Posting dengan Tag ‘kyai’

TANDASKAN ISLAM PENUH KASIH SAYANG

QUDSIYYAH, KUDUS -Tuduhan sementara orang yang menyebut bahwa Islam sebagai agama yang keras jelas-jelas keliru dan menyesatkan. Sebab dalam penelusuran sejarah ajaran yang tumbuh pada abad ke-7 tersebut menujukkan adanya ajaran yang penuh kasih sayang. Tidak hanya terhadap sesama muslim, tetapi juga kepada orang-orang kafir, dan bahkan kepada seluruh alam. Inilah yang terkenal dengan sebutan Islam rahmatan lil’alamin.

https://picasaweb.google.com/100663593801352753954/ProfilePhotos#5635382950033853298

Demikian salah satu poin yang diungkapkapkan salah satu kyai kharismatik Kudus, KH Sya’roni Ahmadi dalam acara Peringatan Isra’ Mi’raj dan Menyongsong Bulan Suci Ramadan (MBSR) Madrasah Qudsiyyah, Kamis (28/7).

Di hadapan lebih dari seribu santri madrasah Qudsiyyah, kyai Sya’roni menandaskan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad adalah ajaran yang penuh kasih terhadap seluruh alam. “Tidak hanya rahmatan lil muslimin (kasih sayang terhadap sesama muslim-Red), tetapi rahmatan lil’alamin (kasih sayang terhadap seluruh alam-Red),” jelas beliau di acara tahunan yang dilaksanakan di halaman madrasah Qudsiyyah, Kerjasan, Kota Kudus.

Salah satu bukti yang dipaparkan antara lain, Nabi dan para sahabat ketika masih berjuang di Makkah selama 13 tahun, selalu mengalah dan bersabar atas sikap permusuhan dan tindakan sewenang-wenang yang dilancarkan kaum kafir Makkah. “Nabi tetap sabar dan berpesan kepada sahabat untuk tidak membalas segala hal menyakitkan yang dilancarkan kaum kafir terhadap Islam,” tandasnya.

Bahkan, ketika putri Nabi meminta kepada Nabi untuk mendoakan orang-orang yang selalu memusuhi, menggangu, serta mengancam keselamatan Nabi untuk segera didoakan agar segera diberi adzab dan dimusnahkan oleh Allah, maka dengan santun Nabi memberikan jawaban bahwa ketika nanti para orang-orang kafir didoakan untuk dibumihanguskan, maka orang-orang yang akan beriman akan sedikit jumlahnya. Selanjutnya pun Nabi terus berjuang dan berusaha keras berdakwah serta terus bersabar dengan kejahatan yang dilakukan orang-orang kafir.

Bukti lain yang diungkap sesepuh sekaligus Nadhir madrasah Qudsiyyah tersebut adalah tatkala umat Islam sudah diijinkan berperang adalah terkait pidato Nabi saat akan memberangkatkan pasukan perang. Dalam pesan Nabi, tentara Islam tidak boleh memerangi orang yang sedang beribadah dalam Gereja, dalam Klenteng, maupun tempat ibadah lainnya. Juga, tidak boleh membunuh anak-anak, membunuh wanita, bahkan dilarang menebang pohon-pohon di jalanan secara sembarangan. “Ini menunjukkan bahwa Islam penuh kasih sayang, tidak hanya kepada sesama Islam tetapi juga orang-orang non-muslim dan juga terhadap lingkungan sekitar,” tambah beliau.

Maka, beliau mengingatkan bagi orang-orang garis keras hendaknya mengkaji lebih dalam lagi tentang Islam dan nantinya akan memahami bahwa Islam adalah sejuk dan penuh kasih sayang.

Terakhir beliau berpesan, dalam berdakwah, hendaknya dengan cara yang baik serta sopan, sehingga dakwah tersebut akan berhasil. Dalam kesempatan tersebut beliau menceritakan, dakwah yang telah dilakukan selama ini telah menarik hati 81 orang non muslim dan telah masuk Islam di hadapan beliau. Tidak hanya dari dalam negeri ini, tetapi banyak juga yang dari luar negeri, antara lain dari Inggris, Australia, dan Jerman. (*)

RIWAYAT HIDUP KH YAHYA ARIF

KH. Yahya Arif tak lain merupakan putra ke tiga dari dua belas bersaudara pasangan dari H. Arif dan Ardinah. Dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1923 M, di desa Kauman Menara Kudus sosok KH Yahya Arif tumbuh dan berkembang di lingkungan pondok pesantren dan kyai.

Masa Muda dan Pendidikan

Bermacam-macam pengajaran dan pengalaman pendidikan beliau lalui. Pertama kali beliau masuk Madrasah Qudsiyyah, di mana saat itu murid Madrasah Qudsiyyah masih sedikit. Sebagai orang yang termasuk keluarga kurang mampu, sambil sekolah beliau membuat layang-layang untuk kemudian dijual  ke pasar Johar (Wergu). Ini dilakukan tak lain untuk membiayai sekolah serta mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Setelah lulus dari Madrasah Qudsiyyah, beliau melanjutkan studi dan berguru pada kyai Yahya Abu Amar Sunggingan. Karena beliau sangat patuh dan tekun dalam belajar, maka gurunya begitu sayang dan selalu memperhatikannya. Setelah itu beliau meneruskan studinya ke pesantren Tanggulangin Surabaya. Selain terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa, KH. Yahya Arif dikenal dengan sifatnya yang andhap ashor (ramah tamah). Hal ini membuat gurunya menyukainya dan bahkan menjadikannya sebagai abdi dalem (pembantu gurunya).

Selaian mondok, beliau juga berguru pada beberapa kyai di Kudus antara lain KH. Ma’mun Siraj untuk  mendalami ilmu Faraid. Dalam hal Ilmu Falak beliau berguru kepada KH. Turaichan Adjhuri as Syarofi Langgardalem Kudus.

Sekitar tahun 1951 M KH Yahya Arif pulang dari pesantren Tanggulangin Surabaya. Kepulangan beliau disambut gembira oleh masyarakat dan lantas beliau diminta untuk mengajar di Madrasah Qudsiyyah.

Perjuangan untuk Madrasah

Perjuangan beliau dalam memajukan Madrasah sangat besar. Perannya dalam memajukan Madrasah terlihat dalam bidang pendidikan. Kitab-kitab yang beliau tulis untuk diajarkan di madrasah begitu banyak dan hingga saat ini terus digunakan.

Dalam hal administrasi, peran beliau sangat penting. KH Yahya Arif terkenal dengan dengan ketelitiannya dalam hal tata usaha madrasah saat itu. Sehingga banyak data-data penting madrasah yang tetap terselamatkan hingga saat ini. Prinsip beliau tak lain adalah demi kepentingan dan kemajuan Madrasah Qudsiyyah.

Kehidupan dalam Keluarga

Seperti halnya pria lain, beliau juga menjalankan sunnah rasul yaitu menikah. KH Yahya Arif memperistri Ibu Niafah, seorang gadis dari Janggalan Kota Kudus. Tepatnya pada 20 Rabi’ul Awal 1377 H bertepatan dengan tanggal 15 Oktober 1957 M beliau menjalankan akad nikah. Dalam menjalani rumah tangga beliau dikaruniai empat anak yaitu Sa’adah, Syafa’ah, Sayyidah, dan Masykuri.

Sebagai kepala rumah tangga, tidak lepas dari tanggungjawab memberi nafkah kepada keluarga.  Beliau pun bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Di samping mengajar di Madrasah Qudsiyyah, beliau juga memproduksi pakaian kemudian menjualnya. Juga, beliau juga pernah hubungan kerja secara syirkah dengan orang Kedungwaru Demak dalam bidang pertanian dan perkayuan. Namun kerja keras itu semua tak tampak di mata umum sehingga wajar kalau orang mengatakan, bahwa Mbah Ya, panggilan akrab beliau, hanya mengajar di Madrasah Qudsiyyah.

Naik Haji

Pada tahun 1993 M beliau menjalankan ibadah haji bersama guru-guru Madrasah Qudsiyyah yang lain. Ini merupakan fadhilah dari Allah atas keuletan dan kerja keras beliau.

Kegemaran Beliau

Di masa hidupnya beliau mempunyai banyak kegemaran di antaranya adalah silaturrahmi ke tempat yang dekat ataupun jauh. Tak peduli entah itu terhadap yang tua maupun terhadap yang muda. Kegemaran lainnya adalah suka menyenangkan putra-putrinya dengan membuatkan mainan anak-anak yang baru musim di waktu itu.

Bershodaqoh juga menjadi hobi Kh Yahya Arif. Utamanya kepada para pengemis yang ada di lingkungan Menara, dan kepada pengemis yang datang ke rumahnya setiap hari Jumuah. Di samping itu, mbah Ya juga gemar bershadaqah pada hari Kamis berupa jajan pasar.

” Tiada hari tanpa muthola’ah” menjadi prinsip beliau. Dengan kegemaran ini terbukti banyak karya-karya yang beliau tulis dan hingga sekarang masih tetap digunakan sebagai kitab pegangan di Madrasah yangberdiri sejak tahun 1919 ini.

Membaca Al-Qur’an di waktu malam menjadi kegemaran beliau yang jarang ditinggalkan. Menurut cerita dari keluarga, KH Yahya Arif setelah pulang dari Baitullah selalu khatam Al Qur’an setiap pekan dan biasanya khataman pada malam Kamis.

Pulang ke Rahmatullah

Innalillahi wainnalillahi Raji’un, pada Rabu Kliwon, 28 Muharram 1418 H. bertepatan dengan tanggal 4 Juni 1997 M pukul 19.30 WIB KH. Yahya Arif dipanggil oleh Allah dalam usia 74 tahun. Pemakaman beliau dilaksanakan pada Hari Kamis Legi sekitar pukul 14.00 WIB di pemakaman Sedio Luhur Krapyak Kudus. Beliau wafat meninggalkan dua orang putri dan satu putra serta empat cucu. (*)

Dimuat di Majalah EL-QUDSY edisi 6 tahun 1998

 

KH SYA’RONI AHMADI RESMIKAN MA’HAD QUDSIYYAH

KUDUS-Ma’had Qudsiyyah Menara Kudus dibuka secara resmi pada Senin (1/11/2010). Bertempat di aula MTs Qudsiyyah, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus Ma’had tersebut diresmikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi.
Sekitar pukul 10.00 WIB, secara resmi kyai yang juga Nadhir Madrasah Qudsiyyah tersebut meresmikannya dengan bacaan surat Al- Fatihah. Hadir dalam peresmian tersebut kasi PK Pontren Kemenag Kudus, H Su’udi, pengurus Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) Menara Kudus, Almudirul Aam Madrasah Qudsiyyah, Kepala tingkatan Madrasah Qudsiyyah, pengurus Ma’had Qudsiyyah serta wali santri.
Dalam mauidhoh hasanahnya, Kyai Sya’roni menekankan pentingnya pendidikan agama Islam, khususnya yang berlandaskan ajaran ulama salaf. Sebab, ajaran salaf ini sebagai pondasi dalam mengembangkan ajaran Islam.
Menurut  beliau, Ma’had Qudsiyyah menjadi salah satu bekal bagi para santri untuk lebih tekun dan mendalami ajaran Islam. Di samping itu, pendirian Ma’had di madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1919 ini diharapkan mampu menjadi hal positif meningkatkan keilmuwan para santri Qudsiyyah. “Madrasah ini didirikan oleh KHR Asnawi yang merupakan keturunan ke-13 Sunan Kudus,” ungkap salah satu kyai sepuh Kudus ini.
“Mudah-mudahan pendirian Ma’had ini dapat berkembang  dengan baik dan barokah,” sambung beliau.
Sementara itu, Ketua Yayasan  Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) Menara Kudus, H Nadjib Hassan dalam sambutannya mengungkapkan, pendirian Ma’had Qudsiyyah sebagai salah upaya yang dilakukan Qudsiyyah sebagai jawaban atas pelajaran salafiyah yang  terus-menerus terdesak oleh pelajaran-pelajaran umum. “Ini adalah jawaban untuk terus mempertahankan dan mempertahankan ajaran salafi,” terang Nadjib.

Ia juga menandaskan, Ma’had Qudsiyyah tidak hanya sekedar mengembangkan ajaran salaf yang konsen terhadap Fiqih, tetapi juga memadukan berbagai komponen yang mendukung dalam perkembangan dan kemajuan dunia. “Seperti kemajuan teknologi, dan sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, kemajuan  teknologi seperti internet akan menjadi media bagi para santri untuk mengembangkan keilmuwannya. Santri, lanjutnya, tetap akan dibekali dengan berbagai komponen mendukung kemajuan dan perkembangan zaman.

“Intinya, santri tidak boleh klutuk (ketinggalan zaman-Red), tetapi juga harus merespon kemajuan,” tandasnya.

Sedangkan Mudir (Direktur-Red) Ma’had Qudsiyyah H Fathur Rahman, menjelaskan, Ma’had Qudsiyyah ini diperuntukkan bagi siswa Qudsiyyah yang berprestasi. “Sementara untuk angkatan pertama ini kita batasi 40 santri yang rangking,” terangnya.

Dijelaskan, 40 santri tersebut berasal dari kelas X Madrasah Aliyah (MA) yang diseleksi melalui beberapa tahapan. Yakni tes tertulis yang bermaterikan pelajaran Nahwu Shorof,membaca kitab kuning Fathul Qorib serta menghafal bait-bait Alfiyyah. (*)

KH. Ma’ruf Asnawi Sesepuh Qudsiyyah

KH. Ma’ruf Asnawi lahir pada pada hari Kamis tahun 1916/1913 atau 1333 H. Silsilahnya adalah KH. Ma’ruf  bin Asnawi bin Abdurrahman bin Sayyidah A’isyah binti Habib Ahmad bin Habib Ibrahim Bafaqih (Sunan Puger). Beliau dikenal sebagai khalifah Tarekat Syadzaliyah di Kudus. Sedangkan posisi mursyid dipegang langsung oleh KH. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan. Pusat kegiatan tarekat ini adalah di Jumutan Demangan dan Kauman Menara. Sampai saat ini pengurus tarekat Syadziliyah sudah mempunyai lahan tanah untuk dijadikan pusat kegiatan tarekat yang bertempat di Kaliwungu Kudus.

Sebagaimana diungkapkan oleh KH. Nur Halim, tarekat syadziliyah (sebutan yang asli di kitab Mafakhir adalah Syadzzaliyah nisbat tempat Syadzzalah), Mujiz awalnya memang Habib Luthfi. Namur Habib Luthfi pernah dawuh untuk memudahkan orang dlu’afa’ (likibari sinnihi, sepuh atau lidla’fi malihi, anak muda tidak punya biaya) KH. Ma’ruf Asnawi pernah mbadali bai’at.