HAUL KE 60 KHR ASNAWI BAKAL MENGUNDANG RAIS AAM SYURIAH PBNU

QUDSIYYAH, KUDUS – Bulan Jumadal Akhirah merupakan bulan peringatan Haul Pendiri NU, KHR Asnawi. Salah satu acara yang bakal digelar adalah pengajian umum dengan mengundang Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin.  Pengajian yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Radlatuth Tholibin, pada Selasa malam (13/3/2018) ini juga mengundang Habib Umar Al Muthohhar dari Semarang.

 

Sebelum pengajian umum dilaksanakan, pada sore harinya dilaksanakan Tahlil umum di komplek makam Sunan Kudus, tempat dimana tokoh Nasionalis dari Kudus ini dimakamkan. Tahlil umum diselenggarakan pada Selasa sore, 25 Jumadal Akhirah 1439 H (13/3/2018) sekitar pukul 15.30 WIB.

 

Kyai Haji Raden Asnawi merupakan ulama kharismatik dari Kudus yang begitu besar jasanya. Salah satu peninggalan beliau dalam bidang pendidikan adalah pondok pesantren Raudlatul Tholibin (berdiri tahun 1927) dan Madrasah Qudsiyyah (berdiri tahun 1919). Hingga kini, dua lembaga pendidikan tersebut terus eksis mengembangkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.

 

Lahir di Damaran Kudus pada tahun 1861, KHR Asnawi kecil diberi nama Raden Ahmad Syamsyi, putra pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah. Raden Asnawi merupakan keturunan ke-14 dari Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq) dan keturunan ke-5 dari Kyai Haji Mutamakin, seorang wali di desa Kajen Margoyoso Pati, yang hidup pada zaman Sultan Agung Mataram. Beliau meninggal pada usia 98 tahun, tepatnya pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadal Akhirah 1379 H/ 26 Desember 1959 M. (Kharis)

 

GUSJIGANG: PRINSIP BISNIS RASULULLAH

Keberhasilan suatu bisnis bagi  seorang muslim tidak diukur dari besarnya laba atau keuntungan yang diperoleh, misalnya mempunyai rumah megah, deposito disetiap bank, mobil yang mewah, istri yang banyak, dibangunnya gedung bisnis bertingkat nan megah. Keberhasilan bisnis seorang muslim tidak diukut dengan itu, namun diukur dengan niali bagaimana bisnisnya itu bermanfaat untuk kepentingan umat dan mendapat ridlo oleh Allah dengan perilaku penuh kejujuran. Untuk melakukan bisnis memang sulit, namun bila kita menggunakan ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Agama, insya Allah perjalanan bisnis akan mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Fenomena yang ada dalam dunia perdagangan atau bisnis di Negara kita Indonesia  ini, banyak sekali pelanggaran atau penyimpangan dalam berbisnis. Banyak dari mereka yang masih berusaha melanggar perjanjian, manipulasi dalam segala tindakan. Mereka kurang memahami etika bisnis, atau mungkin saja mereka faham tapi memang tidak mau melaksanakan.

Selain ditanamkan akhlak atau etika, sebuah bisnis dapat berkembang dan sukses   harus dimulai usaha dengan membuat rencana bisnis yang memiliki fleksibilitas dan inovasi. Dengan kata lain orang yang melakukan usaha bisnis harus banyak belajar agar memiliki kreatifitas dalam memasarkan (mempromosikan) usahanya.

Pada hakekatnya Islam sebagai suatu agama besar telah mengajarkan konsep-konsep unggul lebih dulu dari Protestan, akan tetapi para pengikutnya kurang memperhatikan dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam sebagaimana mestinya. Nabi Muhammad SAW telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen, dan etos kerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika kerja dan manajemen bisnis tersebut telah mendapat legitimasi keagamaan setelah Beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau awal 21. Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, tranparan, persaingan yang sehat dan kompetitif, semua telah menjadi gambaran pribadi Nabi Muhammad ketika masih muda. (Prof. K.H Ali Yafie, dkk, 2003: 11-12)

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh dua hal pokok, yaitu kepridadian yang amanah dan terpercaya, serta pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Kedua hal tadi merupakan pesan moral yang bersifat universal yang uraianya antara lain sebagai berikut:

1. Shiddiq,yaitu benar dan jujur, tidak pernah berduata dalam melakukan berbagai macam transaksi bisnis. Hal tersebut juga dijelaskan dalam firman Allah

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)

Artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”(QS. Al-Muthaffifin:1-3)

2. Kreatif, Berani, dan Percaya diri. Ketiga hal ini mencerminkan kemauan berusaha untuk mencari dan menemukan peluang-peluang bisnis yang baru, prospektif, dan berwawasan masa depan, namun tidak mengabaikan prinsip kekinian.

3. Tabligh, yaitu mampu berkomunikasi dengan baik. Yaitu: supel, cerdar, cepat tanggap, koordinasi dan supervisi.

4. Istiqamah, yaitu secara konsisten menampilkan dan mengimplementasikan nilai-nilai di atas walaupun mendapatkan godaan dan tantangan. Hanya dengan istiqamah dan mujahadah, peluang-peluang bisnis yang prospektif dan menguntungkan akan selalu terbuka lebar. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”(QS. Al-Ahqaaf: 13)

Dari beberapa dasar tersebut di atas menunjukkan bahwa menghadirkan dan mengimplementasikan strategi bisnis Rasulullah SAW pada saat sekarang akan tetap relevan dan actual, karena prisip-prinsip yang telah dibangun Rasulullah SAW merupakan prinsisp yang universal dan tidak terbatas oleh ruan dan waktu. Hanya saja diperlukan kesungguhan, kedisiplinan dan keyakinan untuk terus mengaplikasikanya. (Dr. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc, 2003: 57)

Orang-orang yang sukses pada umumnya memiliki dan menampilkan sifat-sifat pribadi atau ciri-ciri watak, sebagaimana pendapat “The Liang Gie”, diantaranya (The Liang Gie, 1996: 20-21):

1. Kreatifitas: adalah pikiran lincah yang senantiasa bergerak menghasilkan ide-ide baru.

2. Integritas: adalah akhlak yang luhur dan hati yang bersih sehingga mempunyai berbagai kebajikan hidup (misalnya kejujuran, kesetiaan, semangat pengabdian, rasa tanggungjawab).

3. Kapabilitas: adalah keterampilan kerja, kemahiran memutuskan dan pengetahuan efisiensi yang diperoleh dari pendidikan formal, pengalaman hidup maupun terutama pengembangan diri.

Konsep perdagangan (bisnis) yang diajarkan oleh nabi Muhammad ialah apa yang disebut value drive, artinya menjaga, mempertahankan, menarik nilai-nilai dari pelanggan. Value drive juga erat hubunganya dengan apa yang disebut relationsip marketing, yaitu berusaha menjalin hubungan erat antara pedagang, produsen dengan para pelanggan. (Prof. Dr. H. Buchari Alma, 2003:21)

Sifat Rasulullah dalam berbisnis, seperti yang diungkapkan oleh Syafi’I Antono (Harian Republika, Juni, 2002) yang ditulis oleh Buchari Alma, sebagai berikut:

1. Siddiq,benar, nilai dasarnya ialah integirtas, nilai-nilai dalam bisnisnya berupa jujur, ikhlas, terjamin, dan keseimbangan emosional.

2. Amanah, nilai dasarnya terpercaya, dan  nilai-nilai dalam berbisnisnya ialah adanya kepercayaan, bertanggung jawab, transparan, dan tepat waktu

3. Fathonah, nilai dasarnya ialah memiliki pengetahuan yang luas, nilai-nilai dalam berbisnis ialah memiliki visi, pemimpin yang cerdas, sadar produk, dan jasa, serta belajar berkelanjutan.

4. Tabligh, nilai dasarnya ialah komunikatif, dan nilai bisnisnya ialah supel, penjual yang cerdas, deskripsi tugas, delegasi wewenang, kerja tim, koordinasi, ada kendali dan supervisi.

5. Syaja’ah, artinya berani, nilai bisnisnya adalam mau dan mampu menambil keputusan, menganalisa data, keputusan yang tepat dan cepat tanggap.

Sifat-sifat dasar ini merupakan pesan universal dari akhlak atau etika dan keterampilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis sehingga dapat membawa sukses dalam berbisnis.

Orang beretika atau berakhlak adalah orang yang memiliki perilaku yang bagus karena seseorang yang buruk lakunya, tentu akan berakibat panjang, paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain terhadap dirinya, dan pada gilirannya akan merugikan usaha dagangnya. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan atau keterampilah adalah orang senantiasa belajar dan mengaji dari lingkungan sekitar untuk mendapatkan ide-ide kratif yang nantinya digunakan untuk mengembangkan usahanya. Konsep-konsep dalam berdagang atau berbisnis di atas secara tutur tinular dikenal dengan istilah GUSJIGANG (Bagus, Mengaji/Mengkaji, Dagang).

Kata ‘gusjigang’ mengandung arti ‘ bagus – mengaji – berdagang’ adalah filosofi dari Sunan Kudus. Filosofi ‘gusjigang’ merupakan personifikasi Sunan Kudus agar masyarakat Kudus mempunyai budipekerti yang baik (masalah moralitas, ahklak), pandai mengaji yang berarti menuntut ilmu, rajin beribadah, dan pandai berdagang. Ada yang mengartikan mengaji adalah rajin beribadah, dan ‘ji’ ada  yang  mengartikan  kaji. Dalam telaah makna ‘gusjigang’ dalam kehidupan orang Kudus, dengan memperhatikan pandangan ‘dari dalam’, yaitu dari sudut pandang tineliti (orang Kudus-pedagang)  yaitu world view  orang  Kudus  atas  etos  dalam  ‘gusjigang’.  Dalam kerangka ini pemaknaan ‘gus- ji – gang’ pada pedagang Kudus mengandung tiga unsur nilai yang berbeda. Pengungkapan makna ‘gus’ (bagus ahklaknya) akan berbeda analisisnya dengan pengungkapan makna ‘ji’ (belajar, menuntut ilmu), dengan pemaknaan ‘gang’ (pandai berdagang). Namun ketiga unsur ini adalah satu kesatuan. Artinya,   seseorang (pedagang) yang menjalankan ‘ji’ dan ‘gang’ sebagai pedagang yang menjalankan praktik berdagang dengan baik, maka dalam konteks ini seseorang pedagang tersebut dapat disebut memiliki ‘gus’.

Nilai-nilai seperti ini, setelah melalui proses waktu yang cukup, melembaga dan yang pada akhirnya terlembagakan dalam tata nilai masyarakat Kudus, bersifat evaluatif, dan sekaligus merupakan bagian dari tradisi atau budaya masyarakat secara  keseluruhan. Hal ini karena secara psikis seseorang cenderung memasukkan segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya seperti simbol-simbol yang mencerminkan dunia di sekitarnya, norma, budaya, kehidupan sosial, serta perilaku orang yang akrab dengannya ke dalam sistem gejala kejiwaannya. Proses internalisasi pengalaman ini kemudian mempengaruhinya dengan cara tertentu ketika memahami, merasa, berpikir dan berbuat. ( Vinacke, 1992: 285)

 Tradisi lokal masyarakat Kudus yang merujuk kembali kepada figur  Sunan Kudus merupakan modal dasar dalam berusaha sehingga bisa dikatakan pengusaha-pengusaha Kudus berhasil dalam usahanya. Sebagai ilustrasi, industri milik pribumi di Indonesia sampai tahun 1930-an belum banyak berarti. Berbeda dengan ini, Kudus tahun 1910-an telah terkenal sebagai pusat industri  rokok kretek, dan pengusaha pribumi pada  waktu itu sangat dominant. (The Kian Wee, 1994: 16) Dan sampai sekarang Gusjigang mampu dipertahankan  dengan baik, sehingga bisnis industrialiasasi di Kabupaten Kudus bisa dijadikan model yang relevan sesuai dengan potensi dan karakter masyarakatnya.

Dengan demikian, sifat-sifat atau prinsip-prinsip dasar perilaku Nabi Muhammad SAW yang tercermin atau merupakan refleksi dari konsep gusjigang dalam berbisnis dapat membawa sukses dalam berbisnis. Karena hal ini merupakan suri tauladan yang baik diikuti agar bisnis yang digeluti dapat berkembang dengan baik dan akan membawa hasil yang sangat maksimal, khususnya bagi umat Islam dan umumnya bagi semua umat manusia.

Daftar Pustaka :
– Alma, Buchari, 2003, Dasar-dasar Etika Bisnis Islami, Bandung: Alfabeta.
– Gie, The Liang, 1996, Strategi Hidup Sukses, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Liberty.
– Hafidhuddin, Didin, M.Sc. dan Hendri Tanjung, 2003, Manajemen Syariah dalam Praktik, Jakarta: Gema Insani Press.
– Pareno, Sam Abede, 2002, Etika Bisnis: Wirausaha Muslim Suatu Arah Pandang,Surabaya: Papyrus.
– Soenarjo, 1991, Al-Qur’an dan Terjemahanya,Bandung: Gema Risalah Press.
– Vinacke, 1992, The Psycholgy of Thinking, Toronto: Mc Graw Hill Book Company Inc.
– Wee, The Kian, 1994, Industrialisasi di Indonesia; Beberapa Kajian, Jakarta: LP3ES.
– Yafie, Ali, dkk, 2003, Fiqih Perdagangan Bebas, Bandung: Teraju kelompok Mizan.

Oleh:
H. Ihsan
Ketua Umum Ikatan Alumni Qudsiyyah

Tiga Piala diraih MI Qudsiyyah dalam Bangau Ruyung Cup VIII

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebanyak tiga piala diraih oleh altet-atlet pencak silat dari MI Qudsiyyah dalam kejuaraan Bangau Ruyung Cup VIII antarpelajar tingkat SD/MI, SMP-SMA sederajat tingkat kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak tahun 2018. Kejuaraan ini rutin digelar setiap tahun secara berkala dan pada tahun ini dilaksanakan di GOR Kudus, pada Sabtu – Ahad, 6-7 Januari 2018.

Ketiga santri yang meraih juara tersebut adalah Sailul Wafi, Tiar, dan Abdul Latif. Ketiganya merupakan siswa kelas VI MI Qudsiyyah Kudus yang mengikuti ekstra kulikuler pencak silat dan ikut lomba dalam event Bangau Ruyung Cup tersebut.

Sailul Wafi sukses meraih juara I putra dalam kategori tanding kelas bebas tingkat SD/MI. Tiar meraih juara tiga dalam kategori tanding kelas B, dan Abdul Latif meraih juara tiga kategori tanding kelas D.

Kesuksesan tersebut merupakan salah satu prestasi yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Padepokan Bangau Ruyung adalah salah satu kelompok pencak silat besar di kabupaten Kudus. Dalam hal ini, selama kurang lebih lima tahun terakhir, ektra kulikuler pencak silat yang diadakan di Madrasah Qudsiyyah adalah hasil kerjasama dengan pedepokan Bangau Ruyung. Ekstra Kulikuler Pencak silat di Qudsiyyah sendiri digelar setiap dua kali dalam sepekan yang dilaksanakan di lapangan Qudsiyyah dan diikuti oleh santri MI, MTs dan santri Aliyah. (Kharis)

Maulid Nabi Pertama di Qudsiyyah Putri

QUDSIYYAH, SINGOCANDI – Qudsiyyah Putri yang baru berumur sekitar 6 bulan terus berupaya melahirkan generasi yang handal. Selain melalui kegiatan pembelajaran formal melalui kelas MTs dan nonformal melalui pondok pesantren, kegiatan ekstra kulikuler dan kegiatan peringatan hari besar juga rutin dilaksanakan.

Pada bulan kelahiran Nabi ini, Qudsiyyah putri melaksanakan peringatan Maulid pada, Sabtu pagi 27 Rabiul Awwal 1439/ 16 Desember 2017. Ini merupakan peringatan Maulid Nabi pertama yang diadakan oleh MTs Qudsiyyah Putri. Dalam kesempatan ini, grup Rebana Putri dari santri juga tampil dengan melantunkan beberapa lagu, diantaranya adalah lagu andalan peringatan maulid nabi yaitu “Keluarga Nabi” dengan lirik ‘kanjeng nabi Muhammad din lahirno ono ing Makkah” karya beliau Almaghfurlah KH Ma’ruf Irsyad.

Dalam peringatan kali ini MC menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan susunan acara pembukaan,pembacaan ayat suci Al Quran dan sholawat asnawiyyah,pembacaan maulid Al Barzanji, sambutan dewan guru, Mauidloh hasanah serta doa penutup.

Dalam sambutan dewan guru, ibu Lailatus Sa’diyyah, S.Pd memberikan wejangan kepada santri putri agar senantiasa rajin belajar dan meniru akhlaq mulia Rasulullah SAW. Adapun mauidloh hasanah pertama diisi oleh kyai muda Qudsiyyah ust. Miftakhur Rohman,M.Pd pengarang lagu ‘ya saikhona’ yang sangat populer tersebut. Dalam mauidlohnya beliau banyak berpesan agar selalu meneladani Rosulullah saw dalam berbagai hal. Rosulullah merupakan uswatun hasanah yang harus diidolakan oleh umat islam. Sedangkan mauidloh hasanah kedua disampaikan olehsesepuh Qudsiyyah KH Fathur Rahman. Dalam penyampaiannya beliau menceritakan tentang sejarah nabi mulai beliau lahir sampai perkembangan Islam di tanah Jawa.

Di akhir acara diadakan pengumuman juara class meting yang dalam kesempatan kali ini juara umumnya adalah kelas 7 H. (Isbah/Kharis)

Dua Alumni Qudsiyyah Dakwah di TV One

QUDSIYYAH, KUDUS – Program dakwah akhir pekan oleh salah satu stasiun televisi Nasional tayang live dari Kudus. Acara berjuluk Damai Indonesiaku oleh TV One itu memilih lokasi di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu (11/11/2017) siang. Uniknya acara yang memilih tema “Uswatun Hasanah” tersebut menampilkan dua alumni Qudsiyyah yang ditayangkan live ke seluruh penjuru tanah air.

Ya, H. Abdullah Rosyad, alumni Qudsiyyah tahun 1991 ini bertindak membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Sesuai tema yang diangkat, alumni yang berasal dari Mindahan Jepara yang kini juga mengajar di MI Qudsiyyah Kudus tersebut membacakan surat al- Ahzab ayat 21. Dengan suara yang yang lantang dan merdu, pria yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren al-Istiqomah, Demaan Kudus ini membaca ayat suci dengan apik dan menyentuh kalbu.

Lihat Video lengkapnya di sini

Berikutnya, alumni yang dakwah dan tayang di Tv One adalah KH. Idham Kholid. Lulusan MA Qudsiyyah tahun 1990 ini berceramah dihadapan Bupati Kudus, H. Mustofa, Jam’iyyah Yasin Fadhilah Kudus serta seluruh pemirsa televisi dengan mengakat tema Uswatun Hasanah.

Pria yang berasal dari Kedungwaru Lor Karang Anyar Demak tersebut menjabarkan suri tauldan dari Kanjeng Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyatakan, rahmat diutusnya Rasulullah jauh lebih banyak dirasakan oleh kaum ibu dibandingkan dengan kaum bapak-bapak. Sebelum Rasul lahir, disebut zaman jahilillah, begitu rusaknya akhlak, begitu hinanya kaum wanita. “Kelahiran Rasulullah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita,” ungkapnya.

Kyai Idham mengatakan, Al Qur’an yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, salah satu suratnya ada yang bernama An-Nisak yang artinya Wanita. Juga, surat pembuka al- Qur’an, surat Al-Fatihah, disebut juga dengan istilah Ummul Kitab yang berarti induk atau ibu kitab. “Ini adalah bukti Rasulullah hadir untuk memulyakan kaum wanita,” jelasnya.

Dalam pemberian ceramah tersebut juga dilakukan tanya jawab dengan hadirin yang kompak berbaju putih di dalam pendopo kabupaten Kudus tersebut. Selain itu KH Idham Kholid, acara Damai Indonesiaku Tv One tersebut juga diisi oleh penceramah Kh. Soemarno Syafi’I, dengan mengangkat tema yang sama yakni Uswatun Hasanah. (Kharis)

Lihat Video lengkapnya di sini

Meriahkan Mlaku-Mlaku Bareng Santri dengan Sholawat dan Rebana

QUDSIYYAH, KUDUS – Qudsiyyah Kudus turut andil dalam event besar Mlaku-Mlaku Bareng Santri (MMBS) yang digagas PCNU dan Pemkab Kudus pada Ahad pagi, 29 Oktober 2017. Seluruh santri, mulai dari MI, MTs, MA dan Pesantren tumplek blek meramaikan acara yang dihadiri lebih dari 100 ribu santri Kudus ini.

Bersarung batik dan memakai koko serta sebagian memakai baju batik “kangkung” khas seragam Qudsiyyah, sekitar dua ribu santri Qudsiyyah meramaikan acara mlaku-mlaku yang digelar dalam rangka puncak acara Hari Santri Nasional 22 Oktober kabupaten Kudus ini. Mereka membawa tulisan dan sepanduk yang berisikan jargon santri Kudus, seperti “Kudus Kota Santri”, “Santri Menolak Paham Khilafah”, “NKRI harga Mati”, “Santri No Drug” dan sebagainya.


Selain itu, sebagai bagian dalam kemeriahkan acara ini, peserta dari Qudsiyyah juga membawa lengkap Rebana lengkap dengan microphone dan sound kecil yang dicangking. Sepanjang jalan mulai dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga finish kembali di tempat yang sama, mereka bersholawat dengan lagu-lgu khas Qudsiyyah, seperti Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Qudsiyyah, Madrasati Aman-Aman, dan Sholawat Nabi lainnya. Praktis, dengan sholawat dan tabuhan rebana ini, menjadikan jalan santai santri ini semakin meriah.

Usai mlaku bareng, di panggung utama, sebagian santri Qudsiyyah ada juga yang ketiban hadiah. Diantaranya ada yang mendapatkan lemari es dan hadiah doorprize lain yang disiapkan panitia.

 

Dalam MMBS ini juga dimeriahkan adanya atraksi pagar Nusa. Sebelum start MMBS, puluhan pesilat dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menampilkan senam jurus khas Pagar Nusa. Kemudian, para pesilat Pagar Nusa dari pondok pesantren Qudsiyah Kudus dan pondok pesantren Sabilul Rosyad Pringsewu Bakalan Krapyak menunjukkan kemampuannya memecah genteng dengan kepala, mematahkan besi pakai tangan kosong, menarik mobil dan tubuh dilindas motor trail.

Pesilat Adi Purnomo menarik mobil sedan dengan 10 penumpang memukau ribuan pasang mata peserta MMBS. Mobil diikat pakai tali kemudian ditarik dengan mulut Andri berjalan hingga sejauh 10 meter lebih. Atraksi berlanjut, tujuh orang pesilat tidur di aspal kemudian dilindas dua motor trail secara bergiliran yang dikendarai Hari Sudrajat dan Yuni Agustin pesilat perempuan. Mereka yang dilindaspun tidak mengalami cedera apapun. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Masuk Lima Besar FTP 2017

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Petruk Dadi Ratu” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk lima besar Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2017. Dengan hasil ini, praktis teater Qudsiyyah menembus babak final dalam pagelaran kesenian tahunan tersebut.

Dari 13 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi lima finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada awal November mendatang di GOR Djarum Kaliputu Kudus.
Dari lima finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA yang berhasil lolos di babak final. Empat lainnya adalah teater Oscar, SMK NU Hasyim Asy’ari 2, Teater Saka, SMK 2 Kudus, teater Apotik, SMK Duta Karya, dan teater Studi One, SMA 1 Kudus.

Seleksi yang dilaksanakan oleh teater MA Qudsiyyah dilaksanakan pada Rabu, 25 Oktober 2017 di Gedung Muslimat Glantengan Kota Kudus sekitar pukul 09.00 pagi.

Adapun tingkat SLTP, empat kelompok teater masuk ke babak final. Keempat terater tersebut adalah tetar Bobot, SMP 1 Kudus, teater Essaka, SMP 1 Kaliwungu, teater Ukur, MTs NU Maslakul Falah, dan teater PR, MTs Nahdlatul Athfal. (Kharis)

Qudsiyyah Putri Peringati HSN dengan Pembacaan Sholawat Nariyyah dan Nobar

QUDSIYYAH, KUDUS – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 kali ini sangat meriah. Banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan baik oleh pemerintahan maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta banomnya. Untuk pertama kalinya, Qudsiyyah Putri tak mau kehilangan momentum dalam HSN tahun ini. Berbagai kegiatan diadakan untuk mengisi HSN sekaligus mengurangi kepenatan dalam kegiatan belajar mengajar santri. Diantaranya adalah pembacaan Sholawat Nariyah, upacara dan nonton bareng (nobar) film pesantren.

Qudsiyyah putri turut serta menjadi bagian dari program PBNU dalam “Pembacaan 1 milyar sholawat” yang bertepatan dengan HSN ini. Santri Qudsiyyah putri membaca Sholawat Nariyyah sebanyak 4444 sholawat yang telah terlaksana pada Sabtu malam (21/10/2017) ba’dal Maghrib. Pembacaan sholawat yang dalam riwayat lain bernama sholawat “Taziyyah” ini diharapkan menjadikan negara Indonesia aman dan terhindar dari marabahaya.

Tepat pada Ahad 22 Oktober 2017, pagi Qudsiyyah putri ikut berpartisipasi dalam apel bersama di alun-alun simpang tujuh Kudus, lengkap dengan seragam khas Qudsiyyah putri, yakni batik “kangkung” dengan bawahan putih dan kerudung putih.

Usai upacara, santri-santri mengikuti nobar film “Cahaya Cinta Pesantren” yang bertempat di Aula MTs Qudsiyyah Putri. Dalam pemutaran film tersebut santri-santri diberi tugas untuk menulis kesimpulan dan cerita singkatnya. Film yang berlatar pondok pesantren tersebut berhasil mengaduk emosi santri putri. Banyak dari mereka yang menangis dan histeris dengan cerita film yang disutradarai oleh Raymond Handaya ini.

Diharapkan, dengan adanya nobar ini, santri Qudsiyyah putri bisa termotivasi serta betah mondok, dan menjadi santri yang salaf, sholihah, dan mandiri. (Isbah/Kharis)

HSN di MTs Qudsiyyah, Mulai Upacara hingga Penanaman

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasinal yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017 dimanfaatkan oleh MTs Qudsiyyah Kudus untuk menanamkan karakter yang kuat kepada para siswanya. Selain menyelenggarakan upacara yang di dalamnya dilantunkan lagu Ya Lal Wathan dan Sholawat Asnawiyyah, Juga diselenggarakan Istighatsah dan kegiatan menanam bersama sebagai wujud kepedulian santri terhadap lingkungan.

Sholawat Asnawiyyah dipilih dan selalu terdengar di setiap acara yang diselenggarakan MTs Qudsiyyah karena diciptakan oleh KHR Asnawi yang merupakan pendiri madrsah tersebut. Dalam syairnya juga mengandung doa untuk keamanan bangsa Indonesia.

Pada pelaksanaan upacara hari santri ini, upacara yang dilaksanakan di Lapangan Qudsiyyah di JL. KHR Asnawi dan diikuti sekitar 1.300 siswa MTS dan MA ini. Para siswa memakai sarung yang merupakan pakaian khas ala santri dan baju koko putih. Diharapkan nilai karakter santri akan terus melekat pada diri siswa bahkan pada saat bermasyarakat nanti. Dalam sambutannya, sesepuh Qudsiyyah, KH. Ahmad Sudardi, megingatkan kepada para Santri untuk bangkit dan mengingat jasa mbah Hasyim Asy’ari dan para santri zaman dulu saat mempertahankan kemerdekaan. Sehingga para santri di era kini, dapat meneladani sekaligus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini.

Dalam upacara tersebut juga dibagikan dana santunan kepada sejumlah 40 siswa. Dan juga pemberian penghargaan bagi siswa yang telah berhasil mengharumkan nama madrasah di berbagai perlombaan yang telah diikuti. MTs Qudsiyyah telah menyabet Juara 1 Tilawah, Juara 1 Tartil, dan juara 1 Tahfidz pada ajang MTQ Pelajar dan MTQ Umum tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017 yang telah diselenggarakan pada september bulan lalu. Berbagai piala di perlombaan kepramukaan juga turut menambah deretan daftar prestasi MTs Qudsiyyah tahun ini. Diharapkan prestasi yang telah diraih ini terus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

Setelah upacara selesai, para siswa dipimpin oleh guru kelas melanjutkan dengan istighatsah dan doa untuk keamanan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Siswa juga tidak lupa untuk mendoakan para pahlawan muslim yang telah berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Santri Menanam

Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama untuk meresponnya, tak terkecuali para santri. Peran aktif santri dapat diwujudkan dengan kepedulian pada lingkungan. Hal ini disadari MTs Qudsiyyah dengan mengajak para siswa untuk menanam bunga di lingkungan sekolah. Lebih dari seratus bunga yang dibawa para siwa untuk ditanam di taman milik madrasah.


Selain untuk menambah keindahan dan mengurangi pemanasan global, kegiatan ini juga dimaksud untuk menanam karakter santri agar peduli dan mencintai lingkungan. Memang untuk menanam karakter tidak bisa instan. Dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan butuh waktu sampai santri mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungannya. (Yasfin/kharis)

PPQ Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik

QUDSIYYAH, KUDUS- Training Pres Jurnallistik oleh Perstuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) dilaksanakan pada Sabtu Legi –Ahad Pahing, 19-20 Agustus 2017. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan santri Tsanawiyyah Maupun Aliyyah Qudsiyyah, yang bertempat di Aula Ma’had , Lab MA dan Aula MA Qudsiyyah.

Kegiatan ini mengambil tema “Penguasan Teknologi Jurnalistik Santri”, dan bertujuan agar santri tidak ketinggalan dengan teknologi karena sekarang orang-orang lebih sering bermain dengan teknologi. Diharapkan, para Santri Qudsiyyah harus menguasai teknologi khususnya yang terkait dengan teknologi jurnalistik.

Secara khusus, Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan tentang dunia kejurnalistikan tetapi juga untuk memilih pimpinan redaksi (pimred) EL WIJHAH & EL QUDSY untuk tahun depan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan crew El WIjhah dan EL Qudsy dapat lebih baik dari tahun sebelumnya.

Acara ini berlanggsung dengan meriah. Pasalnya acara ini dapat mendatangkan Alumni Qudsiyyah yang sudah lama menggeluti dunia tulis menulis. Salah satu pemateri,Nor Kholidin, dari Jepara mengatakan, dunia kejurnalistikan itu dunia yang seru. “ Selain bisa menambah pengetahuan juga bisa menambah teman,” kata dia.

Pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan supaya Madrasah Qudsiyyah tidak tertinggal dengan madrasah lain. “Mereka sudah sanggat canggih dalam jurnalistik,” ujar Yusrul Wafa, alumni yang kini aktif di dunia bloger dan Youtube ini. (M Khoirul umam-Saiful effendi-Salahudin Yusri/Kharis)