Sejarah Madrasah

Madrasah Qudsiyyah didirikan sebelum masa kemerdekaan yaitu pada tahun 1919 oleh K.H.R Asnawi seorang tokoh intelektual pesantren yang dilahirkan di desa Damaran, sebuah daerah dibelakang Menara Kudus pada tahun 1281 H./1864 M. Dan meninggal dunia pada tahun 1959. Beliau adalah garis keturunan keluarga aristokrat, keturunan ke-14 Sunan Kudus -dari garis H. Mutamakin yang berasal dari Margoyoso Pati- seorang wali terkenal yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram pada paro pertama abad XVII.  Beberapa murid beliau antara lain Taj asy-Syaraf (K.H. Turaikhan Adjhuri Asy-Syararofi) dan Sya’rani Ahmadi (K.H. Sya’rani Ahmadi). K.H. Sya’rani Ahmadi inilah yang kemudian menjadi penerus perkembangan Madrasah Qudsiyyah Kudus dan masih aktif sebagai staf pengajar di Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus hingga sekarang.

Madrasah Qudsiyyah Kudus merupakan gambaran tentang perkembangan lembaga pendidikan Islam pada era abad ke-19 di wilayah Jawa yang telah muncul sebagai wujud perkembangan masuknya Islam di Nusantara ini. Pada awal mulanya Madrasah Qudsiyyah hanya mempunyai jenjang pendidikan tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI setingkat SD) dan Madrasah Tsanawiyyah setingkat (Sekolah Menengah Pertama). Madrasah Qudsiyyah didirikan oleh K.H.R. Asnawi tidak lain adalah keinginan dari beliau sepulang dari Makkah untuk mengamalkan ilmu yang beliau dapat dan juga sebagai bentuk respon keprihatinan atas penindasan penjajah Belanda yang dialamai rakyat waktu itu. Sehingga selain pondok pesantren “Raudlatuth Tholibin” beliau juga berkeinginan untuk membuat madrasah sebagai tempat belajar santri-santri waktu itu yang hanya mempunyai waktu aktifitas di pagi hari dan tidak sempat untuk belajar di majlis-majlis ta’lim ataupun pesantren beliau. Harapan beliau mutakhorrijin/santri madrasah Qudsiyyah kelak menjadi pewaris ulama, Tafaqquh Fi al-dîn beramal shalih dan berakhlaq karimah dalam rangka mencapai kebahagiaan duniawi dan ukhrowi. Perwajahan madrasah Qudsiyyah pada awal berdiri merupakan bentuk madrasah yang hanya mengajarkan kitab-kitab salaf (kitab kuning)

Dalam perjalanan panjang tentang sejarah madrasah, kondisi madrasah pada masa penjajahan Belanda untuk pengajaran agama di lembaga pendidikan Islam (pesantren dan madrasah) diurus oleh Departemen voor Inlandsche Zaken, namun Madrasah Qudsiyyah tetap bertahan tidak terpengaruh dengan lembaga pemerintah Belanda tersebut, justru dibuktikan dengan perlawanan KHR Asnawi (Pendiri Madrasah Qudsiyyah) terhadap kebijakan pemerintahan Belanda. Karena pada praktiknya lembaga tersebut tidak menangani masalah pendidikan Islam dalam arti memfasilitasi, melainkan lebih merupakan sarana untuk mengontrol dan mengawasi lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Pada setiap beliau mengajar di madrasah senantiasa pesan-pesan perjuangan melawan kolonialisme disampaikan  kepada santri-santrinya. Kemudian setelah masa pemerintahan Republik Indonesia dengan lajunya perkembangan Madrasah Qudsiyyah Kudus, maka pada tahun 1973 untuk jenjang madrasah menengah atas (Madrasah Aliyah) secara  resmi berdiri, yang sudah memodifikasikan kurikulum pemerintah Republik Indonesia (Kurikulum Departemen Agama) dan kurikulum lokal yang menitikberatkan pada mata pelajaran kitab-kitab salaf atau dikenal dengan Madrasah Salaf. Namun modifikasi tersebut tidak lantas menjadikan pelajaran salaf berkurang porsinya, kurikulum salaf tetap dijalankan seperti sebelumnya dengan menambah jadwal KBM untuk muatan kurikulum nasional.

Dalam perkembangannya seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, dunia pendidikan juga turut larut dengan iklim tersebut Di sisi lain, akibat perkembangan dari kemampuan teknologi, terjadi juga perubahan yang cukup dramatis yang menghasilkan pelayanan-pelayanan baru, termasuk pemanfaatan jaringan dunia tanpa batas, yang semula mengunakan teknologi analog berkembang menjadi teknologi digital. Kemudian dalam kenyataannya perkembangan teknologi digital tersebut, tak luput di dalamnya banyak ditawarkan beberapa perangkat lunak (software) aplikasi program, berbentuk aplikasi pengolah data, pengolah gambar, pengolah angka dan juga pengolah pengoperasian kitab salaf.

Karenanya madrasah Qudsiyyah sekarang ini menghadirkan kemasan pembelajaran salafiyyahnya dengan menggunakan komparasi metode pembelajaran klasik baik berupa sorogan, bandongan, dsb yang masih tetap dijaga tradisinya dan juga menggunakan metode pembelajaran sejalan dengan perkembangan teknologi modern lewat pembelajaran multimedia/digital.