Posting dengan Tag ‘ppq’

Profil Persatuan Pelajar Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada di Kabupaten Kudus, dalam upaya mencapai visi dan misinya untuk mengadakan pendidikan yang mampu menelorkan alumni-alumni yang siap membaur dalam kehidupan masyarakat. Semua bekal yang dibutuhkan oleh siswa, diajarkan oleh Madrasah Qudsiyyah, baik agama, umum termasuk didalamnya life skill yang dikembangkan oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ).

PPQ mulai berkiprah sekitar tahun 1970an ditandai dengan terbentuknya kepengurusan PPQ, sebagai Ketua Umum PPQ yang pertama adalah Drs. H. Nadjib Hassan, yang sekarang menjadi ketua pengurus YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah).

PPQ adalah sama seperti OSIS di sekolah-sekolah pada umumnya, menjadi mercusuar kegiatan-kegiatan seluruh siswa. Namun yang menjadi ciri khas PPQ, bahwa PPQ tidak hanya mengurusi satu tingkatan saja (Aliyah, atau Tsanawiyyah saja) tetapi anggota PPQ adalah semua siswa Madrasah Qudsiyyah mulai dari tingkat MI, MTs dan MA. Dengan demikian diharapkan PPQ dapat menjadi suri tauladan bagi siswa-siswa yang lain.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan PPQ merupakan cerminan dari minat, bakat, kreatifitas dan intelegensitas dari semua anggota PPQ. Banyak kegiatan yang telah dilaksanakan, baik ketegori keagamaan, kepramukaan, jurnalistik maupun seminar-seminar dengan mendatangkan tokoh-tokoh yang kompeten sesuai bidangnya.

Kegiatan PPQ

KEMBALI AJARAN AGAMA SOLUSI KENAKALAN REMAJA

QUDSIYYAH, KUDUS-Kembali kepada ajaran agama menjadi salah satu cara ampuh mengatasi serta menanggulangi kenakalan remaja. Ini karena dalam ajaran agama telah disediakan solusi dari permasalahan yang dihadapi umatnya, tak terkecuali pada persoalan yang menyangkut remaja.

Hal tersebut mengemuka dalam Ceramah Ilmiah Siswa dengan tema “Menggagas Pergaulan Remaja Berbasis Akhlakul Karimah” yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) Kudus, di gedung Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Sabtu (14/5/2011).

Salah satu nara sumber, Trubus Raharjo, dosen Psikologi Universitas Muria Kudus mengungkapkan, masa remaja memang masa yang rentan dan masih sering ikut arus dan menghadapi banyak tantangan sekarang ini . Salah satunya adalah persolan obat-obat terlarang dan minuman beralkohol. Apalagi, kata dia, disinyalir persoalan tersebut tidak hanya sebagai pelarian saat memiliki masalah saja, tetapi juga sudah banyak yang merupakan kebiasaan dan kebanggaan bagi remaja.

“Bagi mereka alkohol memberi kenikmatan pada saat sedih, tapi ini sangat menyesatkan,” terangnya. Dikatakan, pelarian terhadap hal-hal negatif seperti obat-obatan terlarang maupun minuman beralkohol hanya merupakan kenikmatan sesaat yang justru akan menjerumuskan remaja tersebut.

Lebih jauh, diungkapkan Trubus soal perilaku penyimpangan ini yang diduga sudah menjadi kebiasaan dan bahkan kebanggaan. “Alkohol dianggapnya simbol kemampuan materi dan obat-obat terlarang merupakan simbol kekuasan di lingkungannya. Ini sama sekali tidak benar,” tandasnya.

Persoalan lain, tambahnya, yang dihadapi remaja saat ini adalah perilaku seksual pranikah. Persolan ini kemudian rentan merambat menjadi persoalan-persoalan baru seperti hamil di luar nikah mupun aborsi.  “Salah satu kunci efektif menghindarkan kenalakan-kenalan remaja ini adalah kembali kepada ajaran agama serta pemilihan teman,” katanya.

Sementara, Muhammad Naf’an, nara sumber lain dari guru madrasah Qudsiyyah menyatakan, dinamika remaja memang sangat unik. Namun begitu Islam begitu memperhatikan persoalan remaja ini. “Ajaran Islam sebagai pedoman hidup umatnya telah mengatur tata cara pergaulan remaja agar,” jelasnya.

Naf’an mencontohkan, agar terhindar dari perilaku seksual pranikah atau biasa disebut dengan zina adalah menjaga hubungan antar laki-laki dan perempuan. “Tidak diperkenankan berdua-duan saja antara laki-laki dan perempuan,” teganya.

Dijelaskan, jika laki-laki dan perempuan berada di tempat sepi, maka akan sangat rentan akan melakukan hal-hal yang dilarang agama karena diantara mereka ada setan yang selalu membujuk untuk melakukan hal-hal negatif. “Kembali kepada ajaran agama merupakan cara ampuh menghindari perilaku-pearilaku negatif,” tandasnya.

Selain itu dikatakan bahwa salah satu hal yangperlu dihindari remaja adalah memanfaatkan waktu seefektif mungkin. “Jangan sampai terjadi waktu luang karena mudah tergiur ke arah negatif,” terangnya.

Oleh karenanya, hendakany remaja mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan yang positif. “Dalam hadis nabi diterangkan hendaknya kita meninggalkan sesuatu yang tak berguna,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PPQ, Chasan Albab, ditemui seusai acara mengatakan, acara yang mengundang pelajar SMA sederajat se Kudus, Pati dan Jepara ini sangat penting bagi para pelajar. Ini karena pergaulan remaja akhir-akhir ini begitu miris dan mengkhawatirkan. “Kita berharap remaja akan tahan goda dengan hal-hal negatif serta memanfaatkan semangat dan potensinya untuk kebaikan,” tandasnya. (*)

SEPEKAN, MERIAHKAN MAULID NABI

KUDUS-Memeriahkan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Madrasah Qudsiyyah Kerjasan Kudus menyelenggarakan kegiatan Sepekan penuh. Ini dimaksudkan sebagai wujud kecintaan serta berupaya meneladani perilaku Rasulullah SAW.

Beberapa agenda tersebut antara lain pagelaran perlombaan antarsiswa yang biasa disebut dengan Class Meeting. Kegiatan perlombaan in merupakan kegiatan rutin tahunan yang dipandegani oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) yang digelar di bulan Maulid.

Tahun ini, kegiatan tersebut dimulai pada Sabtu (12/2/2011) hingga Selasa (15/2/2011) mendatang. Berlangsung di madrasah Qudsiyyah Kudus,kegiatan tersebut ramai diikuti oleh para siswa Qudsiyyah di berbagai tingkatan, yakni mulai dari tingkat MI, MTs, dan MA.

Dalam class meeting tersebut beberapa perlombaan terdiri dari sestu yang bersifat hiburan, ketangkasan hingga perlombaan yangmemerlukan kecerdasan dan intelektualitas. Beberapa pertandiangan olahraga juga menjadi agenda yang diminati para siswa, antara lain digelar pertandingan Futsal, Bulu Tangkis, Tenis Meja, dan Catur. Selain itu, juga yang bernuansa intelektualitas, seperti lomba karya tulis Ilmi’ah, pidato bahasa Indoensia, Arab dan Inggris, serta bahasa Jawa. Ada juga yangbernuasa religious, seperti Lomba rebana, kaligrafi, pembacaan Albarzanji, Adzan, talqin, hafalan bait-bait Alfiyyah, Hafalan hadis Arba’in, dan Sholawat.

Di hari pertama kemarin, perlombaan yang cukup jadi perhatian siswa antara lain pertandingan futsal perlombaan Rebana yang digelar di halaman MTs Qudsiyyah. Ratusan siswa terlihat memadati lapangan untuk melihat serta member semangat bagi para peserta lomba yang merupkan satu grup untuk melantunkan lagu-lagu islami. Lomba Rebana ini diminati karena siswa-siswa di madrasah yang telah berdiri sejak 1919 ini memang begitu mengidolakan Rebana, khususnya dengan grup Rebana madarsah Qudsiyyah, Almubarok yang terus eksis hingga sekarang.

“Class meeting ini merupakan rangkaian pekan Maulid madrasah Qudsiyyah,” ujar Ketua Umum PPQ, Chasan Albab. “Ini dalam rangka memeriahkan hari kelahiran nabi kita Muhammad SAW,” lanjutnya.

Dikatakan, dengan pekan perayaan maulid ini, diharapkan para siswa Qudsiyyah dapat merasakan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad saw. “Yang lebih penting lagi, para siswa dapat meneladani perilaku Rasul,” tandasnya.

Selain Classmeeting beberapa kegiatan yang akan digelar ialah khataman Alquran 30 juz yang akan diikuti oleh seluruh alumni madrasah Qudsiyyah yang hafal Alquran. Kegiatan direncanakan berlangusng pada Selasa (15/2/2011) nanti. Puncaknya akan diadakan pengajian yang dihadiri langsung oleh sesepuh madrasah Qudsiyyah, KH Sya’roni Achmadi, Rabu (16/2/2011) mendatang.(*)

 

AJANG KREATIVITAS DAN KEMANDIRIAN

KREATIVITAS dibutuhkan dalam membuat majalah sekolah, selain dukungan dari pihak sekolah serta minat siswa yang besar dalam bidang jurnalistik. Siswa Madrasah Aliyah Qudsiyah Kudus punya tradisi menerbitkan majalah sekolah mulai tahun 1993 sampai sekarang. Penyaiapan kader pada siswa tingkat MA/SLTA kelas 1 dan 2 dengan membuat workshop dan ekstrakuliler jurnalistik membuat majalah tetap eksis adalah kunci dari keberhasilan mereka membuat majalah sekolah.

Pimred Majalah Qudsiyah “El Qudsy” tahun 2010 edisi ke 18, Ahmad Arinal Haq, menuturkan bahwa pembuatan majalah sekolah tidak sepenuhnya disokong oleh pihak sekolah. Tim redaksi juga dituntut untuk mencari dana secara mandiri dengan menjalin kerjasama perikanan dengan berbagai bidang usaha. “Anggaran dari sekolah tidak cukup untuk biaya cetak dan operasional kru redaksi yang jumlahnya sekitar 30 siswa, sehingga kami harus mencari iklan,” ujarnya.

Meski menjadi persoalan klasik, pendanaan, ternyata memacu diri untuk kreatif mencari peluang. Dalam penyajian tema majalah El Qudsy mempunyai ciri khas lain dari kebanyakan tema majalah sekolah, yakni dengan mengangkat tema-tema nasional yang sedang berkembang. Majalah El Qudsy edisi 2010, misalnya, mengangkat tema tentang Pasar Bebas. Materi tersebut ternyata terinspirasi dari pelajaran sekolah tentang kebijakan luar negeri sebuah negara. “Kami mengandalkan nara sumber berkompeten yang ada di Kudus,” kata pemuda yang disapa, Ari, Senin (3/1), di MA Qudsiyah.

Keunikan yang disajikan dari El Qudsy adalah sentuhan kajian kitab kuning yang disisipkan dalam seluruh kajian, termasuk tentang tema Pasar Bebas. Hal ini, menurut Ari, merupakan tanda kesantrian yang ditanamnkan melalui pendidikan di MA Qudsiyah. Sayangnya, persoalan pemilihan materi kerapkali menjadi perbicangan hangat, karena tim redaksi harus memertimbangkan segmen usia pembaca dari anak-anak hingga dewas. “Distribusi majalah El Qudsy sampai ke tingkat MI di Qudsiyah, juga ke perguruan tinggi yang ada di Kudus, serta masyarakat umum. Jadi soal tema terkadang dipertimbangkan matang,” katanya.

Dengan adanya rubrikasi yang mengakomodir semua segmen pembaca diharapkan bisa terjembatani keingintahuan tentang dunia luar. “Majalah ini sebagai wadah dari seluruh kegiatan yang ada di Madrasah Qudsiyah. Semuanya ada tentang Qudsiyah,” ujarnya.

Lebih Peka

Berjibaku dengan dunia jurnalistik membuat Ari merasa lebih peka dan kritis terhadap persoalan publik. Pengetahuan lebih tentang hal lain di luar pelajaran juga diperolehnya. Pengalaman menariknya adalah menemui nara sumber setelah berjanjian dua bulan. “Lama sih, sampai deadline majalah dan isu yang berlangsung terlanjur lewat,” katanya.

Pengalaman lain juga dialami oleh layouter El Qudsy edisi 2010 M Jamal Alwy. Pengetahuan yang didapatkan menyadarkan sebuah proses penyajian majalah yang tak gampang. Ia dan timnya harus menataletak sendiri majalah. “Semua proses dikerjalan secara mandiri oleh tim redaksi. Setelah selesai baru diberikan kepada percetakan untuk digandakan,” katanya.

Terhadap isu yang sedang berkembang serta pengetahuan umum, membuat Jamal, panggilannya, lebih peka dengan perkembangan persoalan nasional. Kemampuan menulis dan penguasaan bahasa lebih matang dan terasah. Mereka tidak sembarang membuat laporan. Setiap laporan harus dipertanggungjawabkan.

Menurut Kanis Barung dkk dalam buku Dasar-Dasar Penerbitan Majalah Sekolah (1998) dibenarkan adanya fungsi majalah sekolah sebagai tempat pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dan atraktif. Setidaknya disebutkan ada enam arti penting majalah sekolah. Pertama, ajang mengasah kemampuan menulis. Kedua, melatih siswa kritis dalam membaca. Ketiga, dipakai dalam sumber belajar bahasa. Keempat, sebagai wahana pengembangan dan penguasaan kosakata. Kelima, mengajak siswa mencipta karya sastra. Dan keenam, melatih siswa untuk terampil berbicara dan menyimak sesuai dengan konteks komunikasi.

*Dimuat oleh Harian Umum Suara Merdeka Senin, 3 Januari 2011.