.

Sungguh mengherankan! Mereka sama sekali tidak dapat memberikan nikmat sedikitpun kepada seseorang sebagaimana yang dilakukan Allah. Apakah memang mereka itu sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah! Apakah mereka memiliki andil di dalam kekuasaan-Nya, untuk memberi dan melimpahkan karunia? Kalau mereka punya andil, niscaya mereka -sesuai dengan sifat yang keras kepala dan kikir- tidak akan memberikan sedikitpun kebajikan kepada manusia. Kaum Yahudi yang amat kikir dan pendendam itu –seandainya mereka memiliki andil dalam kekuasaan- tidak akan memberikan kebajikan dan kenikmatan kepada orang lain, walaupun hanya setebal kulit luar biji tumbuhan. Alhamdulillah, kaum Yahudi tidak mempunyai andil dalam kekuasaan. Sebab, seandainya mereke memiliki andil dalam kekuasaan ini, niscaya akan binasa seluruh manusia. Karena, mereka tidak akan mau memberi, walau hanya setebal kulit ari.

Allah berfirman (أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ) “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” Yaitu kedengkian mereka kepada Nabi atas rizqi kenabian yang Agung, yang diberikan Allah kepadanya dan keengganan mereka membenarkan nubuwwah. Kedengkian mereke itu dikarenakan Beliau dari keturunan Arab dan bukan dari keturunan Bani Israil.

Kedengkian orang Yahudi kepada Nabi atas rizqi kenabian ini berupa khususiyyat beristri berjumlah 12 istri:

1. Khadijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah s.a.w. di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun ( Janda 2 kali ). Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah s.a.w memiliki 2 anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki- laki beliau ( Qasim & Abdullah ) meninggal saat berumur 2 tahun. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Khodijah meninggal usia 65 tahun (saat itu usia Nabi 50 Tahun). Rasulullah s.a.w. tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Hikmah Nabi menikahi Siti Khadijah karena dia adalah wanita pertama yang AKAN memeluk Islam dan mendukung dakwah Nabi.

2. Saudah binti Zam’ah RA (70 tahun ), wanita kulit hitam dari Sudan dinikahi oleh Rasulullah pada saat beliau berumur 52 tahun pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khadijah. Ia adalah seorang janda (2 kali) yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amral yang menjadi perisai Nabi di medan perang. Memiliki 12 anak dari pernikahan dengan suami pertama. Hikmah Nabi menikahinya adalah menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin

3. Aisyah binti Abu Bakar RA, seorang gadis yang cantik dan cerdas, dinikahi oleh Rasulullah bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah dan Rasulullah mengajarkan tentang kewanitaan agar disampaikan kepada umatnya kelak.

4. Hafsah binti Umar bin Al-Khattab RA (35 tahun), janda yang ditinggal mati oleh suaminya dalam perang Uhud, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah pada tahun ketiga Hijriyah ketika beliau berumur 55 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah untuk menjaga keotentikan Al Qur’an karena Hafsah akan menjadi wanita pertama yang HAFAL 30 Juz Al Qur’an.

5. Zainab binti Khuzaimah RA (50 tahun), dari Bani Hilal dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi fakir miskin. Sebelumnya ia bersuamikan Abdullah bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah pada saat beliau berumur 56 tahun. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW.. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah, untuk menjadi teladan bersama-sama Rasulullah dalam menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

6. Ummu Salamah binti Abu Umayyah RA (62 tahun), Wanita yang pandai berbicara, berpidato dan mengajar ini sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya meninggal di bulan Jumadil Tsani tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki- laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah pada bulan Syawwal di tahun yang sama pada saat beliau berumur 56 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah dan mengajar kaum wanita.

7. Zainab binti Jahsyi RA (45 tahun), dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah . Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah di bulan Dzulqo’dah tahun kelima Hijriyah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghapus kebiasaan jahiliyah perihal nasab anak angkat yg harus mengikuti ayah aslinya (tidak mengikuti nasab ayah angkat) sekaligus menegaskan tuntunan syariat perihal konsekuensi pengangkatan anak.

8. Juwairiyah binti Al-Harits RA (65 tahun), putri pemimpin kabilah Bani Mustholiq dari Khuza’ah yang mempunyai 17 anak dari pernikahan pertamanya. Ia merupakan tawanan perang yang dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk syariat memerdekakan budak dan pembebasan tawanan perang dan meraih simpati dari kabilahnya untuk memasuki ajaran Islam.

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA (47 tahun), sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharram tahun 7 Hijriyaah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah ketika Nabi berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghibur dan menjaga keimanan Habibah agar tidak ikut murtad dengan mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik.

10. Shafiyyah binti Huyay RA (53 tahun), wanita dari bani israil yang menjadi muslimah janda 2 kali dari Salam bin Misykam dan Kinanah bin Abil Huqoiq, memiliki 10 anak dari perkawinan sebelumnya, ia merupakan tawan perang Khaibar lalu Rasulullah memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khaibar tahun 7 Hijriyah ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menjaga keimanan Shafiyyah dari boikot orang yahudi dan menjaga kedudukannya sebagai putri dari pemuka kabilah.

11. Maimunah binti Al-Harits RA (63 tahun), wanita dari suku yahudi bani kinanah janda Abu Ruham bin Abdul Uzza dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijriyah pada saat melaksanakan Umrah Qadha’ ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk menjaga dan mengembangkan dakwah di kalangan Bani Nadhir.

12. Mariyah Qibtiyyah RA (25 tahun) , seorang gadis budak yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis dari Iskandaria Mesir kepada Rasulullah kemudian dinikahinya pada tahun 8 hijriyah ketika Nabi berumur 59 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk membebaskan perbudakan dan menjaga keimanan Mariyah Qibtiyyah.

Beliau Nabi Muhammad meninggal dunia meninggalkan 9 istrinya selain khadijah (karena sudah meninggal sebelum Nabi Muhammad), Hafsah (wanita yang dicerai Rasulullah karena sifat cemburunnya yang menguasai dirinya lupa daratan) dan wanita yang diceraikan Rasulullah lantaran punya penyakit baros.

Allah berfirman, (فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا) “Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepadanya keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar”. Yaitu sesungguhnya Kami telah menjadikan kenabian pada keturunan Bani Israil yang merupakan anak cucu Nabi Ibrahim, kami turunkan kitab-kitab kepada mereka dan mereka (para Nabi) menghukumi Bani Israil dengan sunah-sunah yaitu berupa hikmah serta kami jadikan diantara mereka (Bani Israil) raja-raja

Maksud ayat ini adalah bantahan atas apa yang dihasuti oleh orang-orang yahudi? Jikalau yang dihasud atau iri dari Nabi Muhammad adalah jumlah istri, maka nabi-nabi mereka dari kalangan bani israil malah melebihi jumlah istri Rasulullah, contoh:
· Nabi Daud istrinya 99 dan tambah 1 (istrinya Jendral Area)
· Nabi Ismail istrinya 1000 bahkan memiliki kerajaan yang meliputi seluruh dunia dari kalangan manusia, jin dan syaitan
· Dan Nabi-nabi lainya dari bani israil

Di antara dengki yang lebih tercela ialah dengkinya orang-orang yang telah diberi nikmat seperti itu. Kalau orang yang tidak mendapatkan nikmat yang seperti itu bersikap dengki, itu pun sudah tercela. Apalagi kalau yang dengki itu justru mereka yang sudah mendapatkan nikmat yang banyak, maka kedengkian semacam ini amat buruk, mendasar dan mendalam, seperti kedengkian orang Yahudi yang memang aneh dan unik.

Tetapi dalam waktu yang sama, diantara mereka ada yang beriman dengan pemberian dan kenikmatan itu dan ada pula yang mengingkarinya, yaitu mengkufurinya, berpaling dari petunjuknya dan berupaya menghalangi manusia darinya. Padahal dia (Nabi lain) itu adalah bagian dari mereka dan merupakan jenis (golongan) mereka, yaitu Bani Israil, itu pun membuat mereka berselisisih. Maka bagaimana pula denganmu ya Muhammad sedang engkau bukan dari Bani Israil?

Nabi Muhammad adalah keturunan kaum ummi (keturunan Nabi Ismail) bukan merupakan ahlul kitab (bani Israil / bani ishaq). Jadi sebenarnya dari Nabi Ibrahim lahirlah dua kelompok: kelompok bani israil dan kelompok bani ismail. Sejarah kenabian yang berasal dari keturunan bani israil cukup jelas sementara kenabian yang berasal dari dari bani ismail tidak banyak disebut dalam sejarah. Kenabian dari kalangan bani israil jelas dengan silih bergantinya kelahiran (para) nabi sedangkan kenabian dari keturunan bani ismail hanya dapat disaksikan dalam praktek ibadah dan adat istiadat yang berkembang dalam masyarakat. Adapun kiblat kelompok bani israil adalah baitul maqdis sedangkan kiblat kelompok bani ismail adalah baitullah yang terletak di kota makkah. Yang menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Syariat kelompok pertama adalah hukum-hukum dan syariat kelompok kedua hanya memelihara tradisi menjaga kesucian Masjidil Haram. Musuh kelompok pertama adalah orang-orang kafir seperti Firaun dan Hamman, dan musuh kelompok kedua adalah orang-orang musyrik seperti penyembah berhala.

Mujahid berkata: “Di antara mereka ada yang beriman kepadanya yaitu kepada Nabi Muhammad dan ada pula yang berpaling darinya” untuk itu, Allah mengancam mereka, (وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا) “Cukuplah Jahannam sebagai tempat kembali mereka”. Artinya cukup api Neraka sebagai hukuman atas kekufuran, pembangkangan dan penentangan mereka terhadap kitab-kitab dan Rasul-rasul Nya.

Ayat 56

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarha Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Ditampilkan balasan ini dalam pemandangan hari sebagai berikut:

(56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S An-Nisa’: 56)

“Setiap kali mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab”. Sungguh ini merupakan pemandangan yang hamper tidak berujung dan tak berkesudahan. Pemandangan yang tampak berulang-ulang. Tampak wujudnya dalam khayalan dan tak dapat dipalingkan. Ia sangat menakutkan dan mengerikan. Kengerianya memiliki daya tarik yang menekan. Kalimat ini menggambarkan pemandangan itu secara berulang-ulang dengan menggunakan kata “kullama / كلما” yang artinya ‘setiap kali’. Di samping itu, juga dilukiskan dengan sangat mengerikan dan menakutkan.

Itulah balasan kekefiran, padahal sebab-sebab untuk beriman sudah disediakan. Balasan inilah yang dimaksudkan, dan ia merupakan balasan yang sangat tepat.

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum

 

NGAJI TAFSIR MBAH K.H SYA’RONI AHMADI (Jumu’ah Fajar di Masjid Menara Kudus/5 Ramadlan 1439 H-21 Mei 2018)

102 KHATAMAN, NGALAP BERKAH KHR. ASNAWI

Selepas maghrib, kawasan menara dipadati alumni Qudsiyyah yang akan melaksanakan 102 khataman dihadiahkan untuk muassis dan masyayikh Qudsiyyah. Kegiatan ini akan mengkhatamkan al-qur’an seb

anyak 102 mengenang 102 tahun lalu pendirian Madrasah Qudsiyyah oleh KHR. Asnawi. Acara yg pada Jumat malam (4/5) berlangsung dari pukul 19.20 WIB (bakda Isya’) diawali dengan daftar ulang 510 khatimin.

510 khatimin dibagi menjadi 102 grup yang bertugas menyelesaikan 1 khataman al-qur’an. Hasan, salah satu khotimin menuturkan rata-rata perpeserta membaca 6 juz. Menurut Amin Ikhwani, koordinator kegiatan menuturkan bahwa setiap kelompok diusahakan ada yang hafidz sehingga dapat membantu peserta lain yang belum menyelesaikan porsinya.

Ihsan, Ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah pemaknaan “ngaji” dari konsep Gusjigang. Ahmad Nadjib, selaku Ketua YAPIQ menuturkan khataman seperti ini akan dilaksanakan tiap tahun sebagai bukti bakti kita kepada pendiri dan guru Qudsiyyah.

Peserta kompak memakai pakaian ala kudusan berupa baju putih, bersarung batik dan mem

akai iket sebagai penutup kepala. Menurut Abdul Jalil, panitia menggagas konsep ini untuk lebih menyerukan islam nusantara dan mengaplikasikan pakaian rakyat kauman dulu kala.

Acara berlangsung khidmah dan setelah genap 102 khataman acara berakhir pukul 21.30 WIB. Kemeriahan dilanjutkan di Halaman depan Makam Sunan Kudus, tepat di Selatan Bangunan Menara, 120 ingkung telah ditata rapi untuk disuguhkan kepada para peserta. Ingkung merupakan makanan khas yang disajikan ketika prosesi bancaan, manaqiban maupun tirakatan.

Ingkung dinikmati secara kepungan merupakan tradisi santri yang tak kenal gengsi, mau berbagi dengan yang lain dan tidak memandang tinggi-rendah derajat lainnya. Perbedaan menyatu, luber dalam kebersamaan dan keharmonisan, begitu tutur salah panitia. Ingkung yang disediakan adalah nasi dengan lauk Opor Ayam yang masih utuh dan Sambel Goreng, kuliner khas Kudus.

“Ngalap berkah”, begitulah kesan dari peserta khatmil Quran terutama dalam memeriahkan program Festival Alquran yang digagas oleh Qudsiyyah. Mereka percaya bahwa berkah para salafus sholihin akan berimbas dalam kehidupan mereka, itulah alasan mengapa tanpa pamrih ratusan peserta mengikuti kegiatan tersebut. Wahyu, salah seorang percaya bahwa tepat kegiatan ini diisi dengan khataman Al-Qur’an karena Al Qur’an adalah sumber berkah.

Festival Al Qur’an Bakal Dibuka Menteri Agama

QUDSIYYAH, KUDUS – Festival Al Qur’an, Pameran Khazanah Islam Nusantara dan Parade Benteng Pancasila yang digagas Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, bakal dilaksanakan lebih awal dari Jadwal semula. Yang semula dijadwalkan pada 10 – 17 Mei, diajukan lebih menjadi 4 – 10 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 34 ini bakal dibuka langsung oleh Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua panitia sekaligus Ketua Umum IKAQ, H. Ihsan, menyatakan, pengajuan jadwal pameran dari waktu semula merupakan arahan dan penyesuaian jadwal Menteri Agama. “Kita sesuaikan dengan jadwal pak Menteri,” katanya.

Ia menandaskan pameran ini bakal dibuka secara resmi oleh Meneteri Agama pada Jumu’ah (4/5/2018) Pagi. Dengan kehadiran Menteri Agama, diharapkan kegiatan festival ini akan semakin ramai dan mengena ke masyarakat. Melalui kegiatan ini, ia berharap akan semakin tersampaikannya nilai-nilai al Qur’an kepad masyarakat. “Juga mudah-mudahan akan tersosialisasi mushaf standar Indoneisa kepada asyarakaty Kudus dan sekitarnya,” kata pria yang juga sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus ini.

Kegiatan seminggu ini baklal menampilkan pameran sejarah Al Qur;an, pameran khazanah Islam Nusantara, khataman Kosolsal 102 khataman, Festival Tilawah, Khaotmul Qur’an bil Kitabah, seminar Saintifikasi dan Faktualisasi al Qur’an, dan Olimpiade Sain. Selain itu, juga bakal dihibur dengan festival terbang klasik, malam seribu terbang, seni dan pertunjukan teater, Konser 21 tahun Al Mubarok, Konser “Noe” Letto, Gambusan, Tari Gusjigang, dan Ngontel Bareng dengan tema “Islam Nusantara Benteng Pancasila”. (Kharis)

Qudsiyyah Putri Peringati Hari Kartini

QUDSIYYAH, KUDUS – Untuk pertama kalinya Qudsiyyah Putri mengadakan upacara hari Kartini yang bertepatan pada hari Sabtu 21 April 2018. Hal ini tak lain karena Qudsiyyah adalah madrasah dengan santri yang kesemuanya laki-laki sehingga tidak pernah mengadakan peringatan Hari Kartini. Setelah dibukanya Qudsiyyah Putri maka baru tahun inilah peringatan hari kartini dilaksanakan.

Dengan memakai sarung batik dan baju batik kangkung para santri sangat khidmah dalam mengikuti upacara tersebut. Dalam kesempatan ini ibu Lailatus Sa’diyah (waka humas) didaulat menjadi pembina upacara.

Dalam amanatnya, bu Laila menceritakan sejarah Kartini bahwa beliau adalah putri dari bupati jepara yang pada masa itu sangat prihatin dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Wanita-wanita Indonesia dikekang dalam rumah sehingga kurang mendapatkan pendidikan baik pendidikan agama maupun umum. Kartini pernah berjumpa dengan Mbah Sholeh Darat semarang. Dalam perjumpaan itu beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya dan meminta kepada Mbah sholeh Darat agar mau menerjemahkan Al Qur’an sehingga mudah dipahami oleh orang awam. Akhirnya permintaan itu dikabulkan oleh Mbah Sholeh Darat. Dalam terjemahan tersebut Kartini sempat membaca surat Al Baqarah ayat 257 khusunya ayat
يخرجهم من الظلمات الى النور

Sehingga ayat tersebut menginspirasi beliau untuk memberikan nama buku karya beliau “habis gelap terbitlah terang”
Buku itu merupakan kumpulan surat-surat beliau kepada temannya di Belanda mengenai keadaan wanita dan pendidikan di Indonesia.

Sebelum upacara ditutup tidak lupa santri-santri menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” lagu wajib yang selalu dinyanyikan pada upacara hari Kartini. Semoga dengan peringatan hari kartini santri-santri Qudsiyyah Putri bisa meneladani perjuangan beliau. (Isbah)

SERBA-SERBI BULAN RAJAB

ALHAMDULILLAH umat Islam saat ini akan memasuki di salah satu bulan yang mulia dan memiliki kedudukan yang agung, yaitu Rajab yang jatuh pada hari Senin Pon, 19 Maret 2018 M/ 1 Rajab 1439 H. Bulan ini dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah [95]: 2).

Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qa’dah, dzul hijjah, rajab, dan muharam.

A. Pengertian Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dari tahun hijriyyah dan merupakan salah satu bulan haram (أحد الأشهر الحرم) seperti yang telah difirmankan Allah Ta’ala Azza Wa Jalla dalam Q.S Al-Taubah: 36 sebagai berikut:

يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

Ibnu Rajab mengatakan, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab

Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya bahwasanya Allah mengkhususkan bulan-bulan haram untuk berdzikir dan mencegah perbuatan dholim. Bentuk larangan dibulan-bulan ini ditakwili dengan larangan untuk tidak berbuat aniaya pada diri sendiri sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Dari hadist Abu Bakar R.A yang terdapat dalam Shohih bukhori-muslim dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika berkutbah berkata:

إن الزمان قد استدار كهيئة يوم خلق الله السموات والأرض، السنة إثنا عشر شهرا منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان.

Artinya: Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

B. Makna Rajab

Rojab itu dari kata رجب الرجل رجبا ‘menghormati seseorang dengan suatu kehormatan’. Dengan demikian kata رجبه –يرجبه-رجبا-رجوبا atau رجّبه- ترجّبه dan أرجبه semuanya semakna dengan kata هابه atau عظمه’memuliakan atau menghormati’. Sehingga kata مرجوب sama halnya dengan kata مهاب dan معظم yakni orang yang dihurmati atau dimuliakan.

Disebutkan bahwa bulan rajab memiliki 14 nama: syahrullah, rajab, rajab mudhir, munsholul asnah, ashom, munaffis, muthohhar, muqim, harm, muqosyqisy, mabri’, fard, al-ashob, dan mu’alla. Dan sebagian ulama’ menambahi lagi dengan nama rojam, munsholul aal (yang berarti perang) dan munajja’ul asnah.

Sebagian Ulama’ memaknai nama-nama bulan rajab di atas sebagai berikut:

1. Rajab (رجب) artinya kemuliaan karena bulan yang dimuliakan atau dihormati oleh orang-orang jahiliyyah.

2. Ashom (الأصم) artinya tuli karena dibulan mereka ini meninggalkan peperangan, tidak terdengar (tuli) gemerincingnya pedang dan suara minta tolong.

3. Ashob (الأصب) artinya turun/ curahan karena kafir makkah selalu mengatakan bahwasanya rahmat tercurah dan turun di bulan ini.

4. Rajm (رجم) artinya didalamnya Allah telah merajam musuh-musuhNya dan para syaiton.

5. Harm (هرم) artinya tua karena kemuliaan bulan ini abadi/kuno dari zaman mudhar bin nizar bin mu’ad bin adnan.

6. Muqim (المقيم) artinya tetap karena kemuliaan bulan ini tetap tidak berubah hal ini disebabkan karena bulan ini merupakan salah satu bulan haram.

7. Mu’alla (المعلى) artinya yang tinggi karena tingginya kedudukan bulan rajab diantara bulan-bulan lainya.

8. Munsholul asnah (منصل الأسنة) disebutkan oleh Al-Bukhary dari Abi Raja’ al-Athordi.

9. Munshollul aall (منصل الآل) yang artinya perang.

10. Al-Mabri’ (المبريء) artinya terbebas karena dalam bulan ini terbebas dari peperangan dan terbebas dari kedholiman dan kemunafikan.

11. Muqosyqisy (المقشقش) artinya penyembuh karena bulan ini menyembuhkan penyakit kejahiliyyahan berupa peperangan.

12. Syahrul atiirah (شهر العتيرة) artinya bulan penyembelihan karena mereka menyembelih sesembelihan mereka yang dinamai dengan rajabiyyah yang dinisbatkan kepada bulan rajab.

13. Rajab mudhir (رجب مضر) artinya nama qobilah arab yang di masa jahiliyyah tidak mengutak-atik bulan-bulan haram tersebut. Mudhir sendiri berarti pekak atau cacat. Allah Swt. berfirman : “Hai bulan-Ku, apakah mereka mencintai dan memuliakanmu? Maka diamlah Rajab, hingga ditanya dua tiga kali, kemudian jawabnya : “Ya Tuhan, Engkaulah yang pandai merahasiakan segala cacad dan cela, dan Engkau pula yang menyuruh makhluk-Mu supaya merahasiakannya pada orang lain. Itulah sebabnya Rasul-Mu menyebutku “pekak”, aku semata hanya mendengar kebaktian mereka, ketaatan, dan kebaikan mereka, lain tidak”. Selanjutnya Allah berfirman : “Engkau bulan-Ku yang pandai menyimpan cacad dan pekak, hamba-hambaKu yang ber’aib, Aku terima mereka berikut aib/cacadnya berkat kehormatanmu seperti halnya aku terima kamu berikut aib/cacadmu. Aku mengampuni mereka sebab menyesali dosa mereka satu kali dalam bulan Rajab, dan dalam bulan itu pula, Aku tiada mencatat kemaksiatan mereka”

Kata Rajab terdiri dari 3 huruf, Ra’, Jim dan Ba’, masing-masing berarti : Rahmatullah, Jirmil abdi dan Birullah Ta’aalaa, yang seolah-olah dikatakan : “Hai hamba-Ku, Kujadilan dosa-dosa dan kebaikanmu diliput dengan rahmat-Ku, maka tiada tetap dosa-dosamu berkat kemulian bulan Rajab”.

C. Keutamaan Bulan Rajab

Telah dijelaskan dimuka bahwa Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Adapun keutamaan-keutamaan bulan ini sebagai berikut:

1. Bulan Penuh Berkah

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله إذا دخل رجب قال: “اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: ketika memasuki bulan Rajab Rosulullah berdoa “Ya Robb berkahilah kita di dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikankah kita ke bulan Ramadhan.

2. Bulan Dimuliakannya Kebaikan

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قيل : يارسول الله لم سمي رجب؟ قال لأنه يترجب فيه خير كثير لشعبان ورمضان

Dari Anas bin Malik R.A berkata: disebutkan bahwa salah satu sahabat bertanya ‘Ya Rasulallah kenapa dinamakan rajab?’, Rasulullah SAW menjawab: ia dinamakan rajab karena didalamya seluruh amal kebaikan dimuliakan untuk menyambut bulan Sya’ban dan Romandhon.

3. Kenikmatan Meninggal Dengan Husnul Khotimah Tanpa Gangguan Syaitan

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن أردتم الراحة وقت الموت من العطش والخروج مع الإيمان والنجاة من الشيطان فاحترموا هذه الشهور كلها بكثرة الصيام والندم على ما سلف من الأثام واذكروا خالق الأنام تدخلوا جنة ربكم بسلام.

Nabi bersabda: jika kamu sekalian ingin mendapatkan kenikmatan saat waktu kematian menjemput, membawa iman saat nyawa keluar dan terhindar dari godaan syaitan, maka sebaiknya muliakanlah bulan-bulan haram dengan banyak berpuasa, melakukan taubat dari dosa yang pernah dilakukan dan berdzikirlah kepada penyiptamu. Lalu masukkah surge dengan aman dan selamat.

4. Perumpaan Rajab seperti Al-Qur’an dari kalam-kalam Allah yang lain

عن النبي صلى الله عليه وسلم: فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الكلام.

Nabi Muhammad SAW bersabda: keutamaan bulan Rajab dari bulan-bulan yang lain seperti keutamaan Al-Qur’an dari kalam-kalam Allah yang lain.

5. Bulan Istighfar dan Bulannya Allah

وقال علي رضي الله عنه قال النبي عليه الصلاة والسلام: أكثروا من الإستغفار في شهر رجب فإن لله تعالى في كل سعة منه عتقا من النار وإن لله مدائن لا يدخلها إلا من صام رجب.

Ali RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda: perbanyaklah beristighfar di bulan Rajab karena Allah dibulan ini lapang untuk pembebasan dari neraka dan Allah memiliki beberapa kota di surga, tidak ada seseorang yang bisa masuk ke dalamnya malainkan orang yang mau puasa rajab.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم لآاله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يمسك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته.

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: siapa saja yang antara waktu dhuhur dan ashar di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan berdoa : أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْمْ لآاِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيّ القيّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا, maka Allah akan mengutus dua malaikan untuk membakar buku catatan amal buruknya.

قال العلماء: رجب شهر الاستغفار وشعبان شهر الصلاة على النبي المختار صلى الله عليه وسلم ورمضان شهر القرآن.

Ulama’ berkata: bulan Rajab itu bulan istighfar, sya’ban bulan sholawat kepada Nabi Muhammad dan Romadlan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an.

قال رسول الله صلى عليه وسلم رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي.

Rasulullah SAW bersabda: bulan Rajab itu bulannya Allah, bulan Sya’ban bulanku dan bulan Romadlon adalah bulan untuk ummatku

6. Ganjaran air rajab

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: رأيت ليلة المعراج نهرا ماءوه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك، فقلت لجبراءيل لمن هذا؟ قال لمن صلى عليك في رجب.

Artinya: Nabi Muhammad Bersabda: Aku melihat ketika malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya manis melebihi manisnya madu, dinginnya melebihi dinginnya salju, wanginya melebihi wanginya minyak misik. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril: untuk siapa sungai itu wahai Jibril. Malaikat Jibril menjawab: sungai itu diperuntukkan orang yang bersholawat kepadamu di bulan Rajab.

قال عليه الصلاة والسلام “إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر.

Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamai dengan sungai rajab yang sangat putih melebihi susu dan lebih manid daripada madu. Barang siapa puasa di hari itu sekali saja maka Allah akan memberi minuman orang tadi dari air sungai tadi.

7. Nilai puasa di bulan ini dibawah nilai puasa Ramadhan

عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يتم صوم شهر بعد شهر رمضان إلا رجب وشعبان

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasanya 1 bulan penuh setelah Ramadlan melainkan kacuali bulan Rajan dan Sya’ban.

8. Puasa 1 hari sebanding puasa 1 bulan

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام يوما من شهر حرام، كتب الله له بكل يوم شهرا، ومن صام أيام العشر، كان له بكل يوم حسنة.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: jika Rasulullah pernah berkata: barang siapa puasa sehari dibulan haram, Allah mencatatnya sama seperti puasa 1 bulan dan barang siapa puasa 10 hari maka tiap hari baginya suatu kebaikan.

9. Pahala Menghidupkan Malam Pertama, seperti menghidupkan hati yang mati, kembali ke fitrah, dapat menolong 70 ribu ahli dosa dan dapat nikmat surga.

روي عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من أحيا أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ويشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد استوجبوا النار”

Diriwayatkan dari Nabi orang yang menghidupkan malam pertama bulan Rajab, tidak akan mati hatinya tatkala banyak hati yang telah mati, Allah akan melimpahkan kebaikan kepadanya, dikeluarkan dosa-dosanya seperti layaknya dia dilahirkan oleh ibunya (kembali suci) dan dapat member syafaat (pertolongan kepada 70.000 ahli dosa.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من أحيا ليلة رجب، وصام يومها، أطعمه الله من ثمار الجنة، وكساه من خضر الجنة، وسقاه من الرحيق المختوم.

Nabi Muhammad SAW bersabda: barang siapa menghidupkan malam rajab dan paginya ia berpuasa, maka Allah kelak akan memberikan makan ia berupa buah-buahan dari surga, memakaikan pakaian dari pakaian surga dan memberi minuman nectar yang tiada bandinganya nikmatnya.

10. Bulan haram yang telah tercatat namanya di langit ke tujuh

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رجب من شهور الحرم، وأيامه مكتوبة على أبواب السماء السادسة، فإذا صام الرجل منه يوما وجرد صومه لتقوى الله، نطق الباب ونطق اليوم، قالا: يارب، اغفر له، وإذا لم يتم صومه بتقوى الله، لم يستغفر، قال أو قيل خدعتك نفسك.

Dari Abi Sa’id al-Khudry R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW telah berkata: bulan Rajab itu merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, dan hari-harinya telah tercatat di pintu-pintu langit ke tujuh. Maka tatkala seseorang berpuasa sehari murni karena takwanya kepada Allah, maka pintu dan hari itu akan berdoa kepada Allah: Ya Tuhanku, ampunilah dia. Dan tatkala ia tidak bisa menyempurnakan puasanya maka jangan ampuni.

11. Keutamaan berpuasa separuh awal bulan Rajab

عن النبي ص م أنه قال: ألا إن رجب شهر الله الأصم فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر. ومن صام يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة. ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الأخرة والجنون والجذام والبرص ومن فتنة الدجال. ومن صام سبعة أيام غلقة عنه سبعة أبواب جهنم. ومن صام ثمانية أيام فتحة له ثمانية أبواب الجنة. ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيءا إلا أعطاه إياه. ومن صام خمسة عشرة يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيءاته حسنات. ومن زاد زاد الله أجره.

Nabi SAW bersabda: Ingatkah sesungguhnya bukan Rajab adalah bulan Allah yang Mulia. Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Ikhkas 1 hari di bulan Rajab, maka dia berhak mendaoat Ridlo Allah yng Maha Besar. Barang siapa berpuasa 2 hari di bulan Rajab, tiada sifat yang diberikan oleh penduduk langit dan bumi, kecuali baginya diberi Karomah oleh Allah.

Barang siapa puasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia di jaga dari setiap balak dunia, suksa akhirat, penyakit gila, ayan, lepra, koreng, dan dari finah dajjal. Barang siapa berpuasa 7 hari di bulan Rajab, ditutuplah baginya 7 pintu Neraka Jahannam. Barang siapa berpuasa 8 hari di bulan Rajab, maka dibukalah baginyab 8 pintu Surga. Barang siapa berpuasa 10 hari di bulan Rajab, maka dia tidak usah minta sudah langsung diberi oleh Allah semua yang ia inginkan. Barang siapa berpuasa 15 hari di bulan Rajab, seluruh dosanya yang sudah kewat diampuni oleh Allah, dan kejelekannya diganti dengan kebaikan. Dan yang puasanya ditambah lebih dari 15 hari, maka Allah akan menambah juga ganjarannya.

12. Adanya Kaffarat

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوم يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، والثالث كفارة سنة، ثم كل يوم شهر.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa hari pertama di bulan Rajab merupakan kaffarat 3 tahun, puasa hari ke dua sama seperti kaffarat 2 tahun, dan puasa ke 3 hari merupakan kaffarat 1 tahun. Kemudian hari-hari berikutnya kaffaratnya adalah 1 bulan.

13. Rahasia malam ke 10 di bulan Rajab

عن قيس بن عباد، في قوله تعالى: (إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ) هذه الأربعة أشهر الحرم، كلها في يوم عاشر منها أمر: أما المحرم فاليوم العاشر من عاشوراء، وأما ذو الحجة فاليوم العاشر منه يوم النحر، وأما رجب فاليوم العاشر منه يمحو الله ما يشاء ويثبت، وعنده أم الكتاب، ونسيت ما في ذي القعدة.

Dari Qoisy bin Ibad, dalam firman Allah SWT ayat 36 surat al-Taubah: (Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu dia menciptakan langit dan bumi, diantara empat bulan haram) empat bulan yang disebutkan dalam ayat ini saat hari yang ke-10 punya perkara masing-masing. Hari ke 10 bulan Muharram merupakan hari asyuro. Hari ke-10 bulan dzul hijjah merupakan hari Qurban. Adapun hari ke-10 bulan Rajab, Allah menghapus apapun yang Ia hendaki dan Ia tetapkan.

14. Penamaan bulan karena kemuliaanya

عن ابن عباس – رضي الله عنهما- أن يهوديا أتاه، فقال: يا ابن عباس إني أريد أن أسألك عن أشياء، إن أنت أخبرتني بتأويلها فأنت ابن عباس، قال: وما هي؟ قال : عن رجب لم سمي رجب؟ وعن شعبان لم سمي شعبان؟

قال : أما رجب، فإنه يترجب فيه خير كثير لشعبان وسمي أصم لأن الملائكة تصم أذانها لشدة ارتفاع أصواتها بالتسبيح والتقديس.

Dari Ibnu Abbas R.A Sesungguhnya ssorang yahudi mendatanginyad dan berkata: wahai Ibnu Abbas sesungguhnya aku ingin bertanya padamu, beritahu aku tentang takwilan sesuatu. Lalu Ibnu Abbas bertanya: apa itu? Tentang bulan Rajab kenapa dinamakan demikian? Tanya kembali orang yahudi tersebut.

Lalu dijawab oleh Ibnu Abbas: Rajab di namakan Rajab untuk memuliakan kemuliaan di dalamnya dan dinamakan Ashom karena malaikat tuli kupingnya lantaran kerasnya tasbih dan pentasbihan di bulan tersebut.

15. Pahala puasa hari kamis, jumu’ah dan sabtu di bulan haram

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام ثلاثة أيام من كل شهر حرام –الخميس والجمعة والسبت- كتب له عبادة سبع مئة سنة”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: jika Rosulullah telah bersabda: siapa saja yang berpuasa 3 hari dibulan haram –kamis, jumuah dan sabtu- maka Allah akan mencatat baginya seperti beribadah 700 tahun.

16. Penamaan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

عن عروة، قال : قال عبد الله بن عمر –رضي الله عنهما- إنما سمي شهر رمضان لأنه يرض فيه الذنوب رضا، وإنما سمي شوال لأنه يشول الذنوب كما تشول الناقة ذنبها، وإنما سمي شعبان لأن الأرزاق تشعب فيه، وإنما سمي رجب، لأن الملائكة ترجب فيه بالتسبيح والتحميد والتمجيد للجبار عز وجل، وكان ابن عباس رضي الله عنهما يقول: يوم الفطر يوم الجوائز.

Dari Urwah berkata bahwa Abdullah bin Umar berkat: Sesungguhnya Romadhon dinamakan Romadhon karena di bulan ini penuh dengan tumbukan (peleburan) dosa. Dinamakan Syawal karena dosa-dosa pada bulan ini terangkat seperi terangkatnya sebuah bisul. Dinamakan Sya’ban karena rizqi dibulan ini tersebar. Dan dinamai Rajab karena malaikat pada bulan ini memuliakan (Sang Maha Perkasa) Allah dengan tasbih, tahmid, dan tajmid.

17. Salah satu dari 5 malam mustajab

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

18. Puasa 1 hari di tanggal 27 rajab : puasa 60 bulan

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- قال: من صام يوم سبعة وعشرين من رجب كتب الله له صيام ستين شهرا، وهو اليوم الذي هبط فيه جبريل –عليه السلام- على النبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة.

Dari Abu Hurairah R.A berkata: bahwa Nabi pernah bersabda: barang siapa yang puasa di hari ke 27 dari bulan Rajab Allah akan mencatat baginya seperti puasa 60 bulan, karena hari itu merupakan hari dimana malaikat Jibril turun dengan membawa sebuah risalah melakukan isra’-mi’raj.

19. Orang yang mencari keutamaan di dalamnya akan terkabul apapun dihajatkan

عن جابر بن عبد الله –رضي الله عنه- قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بلغه عن الله شيء فيه فضيلة، فأخذ به إيمانا بالله ورجاء ثوابه، أعطاه الله ذلك، وإن لم يكن كذلك”

Dari Jabir bin Abdillah R.A berkata: Nabi bersabda: barang siapa yang menyapaikan fadhilah tentang bulan Rajab dan ia iman kepada Allah serta mengharapkan pahala, maka Allah akan memberikanya apa yang ia hendaki, jika tidak Allah akan mengganti hal yang sama dengan apa yang ia hendaki.

D. Amalan-amalan di Bulan Rajab

Bertolak dari keutamaan-keutamaan bulan Rajab yang disebutkan di beberapa hadist di atas mengindikasikan betapa mulianya dan utamanya bulan ini. Bulan yang merupakan kunci dari munculnya beberapa keberkahan dan keutamaan. Dikatakan oleh Abu Bakar al-Warroq dengan qoul sebagai berikut:

شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع.

Artinya: bulan Rajab merupakan bulan untuk menanam, bulan Sya;ban bulan untuk pengairan dan bulan Ramadlan merupakan bulan untuk menuai hasil tanaman.

Senada dengan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar al-Warroq perumpaan ketiga bulan ini diumpamanakan dengan proses pembentukan hujan seperti qoul ulama’:

مثل شهر رجب مثل الريح ومثل شعبان مثل الغيم ومثل رمضان مثل القطر

Artinya: perumpaan bulan Rajab seperti angina; perumpaan bulan Sya’ban seperti mendung dan perumpaan Romadhon seperti hujan.

Oleh karena banyaknya kemuliaan di bulan ini, mari kita sebagai umat Muhammad, memaksimalkan sunah-sunah yang ada dengan semaksimal mungkin. Adapun Amaliyah yang penulis (Mohammad Bahauddin) anjurkan untuk diamalkan sebagai berikut:

1. Puasa

a. Puasa sekali di bulan rajab

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام يوما من شهر حرام، كتب الله له بكل يوم شهرا، ومن صام أيام العشر، كان له بكل يوم حسنة.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: jika Rasulullah pernah berkata: barang siapa puasa sehari dibulan haram, Allah mencatatnya sama seperti puasa 1 bulan dan barang siapa puasa 10 hari maka tiap hari baginya suatu kebaikan.

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رجب من شهور الحرم، وأيامه مكتوبة على أبواب السماء السادسة، فإذا صام الرجل منه يوما وجرد صومه لتقوى الله، نطق الباب ونطق اليوم، قالا: يارب، اغفر له، وإذا لم يتم صومه بتقوى الله، لم يستغفر، قال أو قيل خدعتك نفسك.

Dari Abi Sa’id al-Khudry R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW telah berkata: bulan Rajab itu merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, dan hari-harinya telah tercatat di pintu-pintu langit ke tujuh. Maka tatkala seseorang berpuasa sehari murni karena takwanya kepada Allah, maka pintu dan hari itu akan berdoa kepada Allah: Ya Tuhanku, ampunilah dia. Dan tatkala ia tidak bisa menyempurnakan puasanya maka jangan ampuni.

b. Puasa di hari-hari pertama bulan Rajab

عن ابن عباس –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوم يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، والثالث كفارة سنة، ثم كل يوم شهر.

Dari Ibnu Abbas R.A berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa hari pertama di bulan Rajab merupakan kaffarat 3 tahun, puasa hari ke dua sama seperti kaffarat 2 tahun, dan puasa ke 3 hari merupakan kaffarat 1 tahun. Kemudian hari-hari berikutnya kaffaratnya adalah 1 bulan.

c. Puasa 15 awal di bulan Rajab

عن النبي ص م أنه قال: ألا إن رجب شهر الله الأصم فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر. ومن صام يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة. ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الأخرة والجنون والجذام والبرص ومن فتنة الدجال. ومن صام سبعة أيام غلقة عنه سبعة أبواب جهنم. ومن صام ثمانية أيام فتحة له ثمانية أبواب الجنة. ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيءا إلا أعطاه إياه. ومن صام خمسة عشرة يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيءاته حسنات. ومن زاد زاد الله أجره.

Nabi SAW bersabda: Ingatkah sesungguhnya bukan Rajab adalah bulan Allah yang Mulia. Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Ikhkas 1 hari di bulan Rajab, maka dia berhak mendaoat Ridlo Allah yng Maha Besar. Barang siapa berpuasa 2 hari di bulan Rajab, tiada sifat yang diberikan oleh penduduk langit dan bumi, kecuali baginya diberi Karomah oleh Allah. Barang siapa puasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia di jaga dari setiap balak dunia, suksa akhirat, penyakit gila, ayan, lepra, koreng, dan dari finah dajjal. Barang siapa berpuasa 7 hari di bulan Rajab, ditutuplah baginya 7 pintu Neraka Jahannam. Barang siapa berpuasa 8 hari di bulan Rajab, maka dibukalah baginyab 8 pintu Surga. Barang siapa berpuasa 10 hari di bulan Rajab, maka dia tidak usah minta sudah langsung diberi oleh Allah semua yang ia inginkan. Barang siapa berpuasa 15 hari di bulan Rajab, seluruh dosanya yang sudah kewat diampuni oleh Allah, dan kejelekannya diganti dengan kebaikan. Dan yang puasanya ditambah lebih dari 15 hari, maka Allah akan menambah juga ganjarannya.

d. Puasa di hari 27 bulan Rajab

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- قال: من صام يوم سبعة وعشرين من رجب كتب الله له صيام ستين شهرا، وهو اليوم الذي هبط فيه جبريل –عليه السلام- على النبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة.

Dari Abu Hurairah R.A berkata: bahwa Nabi pernah bersabda: barang siapa yang puasa di hari ke 27 dari bulan Rajab Allah akan mencatat baginya seperti puasa 60 tahun, karena hari itu merupakan hari dimana malaikat Jibril turun dengan membawa sebuah risalah melakukan isra’-mi’raj.

e. Puasa Hari Kamis, Jumuah dan Sabtu di bulan Rajab

عن أنس بن مالك –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام ثلاثة أيام من كل شهر حرام –الخميس والجمعة والسبت- كتب له عبادة سبع مئة سنة”

Dari Anas bin Malik R.A berkata: jika Rosulullah telah bersabda: siapa saja yang berpuasa 3 hari dibulan haram –kamis, jumuah dan sabtu- maka Allah akan mencatat baginya seperti beribadah 700 tahun.

f. Puasa penuh (banyak berpuasa) di bulan Rajab

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن أردتم الراحة وقت الموت من العطش والخروج مع الإيمان والنجاة من الشيطان فاحترموا هذه الشهور كلها بكثرة الصيام والندم على ما سلف من الأثام واذكروا خالق الأنام تدخلوا جنة ربكم بسلام.

Nabi bersabda: jika kamu sekalian ingin mendapatkan kenikmatan saat waktu kematian menjemput, membawa iman saat nyawa keluar dan terhindar dari godaan syaitan, maka sebaiknya muliakanlah bulan-bulan haram dengan banyak berpuasa, melakukan taubat dari dosa yang pernah dilakukan dan berdzikirlah kepada penyiptamu. Lalu masukkah surga dengan aman dan selamat.

عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يتم صوم شهر بعد شهر رمضان إلا رجب وشعبان

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasanya 1 bulan penuh setelah Ramadlan melainkan kacuali bulan Rajan dan Sya’ban.

2. Beristighfar

وقال علي رضي الله عنه قال النبي عليه الصلاة والسلام: أكثروا من الإستغفار في شهر رجب فإن لله تعالى في كل سعة منه عتقا من النار وإن لله مدائن لا يدخلها إلا من صام رجب.
Ali RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda: perbanyaklah beristighfar di bulan Rajab karena Allah dibulan ini lapang untuk pembebasan dari neraka dan Allah memiliki beberapa kota di surga, tidak ada seseorang yang bisa masuk ke dalamnya malainkan orang yang mau puasa rajab.

قال العلماء: رجب شهر الاستغفار وشعبان شهر الصلاة على النبي المختار صلى الله عليه وسلم ورمضان شهر القرآن.

Ulama’ berkata: bulan Rajab itu bulan istighfar, sya’ban bulan sholawat kepada Nabi Muhammad dan Romadlan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم لآاله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يمسك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته.

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: siapa saja yang antara waktu dhuhur dan ashar di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan berdoa : أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْمْ لآاِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيّ القيّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا, maka Allah akan mengutus dua malaikan untuk membakar buku catatan amal buruknya.

Dan orang yang membaca “اللهم اغفر لي وارحمني وتوب علي” sebanyak 70 kali diwaktu subuh dan menjelang sore di Bulan Rajab, maka kelak orang itu tak akan dikenai api neraka. Berikut hujjahnya:

ان من استغفر الله في رجب بالغداة والعشي يرفع يديه ويقول اللهم اغفر لي وارحمني وتوب علي سبعين مرة لم تمس النار جلدا.

Selain dua istighfar di atas penulis juga menambahkan 2 istighfar. Pertama istighfar ijazah dari habib Hasan bin Abdillah al-Haddad, berikut teks istighfarnya:

بسم الله الرحمن الرحيم، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، أستغفر الله (ثلاثا)، وأتوب إلى الله مما يكره الله قولا وفعلا، وخاطرًا، وباطنا وظاهرا، أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحيَّ القيومَ وأتوب إليه، اللهم إني أستغفرك لما قدّمتُ وما أخرت، وما أسررت وما أعلنت، وما أنت أعلم به مني، أنت المقدِّم وأنت المؤَخّر، وأنت على كل شيء قديرٌ. أستغفر الله ذا الجلال والإكرام من جميع الذنوب والآثام. أستغفر الله لذنوبي كلها، سرِّها وجهرها، وصغيرها وكبيرها، وقديمها وجديدها، وأوَّلها وآخرها، وظاهرها وباطنها، وأتوب إليه. اللهم إني أستغفرك من ذنب تبتُ إليك منه ثم عدت فيه، وأستغفرك لما أردت به وجهك الكريم فخالطه ما ليس لك فيه رضًا، وأستغفرك لما وعدتُك به من نفسي ثم أخلفتك فيه، وأستغفرك لما دعاني إليه الهوي من قِبل الرُّخص مما اشتبه عليّ وهو عندك حرامٌ، وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت، يا عالِم الغيب والشهادة من كل سيئة عملتها، في بياض النهار وسواد الليل، في ملاءٍ وخلاءٍ، وسرّ وعلانية وأنت ناظرٌ إليّ إذا ارتكبتها، وأتيتُ بها من العصيان، فأتوب إليك يا حليمُ يا كريمُ يا رحيمُ. وأستغفرك من النعم التي أنعمتَ بها عليّ فتقوَّيتُ بها على معصيتك وأستغفرك من الذنوب التي لا يعرفها أحدٌ غيرك، ولا يطلع عليها أحدٌ سواك ولا سيعها إلا حلمك، ولا ينجيني منها إلا عفوك، وأستغفرك لكل يمين سلفتْ مني فحنِثْتُ فيها وأنا عندك مؤَاخَذٌ بها. وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت سبحانك إني كنتُ من الظالمين، فاستجبنا له ونجيناه من الغمّ وكذلك ننجي المؤمنين. وزكريا إذ نادى ربه ربِّ لا تذرني فردًا وأنت خير الوارثين. رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين. وأستغفرك من كل فريضة أوجبتها عليّ في آناء الليل وأطراف النهار فتركتها خطأ أو عمدًا أو نسيانًا أو تهاوُنًا أو جهلا وأنا معاقبٌ بها. وأستغفرك من كل سنة من سنن سيد المرسلين، وخاتم النبيين نبيك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم فتركتُها غفلةً أو سهوًا أو نسيانا أو تهاوُنا أو جهلا أو قلةَ مبالاةٍ بها. وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك، وأن محمدًا عبدك ورسولك، سبحانك يا رب العالمين، لك الملك ولك الحمد، وأنت حسبنا ونعم الوكيل، ونعم المولى ونعم النصير، ولا حول ولا قوة إلا بالله العليّ العظيم. يا جابر كل كسير، ويا مؤنس كل وحيدٍ، ويا صاحب كل غريب، ويا ميسّر كل عسير، يا من لا يحتاجُ إلى البيان والتفسير، وأنت على ما تشاء قديرٌ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد بعدد من صلى عليه، وبعدد من لم يصل عليه. اللهم صل على روح سيدنا محمد في الأرواح. اللهم صل على تربة سيدنا محمد في التراب. اللهم صل على قبر سيدنا محمد في القبور. اللهم صل على صورة سيدنا محمد في الصور اللهم صل على اسم سيدنا محمد في الأسماء، ﴿لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريصٌ عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم، فإن تولَّوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم﴾، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

*Fadhilah*

o Nabi SAW bersabda : Barang siapa yang membaca Istighfar Rajab, maka akan dibangunkan 80 negeri di surga, setiap negeri mempunyai 80 mahligai, setiap mahligai mempunyai 80 rumah, setiap rumah mempunyai 80 kamar, setiap kamar ada 80 bantal dan setiap bantal 80 bidadari..

o Nabi SAW, juga bersabda kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. : “wahai Ali, tulislah Raja Istighfar ini, karena siapa yang membacanya, atau menyimpan tulisannya didalam rumah, atau pada harta bendanya, atau tulisan itu dibawa kemana saja ia pergi, maka Allah SWT memberi kepadanya pahala 80000 nabi, 80000 shiddiqin, 80000 Malaikat, 80000 orang mati syahid, 80000 orang beribadah Haji Dan pahala membangun 80000 masjid.

Kedua, istighfar ijazah dari Almaghfurlah KH. Muhammad Anwar Basya Bin Abu Bakar Asnawi yang disebut dengan ‘Sayyidul Istighfar’, berikut teks istighfarnya:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Dan barang siapa yang membaca sayyidul istighfar di waktu sore 3 kali lalu ia wafat dimalam itu, maka ia masuk surga. Dan bila di baca 3 kali di pagi hari lalu ia wafat di hari itu maka ia masuk surga

3. Menghidupkan Malam Pertama di Bulan Rajab

Diriwayatkan dari Nabi orang yang menghidupkan malam pertama bulan Rajab, tidak akan mati hatinya tatkala banyak hati yang telah mati, Allah akan melimpahkan kebaikan kepadanya, dikelruarkan dosa-dosanya seperti layaknya dia dilahirkan oleh ibunya (kembali suci) dan dapat member syafaat (pertolongan kepada 70.000 ahli dosa, seperti yang dijelaskan di dalam kitab Mahalisul Anwar:

روي عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من أحيا أول ليلة من رجب لم يمت قلبه إذا ماتت القلوب وصب الله الخير من فوق رأسه صبا وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ويشفع لسبعين ألفا من أهل الخطايا قد استوجبوا النار” (محالس الأنوار)

Lalu yang dilakukan untuk menghidupkan malam pertama dibulan Rajab, sebagai berikut:

a. Perbanyak Istighfar seperti yang sudah dijelaskan dimuka.

b. Sholat sunnah 20 rekaat dengan bacaan tiap2 rekaat berupa surat fatehah lalu disusul surat ikhlas dan salam sebanyak 10 kali, maka siapa orang yang menjalankan Allah akan menjaganya dari bala’ dunia dan siksa akhirat. Berikut dalilnya:

عن أنس بن مالك عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال “من صلى بعد المغرب في ليلة من رجب عشرين ركعة بقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب والإخلاص وسلم عشر تسليمات حفظه الله تعالى وأهل بيته وعيانه من بلاء الدنيا وعذاب الآخرة”.

c. Membaca doa

Telah disebutkan dimukan bahwa siapa yang berdoa di 5 malam (Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha) maka Allah tidak akan menolak doanya.

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

Dan Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani menuturkan dalam kitabnya yang berjudul الغنية bahwa salah satu doa yang dibaca di malam pertama dibulan Rojab:

إلهي تعرض لك في هذه الليلة المتعرضون. وقصدك القاصدون. وأمل فضلك ومعروفك الطالبون. ولك في في هذه الليلة تفحات وجوائز وعطايا ومواهب تمن بها على من تشاء من عبادك. وتمنعها ممن لم تسبق له العناية منك وها أنا منك الفقير إليك. المؤمل فضلك ومعروفك فإن كنت يامولاي تفضلت في هذه الليلة علي أحد من خلقك وجد عليه بعائدة من عطفك. وصل على سيدنا محمد وآله وصحبه وجد على بطولك معروفك يارب العالمين.

Adapun Sayyidina Ali R.A menghabiskannya untuk beribadah dengan membaca doa sebagai berikut:

اللهم صل على محمد وآله مصابيح الحكمة وموالي النعمة ومعادن العصمة وأعصمنى بهم من كل سوء ولا تأخذني على غرة ولا على غفلة ولا تحعل عواقب أمري حسرة وندامة وارض عني فإن مغفرتك للظالمين وأنا من الظالمين. اللهم اغفر لي ما لا يضرك وأعطني ما لا ينفعك فإنك الواسعة رحمته البديعة حكمته فأعطني السعة والدعة والامن والصحة والشكر والمعافاة والتقوى وافرغ الصبر والصدق علي وعلى أوليائك واعطني اليسر ولا تجعل معه العسر واعمم بذلك اهلي وولدي وإخواني فيك ومن ولدني من المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات.

4. Banyak Bersholawat

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: رأيت ليلة المعراج نهرا ماءوه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك، فقلت لجبراءيل لمن هذا؟ قال لمن صلى عليك في رجب.

Artinya: Nabi Muhammad Bersabda: Aku melihat ketika malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya manis melebihi manisnya madu, dinginnya melebihi dinginnya salju, wanginya melebihi wanginya minyak misik. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril: untuk siapa sungai itu wahai Jibril. Malaikat Jibril menjawab: sungai itu diperuntukkan orang yang bersholawat kepadamu di bulan Rajab.

5. Dzikir Kepada Allah

· Tanggal 1-10: سُبْحَانَ الْحَيِّ القَيُّوْمْ Sebanyak 100 kali sehari semalam.

· Tanggal 11-20: سُبْحَانَ اللّٰهِ الْأَحَدِ الصَّمَدْ Sebanyak 100 kali sehari semalam.

· Tanggal 21-30: سُبْحَانَ اللّٰهِ الرَّؤُوفْ Sebanyak 100 kali sehari semalam

Fadhilah : Barang siapa yang mau mengamalkanya maka akan diberi pahala yang tidak bisa disifati karena sangat banyaknya.

6. Perbanyak Doa

قال صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.

Adapun doa yang dianjurkan untuk dibaca terus menerus dari awal rajab sampai akhir romadlon sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ

Barang siapa yang mau membaca Doa tersebut, maka akan diberi Barokah Rizkinya, Umurnya, Anak keturunannya dan Diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya serta mendapat Rahmat keridhoan Allah SWT

7. Banyak Taubat

Dikatakan sebelumnya bahwasanya Rajab merupakan bulan istighfar, dari indikasi tersebut dapat dikatakan bulan rajab merupakan bulan yang tepat untuk melakukan taubat. Selain itu bulan Rajab merupakan bulan Allah yang dimana bulan khusus mencari rahmat Allah. Seperti tertulis dalam hadist sebagai berikut:

قال رسول الله صلى عليه وسلم رجب شهر الله وشعبان شهر أمتي ورمضان شهر أمتي.

dikatakan bahwa رجب memiliki tiga huruf: huruf ra’ (الراء) menunjukkan atas Rahmatnya Allah , huruf jim mengindikasikan جرم العبد dan huruf ba’ (الباء) menunjukkan kebaikan Allah (بر الله). Seolah-olah Allah mengatakan : “Wahai hambaku, aku jadikan kehajatanmu (جرمك) diantara rahmat dan kebaikanku agar kejaahatanmu tidak tetap dan berlanjut dengan menghormati bulan Rajab.

8. Amaliyyah Akhir Jumuah dari bulan Rajab

أن من قرأ آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر “أحمد رسول الله ، محمد رسول الله” خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدراهم من يده تلك السنة.

Artinya : Siapa orang yang membaca ini di akhir jumu’ah sedang khotib di atas mimbar

“أحمد رسول الله . محمد رسول الله” (35 x)

Maka orang itu kelak tidak akan diputus rizqinya selama setahun.

E Referensi:

(1) ابـن حجـر العسـقلاني، تبيين العجـب بـما ورد في رجـب.

(2) ابـن رجب الحنبلي، لطائف المعارف فـيما لمواسـم العـام مـن الوظـائف.

(3) أبو سعيد محمد بن علي الأصبهاني ، فضل الصيام.

(4) أبو محمد الحسن بن محمد بن الحسن الخلال، فضائل شهر رجب، (بيروت: دار إبن حزم، 1996).

(5) أحمد بن حجازي بن بدير الفشني، تحفة الإخوان في قراءة الميعاد في رجب وشعبان ورمضان، (مصر: مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، 1953).

(6) أحمد بن حجر العسقلاني، تبيين العجب بما ورد في شهر رجب

(7) الإمام الحافظ عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي، الجامع الكبير، (مصر: طبعة الهيئة المصرية العامة للكتاب عن مخطوطة نفيسة، 1987).

(8) الإمام العلامة عبد القادر الجيلاني، الغنية لطالبي طريق الحق، (سورية: دار الجيل، 1999).

(9) الإمام محمـد بـن إسـماعيل البخـاري رحمه االله، صحيح البخاري.

(10) الإمام مسـلم بـن الحجـاج النيسـابوري، صحيح مسلم.

(11) د.عبد االله بن عبد العزيز التويجري، البدع الحولية.

(12) سليمان بن جاسر بن عبد الكريم الجاسر، شهر رجب، (الرياض: حقوق الطبع محفوظة للمؤلف، 1433).

(13) شيرويه بن شهردار الديلمي، الفردوس بمأثور الخطاب، (لبنان: تحقيق السعيد بن بسيوني زغلول، 1986)

(14) عبد الحميد بن محمد علي بن عبد القادر قدس المكي الشافعي، كنز النجاح والسرور في الأدعية المأثورة التي تشرح الصدور، الطبعة الأولى، (دار السنابل-دار الحاوي، 2009).

(15) عبد العزيز بن أحمد الكتاني، فضائل شهر رجب.

(16) عثمان بن حسن بن أحمد الشاكر الخويري، درة الناصحين في الوعظ والإرشاد، (سورابايا: توكو كتاب الهداية).

(17) العلامة المؤرخ محمد أمين بن فضل بن محب الله المحبي، خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر، (لبنان: طبعة مصورة عن نشرة المطبعة الوهبية لدى دار صادر، 1284).

(18) محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح القرطبي أبو عبد الله، الجامع لأحكام القرآن.

(19) ملا على القاري الهروي، الأدب في رجب.

 

Oleh:

Mohammad Bahauddin

Alumni Qudsiyyah Kudus sekaligus Dosen STAIN Kudus 

Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah Dibuka Hingga 7 Juni 2018

QUDSIYYAH, KUDUS  –  Pendaftaran santri baru Qudsiyyah Kudus baik putra dan putri tahun 2018/2019 telah dibuka.  Secara resmi pendaftaran dan sekaligus tes seleksi bakal dilaksanakan pada 2 – 7 Juni 2018. Pada saat tanggal 2-7 Juni tersebut, pendaftaran santri baru dapat dilaksanakan dengan one day services, pendaftaran tes seleksi serta hasil seleksi dilakukan dalam satu hari . Sementara,  sebelum tanggal 2-7 Juni itu, pendaftaran bisa dilayani di kantor MTs Qudsiyyah, tetapi untuk tes seleksi serta hasil seleksi dapat dilakukan pada tanggal 2 – 7 Juni 2018.

 

Pada tahun 2018/2019 ini Qudsiyyah membuka 4 pendidikan formal dan 2 pendidikan non-formal. Keempat pendidikan formal tersebut masing-masing MI Qudsiyyah (khusus putra), MTs Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putri) dan MA Qudsiyyah (khusus putra). Sedangkan dua pendidikan non formal adalah Ponpes Qudsiyyah Putra dan Ponpes Qudsiyyah putri yang masing-masing membuka jurusan Tahfid Qur’an dan jurusabn Fiqih (kitab).

 

Baca: Dua Jurusan Ponpes Qudsiyyah Putri Mulai Menerima Santri Baru

 

Adapun Persyaratan administrasi pendaftaran santri MI Qudsiyyah, M Ts Qudsiyyah (Putra) dan MA Qudsiyyah meliputi:

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah)
  • Menyerahkan uang infaq pengembangan madrasah sebesar Rp 1.800.000,- (Satu juta delapan ratus ribu rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga (KK) sebanyak 1 lembar
  • Foto copy KIP/PKH/KPS (bagi yang memiliki)
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna merah.

 

Adapun tes seleksi akan dilaksanakan pada saat pendaftaran tanggal 2-7 Juni 2018. Sedangkan materi tes yang diujikan meliputi Baca Al Qur’an, Nahwu Shorof dan membaca kitab kuning Taqrib (khusus tes masuk MA).

 

Sementara persyaratan pendaftaran santri Pondok Pesantren Qudsiyyah Putra adalah:

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran/Surat kenal lahir sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga /KK sebanyak 1 lembar
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna hijau.

 

Adapun tempat pendaftaran di Qudsiyyah disentralkan dalam satu tempat. Artinya, pendaftaran MI Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putra), MTs Qudsiyyah (putri), MA Qudsiyyah (Putra), Pondok Pesantren Qudsiyyah putra dan Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri dalam satu tempat yang sama, yakni di Kantor MTs Qudsiyyah (Putra), Jl KHR Asnawi gang Kerjasan Kota Kudus (0291) 435938. Panitia pendaftaran yang yang bisa dihubungi antara lain H. Nurul Adlha (081325701326), Nailal Muna (08157735137).  Untuk brosur Pendaftran santri Baru Putra Qudsiyyah dapat diunduh di sini. (*)

 

 

Dua Jurusan Ponpes Qudsiyyah Putri Mulai Menerima Pendaftaran Santri Baru

QUDSIYYAH, KUDUS  –  Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri  Kudus tahun 2018/2019 telah dibuka dengan membuka dua jurusan, Tahfidz Al Qur’an dan Fiqih (kitab). Secara resmi pendaftaran dan tes seleksi bakal dilaksanakan pada 2 – 7 Juni 2018, tetapi sebelum tanggal itu, pendaftaran bisa dilayani di kantor MTs Qudsiyyah.

 

Pesantren Qudsiyyah putri  merupakan lembaga pendidikan yang memadukan antara metode tradisional pesantren dan metode akademik dengan mengintegralkan aspek-aspek proses pendidikan formal sekolah mulai tingkat MTs.  Berada di Jl. Lambau No 1 Singocandi, kecamatan Kota kabupaten Kudus, pondok pesantren Qudsiyyah putri bersinergi dengan MTs Qudsiyyah Putri.

 

Baca: Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah dibuka Hingga 7 Juni 2018

 

Untuk pendaftaran di pondok pesantren, calon santri putri diwajibkan juga mendaftar di MTs Qudsiyyah putri terlebih dahulu.  Adapun Persyaratan pendaftaran santri MTs Qudsiyyah Putri meliputi:

 

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah)
  • Menyerahkan uang infaq pengembangan madrasah sebesar Rp 1.800.000,- (Satu juta delapan ratus ribu rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga (KK) sebanyak 1 lembar
  • Foto copy KIP/PKH/KPS (bagi yang memiliki)
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna hijau.

 

Sedangkan persyaratan pendaftaran santri Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri adalah:

 

  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah)
  • Foto Copy Akte kelahiran/Surat kenal lahir sebanyak 1 lembar
  • Foto copy kartu keluarga /KK sebanyak 1 lembar
  • Fotocopy ijazah terakhir dan SHUN (menyusul)
  • Semua persyaratan dimasukkan dalam stop map warna hijau.

 

Informasi lengkap mengenai Ponpes Qudsiyyah Putri,  silakan menghubungi M. Isbah Kholili (085640605640) atau M. Khotibul Umam (085726212216). Untuk brosur pendaftaran Qudsiyyah Putri dapat didownload di sini.

 

Adapun tempat pendaftaran di Qudsiyyah disentralkan dalam satu tempat. Artinya, pendaftaran MI Qudsiyyah (putra), MTs Qudsiyyah (Putra), MTs Qudsiyyah (putri), MA Qudsiyyah (Putra), Pondok Pesantren Qudsiyyah putra dan Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri dalam satu tempat yang sama, yakni di Kantor MTs Qudsiyyah (Putra), Jl KHR Asnawi gang Kerjasan Kota Kudus (0291) 435938. Panitia pendaftaran yang yang bisa dihubungi antara lain H. Nurul Adlha (081325701326), Nailal Muna (08157735137). (*)