Posting dengan Tag ‘yahya arif’

RIWAYAT HIDUP KH YAHYA ARIF

KH. Yahya Arif tak lain merupakan putra ke tiga dari dua belas bersaudara pasangan dari H. Arif dan Ardinah. Dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1923 M, di desa Kauman Menara Kudus sosok KH Yahya Arif tumbuh dan berkembang di lingkungan pondok pesantren dan kyai.

Masa Muda dan Pendidikan

Bermacam-macam pengajaran dan pengalaman pendidikan beliau lalui. Pertama kali beliau masuk Madrasah Qudsiyyah, di mana saat itu murid Madrasah Qudsiyyah masih sedikit. Sebagai orang yang termasuk keluarga kurang mampu, sambil sekolah beliau membuat layang-layang untuk kemudian dijual  ke pasar Johar (Wergu). Ini dilakukan tak lain untuk membiayai sekolah serta mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Setelah lulus dari Madrasah Qudsiyyah, beliau melanjutkan studi dan berguru pada kyai Yahya Abu Amar Sunggingan. Karena beliau sangat patuh dan tekun dalam belajar, maka gurunya begitu sayang dan selalu memperhatikannya. Setelah itu beliau meneruskan studinya ke pesantren Tanggulangin Surabaya. Selain terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa, KH. Yahya Arif dikenal dengan sifatnya yang andhap ashor (ramah tamah). Hal ini membuat gurunya menyukainya dan bahkan menjadikannya sebagai abdi dalem (pembantu gurunya).

Selaian mondok, beliau juga berguru pada beberapa kyai di Kudus antara lain KH. Ma’mun Siraj untuk  mendalami ilmu Faraid. Dalam hal Ilmu Falak beliau berguru kepada KH. Turaichan Adjhuri as Syarofi Langgardalem Kudus.

Sekitar tahun 1951 M KH Yahya Arif pulang dari pesantren Tanggulangin Surabaya. Kepulangan beliau disambut gembira oleh masyarakat dan lantas beliau diminta untuk mengajar di Madrasah Qudsiyyah.

Perjuangan untuk Madrasah

Perjuangan beliau dalam memajukan Madrasah sangat besar. Perannya dalam memajukan Madrasah terlihat dalam bidang pendidikan. Kitab-kitab yang beliau tulis untuk diajarkan di madrasah begitu banyak dan hingga saat ini terus digunakan.

Dalam hal administrasi, peran beliau sangat penting. KH Yahya Arif terkenal dengan dengan ketelitiannya dalam hal tata usaha madrasah saat itu. Sehingga banyak data-data penting madrasah yang tetap terselamatkan hingga saat ini. Prinsip beliau tak lain adalah demi kepentingan dan kemajuan Madrasah Qudsiyyah.

Kehidupan dalam Keluarga

Seperti halnya pria lain, beliau juga menjalankan sunnah rasul yaitu menikah. KH Yahya Arif memperistri Ibu Niafah, seorang gadis dari Janggalan Kota Kudus. Tepatnya pada 20 Rabi’ul Awal 1377 H bertepatan dengan tanggal 15 Oktober 1957 M beliau menjalankan akad nikah. Dalam menjalani rumah tangga beliau dikaruniai empat anak yaitu Sa’adah, Syafa’ah, Sayyidah, dan Masykuri.

Sebagai kepala rumah tangga, tidak lepas dari tanggungjawab memberi nafkah kepada keluarga.  Beliau pun bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Di samping mengajar di Madrasah Qudsiyyah, beliau juga memproduksi pakaian kemudian menjualnya. Juga, beliau juga pernah hubungan kerja secara syirkah dengan orang Kedungwaru Demak dalam bidang pertanian dan perkayuan. Namun kerja keras itu semua tak tampak di mata umum sehingga wajar kalau orang mengatakan, bahwa Mbah Ya, panggilan akrab beliau, hanya mengajar di Madrasah Qudsiyyah.

Naik Haji

Pada tahun 1993 M beliau menjalankan ibadah haji bersama guru-guru Madrasah Qudsiyyah yang lain. Ini merupakan fadhilah dari Allah atas keuletan dan kerja keras beliau.

Kegemaran Beliau

Di masa hidupnya beliau mempunyai banyak kegemaran di antaranya adalah silaturrahmi ke tempat yang dekat ataupun jauh. Tak peduli entah itu terhadap yang tua maupun terhadap yang muda. Kegemaran lainnya adalah suka menyenangkan putra-putrinya dengan membuatkan mainan anak-anak yang baru musim di waktu itu.

Bershodaqoh juga menjadi hobi Kh Yahya Arif. Utamanya kepada para pengemis yang ada di lingkungan Menara, dan kepada pengemis yang datang ke rumahnya setiap hari Jumuah. Di samping itu, mbah Ya juga gemar bershadaqah pada hari Kamis berupa jajan pasar.

” Tiada hari tanpa muthola’ah” menjadi prinsip beliau. Dengan kegemaran ini terbukti banyak karya-karya yang beliau tulis dan hingga sekarang masih tetap digunakan sebagai kitab pegangan di Madrasah yangberdiri sejak tahun 1919 ini.

Membaca Al-Qur’an di waktu malam menjadi kegemaran beliau yang jarang ditinggalkan. Menurut cerita dari keluarga, KH Yahya Arif setelah pulang dari Baitullah selalu khatam Al Qur’an setiap pekan dan biasanya khataman pada malam Kamis.

Pulang ke Rahmatullah

Innalillahi wainnalillahi Raji’un, pada Rabu Kliwon, 28 Muharram 1418 H. bertepatan dengan tanggal 4 Juni 1997 M pukul 19.30 WIB KH. Yahya Arif dipanggil oleh Allah dalam usia 74 tahun. Pemakaman beliau dilaksanakan pada Hari Kamis Legi sekitar pukul 14.00 WIB di pemakaman Sedio Luhur Krapyak Kudus. Beliau wafat meninggalkan dua orang putri dan satu putra serta empat cucu. (*)

Dimuat di Majalah EL-QUDSY edisi 6 tahun 1998