Empat Piala Diraih MI Qudsiyyah pada Bangau Ruyung Cup

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebanyak Empat piala diraih oleh altet-atlet pencak silat dari MI Qudsiyyah dalam Bangau Ruyung Cup VII antarpelajar tingkat SD/MI, SMP-SMA sederajat tingkat kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak 2017. Kejuaraan ini rutin digelar setiap tahun secara berkala dan pada tahun ini dilaksanakan di GOR Kudus, pada Ahad-Senin, 28-29 Januari 2017.

Empat santri yang meraih juara tersebut adalah Panca Akbar, Luthfi Hakim, Mirza Royyani dan Ahmad Rezal Efendi.keempatnya merupakan siswa kelas VI MI Qudsiyyah Kudus yang mengikuti ekstra kulikuler pencak silat dan ikut lomba dalam event Bangau Ruyung Cup.

Panca Akbar sukses meraih juara I putra dalam kategori tanding kelas D tingkat SD/MI. Luthfi Hakim meraih juara dua dalam kategori tanding kelas bebas, Mirza Royyani meraih juara III kategori tanding kelas bebas dan Ahmad Rezal Efendi sukses menyabet juara tiga Putra dalam kategori tanding kelas C.

Kesuksesan tersebut merupakan salah satu prestasi yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Padepokan Bangau Ruyung adalah salah satu kelompok pencak silat besar di kabupaten Kudus. Dalam hal ini, selama kurang lebih tiga tahun terakhir, ektra kulikuler pencak silat yang diadakan di Madrasah Qudsiyyah adalah hasil kerjasama dengan pedepokan Bangau Ruyung. Ekstra Kulikuler Pencak silat di Qudsiyyah sendiri digelar setiap dua kali dalam sepekan yang dilaksanakan di lapangan Qudsiyyah dan diikuti oleh santri MI, MTs dan santri Aliyah. (Kharis)

Teater Jangkar Bumi Qudsiyyah Masuk Final FTP

QUDSIYYAH, KUDUS – Dengan mementaskan naskah yang berjudul “Ngaluamah” teater Qudsiyyah, Jangkar Bumi, akhirnya masuk babak final Festival Teater Pelajar Djarum Kudus tahun 2016. Dari 26 peserta tingkat SLTA, Jangkar Bumi terpilih menjadi sembilan finalis yang akan beradu acting di tingkat final, yang akan digelar pada Sabtu dan Ahad, 19 – 20 November 2016 mulai pukul 13.00 di GOR Djarum Kaliputu Kudus.

Dari sembilan finalis tersebut, teater Qudsiyyah merupakan satu-satunya teater di MA swasta yang berhasil lolos di babak final. Delapan lainnya adalah Teater Studi One, SMA 1 Kudus, teater X-Miffa, SMK Nu Miftahul Falah, teater Apotek, SMK Duta Karya, teater Ganesha, SMA 2 Kudus, dan teater Sate Madu, MAN 2 Kudus.

Adapun jadwal pementasan dari Jangkar Bumi Qudsiyyah, dilaksanakan pada Sabtu Malam Ahad, pukul 18.50 WIB. “Jangan lupa nonton ya, gratis kok!” Untuk menghadapi pementasan di babak final, seluruh pemain dan tim pendukung terus berusaha untuk berlatih dan menerapkan saran-saran yang diberikan dewan juri saat seleksi beberapa waktu lalu. Selain itu, seluruh tim juga menggali berbagai masukan dari para seniman-seniman Kudus. (*)

Merawat Warisan Harmoni Sosial Walisongo

KETIKA bangsa Indonesia—khususnya umat Islam dalam kondisi terbelah pendapatnya—maka perlu merenung sejenak sejarah Nusantara di masa lampau. Apa yang perlu direnungkan? Sejarah Walisongo sebagai pembawa Islam di bumi Nusantara. Kenapa harus direnungkan kembali saat ini? Sebab Walisongo menjadi figur penginspirasi harmoni sosial.

Terlalu cepat nampaknya Indonesia dibuat gaduh (versi media sosial) akibat hajatan politik. Muslim satu dan lainnya berbeda pandangan soal tafsir “penistaan agama”. Belum lagi soal argumentasi agama yang dibenturkan dengan kecondongan pilihan kandidat Kepala Daerah. Seakan restu politik menjadi tunggal dan sudah kelewat batas dari titik harmoni.

Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq memberikan contoh dalam kondisi suasana politik Kesultanan Demak menghangat. Ia sebagai salah satu Panglima Perang Demak memilih untukbabad alas (membuka wilayah politik baru) di Kudus, daerah utara Demak. Konflik yang terjadi di Demak pun bukan sebagai lahan berebut kekuasaan semata. Tetapi menjadi pendewasaan berpolitik—yang sudah terintervensi gengsi kekuasaan Majapahit.

Akibat dari suasana yang demikian, Sunan Kudus mengambil jalan untuk memperkuat basis keilmuan dengantafaqquh fiddin (menguasai ilmu agama). Selain itu, keturunan Raja Demak bernama Ario Penangsang juga menjadi murid kesayangan Sunan Kudus. Itu dilakukan karena kecintaan Sunan Kudus pada keturunan Raja agar tidak lari mencari perlindungan Raja Majapahit.

Kisah Sunan Kalijaga dalam membangun pondasi Islam Nusantara yang penuh harmoni juga sudah nyata. Bangunan Islam yang ramah dengan masyarakat awam ia tancapkan mendarah daging hingga saat ini. Kesan Kesultanan Demak yang sangat terbuka untuk menjadi tempat curhat kawulo alit didorong oleh Sunan Kalijaga sebagai Penasehat Raja. Sunan Kalijaga juga membangun zona-zona politik berbasis harmoni dengan seni.

Seni semacam Wayang dan Gendhing Jawa (lagu Jawa) ia ciptakan sebagai pemersatu masyarakat Jawa yang saat itu sudah multiagama. Orang non muslim begitu mesra dengan Islam saat Sunan Kalijaga tampil dengan kesenian Jawa yang telah diislamkan. Dalam suasana yang demikian, masyarakat menyatu dalam seni untuk membangun harmoni sosial. Agama saat itu sudah menjadi perekat, bukan menjadi sumber konflik.

Kehadiran Maulana Malik Ibrahim di Gresik dalam membangun harmoni sosial juga nampak nyata. Di tengah kondisi masyarakat memiliki keyakinan terhadap Dewa, Islam tampil dengan ramah. Agama yang diyakini sebelum Maulana Malik Ibrahim hadir di Jawa tidak diusik. Keyakinan itu tetap dibiarkan berjalan. Itulah cikal bakal bangunan toleransi beragama sudah ada sejak abad 14 dan 15.

Ketika masyarakat meyakini bahwa meminta kepada Dewa harus dengan tumbal menyembelih perawan cantik, oleh Maulana Malik Ibrahim diganti dengan menyembelih ayam. Dan permintaan hujan dan berhentinya paceklik itu terkabulkan. Akhirnya masyarakat mulai mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim tanpa harus mengusik umat agama sebelumnya. Wajah Islam yang demikian harus kita lihat.

Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati juga demikian. Ia lahir dari keturunan Raja Siliwangi bernama Dewi Rara Santang. Praktis, bahwa perjuangan membuat Bumi Jawa Pasundan Betawi sebagai medan juang Islam didakwahkan dengan penuh damai dan toleran. Sunan Gunung Jati sadar bahwa Islam harus didakwahkan, tapi dakwah yang santun, bukan dengan dakwah yang berapi-api. Soal hadangan kelompok yang tidak sepakat, ia lakukan dengan penuh kasih sayang.

Ada hal yang perlu dipertegas soal kisah-kisah Walisongo. Maulana Habib Luthfi Pekalongan selalu menegaskan tentang kisah-kisah para Walisongo ini. Bahwa konflik Walisongo jangan dipahami dengan berdasar cerita lisan Ketoprak. Dimana dikesankan bahwa Walisongo dan Kesultanan Demak mudah pathen-pinathen(bunuh membunuh). Sungguh naif, jika kemuliaan Walisongo dalam membangun harmoni sosial itu tidak ditonjolkan.

Atas dasar itu, maka sudah waktunya masyarakat Indonesia kembali mengkaji nilai harmoni sosial yang telah diletakkan oleh Walisongo. Wajah Islam Nusantara yang penuh dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ini jelas nyata dibawa oleh Walisongo. Cara berdakwah yang dilakukan juga sangat tegas dengan memaknai wilayah agama, sosial, politik dan budaya.

Maka jika hari ini kita diperlihatkan dengan kondisi wajah Islam yang beragam, itulah Indonesia. Namun wajah Islam yang ramah dengan penuh kekeluargaan, itulah Islam yang ditinggalkan oleh Walisongo. Walisongo tidak mengajari dengan Islam yang menodai persatuan dan kesatuan.

Garis agama tegas bahwa Islam itu berdasar syariat yang telah ditentukan. Dan wilayah harmoni sosial dengan hidup berinteraksi dengan lintas agama, lintas negara dan lintas budaya itu juga dibangun secara baik. Walisongo terbukti mampu menyatukan interaksi agama Islam, Kapitayan, Hindu dan Budha. Walisongo juga berhasil membangun diplomasi Timur Tengah, India, China dan Nusantara. Semua warisan Walisongo tentang harmoni sosial itu patut dijaga dengan baik.*)

M Rikza Chamami
Alumni Qudsiyyah, Dosen UIN Walisongo, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

TURUT SERTA PEMBACAAN SATU MILIAR SHOLAWAT NARIYAH

QUDSIYYAH, KUDUS – Momentum Hari Santri Nasional, yang salah satunya dengan menggelar Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah, yang digagas Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) berlangsung begitu meriah di berbagai daerah di tanah air. Seluruh warga, yang dikomando oleh Pengurus Cabang NU berbondong-bondong melaksanakan pembacaan sholawat Nariyah secara serentak di Musholla, Masjid, dan di pondok pesantren.

Tak ketinggalan, Ma’had Qudsiyyah juga menjadi bagian dalam program memohon doa keselamatan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia ini. Dengan dipimpin langsung oleh salah satu pengelola Ma’had, H. Nurul Adlha, acara pembacaan Sholawat Nariyah dilaksanakan pada Jumu’ah Malam Sabtu (21/10/2010) di aula Ma’had Qudsiyyah Kudus.

Sekitar satu jam waktu digunakan oleh 150 santri yang dilibatkan dalam kegiatan ini, yakni dimulai usai sholat Isyak dan berakhir sekitar pukul 20.00 WIB.

Diperkirakan, sebanyak 1.666.500.000 selawat nariyah akan dibacakan setelah mendapat instruksi langsung dari Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Sirodj untuk dilaksanakan di seluruh lembaga struktural Nahdhatul Ulama (NU) dari tingkat pusat hingga ke tingkat terbawah di ranting-ranting. Bahkan sebanyak 1.666.500.000 selawat nariyah juga akan dibacakan di 24 Negara dimana cabang Nahdlatul Ulama berada.

Koordinatoor acara satu miliar sholawat nariyah PBNU, Muhammad Aqil Irham mengatakan, acara ini bertujuan untuk menyampaikan doa dan salam umat muslim Indonesia kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Melalui selawat nariyah yang dibacakan serentak ini, kita memohon doa kepada Allah agar kita mendapat pertolongan dari Rasullah.

“Mudah-mudahan melalui selawat nariyah ini mendapat syafaat kepada Rasulullah baik di dunia ini maupun di akhirat,” ujar Aqil sebagiamana dikutip dalam Okezone.com, Jumat (21/10/2016).

Selain itu, Aqil yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu berharap, acara ini juga dapat memohon doa keselamatan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

“Kita juga melalui selawat nariyah sebagai wasilah, kita memohon doa kepada Allah untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa kita, agar cita-cita dan kesejahteraan bangsa ini tercapai dengan baik,” ucapnya. (*)

Hari Santri Nasional di Qudsiyyah

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebagai lembaga pendidikan peninggalan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KHR Asnawi, Madrasah Qudsiyyah tak mau ketinggalan dalam merayakan momentum Hari Santri Nasional. Berbagai event dan kegiatan dilaksanakan oleh lembaga yang telah berusia seratus tahun ini. Diantaranya, diskusi, pembacaan Sholawat Nariyah, istighosah dan Upacara Hari Santri.

Pada Sabtu pagi (22/10/2016) sekitar 1500 santri melaksanakan upacara hari santri di Lapangan Qudsiyyah, di Jl KHR Asnawi Kudus. Dalam kesempatan tersebut seluruh santri mengenakan sarung dan baju putih. Seluruh santri mulai dari santri MI, MTs, dan MA berbaur menjadi satu di lapangan di Jl KHR Asnawi No 32 Kudus.

Selain melaksanakan upacara di lapangan Qudsiyyah, sebagian santri Qudsiyyah juga turut serta melaksanakan upacara di alun-alun simpang tujuh Kudus. Sekitar 50 santri Ma’had, 50 santri MTs dan 50 santri MA mewakili upacar di pusat kota kretek tersebut bersama ribuan santri lain seluruh kabupaten.

Sehari sebelumnya, ratusan santri Ma’had Qudsiyyah juga menggelar event “Diskusi Kalem” dengan tema “Mengenal Karakter Santri berdasarkan Jenis Golongan Darah”. Dalam kesempatan tersebut, salah satu motivator yang didatangkan adalah Herni Soesongko. Melalui game yang menarik, dia memberikan motivasi dan gambaran karakter dengan pendekatan golongan darah.

Terlihat, para santri cukup antusias dan tertarik pada acara yang digelar pada Kamis malam (20/10/2016) dengan materi yang diberikan. Ditambah, dalam kesempatan tersebut, salah satu produk makanan memberikan “bonus” mie instan siap saji lengkap dengan minumannya kepada seluruh santri Ma’had. (*)

QUDSIYYAH RAYAKAN MOMENTUM HARI SANTRI

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebagai lembaga pendidikan peninggalan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KHR Asnawi, Madrasah Qudsiyyah tak mau ketinggalan dalam merayakan momentum Hari Santri Nasional.

Berbagai event dan kegiatan dilaksanakan oleh lembaga yang telah berusia seratus tahun ini. Diantaranya, diskusi, pembacaan Sholawat Nariyah, istighosah dan Upacara Hari Santri. Pada Sabtu pagi (22/10/2016) sekitar 1500 santri melaksanakan upacara hari santri di Lapangan Qudsiyyah, di Jl KHR Asnawi Kudus.

Dalam kesempatan tersebut seluruh santri mengenakan sarung dan baju putih. Seluruh santri mulai dari santri MI, MTs, dan MA berbaur menjadi satu di lapangan di Jl KHR Asnawi No 32 Kudus. Selain melaksanakan upacara di lapangan Qudsiyyah, sebagian santri Qudsiyyah juga turut serta melaksanakan upacara di alun-alun simpang tujuh Kudus.

Sekitar 50 santri Ma’had, 50 santri MTs dan 50 santri MA mewakili upacar di pusat kota kretek tersebut bersama ribuan santri lain seluruh kabupaten. Sehari sebelumnya, ratusan santri Ma’had Qudsiyyah juga menggelar event “Diskusi Kalem” dengan tema “Mengenal Karakter Santri berdasarkan Jenis Golongan Darah”. Dalam kesempatan tersebut, salah satu motivator yang didatangkan adalah Herni Soesongko. Melalui game yang menarik, dia memberikan motivasi dan gambaran karakter dengan pendekatan golongan darah. Terlihat, para santri cukup antusias dan tertarik pada acara yang digelar pada Kamis malam (20/10/2016) dengan materi yang diberikan. Ditambah, dalam kesempatan tersebut, salah satu produk makanan memberikan “bonus” mie instan siap saji lengkap dengan minumannya kepada seluruh santri Ma’had. (*)

FIKRY PIMPIN PPQ TAHUN INI

QUDSIYYAH, KUDUS – Syaikhuddin Bahri Al Fikry akhirnya memenangkan pemilihan Ketua PPQ yang dilaksanakan pada Kamis, 22 September 2016. Hasil akhir penghitungan, dari 1536 pemilih yang telah menggunakan hak suaranya, Fikri mendapatkan suara terbanyak sejumlah 669 suara.

Kerja keras tim pendukung Fikri membuahkan hasil yang cukup baik. Mulai dari memasang profil dan visi misi, serta berkampanye terbuka di hadapan seluruh siswa-siswa Qudsiyyah yang memiliki hak suara, mengantarkan santri dari Damaran Kota Kudus ini menjadi top leader santri Qudsiyyah Kudus.

Usai memenangkan pemilihan, akhirnya, Fikri dan seluruh jajaran pengurus PPQ dilantik oleh al Mudirul Am Madrasah Qudsiyyah, KH Nur Halim Ma’ruf pada Selasa Pahing, 4 Oktober 2016. (*)

Enam Kandidat Berebut Jadi “Presiden Santri Qudsiyyah”

QUDSIYYAH, KUDUS – Bila di ibu kota Jakarta sedang memanas soal kandidat bakal calon yang akan diusung dalam Pilkada awal 2017 mendatang, maka di Qudsiyyah Kudus juga sedang panas. Sebanyak enam kandidat berebut menarik simpati pemilihnya untuk memenangkan pertarungan menjadi ketua umum Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ).

Keenam calon tersebut adalah 1- Syaikhuddin Bahri Al Fikry (Damaran Kudus – Partai Sepur), 2- M. Iqbal Surya Negara (Cengkalsewu Sukolilo Pati – Partai MMC), 3- Khulafaur Rosyidin (Way Kanan Lampung – Partai Maju Terus), 4- Ahmad Khasan Fathoni (Dersalam Bae Kudus – Partai Seerrtek), 5- M. Agus Sholihuddin (Lau Dawe – Partai KUDU IQU), dan 6- Muhammad Siddiq (Undaan Kudus – Partai Santri Kece).

Salah satu cara yang dilakukan para kandidat ini adalah dengan menggelar kampanye terbuka oleh calon dan jurkamnya masing-masing. Orasi terbuka ini dilaksanakan pada Senin (19/9/2016) di tiga titik lokasi yang berbeda. Mulai dari lapangan MI Qudsiyyah, dilanjutkan di lapangan MTs Qudsiyyah dan terakhir lapangan MA Qudsiyyah Kudus.

Untuk menarik minat para pendengar dan calon pemilihnya, enam kandidat calon tersebut didandani dengan pakaian khas Kudusan tempo dulu, yakni memaki sarung batik, baju putih dan memaki iket kepala. Ini dilakukan oleh penyelenggara kegiatan “Pemilu PPQ” untuk lebih mengenalkan kandidat di akar rumput calon pemilihnya, yakni seluruh siswa MI mulai kelas V hingga seluruh siswa MTs dan seluruh siswa MA Qudsiyyah.

Selain itu, kampanye dan orasi ini dilakukan untuk menggenjot tingkat partisipasi pemilih saat pencoblosan Kamis (22/9/2016) mendatang.

Pencoblosan ini adalah untuk memperebutkan jabatan Ketua umum PPQ periode 2017-2018. Di Madrasah Qudsiyyah, dari dulu hingga sekarang, jabatan yang sedang diperebutkan ini merupakan jabatan prestisius yang selalu diperebutkan. Ini karena jabatan ini bak seperti menjadi “Presiden” bagi seluruh santri Qudsiyyah mulai dari tingkat paling kecil, MI hingga tingkat MTs dan tingkat MA.

Selain dengan menggelar kampanye, poster-poster dan gambar calon juga menyebar di berbagai titik strategis madrasah Qudsiyyah. Mulai dari poster gambar dan visi misi calon, hingga profik utuh mengenai keenam calon tersebut.

Ketua Umum PPQ, yang telah purna, M. Yusrul Muna, mengungkapkan, keenam kandidat calon yang terpilih ini merupakan hasil dari berbagai seleksi yang telah dilaksanakan. “Calon ini adalah hasil dari usulan siswa, hasil proses wawancara, dan hasil masukan dari dewan Pembina dan pembimbing PPQ. Jadi inilah enam orang yang handal, penerus tongkat estafet PPQ,” kata dia.

Ia menjelaskan, tahapan pemilihan ini meliputi penjaringan calon kandidat, Rapat Anggota, yang merupakan laporan pertanggungjawaban yang telah terlaksana pada Sabtu (17/9/2016) dilanjutkan dengan masa kampanye dan pencoblosan. “Senin sampai Rabu adalah masa kampanye, puncaknya Kamis nanti pencoblosan dan penghitungan suara,” pungkasnya. (*)

JURNALIS ALUMNI QUDSIYYAH RAIH DIVERSITY AWARD 2016

QUDSIYYAH, JAKARTA – Salah satu kado indah diberikan alumni Qudsiyyah pada momentum ulang tahun ke 100 Madrasah Qudsiyyah Kudus. Furqon Ulya Himawan, alumni Qudsiyyah yang berkarir di dunia jurnalistik, meraih penghargaan Diversity Award 2016, akhir Agustus ini.

Karya jurnalistik yang dibuat oleh alumni Qudsiyyah tahun 2003 ini, terpilih menjadi berita media cetak terbaik versi Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (disingkat; Sejuk). Diversity Award 2016 adalah penghargaan karya jurnalistik tentang toleransi beragama. Program ini merupakan inisiatif Sejuk untuk memberikan apresiasi atas kerja-kerja jurnalistik yang mengimani bahwa keberagaman mesti dihargai dan dirayakan.

Karya Furqon Ulya Himawan yang bernaung di jurnalis Media Indonesia ini berjudul “Toleransi Memudar di Kota Pelajar”. Dalam berita itu, Yaya, sapaan akrabnya, mencoba memotret kejadian intoleransi yang ada di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Ia bercerita, ide bermula ketika dirinya melihat banyak tindakan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Padahal, kota pelajar itu terkenal sebagai ‘City of Tolerant’ sejak 2010-an.

“Kemudian dicoreng sendiri oleh orang-orang yang mengaku sebagai warga Jogja. Orang-orang yang mengaku beragama, tapi melakukan tindakan intoleran,” ungkap Yaya, sebagaimana dikutip dalam Metrotvnews.com usai menerima penghargaan di Goethe-Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Pada 2015 misalnya, banyak tindakan intoleransi terjadi di Yogyakarta. Mulai dari pembubaran acara diskusi, acara nonton film, dan acara-acara seni lainnya yang dinilai bertentangan dengan pemahaman keagamaan sejumlah warga. Pernah juga terjadi pembubaran terhadap pondok waria, bahkan sempat ada pula rencana penggusuran.

“Itu kan sebenarnya merupakan tindakan intoleran. Mereka membenarkan melakukan tindakan tersebut berdasarkan doktrin agama yang mereka miliki. Intinya, selain kelompok dia, salah semua,” terang Yaya.

Kebetulan, jelas Yaya, The Wahid Institute dan Setara Institute menobatkan Yogyakarta sebagai kota intoleran. Kota yang khas dengan makanan gudeg itu ada di deretan lima kota terbesar di Indonesia yang melakukan tindakan intoleran.

“Ini jadi dipertanyakan, karena Jogja sebagai City of Tolerant, tapi melakukan tindakan intoleran. Ini kan menarik jadi pertanyaan,” kata dia.

Alumni Qudsiyyah yang masih Jomblo ini berhasil menyisihkan dua jurnalis lainnya dalam daftar nominasi peraih Diversity Award 2016 kategori media cetak. Mereka adalah Kodrat Setiawan dari Koran Tempo, dan jurnalis Media Indonesia lainnya, Ardhy Winata Sitepu. Berita hasil karya Kodrat berjudul Pembongkaran Gereja Diwarnai Isak Tangis Jemaat, sementara berita hasil karya Ardhy yang masuk daftar nominasi berjudul Polemik Pendidikan Agama di Aceh Singkil.

Selain kategori media cetak, penghargaan Diversity Award 2016 juga diberikan untuk kategori radio. Jurnalis radio yang masuk nominasi antara lain Rio Tuasikal dari Radio KBR68H dan Margi Ernawati dari Radio Elshinta Semarang. Pemenang Diversity Award 2016 kategori Radio dimenangkan oleh Margi Enawati.

Sejuk juga memberikan penghargaan Diversity Award 2016 untuk kategori media foto. Ada tiga fotografer yang masuk daftar nominasi, yakni dua fotografer AFP Aman Rohman dan Hotli Simanjuntak (AFP), juga fotografer Antara Jessica H Wyusang. Penghargaan untuk kategori media foto diraih Jessica H Wuysang.

Sedangkan, dalam kategori media online, ada dua jurnalis yang masuk nominasi, yakni Abraham Utama dari CNN Indonesia dengan judul berita Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia. Satu lagi Heyder Affan dari BBC Indonesia dengan judul berita Aliran Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia. Penghargaan dimenangkan oleh Heyder Affan. (*)

SANTRI QUDSIYYAH GELAR UPACARA HUT RI

QUDSIYYAH, KUDUS – Madrasah Qudsiyyah yang didirikan oleh KHR Asnawi menggelar upacara bendera dalam rangka HUT RI ke 71. Acara yang berlangsung di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 32 Kudus pada Rabu (17/8/2016) berjalan lancar dan hikmat.

Dalam sambutannya, kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin,M.Pd.I menekankan perlunya merawat dan memperkuat jiwa Nasioalisme sebagaimana KHR Asnawi dulu ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. “100 tahun sudah simbah KHR Asnawi mendirikan madrasah. Saat itu mendirikan madrasah adalah tantangan besar karena harus berhadapan denga kolonial penjajah,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan semoga Qudsiyyah mampu mencetak generasi Santri yang melek peradaban serta mampu menjaga NKRI.

Selain doa kepada para pahlawan yang telah Gugur, dalam upacara yang digelar di lokasi yang sama dengan acara puncak satu abad Qudsiyyah tersebut juga dinyanyikan lagu 17 Agustus dan Syukur karya Habib Husein Al-Mutohar. Tidak ketinggalan Sholawat Asnawiyyah yang didalamnya berisi doa-doa untuk Indonesia juga didengungkan dengan penuh hikmat. (*)